RSS
 

Posts Tagged ‘arbaito’

Tiga K atau Tiga D

27 Mar

Kalo 2 D mustinya yang seangkatan dengan aku pada tahu ya… Singkatannya Deddy Dhukun dan Dian Pramana Putra. Tapi yang saya mau tulis di sini adalah  3 K dalam bahasa Jepang, atau dalam bahasa Inggrisnya menjadi 3 D. 3 K dalam bahasa Jepang merupakan singkatan dari Kitsui (Sulit), Kitanai (Kotor), dan Kiken (berbahaya). Bahasa Inggrisnya adalah Dirty, Dangerous dan Demeaning. Jenis pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh Blue Collar (pekerja kerah biru sebagai lawan pekerja kerah putih a.k.a deskwork)

Semakin banyak warga Jepang yang tidak mau melakukan pekerjaan yang merupakan kategori 3 K tersebut. Akibatnya pekerjaan yang sulit, kotor dan berbahaya itu kebanyakan dilakukan oleh pendatang asing terlebih yang datang tidak melalui prosedut semestinya (baca: ilegal). Secara bercanda pernah teman saya, Andre mengatakan pada temannya, bahwa ada lowongan pekerjaan sambilan arbaito dengan gaji 20.000 yen per jam tapi malam hari. Teman-teman mahasiswa dari Indonesia antuasias, tapi setelah tahu bahwa pekerjaannya adalah membersihkan stasiun setelah jam kereta selesai, mereka melempem. Karena itu berarti harus membersihkan WC, dan juga muntahan (maaf) orang-orang yang mabok karena minuman keras. Saya rasa tidak ada di antara teman-teman blogger yang dengan senang hati mau melakukan pekerjaan seperti itu, meskipun gajinya besar. “Gengsi dong!” ….

Tadi pagi saya mendengar berita yang menarik di televisi. Entah apa yang menjadi tujuan komite pendidikan suatu daerah Jepang untuk membangkitkan kembali kegiatan membersihkan WC (toire souji) oleh murid-murid SD. Rupanya 20 tahun lebih yang lalu murid-murid pernah “disuruh” membersihkan WC tapi kemudian dihapus. Sekarang mau dibangkitkan lagi. Hmmm saya jadi berpikir bahwa pasti orangtua-orangtua murid banyak yang keberatan. Pasti akan banyak protes bermunculan. Mana mau mereka jika anaknya yang “berharga” itu disuruh membersihkan WC. Wong di rumah saja anak-anak tidak boleh bekerja. Pasti hampir semua anak Jepang (terutama anak laki-laki)  tidak pernah mencuci piring di rumah. Masa anak-anak ini mau disuruh membersihkan wc sekolah?

Memang disebutkan dalam laporan televisi itu bahwa sebelum anak-anak membersihkan wc tersebut, guru akan melihat dulu “derajat” kekotoran WC. Jika kotor sekali, maka kegiatan itu dibatalkan. Dilaporkan bahwa dengan adanya pilot project usaha tersebut, anak-anak lebih aktif membantu di rumah dan lebih bertanggung jawab akan kebersihan sekelilingnya. Jadi semestinya pelajaran ini bagus adanya.

Saya sendiri sebagai orang tua setuju sekali jika diberlakukan kegiatan membersihkan wc di sekolah. Saya jadi teringat dulu (sekarang saya tidak tahu) pernah mendengar bahwa Canisius College yang sekolah laki-laki saja memberlakukan hukuman membersihkan wc bagi mereka yang terlambat. Waktu saya katakan pada Gen soal ini, dia berkata, saya setuju sekali… lah saya juga kadang bekerja membersihkan wc kok…. (dan saya teringat betapa dia shock dan tidak bisa menerima harus bekerja seperti itu waktu awal-awal bekerja).

Lebih jauh lagi, kita sendiri bisa melihat betapa untuk bidang jasa di Jepang, semua pegawai bahkan boss nya pun turun tangan ikut membersihkan jalan, atau apa saja yang berhubungan dengan kebersihan. Tidak heran jika di Jepang kita melihat sosok pegawai berjas dan berdasi memegang sapu dan membersihkan jalanan depan toko/bank. Kalau toh kelak jika besar dia harus melayani dan melakukan pekerjaan seperti itu, apa salahnya waktu anak-anak diberi pengalaman seperti pelajaran membersihkan WC itu. Supaya jangan shock seperti suami saya itu hehehe.

Mungkin orang Indonesia akan bertanya, kenapa kok karyawan yang berjas itu mau bekerja seperti itu, emangnya ngga ada office boy? Di kantor Jepang, tidak ada office boy. Pekerjaan yang termasuk kategori pekerjaannya office boy itu dilakukan oleh karyawan yang baru masuk (bulan April) , atau disebut shinjin (orang baru). Boleh saja kita katakan itu semacam inisiasi yang harus dilewati untuk kemudian tahun berikutnya tugas itu diambil alih oleh junior (kohai) nya karena dia telah menjadi senior (sempai).

