RSS
 

Kapan Kamu Merasa “Tua”?

27 Jan

Hmmm sudah berturut-turut aku menulis postingan yang agak berat, sehingga ingin istirahat sebentar dengan mencari topik yang ringan dulu. Dan aku ketemu sebuah topik yang menarik, soalnya aku juga sudah merasa semakin tua nih. Judulnya, “Kapan kamu merasa (sudah) tua?”. Dari angket/poling  yang didapat, ternyata nomor satu menjawab: “Waktu tidak bisa lagi begadang”… Hmmm memang aku kadang insomnia, tapi memang benar juga tidak bisa kalau tidak tidur sama sekali. Pasti harus tidur barang sejam-dua jam. Hmm berarti memang sudah tua ya (ya iya lah mel…masak mau muda terus).

Nah berturut-turut ranking yang menyatakan “Wah saya sudah tua” di waktu:

  1. Tidak bisa begadang lagi
  2. Dalam sport profesional, yang bercahaya adalah yang lebih muda (huh boro-boro sport profesional, mau lari aja susah hahaha)
  3. Tidak tahu nama artis muda yang sedang naik daun. (Wah ini gue banget… ngga artis Jepang, ngga artis Indonesia… ora mudeng)
  4. Cepat lupa (amin deh)
  5. Lemak yang berkumpul tambah banyak (no comment)
  6. Waktu akan berdiri, memulai pekerjaan mengeluarkan suara “yoisho” supaya bersemangat. (Kalau orang Indonesia bilang apa ya?)
  7. Menemukan keriput di wajah (Oh nooooo, terutama di bagian mata tuh)
  8. Waktu kedinginan jadi beser (wah aku mah ngga dingin juga beser hihihi)
  9. Sakit pegal-pegal otot susah sembuhnya (hihihihi… diem ahhh)
  10. Menjadi jengkel waktu mendengar percakapan anak-anak muda (wah kalau aku emang jarang denger, tapi kalau baca tulisan mereka….ampuuuun deh )
  11. Pilih baju yang paling sederhana a.k.a tidak berani mengikuti fashion.
  12. Mulai menyebutkan “Anak muda sekrang itu….”
  13. Tidak bisa pergi minum-minum alkohol setiap malam lagi … (hmmmm)
  14. Lebam biru susah hilangnya (semakin tua kan lebam biru tambah banyak tuh)
  15. Malas date/pacaran
  16. Kulit tidak mulus lagi
  17. Tidak bisa membuka plastik tanpa membasahi jari lebih dulu
  18. Setelah berolahraga keras, capeknya tidak hilang-hilang
  19. Lebih memilih ikan daripada daging (NAH ini gue banget)
  20. Waktu memilih daging pasti yang tanpa lemak (hihihi kalo ini sih ngga, masih suka yang berlemak tuh..berarti aku masih muda dong!)

Nah, bagaimana dengan teman-teman… merasa tua itu waktu kapan sih? Kalau aku sih bener-bener waktu membaca blog atau tulisan anak muda sekarang…ampyuuun deh ngga ngertiiiiii!!!!
Sumber: Angket yang dilakukan oleh situs GOO

 

….. to the top of the Mountain

26 Jan

tulisan ini merupakan sambungan dari From the bottom of the sea, postingan sebelum ini.

Ya, setelah kami keluar dari Umi Hotaru, kami menuju ke Kisarazu. Sebetulnya tujuan kami awalnya adalah untuk ke DOITSU MURA (Deutsch Village – Perkampungan Jerman), karena kami melihat di website bahwa di situ ada iluminasi, hiasan lampu-lampu sampai dengan tanggal 14 Februari. Hmmm pikirnya biar sekalian makan malam di situ sambil menikmati lampu-lampu yang kelihatannya menarik.

Tapi berhubung waktu itu sudah atau masih jam 2, rasanya sayang membuang waktu (dan uang) di Perkampungan Jerman itu. Biasanya memang Jerman terkenal dengan susis dan birnya kan. Yang pasti Gen tidak bisa minum bir karena menyetir (kecuali aku ganti menyetir dan dia minum… tapi… kan aku juga mau nge-bir hihihi).

So, ganti haluan. Gen tanya apa aku tahu Nokogiri Yama, Gunung Nokogiri. Di situ ada patung Buddha besar. Memang aku belum pernah menuliskan di TE (masih pending terus) tapi aku sudah pernah pergi ke Great Buddha di Kamakura. Jadi ingin juga melakukan “perbandingan” dengan patung Buddha di Kamakura itu. Jadi, kami merubah tujuan di car navigator kami dengan Nokogiri Yama. Lagipula tempat yang kami tuju ini juga dekat dengan pelabuhan ferry, jika kami mau pulang ke Tokyo naik ferry.

