RSS
 

Aku Ingin Pergi JAUUUHHH

27 Jan

“Aku Ingin Pergi Jauh” Tooku e ikitai 遠くへ行きたい! adalah sebuah acara televisi yang menayangkan perjalanan orang-orang ke sebuah tempat. Program televisi ini sudah berjalan selama 35 tahun! Bayangkan 35 tahun setiap hari minggu pagi dari jam 7:30 sampai 8:00. Dimulai bulan Oktober 1970. Pasti ada Blogger yang bahkan masih menari-nari di awan  alias belum lahir (Jeunglala aja belum lahir tuh). Program ini mengajak pemirsa pergi ke tepat-tempat di seluruh Jepang. Toko, Restoran, penginapan, wisata dan lain-lain. Pokoknya enjoy deh.

Tapi biasanya dalam program acara yang memperkenalkan suatu tempat, pasti akan diberitahukan cara untuk pergi ke sana, nama toko/penginapan atau restoran yang dituju, bahkan harga makanan/ tempatpun ditampilkan. Tapi khusus untuk program ini sama sekali tidak diberitahukan dimana, nama toko, harga dsb. Hanya diberitahu prefektur dan kotanya saja. Tapi tentu saja dari papan nama toko atau bentuk rumah dll ada tersirat hintsnya. Kata produsernya, biar acara kami seperti itu, karena jika orang bener-benar mau mengadakan perjalanan, maka mulai dari mencari informasi tempat dsbnya itulah perjalanan dimulai. Hari minggu lalu tgl 25 Januari 2009, program ini mengetengahkan prefektur Kanazawa yang terkenal dengan taman Kenroku yang tertutup salju. Saya belum pernah ke Kanazawa, padahal lumayan dekat dari Tokyo. Mungkin akan masuk dalam list perjalanan saya bersama dengan kota Nagasaki.

Anda ingin pergi jauh?

Well sebetulnya saya tidak ingin pergi jauh. Meskipun Belanda dan Spanyol ada dalam list saya. Saya justru ingin pergi mendalami tempat-tempat yang ada di sekitar saya. Masih banyak yang belum saya ketahui tentang Indonesia dan Jepang. Mungkin musim panas nanti kami tidak bisa pulang ke Indonesia dan akan berwisata di Jepang saja. Karena itu dalam kesempatan pulang kampung Februari nanti, saya berencana untuk pergi ke Yogyakarta. Paling tidak saya ingin memperlihatkan Borobudur yang termasuk World Heritage itu pada Riku sehingga dia bisa bercerita pada teman-temannya di SD nanti. Yang pasti dia bisa membanggakan diri karena dia sudah pernah pergi ke Yogyakarta, padahal papanya belum pernah.

Seperti tujuan program TV “Aku ingin pergi jauh”, perjalanan dimulai sejak mencari informasi. Kali ini saya dibantu oleh Uda Vizon, Wita, Lala juga Mbak Tuti dalam mengumpulkan informasi. Yang sudah pasti itienary perjalanan saya adalah:

Tgl 23 Februari, KOPDAR bersama writer dari Surabaya. Direncanakan sih makan siang, di daerah Sudirman/Thamrin, JAKARTA. Supaya banyak ibu-ibu seperti Jeng Rhainy dan calon ibu Reti juga bisa ngumpul. Jangan lupa bawa bukunya Lala + bolpen untuk tanda tangan (+amplop yang tebel juga boleh). Tadinya the famous Lala mau pulang ke SBY malamnya, tapi kayaknya bisa diundur, jadi mungkin bisa dilanjutkan sampai malam dengan karaoke dsb dsb. So, yang mau ikutan daftar ya (kirim email aja)… biar bisa dicarikan tempat yang enak nih.

Tanggal 7-8-9 Maret Kopdar+Wisata Yogya with Lala dan EM+Riku. Acara yang sudah pasti adalah tanggal 7 Maret pukul 15:00-17:00 “Bermain Bersama Bocah Kweni” yang diarrange Uda Vizon. Untuk latar belakang silakan baca postingan Uda yang ini. (Kalau ada yang mau titip sesuatu untuk anak-anak ini, saya bisa membawakannya)
Lalu tanggal 7 Maret pukul 18:00 Kopdar Yogya, makan malam bersama di Resto Taman Pring Sewu. (Kalo masih kuat mungkin karaoke sampai pagi hehehe). Tanggal 8-9 diplot untuk wisata, tapiiiii tergantung bangunnya jam berapa. SO… siapa saja yang mau ikut… baik ikut wisatanya, atau main bersamanya atau makan malamnya hubungin kami ya. (email saya atau Lala atau Uda Vizon). Nanti kami beritahukan lagi detilnya via sms)

