2019 – 8 dari Sayama

16 Mar

Sebetulnya saya terbiasa menuliskan pencapaian setahun dalam tajuk 8 dari Nerima. Tapi karena tahun 2019 saya sudah pindah ke kota Sayama di Saitama, seharusnya saya menulis 8 dari Sayama di akhir tahun 2019 lalu. Tapi…. ya tidak keburu. Kenapa? Karena bapak mertua menghabiskan tutup tahun di rumah kami, menginap, sehingga aku harus mempersiapkan semuanya, tempat tidur, dan makanan.

1. Tahun 2019 merupakan tahun pernikahan yang ke 20 tahun, sekaligus 1 tahun menjadi warga Sayama. Kami rayakan secara sederhana saya di sebuah restoran Jepang yang berada antara rumah kami dan stasiun. Jadi dari rumah kami ke stasiun 5 menit, ke restoran itu setengahnya deh. Restoran itu memang baru buka, tapi Gen sudah pernah makan di situ dengan teman kantornya, sehingga mau mengajakku juga mencoba makan di situ. Karena agak mahal, perlu ada “timing” yang tepat. Jadilah aku memesan tempat pas hari ultah pernikahan kami . Restoran ini buka juga siang hari, tapi tetap harus pesan tempat. Makanannya enak dan dikeluarkan satu-satu (istilahnya: kaiseki ryori 会席料理). Waktu pihak restoran mengetahui bahwa kami memperingati wedding anniversary, mereka memberikan hadiah berupa sashimi ikan buntal (fugu) yang cukup mahal juga (dan enak!). Ntah kapan lagi kami akan ke sini……

Makan malam bersama di restoran Jepan Ootsu

2. Meskipun kami pindah rumah, yang pindah sekolah hanya Kai. Dia harus masuk ke SD negeri di dekat rumah. Tapi sedekat-dekatnya juga butuh 20 menit untuk jalan kaki ke SD! Cerita pindah sekolah akan aku tulis terpisah, tapi yang pasti setelah pindah sekolah, Kai lebih banyak tertawa dan banyak teman! Ternyata sekolah yang baru jauh lebih baik daripada sekolah di Nerima. Dan ini melegakan kami selaku orang tua. Karena biasanya terdengar kasus bully pada anak yang pindah sekolah.

setiap pagi mereka harus berangkat bersama dalam kelompok

3. Riku tetap bersekolah SMA yang sama. Yang waktu di Nerima jauh, tetapi sekarang menjadi dekat. Memang kami pindah ke kota yang dekat dengan tempat kerja Gen, dan SMA nya Riku. Untuk Riku tidak ada masalah. Tapi di tahun 2019, dia mendapat dua penghargaan, yaitu satu penghargaan tentang catch phrase bertemakan lingkungan hidup dari pemda kota kami, dan satu lagi penghargaan dari perusahaan teh botol Itoen atas haiku yang dibuatnya. Sebagai hadiah, haiku dan nama Riku dicantumkan dalam label botol, dan kami dikirimkan satu kardus teh hijau botolan dengan haiku Riku. Riku juga mengikuti test bahasa Inggris dan mendapat nilai yang lumayan, mengingat dia baru “bersemangat” belajar bahasa Inggris sejak masuk SMA.

4. Waktu Riku masuk SMA, dia tanya apakah dia boleh pergi ke Inggris. Saat itu kami katakan, dengan bahasa Inggrisnya yang sekarang (kelas 1) tidak mungkin bisa. Lebih baik, brush up bahasa Inggrisnya dulu selama setahun, dan di kelas dua, pada musim panas boleh summer camp di LN Dia setuju dan berusaha belajar bahasa Inggris lebih giar. Aneh sekali memang anakku ini, dia nomor 1 untuk bahasa Jepang, tapi untuk bahasa Inggris, yah sedikit di bawah rata-rata deh. Kadang merasa malu juga, tapi aku sendiri tidak pernah mau memaksa anak-anak harus bisa. Percuma deh dipaksai. Dengan janji bahwa dia boleh ke LN di kelas dua, dia jadi semangat deh. TAPIIIIIII, aku lupa akan janji aku. Jadi waktu sekitar bulan Februari dia katakan, “Ma, aku kan naik kelas 2 nih, aku mau ke Inggris pada libur musim panas”… jreeeeng. Panik deh mamanya 😀 tidak siap keuangan. Tapi… ya, akhirnya aku cari dong tiket yang murah dan atur sana sini. Ceritanya terpisah ya? Yang pasti tahun 2019, Riku pergi ke UCLA di Amerika, Inggris (London dan sekitarnya), Belanda, Singapore dan Malaysia. Beuh, kayak anak kaya aja! Satu musim panas dihabiskan di 5 negara! 😀

Foto kenangan di dalam gereja, yang letaknya hanya 50 meter dari apartemen papa di London, dan aku bisa menemukan tempat ini. Napak tilas. Difoto oleh supir kami dari Afganistan: Ash.

5. Kai tidak ikut ke Inggris, dia sendiri mengatakan tidak mau. Alasannya dia tidak suka makanan di pesawat. Jadi, Kai tinggal di rumah selama 2 minggu bersama papanya. Dia hanya pergi ke Nikko bersama rombongan sekolahnya. Tapi di karya wisata itu, dia menjadi kepala kelompok. Kelihatannya dia cocok menjadi “ketua” karena termasuk pendiam dan serius. Mana badannya lebih besar (dan tinggi) dibandingkan teman lainnya. Dia juga ketua kelompok untuk berangkat sama-sama ke sekolah setiap pagi!

Kai berangkat ke Nikko, masih gelap waktu dia harus berangkat sendiri ke sekolah.

6. Mama Imelda selama tahun 2019 menemani Riku ke Inggris dan Belanda. Pertama kalinya aku LIBUR dua minggu dari tugas rumah 😀 dan 2 minggu itu lama booo… kelamaan 😀 Sebetulnya mungkin kalau bisa pakai bath tub untuk berendam, aku tidak merasa lama. Ternyata aku sudah menjadi orang Jepang yang merindukan berendam air panas hehehe. Selain ke Inggris dan Belanda, aku juga ke Osaka untuk seminar, dan ke Jakarta untuk menghadiri konferensi Leksikografi dari Badan Bahasa. Bulan Desember, aku ke Niigata untuk mengadakan kegiatan RBI di Niigata.

Salah satu tujuanku ke Belanda adalah untuk bertemu Kiki! Sahabat maya yang kukenal hampir 15 tahun, dan pertama kali bertemu muka. Kiki menjemput aku di Schiphol! Karena Kiki, aku ngeblog….. (Foto di sebuah cafe di Den Haag)

7. Dari segi kerjaan, aku masih seperti tahun sebelumnya. Mengajar di 3 universitas/sekolah, di kemenlu dan kursus bahasa dari KBRI dan mengelola Rumah Budaya Indonesia (RBI) yang menampilkan kegiatan bulanan. Yang terbesar adalah yang ke Niigata, karena membawa rombongan 17 orang pengisi acara. Itu di bulan Desember (tgl 7 ) dan seminggu sesudahnya, aku juga harus mengurus pelaksanaan kebaktian Natal KMKI, karena kebetulan aku yang menghubungi penyanyinya. Dua minggu itu aku kebanyakan tinggal di hotel (Jumat-Sabtu-Minggu) karena ya rumahku jauh sedangkan badanku tidak kuat lagi. Desember adalah bulan yang sibuk! Makanya aku tidak bisa menuliskan 8 Besar th 2019 hehehehe (alasan!)

