header-image

Twilight Express

my journey from dawn to dusk

Blog

Kelas Ski

Sebetulnya aku ingin menyalahkan kelas Ski yang diadakan oleh SMPnya Riku sebagai penyebab sekian lamanya deMiyashita terkurung dalam rumah akibat influenza. Karena begitu Riku pulang dari kelas Ski, dia kena influenza. Dia sembuh, aku sakit…. menjelang aku sembuh, Gen dan Kai kena 😀 (sampai sekarang masih di rumah). Untung saja mulai akhir Januari aku sudah memasuki libur musim semi di dua universitas, sehingga tidak banyak kelas yang perlu aku batalkan.

Bagaimana aku tidak akan menyalahkan kelas Ski itu dong, karena di situ kemungkinan berjangkitnya virus amat tinggi. Bayangkan 4 hari “hidup bersama” sekitar 240 remaja kelas dua SMP. Sangat mungkin beberapa di antaranya sudah membawa virus influenza pergi ke kelas Ski kan, dan menjangkitkannya kepada teman-temannya kan?

Eh tapi mungkin hanya Riku yang dalamkondisi lemah badannya waktu pulang, ditambah keesokan harinya dia harus berlatih badminton lagi. Tapi bagaimana pun juga, aku tidak menganggap kelas Ski itu jelek! Bahkan aku merasa bersyukur bahwa Riku bisa mengikuti kelas Ski bersama teman-teman sekolahnya.

Rupanya kelas Ski itu merupakan program pendidikan yang diadakan di luar lingkungan sekolah bagian kurikulum untuk kelas 2 yang PASTI dijalankan di kelurahan kami. SMP Riku memang sekolah negeri (pemda) sehingga semua kebijakan pendidikan kelurahan pasti dirasakan langsung. Rupanya tidak setiap SMP negeri mempunyai program yang sama, mempelajari Ski bersama. Kelurahan kami bahkan mempunyai tempat penginapan di dekat resort untuk belajar main ski. Jadi 34 SMP yang ada di kelurahan kami itu secara bergantian menempati villa milik pemda. Bahkan pemda menyediakan bus untuk pulang pergi secara gratis. Ini membuat kami hanya perlu membayar sedikit untuk makanan dan sewa baju ski saja! Memang olahraga ski cukup mahal jika harus merencanakan sendiri.

Persiapan dilakukan dengan matang. Kami orang tua selain menyiapkan biaya, kami juga harus berkumpul untuk mendengarkan briefing sebelum keberangkatan. Dijelaskan program harian mereka, apa saja yang harus dipersiapakan untuk dibawa dsb. Di situ kami tahu bahwa ada 1 guru ski yang akan mendampingi 10 murid. Dan mereka menjamin dalam 4 hari biasanya murid-murid sudah bisa meluncur di atas salju. Dan pada hari keberangkatan Riku memang berhari-hari cuaca dingin dan turun salju di Karuizawa, sehingga menunjang kelas Skinya.

Enaknya punya anak sudah SMP itu adalah dia sendiri yang mempersiapkan tasnya. Mulai dari baju dalam, kaus kaki sampai glove. Karena baju musim dingin itu tebal, tentu makan tempat yang cukup banyak dalam tas. Untuk itu aku pinjamkan beberapa plastik kedap udara sehingga baju yang tebal-tebal itu dapat dipampatkan menjadi tipis. Oh ya, Riku dalam rombongan kelas ski ini ditugaskan untuk menjadi ketua tim “kamar mandi”. Bayangkan 200 orang harus mandi kan? Jadi perlu dibagi menjadi berapa kelompok dan kelas. Setiap kelas ada ketuanya dan mereka bertanggung jawab pada kebersihan kamar mandi. Sesudah dipakai, tentu harus dibersihkan. Termasuk memeriksa apakah ada keran yang masih terbuka, air yang menggenang dsb. Setiap anak punya tugas masing-masing, dan ya ini yang kusukai dari sekolah di Jepang. Semua harus bekerja, semua harus sama.

untung Riku berada di tengah ya? hehehe Ini kelasnya dia, semuanya ada 6 kelas

Program kelas di luar lingkup sekolah setiap tahunnya berbeda. Untuk kelas satu, berenang di laut pada musim panas. Waktu Riku kelas 1, dia tidak mengikuti kelas ini karena kami pergi ke Jakarta. Kelas 2 adalah kelas ski di musim dingin. Dan kelas 3 kelas budaya karyawisata ke Kyoto sekitar musim gugur.

Hiburan di Musim Dingin

Bagi kami yang tinggal di negara 4 musim, kami mempunyai cara untuk melewatkan panasnya musim panas, dan dinginnya musim dingin, serta melewatkan waktu-waktu di antaranya.  Intinya kami menikmati atau mencari cara untuk menikmati setiap musim yang datang.

Musim Semi, kami menikmati bunga sakura atau bunga-bunga lain yang bermekaran. Musim panas, kami menikmati pantai atau gunung. Sedangkan musim gugur, kami menikmati perubahan daun-daun yang berubah warna. Musim dingin? Kami menikmati salju yang turun. Tapi tidak semua daerah itu bersalju. Seperti Tokyo yang ada hanyalah angin yang bertiup kencang dan dingin yang menusuk sampai tulang. Bagaimana mau menikmati musim dingin kalau begitu ya?

Memang kalau menjelang Natal, begitu masuk bulan November, kami bisa menikmati lampu-lampu dan hiasan Natal di mana-mana. Memasuki bulan Desember ditambah lagu-lagu Natal. Tapi pemandangan Natal ini hanya bisa dinikmati sampai tanggal 25 Desember. Begitu tanggal 26 Desember, hiasan Natal diganti dengan hiasan Tahun Baru tradisional Jepang. Padahal musim dingin kan masih panjang?

belum masuk saja sudah dihadang oleh pemandangan seindah ini

Iluminasi atau pemandangan hiasan lampu-lampu di kota bisa menjadi tujuan wisata dalam musim dingin. Nah, tanggal 28 Desember yang lalu, aku sempat mampir ke Yomiuri Land, Kawasaki. Karena aku memang cuma mau melihat lampu-lampu saja maka aku hanya membeli Night Pass yang harganya cuma sekitar 1000 yen untuk dewasa. Night pass ini bisa dipakai mulai jam 4, yang memang pada musim dingin cepat gelap. Cocok deh.