Kami sampai di stasiun cable car sekitar pukul 3 lewat. Dan oleh petugasnya disarankan untuk tidak naik cable car, karena cable car selesai beroperasi pukul 4. Mungkin dia melihat kami bersama dua anak kecil, jadi tidak mungkin jalan jauh. Tapi dia bilang bahwa jika kita pergi sedikit lagi, akan sampai di lapangan parkir Kuil Jepang, Nihondera yang gratis. Di situ tutup jam 5, jadi masih cukup waktu. Paling tidak melihat patung Buddhanya (karena ternyata banyak sekali tempat yang bisa dilihat di sini)

Jadi kami menyusuri jalan pantai yang berkelok-kelok dan menyajikan pemandangan sangat indah. Sayang tidak ada tempat berhenti untuk memotret, lagipula tanpa filter rasanya sinarnya terlalu terang. So, kami langsung menuju parkir Nihondera.

Bunga Plum mulai bermekaran di sini, Nihondera

Waktu kami memasuki wilayah Nihondera itu, kami disambut dengan bunga suiren, dan bunga plum berwarna pink yang menyebarkan harumnya ke mana-mana. Well di sini memang lebih hangat daripada tempat lain, sehingga terasa musim semi sudah datang di sini.

Bunga plum menyambut kami

Dan aku mulai deg-degan melihat tangga yang cukup banyak. Aku memang tidak prepare untuk naik tangga apalagi mendaki gunung. Lihat saja pakaianku di postingan sebelumnya, pakai rok lebar dengan sepatu pantofel, dan coat/dawn jacket. Tapi aku pikir coba! berusaha! Setelah menaiki tangga yang SEDIKIT (karena setelahnya berkali-kali lipat jumlahnya), aku boleh tertawa senang melihat pemandangan yang terhampar di depan mataku.

Patung Buddha terbesar di Jepang, setinggi 31 meter

THE GREAT BUDDHA, terpahat di lereng gunung. Memang lebih besar dari patung Buddha di Kamakura yang hanya setinggi 13 meter saja.

Waktu itu tidak ada orang di situ, karena memang sudah sore. Keagungan Sang Buddha yang sedang bersila itu memang menimbulkan aura khusus ke daerah sekitar. Belum lagi di sebelah kiri ada sebuah tempat khusus untuk meletakkan patung permintaan, berwarna putih dan merah.

Patung Jizou yang melambangkan permohonan manusia

Sementara aku masih memotret dan menikmati suasana khas di situ, rupanya Gen mencari informasi lain. Dia sebetulnya ingin melihat sesuatu yang bernama Hyakusyaku Kannonsama, bukan Great  Buddha yang sudah terlihat di depan kami ini. Katanya Kannonsama itu yang terkenal. Dan dari tempat kami berdiri butuh waktu 20 menit mendaki.

MENDAKI? aduuuh… aku paling takut mendaki gunung. Takut! Aku takut ketinggian. Tapi tanpa mendaki aku tidak bisa melihat yang dimaksud Gen. Padahal sudah tinggal 20 menit lagi. Jadi teringat waktu mendaki bukit untuk melihat kawah gunung di Kusatsu. Well, waktu itu juga 20 menit, dan aku bisa (tapi waktu itu pakai sepatu kets, sekarang sepatu pantofel).

Akhirnya aku bilang, ayo kita coba. Karena sebetulnya mau dikatakan mendaki juga medannya tidak seperti orang Indonesia mendaki gunung ala hiking yang jalannya berlumpur dan berumput. Semua jalan mendaki ke atas berupa tangga batu…. yang curam. Jadi masih bisa lah pakai pantofel, asal aku berhati-hati waktu menginjak jangan selip.

YOSH!!! (teriakan semangat dalam bahasa Jepang) Aku mulai mendaki…dan terbata-bata! Takut benar. Karena ada beberapa tempat yang begitu terjal, dan tanpa ada sesuatu yang bisa dipegang. SEANDAINYA ada pegangan, aku pasti bisa lancar. Bukan capeknya tapi takutnya, yang harus aku kalahkan. Dan terus terang tangga ini mungkin ada seribu (hihihi) alias panjaaaaaaaang banget. Rasanya kok tidak sampai-sampai. Tentu saja, karena sebetulnya kami menaiki lereng di sebelah patung Great Buddha tadi, dan lebih tinggi lagi. Aku harus berusaha sendiri, karena Riku jalan sendiri, dan Gen menggendong Kai.

