Arsip Tag: bocah kweni

Hari ke 21 – Kweni the Climax

Hari ke 21 – 7 Maret 2009, merupakan klimaks perjalananku ke Indonesia dalam rangka liburan kali ini. Aku sudah merencanakan kunjungan ke desa Kweni ini dari jauh-jauh hari. Surat elektronik, chat, sarana internet yang canggih membantu banyak dalam membuat rencana ini bersama Uda Vizon. Awalnya hanya sebuah perbincangan, bagaimana jika…. Dan akhirnya menjadi suatu rencana yang bertajuk “Bermain bersama bocah Kweni”. Dan alangkah bahagianya juga bahwa Gen, mendukung rencanaku ini. Melati san, Akemi san, Nishimura san juga ikut menitipkan sedikit “hati” mereka untuk ikut berbagi dengan bocah-bocah ini. 心から感謝いたします。 Saya tahu kalau saya lebih memusatkan perhatian dan lebih berusaha, semestinya ada lebih banyak teman-teman Jepang saya yang sudi membantu. Tapi karena waktu yang tidak mengijinkan, hanya teman dekat yang mengetahui rencana saya sajalah yang menghubungi saya dan memberikan bantuan itu. Memang sedikit yang terkumpul, tapi saya tahu ada “Hati yang tulus” di sana.

Pagi hari terbangun pukul 8 dan baru menyadari adanya sms dari Lala masuk ke HP saya. Saya juga menemukan sms dari Uda Vizon, yang memberitahukan akan lebih baik jika bingkisan dilebihkan 5 buah, sehingga berjumlah 65 paket. Hmmm …. barang dari Jepang memang pas-pasan, tapi mungkin aku bisa lari sebentar ke Toko Merah lagi untuk membeli tambahan untuk 5 anak itu.

Jadi begitu jam 10 mobil datang, aku pergi ke Toko Merah, membeli paket yang sama dengan 60 yang lain (dan gobloknya aku kok cuman beli 5 saja…semestinya lebih lagi). Dari situ aku minta diantarkan Pak Daniel, (supirnya kali ini bernama Daniel…bukan Daniel Mahendra hihihi) pergi ke Ambarukmo Plaza, karena aku perlu melihat email yang masuk. Cepat-cepat duduk di Dunkin Donuts, menghubungkan koneksi internet, dan melihat emails yang masuk.

Wah bener-bener diburu waktu, karena aku harus check out dari rumah Mertua sebelum jam 12. Padahal saat itu sudah hampir setengah sebelas…pasti terlambat. Akhirnya aku minta Lala, untuk mengeluarkan barang yang aku tinggalkan di dalam kamar, dan memberitahukan bahwa aku akan cek out secepatnya.

Kira-kira jam 12:30 aku sampai di Rumah Mertua, menyelesaikan bill tambahan dan cek out dari sana. Untung saja barang kiriman Lala yang semestinya sampai kemarin itu sudah sampai. Cepat-cepat masukkan semua barang ke dalam mobil, lalu ke Villa Hani’s. Beuh waktunya ….. mepet banget.

Setelah menurunkan semua barang, aku bertiga dengan Lala dan Riku (aku mohon pada Riku untuk ikut bantu….) memasukkan buku tulis, dan alat tulis ke dalam kantong plastik. Harus kerja cepat karena the time is tickling! Di situ aku merasa salah… aku pikir dari Palagan ke Bantul dekat, ternyata tetap harus menghitung kemacetan, sehingga kalau dihitung mundur, untuk tiba di Kweni jam 3 , paling lambat kita harus keluar dari Hanis pukul 2 siang. Padahal aku tulis/umumkan berkumpul jam 1 siang…. dan tahu sendiri orang Indonesia kan, disuruh kumpul jam satu, bisa saja dia datang jam 1:05 atau 1:59…. depannya masih satu jeh hahahaha. (its Indonesian way of thinking about time you know!)