Kami turun di stasiun Yomiuri Land Mae dari Odakyu line, untuk kemudian naik bus ke tamannya. Sebetulnya bisa juga naik Keio Line, dan dari situ bisa naik gondola ke tamannya. Tapi karena aku janjian dengan adikku yang tinggal di Odakyu line, jadi kami menggunakan bus saja. Sebelum pergi lebih baik pastikan dulu jadwal busnya supaya tidak terlalu lama menunggu, meskipun kalau berdiri di baris terdepan pasti dijamin bisa duduk dalam bus. Karena jalan mendaki untuk mencapai Yomiuri Land itu, cukup terjal, agak menyulitkan jika harus berdiri terus dalam bus. Kalau kakinya kuat sih tentu tidak apa-apa hehehe.

susah ya memadukan wajah dan latarnya

Begitu sampai di Yomiuri Land rasanya ingin berlari masuk saja, karena di pintu masuk saja sudah terlihat keindahan pemandangan berhiaskan lampu-lampu. Untung saja waktu itu tidak banyak pengunjung yang datang sehingga aku langsung bisa membeli karcis masuk dan masuk!

Tentu saja keindahan lampu-lampu itu ingin langsung diabadikan dengan memotretnya dari berbagai sudut, tapi aku belum bisa menguasai  cara memadukan foto diri dengan latar lampu-lampu dengan baik. Sulit ya!

supaya lega memang lebih enak berdua-dua

Karena anak-anak bosan dan kedinginan, kami tidak berkeliling taman, dan hanya antri untuk naik Kincir Ria yang harga karcisnya terpisah (600 yen). Karena kami berempat, sebetulnya bisa masuk satu kabin, tapi dengan sengaja kami pisah berdua-dua. Tumben Kai mau dengan kakaknya, sehingga aku bisa berdua adikku dalam satu kabin.

pemandangan dari atas Kincir Ria

Karena lega, kami bisa puas memotret dari atas, tapi angin yang masuk di sela-sela kabin cukup kencang dan membuat menggigil. Mungkin gara-gara ini pula, aku sempat masuk angin dan harus tidur seharian setelah itu.

tentu tak lupa swafoto di atas 😀

Iluminasi di Taman Yomiuri Land ini masih bisa dinikmati sampai tanggal 19 Februari 2017! Jadi masih bisa menikmati valentine di sini ya? hehehe Tapi pasti banyak orang dan antri tuh. Karena memang Yomiuri Land dianggap sebagai tempat melihat iluminasi nomor satu di Tokyo, dengan jumlah 4 juta lampu yang dipakai.

foto yang kami beli, diambil waktu sedang antri masuk Kincir Ria. Lumayan supaya ada kenang-kenangan foto berempat

Pinchi! Sial!

Semalam waktu aku akan tidur, Kai naik ke tempat tidurku dan tidur di sebelahku, “Aku sudah lama ngga tidur sebelah mama… peluk dong!”… hmmm dia mau bermanja-manja rupanya. Tapi dia itu sudah gede! sekarang sehingga tempat tidur terasa sempit jika harus bertiga. Mau usir kasihan juga sehingga aku biarkan saja karena dia sering sakit hati sekarang. Nah saat itu aku menikmati pembicaraan bincang sebelum tidur  kami.

Tiba-tiba saja dia bertanya,” Mama pernah merasa sial? Pinchi?”
“Tentu saja pernah. Tidak ada orang yang tidak pernah kan?”
“Tapi mama tidak pernah kelihatan seperti pinchi
“Ya buat apa mama terus bermuram durja kalau pinchi? Kan masih banyak yang bisa dikerjakan. Masih banyak keuntungan yang didapat. Harus punya semangat untuk mulai terus. Hmmm kalau dipikir-pikir mama memang jarang merasa pinchi ya?”

“Kalau papa? ” Dia bertanya pada papanya yang sedang bermain tab. Papanya diam saja.
“Papa juga sama seperti mama lah. Kan papa dan mama sama-sama ulang tahunnya.”
“Eh ngga bisa dong persis sama. Papa lain sama mama. Mama sepertinya tidak pernah susah”
“Hmmm iya ya. Kai selalu khawatir untuk mencoba sesuatu. Mama jarang khawatir. Mungkin karena mama selalu berpikir, kalau tidak mencoba kita tidak tahu bisa atau tidak. Kau tahu, mama punya semboyan sejak SMP dalam bahasa Inggris, You Can if You Think You Can”

“Ahhh itu aku tahu 為せば成る為さねば成らぬ何事も Naseba naru, nasaneba naranu nanigotomo!”
“Ya seperti itu. Meigen (kata mutiara) nya siapa ya itu?”
Langsung papanya berkata: “Lengkapnya 為せば成る為さねば成らぬ何事も、成らぬは人の為さぬなりけり itu Meigen dari 上杉鷹山Uesugi Youzan. Kata-kata dia dicantumkan dalam buku ” Representative Men of Japan (代表的日本人Daihyouteki Nihonjin)” karya Uchimura Kanzo. Sehingga John F Kennedy mengatakan bahwa dia paling mengagumi Uesugi Youzan dengan mottonya itu.

Langsung deh Kai menghafal peribahasa itu berkali-kali di tempat tidur.

