Selamat Tahun Baru
2010
Imelda-Gen-Riku-Kai
selembar kertas bertuliskan
Desember
31
dari sebuah penanggalan harian
betapa dia menantikan datangnya gilirannya
sejak Januari…. terasa lama
baru 2 bulan berakhir…katanya di awal bulan Maret
penantian yang panjang
April
Mei
Juni
7 bulan berlalu…
musim panas membuatnya ikut kering
menantikan giliran memang tidak enak
Memasuki oktober dia berkata
yey… tinggal 2 bulan lagi
akan tiba giliranku
dan dia menghitung mundur
Begitu tanggal 1 Desember muncul
gembira hatinya
“ayo cepat… cepat…”
diapun mulai menggigil
di luar angin berhembus kencang
dan suhu semakin turun
langkah orang bergegas
tak ada yang mau berlama-lama di luar
mulai mempersiapkan pohon natal
mengirimkan kartu natal
gilirannya tinggal beberapa hari lagi
dan tibalah tanggal 30 Desember
besok adalah giliranku
AKHIRNYA…. tersenyumlah dia
tapi….
dia harus teronggok dalam tempat sampah
si anak tak sengaja menyobek dua lembar
si 30 hanya setengah hari
tapi 31 sama sekali tak mendapat giliran
“Maaf….” kata si anak
“Tidak apa-apa… toh hanya satu hari
Pasang saja kalender yang baru!”
kata si ibu
Dan sambil menangis
31 meratapi nasibnya
di dalam tempat sampah
sia-sia penantiannya selama setahun
tanpa ada penghargaan dari manusia
yang mau serba cepat
menyambut semua yang BARU
**************
terinspirasi sebuah anime pendidikan di Jepang
yang sempat membuatku berpikir
bahwa memang kita selalu tidak sabar
menyambut semua yang baru
tanpa mau merenungi
bahwa SETIAP hari adalah anugerah
dan hari terakhir di tahun ini
tetap sama 24 jam
yang pantas dihargai
justru karena dia akan menjadi akhir
segala usaha di tahun ini.
OTSUKARESAMADESHITA (you’ve done a very good job)
untuk segala yang kita perbuat di tahun 2009
termasuk hari ini
tanggal 31 Desember 2009
Nikmatilah dia
detik demi detik
tanpa harus bergegas
menyambut 1 Januari
karena 1 Januari pasti akan datang
tanpa perlu harus diburu.
imelda
@ my studio
11:35 AM
(tulisan ini pertama kali saya publish di notes FB pada tanggal 31 Des 2009)
Pagi hari aku sebetulnya menantikan fajar. Tapi ternyata karena kamar kami mengharap ke utara, tidak bisa melihat matahari terbit. Pemandangan yang sama, pada malam hari dan pagi hari, amatlah berbeda.
Karena paket hotel termasuk sarapan, maka kami menuju Restaurant normandie yang berada di lantai 5. Sebetulnya tempat ini bagus sekali kalau malam, tapi harganya juga bagus sekali. Untung saja sarapan disediakan di tempat ini sehingga kami bisa melihat bagian dalamnya seperti apa.
Dan oleh pelayan kami diberi tempat duduk di dekat jendela, yang pemandangannya bagus sekali (kalau malam pasti harus reservasi nih). Breakfast menunya sendiri tidak begitu wah, malahan aku jadi ingin makan bubur ayam hihihi.
Sinar matahari yang menyirami bumi terlihat begitu hangat sehingga kami memutuskan untuk jalan-jalan pagi sebelum check out. Tapi begitu kami sampai di lantai satu, brrrrrr angin menyambut kami, sehingga kami kembali lagi ke kamar mengambil coat.
Banyak orang berjalan kaki, atau jongging di Yamashita Park ini. Atau hanya sekedar duduk sebentar (karena kalau lama-lama meskipun di bawah sinar matahari tetap saja menggigil). Di situ ada kolam dengan patung dan dikelilingi 5 lonceng yang rupanya sebagai tanda kerjasama sister city dengan San Diego.