Tapi lama-lama aku mulai ketakutan, sampai akhirnya Gen menurunkan Kai di sebuah tempat istirahat, dan menyuruh Riku menemani Kai, kemudian turun “menjemput” aku. Well, hanya dengan berpegangan tangan saja, aku bisa naik lancar (sambil diteriaki anak-anakku… Mama gambare — ayo mama…)

Dan yang membuat aku merasa HARUS bisa, adalah pemandangan ini:

Duhhh anakku yang satu ini, berani sekali mencoba semua sendiri

Ya, Kai yang sekecil itu tanpa takut-takut manjat tangga sendirian. Dan akhirnya ditemani Riku di sampingnya memang. Tapi si cilik itu sambil mendaki dengan tangan dan kaki berhasil sampai di atas. Well, kalau perlu aku juga pakai tangan deh untuk bisa manjat.

Akhirnya kami bisa sampai di puncak gunung yang bernama Jigoku Nozoki (Tempat Mengintai Neraka). Well seandainya tempatku berpijak adalah surga, dan di bawah adalah neraka, aku bisa bayangkan ngerinya jika jatuh hihihi. Bahkan Gen saja mewanti-wanti Riku dan Kai jangan dekat-dekat pagar pembatas.

Jigoku Nozoku, Tempat Mengintai Neraka, puncak dari gunung Nokogiri

Ternyata kami berada di atas Kannonsama yang akan kami tuju. Jadi kami harus menuruni tangga lagi menuju tempat Kannonsama. Dan memang yang menyebalkan tadi wkatu kami naik sempat mendengar seorang bapak yang berkata, “Kenapa naik tangga yang ini. Ini 30 menit dan curam, kalau tangga yang satunya cuma 10 menit dan landai”. Huh, masak musti kembali lagi untuk mencari tangga yang landai? Untung dia berkata, “Gambare, sebentar lagi sampai kok”.

Akhirnya kami sampai ke tempat Hyakushaku Kannonsama. Waaaaahhhhhh hilang rasanya segala capek dan takut yang tadi ada. INDAH! Aku bisa mengerti mengapa orang sedunia marah-marah waktu peninggal Buddha of Bamyan di Afghanistan dirusak Taliban. Ini yang mungkin tidak ada seperberapa keindahan warisan dunia Unesco saja bisa membuat merinding. Apalagi Bamyan.

Hyakushaku Kannondama, berada di celah gunung yang lembab dan dingin, menimbulkan kesan mistis

Sebuah patung Kannon dipahat di lereng yang puncaknya adalah tempat Mengintip Neraka tadi. Besar sekali, sesuai namanya setinggi hyakushaku. 1 shaku = 0.33 meter jadi 100×0.33 = 33 meter. Bahasa Inggrisnya Kannon adalah Kwanyin. Dan karena terletak di celah bukit, kesannya memang lebih dingin dan lembab. Memang masih baru usianya, baru 44 tahun, belum terlalu lama kan? Tapi tetap saja suasananya membuat ingin berlama-lama di situ, tapi karena pelataran parkir dan kompleks kuil Nihondera akan ditutup jam 5, kami harus bergegas pulang. Tentu saja setelah berfoto di situ. (Dan batere Canon G9 kami dut di situ, untung ada kamera HP, dan kamera lama cadangan Canon G6).

(Foto kanan di atas adalah Tempat Mengintip Neraka sedangkan patung Kannonsama di sebelah kanan bawah)

Perjalanan pulang lebih cepat (tentu saja) tapi hal ini lebih disebabkan karena banyak pegangan yang bisa aku pakai selama menurun. Karena biasanya tangga turun sebetulnya lebih menakutkan daripada tangga naik. Dan waktu menuruni lembah itu lutut kita akan menahan berat badan, sehingga sampai pada suatu waktu dimana lutut kita akan bergetar. Nah, di sini ada pepatah yang mengatakan “Hisa ga warau” (Lututnya tertawa… ya bergetar/gemetaran mirip dengan tertawa kan). Jadi waktu tiba-tiba Riku mengatakan “Hisa ga warau”, kami benar-benar tertawa karena memang begitulah keadaan kami.

Kami sampai di pelataran parkir lewat dari jam lima dan tinggal tiga mobil yang berada di situ. Kami menuju jalan pulang dan mampir di tempat pemberangkatan ferry di Kanaya. Di sini kami menangkap matahari senja perlahan tenggelam di kejauhan, dan Nokogiri yama yang telah kami tinggalkan di sebelah kiri kami.

Pikir-pikir ternyata naik ferry jauuuh lebih mahal daripada naik jalan tol lewat AquaLine. Bedanya ada 5000 yen, sehingga akhirnya kami memutuskan untuk pulang melalui jalan yang sama, dan naik ferrynya lain kali saja. Untung saja, karena pemandangan di Umi hotaru pada malam hari juga indah.

menikmati senja di pantai penyeberangan ferry, dengan laut di muka, dan gunung Nokogiri di samping kiri

Well, kami sampai di rumah pukul 8 malam dengan kaki sakit, tapi puas bisa berjalan-jalan satu hari. Benar-benar perjalanan kami hari ini (Sabtu, 23 Januari 2010) bisa diberi judul  From the bottom of the sea, to the top of the Mountain.