Mengantar Michael ke Haneda bersama Sanchan. Terima kasih atas suara yang merdu ya Mike!

8. Pada tahun 2019 ada sebuah film yang menceritakan tentang Saitama, daerah tempat tinggalku. Judulnya Tonde Saitama 跳んで埼玉, film berdasarkan komik mangga. Sepertinya setiap warga Saitama wajib menonton deh. Tapi deMiyashita yang menonton baru Riku (dia menonton di bioskop dengan temannya), dan SAYA! yeay! Biasanya kan aku tidak suka menonton, tapi kali ini aku menonton loh…. bukan di bioskop tapi di dalam pesawat hahaha. Perjalanan ke Inggris kan lama, jadi aku bisa menonton banyak deh. Ada 4 judul film yang aku tonton, dan salah satunya ya Tonde Saitama ini.
Tahun 2019 merupakan tahun yang bersejarah untuk Jepang juga, karena Kaisar baru dan nama tahun juga baru. Tahun Reiwa. Tahun kedatangan Paus ke Jepang. Tahun pembukaan Moomin Park yang berada 20 menit naik mobil dari rumahku. Aku sudah 3-4 kali ke Moomin Park ini.
Tapi tahun 2019 juga ditandai dengan bencana taifu yang cukup membawa korban. Dan satu lagi yang tidak boleh dilupa, pajak pembelian naik dari 8 % menjadi 10%!

Moomin Park di bulan Desember 2019

Akhirnya selesai deh 8 besar dari Sayama edisi tahun 2019. Sedapat mungkin akan kuteruskan kebiasaan menulis 8 besar kejadian yang terjadi dalam keluarga kami satu tahun, sebagai pengingat dan kenangan.

9 tahun berlalu

11 Mar

11 Maret 2011, terjadi gempa bumi Tohoku yang begitu dashyat. Sembilan tahun berlalu, tapi tragedi itu masih belum bisa terlupakan.

Seorang Abe, petani. Dia sedang mengurus rumah kacanya yang terletak di belakang rumahnya, saat tsunami terjadi. Dia bisa selamat karena berpegangan pada tiang listrik. Tapi ibunya, istrinya dan 3 anaknya yang mengungsi di tempat yang sudah ditentukan tidak tertolong karena tempat pengungsiannya tertelan tsunami.

Abe sendiri mencari keluarganya keesokan harinya. Ditemukan jenazah, sudah kaku. Tidak diketahui jenazah siapa karena tertutup lumpur semua. Harus membersihkan lumpur di muka, di hidung, untuk mengetahui siapa dia 🙁 …. itu yang Abe ceritakan tapi bisa menggambarkan betapa hatinya hancur, harus menerima kenyataan bahwa 5 orang yang dikasihinya harus meninggal dalam waktu yang bersamaan. Selain keluarga, dia juga kehilangan perkebunannya dan pekerjaannya.

Kalau tidak ada 2 temannya yang juga petani dan korban tsunami, yang mengajaknya untuk bangun dan memulai lagi perkebunan, dia mungkin sudah jadi “mayat hidup”. Dia bisa bangkit berdiri, mendirikan perkebunan lagi dan berhasil mempekerjakan 60 orang staf. Tujuannya bukan untuk kebahagiaannya sendiri, tapi dia selalu berkata bahwa dia melakukan untuk orang lain, toh dia sudah tidak punya keluarga lagi.

“Kita masih diberikan kehidupan, jadi kita harus hidup terus”, itu yang temannya katakan pada Abe. Namun kesusahan Abe tidak berhenti karena tahun lalu terjadi badai dan meluluhlantakkan rumah kacanya LAGI! tapi dia tetap semangat, dan dalam pembicaraannya aku tahu seakan dia mau bilang, “Badai itu kecil, dibanding Tsunami saat itu”. Dan dia tetap berkarya.

Hari ini, pelangi terlihat di tempat yang terkena tsunami. Pelangi Harapan.

Saat ini Jepang sedang mengalami “cobaan” dengan COVID19. Sekolah diliburkan, pegawai dirumahkan, barang sanitasi seperti masker, tissue beralkohol, toilet paper dan tissue kotak habis. baru segitu saja, sudah banyak yang merasa susah! Banyak teman-teman Indonesia di sini yang mengeluh, dan stress karena takut dengan kemungkinan terjangkit. Kadang kupikir, kenapa ya orang-orang tidak bisa berpikir jernih? Diliburkan kan maksudnya supaya tidak tertular? Bisa merasakan anak-anak libur di rumah kan suatu “berkat” karena berarti kita punya banyak waktu dengan anak-anak? Dan apa susahnya sih tidak ada barang-barang sanitasi itu? Masih banyak cara lain kok. Mengeluh? Abe san itu sudah bukan mengeluh lagi tapi menangis darah! Jangan manja ah.

Doa terbaik untuk semua korban, semua yang kehilangan dan semua yang terdampak kejadian tragis 9 tahun yang lalu.

合掌 (gassho) mengatupkan kedua tangan (untuk berdoa)

Hari ini aku harus pergi ke SD untuk mengambil barang-barang Kai yang belum terbawa di hari Jumat, 28 Februari lalu, terakhir dia bersekolah. Karena permintaan pemerintah, semua SD- SMP negeri di daerah kami mendadak libur. Padahal mestinya masih ada 20 hari sekolah sebelum spring vacation.

Aku bertemu dengan gurunya, dan setelah mengambil barang-barang Kai, aku mengucapkan terima kasih padanya. Semoga tgl 24 Wisuda tidak dibatalkan, karena kemarin pemerintah meminta lagi perpanjangan waktu untuk memutuskan wabah corona sampai akhir Maret. Disneyland pun yang tutup sampai tgl 14 Maret, diperpanjang sampai akhir Maret.

Sepulang dari SD, aku mampir ke toko bunga langganan, untuk membeli bunga (lagi). Mumpung sudah mulai hangat, bisa berkebun di halaman rumah yang kecil.

Beli tulip potong juga. Karena kami sedang berusaha membantu florist Jepang yang overstock bunga potong karena banyak event yang dibatalkan. Eh pas mau pulang oleh pemilik toko aku dibagi satu cabang Sakura. Asyik.

9 Maret

10 Mar

Hari ini tanggal 9 Maret. Kebetulan ada sebuah lagu dari grup rock band Jepang beranggotakan 3 orang yang bernama Remioromen レミオロメン yang berjudul 9 Maret 3月9日. Lagu ini sering dipakai untuk lagu wisuda. Memang saat-saat ini banyak sekolah yang mengadakan wisuda ya?Jadi memang tepat. Tapi kalau kita mencari arti dari lagu ini, akan keluar penjelasan kenapa lagu itu berjudul 9 Maret.

