Arsip Tag: bandung

Kopdar Keluarga #2

Lanjutan Kopdar Keluarga #1

Tadinya aku tidak mau memberikan judul yang sama dengan tulisan sebelumnya. Tapi ternyata banyak faktor yang mendukung untuk menempelkan kata ‘keluarga’ dalam tulisanku ini.

Setelah sempat nyasar untuk mencari alamat Dago Giri 90, kami hampir putus asa dan berniat untuk putar balik jalan yang telah kami daki cukup lama. Masalahnya nomor-nomor di situ tidak berurutan sama sekali. Tapi karena aku pernah melihat fotonya, aku tahu pasti bahwa perlu ketinggian yang cukup tinggi untuk mencapai tempat itu. Nah pas kami bermaksud untuk masuk sebuah jalan kecil untuk memutar itulah, aku melihat tulisan Dago Giri 90. Loh itu yang kami cari. Jadi kami menyusuri jalan kecil masuk ke perumahan. Ada sekitar 3 rumah di situ, dan kami menanyakan pada seorang kakek yang sedang menyusuri jalan yang sama.

“Pak ini menuju Warung Sitinggil?”
“Wah ngga tau… tapi dulu kalau tidak salah namanya Itempoeti tuh…”
“Oh ok pak…. benar kok”

Memang pemilik Warung Sitinggil yang akan kami tuju adalah Mahendra Itempoeti, seorang blogger juga. Aku ingin sekali berkunjung ke sini waktu melihat foto-fotonya pada saat launch buku “Perjalanan ke Atap Dunia” nya Daniel Mahendra. Karenanya aku sempat-sempatkan untuk mengunjungi warung ini pada mudik tahun ini.

Eh tahu-tahunya Warung ini adalah milik Sekar Utami, temanku di FB, yang istrinya Mahendra Itempoeti. Dan ternyata juga Sekar Utami adalah sepupu dari sahabatku Chandrakirti, yang sudah berteman sejak SD sampai SMA, bahkan sama-sama masuk Sastra (Dia sastra Inggris, aku sastra Jepang sih). Jadilah terasa lebih akrab dengan Mbak Ami. Eh ternyata juga waktu aku sudah ‘mendarat’ di warungnya, bertemu seorang pemuda. Mbak Ami bilang, “Itu adiknya Chandra loh…” Dan waktu si Mas Didit ini melihatku, “Novita ya?” Rupanya Didit ini sekelas dengan adikku di SMP. Loh…satu keluarga bisa satu almamater gitu :D. Ah, dunia memang kecil!

Tak lama setelah kami sampai di sini, Ata-chan dan Uda Vizon pun hadir. Keduanya bermobil dari Yogya semalam sebelumnya ke Bandung dengan tujuan memberikan kejutan juga pada Daniel. Senang sekali rasanya kedua tamu dari jauh bisa bergabung bersama di Bandung, di Warung Sitinggil. Pertemuanku dengan Ata-chan baru pertama kali, padahal kami sudah lama kenal lewat blog, sejak tahun 2008! Daniel dan Didien pun juga bergabung bersama. Didien yang temannya Ata-chan juga kukenal sudah lama, sejak awal-awal nge-blog. Dia baru menulis lagi setelah lama hiatus. Dan gongnya adalah kehadiran pak Hendra Grandis, yang aku sama sekali tidak tahu bahwa pak Grandis berencana akan datang. “Saya tidak mau janji dulu, takut tidak bisa memenuhi janji”, jadi aku cukup kaget melihat pak Grandis datang. Apalagi aku biasanya bertemu pak Grandis di kampus ITB, bersama pak Nanang Puspito, yang siangnya aku temui di Kartika Sari 😀

Oh ya, pak Grandis mengajak seorang putrinya bersama, dan dijemput juga oleh putrinya yang lain setelah buka…. Jadi pantas kan, jika aku katakan bahwa kopdar di Warung Sitinggil ini juga kopdar Keluarga? Kopdar Keluarga, bertempat di warung keluarga blogger, dengan suasana kekeluargaan sekali, seakan kami sudah biasa dan sering berkumpul bersama. Memang kalau dihitung waktu kami ‘bersama’ dalam dunia maya sebagai blogger, termasuk kategori blogger ‘tua’ :D.

Sebelum buka bersama kami sempat berfoto-foto bersama di lapangan luas yang membatasi kami dengan lembah, dan di kejauhan terlihat kota Bandung. Enaknya mempunyai lapangan luas yang bisa dipakai berlari-lari oleh Kai dan dia juga ‘menyapa’ anjing milik tuan rumah, yang tentu saja disambut dengan salakan.

Kami kemudian menyudahi acara berfoto untuk berbuka dengan es buah yang disediakan Mbak Ami. Sambil ngobrol, kami lanjutkan dengan makan malam, menu nasi bakar, ayam panggang dan goreng, serta lalapan. Makan dengan hidangan yang lezat dan pemandangan malam yang indah, bersama teman-teman …. dan udara mulai menjadi sejuk…. yummy sekali. Konon di sini waktu malam bisa mencapai 15 derajat!

Karena kami harus kembali ke Jakarta malam itu juga, dan ternyata Ata-chan masih mau cari kaos bola jadi kami bubar pukul 8 malam, sambil membawa bekal buku “Perjalanan ke Atap Dunia” menuju tempat tujuan masing-masing dan mengakhiri Kopdar Keluarga di Bandung.

Mungkinkah Kopdar Keluarga bisa dilaksanakan kembali tahun depan? Semoga……

 

 

Kopdar Keluarga #1

Bagaimana jika blogger beserta keluarga masing-masing bertemu dalam sebuah kopdar? Tentu seru dan ramai ya. Nah, tanggal 13 Agustus itu aku mengadakan kopdar emak-emak beserta anak-anak mereka di Bandung Coret.

Tahu kan Bandung Coret itu di mana? Ya, Bandung Coret itu adalah julukan tempat-tempat yang termasuk Kabupaten Bandung, tapi entah berapa km jaraknya dari pusat kota Bandung yang biasa Anda kenal :D. Pinggiran gitu ….. Jahat ya 😀

Pagi itu tanggal 13 Agustus, Senin pagi, aku berangkat dari rumah pukul 7:30 bersama Riku, Kai dan Krismariana. Sebetulnya mobilnya sudah siap dari jam 7, tapi biasalah ibu-ibu selalu ada saja yang mau dibawa. (Padahal tetap saja ada yang lupa). Kami langsung masuk tol dalam kota untuk kemudian menuju Bandung. Sepanjang jalan, kami bisa melihat kemacetan Jakarta, dari arus balik/berlawanan. Mereka yang mau masuk ke Jakarta tapi terhenti di tol karena macet. Aduuuh benar-benar seperti parkiran di Disneyland Chiba sana yang gedeeee banget. Ini tol atau parkiran sih. Sama Bang Raja yang nyetirin mobil, kami berdiskusi, berapa banyak kerugian negara dengan kemacetan seperti itu. Rugi tenaga, rugi energi listrik dsb dsb dsb. Kalau cuma sekali-sekali sih masih mending, tapi katanya kemacetan seperti itu sudah lazim 🙁

 

duh, sampai pakai satu jalur lawannya? Tidak pernah lihat kejadian seperti ini di Jepang. Di sini juga suka macet di tol kalau musim liburan, tapi tetap jalan meski 10 km/jam. Jarang sampai terhenti total

Kami turun di pintu tol StoneFruit a.k.a Buah Batu, dan langsung mengikuti pesan dari GPS hidup, Jeng Nchie. Karena ini kali yang ke dua untukku melewati daerah itu, jadi sudah familier. GPSnya juga canggih sih 😀 Dan kali ini kami langsung masuk rumahnya Nchie. Katanya alasannya tahun lalu aku sudah ke rumahnya Bibi Erry, jadi giliran. Kami di sambut di depan pagar oleh kedua blogger bersahabat itu (katanya mereka bersahabat jauh sebelum mulai menulis loh). Dan setelah itu Diandra bergabung.

