Arsip Tag: bus bertingkat

Hongkong by night

Aku sering mendengar ucapan bahwa Hongkong itu indah di malam hari. Dan kata mama dan saudara-saudaraku Manado pun indah di malam hari.  Aku tidak tahu soal Manado, tapi aku bisa membuktikan dengan mata kepala sendiri bahwa memang Hongkong itu indah di malam hari.

Bus double decker (bus bertingkat) yang kami naiki

Setelah beristirahat  sejenak, kami keluar rumah lagi naik taxi ke terminal bus. Tujuan kami adalah “The Peak”. Sebuah tempat wisata di puncak Hongkong tempat kami bisa menikmati pemandangan di malam hari. Beruntung sekali kami bisa duduk di bangku terdepan di lantai atas bus bertingkat. Pasti indah! Begitu kupikir.

Melewati Taman victoria. pukul 18:00 sore dan masih dipenuhi TKI..duh ntah kenapa aku sedih. Jadi ingat taman Ueno Tokyo juga demikian, tapi dipenuhi pemagang laki-laki dr Indonesia

Dan memang indah pemandangan sepanjang jalan tapiiiiiii pilihan duduk di bangku terdepan lantai atas sebuah bus bukan pilihan yang tepat bagi seorang phobia seperti aku. Naik mobil biasa ke puncak dengan jalan sempit berliku-liku aku sudah biasa! Tapi jika itu aku alami di lantai atas sebuah bus…. cukup membuatku pucat sepanjang perjalanan, dan memegang erat bar pengaman bus (untung aku tidak hobby muntah atau p*pis di celana 😀 ). Tidak jarang aku merasa bus itu oleng ke kanan dan kiri, apalagi jika berpapasan dengan bus dari arah lain. Alamak! Sampai aku sempat menyesal tidak ikut asuransi perjalanan di Hongkong hehehe.

Kami sampai di pangkalan bus di The Peak yang berada tepat di bawah sebuah bangunan yang bernama Galeria. Dan kami menemukan sebuah tempat yang disarankan oleh supir taksi waktu kutanya “Uncle, do you know a good restaurant at the Peak”. Hebat juga tuh supir, karena ternyata nama restoran yang dia sebutkan dalam bahasa sono itu masuk dalam guide book. Tadinya kami mau naik tram atau naik ke puncak untuk melihat pemandangan dulu. Tapi saat kutanya ke restorannya apa masih ada meja di pinggir jendela, dijawab hanya tinggal satu saja. So, aku memutuskan untuk makan malam dulu di restoran “Deco Cafe” itu.

Wahhh untung sekali kami mendapat tempat di situ. Restoran ini menyediakan corner untuk anak-anak bermain. Selain itu di tempat duduk untuk anak-anak mereka memberikan alas makan berupa kertas untuk menggambar dan beberapa crayon. Hebat pelayanannya untuk anak-anak. Yang pasti aku belum pernah menemukan service untuk anak-anak di Indonesia yang berkenan di hati (kalaupun disediakan kertas/buku/pensil biasanya ditarik biaya)

So, kami duduk sambil melihat pemandangan keluar, tapi karena letak meja kami di pojok, untuk melihat pemandangan yang penuh, kami harus keluar ke teras restoran. Kami sempat berlama-lama melihat menu, bingung mau memilih makanan yang mana. Tapi karena Ao sedang bermain di Kids Corner, Kimiyo mengajak aku makan kue Black Forrest sebelum main course. Dan tentu saja aku setuju! Yummy sekali black forrest di sini. Untunglah Kimiyo bisa mendapatkan kesenangan sesaat. Anaknya Ao alergi telur, sehingga otomatis Kimiyo juga tidak bisa makan makanan yang mengandung telur di depan anaknya. Dan aku tahu itu stressful. Aku merasa beruntung anak-anakku tidak ada yang alergi atau mempunyai sakit yang memerlukan penanganan khusus.

Sambil melihat antrian panjang penumpang tram (yang akhirnya kami putuskan tidak jadi menaikinya), kami menikmati pergantian senja di dalam restoran yang cozy dan sejuk, dilengkapi makanan enak. Baru setelah selesai makan malam, kami berfoto dengan latar belakang pemandangan “Hongkong by Night”.