 

Menjadi model = harus bugil?

05 Okt

Salah satu arbaito (pekerjaan sambilan) yang pernah saya kerjakan selama di jepang adalah menjadi model (waktu masih kurus sihh hihihi).

Nah kalo jadi model…. hmmm misalnya model kacamata…. ya ngga usah buka baju dong ya. Atau model jam tangan…  Yang musti buka baju ya pasti model baju dalam ya. Untung aku baru coba jadi model kacamata aja. Jadi difoto bagian muka aja kan hehehe.

Tapi biasanya kalau bilang model lukisan…langsung orang berkonotasi modelnya harus telanjang. Sebetulnya wajar sih ya kalau punya persepsi gitu. Karena hampir di setiap adegan yang menunjukkan orang belajar melukis pasti modelnya berbugil-bugil ria ya.

Nah sebenarnya saya pernah menjadi model lukisan. BUT…. justru harus pake baju tuh. Udah gitu yang melukis ibu-ibu sudah tua lagi (kuciwa deh… hehehe). Ceritanya suatu hari, saya dapat telepon dari KBRI, apakah mau menjadi model lukisan, soalnya ada yang cari ke KBRI. Memang wanita Indonesia yang muda (taelah) waktu itu langka sih… dan kebetulan waktu itu saya masih ada waktu nganggur jadi saya ok-in aja. Dan rupanya setelah saya telepon si pelukis dia minta saya bawa baju tradisional indonesia, karena dia mau menggambar orang asing dan alangkah baiknya kalau pakai baju tradisionalnya. Rupanya dia harus menuliskan proses  melukis orang, terutama yang non jepang. Buku itu terbitan NHK Publishing, yang disunting oleh pelukis kenamaan Jepang Hirayama Ikuo. Dan yang meminta saya untuk menjadi model adalah Shinozaki Mihoko, yang merupakan pelukis wanita anak-buah (desshi) dari Hirayama Ikuo.

Judul bukunya “Melukis Manusia” (人物を書く) dari seri teknik Kursus Melukis Lukisan Jepang (Nihonga). Nah sepertinya saya harus menjelaskan sedikit di sini bahwa Nihonga, Lukisan Jepang, itu memakai cat dan kanvas khusus. Bukan cat minyak, tapi cat yang terbuat dari serpihan mineral seperti emas, perak atau besi, tembaga lalu dicampur juga dengan kerang, tulang atau serangga malah sehingga kasat dan mempunyai warna yang terbatas. Yang pasti hasil lukisannya berat! Mungkin lebih tepat kalau Anda membayangkan lukisan relief di atas kanvas. Dan yang menarik, biasanya Nihonga ini memakai warna emas untuk point-point yang ingin ditonjolkan.  Kalau ada kesempatan melihat Nihongga, coba sentuh dengan jari, dan akan dirasakan bahwa memang seret dan seperti relief.

Jadi, sekitar 3-4 kali saya harus datang ke atelier (studio) sang pelukis itu, dan pakai baju kebaya (untung ngga usah di sanggul) dan…. duduk jadi patung. Sumprit deh…(aku ngga biasa pake kata sumprit euy….) ngga dua kali deh aku mau lagi jadi model. Bayangin saja … musti diam tak bergerak. Orang kayak Imelda gini, di suruh duduk diam? mana bisa sih. Belum lagi kalo abis makan siang, rasanya pengen bobo aja. (Udah gitu bayarannya dikit lagi hihihi, tapi yah demi negara Indonesia …taelah). Dan aku juga tanya kenapa ngga difoto aja sih? Tapi memang lain sih ya, pencahayaan waktu melihat langsung dan dengan hasil foto. Perlu pengorbanan yang tidak sedikit baik dari model dan pelukis nya untuk mendapatkan hasil yang bagus dan maksimum.

Setelah buku itu selesai, saya membelinya untuk kenang-kenangan. (日本画技法講座「人物を書く」平山郁夫監修・NHK出版:2500円)

… dan ketika si pelukis itu menelepon lagi untuk minta saya kembali menjadi modelnya saya tidak tega untuk mengatakan tidak!. Untung kali ini karena dia harus bayar sendiri, saya cukup satu kali datang dan dia banyak memotret pose-pose saja, untuk kemudian dipadukan dalan selembar kanvas berukuran 2mx2m. Hasil lukisannya dipamerkan di Museum Ueno dalam pameran Nihonga.

So, ada juga pekerjaan menjadi model lukisan yang tidak harus berbugil ria….hehhehe.