Jadi begitu Ipi, Tyan, Mas Goenoeng dkk datang, aku tidak bisa menyambut mereka dengan ber hahahihi. Spanning jeh… mohon maaf ya…. Tapi untung saja mereka cekatan sehingga bisa mengambil alih tugas mengisi plastik dan menghitungnya. Kemudian tak lama Danny dan Noengki datang, sehingga lengkaplah peserta rombongan ke Kweni. Teng Jam 2 siang, kita menuju mobil and GO……

Tanpa briefing… karena memang tidak ada waktu. Jadi aku briefing pada cewek-cewek yang satu mobil dneganku saja. DM, Mas Goenoeng dan Arif yang naik mobil lain tidak mendengar sama sekali rencana dan susunan acara dariku. Biarlah…. santai saja aku pikir. Ikut arus aja nanti gimana kan….

Kami sampai di desa Kweni pukul 2:45… Wah masih ada 15 menit aku pikir. Jadi bisa briefing. Eeee tau tau langsung ke pendopo tempat pelaksanaan acara, taruh barang dan …. mulai…. Sulit juga untuk mengadakan briefing kalau sudah melihat anak-anak itu sudah berkumpul dan duduk dengan manis melihat kita-kita seliweran di depan mereka tanpa berkata apa-apa. Mana bisaaaa…

Akhirnya meskipun lebih cepat dari rencana yang mulai jam 3, kita mulai acara “bermain dengan bocah Kweni”. Terus terang aku grogi… Mungkin kalau dalam bahasa Jepang aku ngga segrogi itu. Dan sebetulnya aku mau ngaku, satu hal “kata kunci” yang membuat aku grogi adalah, aku tidak bisa fasih mengucapkan “Assalamualaikum Wr Wb”… Mungkin karena aku tidak mau ucapkan sambil lalu saja ya? sehingga jadi grogi duluan. Padahal salam ini selalu harus diucapkan dalam setiap pertemuan dengan orang Indonesia. hiks…

Anyway setelah membuka acara, di dalam kepala berputar terus what next… jangan sampai anak-anak ini ngantuk dan bosan. Jadi langsung saja masuk ke acara perkenalan dengan kakak-kakak blogger yang hadir (kakak-kakak blogger itu rupanya sudah menjadi istilah baru hehehh)

Setelah perkenalan kami menikmati acara tarian Badindin (Din… siunyil_kutupret…kamu disebut terus tuh hihihi) yang disuguhkan oleh bocah Kweni. Aku selalu kagum pada mereka yang bisa menari, karena aku sama sekali tidak bisa menari. Kelihatannya sih Riku suka menari, karena dia lumayan suka goyang-goyang kalo dengar musik. Buktinya dia juga bisa bergoyang di panggung pertunjukan TK nya. Kai gimana ya? Lets wait and see…..

Setelah tarian selesai, mumpung sudah moriagaru (meriah) langsung dilanjuti dengan gerak dan lagu bahasa Jepang. Sebuah lagu anak-anak yang sering dinyanyikan untuk anak Balita, mulai 0 tahun. Sekaligus mengajarkan nama anggota tubuh. Atama Kata Hiza..pon….. Me… Mimi Hana..Kuchi. Kalau bisa hafal lagu ini, berarti kamu sudah bisa menyebutkan kepala pundak lutut, mata, telinga, hidung dan mulut dalam bahasa Jepang! Untuk lagu ini Satira (anaknya Uda) dan Della yang kemarin sudah latihan ikut berdiri di depan dan mengajarkan teman-teman yang lain.

Setelah capek bernyanyi…(wah bener deh bermandikan keringat saat ini selain bergerak juga panasnya rek… setelah itu memang hujan mengguyur dari langit) kita lanjutkan dengan permainan suit jepang yang Kertas, Batu dan Gunting, tadinya untuk menentukan grup…. TAPI ternyataaaaaaa sulit mengendalikan anak-anak stick to their answer!. Kalau dibilang yang kertas kumpul di kakak yang ini…. semua ikut-ikutan padahal mereka tidak menjawab kertas. ADUH deh….