Lima blogger bertemu di Bandung Coret

Senang sekali bisa kopdar dengan tiga ibu empunya Bandung Coret dengan satu pasukan anak-anaknya. Tentu saja bapak-bapaknya tidak ada karena sedang gawe, tapi tanpa bapak-bapakpun aku tetap menamakan kopdar ini sebagai Kopdar Keluarga. Serunya pas berfoto bersama, karena aku lupa membawa tripod (kan ada yang lupa :D) jadi mesti ada salah satu yang tekan tombol deh. Udah gitu, kopdarnya di Bandung Coret tidak ada satu jam, karena ternyata aku ditunggu di Restoran Kartika Sari oleh petinggi ITB dan salah satu Bank, mantan teman-teman segereja di Meguro Tokyo. Maaf sudah membuat mas-mas  ini menunggu.

Blogger ibu-ibu dengan anak-anaknya di Bandung Coret

Riku dan Kai senang sekali di Restoran Kartika Sari itu karena ada tempat bermainnya. Jadi deh aku biarkan mereka bermain satu jam, sementara aku dan Kris makan siang di situ. Kami baru keluar tempat itu pukul 4:3o padahal aku merencanakan sudah berada di tempat selanjutnya pukul 4. Waktu kuhubungi orang yang ingin kutemui, ternyata mereka baru saja keluar dari restoran Kartika Sari dan sedang berbelanja di tempat lain. Waduh, padahal kami berada di satu tempat yang sama, kok bisa tidak ketemu. Memang sih restorannya di bagian belakang, dan bagian depannya ada penjualan oleh-oleh khas Bandung. Rupanya kami memang ditakdirkan untuk bertemunya di tempat yang telah ditentukan. Dan ternyata Kopdar Keluarga Bandung berlanjut di tempat berikutnya….

bersambung

 

Bertemu teman-teman mantan Meguro-kyokai di Kartika Sari. Mas Nanang dan Mas Bambang.

Rasa itu tetap sama -4-

Ada sebuah tempat di Bandung, yang sedapat mungkin kukunjungi setiap ke Bandung. Hanya untuk sekedar minum kopi atau membeli oleh-oleh di sana. Aku tahu tempat ini dari papaku. Dulu kalau papa pulang dari Bandung, dia suka membawa Karya Umbi/ Raos, Sus Merdeka atau oleh-oleh dari sini. Lama-lama Karya Umbi/ Raos, dan Sus Merdeka bisa beli juga di Jakarta, kami menjadi bosan, dan tidak pernah beli lagi. Tapi kalau oleh-oleh dari sini, tidak pernah kami tolak!

Oleh-oleh itu adalah coklat yang kebanyakan adalah bitter sweet dengan berbagai bentuk dan campuran rasa. Ada yang truffle, ada nougat, ada kenari, ada marzipan, ada kacang giling dll. Kalau dulu papa sering membeli semua jenis seratus gram (Di sini memang cara membelinya dengan per 100 gram – harganya sekitar 35.000 rupiah sekarang) lalu dibagilah untuk 5 orang, Mama dan 4 anak, masing-masing satu kantong. Masing-masing menerima satu kantong, boleh makan kapan saja, tapi tidak boleh minta punya orang lain. Kalau ada jenis yang tidak suka bisa barter dengan damai! hoho…senang sekali waktu kami menuliskan nama di kantong dan menyimpannya di lemari es. Dan tentu saja tidak ada yang berani mengambil coklat yang bukan miliknya.

Restoran jadul Braga Permai yang terkenal dengan coklatnya

Braga Permai ( Jl. Braga No. 58 Telp 022-4233778) adalah nama Restoran (dulunya Maison Bogerijen) yang menyimpan sejarah, mungkin satu jaman dengan ice cream Ragusa. Kabarnya sudah ada sejak tahun 1930-an, sebagai tempat meneer-meneer dan mevrouw-mevrouw minum kopi. Karena itulah papaku tahu tempat ini, dan setiap ke Bandung pasti membelikan kamu coklat Braga. Lihat saja foto kotak kuenya, masih memakai foto-foto jaman bahelua itu. Ada beberapa meja di teras restoran, dan tentu saja di dalam restoran.Dulu aku jarang mampir duduk dan makan di sini,biasanya langsung ke dalam tempat etalase coklat dan kue-kue, memesan dan langsung bayar. Tapi waktu mudik musim panas kemarin, dua kali ke sini dan duduk untuk sekedar ngopi atau nge-es dan beristirahat. Sang supir pun perlu istirahat kan? Dan waktu datang ke dua kalinya dengan Gen, dia juga menikmati kopi tubruk yang disajikan. Sayang waktu itu kami baru makan di Raja Rasa, dan kecewa karena Kopi Aroma tidak buka. Sayang waktu aku ke sana dua kali itu, mau pesan es krim Tutti Frutti tapi tidak ada.

Coklat braga yang dijual per 100 gram. Salah satu kuenya yang akhir-akhir ini aku suka adalah sus dengan saus caramel di atasnya kiri bawah. Kanan bawah kue dengan amandel (marzipan)

So, jika ada waktu silakan coba menikmati suasana Bandung jaman dulu sambil ngopi dan makan coklat, meskipun tentu saja ada makanan lain spesialitet restoran ini. Coklat di sini rasanya tetap sama seperti coklat oleh-oleh papa dulu waktu kami kecil!

 

Kupu-kupu di Cihanjuang

Mungkin Taman Kupu-kupu Cihanjuang adalah klimaks dari perjalanan Gen di Indonesia. Setelah Danny dan pak supir datang menjemput kami, kami cek out dari Hotel Universal dan menuju daerah Cihanjuang. Aku musti berterimakasih pada Rina Hidayat, sahabat guru di Jepang yang nyeletuk soal Taman Kupu-kupu Cihanjuang menanggapi status aku di FB: “No shopping, No eating di Bandung setengah hari”. Impossible kan, ke Bandung tanpa shopping dan eating :D.

Papan Taman Kupu-kupu Cihanjuang, Cihanjuang 58, Bandung Barat

Nah, suamiku itu suka kupu-kupu. Sudah ada beberapa posting di Twilight Express ini mengenai Kupu-kupu Jepang, termasuk Kupu-kupu Nasional Oomurasaki. Saking sukanya dia mengajak Riku untuk ikut menangkap kupu-kupu dan memperkenalkan bermacam jenis kupu serta membuat specimen kupu-kupu kering sebagai hobi baru. Jadi waktu aku merencanakan liburan untuk Gen, aku sekaligus merencanakan untuk pergi ke Taman kupu-kupu Cihanjuang. Dan aku juga berterima kasih sekali pada Danny yang mengantar kami ke sana. Terus terang kalau jalan sendiri kami TIDAK AKAN bisa sampai ke sana. Jauuuuh bo!