 

From the bottom of the sea….

25 Jan

Ini merupakan bagian pertama dari perjalanan de miyashita hari Sabtu tanggal 23 Januari lalu.

Bagaimana rasanya jika kamu tahu kamu berada di dalam laut? Seperti berada di dalam kapal selam? Wuih aku membayangkannya saja sudah ngeri!! Terus terang aku memang punya penyakit panic syndrome plus phobia tidak bisa berada dalam ruangan tertutup, kecil dan tidak ada jendela yang menghubungkan aku dengan langit. Untuk lift aku masih bisa, karena bergerak cepat, tapi untuk kereta subway, memang aku belum bisa mencobanya lagi sejak aku mengidap penyakit ini 10 tahun yang lalu.

Nah, hari Sabtu kemarin, aku mau tidak mau harus menjalani kesempatan untuk berada di dalam laut, tepatnya di bawah dasar laut, dalam ruang berupa terowongan tertutup, tapi dalam mobil. Karena kebetulan Gen libur hari Sabtu dan Minggu, libur berturut-turut dua hari, merupakan kemewahan bagi Gen dan kami. Apalagi waktu kami memulai hari pukul 8 pagi Sabtu itu, hari benar-benar cerah, dan kami putuskan untuk menikmati kecerahan hari di LUAR, di UDARA TERBUKA.

Jadi kami memutuskan untuk pergi ke laut, dan karena kami jarang pergi ke daerah Chiba, maka kami tentukan untuk ke prefektur yang terletak bersebelahan dengan Tokyo. Tokyo bersebelahan dengan Yokohama dan Chiba, tapi sebetulnya bisa dikatakan untuk ke Yokohama tidak dihalangi oleh teluk Tokyo seperti kalau ingin ke Chiba. Nah, keadaan geografis yang seperti inilah yang membuat seakan Tokyo dan Chiba itu jauh.

Peta teluk Tokyo, kami melintasi Aqua Line yang bergaris merah dari kiri ke kanan

Nah, di situ aku menyarankan untuk pergi melalui jalan pintas yaitu AQUALINE, perpaduan terowongan bawah laut dan jembatan yang menghubungkan dua prefektur (Kanagawa dan Chiba) di Jepang ini. Aku sudah pernah 2 kali melewati Aqua Line, meskipun sambil deg-degan, bersama rombongan orang-orang Indonesia dengan naik bus. Selama bukan aku yang nyetir, memang tidak apa-apa. Dan tentu saja kami lupa berada di mana karena tidak henti bercakap-cakap.

Dahulu waktu jalur ini baru dibuka, aku ingat sekali biayanya mahal, yaitu sekitar 7000 yen. Karena banyak yang protes, dan mungkin campur tangan politik, maka sekarang biaya tolnya hanya 4000-an. Tapi…. ternyata setelah ada kebijakan pemerintah agar masyarakat menggunakan uangnya demi perputaran ekonomi, dan menyamaratakan semua biaya tol kemana saja menjadi 1000, plus pemakaian ETC maka kami bisa melintasi Aqua Line itu dengan hanya membayar 800 yen saja.

Jalur bernama Tokyo Wan Aqua-Line Expressway jika menurut penamaan lama adalah Jalan Negara No 409. Diresmikan pada tanggal 18 Desember 1997, sepanjang 15, 1 km, dimulai dari Kawasaki sampai Kisarazu. Jika berangkat dari sisi Kawasaki, 9,6 km pertama berbentuk tunnel bawah laut, kemudian kita akan sampai di Parking Area (PA) berupa pulau buatan bernama UMI HOTARU (arti harafiahnya: kunang-kunang laut). Dari PA ini kemudian AquaLine ini disambung dengan 4,4 km jembatan yang diberi nama Aqua Bridge menuju Kisarazu di Chiba. Akan tetapi persis kira-kira di pertengahan Aqua Tunnel terdapat sebuah pulau buatan yang diberi nama Pulau Buatan Kawasaki / Menara Angin. Menara ini sengaja dibuat untuk mengatur sirkulasi udara di dalam tunnel yang panjangnya hampir 10 km itu.

Begitu masuk pintu Kawasaki, kami memasuki tunnel yang diterangi lampu. Di sini ada peraturan untuk tidak membawa barang berbahaya dan tidak saling mendahului. Waktu aku sedang sibuk memotret dalam tunnel, tiba-tiba HPku berbunyi! Ada telepon! Cukup kaget, ternyata masuk juga sampai di dasar lautan tuh. Kabarnya terowongan ini berada di kedalaman 56 m di bawah dasar laut yang terdalam.