Saya masih mengumpulkan bermacam informasi, tapi kalau di antara teman-teman ada usul (misalnya tempat yang jual bakwan malang enak di mana gitu — loh Yogya kok nyari bakwan malang hehehe). Maklum saya paliiiiing suka bakwan Malang (Tahun depan kudu ke tempat dewisang deh)

Ya, rencana saya pergi jauh kali ini adalah Yogyakarta tuh. (Padahal kalau lihat di peta ngga jauh juga ya)

EM

BACA VERSI LALA DI SINI http://jeunglala.wordpress.com/2009/01/28/the-events/

 

IBSN: Kapan Anda Merasa Orang Indonesia?

25 Jan

Ya sebuah pertanyaan yang mudah, tapi mungkin agak sulit dijawab oleh orang Indonesia. Karena belum ada standar yang pasti ciri-ciri khas orang Indonesia. Adanya ciri khas orang dari suku Jawa, Sumatra, Bali dll. Mungkin sebuah survey yang dilakukan pada orang Jepang ini bisa menjadi semacam “referensi” bagi kita. Ini adalah sebuah hasil angket terhadap pertanyaan, Kapan Anda merasa bahwa ternyata Anda memang orang Jepang.

  1. Merasa bahagia waktu minum sup miso.
  2. Merasa relaks waktu masuk ke dalam pemandian air panas (hot spring)
  3. Merasa bahagia waktu minum teh hijau
  4. Merasa “at home” waktu mencium bau tatami
  5. Makan acar Jepang
  6. Tidur di kasur Jepang di lantai/tatami
  7. Mendukung tim Jepang dalam pertandingan olah raga
  8. Berkata,”Kereennnn ” waktu melihat orang memakai kimono
  9. Kalau terus menerus makan roti, jadi ingin sekali makan nasi
  10. Membungkuk -bungkuk waktu menelepon
  11. Memperhatikan kapan waktu sakura mekar
  12. waktu makan umeboshi (buah plum kering)
  13. Merasa senang waktu mendengar suasana festival (matsuri)
  14. Merasa minder waktu diajak omong orang asing
  15. Menyesuaikan dengan orang lain pada waktu rapat
  16. Merasa bersyukur waktu melihat gunung Fuji
  17. Memperhatikan kapan waktunya bisa melihat pemandangan daun berubah di musim gugur
  18. Secara tidak sadar memilih rasa Maccha (Green tea) misalnya es krim dsb.
  19. Selalu mengatakan “Barang tidak berguna” waktu menyerahkan hadiah pada orang lain
  20. merasa senang waktu bisa duduk menekuk lutut meskipun di atas kursi (Seiza= duduk ala jepang atau ala pendeta buddha)

Kadang kala saya merasa saya sudah menjadi orang Jepang, yaitu waktu masuk hot spring (2), makan acar Jepang (5), suka melihat orang pakai kimono (8), membungkuk waktu menelepon (10), senang mengikuti festival terutama taiko -gendangnya (13), melihat gunung Fuji (16) , dan (18) serta (19). Tapi nomor 10 memang sering dikatakan ibu saya, karena saya tidak sadar melakukannya.

Nah, sebagai orang Indonesia, kalau mengacu pada angket itu, apa ya? Makan sambal, mendukung tim Indonesia, senang melihat orang berkebaya, merasa bersyukur melihat pohon kelapa (di Jepang tidak ada pohon kelapa) dan bertelanjang kaki. Mungkin masih ada yang lain, tapi untuk sementara cukup sekian. Bagaimana teman-teman, kapan Anda merasa bahwa Anda itu orang Indonesia (terutama dalam pergaulan dengan orang asing)?

 

upload di YouTube

25 Jan

Akhir-akhir saya selalu gagal untuk upload di Youtube. Baru pagi ini berhasil, dan itu juga karena pendek. Mau lihat hasilnya? Judulnya, “Kai mencuri (cooking) coklat”.

 
 

Desa Setengah Hari

25 Jan

Kenapa namanya desa Setengah Hari? Ya, karena desa itu hanya “hidup setengah hari saja”. Kalau desa-desa lainnya, bangun pada terbitnya matahari kemudian bekerja dan kembali ke rumah untuk beristirahat pada waktu petang selama kira-kira 12 jam, maka desa Setengah Hari ini hanya menikmati “matahari” selama 6 jam saja. Sedangkan malamnya 18 jam.