Langsung aku sadar, tidak bisa dengan cara ini. Dan sayang saat itu tidak ada mas trainer yang mungkin bisa menemukan cara atau permainan yang tepat untuk membagi kelompok untuk anak-anak. Well memang teori itu banyak , bisa dengan cara ini itu, tapi pada pelaksanaan suliiiiit banget jeh. Jadi sebisanya saja buat anak-anak itu mau berkumpul ke Kakak-kakaknya. (Kayaknya aku harus ngajar di TK/SD atau pramuka  deh supaya mahir dengan permainan-permainan anak-anak)

Masing-masing kelompok dibagikan kertas manila putih, crayon, penggaris dan pensil. Sebetulnya tujuan aku adalah menceritakan tema dari Picture book yang pernah aku posting, “The Story of Black Crayon“. Tapi apalah daya… tidak bisa sesuai dengan keinginan. Ya gpp lah, yang penting anak-anak ini enjoy (kakaknya enjoy atau ngga masa bodo hahhahaa). Mungkin kalau skalanya lebih kecil bisa tapi untuk 60 anak sulit euy.

Sambil anak-anak menggambar, kami kedatangan tamu agung, Ibu Dyah Suminar dan Mbak Tuti Nonka. Yang membawa makanan kecil untuk dibagikan buatan Vivi. Kebetulan sekali bisa buat selingan, jadi deh gambar sambil makan snack…. (padahal aku juga laper banget loh, ngeliat anak-anak itu makan pengeeeen… tapi drpd makan lebih pingin minum teh botol atau air yang dingiiiin banget, karena haus dan puanas)

Separuh acara sudah selesai, anak-anak sibuk menggambar dan makan, sedangkan kakak blogger nya juga sudah mulai wara wiri, berfoto-foto narsis… aku juga sudah santai, pikirku tinggal nutup acara hehehe. Jadi setelah kira-kira pada selesai gambarnya, aku minta mereka mengumpulkan gambar mereka, kembali ke tempat duduk masing-masing dan …. karena masih ramai, ya sudah lanjutkan dengan pameran gambar untuk ambil foto bersama kakak bloggernya setiap kelompok. Biar sekalian ramai. Tapi hadiah belakangan ya dik….

Kemudian Uda Vizon berpidato, menyambut kedatangan Ibu Dyah dan Mbak Tuti sambil menjelaskan maksud acara ini. Acara dilanjutkan dengan wejangan dari Mbah Dyah (duh Bunda Dyah ini masih muda jeh, ngga pantes dipanggil Mbah meskipun sudah punya cucu) Setelah wejangan Bu Dyah, anak-anak mendengarkan cara- sikat gigi yang baik dan benar (kok seperti bahasa Indonesia yang baik dan benar ya?) dari Ibu Dokter Noengki. (oi oi kakak-kakak yang lain mulai deh ngerumpi sendiri, sehingga aku yang nemenin Noengki di depan anak-anak…. padahal pengennya ikut ngerumpi juga hihihi)

Tiba acara terakhir yaitu pembagian hadiah dari “Komunitas Blogger” kepada bocah Kweni, sekaligus penutupan acara. Untung saja acara pembagian hadiah juga berjalan dengan lancar, meskipun belum dibriefing bagaimana cara mbaginya. (karena ada beberapa potong). Tapi karena ada tas ransel hadiah dari Mbak Tuti, akhirnya semua bisa dimasukkan dalam ransel, sehingga anak-anak dapat bawa pulang dengan mudah. Riku ikut membantu membagikan ransel, dan bantu memakaikan ransel pada kakak-kakak –teman-temannya ini. Meskipun akhirnya Riku juga minta bagian hihihi. (maafin ya…. namanya juga anak-anak)

Anak-anak yang sudah menerima ransel, langsung berkumpul di luar dan kita berfoto bersama di depan pendopo. Senang sekali melihat wajah mereka yang berseri-seri dengan senyuman di terangnya siang (karena pendopo agak gelap). Sambil berfoto bersama, aku hanya bisa mengucapkan doa dalam hati, “Tuhan lindungi anak-anak ini, dan kiranya Engkau mau memperhatikan dan membimbing mereka”.

Kakak-kakak blogger yang baru aku temui secara langsung di tempat itu pun memancarkan senyum yang keluar dari hati.  “Terima kasih Tuhan, Engkau juga telah memberikan aku teman-teman baru yang baik. Kunikmati semua anugerahMu melalui pertemanan ini. Kami datang tanpa materi yang berlimpah tapi kami ingin berikan sepotong hati kami pada sesama.”