Dalam Aqua Tunnel, di kedalaman 56 m dari dasar laut, sepanjang 10 km

Sambil berbicara dengan temanku itu, sempat dia mengatakan, “Semoga jangan sampai pecah ya tunnelnya”. Hmmm sesaat aku sempat berpikir juga, kalau tiba-tiba gempa bagaimana ya? Tapi langsung aku tepiskan bayangan macam-macam, sambil berpikir…. yah kalaupun mati, matinya berempat sekaligus. hehehe (hush bukan lelucon ah mel…)

Hampir 10 km lewat dalam waktu kurang dari 10 menit. Kami sampai di Umi Hotaru, Parking Area yang dibangun di pulau buatan. Kabarnya PA ini bisa menampung 90 an bus, dan 400 mobil biasa. Sebelum masuk tunnel, katanya sih parkir penuh, tapi waktu kami sampai di sana, masih cukup banyak kok tempat kosong. Namun karena takut tidak kebagian tempat, kami terpaksa parkir di tempat yang agak jauh dari pusat perbelanjaan/istirahatnya.

Di sebelah kanan ada kelihatan bangunan putih. Itulah Menara Angin yang berada persis di tengah-tengah Aqua Tunnel

Umi hotaru terdiri dari 4 tingkat, dengan toko-toko dan game center dan tentu saja ada deck utama dengan pemandangan ke arah Tokyo. Kami bisa melihat tempat kamu masuk di kejauhan dan tepat di tengah-tengahnya adalah Menara Angin. Waktu itu persis ada pesawat yang akan mendarat di pelabuhan Haneda, yang terletak di sebelah kanan kami. Well, pemandangan waktu malam hari juga menawan (pulangnya kami juga melewati tempat ini lagi).

Tadi kami tuh berada di bawah laut itu loh hiiiiii

Berhubung sudah waktu makan siang, akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di Food Court di Umi Hotaru ini, makan di atas Teluk Tokyo. Kalau aku sih pilih nasi tempura, tapi Gen memilih nasi dengan topping kerang asari (dan ternyata tidak enak hihihi).  Setelah memesan kami mendapat sebuah pager panggilan jika makanan kami sudah selesai. Jadi ingat postingan Pak Oemar Bakrie yang ini. Cuma memang bentuknya lain, yang di Jepang persegi panjang.

Akhirnya setelah makan kami keluar dari bangunan utama berbentuk kapal, dan kembali ke parkiran, kami menemukan museum kecil atau pusat data teknis mengenai pembangunan Aqua Tunnel ini. Sayang sekali tidak ada pamflet yang disediakan. Padahal kalau ada pamflet ingin saya kirimkan pada Mbak Tuti Nonka. Seharian itu pikiran saya melayang ke Mbak Tuti Nonka, ingin mengajak main ke Aqua Line ini. Soalnya Mbak Tuti kan memang hobbynya mengunjungi jembatan ya Mbak hehehe. (Mbak, kegigit ngga mbak, hari Sabtu lalu hehehe).

Shield dari Aqua Tunnel. Banyak panel-panel di museum kecil ini mengenai pembuatan terowongan bawah laut Aqua Tunnel.

Gen dan anak-anak senang sekali bisa melihat pemandangan laut dan sekaligus melintasi terowongan bawah laut pertama kali.
“Kok mama  sudah pernah ke sini sih? Kenapa papa belum pernah?” tanya Riku.
Jawab Gen, “Mama kan jalan-jalan terus, jadi sudah kemana-mana di Jepang, Papa belajar terus sih…”
hahaha…. tapi memang aku akui bahwa selama aku menjadi mahasiswa di Jepang, aku sudah pergi ke tempat-tempat yang sedangkan orang Jepang saja belum pernah pergi. Jadi? Kapan belajarnya dong? hihihihi….

Riku di depan pusat data teknis Aqua Line bernama Umi Megane

(Filsafatnya begini… kalau kamu merasa tidak akan kembali lagi ke suatu tempat, maka semua tempat akan dijelajahi, tapi jika kamu toh akan tinggal di situ, halaman rumahpun belum tentu dijelajahi…..)

bersambung ke     …. to the top of the Mountain

 

Dunia Kecil

24 Jan

what a small world…. adalah suatu frase yang akhir-akhir ini sering saya gunakan, yang disadari keberadaannya dan dikomentari oleh Daniel Mahendra dalam tulisan sebelum ini. Dunia itu kecil!

Ya, ya, ya aku tahu memang berkat internet maka dunia itu seakan tidak ada batas-batasnya lagi. Batas teritori, batas waktu, batas -batas yang dibuat manusia. Tapi bukan soal pengetahuan umum ini yang ingin kubahas kali ini.  Bukan pula blog bertajuk “Dunia Kecil” yang dikelola Indira, seorang Master yang Mrs dan baru berulang tahun tanggal 22 Januari lalu. Tapi aku ingin bercerita sedikit pada peranan Twilight Express a.k.a. TE , alias blogku dalam pertemuan-pertemuan yang boleh dikatakan aneh atau ajaib.