Taman Kupu-kupu Cihanjuang

Kami sampai di Taman Kupu-kupu Cihanjuang jam 11:30. Tempatnya sepi sekali, sampai kami kelewatan sampai ke sebuah pendopo. Ternyata bukan itu Taman Kupu-kupunya. Tapi tidak jauh kami menemukan pintu masuk dengan lambang kupu-kupu besar. Masuk ke pintu langsung sampai di sebuah toko souvenir. Ternyata memang untuk masuk taman itu harus masuk ke toko itu, membeli karcis (sebagai tanda terima kami masing-masing mendapatkan badge kupu-kupu). Dari toko souvenir itu kami masuk ke dalam “kandang” kupu-kupu. Taman itu dipenuh bunga-bunga berwarna-warni. Memang harus ada bunga ya untuk menarik kupu-kupu ya?

Beranekaragam kupu-kupu di dalam taman Kupu-kupu

Tanpa kupu-kupu saja sudah senang masuk ke taman ini, tapi melihat kupu-kupu beraneka warna terbang lebih menyenangkan lagi. Menurut Riku kupu-kupu Indonesia lebih cepat terbangnya daripada kupu-kupu Jepang. Tentu saja warnanya juga lebih semarak. Oranye, Merah, Kuning, Hijau, Biru…. macam-macam. Aku berhasil memotret beberapa diantaranya.

Bentuknya seperti kupu-kupu tapi ini Ngengat atau si rama-rama

Taman kupu-kupu itu tidak besar, sepelan-pelannya kami memutarinya paling lama 30 menit. Tapi di dekat pintu keluar ada tempat penangkaran kupu-kupu. Telur kupu-kupu dikumpulkan dalam rak khusus, sambil menunggu calon-calon kupu-kupu itu menetas menjadi kupu-kupu. Waktu aku ke tempat ini, Gen sedang memegang seekor Rama-rama (ngengat) Raksasa yang baru menetas. Hiiii ngeri, sampai Riku juga ketakutan. Katanya ada ngengat yang beracun jadi dia ngabur.

Kepompong yang sedang menetas

Tapi aku tidak takut pada kupu-kupu. Senang juga bisa menemukan telur yang menetas. Bayangkan yang tadinya masih dalam kempompong, tiba-tiba keluar dan sedikit-demi sedikit mengering serta membesar. Indah warnanya. Ada salah seekor kupu besar yang baru menetas, masih tahap mengeringkan sayapnya dan diambil oleh petugas untuk ditaruh di tangan kiriku. Langsung deh mengabadikannya dengan tangan yang lain.

Gaya mengambil foto dengan 3 kamera bergantian hehehe

Cukup lama kami di sini dan berhasil menemukan beberapa telur yang menetas. Kalau tidak ingat bahwa waktunya terbatas, mungkin Gen akan berada di situ terus deh. Akhirnya setelah berfoto bersama petugas, kami keluar dari Taman Kupu-kupu itu. Danny ternyata sudah menunggu di toko sambil menyelesaikan pekerjaannya di komputer. Kami melihat-lihat barang souvenir di sini, tapi akhirnya cuma membeli satu buku ensiklopedi Kupu-kupu di Kebun Raya Bogor. Gen juga senang sekali bisa menemukan semacam buku ensiklopedi kupu Indonesia ini. Memang dia titip padaku untuk belikan, dan aku tidak tahu harus cari di mana. Untung sekali di toko souvenir itu ada. Hanya 45.000 rupiah!

Gen dan anak-anak bersama petugas di pojok penangkaran

Kami kembali ke parkir. Terus terang, Riku ingin menangkap kupu-kupu! Tapi dalam taman kupu-kupu memang tidak boleh (pasti) menangkapnya. Tapi si mbak petugas yang kami tanya bilang boleh kalau di luar taman. Jadi Riku mengejar kupu-kupu yang terbang di sudut lapangan parkir dengan jaring yang dibawa dari Jepang. Cukup sigap dia menangkap beberapa kupu asli Indonesia ini. Nah, waktu kami sedang sbuk-sibuknya menangkap kupu-kupu di sini, tiba-tiba ada seorang bapak yang menyapa dan mengatakan harus cepat dimatikan kupunya supaya jangan berontak. Kalau berontak maka sayapnya akan rusak. Kalau rusal percuma kan dibuat specimen. Beliau kelihatan ahli sekali, karena bisa langsung menyebutkan nama latin kupu-kupu yang ditangkap Riku, bahkan yang sedang terbang!

Berfoto bersama pak Ayam Hugeng yang sudah berkecimpung di bidang perkupuan hampir 40 tahun

Gen mulai heran dan menanyakan apakah beliau petugas dari taman kupu-kupu atau mungkin profesor? Dan dijawab oleh Pak Ayam Hugeng ini bahwa beliau HANYALAH pecinta kupu-kupu. Beliau sudah 40 tahun mengumpulkan kupu-kupu di seluruh Indonesia dan menangkarkannya. Beliau juga sudah mengekspor dan menjual bermacam kupu-kupu ke luar negeri. Untung kami sempat berpotret bersama di sana. Karena setelah pulang ke Jepang, kami menemukan artikel tentang beliau di sini.

Kupu Troides Helena ini yang tidak boleh dibawa tanpa surat ijin, menurut Perjanjian Washington, karena tanpa regulasi ini, keberadaannya bisa mengkhawatirkan

Ada satu jenis kupu-kupu yang tidak bisa tertangkap oleh Riku karena dia terbang cepat sekali. Tapi untung sekali kami tidak menangkap kupu-kupu itu, karena ternyata waktu kami kembali ke Tokyo kami mengetahui bahwa untuk membawa masuk kupu-kupu  jenis ini ke Jepang kami harus membawa surat ijin khusus, sedangkan kupu-kupu jenis lain yang ditangkap boleh tanpa surat ijin.Well, kami tidak mau melanggar peraturan kan.

 

Specimen dari Kupu-kupu buatan Riku yang ditangkap di parkiran Taman Kupu-kupu Cihanjuang. Nama latin diberitahukan oleh Pak Hugeng
dari atas (kiri-kanan) Junonia orithya  アオタテハモドキ
Elymnias hypermnestra ルリモンジャノメ
Papilio peranthus アオネアゲハ

2nd line from left
Papilio demoleus オナシアゲハ
Papilio polytes シロオビアゲハ
Graphium agamemnon agamemnon  コモンタイマイ
Pachliopta aristolochiae ベニモンアゲハ

3rd line from left
Delias belisama ベリサマカザリシロチョウ
Appias libythea olfernaオルフェルナトガリシロチョウ
Kupu yang rusak sehingga tidak bisa dijadikan specimen カバタテハ Ariadne ariadne pallidior

Karena sudah lewat jam makan siang dan sudah lapar, kami sudahi petualangan di Taman Kupu-kupu Cihanjuang, dan menuju dalam kota untuk cari makan. Kami makan siang di restoran Raja Rasa ( Jl. Setra Ria No. 1.). Berhubung sudah lapar, kami malah tidak banyak foto-foto di sini. Rasanya? Lumayan lah, sepertinya aku salah tidak mencoba kepiting, karena katanya sih kepiting di resto ini enak. Aku sendiri malas sih pesan kepiting, makannya susah 😀 . Dari sini kami lalu menuju Kopi Aroma karena Gen ingin melihat “gudang”nya dan mau membeli lagi untuk oleh-oleh. Apa daya, kopi Aroma sudah tutup waktu kami datang. Rupanya mereka cuma buka sampai jam 3 siang. Yaaah sayang sekali. Untung waktu aku pergi dengan Kai sudah ke sini.