Kalau melihat pemandangan indah seperti ini ingin sekali rasanya punya kamera DSLR

Nah pulang dari sini yang butuh perjuangan, karena harus rela antri cukup lama untuk bisa naik bus. Meskipun demikian bus adalah pilihan transportasi yang paling tepat dibanding yang lain. Karena kemacetan juga harus diperhitungkan juga. Tapi selama aku berada 3 hari 2 malam di Hongkong, aku belum pernah bertemu kemacetan yang parah  seperti di Tokyo atau Jakarta.

Keindahan artifisial? Ntahlah yang penting cukup menghibur hati.

Stanley

Nama Stanley yang biasanya lekat dalam benakku adalah Stanley film animasi dari Disney Channel yang amat suka binatang. Dia mempunyai “Kitab Ajaib” “Great Big Book of Everything” yang berisi keterangan tentang binatang-binatang dan jika kedua piarannya kucing dan anjing menyanyikan sebuah “mantra” tertentu. Stanley akan bisa “masuk” ke dalam  buku itu dan bertemu langsung dengan tokoh binatang itu.

Stanleynya Disney, kesukaan Riku waktu kecil, dan yang menyebabkan Riku suka binatang

Tapi Stanley yang mau kuceritakan di sini adalah nama tempat wisata di Hongkong,  yang menjadi tujuan kami wisata di hari kedua kami berada di Hongkong.

Pagi hari kami bangun dan naik taxi menuju sebuah restoran yang bernama Very Good Restaurant,  sebuah restoran Dim Sum yang katanya buka mulai jam 8 pagi. Konon orang Hongkong keluar rumah tanpa sarapan, dan sarapan di restoran/kedai makan dulu sebelum mulai bekerja. Wah praktis banget tuh, jadi ibu-ibu (atau pembantu) tidak usah mempersiapkan sarapan untuk orang rumah.

Tentu, Anda semua sudah tahu dim sum ya. Kebanyakan dim sum adalah panganan dalam skala kecil yang dikukus. Beberapa jenis yang terkenal adalah Bakpau, beraneka rasa siomay, roti mantau dan lebih spesifik lagi harkau (pangsit rebus berisi udang) dan ceker ayam. Meskipun bukan dikukus, onde-onde, pangsit goreng dll juga termasuk dalam menu Dim Sum ini.

Nah, kabarnya restoran ini enak dim sum nya. Dan memang restoran ini lumayan besar. Kami menempati meja bundar (meja bundar memang selalu praktis, karena bisa ditempati orang dalam jumlah berapa saja), dan mulai memesan makanan. Satu yang menarik di sini, begitu kami datang, kami dibawakan dua buah poci panas, satu berisi teh cina, dan satu lagi berisi….air panas. Nah, aku baru tahu di sini ada kebiasaan orang untuk “mensterilkan” mangkuk dan sendok/sumpit yang akan mereka pakai dengan air panas ini. Memang katanya ada juga yang tidak melakukan itu, tapi kebanyakan orang Hongkong mencuci peralatan makan mereka. Hmmm kalau dipikir memang Hongkong termasuk kota yang bersih juga, meskipun kelihatannya semrawut karena padat bangunan dan manusia. Aku lupa tanya apakah kebiasaan ini memang sudah lama ada, atau baru-baru saja semenjak ada isu flu burung.

Mensterilkan alat makan dengan air panas

Yang juga menarik di sini adalah masakan ceker ayam yang tidak pedas. Biasanya ceker ayam di Indonesia diberi bumbu yang spicy dengan potongan cabe merah, Tapi di Hongkong ada jenis yang tidak memakai cabe, (semacam bumbu steak saja) sehingga anak-anak bisa makan. Dan kedua anakku makan ceker ayam dengan lahapnya, meskipun sulit untuk Kai makan sendiri karena belum bisa memilah daging dengan tulang in the mouth by himself. Kalau Riku memang dia sudah “berkenalan” dengan ceker sejak lama.