Masih ingat Wita, pelopor blogger yang kopdaran dengan aku di Tokyo? Ternyata waktu dia muncul di apartemenku itu melalui perjalanan yang tidak mudah. Dia baru tulis di blognya pengalaman mencari apartemenku di Tokyo, dengan judul: “Road to Nerima”.  Semenjak dia berkunjung ke blog TE memang akhirnya kami menjadi akrab.  Dan pada saat yang hampir bersamaan TE kedatangan seorang tamu reguler yang agak ROM namanya mirip yaitu Whita Kutsuki. Kata Gen ROM adalah kategori pembaca tanpa komentar, atau sesekali saja berkomentar. Singkatan dari Read Only Member (dan ada beberapa yang mengaku padaku bahwa dirinya adalah silent reader TE). Dengan Whita yang ROM ini, aku bisa bertemu di KBRI Tokyo, karena kebetulan dia mau perpanjang paspornya (dan aku mengambil paspor adikku). Ceritanya ada di sini.

Siapa nyana, sambil ngobrol-ngobrol begitu, aku menangkap satu benang merah yang akhirnya membuat Wita dan Whita ini bertemu (paling sedikit bercakap-cakap di FB). Ternyata sodara-sodara, kedua wita ini berasal dari jurusan yang sama di Universitas Moestopo (yang letaknya dekat rumahku juga).

Kebetulan yang seperti ini ternyata terulang lagi, belum lama ini, 4 hari yang lalu. Ketika Ria bercerita mengenai perjalanan karir dia di chat. Sejak kuliah sampai dia bekerja di indo.com. Nah waktu aku mendengar nama perusahaannya indo.com aku jadi teringat bahwa aku pernah memesan tiket jakarta-jogja melalui wita/alma yang kala itu bekerja di indo.com. Aku juga pernah memesan hotel di Bandung melalui indo.com juga. Ternyata Ria adalah “sempai” dari wita di kantor indo.com, yang telah keluar kerja dari situ waktu wita masuk.

Tentu saja akhirnya Ria dan Wita berteman dan mereka bisa bercakap-cakap menceritakan nostalgia di kantor lama mereka berdua. Bertemunya di TE, meskipun memang jika aku tidak akrab dengan mereka, mungkin selamanya tidak akan timbul “benang merah” itu.

Pertemuan antar teman sekampus, teman sekantor, atau bahkan hubungan yang agak jauh seperti  aku dan mas trainer yang merupakan kakak dari senior di SMA (yang sama-sama merupakan anggota Science Club dan Sanggar Fotografi) dapat terjadi karena membaca blog dan berinteraksi.

Bahkan berkat TE juga aku bisa menemukan nenek moyang dari keluargaku Coutrier yang ternyata berasal dari daerah Polombangkeng/Galesong di Makassar. Dan ternyata Jumria Rachman a.k.a Ria adalah saudara sedarah jika ditelusuri sampai ke 4-5 generasi di atas kami.  Mungkin karena darah kami sama itu ya, yang menyebabkan kami akrab. Lucunya, kalau aku yang sedang misuh-misuh, Ria yang menghibur dan menasehati. Tapi ada kalanya juga gantian, Ria yang misuh-misuh dan aku sambil tertawa meredam kekesalan dia.

Tapi bukan hanya unsur “darah” dan “gembil” nya saja deh yang menyebabkan kami akrab. Ditambah dengan beda 9 hari deh ulang tahun di antara kami. Ya Ria baru saja berulang-tahun  tanggal 23 Januari kemarin. Kadang aku berkata padanya, “Kamu mustinya lahir lebih cepat 1-2 hari supaya masuk horoskop Capricorn, karena kamu lebih banyak sifat Capricornnya daripada Aquarius” hehehe. So, selamat ulang tahun saudaraku tersayang, Jumria Rachman. Nanti aku cari waktu untuk kita berdua menjelajah tanah Galesong bersama dan menelusuri sejarah nenek moyang kita ya. Maaf terlambat menuliskan di TE, tapi sudah lewat fesbuk dan sms kan ya… Aku senang sekali menemukan Ria sebagai sahabat dan saudara di blogsphere.

(Dua orang bersaudara jauuuh, mirip ngga? dimirip-miripin deh ya. Umur sih beda jauh lahhhh hihihi. Bayangkan Ria di Duri, aku di Tokyo ketemunya di dunia maya….)