Dan akhirnya aku bilang “Kai mau tahu mama dua kali merasa pinchi dalam sebulan kemarin. Pertama waktu mama pergi ke  Universitas Tokyo untuk memotret daun-daun musim gugur. Mama cuma punya waktu 2 jam, dan supaya mama tidak terlambat ngajar jam 3, mama naik taksi. Eh tahunya supir taxi tidak tahu jalan. Jadi mama bilang, sampai stasiun Kanda saja. Mama pikir mama lebih cepat jalan daripada naik taxi kalau sudah dekat stasiun. Lalu mama berhenti sebelum stasiun…dan ternyata itu masih jauuuuuh. Terpaksa mama lari, dan waktu mama isi absen, ternyata mama terlambat DUA menit! Duuuh sebel banget! Tahu gitu kan mama lebih cepat larinya. Pinchi deh 😀

Lalu yang kedua waktu mama diantar papa dengan mobil ke universitas. Waktu mama turun dari mobil, HP mama jatuh di dalam mobil. Mama sadar tapi papa sudah keburu pergi menjauh. Terpaksa deh mama cari akal bagaimana kasih tahu papa bahwa HP mama ada di mobil dan mama perlu sekali HP itu. Karena malamnya mama ada kerjaan lain dan semua orang akan menghubungi mama di HP. Nah, mama mau telepon papa, tapi telepon pakai apa? mama juga tidak hafal nomornya. Duh saat itu mama merasa sial banget! Pinchi deh. Terpaksa mama pergi ke ruang komputer dan mengirim email ke papa. Dan kalau perlu setelah mengajar, mama saja yang cari papa karena sulit untuk menentukan harus bertemu di mana tanpa HP. Di situ mama benar-benar merasa ketergantungan terhadap HP. Eh, tahunya papa sadar bahwa mama menjatuhkan HP dan papa cari ubek-ubek satu gedung tempat mama ngajar, lihat satu per satu kelasnya, dan akhirnya bertemu mama. Duh mama senang sekali! Yah lebih senang melihat HP daripada papa (sorry papa hehehe)”

“Ehhh ternyata mama bisa juga pinchi ya? hehehe.”

“Bisa dong, tapi mungkin jarang. Makanya harus selalu persiapkan diri sebelumnya. Kalau sampai terjadi hal yang sial, ya terima saja apa adanya, dan pikir bagaimana cara menyelesaikannya.”

Bincang sebelum tidur yang sangat berguna untuk Kai dan mamanya. Dan yah setelah Kai tidur aku terpaksa bangun karena tempat tidur terasa sempiiiit sekali  :v

Count Down di Mana?

Happy New Year 2017!

Persis tanggal 31 Desember sore, aku agak kesal mendapat message di WA berisi pertanyaan: “Mel, count down yang seru di mana?”. Dari seorang teman waktu SD yang kebetulan sedang berlibur akhir tahun di Tokyo. Hebat juga dia, sering datang ke Jepang dan yang aku ingat dia pernah melewatkan pergantian tahun di USJ- Osaka. Nah, tahun ini dia berada di Tokyo dan tanya padaku count down yang seru di mana 😀 Mustinya dia sebagai wisatawan cari informasi dulu dong karena cara wisatawan melewatkan tahun baru dan cara penduduk Jepang sendiri melewatkan tahun baru itu amat sangat berlainan. Duluuuu waktu aku masih muda dan baru datang ke Jepang, pernah melewatkan pergantian tahun di Meiji Jingu, dekat Harajuku bersama teman-teman. Tapi cukup satu kali itu saja deh! Karena dingiiiiin sekali 😀

Jadi saya, selayaknya kebanyakan penduduk Jepang yang mempunyai keluarga, pada pergantian tahun kemarin, kami melewatkan bersama bapak dan ibunya Gen di rumah mereka di Yokohama. Sudah menjadi tradisi bagi orang Jepang, untuk pulang kampung pada akhir tahun dan bersama-sama keluarga menyambut tahun baru. Ngapain saja? Ya kami biasanya mulai makan malam dengan minum sake dan makanan yang enak, lalu menjelang pergantian tahun makan mie Jepang, soba yang dinamakan toshikoshi soba. Bertahun-tahun, kami selalu menyiapkan soba tapi baru kali ini bisa makan toshikoshi soba tengah malam. Biasanya sudah tertidur sebelum pukul 12 sih :v

toshikoshisoba

Pagi harinya, aku masak Ozoni, sup khas tradisi untuk pagi tahun baru. Selain ozoni, aku juga sudah membeli Osechi ryoryi, makanan tahan lama untuk tahun baru. Osechi ini dihias dengan menarik dan masing-masing makanan mempunyai arti. Saya sudah pernah tulis di sini. Tapi sebelum kami makan, kami melakukan upacara “sembahyang” dulu di kamidana (altar Shinto) dan butsudan (altar Buddha) yang ada di rumah. Berterima kasih untuk Tuhannya orang Jepang dan hotokesama (leluhur) untuk pemeliharaan sepanjang tahun yang lewat dan semoga kami bisa menjalani sepanjang tahun yang baru dengan sehat dan tanpa halangan. Setelah itu baru kami minum otoso, semacam sake dengan campuran ramuan dan dimasak, sehingga alkoholnya sudah hilang, hanya tinggal rasa manis pahit. Otoso ini merupakan perlambang supaya kami tetap sehat sepanjang tahun dan dijauhkan dari penyakit.

kiri: otoso. Cawan yang merah di paling depan itu cawan khusus karena diterima kakeknya Gen dari Kaisar Jepang langsung (hadiah semacam bintang mahaputra) kanan: Ozoni, sup tahun baru. Paling bawah ada mochi bakarnya

Makanan tahun baru begini memang kebanyakan manis dan membosankan. Sehingga anak-anak (termasuk aku deh) bergembira waktu makan malam karena menunya sukiyaki. Nasi yang kumasak sampai ludes deh 😀 Padahal rencananya kalau sisa, akan kupakai untuk membuat bubur ayam yang akan kami santap pada hari kedua tahun baru. Jadi deh pagi hari kedua aku membuat bubur dari beras sehingga makan waktu cukup lama. Untung ayamnya sudah aku bumbui dan masak dari rumah.

osechi…. hidangan tahun baru. Tahun ini aku beli yang sudah jadi supaya aku tidak perlu menghias lagi hehehe.

Makan malam hari kedua aku olah dari semua yang sisa. Ada ayam goreng, bihun goreng dan potato gratin. Dan baru kali ini aku merasa senang karena kami tidak membuang makanan. Semua yang diperkirakan pas, tidak kurang dan tidak berlebih. Biasanya karena takut kurang, makanan osechi yang aku sediakan terlalu banyak.