Jadi kalau ada waktu cukup banyak di Bandung, bisa mengajak anak-anak pergi wisata edukasi ke Taman Kupu-kupu Cihanjuang. Daripada hidup konsumtif dengan makan dan belanja saja kan? 😉

 

Universal dan Kampung Daun

Setelah dari Saung Udjo (15 Agustus 2011), kami cek in dulu di hotel, takut nanti kemalaman dan kamarnya batal. Padahal sih kalau pesan di agoda.com itu sudah pasti ada kamarnya, karena langsung dicharge 100% dari credit card. Mungkin dengan menelepon saja juga bisa, tapi tetap rasanya kok kurang sreg. Aku pun harus mengatur penginapan untuk sang supir kan?

Jadi kami menyusuri jalan menanjak ke Lembang, dan di kiri kanan jalan banyak restoran dan toko yang asyik-asyik. But, no F.O. for me deh, aku tidak suka belanja baju sih hehehe. Dan saat itu aku melihat papan iklannya Kampung Daun. Yes! dinner di sini saja. Aku belum pernah ke Kampung Daun, meskipun awalnya aku ingin mengajak Gen ke The Valley. Rutenya beda lagi sih.

Agak sulit menemukan Hotel GH Universal (Jl Setiabudi 376)  ini, karena letaknya pas di belokan di kanan jalan dan di sebelah sebuah hotel yang memang besar juga. Jadi kami kelewatan dan musti u-turn kembali menurun. Wah…. memang hotel yang disarankan oleh temanku Wida ini memang keren! Masuk gerbang saja, kita sudah merasa masuk ke kompleks…. PURI yang mistis…. Semestinya kami naik kereta kuda nih, bukannya naik CRV hahaha. Memang hotel ini mengambil arsitek seperti puri-puri di Eropa.

Turun dari mobil memasuki lobby langsung disambut oleh kolam air mancur ala romawi … dan terlihat sofa-sofa model chesterfield yang terbuat dari kulit, dan tirai-tirai beludru berwarna merah. Hmmm aku sempat berpikir, pasti berdebu deh…maklum aku tuh kan alergi debu… eh tapi ngga juga tuh ternyata waktu aku duduk di lobby pagi harinya. Bersih…cling! Aku kemudian ke meja resepsionis di sebelah kiri. Petugas resepsionisnya laki-laki dan ramah. Tapi waktu aku menanyakan soal extra bed, rupanya mereka belum memasangnya, dan mohon maaf akan memasang sesegera mungkin. Bagiku tidak masalah karena aku toh akan keluar makan malam. Untuk extra bed aku harus membayar 300 ribu, tapi ternyata sudah termasuk pembayaran waktu aku pesan online. Dan satu lagi, ternyata mereka tidak mempunyai kamar untuk supir. Mereka sarankan untuk mengambil kamar supir di hotel sebelahnya. Tapi setelah aku rundingkan dengan Danny, lebih baik supirku ikut Danny dan menginap di hotel melati yang ada di sekitar rumah Danny. Bagus juga ide itu.

Kami menuju ke kamar yang terletak di lantai 4, dengan menaiki lift satu-satunya yang ada di samping kanan meja resepsionis. Oh ya di samping meja resepsionis ada lampu-lampu kristal, dan yang menarik pasti ada kristal berwarna merahnya. Ini ternyata juga menarik bagi Ira Wibowo, yang mengatakan justru kristal merah itu membuat tidak bosen… hmmm. Unik memang. Wah… sesampai di lantai 4, kami cukup dibawa putar-putar untuk bisa sampai di kamar kami. Tapi… begitu buka pintu kamar, aku tahu bahwa aku tidak salah pilih hotel. Sebetulnya ada 2 hotel yang kupertimbangkan waktu itu. Gen, sukanya hotel yang bernuansa etnis… yang endonesah banget. kalau bisa kamarnya dari bambu! Memang aku pernah melihat website Kampung Sampireun yang kabarnya untuk masuk kamar harus naik perahu dulu… tapi letaknya jauh dan hanya ada itu saja. Sayang waktunya. Kalau di Bandung ada hotel yang bernama hotel Jadul, lihat dari websitenya sih seperti kamar-kamar di Bali dengan nuansa etnis. Harganya lebih mahal sedikit dari universal. Kalau aku sendiri? Aku suka arsitekturEropa, jadi aku ingin menginap di Universal ini. Waktu mau pesan hotel, aku sih sudah menyerahkan pemilihan hotel pada Gen, maunya di Jadul atau di Universal. Lalu kata Gen, “Memang etnis sih, tapi kok kesannya dibuat-buat etnisnya. Udah di tempat pilihan kamu aja!” Cihuuuy deh (Makasih ya Gen, aku tahu kamu ngalah hehehe. Kalau mau etnis yang alami ya musti tinggal di kampung-kampung atuh, bukan di hotel :D)

Hotel Universal : kamar dan teras

Kamar dengan tempat tidur King Size lalu ada sofa yang cukup besar di sebelah kanan. Sayangnya kamar mandinya bukan bath tub, hanya shower saja. Sepertinya sekarang trend hotel baru, tidak memasang bathtub dalam kamar mandi. Padahal tarifnya cukup mahal loh. (Kalau mau yang pakai bathtub di hotel ini musti pesan Suite Room, yang tentu harganya juga suit suit dehhh… Setelah kami menaruh tas, tak lama petugas hotel datang untuk memasang extra bed. Untung aku pesan kamar yang cukup luas sehingga meskipun dipasang extra bed, tidak menghalangi jalan kami. Kamar itu cukup lega untuk 4 orang! Extra bed itu untuk Riku, soalnya dia paling lasak kalau tidur 😀

Nah, kami masih wara wiri dalam kamar, Gen mau merokok sehingga dia buka pintu ke teras luar. Dan dia langsung memanggil kami untuk melihat pemandangan di luar. Wow, pemandangan dari kamar kami memang  fabulous! magnificent! Rasanya bukan di Indonesia! Untung kami sempat melihat keluar sehingga bisa melihat hotel ini waktu malam. Karena tentu saja pemandangan waktu malam dan siang akan berbeda.

Karena sudah lapar dan Danny menunggu di bawah, kami cepat-cepat turun untuk pergi makan malam. Ke Kampung Daun ( Jalan Sersan Bajuri KM 47 No.88, Lembang, Bandung) , berarti menuruni jalan yang sama. Begitu sampai ke papan iklan yang besar, kami belok kanan. Katanya sih 4 km, tapi perasaan kok jauuuuh sekali. Mungkin karena malam, sepi… sampai aku pikir kok mau-maunya orang ke restoran yang sejauh ini? Tapi kata Danny, waktu restoran ini masih baru, orang-orang rela antri dalam mobil sepanjang jalan loh. Semoga kami tidak perlu antri. Aku sebetulnya sudah telepon untuk pesan tempat jam 7 malam, tapi oleh pihak restoran dipersilahkan datang langsung (tidak menerima reservasi). Mungkin karena hari Senin ya, jadi dianggap hari sepi.