12 orang Blogger yang berkumpul di desa Kweni ini akhirnya ribut membicarakan acara Kopdar malam, dan merasa mendapat kehormatan karena Mbah eh Bunda Dyah berkenan menyediakan rumah dan makanan untuk kami. Kami berjanji untuk berkumpul kembali malam harinya di rumah Bunda Dyah, lalu kami bubar dan acara “Bermain bersama Bocah Kweni” selesailah sudah. Dua setengah jam yang sangat berharga. Semoga kedamaian yang dirasa bisa tetap bersemayam dalam hati.

Rombongan Villa Hani’s kemudian berkumpul di rumah Uda Vizon, untuk cuci kaki, beristirahat… dan akhirnya aku juga bisa mencicipi kue buatan Vivi. Belum lagi adikku Lala membelikan semangkuk bakwan tok tok yang kebetulan berhenti di depan rumah Uda. Its delicious La! Thank You. (sementara mamanya makan bakwan si Riku di dalam main PS tuh)

Capek, lepek karena keringat dan mau mandi… Kami tentu butuh mandi sebelum bertandang ke rumah Ibu Walikota Yogya. Jadi cepat-cepat kami naik mobil, kembali ke Villa Hani’s di jalan Palagan. Sayang sekali Ipi dan Tyan tidak bisa ikutan ke jamuan makan malam. Tapi kehadiran Mas Totok dari Gunung Kelir bisa menambah “ramai”nya rombongan.

Bergiliran memakai dua kamar mandi yang ada, dan akhirnya aku bilang mendingan kita kasih tahu Bunda Dyah minta diundur sampai jam 8 saja deh. Tapi karena dua mobil yang menuju rumah Bunda agak tersesat, kami sampainya melebihi waktu yang ditentukan. Mohon maaf ya Bunda.

Sebetulnya sudah sejak di mobil, aku tahu Riku sudah capek dan mengantuk. Akhirnya terpaksa digendong Danny masuk ke dalam ruang tamu dan Riku ditidurkan di sofa. Karena agak rewel, terpaksa aku temani dia dulu di sofa, sementara teman-teman yang lain langsung mulai makan malam. (Sayang deh aku ngga bisa ikutan foto di depan meja makan) . Setelah Riku bisa tidur dengan tenang, baru aku bisa ambil makanan yang disediakan Bunda Dyah. Ada gudeg yang tidak manis (asyiiik…gudeg wijilan terlalu manis untuk saya) , lalu sate ayam dan lontong. Katanya ada nasi kucing, tapi aku tidak coba. Mungkin karena terlalu capek jadi tidak ada nafsu makan. Pinginnya minuuum aja terus.

Sambil menikmati buah duku dan salak, aku mengikuti percakapan bloggers yang lucu dengan Lala sebagai Main guest merangkap wanita penghibur dengan menyanyikan tembang lawas yang diiringi Mbak Tanti. Aku sempat memindahkan Riku yang tertidur dari dalam ruang tamu ke tempat duduk di teras tempat kita berkumpul. Berat euy….

Akhirnya pukul setengah sebelasan (wah lupa ngga liat jam euy) kami mohon pamit dan kembali ke Villa Hani’s. Terima kasih banyak Bunda Dyah untuk undangannya.

Sesampai di Villa Hani’s, siapa ya yang gendong Riku? Danny tentunya…menaruh Riku di tempat tidur, dan kami berpencar dengan kegiatan masing-masing. Ada yang ganti baju tidur dan rebahan… ada yang berkumpul di teras villa untuk merokok dan bersenda gurau… Aku? Kayaknya aku sempat ganti baju lalu mengambil sebotol wine yang ada di mini bar, membuka cork dan mengambil dua gelas. Yang minum memang hanya saya dan Mas Tok (pengaruh Jepang sih ya…sayang ngga ada draught beer dingin  atau sake jepang dingin ….hmmmm…) cling… dua bibir gelas beradu dan …. KAMPAI! dan otsukaresamadeshita!

Sayup sayup masih kudengar candaan Mas Arief yang bercerita soal selingkuhan dan bertanya soal sesuatu padaku, tapi akhirnya aku tidak sanggup lagi menahan mata, akupun pamit dan tidur di samping Riku. Mungkin sekitar pukul 2 pagi.  Ada 8 tempat tidur, jadi kalau mau tidur biarlah masing-masing mencari tempat tidur kosong. It’s been a looooong and tyring day. Dan aku berharap semua menyunggingkan senyum dalam tidurnya. Bocah Kweni dan semua yang terlibat dalam acara hari ini.