Ternyata tanggal itu sebenarnya adalah hari pernikahan seorang teman dari mereka bertiga! Memang kalau melihat Music Videonya kita bisa melihat diawali dengan wisuda SMA, lalu ada penikahan di jinja.

Sayangnya kelompok ini sudah bubar sejak tahun 2012 dan masing-masing anggotanya melanjutkan karir musik masing-masing. Mantan vokalis Fujimaki Ryouta mengeluarkan album yang cukup aku sukai, dan sempat ngetop tahun 2018.

9 Maret dinyanyikan oleh Remioromen

Tapi aku kalau mendengar 9 Maret itu jadi sedih, apalagi kalau membaca komentar di Youtube. Gara-gara corona virus, tidak ada upacara wisuda! Kebetulan Kai juga lulus dari kelas 6 SD, dan diputuskan oleh sekolahnya bahwa tetap ada wisuda pada tanggal 24 Maret nanti, TAPI hanya dihadiri oleh murid dan guru saja, orang tua tidak bisa melihat. 🙁

Bahkan sebelumnya tanggal 4 Maret yang lalu, semestinya mereka ada pelepasan 送る会OKURU KAI、murid kelas 6 “dilepas” kelas 1 sampai 5 dengan berbagai pertunjukan, dan diakhiri dengan 門出を祝うkadode wo iwau melepas wisudawan keluar dari bangunan SD. Sekolah kakaknya dulu menyatukan wisuda dengan kadode.門出Kadode sesuai kanjinya adalah 門 kado (bisa dibaca juga dengan mon) dan 出 de (deru). Keluar dari gerbang. Istilah ini awalnya dipakai untuk pelepasan kapal yang akan berangkat. Sekarang dipakai untuk melepas wisudawan untuk berangkat ke kehidupan baru (jenjang yang lebih tinggi).

Wisudawan akan berjalan melewati barisan kohai (juniornya) yang memegang lengkungan bunga. Ini dinamakan花道HANAMICHI. Jalan bunga. Hanamichi sendiri bermula dari pentas kabuki. Ada jalan khusus yang melewati penonton dari pintu ke panggung. Sehingga penonton bisa melihat pemain kabuki dari dekat. Kemudian kebiasaan dalam kabuki ini dibawa dalam upacara wisuda di sekolah.

Padahal kanji 花道 bisa dibaca sebagai hanamichi, tapi juga bisa dibaca sebagai KADO jalan bunga, way of flower, seni merangkai bunga ala Jepang. Memang ada beberapa kanji yang bisa dibaca dengan dua cara, onyomi dan kunyomi, dan artinya berbeda. Waktu saya baru belajar bahasa Jepang ditest dengan kanji 大和. Tentu saya tahu dong bahwa kanji itu bisa dibaca sebagai DAIWA tapi juga bisa dibaca sebagai YAMATO.

Sayang sekali anakku tidak mengalami Hanamichi, suatu kebiasaan wisuda Jepang. Tapi nanti ingin akan aku bawa dia hanamichi yang benar-benar, yaitu mencari jalan yang mempunyai 桜並木sakura namiki deretan sakura di kanan kiri. Paling tidak bisa mengobati kesedihan mamanya tidak bisa melihat wisuda anaknya (padahal anaknya cuek bebek tanpa wisuda pun dia tidak sedih… katanya)

Pada hari terakhir 29 Februari, saat semua sekolah negeri di Jepang diminta untuk meliburkan diri oleh pemerintah demi memutus wabah COVID19, aku bertanya pada Kai

“Kamu ngga nangis?”.
“Sensei dan teman-teman nangis”
“Kamu?”
“Ngga lah. Kan setiap ada perjumpaan pasti ada perpisahan”
Ealah… anakku dewasa amat.
Tapi beberapa hari setelah itu pas aku cerita sama papanya>
“Pa, Kai ngga sedih loh waktu terakhir di kelas”
Dia langsung jawab
“Mamaaaaa, aku tidak nangis. Bukan berarti aku tidak sedih! Emangnya aku ngga punya hati?”

Syukurlah, dia masih merasa sedih, tidak DINGIN hatinya hehehe.

Sekarang, aku tidak begitu sedih. Ntah pada tanggal 24 nanti, saat mengantar dia berangkat ke sekolah untuk acara wisuda dengan memakai setelah jas seragam sekolah SMP nya…..

Dan berdoa semoga upacara penerimaan masuk SMP tetap diadakan ….

Hari Membaca dan Menulis (blog)

27 Okt

Tanggal 27 November hampir habis, tapi karena aku baru sampai rumah dari menjenguk mertua, cepat-cepat deh menulis di blog. Soalnya hari ini adalah hari yang (cukup) penting bagiku.

Di Jepang hari ini adalah 読書の日 どくしょのひ DOKUSHO NO HI, hari untuk membaca. Hari ini juga merupakan permulaan dari pekan baca yang berlangsung selama dua minggu, sampai tanggal 9 November, setiap tahunnya.

Awalnya pada tahun 1924, Asosiasi Perpustakaan Jepang menetapkan tgl 17-23 November sebagai “Pekan Perpustakaan” dengan maksud meningkatkan pemakaian perpustakaan. Lalu tahun 1933, berubah menjadi “Festival Membaca”. Tahun 1939 dihapus, karena terjadi perang.

Selesai perang, tahun 1947 dibangkitkan kembali menjadi “Pekan Membaca” dengan maksud membangun negara yang berkebudayaan dan damai. Lalu karena pada tanggal 3 November adalah Hari Kebudayaan, maka jangka waktu dipindah menjadi sebelum dan sesudah Hari Kebudayaan dan diperpanjang menjadi dua minggu.

Selain menjadi “Hari Membaca”, tanggal 27 Oktober juga menjadi “Hari Huruf & Cetakan”. Karena tanpa huruf dan dicetak menjadi buku atau koran/majalah, manusia tidak dapat mendapatkan pengetahuan dan tidak bisa mewariskan pengetahuan itu menjadi berkesinambungan.

Sambil menulis ini saya tiba-tiba ingin tahu jumlah perpustakaan di Jepang ada berapa. Ternyata menurut data tahun 2006, di seluruh Jepang 3.083 perpustakaan umum, ditambah dengan 1.658 perpustakaan universitas/akademi =4714 perpustakaan. (data dari http://www.1book.co.jp/001002.html )

Kebanyakan perpustakaan umum di Jepang memang dikelola oleh pemerintah daerah. Di rumahku yang baru ini juga ada sebuah perpustakaan pemda yang bertingkat 5. Aku sendiri belum pernah masuk ke dalamnya, tapi anak-anakku sudah dan sudah memiliki kartu anggota.

Keluarga kami memang jarang meminjam buku di perpustakaan. Karena biasanya kami ingin memiliki bukunya. Saya, Riku dan Kai juga membaca buku elektronik, tapi suamiku tidak. Dia masih lebih suka baca buku berupa kertas. Riku pernah menyeletuk ingin menjadi pustakawan, tapi kelihatannya sudah berubah. Yang pasti memang dia masih berminat pada bidang budaya, filsafat dan sejarah.