Kai pertama kali makan ceker, dan....dia suka! Cukup banyak dimsum dan sayuran yang dia makan pagi ini

Setelah dari restoran ini, kami naik kereta bawah tanah untuk pergi ke terminal bus double decker, bus bertingkat yang akan membawa kami ke Stanley. Nah apa beda subway di Jepang dan di Hongkong?  Di Hongkong jalur kereta subway ditentukan dengan warna jalur dan stasiunnya. Semisal jalur kereta yang akan kami naiki itu jalur hijau, maka peronnya berwarna hijau juga. Cara ini benar-benar memudahkan turis yang buta kanji dan anak-anak. Memang di Tokyo juga memakai penanda warna untuk kereta bawah tanah, tapi peronnya tidak berwarna. Mungkin karena jalur kereta subway di Jepang itu begitu banyak ya?

kami naik kereta hijau. Semua stasiun di Hongkong sudah otomatisasi untuk memeriksa karcis tujuan

Dan selain warna jalur, satu hal lain yang bisa dikatakan “aneh” adalah kecepatan gerak eskalator (tangga berjalan) di stasiun Hongkong. Aduuuh ini benar-benar berbahaya untuk orang/ibu yang menggendong anak, orang tua dan mereka yang tidak cepat tanggap. Bisa jatuh deh! Aku sampai berkata pada Kimiyo: “Orang Jepang dianggap tidak sabaran, karena selalu berjalan cepat-cepat. Tapi Hongkong? duh bisa mengalahkan eskalator di Jepang kecepatannya.

eskalator maut... cepeeeet banget, untung kai digendong papanya Ao

Kamu naik bus double decker, bus bertingkat yang banyak terdapat di Hongkong untuk menuju Stanley. Duduk di tingkat atas bus ini memang memberikan kami pemandangan kota yang lebih menyeluruh. Dan aku rasa bus tingkat, tram tingkat di Hongkong yang begitu banyak mampu membuat jalanan Hongkong tidak macet! Selain dari dapat mengangkut penumpang yang banyak dalam satu trayek. Semestinya Jakarta juga mempunyai bus tingkat ini !

bus tingkat yang kami naiki untuk ke Stanley

Kami  turun di terminal akhir. Pemandangan di daerah ini memang sedikit agak lain dengan pemandangan dalam kota Hongkong. Kami menuju pertokoan yang ada, macam tanah abang atau mangga dua di Jakarta atau di asakusa jika di Tokyo. Dan memang barang-barang/ cindera mata di sini MURAH!

Tapi tujuan pertama kami adalah tempat pembuatan huruf Kanji dengan hiasan. Bahasa Jepangnya Hanamoji (Huruf berbunga). Kimiyo memesan penulisan hanamoji untuk temannya. Dan kami bisa melihat proses si pengrajin itu menuliskan nama dua temannya dengan artistik. Aku ingat dulu aku juga pernah mendapatkan hadiah dari seorang murid berupa nama aku dan Gen ditulis dengan Kanji warna-warni. Riku yang memang menyenangi kesenian, langsung mendapat ide untuk menulis indah begitu, dan begitu sampai rumah memang dia sempat mempraktekkannya. Sayang aku lupa mengambil foto hasil karya Riku.

Riku penuh perhatian melihat pengerjaan ketrampilan Hanamoji. Di toko ini, sealain si penulis hanamoji, ada satu lagi pegawainya yang sudah pernah belajar ke Jepang.

Setelah masuk keluar toko sepanjang lorong-lorong yang menjual berbagai macam cendera mata, kami keluar mendapati sebuah pemandangan yang indah. Semacam pantai dengan dermaga, dan pemandangan rumah-rumah bungalow orang asing yang sejenak dapat memberikan kedamaian waktu melihatnya. Seakan bukan di Hongkong.

pemandangan dari sini sangat menyejukkan hati, meskipun sebetulnya suhu udara saat itu amat sangat panas...

Tapiiiiiii sebenarnya siang itu panasssss sekali. Setelah berbelanja dan berjalan jauh, kami beristirahat di sebuah cafe kecil dan menyeruput es kelapa muda. Kemudian kami kembali ke apartement Kimiyo naik taxi karena anak-anak sudah capek dan mengantuk. Kai tertidur di dalam taxi, tapi begitu sampai di apartemen Kimiyo terbangun dan tidak mau ketinggalan untuk berenang di kolam renang apartemen. Sementara Ao tidur siang wajib, tidak bisa tidak harus 3 jam. Wah anak-anakku sih kalau dikasih tidur segitu lama siang harinya, bisa melek sampai jam 11 deh, sehingga tidak ada kebiasaan siesta (tidur siang) dalam keluargaku.

Setelah istirahat sebentar, kami kemudian keluar rumah lagi untuk pergi ke The Peak.