Pertanyaan Riku di Yogya

Beberapa menit sebelum kami naik ke pesawat menuju Jakarta di Bandara Adi Sutjipto Jogja (9 Maret 14:35), Riku bertanya padaku,

“Mama, kenapa tidak ada Ibu dan Bapak tapi anak itu bisa lahir?”

………………..

sebuah pertanyaan yang tiba-tiba, yang amat wajar, tetapi aku perlu waktu menyusun kalimat yang singkat tapi mudah dimengerti. Aku tahu dia bertanya begitu, karena aku marahin dia waktu dia merengek minta alat tulis yang sedang kami masukkan dalam plastik untuk kemudian dibagikan kepada bocah Kweni. Siang tanggal 7 Maret yang lalu di Villa Hani’s.

“Riku, ini buat teman-teman nanti. Mereka tidak ada ayah atau ibu yang bisa membelikan buku tulis setiap saat. Kamu punya mama dan papa, dan setiap kamu minta, mama dan papa berusaha belikan, kan? Tapi mereka tidak ada papa dan mama, bagaimana mereka bisa minta belikan buku atau alat tulis yang mereka inginkan? Riku harus menahan diri! Tidak bisa setiap apa yang Riku minta harus ada. Please, ini untuk anak-anak itu ya. Nanti jumlahnya kurang, Riku nanti saja ya!”

Dan rupanya perkataan saya bahwa anak-anak itu tidak punya papa/mama melekat terus di kepalanya. Meskipun aku tidak tahu apa pikirannya ketika dia bermain bersama mereka.

Sebetulnya sudah sejak di Tokyo, aku mengatakan pada Riku, bahwa nanti kita ada acara bermain bersama. Dan 2-3 hari sebelum berangkat waktu aku sedang packing koper, tiba-tiba dia datang dan memberikan kumpulan mainan “bekas” yang dia tidak mau main lagi (benar-benar bekas sehingga menyerupai sampah), dan dia bilang “mama aku mau kasih ini pada teman-teman yang tidak punya mainan”. Aku melongo saat itu, dan waktu aku ceritakan pada Gen, dia ikut terharu.

Tidak, saya tidak bermaksud untuk membanggakan Riku dengan menuliskan ini. Bahkan sesungguhnya saya tidak mau menuliskan ini awalnya. Tapi pertanyaan Riku di Bandara Adisutjipto itu yang membuat saya pikir, pertanyaan itu bagus untuk mengawali tulisan saya, tentang “Kopdar Yogya bersama Bocah Kweni”.

Saya beruntung mempunyai bapak dan ibu, mama dan papa, lengkap, dan masih hidup sampai sekarang. Tapi banyak teman yang sudah tidak punya salah satunya atau keduanya. Dan tidak usah jauh-jauh, Ibu saya kehilangan ibunya sewaktu balita. Duh, saya bisa membayangkan betapa sedih atau kehilangannya jika hidup tanpa seorang ibu atau seorang ayah. Dan di jaman sekarang ini, banyak pula anak-anak yang merupakan anak dari single mother, atau hasil dari perkosaan, etc etc. Atau orang tua biologisnya ada tetapi tidak hadir dalam kehidupannya. Seperti yang ditulis oleh Uda Vizon dalam “Yatimkah dia.”

Saya dulu juga selalu menangis melihat anak-anak yang kurang beruntung. Mungkin saat itu karena saya belum bisa berbuat apa-apa, sehingga emosi saya lebih bekerja daripada pikiran saya. Hingga suatu kali saya pernah tersentil dengan perkataan suami saya. “Saya tidak butuh simpati!”, dan membayangkan memang banyak orang yang tidak mau dikasihani. Mereka membangun dinding tinggi di sekitar hatinya, karena juga curiga akan perbuatan baik yang diberikan oleh teman-temannya hanya sebagai “rasa kasihan” . Saya selalu berusaha menempatkan diri saya jika saya di posisi mereka. Dan terpikir apa sih yang mereka butuhkan? Sebetulnya hanya satu, tapi amat sulit untuk kita beri, karena menyangkut waktu dan eksistensi kita. Mereka akan lebih membutuhkan kasih dan keberadaan seseorang yang mencintai mereka, daripada hanya barang-barang atau uang yang bisa habis sekejap mata.