“Brrrrr dingiiiiinnnnn. Saya akan memulai menceritakan sebuah desa yang bernama “Desa Setengah Hari”. Baruuuuu akan mulai cerita saja, saya sudah menggigil. Desa itu adalah desa yang dingiiiiin. Habis, di desa itu hanya setengah hari saja terangnya. Loh, kenapa kok setengah hari? Ya, di belakang desa itu ada sebuah gunung yang amat tinggi. Pagi hari waktu sang matahari terbit, karena tertutup gunung itu, sinarnya tak terlihat. Setelah tengah hari, akhirnya matahari yang sudah tinggi menampakkan wajahnya dari balik puncak gunung itu. Barulah desa itu menjadi terang…. menjadi pagi. ”

Begitulah baru pada tengah hari, pagi datang dan segala kehidupan di desa itu berjalan. TAPI, pagi itu hanya sebentar karena segera menjadi senja. Dan jika senja hari tiba,  angin bertiup dari danau yang berada di muka Desa Setengah Hari itu menyebar ke seluruh desa dan mebuat desa itu menjadi dingin. Kehidupan terhenti. Apalagi pagi yang ditanam di desa itu, tidak cukup matahari sehingga hasil produksi padi hanyalah setengah dari jumlah produksi padi desa lain. Akibatnya penduduk desa itu semua kurus,pucat dan lemah.

Di desa itu hidup seorang anak bernama Ippei. Pada suatu malam dia mendengarkan percakapan kedua orang tuanya. Yang membicarakan tentang desa mereka yang aneh. Seandainya tidak ada gunung itu… apa daya gunung tak dapat dipindahkan!

Keesokan harinya Ippei naik ke gunung membawa kantung. Mengisi kantungnya dengan bebatuan dari gunung itu, lalu menuruni bukit menuju ke danau. Dibuangnya bebatuan itu ke dalam danau. Setelah beberapa kali melakukan itu, siang pun tiba. Teman-teman Ippei melihat Ippei melakukan sesuatu yang aneh dan bertanya, “Ippei kamu ngapain?”

“Aku mau membenamkan gunung itu dalam danau!”

“GILA!” semua temannya menertawakan Ippei. Namun Ippei tidak peduli dan terus melakukan pekerjaannya. Memindahkan bebatuan gunung ke dalam danau. Setiap hari!

Lama kelamaan teman-teman Ippei melihatnya, menjadi ingin tahu dan ikut-ikutan membawa kantung serta meniru Ippei. Satu-dua orang lama kelamaan seluruh teman Ippei melakukannya karena tidak mau ketinggalan.

Orang dewasa yang melihat kelakuan anak-anaknya berkata, “Goblok, kalau mau mengangkut batu jangan pakai kantung! Pakai karung seperti ini!” Lalu kalau mau menggali, caranya begini. Satu-dua orang dewasa mulai mengajari anak-anak itu. Dan lama kelamaan semua orang dewasa ikut mendaki gunung dan memindahkan bebatuan itu ke dalam danau. Karena jika dia saja tidak ikut, merasa dikucilkan dari kegiatan desa. Dan perasaan matahari timbul lebih cepat dari biasanya!

Bertahun tahun mereka melakukan itu. Orang dewasa meninggal dan  Ippei yang kanak-kanak menjadi dewasa. Namun kegiatan itu tidak terhenti. Anak Ippei dan teman-temannya sebagai ganti bermain, mengusung bebatuan dari atas gunung dan memindahkannya ke danau.

Sampai suatu pagi, ketika ayam berkokok, matahari pun menyinari seluruh desa Setengah Hari. Puncak gunung menjadi datar, dan danau yang ditimbuni batu-batu gunung itu luasnya menjadi setengahnya. Di atas setengah danau itu pun dijadikan sawah. Dan sejak saat itu Desa Setengah Hari berubah nama menjadi desa Sehari.

NOTHING IS IMPOSSIBLE!

“Desa Setengah Hari” Hannichi Mura, (1400 yen) diterbitkan tahun 1980 oleh penerbit Iwasaki Shoten. Pengarangnya Saito Ryusuke (cerita) dan Takidaira Jiro (hangga). Cerita ini langsung masuk dalam buku teks pelajaran di Sekolah Dasar Jepang. Hangga adalah seni cetak dengan memakai cetakan cukilan kayu (seperti cap) . Salah satu jenis seni rupa Jepang yang menggugah kesenian global. Jika Anda pernah mendengar UKIYO-E maka itu adalah salah satu hasil hangga.

Isi cerita diterjemahkan dan dirangkum oleh Imelda.