Kapal Hikawamaru yang ditambatkan juga lain penampilannya dengan waktu malam hari. Aku lebih suka malam hari…. lebih mistis. Tapi aku menemukan sesuatu yang lucu di rantai jangkar kapal. Yaitu deretan burung camar yang berbaris rapih. Sementara yang tidak kebagian tempat terbang atau berenang di perairan di bawahnya, yang lumayan riaknya gara-gara angin.
Karena semakin merasa dingin, aku mengajak Gen kembali ke hotel melewati jalan yang lain. Rupanya di situ juga ada taman bunga mawar yang sedang berbunga. Sementara di sebelah kiri ada lapangan rumput yang luas tempat anak-anak bermain. Ahhhh pemandangan seperti ini selalu membuat hati merasa damai. Sambil merasa iri, mengapa di Indonesia tidak ada tempat yang bersih seperti ini.
Sambil pulang ke kamar, kami juga menyempatkan diri mampir lagi ke lobby gedung utama yang bersejarah dengan interior khasnya, dan taman hotel dengan air mancurnya.
Kami cepat-cepat check out pukul 11, terlambat 5 menit, dan menemui antrian tamu lain yang check out. Antri bo…. dan tidak lama… sama sekali tidak lama. Padahal ada lebih dari 20 tamu yang sedang antri.
Karena kami boleh memakai parkir sampai jam 1, maka kami menaruh barang kami yang tidak perlu, lalu berjalan ke arah China Town. Benar saja pemandangan China Town di siang hari lain sekali dengan waktu malam hari. Tentu saja lebih bagus waktu malam. Tapi, semua toko terbuka, dan kami menemukan “tongcai” . Itu loh sejenis sayuran kering dengan rasa asin-asin untuk bubur ayam. Dijual dalam keramik bundar. Waktu kami lihat wahhh, murah, hanya 250 yen. Jadi beli deh.
Selain itu aku juga melihat kue china yang dulu waktu SD sering kami makan. berbentuk bundar merah. Dulu kami sering bermain “hosti-hosti”an dengan snack ini. Setelah aku bisa baca kanji baru tahu namanya di Jepang adalah Sanjashi さんざし(山楂子) , bahasa Inggrisnya Hawthorn dan ternyata terbuat dari buah yang banyak mengandung vitamin C, dan berguna untuk memperlancar pencernaan. Hmmm musti kasih makan Kai nih, dia suka sembelit soalnya.
Wah memang masuk ke toko cina itu asyik, asal bisa baca hehehe. Ada keringan kuda laut, ada shark fin juga. Waktu Gen bilang, mau beli? Duh aku ngga tau masaknya gimana….
Tujuan kami di Pecinan sebetulnya adalah Kuil Kanteibyo (Kuil Guan Gong). Aku sudah beberapa kali pergi ke China Town Yokohama, tapi belum pernah sampai ke kuil ini. Dan kali ini harus bisa kesampaian.
Begitu sampai di temple ini, wahhh deh. Amat lain dengan kuil-kuil Jepang yang umumnya tidak “berwarna”. Kuil Cina memang jauh lebih meriah, semarak dan berwarna warni. Emas dan Merah sudah pasti. Guan Gong adalah dewa untuk keadilan, keberanian dan kesetiaan. Bagi yang ingin berdoa, diharapkan untuk membeli batangan dupa yang cukup besar (berbeda dengan Jepang yang pendek dan berwarna hijau), paling sedikit 5 batang untuk dipasang di lima tempat. Karena kami tidak bermaksud berdoa, kami tidak membeli dupa, tapi masih diperbolehkan naik sampai ke depan altarnya. Wah semakin dekat dengan gerbang dan atap, semakin silau mata memandang. Apalagi waktu itu matahari terang benderang, meskipun tidak berarti panas hehehe.
Aku bayangkan kuil ini pasti ramai sekali kalau Tahun Baru Imlek, lengkap dengan barongsai dan musiknya…. Dan aku sambil menuliskan ini berdoa untuk arwah Gus Dur, Presiden Indonesia ke 4 yang berani memperbolehkan Imlek dirayakan di Indonesia.