Yang dibaca Riku beberapa waktu lalu, buku terjemahan dari Georges Bataille “Literature and Evil”

Aku sendiri sudah lama tidak membaca buku. Masih banyak pekerjaan yang menuntutku untuk menulis. Tapi aku biasakan baca surat kabar (baik kertas atau online) setiap hari meskipun hanya judul-judulnya saja. Sayangnya membaca surat kabar tidak termasuk dalam DOKUSHO. Dokusho itu harus buku 😀

Bersamaan dengan Hari Membaca di Jepang, di Indonesia hari ini merupakan hari Blogger Nasional. Cukup banyak teman-teman bloggerku yang sudah berhenti menulis. Tidak sampai lima orang yang kuketahui masih menulis secara reguler. Akupun sempat berhenti menulis karena pindah rumah. Menulis itu bagiku sebetulnya mudah, banyak kok bahan tulisan. Tapi mencuri waktu untuk menulis blog itu yang sulit. Memang akhirnya harus mengorbankan waktu tidur hehehe. Karena itu, mumpung sudah mulai menulis blog lagi, aku harus memaksakan diri untuk melanjutkannya. Kalau tidak bisa hiatus berkepanjangan lagi, dan melupakan janjiku untuk bisa menulis sampai mati 😀

Akigari

18 Okt

Aki Cari Daun TUA

Haiyah… biasanya Aki-aki kan cari daun muda ya 😀 Hush! Bukan Aki yang artinya kakek atuh! Kalau kakeknya bahasa Sunda, MUNGKIN memang sukanya mencari daun muda 😀

Bahasa Jepangnya musim gugur adalah AKI 秋. Musim yang paling saya sukai, tapi mau tidak mau membuat melankolis.  Bagaikan hidup manusia, musim semi adalah masa-masa anak-anak sampai remaja, musim panas adalah masa bekerja dan menikmati hidup, musim gugur pensiun dan bertanya-tanya untuk apa lagi saya hidup, dan musim dingin adalah masa dimana manusia lanjut usia yang merasa dingin karena tidak ada perhatian lagi dari sekelilingnya. TAPI itulah hidup. Kita harus menghargai hidup, dan itu juga membuat saya lebih memilih “Musim Gugur” daripada “Musim Rontok”, meskipun banyak juga yang mengatakan demikian.

Ya…saya lebih memilih kata musim gugur untuk mewakili autumn daripada kata musim rontok. Gugur itu kesannya indah…. daun jatuh sesudah paripurna menjalankan tugasnya, sama seperti pahlawan yang gugur di medan perang. Si Daun dan Pahlawan sudah mengorbankan “Jiwa” nya bagi sekelilingnya. Daripada kata rontok, yang kesannya “sakit”. Kita pasti akan berkata, rambut saya rontok… bukan rambut saya gugur kan? Kesannya rontok itu menyebabkan sesuatu yang tidak bagus. Yang sakit.

OK kembali lagi ke si AKI 😀 Musim gugur di Jepang memang menyenangkan. Setelah berpanas-panas di musim panas, meskipun siang hari masih sering panas, pagi dan malam harinya udara kering dan sejuk. Begitu tonggeret atau cicadas berhenti cerewetnya, digantikan dengan rombongan capung-capung beterbangan. Sayup-sayup terdengar teriakan anak-anak yang undokai 運動会 atau teriakan mahasiswa menjual yakisoba 焼きそば yakitori 焼き鳥 jualannya di festival kampus 大学祭 Daigakusai. AKI sering dikatakan sebagai Supotsu no aki スポーツの秋 atau Bunka no Aki 文化の秋.

pemandangan musim gugur sekitar November tahun 2014

Seiring dengan menguningnya padi 稲 いねpanenan anggur 葡萄dan chestnut 栗 kalau kita mendongak ke awan, terlihat awan yang berbentuk macam-macam. Ada yang berombak-ombak, ada yang tipis-tipis dengan nama bermacam-macam. Ada hitsuji gumo 羊雲 (awan domba), urokogumo 鱗雲 (awan sisik), iwashigumo いわし雲 (awan ikan iwashi/ sardin) dan lain-lain. Sungguh menarik melihat awan-awan di musim gugur. Memang dinamakan seperti ini karena bentuknya mirip. Panen buah, panen berbagai jenis kinoko キノコ類 (jamur) dan hasil laut membuat julukan Shokuyoku no aki 食欲の秋 (musim NAFSU MAKAN!) itu tepat sekali ya. Mesti lihat timbangan badan sering-sering nih.

Karena pemandangan di musim gugur ini indah, banyak program wisata menawarkan MOMIJIGARI 紅葉狩り, mencari daun-daun yang berubah warna 紅葉 kouyou. Agak sulit menerjemahkan kata KOYO atau KOUYOU ini ke dalam bahasa Indonesia, karena memang di Indonesia tidak mengenal si AKI kan? Terpaksa menjelaskan sebagai “daun yang berubah warna kuning dan merah”. Puanjang deh 😀

Saya rasa sudah banyak teman yang mengetahui istilah -gari ~ がり

狩り karena sejak musim semi sudah ada Ichigo-gari いちご狩り memetik buah stroberi dan makan di tempat. Kesuksesan Ichigo gari membuat banyak perkebunan yang membuat paket-paket wisata dengan buah-buahan lain, seperti mikan (jeruk), cherry, apel, anggur dan lain-lain.

~gari ~狩り adalah kata bendanya dari 狩る yang artinya berburu, menangkap. Menangkap beruang, rubah, burung atau binatang liar lainnya karena mengganggu atau sebagai hobi. Soal setelah ditangkap itu dimakan atau tidak itu soal belakangan. Kalau Ichigogari meskipun bukan hama, memang hasil akhirnya dimakan ya? Nah kalau Momijigari 紅葉狩り, kan tidak ditangkap dan tidak dimakan ya? Jadi sebetulnya pemakaian kata ~gari ini untuk momiji agak berlebihan. Meskipun kita tahu “berburu momiji” itu lebih menekankan pada proses pencarian letak pemandangan itu di mana, dan melangkahkan kaki ke sana. Setelah sampai mungkin kita “menangkap” pemandangan itu dalam lensa kamera kita (so pasti lah). Jadi ~gari cocok-cocok saja kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “berburu” ya.

Yang saya heran-seheran-herannya, untuk menyelesaikan program S2 dulu sekali 😀 , saya harus mengambil mata kuliah pilihan. Dan saya memilih “Sejarah Pemikiran Eropa 西欧思想史“, sepertinya menarik, dan saya amat berharap kuliahnya akan memakai buku teks bahasa Inggris. Maklum sudah terlalu banyak baca bahasa Jepang (dan cukup kuno) sehingga eneg dan ingin baca alfabet dong. Tapi ternyata, kuliah itu diikuti oleh SATU orang! Hanya saya sendiri, dengan si dosen bapak tua (ya beneran AKI nih). Dan spesialisasi dia adalah MAJOGARI 魔女狩り haiyah! Majo = witches jadi BERBURU PENYIHIR WANITA! Haduh… mau batal ambil kuliah itu ngga enak. Mungkin karena saya pengajar juga, saya merasa kasihan kalau saya tidak ambil mata kuliahnya, berarti dosen itu tidak dapat gaji dong! Hahahaha (padahal sih mungkin dia suka-suka saja tidak usah mengajar gaijin satu ini! Dan dia kan gajian, bukan honorer seperti saya 😀 ) Terpaksa deh saya ambil kuliahnya satu semester, dan menghasilkan presentasi “Inisiasi masyarakat Bali” バリ社会の通過儀礼 (jangan tanya ya isinya apa saja, karena sudah lupa hahaha).