Baru hari ketiga kami pergi berjalan-jalan keluar rumah, dengan tujuan membeli baju untuk Riku yang akan pergi bermain ski dengan sekolahnya. Mumpung ada sale Tahun Baru! Tapi aku TIDAK PERNAH membeli fukubukuro, 福袋, kantong keberuntungan, kantong berisi barang yang tidak diketahui isinya dan harganya, tapi dijual dengan harga sama sekitar 5.000 yen sampai 10.000 yen. Padahal ada satu temanku yang dini hari tgl 1 Januari sudah berburu fukubukuro dan melaporkannya di message FB :v Salut untuk keteguhan dan kerajinannya. Aku tidak bisa bayangkan harus kedinginan mengantri. Dasar bukan tipe pembelanja sih 😀

Dan hari keempat sekarang ini, aku sedang di rumah kami sendiri, sendirian karena anak-anak dan papanya pergi menonton di bioskop. Anak-anak memang masih libur sampai tanggal 9, tapi papa Gen sudah harus bekerja besok, dan aku lusanya. Libur panjang sudah hampir selesai dan aku pun sudah mulai menyibukkan diri lagi dengan berbagai pekerjaan yang aku sisihkan selama libur Natal dan Tahun Baru.

Terima kasih untuk ucapan hari Natal dan Tahun Baru yang dikirimkan kepadaku dan semoga Tahun Baru 2017 membawa kebahagiaan bagi teman-teman semua ya.

Counting down 3 years to Tokyo Olympic!

8 Besar dari Nerima 2016

Melanjutkan kebiasaanku menuliskan 8 hal terbesar yang terjadi dalam keluargaku selama tahun yang akan berlalu, tahun 2016.

  1. Mulai dari Kai dulu ya…. Kai menerima komuni pertama pada tgl 3 April 2016. Dengan demikian dia sudah bisa ikut maju ke depan bersama kami waktu penerimaan komuni pada setiap misa. Kai dalam tahun ini pertama kali pergi summer camp tanpa diriku, hanya berdua saja dengan papanya ke daerah selatan Jepang, Miyazaki untuk menangkap kupu-kupu bersama seorang kameraman terkenal Jepang Imamori Mitsuhiko. Beliau terkenal dengan konsep Satoyama, yang menemukan habitat asli Jepang terutama melalui serangga/kupu-kupu. Sejak saat itu dia hafal nama jenis kupu-kupu dan berminat terhadap buku mengenai kupu-kupu terutama hasil karya Imamori sensei.
  2. Riku di kelas 2 SMP menunjukkan ketekunan belajar yang lebih bertanggung jawab. Selain tetap melakukan latihan badminton (aku salut dia masih bisa teruskan dengan rajin) dengan mnegikuti beberapa pertandingan, juga belajar ekstra di bimbel. Tahun depan dia naik kelas 3 dan harus mengikuti ujian masuk SMA, yang dinamakan jukensei 受験生. Tahun yang berat untuknya (dan untuk diriku juga) . Semoga dia bisa mendapatkan SMA yang diinginkan pada bulan April 2018.
  3. Gen dipromosikan jabatan yang lebih tinggi tapi stress pekerjaan lebih berat (gaji sih tidak naik 😀 ) . Untung saja kami masih bisa mencuri waktu untuk liburan bersama. Kami berempat sempat berlibur 2 malam bulan Agustus di Nagano, di rumah mantan muridku, Ichijima san. Sudah lama memang, Ichijima san mengajakku untuk mengunjunginya, tapi baru bisa terlaksana musim panas, sepulangnya aku dari Jakarta dan Kai/Gen dari Miyazaki. Tiba-tiba saja kami pikir ingin pergi menginap di pegunungan dan aku langsung menguhubungi Ichijima san. Langsung di OK-kan! Jalan-jalan berempat satu keluarga kemudian baru bisa dilakukan lagi setelah masuk bulan Desember, yaitu ke Hakone untuk mengunjungi Museum Little Prince. Memang kami sudah pernah pergi ke sana, tapi ingin kembali ke sana karena Riku mulai membaca bukunya! Selain ke Museum Little Prince, kami juga pergi ke Museum Kristal di Hakone. “Garasu no mori hakubutsukan”.
  4. Yang terbesar dari diriku sendiri, adalah menerima tanggung jawab besar sebagai wakil ketua KMKI (Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia). Dulu sekali aku memang pernah menjadi sekretaris bertahun-tahun. Tapi sejak menikah dan punya anak, aku cuti. Baru tahun ini aku bersedia untuk aktif kembali dan kegiatan dimulai dengan acara seminar “Kiprah warga Indonesia di Jepang” yang menampilkan Rustono Tempeh dan Pdt Efra. Lalu acara Natal Bersama yang diselenggarakan tanggal 17 Desember 2016 (belum kutulis laporannya ya hehehe), dan mendatangkan penyanyi rohani Nikita. Kegiatan KMKI ini otomatis menyita waktuku terutama pada bulan Desember dan untuk itu aku bersyukur bahwa kedua anakku bisa mengerti kalau mamanya kadang tidak bisa menyiapkan makan malam buatan sendiri (terpaksa beli jadi) atau bahkan sama sekali tidak ada waktu membeli. Kalau begitu, Riku yang membeli atau menyediakan makanan untuk adiknya. Kadang kulihat Kai meninggalkan panci bekas memasak nasi goreng ala dia. Setelah acara selesai, Kai memelukku dan kami tidur bersebelahan 😀 Kangen dia pada mamanya 😀
  5. Di keluarga besar Coutrier, menyambut anggota baru yaitu Tante Hermina (Tina) sebagai istri baru papa (opa). Senang sekali papa sudah menemukan teman hidup dan bisa mengurangi kesepiannya selama ini dengan kegiatan bersama tante Tina di gereja dan kegiatan lainnya.  Acara pernikahan dilakukan tgl 30 April dan kami juga bisa bertemu anak tante yang tinggal di USA pada liburan musim panas. Ya, kami tahun ini pulang kampung 2 kali dengan jangka waktu tinggal yang tidak lebih dari 10 hari. Untuk tahun depan mungkin sulit bagi kami untuk mudik ke Jakarta karena Riku menghadapi ujian, tapi semoga aku bisa “curi” waktu ya.
  6. Di keluarga Gen, kami harus menerima kenyataan bahwa ibunya harus menjalani perawatan khusus karena mulai terlihat gejala dimentia. Karena itu dua kali seminggu, dijemput untuk rehabilitasi. Karena itu pula, aku mengusahakan untuk mampir ke rumah mertua setiap Jumat, setelah mengajar di dekat Yokohama untuk makan malam bersama. Paling sedikit bisa ngobrol. Siapa saja, entah Gen dan Kai, atau Gen saja, setiap ada waktu kosong pasti pergi ke rumah mertua…. Ini juga yang membuat waktu luang kami tidak bisa lagi kami gunakan untuk mengumpulkan cap kastil. Memang yang paling baik adalah jika kami bisa tinggal bersama, namun untuk itu perlu persiapan dari semua pihak yang cukup makan waktu.
  7. Untuk hobi, keluarga kami memang tipe “pembaca” jadi tidak heran kalau rumah kami berantakan dengan buku (alasan hehehe). Kai pertama kali bisa menyelesaikan buku novel sebanyak 3 buku, yang untuk ukuran umur dia cukup sulit. Selain itu dia mulai membaca serial TinTin karena aku yang kenalkan 😀 Riku? Mulai bulan April sampai hari ini menyelesaikan  12.000 halaman 35 buku novel. Papa Gen tidak pernah menghitung jumlah buku, tapi yang pasti dia menonton 2 film Indonesia “Filosofi Kopi” dan ”Laut Bercermin” mengalahkan aku 😀 (Aku memang tidak suka menonton sih). Setiap mau nonton film, pasti aku pass, tidak mau ikut sehingga Gen pergi dengan anak-anak saja. KECUALI film Kimi no Na (Your Name), ini kami pergi bersama. Film anime yang bagus menurutku. Untuk hobiku yang satu lagi, yaitu memotret, tahun ini aku bisa puas pergi memotret bunga sakura pada musim semi dan maple pada musim gugur. Untuk hobi masak, aku masih sesekali membuat black forest, rendang atau kemarin membuatkan ayam woku untuk adikku Titin. O ya, aku juga sudah berhasil membuat kue mocca tart sesuai resep mama. Sudah lama ingin mencoba buat butter creamnya, tapi baru kemarin berhasil meluangkan waktu.
  8. Dalam pekerjaanku, tanggung jawabku masih sama seperti tahun lalu. Tahun depan juga masih sama, tapi dengan satu tanggung jawab tambahan lagi di PTA. Kalau tahun lalu sudah menjadi seksi publikasi, tahun depan aku akan menjadi SEKRETARIS PTA sekolah SMP nya Riku! Duh! Ini terpaksa, karena aku kena lotre dan di antara tugas-tugas yang ada, yang masih sesuai dengan kemampuanku (komputer) aku menerima menjadi sekretaris saja hehehe. Nah loh deh dong! Kebayang deh tahun depan tambah sibuk 😀 Tapi cuma satu harapanku dengan melaksanakan tugas ini, yaitu bisa duduk di depan pada acara wisuda Riku di SMP (hanya petugas inti yang duduk di deretan depan) hehehe.

