Arsip Tag: changi

Surya Bersinar Udara Segar

Surya bersinar, udara segar… terima kasih…..
di tepi pantai ombak berderai…. terima kasih….
Terima kasih seribu pada Tuhan Allahku
Aku bahagia karena dicinta Terima kasih…..

sebuah lagu pujian yang memang patut aku nyanyikan pada hari Minggu tanggal 15 Maret 2009. Kami tiba di bandara Narita dengan selamat pukul 7:30 pagi, dan dengan bantuan petugas MAAS, kali ini perempuan muda, dibantu untuk keluar imigrasi dan mengambil koper. Kali ini Gen sudah menunggu di pintu kedatangan sehingga seharusnya kami bisa langsung pulang ke rumah. Tapi… no no no…perut aku mulai aneh, so harus mampir ke wc dulu. Setelah pakai stocking dan baju tebal, akhirnya kami naik mobil dan pulang ke rumah. Matahari bersinar memang tapi suhu di luar 4 derajat saja.

Setelah sampai di rumah, buka koper sebagian, dan mempersiapkan makan siang untuk Gen. Rendang Natrabu deh. Pokoknya oleh-oleh yang sudah pasti disambut hangat oleh Gen adalah rendang dan Marlboro hihihi. Eh, tapi di Singapore aku selain membeli Marlboro, sempat juga membeli Port Wine, sejenis wine yang manis tapi kadar alkoholnya lebih tinggi, atau kalau disamakan bisa dibilang seperti Brandy (kadar alkoholnya 20%) . Wine jenis ini tidak dijual di Jepang, padahal aku sempat “ketagihan” wine ini sejak diberi oleh-oleh dari Australia dan Amerika.

Selain membeli wine dan rokok, sambil transit, Riku dan Kai sempat bermain di Butterfly World, Terminal 3. Ada semacam playground di sana. Dan ada pula koneksi internetnya…cihuy. Aku sempat melihat emails sebentar, hanya 5 menit, padahal sekali koneksi dijatahi 15 menit loh. Aku pikir Changi ini hebat betul deh. Gratis lagi. Kalau di Narita, masih harus bayar 100 yen untuk 20 menit (kalau tidak salah). Singapore really a fine city hehehe. Aku cuman bisa pakai 5menit karena tetap saja aku harus memperhatikan anakku yang lari kemana-mana.

Waktu mencari toilet kami harus melewati Hard Rock Cafe, dan juga smoking room…. Aduuuuh ini smoking room udah kayak lokomotif. Bener banget kerasa bedanya antara daerah sekitar situ dengan daerah lainnya yang steril dari asap rokok.

So, hari minggu aku cukup menderita dengan sakit perutku, yang ternyata tambah menjadi-jadi pada hari Seninnya, sehingga aku terpaksa tidak bisa pergi ke TKnya Riku untuk menghadiri PTA terakhir. Aku tahu hari Senin itu pasti penuh air mata, karena itu merupakan kesempatan terakhir orang tua bertemu dnegan guru dan mengungkapkan rasa terima kasihnya. Sayang sekali aku tidak bisa hadir, sehingga banjir air matanya berkurang untuk jatah satu orang hihihi.

Baru malam harinya aku minum obat yang dibelikan Gen sesudah pulang kantor. Dan tertolonglah aku, sehingga hari ini, Selasa 17 Maret, aku bisa menghadari acara “Perpisahan TK” bersama Riku. Udara cerah, maximum temperatur 9 derajat. HANGAT!

Pukul 10 pagi aku antar Kai ke himawari. Yang lucu dia tahu bahwa kami mau keluar, jadi dia minta dipakaikan sepatu dan HELM SEPEDA. lucu banget…. Tapi dia menangis begitu dia tahu dia akan ditinggal di penitipan. Hiks…sorry sayang Mama dan kakakmu harus menghadiri acara khusus yang kurang nyaman jika dihadiri bayi. Sekali-sekali mama juga mau menemani Riku dengan berkonsentrasi untuk dia saja.