Begitu turun dari kuil tersebut aku membeli taiyaki, sejenis kue dorayaki tapi berbentuk ikan mas. Tapi taiyakinya berwarna putih dengan isi custard, coklat dan anko (selai kacang merah). Riku ingin sekali makan taiyaki rasa coklat, jadi sekalian beli untuk oleh-oleh Riku.
Sambil berjalan ke arah hotel, kami menemukan keganjilan, yaitu melihat Sang Merah Putih berkibar di sebuah toko. Langsung deh tergerak nasionalisme kami (uhuuy…lebay amat), dan masuk ke toko itu. Siapa tahu menjual barang-barang Indonesia. Eeeehhh ternyata hanya merupakan kumpulan toko-toko kecil yang menjual macam-macam baju, assecories, buku, hobby dan lain-lain. Kecil memang tapi cukup menyenangkan, dan yang pasti WC nya yang terletak di lantai 3 itu bersih benar! Jadi, ngapain dong pasang Sang Merah Putih? Pasti yang pasang asal milih saja deh, bendera negara mana juga jadi (atau malah dia pikir itu bendera Polandia ya?)
Nah terakhir kami akhirnya mampir ke sebuah toko yang menjual segala “panggangan”. Ada ayam, bebek, hati ayam, babi merah (chashu), babi asin (yang asin jarang sekali ada di Jepang) padahal di “Kenanga” Jakarta banyak tuh dan tidak pake sambal khasnya…. Toko ini sebetulnya lebih melayani pembelian untuk dibawa pulang (take away) dijual langsung per gramnya, atau dalam bentuk obento (set dengan nasi). Tapi mereka juga punya kamar makan di atas khusus untuk orang yang sudah pesan. Ada seorang obasan (ibu-ibu) yang menawarkan kami untuk makan di atas saja. Jadilah kami memesan set panggangan untuk lunch , karena malas membawa pulang ke rumah. Harganya 1000 yen, tapi dagingnya banyak euy, jadi puas deh.
Akhirnya kami harus berlari-lari ke parkiran hotel karena waktu sudah menunjukkan pukul 1. Padahal aku bilang, biarlah kalau perlu kita membayar tambahan parkir juga tidak apa-apa. Paling cuma untuk setengah jam. Jadi sekitar pukul 1:25 an kami naiki lagi lift mobil dari B4 untuk keluar. Ternyata kami sama sekali tidak usah membayar kelebihannya. Tau gitu kan…. nambah hihihi (ngelunjak itu sih!)
Well, berakhirlah bulan madu ke 4 kami. Pertama ke Raffless Hotel Singapore, ke dua ke Ritz Carlton Bali, ke tiga Makassar Golden Hotel, dan ke empat Hotel New Grand Yokohama. Mungkin ada yang tanya, kok suka nginap di hotel-hotel begituan sih? Well, kebetulan pekerjaan Gen berhubungan dengan hospitality, jadi kami ingin menjadi “Hotel Critics” ceritanya. Tapi karena bayar sendiri, frekuensinya sedikit deh. Nanti kalau anak-anak sudah besar, boleh juga tuh menjadi pekerjaan pokokku hehehe.
Bahasa Jepangnya, Mono yori omoide ものより思い出 merupakan catch-copy atau slogan dari iklan mobil Nissan Serena. Bahwa kebersamaan dengan keluarga itu penting (dan silakan naik mobil Serena ke mana-mana…). Dan aku setuju dengan slogan ini, dan sedapat mungkin menimbun kenangan untuk anak-anakku dan diri-sendiri.
Oleh karena itu, waktu merencanakan peringatan pernikahan kami yang ke 10, saya tidak memilih “sweet ten diamond” (lagi-lagi korban iklan bahwa peringatan pernikahan 10 th di Jepang “wajib” dirayakan dengan membelikan berlian/diamond). Tapi memang aku agak bingung sedikit setelah sampai pada pilihan camera DSLR atau menginap di sebuah hotel di Yokohama. Camera tentu saja bisa mengabadikan kenangan-kenangan yang akan datang, tapi kesempatan untuk berduaan saja menikmati satu hari penuh? Hmmm sebuah kemewahan yang mungkin perlu kami laksanakan. Apalagi ibu mertuaku sudah bersedia untuk menjaga anak-anak selama kami pergi. Kami masih punya camera yang cukup memadai, tapi “waktu” adalah sesuatu yang tidak bisa terbeli tanpa ada dukungan berbagai pihak.