Tahun 2017, semakin sibuk, anak-anak semakin dewasa, sayanya sendiri semakin tua, semakin lambat bergerak. Tapi kupikir, badan dan pikiran manusia itu butuh stimulus, butuh energi dari dalam dan luar, tapi juga butuh dukungan, butuh pengakuan. Semoga aku masih bisa menjalankan tugas-tugasku sebagai ibu, sebagai istri, sebagai anak, sebagai umat, sebagai dosen, sebagai anggota masyarakat dan sebagai blogger 😀

Tulisan pertama dalam bulan Desember yang juga merupakan tulisan terakhir! Semoga tahun depan besok sudah bisa memulai menulis lagi dengan aktif 😀

Selamat menutup tahun 2016 dan selamat menyambut tahun baru 2017, tahun AYAM!

Tulisan serupa dari tahun-tahun yang lalu:

8 Besar dari Nerima

8 Besar dari Nerima (edisi 2011)

8 Besar dari Nerima (2012)

8 Besar dari Nerima (2013)

8 Besar dari Nerima 2014

 

 8 Besar dari Nerima : 2015

Peringatan Tsunami

Pagi hari tanggal 22 November, Selasa, seperti biasa aku terjaga pukul setengah lima pagi. Karena aku mesti memasak nasi untuk sarapan, aku masuk dapur dan mulai beberes ini itu. Tentu sambil sesekali kembali ke komputerku untuk menyiapkan bahan pelajaran hari itu. Kira-kira pukul 5:55 pagi, aku sedang berdiri sambil melipat cucian, dan aku merasa goyang. Aneh pikirku, mungkin aku terlalu capek. Eh persis 1 menit sebelum pukul 6, pas Riku juga sudah berada di dekat meja makan bersamaku, terasa gempa yang cukup lama. Kami berdua langsung bersiap kalau gempa akan menjadi besar, sementara Gen membangunkan Kai yang masih tidur. Langsung kupasang TV, dan mengetahui bahwa telah terjadi gempa di Fukushima, dan langsung melihat ada Peringatan Tsunami. Jepang telah belajar banyak dari gempa besar di Tohoku 5 tahun lalu. Pembaca berita mengatakan, “Belajarlah dari gempa yang lalu, segeralah pergi mengungsi ke tempat yang lebih tinggi!”.

Kabarnya ketinggian tsunami hanya 1,4 meter, tapi meskipun dikatakan tidak terlalu tinggi, air pasang yang hanya sebetis pun, jika berbalik akan menghanyutkan orang. Apalagi jika air itu membawa benda-benda hanyut berbahaya. Dan diketahui bahwa gempa bumi magnitude 7,4 skala richter ini tidak memakan banyak korban.

gempa-difb
senangnya FB mengumpulkan informasi dampak gempa untuk diberitahukan kepada teman/keluarga

Tapi pengaruh gempa pagi itu cukup terasa di Tokyo. Transportasi terutama kereta banyak yang terlambat, sehingga aku harus menunggu mahasiswa datang untuk mengikuti kuliahku. Nah, saat itu, sambil menunggu aku mendapat pesan lewat inbox message, dari BANTA san. Dia menanyakan kabarku, karena mendengar bahwa ada gempa di Jepang. Waaaah aku langsung menjawab messagenya dan bahkan memulai percakapan dengannya. Sebetulnya aku sudah mendapat pesan-pesan dari keponakan dan dari dia sendiri di sosmed, tapi setiap kubalas, tidak ada kelanjutannya. Baru kali ini, aku berhasil bercakap-cakap dengannya.