Tapi jam 11:00 waktu kami sudah mau berangkat ke TK, Riku mengeluh sakit perut. Entah benar, entah pura-pura (kebyo bahasa jepangnya =pura pura sakit). Tapi aku tidak mau menuduh dia pura-pura karena tidak baik. Karena kelak, seandainya dia benar-benar sakit, dia tidak percaya padaku lagi dan tidak mau terbuka padaku jika sakit. Jadi aku bilang, “Kalau kamu sakit, pergi ke wc, kalau masih sakit juga, TIDUR! tidak boleh nonton TV.”

Eee benar saja taktik aku berhasil, baru tidur 5 menit dia bilang, “Mama, perutku tidak sakit lagi!”.

“OK, mari cepat ganti baju dan berangkat!”

Pasti terlambat, karena acara mulai jam 11:30, sedangkan kita sampai pukul 11:35. Tapi biarlah, memang ada alasan sakit perut sih. Untung kami berdua tidak terlambat-terlambat banget, karena sesudah kami masih ada 2 orang lagi yang terlambat.

(susunan acara – gambar riku ditaruh di atas bento – tulip hasil origami bersama)

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Well, acara perpisahan yang bahasa Jepangnya SHAONKAI 謝恩会 (Thank you party for the teachers) disusun dan dijalankan oleh ibu-ibu murid TK, dan yang menjadi Tamu Utamanya adalah guru-guru itu sendiri. Jadi semuanya tanpa campur tangan pihak sekolah/guru, meskipun nantinya ada sumbangan acara dari guru juga. Aku rasa “pemikiran” shaonkai ini benar-benar mencerminkan kedudukan guru yang sangat dijunjung tinggi di Jepang.

Waktu aku datang, kepala sekolah baru saja akan mengucapkan pidato. Beliau seorang nenek yang sudah bekerja di sekolah itu sejak awal berdirinya. HEBAT! dan yang lebih hebat lagi dia tinggal jauuuuh dari sekolahnya ini, katanya 2 jam perjalanan. Butuh dedikasi yang tinggi!!! Tahun ini menyambut kelulusan yang ke 45, tapi pada dasarnya si ibu/nenek itu akan merayakan 50 th Perayaan Emas bekerja di TK itu. Duh, kalau ingat dulu waktu pertama kali aku ketemu dia, waktu mau ambil formulir pendaftaran, aku pikir dia hanyalah nenek penjaga sekolah…hiks… underestimate banget ya. Abis orangnya baik dan sederhana sekali sih.

Setelah acara pidato dari kepala sekolah, dilanjutkan dnegan acara hiburan dari ibu-ibu smabil menikmati makanan (bento) yang sudah disediakan di meja masing-masing. Wah wah wah deh…. aku salut benar dengan usaha ibu-ibu (muda) ini. Memang aku mungkin termasuk yang tertua di kelasnya Riku, karena aku baru melahirkan Riku umur 35 tahun….. Ada ibu yang baru berusia 22 tahun dengan anak seumur Riku!

Kenapa wah? Karena acara yang dipertunjukkan adalah tari Hula Hawai (tentu saja dengan baju lengkap karena dingin euy hehehhe, jangan bayangkan bh batok kelapa yah!). Yang menarik, dua orang guru OR yang masih muda, yang merupakan dua-duanya pemuda “belia dan keren” di TK ini, ikut beratraksi dengan menari LIMBO (coba yahhhh aku tahu nama tarian ini dari RIKU!!!, dia berteriak, “Sensei…menari Limbo! asyik!” duh duh duh anak jaman sekarang kok tahu yang begituan?) Tarian Limbo itu yang menari melewati bambu yang direndahkan serendah-rendahnya. Menarik!