Sepi? hmmm begitu kami sampai pukul 7:30, kami masih harus menunggu 30 menit lagi sodara-sodara! Waduh… udah lapar gini, dan mau pindha restoran lain juga jauh… Terpaksa deh kami tunggu. Tapi belum sampai 30 menit, waktu kami berjalan-jalan di sekeliling tempat souvenir, kami sudah dipanggil. Dan kami menuju “saung” atau “dangau” kami, yang kebetulan letaknya dekat air terjun. Masuk ke kompleks dangau-dangau itu saja lewat pintu masuk dengan api-api lilin. Serasa di karibia deh hihihi. Karena malam jadi etnis sekali, dan suamiku tentu senaaaaang sekali (eh bener senang kan pa?)

Makan malam di Kampung Daun

Kami duduk di semacam dangau itu dan cepat-cepat memesan makanan. Apa saja deh pokoknya lapaaar dan DINGIN! Ingat ya… kalau ke sini, ke restoran Kampung Daun waktu malam, bawa jaket deh. Apalagi kalau lapar pasti tambah dingin kan. Karena takut mereka masaknya lama, segala jenis makanan aku pesan. Soalnya pesannya saja musti pakai manggil dengan kentongan hahaha. Dari sate, ayam kremes, tempe mendoan, tahu goreng sampai sup buntut bakar. Dooh kayak ngga makan seminggu aja. Dan kamu tahu masakan apa yang paling cepat datang? Tempe mendoan dan tahu goreng! hahaha (Tapi tempenya di sini terlalu banyak minyak. Karena lapar aja, cepat-cepat dihabisin. Mendoannya enakan buatan mbak Win, asisten di rumah hehehe)

Suasana remang-remang, dangau, dingin, romantis, makanan enak, suara gemercik air terjun, api-api obor, suara kentongan, udah gitu dilengkapi bantal-bantal untuk sandaran duduk….. kalau kenyang bisa tinggal tidur hihihi. Akhirnya kami pulang ke hotel Universal hampir jam 10 malam. Sssst tempat tidur di hotelnya empuk loh! (Eh tapi aku terbangun jam 2 pagi dan menulis kerjaan 4 halaman loh. hebat yah 😀 mumpung ada ide gitu. Jam 5 Kai bangun dan memaksa aku tidur di sebelahnya :D)

Berfoto di pagi hari sebelum cek out

Keesokan paginya kami sempat berfoto-foto di halaman dan lobby, serta makan pagi di restorannya. Lumayan banyak ragam makanan di sini, tapi tentu saja aku dan Gen tidak gubris breakfast ala Eropa. Kami pilih bubur/soto dan Gen nasi kuning!

Sarapan kami pagi itu....

Kami juga sempat naik ke tingkat paling atas, ternyata di situ ada semacam perosotan untuk anak-anak berbentuk seperti menara Rapunzel. Lucu juga. Yang aku perhatikan seluruh detil hotel memang dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Memang sih masih baru, tapi terlihat dari dekat pun detil bangunan cukup bagus. Misalnya air mancur biasanya kelihatan kalau duplikat kan buatannya kasar, tapi ini lumayan halus buatannya. Yang aku sayangkan adanya spanduk reklame dari salah satu provider telepon seluler yang dipakai sebagai penutup pembangunan sebagian lantai 5. Merusak pemandangan jadinya. Satu lagi, jika kita naik di lantai 5, bisa melihat perumahan dengan atap seng persis di sebelah kompleks hotel. Kesenjangan itu juga menyadarkan kami bahwa ini di Indonesia, tepatnya Bandung.

Sekitar pukul setengah 11 pagi, kami cek out hotel, dan menuju tujuan kami berikutnya: Taman Kupu-kupu Cihanjuang.

 

Berfoto di lantai 5 dengan latar belakang kamar kami di kejauhan (tirai yang terbuka sedikit)

Saung Udjo

Masih ingin menulis sisa-sisa cerita waktu mudik kemarin. Seperti telah aku tulis di “Makanan Terlezat Sedunia“, suamiku Gen datang ke Jakarta tanggal 14 Agustus. Aku dan Kai menjemput di bandara, dan menghabiskan malam pertama di Jakarta dengan ngobrol bersama mama dan papaku di rumah. Esok harinya pukul 11 kami berangkat ke Bandung, yang memang sudah aku rencanakan karena Gen belum pernah ke Bandung. Sebetulnya ingin sekali ke Jogja tapi rasanya 5 hari libur habis di jalan, jika kita pergi ke Jogja. Next time deh.

Tujuan pertama di Bandung adalah Saung Angklung Ujo. Aku belum pernah ke sana, dan aku ingin mengenalkan angklung kepada anak-anakku. Jadi aku kontak D.M. lurahnya Bandung waktu kami mendekati pintu keluar tol Bandung. Maklum kami tidak tahu jalan di Bandung. Tapi waktu itu kami sudah lapar. Mau cari makan sendiri saja, karena D.M. puasa. Jadi aku minta dipandu lewat telepon untuk pergi ke Batagor Kingsley (Jl Veteran No 25. Tel 022-420-7014).

Batagor Kingsley... ternyata hanya sebuah kios sederhana di emper rumah kuno.

Ya aku sering mendengar namanya, dan baru pertama kali ke situ. Setelah parkir di kiri jalan Veteran, kami masuk ke restoran yang merupakan tenda sambungan dari rumah kuno. Di rumahnya sendiri terdapat toko oleh-oleh berbagai macam makanan kecil. Ingin sekali melongok dan belanja, tapi waktu itu kupikir sudahlah nanti pulangnya saja. Ntah mudik kali ini aku malas sekali membeli souvenir atau oleh-oleh.

Kami coba makan batagor goreng dan mie bakso/yaminnya. Sayangnya Kai yang biasanya suka makan mie, saat itu (sebetulnya sudah sejak hari sebelumnya) demam, naik turun. Aku sempat waswas juga  apakah aku harus membatalkan rencana ke Bandung. Tapi ya begitu karena naik turun tidak stabil, dan dia masih kuat, tancap terus jalan ke Bandung. Dan pas waktu makan itu, dia malas makan. Aku kasih obat dan biarkan dia tidur dalam pelukanku. Batagor Kingsley enaaak (sayang porsinya kecil, tidak seperti kalau kita pesan siomay)! Rasanya ingin bungkus bawa pulang, tapi kalau ingat repotnya, jadi malas. Katanya sih bisa juga dipesan, dan diambil keesokan harinya pas pulang. Tapi takut ah kalau tidak ada waktu untuk kembali.

Oh ya satu hal yang sempat aku perhatikan di sini, adanya seorang pengamen yang keren sekali nyanyinya.  Lagu-lagu jazz! Dia bermain di depan pintu masuknya, dan menerima “tanda kasih” dari pelanggan yang keluar pulang. Kalau nyanyinya bagus begitu, memang tidak rugi rasanya memberikan tip kepadanya.