Siapa Banta san? Kalau ada teman yang pernah membaca tulisan di TE ini yang berjudul Kartu Pos itu…., tentu mengenal nama Banta. Dia adalah seorang pendengar setia acara radioku (jaman aku masih penyiar radio)  yang berasal dari Aceh. Waktu terjadi tsunami di Aceh aku kepikiran dia terus, karena aku tahu dia sudah pulang ke Indonesia. Dan tulisan tahun 2008 itu dijawab oleh keponakan Banta san tahun 20014 bahwa Banta san masih hidup! Itu saja sudah membuatku lega, meskipun semua pertanyaanku lewat email tidak dijawab. Nah, pagi itu, tgl 22 November 2016, Banta san sendiri menghubungiku.

Setelah menjawab pertanyaannya soal gempa paginya, aku langsung bertanya padanya ….soal Tsunami Aceh, 26 Desember 2004, apakah dia berada di Aceh saat itu? Dan dia menjawab:

Saya di pidie.aceh.langsung mengalami dan melihatnya.anak saya umur 2′ th meninggal.adik ipar 2, dan kemenakan.1 .hampir 5 th.saya seperti orang ling lung.sekarang sudah ada pengganti 3’orang

Ah, ternyata memang Banta san di Aceh dan terkena dampak tsunami. Aku hanya bisa mengatakan turut berduka dan berharap dia tetap tegar dan kuat. Lalu tadi sore dia mengirimkan pesan.

Saya membaca tulisan diblog, saya sampai menitikkan, air mata sungguh sangat kelu,saya waktu mengingat saat tsunami, apalagi membaca tulisan kk imelda, saya membaca semua,….

Aku merasa bersalah telah membuatnya sedih lagi, teringat lagi akan peristiwa itu. Tapi berkat aku menulis di blog ini, aku bisa mengetahui kabarnya. Ini adalah manfaat yang langsung bisa kurasakan dengan menulis di blog. Meskipun akhir-akhir ini aku jarang menulis di sini, aku akan usahakan terus mencatat atau paling sedikit merekam bukti-bukti berupa foto yang kelak bisa kutuangkan dalam tulisan.

Kutulis posting ini pada hari libur di Jepang, 23 November, Kinro Kansha 勤労感謝の日 atau Labour thanksgiving day. Hari yang dingin dengan awan merebak di langit, sesekali membiarkan sinar matahari menyembul. Sambil menantikan hari esok yang diperkirakan lebih dingin lagi dengan maksimum suhu 2 derajat saja. Kai sih senang sekali mendengar kemungkinan itu 😀

Keharuan Hari Ini

Sebetulnya tidak baik memulai bulan baru dengan keharuan ya? Mestinya dengan kegembiraan 😀 Tapi benar deh, ada peristiwa-peristiwa kecil hari ini yang menimbulkan keharuanku.

Pagi hari, aku bangun pukul 6 pagi. Biasanya sih pukul 4 atau 5 , tapi hari ini molor. Mungkin karena terlalu capek, yang tertimbun dari hari-hari sebelumnya. Tidak biasanya juga, Kai terbangun pukul 6:30 an tanpa mesti aku bangunkan. Rupanya dia gelisah karena hari ini ada pelajaran olahraga di sekolahnya. Dia memang tidak suka olahraga terutama sekarang mempelajari senam matras… Kebayang sih, dulu aku juga paling tidak bisa koprol hehhee. Takut! Nah, jadi beberapa kali dia mendatangiku yang sedang mempersiapkan bahan ajar di komputer dan mengatakan, “Peluk dong….!” Aduh… aku sedang sibuk tapi…. aku tahan dan pikir kapan lagi anakku ini akan minta peluk lagi? kakaknya sekarang sama sekali tidak mau digandeng, apalagi dipeluk. Jadilah aku memeluk Kai dan menenangkannya.

Hari ini basah dan dingin. Hujan cukup deras dan pagi itu suhunya 12 derajat saja. Brrr. Aku diantar oleh Gen sampai stasiun dekat rumah. Kereta terlambat, dengan alasan ada penumpang yang sakit mendadak, sehingga seluruh kereta terlambat sekitar 10 menit. Tentu disertai permintaan maaf. Tapi ternyata aku masih beruntung! Karena ternyata jalur lain juga banyak yang terlambat! Dan satu jalur biasanya juga kupakai hari Selasa itu ternyata terlambat karena menabrak BABI HUTAN hahaha. Sampai ramai di twitter, masa sih ada babi hutan di Tokyo? 😀 (Dan ya, memang masih ada babi hutan di pinggiran Tokyo yang bersebelahan dengan hutan tentunya. Aku pernah diberi daging babi hutan oleh salah satu murid yang tinggal di Hachiouji).

Lalu waktu aku pulang kerja, sekitar jam 3 aku perlu pergi ke kantor pos. Pas saat itu Kai pulang sekolah. Dia kaget bertemu denganku di depan pintu, “Loh kok mama sudah pulang?” ah…. akhir-akhir ini jarang aku pulang sebelum dia pulang sekolah. Rasanya …sedih, lalu aku pikir, aku akan ajak dia ke kantor pos, lalu kencan berdua di restoran dekat rumah. Makan es krim kek, dessert kek. Lalu kami bersama berjalan ke kantor pos.

Setelah urusanku selesai, aku ajak dia ke resto, tapi tahu apa yang dia bilang?
“Ma… di resto itu mahal. Mending kita beli es krim di toko konbini, lalu kita makan di rumah saja. Aku juga mau cepat-cepat bikin PR. Banyak sekali PR hari ini…”
Duuuh… aku terharu karena dia memikirkan aku. Rupanya dia tahu tadi pagi aku bilang ke papanya, di dalam dompetku tidak ada uang hari ini (karena belum ambil tunai). Jadilah kami berdua ke konbini dan membeli es krim dan desert. Dan aku menikmati jalan berdua bergandengan tangan dengan anak bungsuku.