Well, aku masih menunggu kejadian-kejadian pertemuan antar pembaca TE yang aneh bin ajaib, sehingga bisa merasakan kehebatan internet dalam silaturahmi antar manusia. Yang sudah saling bertemu sendiri lapor-lapor ya!!! (weleh aku kok seperti mak comblang aja yah? hihihi)

Dan sebentar lagi TE di domain ini akan menyambut ulang tahun ke dua pada tanggal 1 Maret nanti. Kalau lihat di samping kiri tertera bahwa sudah ada 696 tulisan di TE (padahal semestinya bisa lebih banyak lagi, tapi terkadang rasa malas dan kurang waktu menyerang), dengan 10.958 komentar. Aku ingin menyambut komentator ke 11.111 sebagai peringatan yang terakhir (soalnya 22.222 masih akan lamaaaaaaa sekali), sambil aku juga akan melanjutkan menuliskan perjalanan hidup, dari dini hari ke senja hari, from dawn to dusk, sambil menaiki “kereta” Twilight Express. Aku tidak tahu seberapa pentingnya TE  bagi pembaca, tapi TE penting bagiku sebagai kenangan perjalanan hidup seorang Imelda.

 

Kopi Luwak dari Sahabat Lama

21 Jan

Semenjak saya mulai tinggal di Jepang 17 tahun yang lalu, boleh dikatakan hidupku jauh dari “suasana” Indonesia. Terutama di tahun-tahun awal. Memang sengaja juga dengan maksud untuk mengasah kemampuan bahasa Jepang dan mengurangi homesick. Aku biasakan makan tanpa sambal, karena banyak orang Indonesia yang membawa sambal kemana-mana dan menambahkannya di segala jenis masakan. Melebur dalam kebiasaan dan kebudayaan setempat adalah cara yang paling ampuh untuk mengurangi homesick. Itu menurutku. (Dan itu juga yang menyebabkan aku tidak pindah ke asrama internasional… keukeuh ngekost di rumah orang Jepang)

Tahun 1996, lulus program master, mulai bekerja di radio, membuatku harus menghubungi Indonesia atau orang Indonesia untuk mengetahui kejadian yang berlangsung di Indonesia. Di awal-awal ada Richard Susilo, ex reporter Media Indonesia (beliau juga yang menawarkan aku bekerja di InterFM 76.1 Mhz) , yang memasokku dengan berita Indonesia. Lama-lama aku mulai belajar internet dan mencari sendiri langsung dari sumbernya.

Baru 2-3 tahun terakhir aku menghubungi teman-teman ex SD, SMP dan SMA lewat beberapa “pentolan”, tapi memang kuakui bahwa FaceBook yang mewabah itu mempermudah pencarian teman-teman lama. Dulu yang mudah terkumpul adalah teman dari jenjang SMA dan Universitas, karena masih “baru”, tapi sekarang bahkan aku sudah menemukan banyak teman SD (dan TK karena kebetulan dekat hihihi).

Nah, jadi waktu temanku waktu SD dan SMP bernama Vivian menghubungiku lewat FB akan ke Tokyo, senangnya aku. Tapi …. ada waktu untuk ketemu ngga ya? Jadi aku pakai taktik seperti waktu aku ketemuan dengan Mas Nug dan Mbak Cindy, yaitu menemui di hotelnya pada hari kedatangan sekitar jam 12-an, supaya bisa cepat pulang juga dan berada di rumah waktu Riku pulang sekolah.

Vivian menghubungiku di FB dan bertanya mau dibawakan apa. Langsung aku bilang, “Aku akan senang sekali kalau kamu bawakan aku kopi luwak atau sekoteng” hihihi. Ya aku kan ngga bisa minta dibawain cabe keriting. Soalnya dia itu bekerja dengan designer Stephanus Hamy, yang akan mengadakan fashion show di Tokyo. Masak bawa cabe keriting di sela-sela baju keren-kerennya hihihi.

Salah satu karya Stephanus Hamy

Jadilah kemarin aku pergi ke Ritz Carlton Midtown Tokyo, tempat mereka menginap dan malam tgl 20 mengadakan fashion show… Ini juga pertama kali aku pergi ke hotel itu yang terletak di Roppongi, daerah elit tempat gaijin, foreigner berlalu-lalang, dan so pasti muahalllll.

Begitu Vivian mengabarkan lewat email bahwa dia sudah naik bus dari Narita, itu juga pertanda aku harus berangkat dari rumah. Perjalanannya kira-kira sama deh. Karena aku masih harus naik bus, kereta dan bus lagi.  Tepat pukul 12:15 aku sampai di lantai lobby hotel Ritz Carlton, yaitu lantai 45 (duh lobby aja kok tinggi banget sih hihihi). Ternyata mereka sudah cek in, dan aku dihubungkan dengan in house phone. Disuruh langsung ke kamar boss Hamy deh.

Well untung aku ngga kampungan banget, jadi masih bisa behave liat kamar segede itu. Ya jelas aja tarif semalam di situ kan juga ngga main-main. Yang aku suka kamar mandinya. Aku pasti harus melihat kamar mandi hotel-hotel berbintang begitu dan memotretnya…. Soalnya kamar mandi yang keren sulit deh dimiliki di Jepang dan di Indonesia!