Dalam musim gugur tahun 2019 ini, saya cukup sibuk sehingga agak sulit membuat waktu untuk gari-gari, berburu musim gugur. Tapi masih bisa memburu garigarikun heheheh ガリガリ君 (Garigari kun adalah merek es loli yang cukup bervariasi rasanya, dan menjadi favorit anak-anak. Dan saya paling suka yang rasa buah pear)

(sebuah tulisan yang pernah diterbitkan untuk FB Group WIB-J (Wanita Indonesia Berkarya di Jepang) bulan Oktober 2018.

Nagara

17 Okt

Kebetulan sekali hari ini aku bisa pulang kerja bersamaan dengan Gen. Karena naik kereta cepat, kami bisa sampai di stasiun rumah kami pukul 18:15. Karena anak-anak di rumah sudah lapar, kami akhirnya memutuskan untuk membeli tonkatsu, daging goreng untuk lauk makan malam. Tadinya sih mau masak, tapi berarti butuh waktu paling cepat 30 menit lagi untuk makan malam. Nah, waktu kami turun eskalator itu, aku melihat pedagang yang memang kadang-kadang mangkal di situ. Biasanya aku tidak begitu perhatian, tapi …. dia membunyikan peluit, yang bunyinya sangat akrab di telingaku. Dulu di Nerima, setahuku bunyi itu adalah bunyi tukang tahu (mentah) keliling. To—–fu—— terdengar seperti itu. Karena penasaran aku mendengar celotehan dia (biasanya aku cuekin hehehe). Ternyata dia menjual tahu, natto (kacang kedele yang difermentasi) dan yuba (kulit tahu) mentah. Hmmm

kulit tahu mentah (YUBA)

Kami berdua sebetulnya sudah cukup jauh melewati dia, tapi karena Gen tahu bahwa istrinya sedang penasaran 😀 dia mengajak aku kembali. Paling sedikit kita beli tahu deh. Aku minta tahu sutra, dan memberikan uang seribu yen. Ternyata harganya 350 yen. Mahal! Pantas jarang ada yang mau beli. Tapi terus aku menanyakan soal Yuba. Yuba itu kalau di Indonesia memang adanya yang sudah dikeringkan. Kulit tahu yang tipis, lalu waktu mau dipakai direndam air dulu. Almarhum mama sering memasak yuba untuk membuat kimlo. Tapi di Jepang justru tidak populer Yuba kering. Adanya yuba yang mentah, dan dimakan begitu saja (sashimi). Dibubuhkan kecap asin dan wasabi kalau mau. Tapi yuba ini tidak setiap saat ada. Karena aku tahu yuba itu jarang, jadi aku minta yuba juga. Pas si tukang tahu itu memberikan uang kembalianku, 650 yen. Ternyata harga Yubanya 650 yen! Pittari, pas deh.

Si tukang tahu memperlihatkan peluitnya

Lalu Gen menanyakan peluitnya seperti apa. Dia kemudian menunjukkan potongan seperti bambu, dan dia bunyikan. To—–fu—–. Aku cerita padanya bahwa aku tahu bunyi itu adalah penjual tahu bersepeda, tapi selama ini belum pernah bisa bertemu langsung dengan penjualnya. Memang katanya dulu penjual tahu naik sepeda berkeliling sambil membunyikan peluit itu. 昔ながらの豆腐 Mukashinagara no tofu. Tahu jaman baheula.

Nah sambil pulang, aku penasaran dengan kata MUKASHINAGARA. Tahu artinya, dan sering dengar, TAPI apa bedanya dengan ARUKINAGARA? 歩きながら itu artinya ‘sambil berjalan’. Bentuk -nagara memang berarti sambil, dan sering sekali dipakai. Sampai-sampai ada slogan terbaru 歩きスマホ、スマホながら Jalan sambil main HP atau main HP sambil mengerjakan yang lain. Yang pasti mukashinagara itu mestinya TIDAK SAMA dengan arukinagara, sambil berjalan itu.

Kamus sakti KOJIEN 広辞苑

Penasaran deh, apa ada arti -nagara yang lain. Tanya Gen juga tidak tahu, jadilah kami berdua cari di kamus sakti KOJIEN 広辞苑. Dan menemukan memang -nagara itu tidak selalu harus ‘sambil’, yaitu melakukan dua pekerjaan bersamaan. Ternyata bisa juga berarti そのままで ‘begitu terus’, dari dulu sampai sekarang, terus menerus. 涙ながら berairmata (menangis) terus itu bentuknya sama dengan mukashinagara. Lalu yang lain lagi adalah berarti けれども, ‘meskipun’. Seperti dalam contoh 春ながら雪ぞ降りつつ Meskipun sudah musim semi, masih bersalju. なっとく!Penasarannya terjawab deh.

Dan aku menutup tulisan hari ini, karena tadi aku menulis sambil masak. 料理しながらブログを書く. Karena masakannya sudah selesai, blognya juga harus diselesaikan. 😀

Badai Ha(GI)BIS

13 Okt

Kami sudah diberitahu bahwa tanggal 12 Oktober akan datang badai terbesar dalam sejarah yang dinamakan super typhon Hagibis. Terakhir yang terbesar terjadi tahun 1956, jadi sekitar 60 tahun yang lalu. Saat itu korban meninggal 1200 orang.

Hari kamis aku pergi belanja. Biasa saja, bukan untuk cadangan makanan selama badai. Sama sekali tidak terpikir soal “jika terjadi mati listrik”. Jadi waktu aku melihat postingan teman-teman tentang persiapan mereka, aku “mulai” panik. Tapi kami selalu siap makanan dan minuman untuk darurat. Tinggal cek batere senter saja. Kami juga merasa kami tidak perlu menyiapkan ransel mengungsi karena rumah kami jauh dari sungai dan tinggi letaknya. Kalau 80 persen rumah daerah kami tertutup air, baru kami kemasukan air.

Hari Sabtu sebenarnya anak-anak harus sekolah, dan Gen juga harus kerja. Tapi jumat siang-sore, dapat berbagai email dari universitas-universitas tempatku mengajar bahwa mereka membatalkan semua kuliah di hari Sabtu. Kemudian datang email dari sekolah ke dua anakku, dan terakhir dapat message dari Gen bahwa dia libur. Horree….dan harus putar otak menyiapkan makanan untuk 3 kali makan 😀 Akupun langsung menuju rumah begitu kerjaan selesai. Dan sambil berjalan pulang, kubaca papan-papan pengumuman bahwa stasiun dan toko akan tutup satu hari besok. Hmmm bakal jadi kota mati deh.