Salah satu PR Kanji Kai, huruf SHINU (mati). Dia harus membuat contoh kalimat dan dia tulis
Salah satu PR Kanji Kai, huruf SHINU (mati). Dia harus membuat contoh kalimat dan dia tulis “susah setengah mati waktu membuat PR” dan dijawab gurunya, “Wah susah ya? Tapi kamu buat PR dengan baik kok”…. dan aku geli setengah mati waktu membaca PR Kai ini 😀

Selain keharuan dari Kai, hari ini aku juga terharu waktu menerima email dari sekolah (SD Negeri) nya Kai, siang hari. Kupikir apa, ternyata isinya begini:
“Hari ini sebagai salah satu lauk makan siang, kami membuat rebusan sayuran. Rupanya ada bagian-bagian di dasar panci yang  hangus. Setelah diperiksa ahli gizi dan penanggung jawab, dipastikan bahwa tidak berbahaya, kami membagikan makanan ke kelas-kelas. Ternyata waktu dibagikan ada yang mengatakan “bau hangus” dan beberapa anak mendapat lauknya sedikit. Untuk itu kami mohon maaf, dan berusaha supaya kejadian ini tidak terulang. Kami berusaha menyediakan makanan yang sehat dan enak bagi murid-murid”

Duh, ntah kenapa aku merasa terharu. Mereka (pihak sekolah) terlihat benar-benar menjalankan tugasnya. Memang banyak juga orang tua murid jaman sekarang yang “cerewet” soal-soal sepele seperti itu (dinamakan monster parents) , tapi untunglah aku tidak seperti mereka :D. Dan waktu aku tanyakan pada Kai, dia berkata, “ngga enak, soalnya aku ngga suka” hahaha (bukan karena hangus). Memang Kai agak “pemilih” soal makanan, tapi dia tetap makan kok.

Keharuan-keharuan kecilku hari ini, dan membuatku bersyukur atas hari yang dingin ini. Tapi hatiku hangat kok menyambut bulan baru, November.

Benar atau Betul?

Pemandangan sebelum fajar benar-benar (betul-betul) indah. Indah betul!
Pemandangan sebelum fajar benar-benar (betul-betul) indah. Indah betul (benar)!  Ini diksi saya 😀

Kemarin malam, aku mendapat pertanyaan dari salah satu murid orang Jepangku.

“Sensei, apa bedanya benar dan betul? Saya tanya pada 3 orang dan selalu dijawab ‘sama’. Memang sama ya?”

Sama, tapi juga tidak sama. Pemakaian bisa saja sama, tapi mungkin perlu ada pembedaan yang mendasar. Kalau menurutku, `betul’ itu pada sesuatu yang terlihat (nyata) dan mempunyai standar. Sedangkan ‘benar’ itu lebih pada sesuatu yang tidak terlihat (kualitas/abstrak) dan kebanyakan sulit menentukan standarnya. Mungkin sama seperti kata 正解 dan 正確 dalam bahasa Jepang.

Untuk soal matematika, tentu bisa dipakai keduanya. 1+1 =2 itu ‘betul’, dan ‘benar’ sebagai lawan kata ‘salah’.

Tapi untuk pemakaian dengan kalimat lainnya, belum tentu sama.

Misalnya:

Jawaban itu betul (sesuai dengan pertanyaan). Tapi isi jawaban benar atau tidak, aku tidak berhak menentukannya.

Atau

Ya, betul Robin Hood mencuri untuk orang miskin. Tapi apakah perbuatan Robin Hood itu benar? Tergantung. 😀

Atau kalau sulit memahami hanya dengan kata ‘betul’ dan ‘benar’, kita bisa memakai penambahan awalan/akhiran.

Kebetulan tidak sama dengan kebenaran. Pembetulan juga tidak sama dengan pembenaran. Di sini terlihat bedanya kan? Lagipula kalau ‘betul’ dan ‘benar’ itu sama, tentu KBBI tidak akan membuat betul dan benar sebagai lema terpisah kan?

Memang banyak sinonim kata, kata-kata yang berarti sama. Tapi, sebetulnya tidak akan sama persis. Pasti ada bedanya meskipun sedikit. Kalau sama persis, buat apa dibuat kata lain kan?Karena itu perlu konteks kapan bisa pakai kata x atau kapan bisa pakai kata y.  Untuk orang Indonesia mungkin bisa membedakan dengan ‘perasaan’ 😀 tapi bagi orang asing yang sedang belajar bahasa Indonesia, perlu ada penjelasan yang lebih detil untuk pembedaan kata-kata yang dikatakan ‘sama’. Dan jangan cepat-cepat berkata: “Oh itu sama!” karena itu akan memperlihatkan bahwa kamu tidak mau berpikir dan menjelaskan hehehe. Juga usahakan untuk memakai kata yang tepat dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari.

Sebagai penutup, saya akan mengatakan, “Betul, saya blogger. Benar, saya blogger. Tapi saya blogger benar atau tidak, saya tidak tahu :D. Karena akhir-akhir ini saya sering absen menulis di blog ini. Tapi saya akan menegaskan sekali lagi bahwa betul, saya akan berusaha ngeblog terus sampai mati :D”

Selamat Hari Blog Nasional, 27 Oktober 2016!

Dan ternyata aku cukup rajin menulis pas hari Blog Nasional di tahun-tahun yang lalu 😀

 

Hari Blogger?

Rasa Bangga

HP untuk Anak-anak

Orang tua bodoh = Bangga

Jangan Menyamakan Semuanya

Kemarin  malam aku merasa bahagia. Sederhana saja sebenarnya.

Kemarin Kai pergi karya wisata bersama teman-teman satu angkatan. Memang setiap tahun sekolahnya (negeri) mempunyai program dengan mengajak satu angkatan pergi ke luar sekolah. Kelas satu dan dua pergi ke tempat yang dekat saja, dan tahun lalu (kelas 2) Kai demam sehingga tidak bisa ikut. Tahun ini mereka pergi ke daerah Saitama yang terkenal dengan higanbana, bunga berwarna merah. Sudah sejak seminggu sebelumnya Kai mempersiapkan sendiri apa saja yang mesti dibawa. Sehingga benar-benar meringankan tugasku. Tugasku hanya menyiapkan bekal di pagi harinya.

