Kepada Ibuku tersayang….
Terima kasih atas segala kasih sayang yang kau berikan pada kami, anak-anakmu. Aku bersyukur mempunyai ibu seperti engkau. Dan bersyukur atas kehadiranmu dalam hari-hariku sampai aku dewasa, dan aku sendiri menjadi seorang ibu. Di saat-saat aku mengasuh anak, aku ingat bahwa mama tidak pernah merasakan kasih sayang dan kehadiran seorang ibu, karena oma meninggal waktu mama umur 3 tahun. Di saat aku susah dalam menghadapi anak-anak, aku teringat mama dan juga teringat bahwa dia harus mengasuh 4 anak sendirian. Tanpa ada dukungan dari seorang ibu. Dan itu besar sekali bedanya. Terima kasih Tuhan atas anugerah tak ternilai ini.
Tokyo, 12 Mei 2008

Mama menggendong aku di Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Ada sepuluh hal utama yang sebaiknya diingat-ingat sehingga jika terjadi gempa dapat dipraktekkan. Hal ini perlu untuk mereka yang tinggal di tempat rawan gempa.
Pertama: Lindungi diri sendiri dan keluarga Anda. Biasanya gempa besar terjadi sekitar 1 menit saja. Berlindunglah di bawah meja yang kuat untuk melindungi kepala dari barang-barang yang jatuh. Alangkah baiknya menyediakan helmet di tempat yang mudah dijangkau. Jika sedang tidur, tutup kepala dengan bantal.
Mother, how are you today?
Here is a note from your daughter.
With me everything is ok.
Mother, how are you today?
Mother, don’t worry, I’m fine.
Promise to see you this summer.
This time there will be no delay.
Mother, how are you today?
Yup…I’ll be home this summer… Maaf tidak bisa pulang besok, di hari Ulang Tahunmu. Sebelum kasih ucapan selamat ulang tahun aku mau bilang terima kasih untuk segalanya selama 40 tahun!! Happy Mothers Day. Biasanya di Jepang anak-anak mengirimkan bunga carnation untuk ibunya, tapi aku tahu mama lebih suka garbera, so aku kirim gambar garbera saja ya….

Dari anakku Riku aku dapat sebuah gantungan handphone yang dibuat bersama di TK nya. Warnanya bagus!! Torqouise… mama akan pakai di HP mama ya sayang…

Siang kita telepon ibu mertua, untuk kasih selamat. Sebelumnya riku kirim fax gambar dia. Sekitar jam 3 riku dan papanya pergi berdua, dan pulang-pulang Riku menyodorkan bunga mawar Kuning, sambil berkata : Mama itsumo arigatou…. Pantes tadi pagi gen tanya kalau mama jakarta suka garbera kamu suka apa? Dan aku jawab mawar kuning…. Katanya sih mawar kuning artinya cemburu….hehehhe

Selain beli bunga rupanya riku juga beli jigzaw puzzle Kamen Rider Kiba. Kalau dulu puzzlenya 40 pieces, sekarang 70 pieces. Tapi itupun selesai dalam 1,5 jam…. Wah nanti mau jalan-jalan ke Yuzawaya deh cari puzzle lagi, sekaligus puzzle untuk oleh-oleh bawa ke Jakarta. Biar Riku bantu omanya selesaikan puzzlenya.