NB: Saya mendapat buku ini dari mantan murid saya Kuchiki Keiko, yang bercita-cita membuat perpustakaan bahasa Indonesia di Tokyo. Dia banyak menulis puisi dalam bahasa Indonesia, dan sempat belajar bahasa Jawa di UGM, setelah selesai menamatkan BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) UI. Juga pernah membantu mendirikan perpustakaan di salah satu desa di Sumba. Sayang sekali saya sudah lama tidak berjumpa yaitu sejak saya mulai hamil Kai. Terakhir saya mendapat kartu tahun baru yang menuliskan bahwa dia juga sering membaca blog ini. Kuchiki san, apa kabar?

 

Kairo yang bukan di Mesir

23 Jan

kok bisa? hmmm ya bisa aja. Soalnya ini nama sebuah barang, bukan nama sebuah kota yang merupakan ibukotanya Mesir. Dan terus terang memang barang ini PANAS.

Kebetulan kemarin dingin sekali sehingga saya memakainya. Namanya Kairo portable (buang setelah dipakai). Tsukaisute Kairo 使い捨てカイロ. Bentuknya seperti kantong putih/oranye yang dalamnya berisi pasir besi dan campuran kimia yang lain. Begitu kantong ini dibuka dari plastiknya maka sedikit demi sedikit akan naik suhunya. Katanya bahkan bisa sampai 80 derajat. Tapi karena masih dibawah suhu mendidih, masih dianggap aman.

Awalnya pada tahun 1975, Pabrik Asahi Chemical di Kyushu memproduksi pemanas kaki khusus untuk prajurit Amerika. Dengan mengacu pada produk ini Perusahaan Lotte Electric kemudian mengeluarkan kantong pemanas yang diberi nama Hokaron pada tahun 1978. Meskipun baru dibuat akhir-akhir ini ternyata pada jaman baheula, sistem pemanas yang memasukkan kayu api/batu panas ke dalam wadah atau kain untuk pemanas sudah ada.

Ada dua tipe Kairo portable yaitu yang hanya berupa kantong saja, atau yang bisa ditempelkan ke baju, atau sepatu. Jika yang berupa kantong biasanya panasnya tahan 18-20 jam, sedangkan yang ditempel (tidak boleh tempel langsung ke kulit)  bisa tahan 12-14 jam tergantung besar dan produknya.  Buka plastik kairo yang biasa, lalu masukkan ke dalam saku mantel, masukkan tangan ke dalam saku dan …. voila! tangan yang membeku bisa mendapatkan kehangatan kembali. Bagi mereka yang bekerja di luar pada musim dingin, Kairo ini merupakan barang yang HARUS dibawa ke mana-mana. Tempelkan di sepatu, bagian dalam mantel di daerah punggung dan perut, lalu masukkan kantong kairo dalam saku…. Dingin yang menggigit bisa terlupakan sejenak. Tentu saja bagian wajah tetap merasakan dinginnya angin atau salju di musim dingin. Dan saya belum menemukan ada kairo yang bisa menghangatkan wajah.

Barang yang diperlukan dalam musim dingin untuk melawan dingin:

untuk dipakai :

  • baju thermal atas bawah, sedapat mungkin yang menyerap panas
  • stocking denin 80 atau wool bagi wanita atau celana hanoman bagi pria (bahasa jepangnya momohiki)
  • pakaian yang terbuat dari wool atau chasmere
  • jaket yang terbuat dari wool atau down jacket (yang berisi bulu angsa/kapas). Jaket kulit? kalau untuk gaya aja sih boleh, karena jaket kulit tidaklah hangat, kecuali berlapis wool dalamnya.
  • syal terbuat dari wool, topi dan sarung tangan
  • Kairo (kairo ini hanya ada di Jepang, jadi bagus juga buat oleh-oleh untuk teman di negara dingin lainnya)

untuk ruangan :

  • Pemanas atau heater. Ada macam-macam energi yang digunakan. Listrik (yang menyambung pada AC) adalah yang termahal dan tidak efektif menurut saya. Oil heater adalah yang terbersih dan tidak bau tapi cukup mahal karena masih memakai listrik. Gas heater disambungkan pada gas rumah, paling hangat dan tidak bau. Kerosene heater atau pemanas minyak tanah, paling murah tetapi bau dan bahaya sehingga biasanya apartemen bagus tidak mengijinkan penyewa memakai pemanas dari minyak tanah ini. Ada lagi yang juga bagus bila ada yaitu Hot Carpet dan hot blanket, tapi inipun memakai listrik.
  • Menaikkan humidity (kelembaban) ruangan juga membuat ruangan sedikit hangat.  Karena itu biasanya orang Jepang menjerang air di atas pemanas minyak tanah untuk membuat ruangan lembab.
  • Yang paling murah meriah sih sebetulnya adalah kehangatan badan manusia. Jadi……… (isi sendiri ya…. hihihi)