Akita-ken dan Shiba-ken

15 Des

Kalau mendengar kata Akita-ken, biasanya orang akan berpikiran tentang Prefektur (bayangan orang Indonesia adalah propinsi)  Akita, yang memang dibaca sebagai Akita Ken. Tapi yang aku maksud di sini ken adalah bacaan lain dari kanji inu 犬. Jadi judul di atas, kalau diterjemahkan menjadi Anjing Akita dan Anjing Shiba. Kedua jenis anjing ini merupakan anjing asli Jepang, yang sudah sejak dulu berada di Jepang. Anjing asli Jepang sendiri ada 6 jenis sekarang (dulu 7 tapi musnah), dan sudah ditetapkan oleh pemerintah menjadi warisan alam Jepang sejak tahun 1931 untuk Anjing Akita dan 1936 untuk Anjing Shiba.

Sesuai dengan namanya Anjing Akita ini memang berasal dari prefektur Akita, yang berada di Utara Jepang, masih di pulau utama (Honshu). Selain terkenal dengan Anjing Akita, daerah ini juga terkenal dengan Akita Bijin! Bijin = wanita cantik… well hanya kebetulan saja loh, bukan aku sengaja menyandingkan Anjing dengan Wanita di sini. Kabarnya seorang anjing yang setia menunggu tuannya pulang, yang pernah saya tulis di “Sebuah Cerita Tentang Kesetiaan” ini juga termasuk jenis Anjing Akita, dan termasuk jenis anjing besar (badannya).

Anjing Akita, termasuk jenis besar. Gambar diambil dari wikipedia Jepang.
Anjing Akita, termasuk jenis besar. Gambar diambil dari wikipedia Jepang.

Sedangkan yang lebih kecil adalah Anjing Shiba (termasuk jenis kecil), atau bahasa Jepangnya Shiba-ken 柴犬, merupakan anjing tertua yang berada di Jepang. Anjing ini bisa dikatakan mewakili anjing asli Jepang, karena 80% anjing Jepang yang berada di Jepang sekarang adalah Anjing Shiba. Ketenarannya sampai ke Amerika dan negara-negara lain. Ibu mertua saya memelihara anjing jenis ini sudah 9 tahun lamanya. Sembilan tahun menurut perhitungan manusia sama dengan 65 tahun umur manusia. Jadi sudah cukup tua. Nama anjing kami ini Dai-chan. Waktu lahir amat lucu dan pernah menjadi model untuk kalender.

Daichan waktu masih bayi
Daichan dan adik sekandungnya waktu masih bayi

Riku dan Kai juga tidak pernah takut pada Dai-chan, dan selalu bermain bersama jika kami pulang ke rumah mertua. Aku? Aku selalu suka anjing, meskipun malas untuk memeliharanya. Takut lupa kasih makan….kan kasihan. Tapi sebetulnya selain itu, bagi orang yang tinggal di apartemen/mansion di Tokyo, agak sulit jika mau memelihara anjing. Umumnya tidak boleh memelihara anjing/kucing, sehingga jika mau memelihara harus cari apartemen/mansion yang memperbolehkan pelihara pet.

Dai-chan dan adiknya setelah dewasa
Dai-chan dan adik sekandungnya setelah dewasa

Dulu di Jakarta waktu kecil kami memelihara German Sheperd, yang kami beri nama Nero, yang badannya jauuuuh lebih besar dari kami.

Anjing kami Nero. Wah sudah berpuluh tahun lalu. Lihat saja, Imelda sekecil itu hihihi
Anjing kami Nero. Wah sudah berpuluh tahun lalu. Lihat saja, Imelda sekecil selangsing itu hihihi (kayaknya SMP deh)

Kenapa tiba-tiba aku ingin bercerita tentang anjing? Ya, posting ini khusus aku buat untuk seorang sahabat, penyayang anjing yang menamakan dirinya The Bitch! Memang kalau kita membaca blognya mungkin akan timbul beberapa kerut-kemerut di kepala dengan penggunaan bahasanya. Tapi aku berani jamin dia adalah seorang teman terbaik yang transparan yang akan berbicara tanpa “hiasan” dan terus terang.  Nama yang bagus, Pitoresmi Pujiningsih atau aku selalu panggil Pito … yang berulang tahun hari ini, 15 Desember 2009  yang ke 28 tahun (bener ngga sih?). Selamat Ulang Tahun sahabat…. aku berdoa untuk kesehatan dan kiprah kamu dalam berbagai kegiatan. Traktirnya nanti ya kalau aku ke Jakarta…

Tentang anjing asli Indonesia? Aku sama sekali tidak tahu! Ada ngga sih?

Sumber:  Wikipedia Jepang mengenai Anjing asli Jepang, Anjing Akita dan Anjing Shiba.