Teman Bicara:Ayah?Ibu?
Author: imelda // Category: Berita Koran 新聞記事, Buku * Books *本, LIVING in Japan, UncategorizedWaktu browsing berita Jepang di net, ketemu hasil survey ini. Siapa teman bicara dalam keluarga? Jawabannya Ibu 73%, Ayah 5%. Ini menunjukkan komunikasi dalam keluarga yang menunjukkan besarnya keberadaan Ibu sebagai teman bicara dibandingkan Ayah. Survey ini diadakan oleh yayasan Blue Sea and Green Land, yayasan pengembangan remaja dalam sebuah Perjalanan Cruise 6 hari dan dijawab oleh 481 siswa dari kelas 4 SD sampai 3 SMP.
Ini adalah terjemahan langsung dari bahasa Jepang Daikon Ashi. Daikon = lobak. JANGAN …sekali lagi JANGAN membayangkan lobak di Indonesia. Lobak di Indonesia kurus kering, seperti wortel. Lobak di Jepang bESAAAAARRRR… maksudnya besar sih. diameternya aja lebih dari 5 cm, 10 cm itu normal. Karena besarnya (dan putihnya mungkin), sebutan kaki lobak diberikan kepada gadis yang betisnya besar. Betisnya besar juga gara-gara banyak jalan sih… bukan seperti saya yang banyak makan hahaha.
Makan es krim yuuk!
Author: imelda // Category: Catatan Harian * Diary * 日記, LIVING in Japan, Makanan/Minuman 飲食 Food& BevHari ini wajib makan es krim deh. Apa pasal? Hari ini telah ditentukan sebagai hari es krim di Jepang oleh Asosiasi Es Krim Tokyo sejak 9 Mei 1964. Tapi itu berdasarkan bahwa pada tanggal tersebut telah diselenggarakan suatu Festival Es Krim. Bukan berdasarkan bahwa tanggal tersebut Es Krim pertama kali dibuat/dijual di Jepang. Karena Es Krim pertama kali dibuat di Jepang pada bulan Juli 1869 oleh orang bernama Machida yang membuka toko di Bashamichi, Yokohama.
Hari ini tanggal 8 Mei merupakan hari Palang Merah Dunia, dan hari Pare. Pare? Paria? Iya yang biasa kita temukan di dalam pilihan siomay Bandung. Yang pahit itu loh. Masakan Pare di Indonesia apa saja selain siomay ya? Kalau keluarga dari pihak papa yang dari makassar sering membuatkan kami Paria Kambu. Pare diisi cincangan ikan dan kelapa lalu dimasak dengan santan. Karena rasanya tidak terlalu pahit, saya suka makan Paria Kambu ini. Tapi kalau hanya direbus begitu saja lalu dimasukkan dalam gado-gado misalnya, saya kurang suka.
Nah di Jepang, tepatnya di Okinawa, bagian selatan Jepang terkenal dengan masakan Pare yang diberi nama Goya Campur. Bahannya Pare, tahu, telur, daging babi… (saya rasa bisa diganti daging sapi) kemudian ditumis. Enak juga perpaduan pare dan tahu/telurnya. Kadang saya masukkan jamur shimeji, masukkan juga paprika, tambah cabe, dan pakai bawang putih….mungkin rasanya sudah berubah dari aslinya, tapi yang pasti dengan cara begini, saya bisa makan pare yang pahit itu. Oh ya, ada lagi satu rahasia supaya Pare tidak pahit, yaitu dengan meremas pare yang sudah dipotong dengan garam, kemudian biarkan dulu sebentar. Ditanggung Parenya tidak pahit lagi. Tanggal 8 Mei ini dijadikan Hari Goya (Hari Pare) sejak tahun 1997 oleh JA (Japan Agriculture) dan pemda Okinawa, sebetulnya lebih karena 5-8 dibaca go-ya, daripada kenyataan bahwa bulan Mei produksi Pare di Okinawa meningkat.
Menjelang musim panas memang Pare mudah didapat di Jepang. Di beberapa toko sayur bahkan banyak dijumpai kangkung. Tumis kangkung di musim panas, cukup bisa mengobati kerinduan akan tanah air.