Selanjutnya tarian yang menarik adalah Mario Bross. Dengan atraksi sirkus yang lucu dari 5 orang berpakaian hitam-hitam. Ada juga pertunjukan alat musik dengan lagu-lagu yang dikenal anak-anak. Sumbangan acara dari guru-guru juga menarik, sebuah sendratari berjudul Takoyaki Man, semacam hero yang mengalahkan Tikus tanah yang menjadi hama untuk panenan sayuran. Aku juga heran kok mereka punya aja ya kaset BGM lengkap untuk cerita-cerita begitu. Menarik sekali loh. Jadi hanya tinggal menari dan bergerak mengikuti lagu dan jalan cerita saja. Bagus untuk mengisi acara di sekolah-sekolah. Nanti aku mau tanya deh, siapa tahu bisa diterjemahkan ke bahasa Indonesia ….hihihi…

Acara terakhir adalah pidato dari sensei-sensei, guru-guru dari kelas Nencho (usia 5 tahun) yang akan mengantar murid-muridnya lulus TK besok. Tentu saja penuh dengan isak tangis. Dan terakhir yang juga membuat aku berusaha menahan tangis (dengan tidak ikut menyanyi) adalah sebuah lagu yang dinyanyikan oleh ibu-ibu dan anak-anaknya bersama-sama. Riku juga hafal lagu ini, dan waktu aku tanya, “tentu saja hafal, hampir tiap hari nyanyi lagu ini kok!”

Yah, memang lagu ini liriknya bagus. Sebuah lagu yang sering dinyanyikan di SD/SMP yang awalnya merupakan ending theme song untuk acara NHK yang dinyanyikan oleh kelompok Angels Harmoni tahun 1998.

BELIEVE

【作詞・作曲】杉本竜一 Lirik/lagu Sugimoto Ryuichi

1.

Seandainya kamu terluka dan menjadi lemah
pasti aku akan berada di sebelahmu dan menyangga bahu itu

Panggullah harapan seluruh dunia
Sekarang dunia berputar
Dan waktu engkau buka pintu masa depan
Kesedihan dan kesulitan pada satu saat nanti
pasti akan berubah menjadi kegembiaraan
I believe in the future
Aku Percaya!

2.

Seandainya seseorang sebelahmu menangis
Kamu pasti akan menggandeng tangannya diam-diam
dan berjalan bersamanya kan?

Dengan kebaikan seluruh dunia
Ingin ku selimuti bumi ini
Jika sekarang kau bisa menunjukkan isi hati yang jujur
Aspirasi dan cinta pasti bisa menerangi cakrawala
I believe in the future
Aku Percaya!

terjemahan bahasa Indonesia sebebas-bebasnya oleh Imelda Coutrier.

1.たとえば君が 傷ついて
くじけそうに なった時は
かならずぼくが そばにいて
ささえてあげるよ その肩を
世界中の 希望をのせて
この地球は まわってる
いま未来の 扉を開けるとき
悲しみや 苦しみが
いつの日か 喜びに変わるだろう
アイ ビリーブ イン フューチャー
信じてる

2.もしも誰かが 君のそばで
泣き出しそうに なった時は
だまって腕を とりながら
いっしょに歩いて くれるよね
世界中の やさしさで
この地球を つつみたい
いま素直な 気持ちになれるなら
憧れや 愛しさが
大空に はじけて耀(ひか)るだろう
アイ ビリーブ イン フューチャー
信じてる

いま未来の 扉を開けるとき
アイ ビリーブ イン フューチャー
信じてる

Untung ada mas!

Tak terasa persis seminggu yang lalu saya kembali dari Jakarta ke rumah saya yang di Tokyo. Posting kali ini ingin menceritakan perjalanan pulang saya dengan Singapore Airline.

Pesawat dari Singapore ke Narita selalu berangkat jam 11 malam. Dari dulu saya selalu ambil pesawat malam ini, sehingga akan tiba di Tokyo keesokan hari sekitar pukul 7 pagi. Nah untuk bisa naik pesawat ini, dari Jakarta saya mengambil pesawat yang jam 7 malam, meskipun satu penerbangan lebih lambatpun masih cukup. Tapi mengingat saya travel dengan dua anak, jadi lebih baik ambil amannya saja. Saya tiba di bandara Cengkareng dari rumah sekitar jam 4  sore. Karena saya ingin mengurus pas masuk untuk pengantar supaya bisa mengantar saya sampai depan pintu boarding. Dulu ipar saya bisa mengurus itu dan mengantar sampai pintu boarding, tapi kali ini saya yang akan mengurus, karena saya pergi ke Cengkareng ini hanya diantar Andy, adik saya saja. (Biasanya satu RT antar sih ….huh hiperbolis sekali hehehe)

berfoto bersama mama sebelum ke bandara untuk pulang

Tetapi ternyata setelah saya tanyakan pengurusannya ke pejabatnya langsung, pengantar tetap hanya bisa sampai sebelum pintu Imigrasi. Yahhh sama juga bohong dong, karena jarak dari pintu imigrasi sampai pintu boarding itu masih jauh. Untung saya belum check ini sehingga saya memutuskan untuk masuk sendiri check in dan minta bantuan dari ground staff untuk bantu saya sampai boarding gate. Memangnya perlu bantuan?