Setelah makan, aku menghubungi D.M. lagi untuk menanyakan jalan ke Saung Udjo. Eh tahu-tahu dia minta dijemput di tengah jalan menuju ke Saung Udjo. Untung saja Danny ikut, karena ternyata jalannya cukup jauh dan rumit! Kalau dia hanya pandu seperti GPS, pasti aku tidak akan sampai ke sana hehehe. Jadi dengan satu mobil kami menuju ke Saung Udjo ( Jl. Padasuka no. 118 Bandung, Telp. (022) 727 1714) .

Waktu kami sampai, di lapangan parkirnya yang luas, tidak terlalu banyak mobil atau bus yang sedang parkir. Karena sepi kami takut juga jika sudah tidak ada pertunjukan. Ternyata kami masih keburu mengikuti rangkaian pertunjukan yang baru mulai (Pertunjukan sore mulai jam 15:30 – 17:30). Tamunya kebanyakan wisatawan Eropa dan Korea. Dengan membayar sekian rupiah  (lupa berapa hahaha, tapi dari keterangan di internet sih  harga tiket masuk pertunjukkan sebesar Rp 35.000 untuk anak-anak, Rp 50.000 untuk WNI (dewasa) dan Rp 80.000 untuk tamu asing), kami diberi kalung angklung sebagai semacam tanda masuk untuk menikmati pertunjukan tari dan musik yang dikemas dengan bagus selama 2 jam.

Pertunjukan musik dan angklung + tarian

Pembawa acara memandu dalam bahasa Inggris dan memperkenalkan kesenian yang ditampilkan. Ah, kalian harus berada di sana untuk mendengarkan rangkaian nada dari alat musik khas Jawa Barat itu. Seperti yang sudah aku tulis di Who Am I, waktu SD aku pernah ikut exkul angklung, sehingga terbiasa dengan musik ini. Dan waktu mendengar pagelaran ini aku bernostalgia sekaligus menerawang hidupku di perantauan. Tak disadari airmata mengalir di pipi. Aku bangga sebagai orang Indonesia!

Mencoba bermain angklung

Bagian yang paling menarik sebetulnya adalah kesempatan para penonton memegang, memainkan angklung dan dengan mengikuti tanda-tanda dari dirigen (pewarisnya Mang Udjo yang sudah meninggal) . Meksipun instant, para penonton bisa memainkan satu lagu hanya dengan mengikuti tanda-tanda dari dirigen. Dan selama pertunjukan dua jam itu, aku memperhatikan Kai yang terlihat lebih menaruh perhatian pada musik dibanding kakaknya. Aku juga membiarkan Riku memakai kamera DSLR membidik pemain-pemain di panggung.

Setelah melihat-lihat souvenir yang ada, kami meninggalkan Saung Udjo sekitar pukul setengah 6 sore untuk makan malam dan check in ke hotel kami.

Rasa itu tetap sama -3-

Tanggal 4 Agustus pukul 4:44 pagi hari waktu Jepang (di komputerku tetap pakai waktu Jepang, jadi kalau mau tahu WIB nya tinggal dikurangi 2 jam saja), aku masih kluthekan dengan komputerku. Wah hotel Golden Flower ini asyik bagiku karena koneksi internetnya maknyus, cepat, tentu saja jika dibandingkan dengan rumahku di Jakarta. Jadi aku mengupload semua foto kopdar dan main-main s/d tanggal 3 Agustus. Persis di angka yang cantik itu aku menuliskan sebuah pesan singkat ke nomor HP seorang yang kukasihi. Dia berulang tahun tanggal 4 Agustus. Sebetulnya aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi kami berdua tidak cocok jadwal dan budgetnya. Dia berada di Solo sedangkan aku di Jakarta, padahal dulu dia di Malaysia dan aku di Tokyo. Jarak sekali lagi memisahkan kami.

Dan aku sempat memperbarui status di FBku : ” Di Bandung setengah hari enaknya ngapain ya? Yang pasti No shopping, No eating, No transstudio… nah loh apa yang sisa?”, dan disahut oleh Putri Rizkia : “Braga atau Kawah Putih”. Hmmm sebetulnya sudah sering ke Braga, dan aku tidak senarsis Putri yang bisa bergaya sendirian untuk difoto! hahaha.

Jadi sampai aku check out hotel jam 12 siang, aku belum menentukan mau pergi ke mana. Tapi sebetulnya aku sudah infokan pada Danny a.k.a DM bahwa aku mau mampir ke Kopi Aroma. Dia pernah membawakan kopi Aroma untukku tahun lalu, dan aku suka sekali. Mokka Arabika! Selain itu, aku pernah melihat foto seorang teman dari Jepang yang bergaya di depan tumpukan karung! Maybe… just maybe aku juga bisa melihat pabriknya.

Jadilah kami pergi ke toko Kopi Aroma pukul 1-an. Waaah kecil tokonya. Seperti sebuah kios saja. Memasuki pintu sempit ada seseorang yang sedang berdiri di depan meja kaca berisi jenis biji kopi. Aku sempat mendengar pesannya: “Minta 2 kg Robusta”. Aku sempat keder juga, wah apakah di sini harus membeli partai besar? Sedangkan aku sendiri tidak tahu mau membeli berapa banyak.

Saat itulah seorang Engkoh berbaju coklat berbicara pada Danny, “Mas, ini loh coffee maker dari tahun 1930”. Selanjutnya kuketahui beliau bernama Widya Pratama. “Yang di dekat jendela lebih tua lagi 1920.” Aku mulai memperhatikan perkataan dia, dan melihat Danny mulai memotret peralatan antik itu. Kamera memang aku serahkan pada Danny karena aku harus menggendong Kai yang lagi angot.

“Sukanya apa? Paling enak sih Robusta, ngga bikin perut kembung. Mau minum berapa kali juga ngga apa-apa. Tapi buat laki-laki jangan kebanyakan minum robusta. Kasian bininya.” Meskipun (pura-pura) ngga ngerti aku senyum-senyum aja. “Kopi saya mah ngga bikin kembung, ngga seperti kopi lain yang enak cuma di mulut aja. Soalnya kita tahan kopi itu 8 tahun dalam karung. Harus dalam karung biar mateng. Sini ikut ke dalam….” Waaaaah pucuk dicinta alim ulama ulam tiba. Langsung aku mengikuti pak Widya ke dalam. yattaaaaa.

Karung berisi kopi yang disimpan sampai 8 tahun. Berpose bersama Pak Widya Pratama di depan gudangnya.

Pak Widya masih menjelaskan macam-macam pada Danny, sambil dia memotret dan aku hanya senyam-senyum. Tapi akhirnya dia ajak Kai bicara, dan aku bilang Kai tidak bisa bahasa Indonesia. Sambil bercerita tentang kopi, beliau juga mengatakan bahwa anak-anak harus dibiarkan melihat pekerjaan orang tuanya sejak kecil. Anak itu bisa kelihatan minatnya sejak kecil. Dan dia menambahkan bahwa anaknya sekarang 3 perempuan dan semoga bisa melanjutkan usaha yang sudah turun temurun itu. Tak disangka beliau juga berprofesi sebagai dosen.