Duh ini cerita kok jadi ngalor ngidul gini ya… hihihi. Yang pasti karena waktuku tidak banyak, aku cuma sempat ajak Vivi jalan-jalan ke bawah, tadinya mau ngopi, tapi kita lebih sibuk berfoto-foto ria. Hmmm blogger ngga blogger kayaknya semua suka berfoto deh. Dan yang menyenangkan “The Hotelman” menawarkan memotret kami di depan pintu masuk khusus hotel yang elegan itu. Sayangnya aku tidak ada keberanian untuk meminta dia memotret kami di depan mobil khusus mereka, BENTLEY! (Sorry ya Vi… hihihi) (Masalahnya aku juga ribet ngomong sama The Hotelman nya pakai bahasa Inggris… kalau pakai bahasa Jepang lebih mudah kali ya hihihih)

Alhasil kita ngider-ngider di Galeria sampai Ritz, sampai sekitar jam 1:30 lalu aku antar kembali Vivi ke kamarnya Boss. Itu juga pakai acara “nyasar” akibat lingkungan hotel yang begitu besar, dan liftnya berbeda dari lantai satu ke lobby, dan lobby ke guests roomnya.

Memang cuma 2 jam kami, aku dan Vivi bertemu, setelah kurang lebih 30 tahun tak bertemu, tapi itu hanya merupakan awal saja a.k.a pembuka, karena saya yakin masih akan banyak pertemuan reuni yang lain, baik di Tokyo maupun di Jakarta. Karena sesungguhnya aku sudah kenal dengan desainer Stephanus Hamy ini 5-6 tahun yang lalu waktu mengadakan fashion show di kediaman Dubes Indonesia untuk Jepang.  Siapa nyana, temanku bekerja untuk Mas Hamy ini….. what a small world!

pola wallpaper di kamar Ritz, kelihatan seperti keramik

Jam 2:00 aku berlari pulang, terpaksa naik taxi menuju stasiun Shibuya, supaya bisa sampai di rumah jam 3. Karena menurut jadwal Riku pulang jam 3 siang. Ehhh ternyata sekitar jam 2:20 pas aku naik kereta di Shibuya, ada telepon dari kepolisian … nomor belakangnya 110 lagi, wah ini pos polisi dekat rumahku. Pasti dari Riku lagi. Entah kenapa rupanya dia pulang cepat, lalu karena tidak ada aku di rumah, dia ke pos polisi untuk pinjam telepon. Aku bujuk dia untuk pulang ke rumah dan menonton TV, karena aku akan butuh waktu 30 menit lagi. Dan begitu aku turun kereta di Kichijoji, yang semestinya aku naik bus, aku ambil taxi, dengan maksud supaya aku bisa bicara dengan Riku terus di telepon, seandainya dia takut. Duh sempat sport jantung juga, tapi untuk waktu aku telepon, dia sudah enjoy menonton TV di rumah dan berpesan, “Mama cepet pulang, dan bawakan hadiah”… Aku jawab, “Kalau mama bawa hadiah, pulangnya lebih lama lagi… jadi ngga usah ya..”

kopi luwak dan sekoteng dari sahabat lama

Dan aku menuliskan kejadian kemarin sambil menghirup kopi luwak yang terkenal itu. Yang lucunya banyak orang Indonesia tidak tahu, apa itu kopi luwak. Padahal kopi luwak adalah kopi yang termahal di dunia, you know!  Kabarnya di Amerika 1 kgnya seharga $660, dan di Jepang 100 gramnya seharga 8000 yen (800.000 rupiah!) . Sementara pecinta kopi di luar negeri menahan air liur untuk bisa merasakan kopi luwak, sahabatku si Ria, terang-terangan OGAH minum kopi luwak hihihi. Ngga tega katanya. Memang sih kopi luwak itu melalui proses yang tidak biasa. Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) akan memakan biji kopi pilihan, dan melalui asam lambung luwak, biji kopi diproses dan dikeluarkan dalam bentuk biji utuh. Nah memang melihat biji utuh yang baru keluar dari Luwak  ini agak gimana gitu, tapi biji ini kan dicuci, dan dikeringkan dan digiling lagi. Aku sih seandainya disuruh kumpulin sendiri juga mau, bahkan jika disuruh minum kopi disamping si Luwak ok juga hahaha. Dasar Imelda pemakan (peminum) segala…

(gambar dari wikipedia. Aku menuliskan proses kopi luwak, karena kemarin seorang chatter bertanya padaku apa yang menyebabkan dinamakan kopi luwak. Katanya dia tidak belajar tentang Kopi Luwak di SD…. karena aku ingat sekali aku belajar tentang kopi Luwak di SD. Hmmm murid SD sekarang belajar apa ya?)