Cukup mendebarkan menantikan dia datang. Apalagi kami sambil melihat TV yang menyiarkan berita dari tempat-tempat yang sudah dilewati. Pagi hari Gen sudah memasukkan tanaman kesayangan  Papaya dan kunyit. Kupikir tanaman lain, kalaupun rusak ya sudah, relakan saja. Nanti beli lagi yang baru. Pas bunga-bunga sudah hamper habis musimnya juga, dan kami belum beli bunga musim gugur.

Barang berharga diungsikan dalam rumah 😬 papaya dan kunyit

Yang paling penting adalah mengecek apakah ada barang-barang di luar rumah atau di teras atas yang mungkin bisa diterbangkan angin. Jadi kami juga menidurkan sepedaku dan sepeda Riku supaya tidak jatuh sembarangan.

Sebagai persiapan sebelum badai, sepeda sudah “ditidurin” dulu, sambil bilang “selamat bobo sayang” 😬🤣

Akhirnya si Hagibis datang sekitar pukul 9-10 malam. Sebelumnya sekitar pukul 6:20 sore terasa gempa. Oi jangan datang barengan dong 😀 Anginnya benar-benar kencang sampai shutter penutup jendela sebelah barat rumah kami bergetar dan mengeluarkan suara yang menakutkan. Untung kami berempat berkumpul di meja makan sambil ngobrol. Mungkin kalau sendirian ngeri juga. Kira-kira satu jam, angin pun berlalu dan hujan pun mereda. Kami bisa tidur dengan nyenyak.

Minggu pagi seperti biasa aku pasti bangun pukul 5. Masih berangin tapi agak hangat. Memang angin badai membawa kelembapan sehingga terasa berat. Dan hari ini suhu diprediksi naik 4 derajat menjadi 29 derajat. Panas, terik. Kulihat di aplikasi, kereta sudah mulai jalan tapi belum lancar. Sambil menonton TV, aku melihat korban dan kerugian yang cukup besar terjadi di berbagai daerah di Jepang.

Karena di TV juga diberitakan bahwa ada sungai dekat rumah yang pecah tanggulnya, kami jadi ingin melihat kondisi sekitar rumah kami. Berdua Gen, aku melihat sekitar rumah tidak terjadi kerugian. Hanya bunga matahari yang tumbang. Lalu kami naik mobil menuju kantor dan sekolah sekaligus membeli roti di toko roti langganan kami.

Ternyata untung sekali sungai besar dekat rumah tidak meluap. Kebanyakan korban di daerah-daerah justru karena tanggul jebol sehingga banjir. Konon daerah kami hanya dua rumah yang kemasukan air (banjir). Dan seperti biasa, sesudah badai langit cerah, bersih tersapu badai.

Sungai besar yang berada dekat rumah, tidak melampaui batas jembatan. Di samping-sampingnya malahan kami bisa lihat orang sudah berlatih base ball dan sepak bola.

Ada sebuah video yang beredar di Indonesia tentang taifu yang memperlihatkan mobil terbalik. Itu memang video lama. Karena bisa dilihat dari nomor taifunya. Di video no 21 sedangkan Higibis kemarin nomor 19. TAPI situasi seperti ini PASTI terjadi dalam setiap taifu, karenanya kemarin semua sekolah, kantor, toko libur dan pemerintah mengeluarkan imbauan agar tidak keluar rumah kalau tidak perlu. Ada dua laki-laki muda yang keluar mungkin untuk membersihkan parit, ya hanyutlah. Satu tertolong, satu hilang. Ada satu bapak tua yg tinggal di apartemen tingkat satu (lebih rendah dari jalan) yang kemasukan air sungai ditemukan sudah meninggal.

Tiap tahun ada badai sekitar 30 kali, besar kecil. Mulai bulan Juli sampai Oktober. Kali ini no 19 jadi sebelumnya sudah lumayan banyak. Badai No 15 membawa korban cukup banyak di Chiba, yaitu mati listrik sampai sekarang (sudah 1 bulan lebih masih ada yg tidak berlistrik). Karena tiang listriknya roboh dsb. Kami sih percaya kalau dibilang akan datang badai besar, karena sudah ada hitungan besar/kekuatannya, arahnya dan prediksi kapan “mendarat”nya. Jadi semua pasti mempersiapkannya.

Yang begitu siap saja masih ada korban. Kebanyakan orang tua yg hidup sendiri. Mereka pikir, kalau bukan saya yang kerjakan siapa lagi. Pas keluar rumah, jatuh dan tidak ada yang tahu. Masih banyak yang ngeyel juga, anak-anak mudanya mau motret untuk IG mungkin ya hehehe. Yang pasti semua sudah “diperintahkan” diam di rumah, nah kalau masih keluar rumah itu tanggang jawab masing-masing. KECUALI kalau disuruh ngungsi ya. Pegawai pemda kemarin banyak keliling rumah-rumah sekitar sungai dan bawa lansia ngungsi ke SD atau balai desa terdekat. Ada berita bahwa satu keluarga Indonesia juga diajak ngungsi. Sampai dengan aku tuliskan ini jumlah korban jiwa yang meninggal 19 orang, hilang 16 orang, listrik padam total 376.000 rumah dan 14000 rumah tidak mempunyai akses untuk air. Seandainya tidak ada persiapan? Tentu jumlah korban dan kerugian akan lebih banyak lagi. Untuk mitigasi, boleh dikatakan Jepang yang terbaik!

Gunung Sempit

8 Jan

Ini merupakan tulisan pertamaku, di tahun baru, di rumah baru, di desa.

Keputusan ingin pindah sebetulnya sudah sejak akhir tahun 2017, ketika Riku mulai ikut ujian-ujian masuk SMA. Karena memang kamu berencana pindah ke Saitama, maka dia tidak bisa mengikuti ujian masuk SMA Negeri di Tokyo. Pilihan dialihkan ke sekolah swasta di sekitar jalur kereta yang menuju ke Saitama. Tapi akhirnya pilihan jatuh pada sebuah sekolah swasta yang terletak di Sayama-shi. Sekolah swasta ini konon ranking 1 di daerah Saitama sehingga sebetulnya Riku tidak percaya diri bisa lulus. Tapi keuntungan mengikuti ujian sekolah swasta adalah, kamu bisa tahu kamu akan diterima atau tidaknya jauuuh sebelum teman-teman seangkatan mengikuti ujian masuk sekolah negeri. Karcis itu sudah di tangan! Meskipun Riku tidaklah pintar, dia sudah mengikuti bimbingan belajar sejak kelas 5 SD dan sudah mengikuti ujian try out beberapa kali. Dan hasilnya rata-rata saja selama ini.