Kami berangkat dari rumah sudah cukup sore, yaitu pukul 1:30. Langsung ke rumah mertua di Yokohama dan menitipkan Kai dan Riku. Sebelumnya Riku sudah kami beritahu dan minta bantuan dia menghibur Kai seandainya menangis. Menurunkan bawaan dan sekitar jam 3 kami siap untuk berangkat lagi. Kai menangis sebentar, tapi dia juga sayang sekali pada omanya, sehingga diam saja waktu kami melambaikan tangan padanya. Kami siap untuk berangkat.
Rencananya kami akan meninggalkan mobil di rumah mertua, dan jalan kaki/naik bus/naik kereta untuk melakukan tapak tilas tempat-tempat kami pergi “pacaran” dulu. Tapi, pikir punya pikir, dengan naik kendaraan umum kami belum tentu bisa pergi ke semua tempat. Akhirnya kami tetap naik mobil untuk menuju tempat yang justru belum pernah kami kunjungi bersama. Tujuan pertama adalah Taman Italia di daerah Yamate, tempat perbukitan di depan laut.
Di Yokohama ada yang disebut sebagai kumpulan rumah-rumah arsitektur asing di Jepang. Yokohama sebagai pelabuhan pertama yang dibuka 150 tahun yang lalu memang merupakan pusat orang asing yang datang ke Jepang. Lampu gas pertama kali dipasang di Bashamichi, Yokohama. Begitu pula dengan es krim… pertama kali di jual di Yokohama. Pengaruh budaya asing bisa dijumpai di kota pelabuhan ini, yang juga mempunyai sudut khusus bagi pendatang dari China, dengan China Townnya. Yokohama adalah tempat berpadunya berbagai budaya. Dan aku cinta Yokohama (Makanya pilih universitas Yokohama hehehe)
Tekstur kota Yokohama yang unik, pelabuhan tapi berbukit-bukit, dengan tanjakan di mana-mana, membuat orang tidak kuat untuk bersepeda di sini. Sebagai sarana transportasi yang mudah adalah bus atau mobil sendiri. Waktu mencari informasi tentang rumah-rumah diplomat itu di internet, aku sudah mikir… kuat ngga ya aku manjat bukit sebanyak ini? Jadi lega banget karena kekhawatiran itu terhapus dari daftar.
Dan memang Yokohama adalah salah satu kota yang banyak kita temui rochu, parkir di pinggir jalan (ilegal). Tadinya kami sudah akan mencari tempat parkir yang ada dan jalan sedikit, tapi waktu melihat banyak orang yang rochu di depan Gaikoukan no ie 外交官の家 dan Taman Italia, akhirnya kami juga parkir di situ. Untung tidak tertangkap polisi, kalau tidak 15.000 yen (1.500.000 rupiah) melayang.
Gaikoukan no ie 外交官の家 sebenarnya adalah rumah pribadi dari diplomat Jepang yang bernama Uchida Sadatsuchi. Beliau pernah menjadi diplomat si Shanghai, Seoul, New York, Brazil, Argentin, Denmark, dan Turki. Rumah ini sebetulnya merupakan pembangunan kembali dari rumah sebenarnya yang ada di Shibuya, Tokyo. Arsiteknya bernama James McDonald Gardiner, dan bangunannya dikatakan sebagai gaya American Victorian. Gardiner sendiri adalah seorang arsitek yang pernah menjadi Sekolah Rikkyo, cikal bakal Universitas Rikkyo sekarang. Gardiner banyak membangun gereja-gerja akan tetapi dari sekian banyak karyanya, hanya beberapa yang masih tinggal utuh, termasuk Rumah Diplomat ini. Yang lainnya terbakar pada waktu Gempa Bumi Besar Kanto. Memang bangunan kayu berlantai dua ini megah dan konon mengejutkan masyarakat Jepang, karena bangunan ini dimiliki oleh seorang Jepang awam (bukan pemerintah atau diplomat asing).