Pengolahan kopi mulai dari pemilihan biji kopi, sampai pada penggilannya semua masih memakai alat-alat jaman baheula. Lihat saja listriknya, masih pakai kotak listrik jaman dulu. Tapi meskipun ada mesin hitung dan stapler jaman dulu, tentu saja sudah tidak dipakai lagi. Di dinding juga masih ada poster-posterAroma Kopi  jaman dulu. Ah, di luar saja atapnya masih bertuliskan Paberik Kopi.

tour de Kopi Aroma dipandu oleh bapak Widya Pratama sendiri

Akhirnya aku membeli 2 kg kopi Robusta dan Arabika dan setengahnya digiling kasar karena orang Jepang biasanya memakai filter untuk membuat kopi. Jadi khusus untukku, 1 kg kopi diubah setingannya menjadi giling kasar. 250gram seharga 15.000 (150 yen)  itu murah! Tadinya aku mau beli lebih banyak lagi, sekalian untuk oleh-oleh teman-teman di Jepang, tapi kupikir nanti bisa beli lagi sebelum kami pulang. Aku memang berencana datang lagi ke Bandung waktu Gen bergabung dengan kami….yang akhirnya tidak bisa mampir ke Kopi Aroma, dan tidak terbeli tambahan kopinya hehehe. (Musti ingat kalau mau ke Kopi Aroma ini sebelum pukul 3 siang!)

Tampak luar toko Kopi Aroma dan gedung Sate

Setelah dari Kopi Aroma, kami sempat mampir ke Gedung Sate, dan kemudian kembali ke Jakarta. Dan tentu saja, pulangnya pak supir salah lagi keluar tolnya, sampai muter-muter di daerah bekasi or mana deh aku ngga ngerti abis sudah malam sih hahaha. Yang tadinya bisa sampai jam 7 malam, jadinya sampai di kebayoran jam 9 deh. Dan aku kaget kok  rumahku banyak tamu, rupanya ada sembahyangan rutin di rumah. Ah memang rumahku di jkt itu sering “open house” 😀

 

When Geo met Desi

Setelah dari Bandung Coret, kami cepat-cepat menuju Bandung Pusat. ITB tepatnya. Tapi,……sekali lagi supirku tidak tahu jalan. Dan aku beruntung mempunyai GPS hidup di Bandung, yang tak lain adalah pak Lurahnya Bandung :D. Aku selalu memberitahukan posisiku dan Danny yang waktu itu sedang berada di bagian Bandung yang lain  menunjukkan arahnya. Sampai pada suatu saat, kok sepertinya kita kok cari jalannya menjauh. Lucu rasanya ketika sampai suatu jalan Danny bisa menyusul kami. Dan setelah itu aku lega deh karena pak supir tinggal ngekor di belakang mobilnya Danny saja. Karena waktu itu sudah menunjukkan pukul 4:30 an. Untung kedua bapak professor ini mau menunggu kedatanganku.

Sampailah kami di ITB, parkir dan aku ajak Danny ikut bertemu Pak Hendra Grandis (blognya bernama Oemar Bakrie)  dan Pak Nanang Puspito. Pak Hendra Grandis ini mantan blogger angkatan-angkatan awal (awalnya seberapa ya? yah sekitar th 2008-2009 an deh) yang cukup akrab dengan kami. Sedangkan Pak Nanang Puspito adalah temanku (teman di gereja dan karaoke :D) tahun 1995- an waktu Pak Nanang sedang belajar di Universitas Tokyo (eh bener ngga ya). Aku sendiri sudah pernah kopdar dengan pak Grandis, tapi Danny dan Pak Grandis yang sama-sama tinggal di Bandung belum pernah bertemu sama sekali. Jadi kesempatan deh. Apalagi aku berhasil menghubungi Catra Pratama yang juga sudah lama kukenal lewat blog, tapi belum pernah bertemu. Jadilah kami berempat bertemu di depan gedung GEODESI 😀

Menurut IAG (International Association Of Geodesy, 1979), Geodesi adalah Disiplin ilmu yang mempelajari tentang pengukuran dan perepresentasian dari Bumi dan benda-benda langit lainnya, termasuk medan gaya beratnya masing-masing, dalam ruang tiga dimensi yang berubah dengan waktu. Dalam bahasa yang berbeda, geodesi adalah cabang dari ilmu matematika terapan, yang dilakukan dengan cara melakukan pengukuran dan pengamatan untuk menentukan:  Posisi yang pasti dari titik-titik di muka bumi ; Ukuran dan luas dari sebagian besar muka bumi; Bentuk dan ukuran bumi serta variasi gaya berat bumi

Karena kedua dosen harus pulang ke keluarga masing-masing, kami pamit. Dan sebelum meninggalkan ITB itu aku, kai dan Catra sempat berfoto di depan gerbang. Well, setidaknya ada tanda bahwa sudah pernah ke sini hehehe.

Bertemu orang-orang pintar di ITB

Danny dan Catra ikut sampai ke hotel, karena kami berencana untuk buka bersama. Hotel yang kupilih kali ini adalah Golden Flower Hotel yang berada di jln Asia Afrika. Sebetulnya ingin sekali mencoba yang di Dago atau Ciumbuleuit tapi kok rasanya rugi menginap di hotel mahal berdua dengan Kai saja. Lagipula aku pesan hotelnya hanya satu hari sebelum hari menginap lewat agoda.com. Hotel ini lumayan lah meskipun kesannya gelap dan muter-muter untuk bisa ke liftnya (aku dapat kamar yang jauh dari lift). Dan untungnya mereka juga punya kamar untuk supir dengan harga yang reasonable.

Karena kami sampai di hotel pas waktu buka, Danny dan Catra membatalkan puasanya di lobby hotel dengan tajil yang beraneka ragam. Nah, setelah cek in, aku menghubungi seorang lagi yang ingin kutemui di Bandung. Tidak lain dan tidak bukan adalah Guru Menulis yang kerap kupanggil pak EWA.Pak Ersis Warmansyah Abbas sudah lama kukenal sejak awal menulis juga, dan diperkenalkan temanku di Kumamoto, Mega. Menulis Tanpa Berguru menekankan bahwa menulis itu mudah. Pak Ewa sudah menulis puluhan buku tentang kiat menulis.

Kami bertemu pak Ersis di Ciwalk. Terus terang ini pertama kalinya aku ke Ciwalk. (udik yah :D) . Kami berempat dengan satu mobil menuju Ciwalk (tentu tanpa acara nyasar karena ada GPS hidup), dan begitu turun di depan Ciwalk, langsung “dihadang” pak Ersis yang ternyata sudah cukup lama menunggu. Langsung kami menuju restoran korea, steamboat, tapi karena terlambat sudah lewat waktu buka, kami harus menunggu dulu baru bisa makan. Padahal sudah lapar tuh. Keliling Ciwalk, kami (aku dan pak Ersis) berkesimpulan bahwa restorannya tidak menarik semua. Kami tentu saja tidak mau makan di tempat franchise… masih mending di restoran Padang. So, kami akhirnya sepakat untuk mencari restoran yang lebih “representative” di Paris Van Java.

Wait, Paris Van Java memang aku tahu julukannya kota Bandung, dan sekilas saja mendengar bahwa itu adalah nama pusat pertokoan di Bandung. Tentu saja aku belum pernah ke sana (lebih udik lagi mungkin hihihi). Jadi kita makan di sebuah restoran Thailand di PVJ yang bernama Suan Thai (Paris Van Java GF-RL-C19 Jalan Sukajadi No. 137-139). Enak-enak makanannya di sini, tapi yang terenak adalah masakan daging sapi lada hitam (mungkin namanya beda). Mau deh ke situ lagi untuk pesan nasi dan daging sapi itu. Bener enak (duh ngebayanginnya aja sekarang ngiler deh aku hihihi…) .

masakan daging sapi yang uenaaak banget!