Dia sangat kurang di nilai bahasa Inggris, tapi top di kelas bahasa Jepang! Aneh bin ajaib kan? Anak yang blasteran kok tidak bisa bahasa Inggris, malahan jago bahasa Jepang? Sampai suamiku berkata, “Kamu harus berterima kasih sama mama. Karena mama tidak memaksa kamu belajar bahasa lain!” Di rumah kami, memang bahasa pengantarnya bahasa Jepang. Riku tahu kata-kata/kalimat mudah bahasa Indonesia. Tapi dia tidak merasa perlu belajar! (Ini lain dengan Kai, yang sepertinya memang bisa membandingkan bahasa-bahasa dengan mudah… tapi tidak dipakai 😀 Soal komunikasi, Riku lebih jago … apapun bahasanya). Satu yang kutahu pasti mengapa Riku top di kelas bahasa Jepang adalah karena dia kutu buku! Tidak semua buku dia baca loh, dia punya selera tersendiri dalam memilih bacaannya.

Jadilah Riku diterima masuk ke SMA B di Saitama. Waktu berlalu begitu cepat, tapi aku belum bisa menemukan rumah yang pas untuk kami. Syaratnya terlalu banyak, maunya murah, dekat stasiun dan ada parkir untuk 2 mobil. Sudah ada 2 rumah yang lepas dari tangan kami, keburu dibeli orang lain. Tapi memang, jodoh tidak kemana! Akhirnya kami menemukan rumah yang sesuai syarat kami, meskipun kami harus menghapus syarat parkir 2 mobil. Hanya bisa 1 mobil! Tapi karena rumah ini dekat stasiun, hanya 5 menit jalan kaki, kami tidak perlu lagi mobil tambahan! Bungkus! 😀

Masalahnya kapan pindahan? Kami sudah bisa menempati rumah baru itu sebetulnya sejak Oktober, tapi…. aku sibuk setiap akhir pekan. November pergi ke luar kota/ ke Jakarta. Yo wis…. kami tetapkan Desember saja yuk! Jadi sementara kami tinggal di Tokyo, Gen dan Riku mengangkut barang-barang sedikit demi sedikit untuk di taruh di rumah lama. Sekalian ngantor dan sekolah.

Tapi ternyata … barang kami terlalu banyak untuk bisa selesai akhir Desember. Kami memang tidak mau memakai jasa pindahan, karena ingin menyortir barang apa yang hendak dibawa dan apa yang hendak dibuang. Karena barang-barang eletronik yang sudah kami pakai 19 tahun (sejak pertama tinggal) umurnya juga sudah terlalu tua dan patut diganti. Dan untuk membuang barang ini butuh waktu yang tidak cepat! Jadi, aku masih harus bebersih rumah lama meskipun sudah tinggal di rumah baru nih sekarang hehehe. Horang kayah, bisa tinggal di dua rumah \:D/

Tapi sejak bulan Oktober – November – Desember ini, kami amat menikmati percakapan-percakapan yang terjadi di dalam keluarga kami. Selama perjalanan melewati jalan tol yang menghubungkan Tokyo dan Saitama, pulang balik, banyak cerita yang bisa dinikmati. Family Quality Time.

Kami akhirnya resmi menjadi KENMIN (warga prefektur) dari TOMIN (warga Tokyo) tgl 26 Desember lalu.

Jumlah warganya pasti sudah bertambah 4 deh … (tapi suamiku bercanda, mungkin bertambah dengan kita, tapi berkurang dengan kematian lansia yang memang banyak tinggal di sini juga… ih kurang ajar deh hehehe)

Lalu kenapa judulnya Gunung Sempit?

Ya karena aku sekarang tinggal di Sayama, dengan kanji 狭山 sempit dan gunung (dibalik menjadi gunung sempit) . Dan memang betul karena dikelilingi gunung, udara di sini 3-5 derajat lebih dingin daripada di Tokyo! Brrrr….

mendaftar menjadi warga di sini tepat usia pernikahan kami yang ke 19

Ada satu keuntungan sejak kami pindah, yaitu mudah mencari makan di luar! Karena letaknya hanya 5 menit dari stasiun, dengan jalan kaki, kami bisa mencoba banyak restoran yang ada di sekeliling stasiun. Dan entah kenapa, di daerah kami juga banyak restoran ramen!

Semoga di tahun yang baru, aku bisa menemukan waktu lebih banyak sehingga bisa tetap menulis di Twilight Express ya.

8 Besar dari Nerima 2018

31 Des

Seperti biasanya di penghujung tahun, sejak tahun 2010, kami sekeluarga menetapkan 10 berita besar dari keluarga kami. Tapi aku sendiri menetapkan 8 saja, dan kuberi nama 8 Besar dari Nerima. Tahun depan, judul akan berganti, karena… kami pindah rumah.