Sebetulnya kalau maksa juga bisa, tapi karena berangkat malam, dan memang hari-hari sebelumnya saya kurang tidur karena urus Kai sakit, saya merasa butuh bantuan. Dan memang rupanya sudah terdapat request pelayanan dengan anak kecil ( 2 balita)  selama 3 kali yaitu di Cangkareng, dari imigrasi sampai masuk pesawat, kemudian waktu ganti pesawat di singapore dan waktu tiba di Narita. Well, waktu berangkat saya keras kepala tidak mau pake bantuan, tapi kali ini saya menyerah. Jadi begitu selesai check in, saya mengurus bebas fiskal. Waktu berjalan menuju loketnya, saya dihampir seorang pemuda, ground staff dari SQ. Bersama dia, saya mengurus bebas fiskal. Saya menulis formulir, sambil bergantian dia membantu melihat kai yang duduk di kereta bayi, dan menuliskan kartu imigrasi untuk saya (staff ini cakep tapi sayang tulisannya…. kaya cakar ayam heheheh). Tapi kalau semuanya saya kerjakan sendiri pasti butuh waktu yang lama.

Selesai bebas fiskal (karena saya penduduk LN, punya jatah 2 kali setahun bebas fiskal), kami menuju ke pintu imigrasi. Wuiiih enak deh, soalnya saya tinggal jalan terus, si staff ini yang urus 3 paspor kami. Setelah selesai kami berjalan ke pintu boarding, tapi karena cukup banyak waktu pintu boarding sendiri belum dibuka. Setelah dibuka, kami menuju ke ruang tunggu paling dekat dengan pintu menuju pesawat. Di situ saya sempat minta tolong dia tungguin Kai, sementara saya dan Riku pergi ke wc. Wahh untung sekali, karena…. biasanya ini menjadi masalah. Mau ke wc tapi tidak bisa sambil gendong bayi, atau bawa baby car sampai ke wc yang terletak di lantai bawah (Di bandara Cengkareng kan begitu semua). Waktu saya balik, saya pikir kai akan menangis karena akhir-akhir ini dia sering cengeng kalau tidak ada saya. Eh ternyata, si staff ditemani beberapa karyawan ground lain (laki-laki) sedang bermain dengan Kai. Suatu pemandangan yang khas Indonesia, karena sejujurnya tidak ada laki-laki Jepang yang akan sudi bermain dengan bayi. Dan sedikit perempuan muda Jepang yang bersedia menggendong bayi dengan rela. Di Indonesia, supir saja mau menggendong bayi. Hubungan manusia dengan bayi di Indonesia itu tidak ada duanya. Kita bisa melihat supir atau pramu wisma/baby sitter menggendong sambil mencium-cium seorang bayi. Skinship ini tidak bisa kita lihat di Jepang, not even between a baby and his/her mother in  public places. Memang alasannya karena tidak biasa.

Sambil menunggu waktu boarding, saya sempat mengirim sms dan telepon ke beberapa teman. Dan begitu pintu dibuka, kami diantar dengan staff cakep tadi ke dalam pesawat. Saya bisa melenggang dengan bebas, karena barang tentengan dibawakan si staff itu, saya cukup menggendong Kai saja, karena kereta bayinya dititipkan sbg cabin. Benar-benar tertolong. Perjalanan ke Singapore lancar.