(Masakan menggunakan Pare, Goya Campur dari Okinawa)
Tadi pagi sekitar pukul 2 pagi, tiba-tiba gen lompat dari tempat tidur dan ke tempat Kai yang berada di kasur bawah, untuk melindungi badan Kai. Aku masih kaget, dan tidak lama aku tahu bahwa ada gempa. Aku langsung peluk Riku yang tidur sebelahku. Gempa kali ini lumayan lama dan terasa. Setelah gempa reda, aku keluar buat susu untuk Kai yang terbangun dan menyalakan TV. Ternyata ada gempa di daerah Tochigi dengan kekuatan Shindo 5. Di Tokyo yang tadi terasa hanya Shindo 3. Tapi lumayan menakutkan. Mungkin karena apartemen kita di lantai 4. Semakin tinggi bangunan memang semakin terasa. Mudah-mudahan tidak terjadi gempa besar di Tokyo deh…. Jadi teringat temen di Meguro Pak Doktor Nanang Puspito (kemana ya pak Nanang ini) yang bilang akan terjadi gempa besar Tokyo tahun 1996 (waktu bilang memang belum 1996). (Setelah cari di Mas Google ternyata pak Dr Nanang masih berkarya di ITB. )
Di Jepang memang menggunakan kata SHINDO untuk menunjukkan kekuatan gempa. Ditunjukkan dnegan skala 0-7 dan biasanya angkanya lebih kecil daripada skala Richter. Jadi kalau shindo 5, biasanya di surat kabar luar negeri menjadi 6,5 skala Richter. Saya cantumkan disini terjemahan saya mengenai kekuatan gempa SHINDO ini dari panduan gempa di Jepang.
Shindo itu menunjukkan skala besarnya intensitas seismic. Sebenarnya Seperti apa kondisi dan apa yang kita rasakan menurut skala intesitas tersebut? Pada skala 3 biasanya kebanyakan orang dapat merasakan, dan beberapa orang akan merasa ketakutan. Kondisi dalam ruangan misalnya piring2 dalam lemari akan bergetar, sedangkan di luar, kabel listrik bergoyang sedikit.
Pada skala 4 orang merasa takut sedikit, ada yang berusaha mengambil aksi, dan jika tertidur, kebanyakan orang terbangun. Barang yang tergantung bisa bergoyang dan benda yang tidak stabil bisa jatuh. Di luar, kabel listrik bergoyang cukup besar, dan orang sedang berjalan atau menyetir dapat merasakan.
Skala 5 kurang, kebanyakan orang akan berlindung dan beberapa sulit untuk mengontrol gerakan. Piring dan buku bisa jatuh dari tempatnya, dan perabot bisa berpindah. Pagar beton yang kurang kuat bisa roboh, jalan mungkin mengalami kerusakan.
Skala 5 lebih orang merasakan sangat ketakutan dan tidak bisa bergerak. Pintu dalam rumah bisa berubah letak sehingga sulit dibuka atau bahkan copot dari engselnya. Mesin minuman yang terikatpun dapat jatuh, sulit untuk mengemudi dan banyak mobil akan berhenti.
Pada skala 6 kurang, orang akan sulit berdiri, perabot yang berat bergerak atau jatuh, dan banyak pintu tidak bisa dibuka. Keramik dinding beberapa gedung akan jatuh dan jendela kaca akan pecah dan jatuh.
Skala 6 lebih orang tidak mungkin berdiri hanya bisa merangkak. Semua perabot berpindah dan jatuh, bahkan pintu akan copot dari engselnya. Kebanyakan gedung akan lepas keramiknya dan jendela kaca pecah, dan hampir semua pagar beton runtuh.
Skala 7 orang akan terbawa getaran dan tidak bisa sama sekali bergerak. Perabot bergerak bahkan terbang. Semua keramik, jendela kaca dan pagar beton akan rusak dan rubuh.
Sebetulnya hari anak jatuh tanggal 5, tapi kita adakan tanggal 4 Mei. Tahun ini merupakan hatsu sekku, peringatan pertama untuk Kai. Jadi diadakan dengan makan-makan dan hiasan tradisional. Tahun ini hiasan diramaikan dengan kabuto (topi) dari bapaknya Gen yang sudah berumur 60 tahun lebih. Setiap selamatan di Jepang pasti membuat nasi merah. Dan untuk kali ini aku buat nasi kuning ala kadarnya. Jadi deh pertemuan dua kebudayaan. Merah-kuning hehehhe. Cuman sulit untuk membuat foto yang bagus, karena Kai nangis terus waktu mau difoto. Rupanya dia kelaparan.
Kita sudah datang dari malam sebelumnya, dan minum sake yang aku beli dari Niigata waktu itu. lumayan enak. Pagi hari tanggal 4, Kai masuk ofuro (mandi) dengan Shobuyu, air panas yang ditaruh daun Shobu, simbol untuk kekuatan anak.
Tadinya kita mau menginap sampai tanggal 5, tapi karena Gen mau ke kantor tanggal 5 dan 6 (padahal hari libur), jadi tanggal 4 malam sekitar jam 9:30 malam kita pulang ke Nerima.
Ulat Bulu yang Amat Lapar
Author: imelda // Category: Buku * Books *本, LIVING in Japan, Opini 意見, Orang * Person * 人物OMG….Waktu saya cari keterangan tentang sebuah buku bergambar picture book karya Eric Carle yang berjudul “The Very Hungry Caterpillar” saya mendapat informasi bahwa buku ini sudah diterjemahkan dalam lebih dari 45 bahasa dan sudah terjual lebih dari 25 juta jilid. But, waktu saya cari dalam bahasa Indonesia? not found!!! berarti belum ada dalam bahasa Indonesia? How come? Karena orang Indonesia belum ada yang mau terjemahkan? atau tidak mau diterbitkan di Indonesia yang terkenal dengan penerbitan ilegal, dan tidak menghormati hak cipta? Karena kalau diterbitkan juga tidak ada yang MAU dan BISA beli? aduh..aduh…aduh…