  1. Imelda, seperti biasa sibuk sepanjang tahun. Setelah Februari terbit kamus Bahasa Indonesia, masih tetap mencatat perbaikan dan kata-kata yang belum termuat di kamus yang diterbitkan Shogakukan itu. Apalagi aku punya seorang murid yang rajin bertanya, sehingga membuatku tertolong karena dia sering menemukan kata yang terlewatkan tidak tercetak. Hampir setiap Sabtu, aku juga tidak berada di rumah karena ada kegiatan Rumah Budaya Indonesia (RBI) atau Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA). Kadang setelah acara pagi/siang, dilanjutkan sampai sore/malam dengan meeting-meeting. Kalau Kai berada di rumah pada Sabtu, aku mesti masak ekstra untuk makan pagi, siang dan malam. Untung anakku ini bisa menyiapkan makanan sendiri, sehingga kalau sampai aku tidak sempat memasak, dia akan masak telur atau makan cup noodle sendiri. Yang kasihan aku jadinya tidak pernah bisa mengikuti open school di SD nya. Sebagai puncaknya aku mesti ke Indonesia (sendiri) seminggu untuk menghadiri Kongres Bahasa Indonesia di Jakarta.
  2. Riku lulus SMP dan masuk SMA swasta di Saitama (April). Dengan keinginan sendiri dia mendaftarkan persiapan sakramen Krisma di gereja Kichijoji. Pada hari Krisma itu aku pertama kali bertemu dengan Uskup Tokyo Tarsicius Kikuchi Isao SVD. Dengan malu-malu, aku minta ijin untuk mencium cincin Uskup, sebuah kebiasaan yang tidak dilakukan oleh umat Katolik Jepang. Riku juga setelah SMA menjadi leader di Sekolah Minggu. Kelihatannya cukup banyak murid SD (terutama kelas 1 SD baik perempuan atau laki-laki) yang sayang pada Riku sehingga selalu menempel pada Riku.
  3. Kai menjadi kelas 5 SD dan mendapat wali kelas laki-laki yang baik (kelas 4 wali kelasnya perempuan dan… duh galak banget! Aku aja takut hahaha) . Untuk pelajaran Kokugo (bahasa Jepang) dan Matematika, Prakarya dan IPA dia bisa (dan bagus), tapi jangan disuruh kelas olahraga dan musik. Ada satu kali dia boikot sekolah setelah beberapa kali minta aku tulis surat ke gurunya supaya tidak usah olahraga karena sakit perut. Waktu dia minta tidak masuk sekolah, aku pikir ini sudah puncaknya. Jadi aku ajak dia malahan pergi ke Museum berdua. Ada satu masa aku juga kewalahan menghadapi Kai yang masa 反抗期. Aku tahu ada masalah pada dirinya sendiri (berat badan berlebih) dan dia juga sering dibully temannya akibat gemuknya. Untung saja setelah kami sudah pasti akan pindah rumah, dia mulai tidak enggan lagi ke sekolah (toh sudah tinggal sedikit lagi di sana). Padahal gurunya senang pada Kai karena Kai dewasa dan selalu baik pada temannya. Oh ya di kelas 5 dia menjadi 飼育員 petugas memelihara kelinci di sekolah.
  4. Berempat kami bisa berlibur bersama ke Jakarta, sekaligus merayakan ulang tahun papa ke 80. Gen sudah 6 tahun (sejak mama meninggal) tidak ke Jakarta, sehingga senang sekali kami sekeluarga bisa pergi bersama. Selain merayakan ultah papa di Jakarta, kami juga bisa pergi ke Galesong, Makassar. Untuk Gen setelah 16 tahun baru bisa ke Makassar lagi. Oleh Prof. Aminuddin Gen diberi padaengan menjadi Daeng Bella. Kami juga bisa bermain bersama anak-anak Galesong dan memberikan sedikit buku-buku bacaan untuk mereka. Untuk proyek 100Famous Castle kami, cuma dapat 1 cap tambahan yaitu Gifu Castle. Semoga tahun depan bisa nambah deh.
  5. Anak-anak semakin besar dan sudah bisa berdiri sendiri. Mereka berdua pergi menginap di summer camp bersama teman-teman gereja. Riku hampir setiap Sabtu pergi ke gereja untuk mempersiapkan bahan mengajar Sekolah Minggu bersama teman-temannya, dan makan bersama. Berkat teman-teman ini, dia juga bisa melebarkan sayap mengunjungi sekolah-sekolah dan kegiatan lain. Dengan teman akrabnya di SMA, dia juga pergi ke Harajuku dan membeli coat! Riku juga menjadi pekerja sukarela di Tokyo International Film Festival, dan harus menjadi MC berbahasa Inggris (baca sih)…. tapi lumayanlah, karena anakku ini memang tidak bisa berbahasa Inggris (malas belajar bahasa Inggris) . Semoga dia semakin berusaha memperbaiki bahasa Inggrisnya. Kalau bahasa Jepang sih dia termasuk nomor atas di kelas, terutama Bahasa Jepang Kuno. Selain itu entah mengapa dia juga mempelajari Bahasa Jerman pada guru yang buka kelas tambahan di SMAnya. Dan peserta kelas bahasa Jerman itu cuma 3 orang! Duh kok ceritanya Riku melulu ya. Untuk Kai dia sering pergi beli buku sendiri di stasiun dekat rumahku, dan rekor dia pergi naik kereta sendiri sampai Saitama! Memang dia membawa HP tapi bukan smartphone, sehingga untuk berhubungan dengan dia, harus melalui email! (No Line, No WA)
  6. Dalam bersosialisasi, aku mendapat banyak pertemuan pada tahun 2018. Bertemu banyak guru-guru BIPA, termasuk tokoh bahasa Indonesia Ibu Felicia, yang dulu jaman aku mahasiswa pernah ikut kuliahnya. Banyak teman baru dari grup Wanita Indonesia Berkarya di Jepang (WIB-J) yang tinggal di Jepang. Banyak belajar kebudayaan baru dengan berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai suku, guru-guru seni dan kelompok budaya Indonesia di Jepang. Dan saya hanya berharap Kai bisa melebarkan sayap, bisa mendapat tempat baru di Saitama nanti setelah pindah sekolah. Semoga dia bisa bersosialisasi dan lebih dewasa. Satu yang bisa dicatat adalah Kai dan Gen bisa melihat Prince Akishino dan Princess Kiko sekeluarga waktu mengikuti konser 60 tahun, yang saat itu aku tak bisa hadiri karena harus ikut pertemuan PTA SMA. Ya, aku tetap menjadi petugas PTA di SMA, tapi kegiatan PTA di SMA tidak sesibuk waktu di SMP sehingga tidak memberatkanku.
  7. September kami akhirnya berhasil mendapatkan rumah di Saitama. Sebetulnya keinginan pindah rumah sudah lama, terutama sejak Riku berhasil masuk sekolah favorit di Saitama. Tapi karena tidak seperti beli tahu di pasar, kami belum bisa mendapatkan rumah yang menarik dan memenuhi kriteria kami. Akhirnya setelah kembali dari Jakarta, dapat! Tapi, kami belum bisa pindah langsung, karena memikirkan Kai yang harus pindah sekolah tiba-tiba di tengah semester. Aku pun mesti pergi ke Jakarta dan Nagoya bulan November… pokoknya Oktober, November, Desember sibuk deh! Sedikit-sedikit kami membawa barang sambil Gen dan Riku ke sekolah dan tempat kerja, taruh di rumah sana. Akhirnya kami memutuskan untuk melaporkan kepindahan di kelurahan setempat pada tgl 26 Desember kemarin, dan menggunakan liburan tahun baru untuk memindahkan barang-barang besar. Nanti cerita lagi tentang lingkungan kami yang baru ya.
  8. Setiap pertemuan ada perpisahan. Aku kehilangan seorang kakak sepupu yang meninggal di Jakarta. Di Jepang pengarang terkenal Kako Satoshi yang karyanya pernah aku ulas di TE ini : “Anda tahu PLTA Cirata?” atau juga “Oh Dewi Sri” meninggal. Ada dua anggota gereja Meguro yang meninggal muda. Mengingatkanku bahwa umur tak bisa diukur dan kematian tak bisa diprediksikan. Akhir-akhir ini juga di sekitar rumah kami banyak toko dan tempat yang tutup. Circle K di dekat halte bus kami tutup dan dampaknya setiap malam tempat itu terasa gelap sekali. Sebuah toko alat tulis yang dulu kami sering beli, ditutup dan tempatnya menjadi apartemen. Toko ikan hias langganan kami juga tutup. Banyak layanan yang kami ikuti juga menghentikan layanannya. Di rumah Nerima ini juga berturut-turut lampu mati, dan kami malas mengganti/memperbaiki karena toh akan pindah rumah. Yang paling besar mungkin adalah mobil. Karena pas jatuh tempo perpanjangan STNK (shaken habis), kami buang saja karena toh sudah 9 tahun dipakai. Sudah banyak “bonyok”nya bekas aku tabrakin 😀 (parah nih kiri belakang aku adalah 死角 buatku). Jadi kami sekarang pakai mobil rental 😀 . Siap-siap dengan semua yang baru… Semangat baru juga. Tahun baru segalanya baru 😀

Ada awal, ada akhir, Ada buka ada tutup. Dengan tulisan ini, Aku ingin menutup lembaran kehidupan kami sekeluarga di Nerima, Tokyo … dan memulai kehidupan di Sayama, Saitama di tahun yang baru dengan semangat baru.

Merry Christmas and Happy New Year 2019! よいお年をお迎えください。