Begitu sampai di Singapore, kami dijemput oleh seorang keturunan ground staff dari SQ di sana. Bersama-sama kami jalan menuju tempat point untuk memeriksa paspor dan tiket connecting. Saya diperbolehkan berjalan-jalan sebentar sebelum kami diantar ke terminal 3. Duty Free Singapore memang menggiurkan. Tapi kali ini saya hanya membeli rokok untuk Gen dan coklat, karena pikir tidak mau menambah tentengan. Sementara saya lihat-lihat, tiba-tiba seorang staff SQ yang lain menghampir saya, dan mengatakan “Its time”. Well kok cepat sekali, saya pikir. Ternyata….. kami ditunggu mobil golf yang biasa mengantar disable person. WOW, akhirnya kesampean juga naik mobil golf ini. Supirnya seorang wanita melayu berbadan besar, yang cukup gradak-gruduk hehehe. Riku sangat senang bisa naik mobil itu. Dan rasanya memang seperti naik jet coaster, saya rasa pasti tidak lebih dari 20 km/jam, tapi rasanya sih cepat sekali. Terasa desiran angin yang menerpa muka dan rambut. Saya pikir kalau naik mobil ini pasti cepat sampai….. tapi ternyata… tidak. Ada mungkin 10 menit lebih kami meliuk-liuk melewati gate-gate penerbangan. (tentu saja terkadang diiringi mata iri penumpang lain yang sedang berjalan kaki). Baru kami sampai di Gate no XX (lupa euy) di terminal 3, terminal baru Bandara Changi yang katanya baru dibuka Februari tahun ini. Waaah bener deh, ngiriiiiii, besaaaaarrr, modernnnnn, (ada tempat ganti pampers bayi dan air panas untuk buat susu segala. Mungkin terminal ini juga untuk mengimbangi pesawat canggih A380 yang baru. (tentang pesawat sendiri akan saya bahas terpisah…permintaan Bang Hery)

Staff ini mengantar sampai gerbang boarding, dan sampai kami naik pesawat. Setelah naik pesawat memang semuanya menjadi urusan saya sendiri. Kira-kira 6 jam, dan ternyata saya tidak mendapat tempat tidur bayi (padahal saya sudah pesan), saya mendapat 3 kursi (dua kursi pinggir dengan tengah kosong). Aduuuuh Kai… entah karena lampu dimatikan atau karena tidak ada tempat merebahkan diri (saya otomatis peluk dia terus sampai dia tertidur) karena tempat duduk kosong itu dipakai Riku berbaring. Kai rewel…nangis terus, ngga tau kenapa. Mungkin mau main, mungkin tidak suka gelap, karena begitu saya masuk ke WC, dia diam  dan bisa terlelap. Tapi masak saya duduk terus dalam wc supaya kai bisa tidur? Dari 6 jam perjalanan, 3-4 jam Kai menangis terus. Maaf beribu maaf untuk penumpang yang duduk di sekitar kami. Pasti mereka juga tidak bisa tidur.

Akhirnya sampai di Narita pukul 7. Sekitar pukul 6, saya raba, Kai demam…. wahh. Begitu turun dari pesawat, saya dijemput lagi oleh ground staff, kali ini seorang bapak-bapak berusia 60-an tahun. Tentu saja orang Jepang, sehingga Riku bercakap-cakap terus dengan bapak itu. Setelah saya melewati imigrasi Jepang dengan cara baru (scan sidik jadi dan foto muka), kami menuju ke conveyor belt untuk mengambil bagasi kami. Kali ini saya hanya bawa 1 koper dan 1 traveling bag (yang sangat berat, kira-kira 11 kg berisi buku semua). Bapak itu juga membantu mengangkat koper, melewai pabean (bea cukai), sampai ke lobby. Karena Gen belum sampai, jadi kami mengucapkan terima kasih pada bapak itu, dan menunggu sampai Gen datang.

Jadi kepulangan saya kali ini banyak sekali dibantu mas. Sebetulnya namanya MAAS, sebuah pelayanan family dari Singapore Air, untuk escort, mendampingi keluarga atau yang membawa bayi/cacat tubuh dan lain-lain. Pelayanan ini gratis, tidak dipungut biaya. Pelayanan seperti ini sepertinya ada juga untuk Japan Airline, tapi kalau membeli excursion tiket (tiket murah) kami tidak bisa pakai jasa ini. (Pelit ya hehehehe) Benar  deh…. Untung sekali ada MAAS.