Kami bisa memasuki bangunan ini, tanpa dipungut biaya. Masuk melalu pintu samping, karena konon, pintu utamanya tidak pernah dibuka. Begitu masuk kami bisa melihat ruang makan, ruang tamu dan serambi depan, termasuk kamar kecil untuk tamu menunggu.
Dari lantai satu kami menaiki tangga menuju lantai dua tempat ruang tidur utama, kamar mandi dan ruang belajar berada. Mungkin karena warna kayu coklat tua, bangunan ini memang meninggalkan kesan kuno yang sacred (suci). Aku seperti berada dalam kapel gereja tua, dan yang paling jelas ada di kepala adalah kapel “Kultur Heim”, yang berada di dalam lingkungan Universitas Sophia, Tokyo.
Dalam kamar utama juga terdapat satu ruangan bulat yang hanya berisi meja tulis satu. Hmmm mungkin kalau tidak bisa tidur, sang diplomat duduk membaca di situ ya? Yang juga menarik adalah bak mandi, bath tub dengan model duduk (tidak tertanam). Keran pemutar dari keramik yang masih mengkilap.
Setelah keluar dari rumah itu kami langsung ke bagian belakang rumah yang merupakan taman Italia. Ternyata dari situ tampak belakang rumah (ngga ngerti juga sebetulnya yang mana yang depan yang mana yang belakang) terlihat begitu megah. Apalagi ada deretan cemara di samping kirinya. Sayang bulan hanya setengah, coba kalau bulan purnama…cocok deh jadi rumah berhantu hihihihi.
Persis di sebelah Rumah Diplomat yang dibatasi dengan air mancur dan kolam kecil, di bagian agak ke bawah terdapat rumah orang asing yang bernama Bluff No 18. Sampai dengan 20 tahun yang lalu, rumah ini dipakai sebagai kantor pastor paroki Gereja Yamate, kemudian seperti Rumah Diplomat, disumbangkan kepada Pemda Yokohama. Rumah ini meskipun bergaya eropa, tetap memberikan kesan sederhana. Kusen berwarna hijau entah mengapa mengingatkanku pada rumah-rumah tua bangunan Belanda yang dipakai sebagai bungalow.
Sama seperti Rumah Diplomat, kami bisa memasuki rumah ini dengan gratis. Ruang tamunya biasa saja, tapi….. ruang makannya berkesan mewah karena piring-piring keramik yang tertata rapi, seperti siap mengundang kita dinner bersama. Aku memang suka gelas dan keramik, sehingga sempat terpaku di kamar makan memperhatikan piring itu. “Sayang aku ngga berani pegang…padahal ingin tahu buatan mana, mungkin Royal Copenhagen)
Karena khawatir dengan mobil yang diparkir cukup lama, kami cepat-cepat naik ke lantai dua dan melihat ruang kerja dan perpustakaan di atas. Ada juga pajangan boneka di dalam salah satu ruang kerja, tapi aku ngga liat ada boneka dari Indonesia tuh….
Keluar dari Bluff No 18 ini, kami sempat mampir ke gereja Katolik Yamate, dan masuk ke dalam gereja. Lagi-lagi aku membayangkan gereja katedral di Bogor, meskipun yang di Bogor jauh lebih kecil. Yang lucu di dalam gereja ini tidak disediakan air suci, yang biasanya ada di samping kiri kanan pintu masuk, dan terdapat pemberitahuan bahwa tidak disediakan air suci untuk mencegah penyebaran penyakit H1N1….. (Kayaknya di gereja lain semua masih pakai air suci deh. Apa karena daerah yamate ini banyak orang asingnya sehingga kemungkinan berjangkit sangat tinggi? Entahlah)
Hari sudah gelap waktu kami keluar dari gereja, padahal waktu menunjukkan pukul 5:15. Tapi karena kami berjanji untuk check in di hotel antara jam 5 dan 6 sore, jadi kami naik mobil menuju tujuan berikut. Hotel New Grand Yokohama.
bersambung…..