Saya tidak tahu apakah rencana saya bermain dengan bocah Kweni (baik yatim ataupun tidak) itu baik atau tidak, tapi yang pasti saya hanya ingin berbagi sedikit kasih dan sedikit waktu  pada mereka. Karena saya juga tidak punya materi yang cukup. Saya masih belum bisa berbuat banyak. Saya ingin memberitahukan pada Riku (dan Kai jika dia besar sedikit lagi) bahwa ada banyak anak-anak yang tidak seberuntung dia. Saya juga bukanlah malaikat seperti yang ditulis Jeunglala di postingan “Hidden Angels”. Tapi yang pasti saya merasa sangat beruntung, memiliki sahabat-sahabat blogger yang satu perasaan dengan saya, dan saling membantu mewujudkan “pernyataan kasih” kepada bocah-bocah di Kweni. Sahabat-sahabatku, terimalah tanda terima kasih saya yang keluar dari lubuk hati.

Dua orang utama yang memang tinggal di Kweni, Uda Vizon dan Mbak Icha (mbak Icha sudah terlihat jawa banget sih) yang menyambut rencana sederhana saya dengan antusias, dan membuat saya yakin untuk maju terus, seberapapun orang yang hadir di Yogya (dan seberapapun yang kita bisa berikan pada anak-anak ini) . Nama Uda yang terkenal di kampungnya, juga turut memudahkan saya mencari rumahnya sehari sebelum hari H. Bayangkan tanpa briefing, Lala, Mas Goenoeng, Mas Arif, Tyan, Ipi, Noengki Prameswari, Daniel Mahendra bisa berbaur dengan anak-anak itu dan menggambar bersama. Belum lagi kehadiran Bunda Dyah yang benar-benar menguatkan hati (dan jasmani karena Bunda membawakan makanan kecil yang dibuat  Mbak Vivi untuk anak-anak ini). Mbak Tuti Nonka yang meringankan kaki juga hadir bersama dan bahkan memberikan tas ransel hijau serta buku cerita sebagai cikal bakal perpustakaan mereka. Lihat betapa bangganya anak-anak ini menggendong tas ransel mereka, yang juga berisikan sikat gigi lucu dari bu Dokter Noengki. Sampai-sampai Riku pun bangga sekali mempunyai tas ransel itu, dan dia gendong terus sampai di pesawat (maaf jadi berkurang satu jatah anak-anak itu…. hiks)

Dengan satu tindakan, 12 blogger yang terpencar di mana-mana, beserta 60-70an bocah bersatu dalam satu episode kehidupan. Di Jogjakarta, tepatnya di desa Kweni. Unforgetable Moments.

Saya tahu, saya memang tidak menangis waktu berada di antara bocah-bocah ini, tidak seperti Jeung Lala. Mungkin karena saya terlalu sibukberpikir “what next” dan terlalu exciting. Tapi saya memang menangis setiap kali melihat foto-foto yang merekam peristiwa itu, yang mengabadikan kegembiraan, persatuan, kebersamaan, kasih, persahabatan di antara kita. Dan sambil menuliskan inipun perasaan saya masih campur aduk, sambil menahan isak. Entah kapan kita bisa bersama seperti ini lagi…. semoga saja ya.

Ini bukan laporan lengkap perjalanan Yogya, tapi saya tak bisa menunggu lagi urutan posting perjalanan saya yang amat sangat terlambat sehingga saya selipkan tulisan ini. Jika ada yang mau membaca laporan Yogya yang sudah ditulis kawan-kawan yang lain, silakan coba klik nama-nama peserta di atas.

Related Posting :

Mbak Tuti Nonka :

Bloger & Bocah-Bocah Kweni

Uda Vizon:

bocah kweni vs blogger

JeungLala:

Hidden Angels

Jeung Ipi:

Kopdar bareng Bocah Kweni

Noengki Prameswari:

Jogja Seru

Tyan

Blogger kumpul dengan bocah kweni