Di restoran ini Kai sempat protes. Waktu Catra dan Danny buka puasa di hotel, dia melihat om-omnya ini makan es buah. Dia pengen, tapi waktu mau ambil sudah habis. Lalu aku bujuk dia nanti beli di restoran. Nah, waktu lihat menu di restoran Thai itu, dia lihat semacam es shanghai gitu yang gelasnya pakai gelas es krim. Tapi waktu pesanannya datang, gelasnya lain! Duuuuuuh anakku itu memang begitu. Dia mau yang SAMA PERSIS! Hmmm anakku yang satu ini, kalau punya sumpit pribadi, dia maunya makan dengan sumpit pribadinya dia, dan tidak ada orang lain boleh pakai. Dan dia akan protes, kalau aku misalnya makan dengan sumpit papanya. Kalau cangkir untuk teh, ya hanya untuk teh, tidak boleh untuk yang lain. Kalau aku bilang tidak boleh pakai tangan (kalau makan mie atau masakan Jepang), dia akan protes melihat aku makan ayam/ikan+sambel pakai tangan. Orangnya KODAWARI, hmmm bahasa Indonesianya apa ya? Mungkin untuk kasus ini, CEREWET, strict, punya pendirian? Jadi waktu dia menerima es buahnya pakai gelas tinggi biasa, dia masih menanyakan es shanghainya dia mana????? Duuuh susah banget aku njelasin ke dia, bahwa ISInya sama, gelasnya kotor jadi ngga ada…terpaksa pakai gelas minum biasa…. sampai akhirnya aku bisik ke pelayannya, “Mas, kalau bisa sajiannya yang sama ya dengan yang di menu…anak saya nih jadi cerewet, karena dia pikir itu lain!” Si pelayan hanya senyum-senyum saja. Dan kelihatannya memang mereka tidak punya gelas es krim, atau malas mindahin. Karena kalau di Jepang, kita “protes” begitu, biasanya mereka akan pindahkan isinya ke gelas yang sama dengan di gambar hehehe. (Aduh semoga teman-teman bloggerku ngga ada yang seperti Kai yah :D)

Berbincang-bincang dengan pak Ersis yang sebetulnya sedang deg-degan karena ternyata keesokan harinya akan mengikuti ujian seminar proposal. Memang kami dengar soal ujian proposal, tapi tidak ngeh bahwa keesokan harinya  :D. Pembicaraan berkisar tentang dunia tulis menulis, dan aku dibawakan hadiah buku-buku karangan pak Ersis. Terima kasih banyak pak.

Satu hari di Bandung bisa bertemu dan kopdar dengan Erry, Danny, Pak Grandis, Pak Nanang, Catra dan pak EWA. Sayang Asop dan empunya Farijs van Java tidak bisa bergabung (karena memang mendadak juga sih). Senang sekali rasanya bisa merajut benang laba-laba yang lebih besar lagi.

 

BIG Usagi si empunya Usagi-goya, mengucapkan terima kasih pada Little Usagi a.k.a Putri yang telah membantu publish posting ini. Koneksi Jepang Indonesia tampaknya lelet seharian.

Bandung Coret

Masih…masih banyak yang mau aku ceritakan dari perjalanan mudikku kemarin, yang belum tuntas. Jadi harap bersabar mengikuti ya. Tulisan ini dipending beberapa hari karena aku ada kerjaan terjemahan mendadak, sehingga baru bisa sekarang menuliskannya. Tapi tak apa lah soalnya primadona yang tampil dalam tulisan ini juga sedang  hiatus sepertinya. Entah terlalu sibuk di dunia nyata, atau belum bisa keluar dari kubangan drama-drama Koreanya 😀

Setelah dari rumah marmut, keesokan harinya tgl 3 Agustus 2011 aku langsung cabut ke Bandung. Sebetulnya sebelumnya aku sudah tanya ke empunya rumah: Seandainya aku ke Bandung, lebih baik Rabu atau Kamis? Dan dijawab Rabu! Soalnya sekolah si sulung belum mulai. Yes! Harus diusahakan hari Rabu, apalagi dia berbisik bahwa dia sedang tidak puasa. Great.

Jadi deh sekitar jam 10:30 an aku berangkat dari Kebayoran menuju Bandung bersama Kai saja. Riku? Dia tidak mau ikut mamanya, dan merestui adiknya kencan sama mamanya. Nah, yang jadi masalah itu, aku tidak tahu jalan di Bandung, dan meskipun supirku “mengaku” pernah ke Bandung, rasa-rasanya aku tidak percaya padanya. hehehe. Benar saja ternyata dia turun tol terlalu cepat, sehingga harus melewati daerah KOPO yang muacceeet… Padahal perut sudah lapar. Kalau perhitungan pak supir 2 jam naik tol, 30 menit cari rumah, jadi mestinya sekitar jam makan siang aku bisa sampai ke rumah si primadona. But, kenyataannya jam 2 kami masih ngubek-ngubek daerah Bandung Selatan. Sambil sms an dengan si primadona, akhirnya aku mampir beli makanan dulu di sebuah mall? carrefour?? udah lupa deh. (Katanya sih itu tempat dia ketemuan dengan mas NH seminggu sebelumnya)

Kupikir dari situ rumahnya sudah dekat, ternyata aduuuuuh masih jauh! Jalannya juga jelek, membuatku berpikir, untung aku tidak sedang hamil. Bisa brojol tuh hihihi. Dan akhirnya jam 2 kami sampai!  Ngobrol dengan santai karena si Fathir sedang tidur. Kucari-cari video drama koreanya tidak ada tuh. Yang ada satu rak buku penuh dengan novelnya Nora Robert 😀 …hmmm tau deh seleranya, mirip sedikit dengan diriku 😀 Dan meskipun dia selalu berkata rumahnya berantakan, pada kenyataannya tidak kok 😉

 

Tak lama Fathir bangun sehingga kami bisa berfoto bersama! Tentu saja di dinding studio yang pernah dia tulis di sini.
Jam 3:20 tepatnya, aku pamit karena mengejar bapak-bapak dosen ITB yang katanya akan pulang sekitar pukul 4 karena bulan puasa…tentu saja dengan perkiraan 30 menit sampai (dan kenyataannya? duuuh next story deh :D)

I couldn't resist the temptation to put this pictures! They are cute, aren't they?

Well, Bandung Coret memang jauh (tidak sejauh Tokyo Jakarta sih), tapi aku senang sekali bisa bertemu Erry, si ganteng Fathir dan si cantik Kayla. Kalian bertiga itu nggemesin banget! Apalagi sebelum naik mobil, aku sempat berfoto dengan si Skupi PINK yang biasa dipake Erry untuk ngojeg 😀

Hebat ah ibu ini bisa ngojeg sejauh itu dengan si Pink 😀

Entah kapan kita bisa bertemu lagi Erry, tapi terima kasih untuk oleh-oleh kuenya, juga kesediaan dikunjungi rumahnya (Di Jepang memang jarang orang mau dikunjungi rumahnya). Jangan terlalu larut dengan drama korea, sampai rumah “maya” kamu bulukan ya hihihi

Satu-satunya foto berdua yang bisa diambil tanpa gangguan 😀 Dasar Emak-emak narsis!