Karena sangat capek mendaki bukit, Kai tidur lebih cepat. Tapi sebelumnya, dia minta untuk tidur bersama aku, di sebelahku sebab malam sebelumnya dia mimpi buruk. Karena akupun capek, aku juga leyeh-leyeh di tempat tidur, dan tak lama Gen juga masuk kamar. Daaaan…. aku mulai ngedumel soal perkuliahan. Karena tahu kami masih bangun, Riku masuk kamar kami dan bertiga leyeh-leyeh di tempat tidur. Tentu sambil mendengarkan aku yang sedang ngedumel hehehe.

Apa sih kekesalan aku sebenarnya?
Ini merupakan kekesalan seorang dosen terhadap sikap mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Waktu aku datang 24 tahun lalu, aku cukup kaget melihat sikap mahasiswa Jepang dalam perkuliahan, terutama jika kuliah itu diikuti oleh 50 orang lebih. Ya, mereka sering tidur!

Waktu aku masuk UI dulu, aku juga sering heran melihat sikap mahasiswa yang amat sangat berlainan dengan sikap murid di SMA asalku. Doooh waktu SMA kami benar-benar disiplin dan harus menghormati guru deh. Di UI pun aku mengikuti beberapa kuliah di ruangan besar, tapi tidak ada yang tidur deh sepertinya. (Atau aku saja yang tidak lihat?)

Anyway, jadi aku sudah tahu bahwa mahasiswa Jepang suka tidur di kelas. Alasannya macam-macam, ada yang capek karena mesti bekerja sampai malam. Atau memang tidak berminat mengambil mata kuliah itu tapi merupakan kuliah wajib ambil.

Aku mempunyai satu kelas yang pesertanya sampai 70 orang. Berat sekali mengendalikan kelas ini, yang sudah tiga tahun aku jalani. Pengaruh smartphone terhadap perkuliahan itu amat besar, seperti yang sudah kutulis di sini. Tapi akhir-akhir ini aku merasa kondisi menjadi lebih parah. Biasanya jika aku menyuruh mahasiswa membaca dan ketahuan dia tidur, tapi kalau dipanggil namanya, pasti bangun dan berusaha mencari bagian mana yang dia mesti baca. Mahasiswa itu akan merasa “malu” ketahuan tidur. Tapi sekarang, rasa malu itu sudah tidak ada 🙁 Bahkan waktu aku menyuruh menjawab soal, yang jawabannya pun ada di halaman yang sama, tidak bisa! Tidak usaha sama sekali! Duh!

Yang paling menyebalkan, kejadian waktu pokemon go dirilis di Jepang. Pas hari itu aku mengadakan ujian akhir. Open book, satu jam saja. Tapi kalau sudah selesai, boleh kumpulkan dan keluar. Daaaan ada satu mahasiswa yang mengumpulkan di menit ke 30. Kupikir dia pasti pintar, tapi waktu kulihat lembar jawabannya, hanya setengah yang diisi. Ternyata waktu pulang, aku melihat dia dan teman-temannya sedang main pokemon go! So, dia sama sekali tidak berusaha mengisi semua ujiannya, dan yakin dia pasti akan dapat sksnya meskipun dengan nilai pas-pasan!

Suamiku juga bekerja di bidang yang sama, pendidikan. Dan menurutnya, mahasiswa jaman sekarang  tidak mempunyai lagi “keinginan untuk maju”. Yang aku namakan dengan tidak mempunyai “alert” terhadap bahaya. Bahaya bahwa kamu tidak bisa dapat pekerjaan! Kelihatannya mahasiswa Jepang bersekolah di universitas hanya untuk memenuhi keinginan orang tua. Toh orang tua yang bayar! Tidak perlu lah dapat nilai bagus, nanti juga dapat pekerjaan. Bahkan, ada kecenderungan beberapa orang mahasiswa laki-laki yang merasa cukup, jika dia bisa bekerja menjadi “tukang bangunan”, seperti tukang cat, tukang semen dll. Bukan, bukannya aku merendahkan pekerjaan itu, tapi kok tidak punya keinginan untuk “lebih” dari yang lain ya? Jepang sudah terlalu lama berada dalam “kedamaian” mungkin ya?

Kesimpulannya, aku akan lebih “galak” lagi, dengan memberikan ancaman-ancaman jika tidak memenuhi syarat akan kuminta tidak usah datang saja ke kuliahku, karena aku tidak akan “memberikan” sks.

Nah, yang membuatku bahagia malam kemarin itu, Riku ikut mendengarkan dan berdiskusi dengan kami soal “mahasiswa yang tidak belajar” itu. Baru kali ini kami terlibat pembicaraan serius yang cukup lama. Sampai aku baru sadar setelahnya, bahwa dia BARU kelas 2 SMP, karena gaya bicaranya yang cool 😀

Katanya, “Memang aku juga banyak mendengar dari guru-guru di bimbel bahwa murid SMA dan mahasiswa sekarang ini kurang belajar. Tapi murid SMP nya lain loh. Murid SMP yang aku lihat itu mereka belajar loh. Mereka berusaha menjadi yang terbaik. Memang dibilang bahwa murid SMA dan mahasiswa sekarang menjadi bodoh karena pakai smartphone. Tapi jangan samakan mereka dengan murid SMP ya, karena kami TIDAK punya smartphone yang bisa dibawa ke sekolah (memang tidak diperbolehkan, sedangkan SMA dan univ tidak ada larangan). Kami pakai smartphone pun di luar jam sekolah. Menyebalkan sekali jika kami disamakan dengan mereka!”

Ya, ya…. memang tidak boleh menyamakan semuanya. Karena sebetulnya kemarinnya lagi, aku baru saja memulai satu kelas baru di universitas yang lain. Muridnya 35 orang. Memang aku lihat ada 2-3 orang yang ngantuk-ngantukan, tapi secara keseluruhan mereka bisa menunjukkan kecerdasan mereka. Apalagi ternyata hampir setengahnya sangat fasih berbahasa Inggris. Kepalaku sampai pening memakai tiga bahasa, Jepang, Inggris dan Indonesia  dalam tiga jam hahaha.

Yang penting, semoga anakku tidak seperti mahasiswa yang malas-malasan itu deh 😀 dan semoga dia bisa menemukan bidang yang disenangi untuk diselami lebih dalam di universitas.

*dongeng perkuliahan*