Kadang saya juga merasa sedih dengan pengetahuan dasar yang seharusnya dimiliki seorang anak. Memang standar pengetahuan dasar itu berbeda di setiap negara, namun terlihat sekali bedanya…. sedih deh. Misalnya seorang anak biasanya tahu cerita-cerita anak-anak terkenal dunia. Waktu saya kecil, saya banyak membaca dan saya tahu siapa itu HC Andersen, saya tahu cerita-cerita ternama dunia dari Album Cerita Ternama (mungkin sekarang tidak terbit lagi). Saya tahu tentang kucing bersepatu lars dari ibu yang mendongengkan kepada kami dari sebuah buku berbahasa Belanda. Memang tidak pernah diperkenalkan di sekolah, kita harus mencari sendiri. Tapi ternyata pengetahuan saya tentang cerita-cerita anak-anak ini masih jauuuuuhhhh dari cukup. Masih banyak yang saya belum tahu…dan waktu menyadari hal itu saya sedih. Bagaimana dengan anak-anak jaman sekarang ya? Mereka lebih suka dengan cerita komik modern dan terjemahan dari Jepang yang katayoru (berat sebelah). oi oi…. biar bagaimanapun klasik cerita-cerita anak-anak yang saya baca 30 an tahun yang lalu, cerita-cerita ini mengandung pengetahuan dan moral yang tak lekang oleh waktu. Saya sekarang enjoy dengan membacakan cerita anak-anak dalam bahasa Jepang kepada anak-anak saya sambil meng-input da refresh pengetahuan yang saya dapat waktu saya kecil.
Kembali ke buku Eric Carle ini, saya mengenal buku ini dalam bahasa Jepang tentu saja. judulnya harapeko aomushi はらぺこあおむし. Bukunya saja ada dua versi, yang biasa untuk dibaca di rumah sendiri dan versi giant untuk dibaca bersama-sama di playgroup atau TK. Buku ini pasti ada dimana-mana. Di rak buku ruang tunggu rumah sakit, kantor pemda dll. Menceritakan tentang ulat bulu yang lapaaaar terus. Hari Senin si ulat bulu ini menemukan satu buah apel dan melahapnya. Kemudian hari Selasa, ia menemukan dua buah pir dan melahapnya…. terus sampai seminggu lewat dan akhirnya dia tidur lamaaaaaa sekali. Waktu bangun dia menjadi seekor kupu-kupu. Selain mengajarkan nama-nama hari, hitungan angka, juga ilmu hayat (haiyah istilah jaman baheula, sekarang Biologi..tapi kadang-kadang kangen kan dengan istilah kuno hehehe). Buku ini disarankan untuk anak berusia 3 tahun sampai 6 tahun.
Hari Sabtu setelah menonton pameran foto, Riku sempat pergi ke pameran buku Eric Carle di Matsuya Ginza. Untuk masuk harus membayar 1000 yen, tapi di pameran itu pertama kali mengetahui cara Eric membuat bukunya. Yaitu dengan mewarnai selembar kertas tipis berkali-kali, lalu disimpan sebagai stok. Waktu mau pakai baru digunting-gunting. Jadi bukan menggambar langsung di atas kertas tapi lebih ke haribari, menggunting dan menempel. Kami sekeluarga kagum dengan maraknya warna yang dipakai. Di pameran itu Riku membeli buku baru karya Eric Carle yang berjudul From Head to Toe, tentu saja dalam bahasa Jepang “Dekiru kana, atama kara tsumasaki made できるかなあたまからつまさきまで”
saya berharap picture books bisa lebih berkembang di Indonesia…. (mustahil??? who knows) mungkin llebih berharap lagi harga buku lebih murah sehingga bisa dijangkau masyarakat umum.


![Meaning of [Safety very much]. It is assumed the day of the good luck. It is assumed the good luck and the day when it succeeds, and is done the marriage especially in what on this day. Meaning of [Safety very much]. It is assumed the day of the good luck. It is assumed the good luck and the day when it succeeds, and is done the marriage especially in what on this day.](http://imelda.coutrier.com/wp-content/plugins/koyomi/image/roku4.gif)









