Count Down di Mana?

Happy New Year 2017!

Persis tanggal 31 Desember sore, aku agak kesal mendapat message di WA berisi pertanyaan: “Mel, count down yang seru di mana?”. Dari seorang teman waktu SD yang kebetulan sedang berlibur akhir tahun di Tokyo. Hebat juga dia, sering datang ke Jepang dan yang aku ingat dia pernah melewatkan pergantian tahun di USJ- Osaka. Nah, tahun ini dia berada di Tokyo dan tanya padaku count down yang seru di mana 😀 Mustinya dia sebagai wisatawan cari informasi dulu dong karena cara wisatawan melewatkan tahun baru dan cara penduduk Jepang sendiri melewatkan tahun baru itu amat sangat berlainan. Duluuuu waktu aku masih muda dan baru datang ke Jepang, pernah melewatkan pergantian tahun di Meiji Jingu, dekat Harajuku bersama teman-teman. Tapi cukup satu kali itu saja deh! Karena dingiiiiin sekali 😀

Jadi saya, selayaknya kebanyakan penduduk Jepang yang mempunyai keluarga, pada pergantian tahun kemarin, kami melewatkan bersama bapak dan ibunya Gen di rumah mereka di Yokohama. Sudah menjadi tradisi bagi orang Jepang, untuk pulang kampung pada akhir tahun dan bersama-sama keluarga menyambut tahun baru. Ngapain saja? Ya kami biasanya mulai makan malam dengan minum sake dan makanan yang enak, lalu menjelang pergantian tahun makan mie Jepang, soba yang dinamakan toshikoshi soba. Bertahun-tahun, kami selalu menyiapkan soba tapi baru kali ini bisa makan toshikoshi soba tengah malam. Biasanya sudah tertidur sebelum pukul 12 sih :v

toshikoshisoba

Pagi harinya, aku masak Ozoni, sup khas tradisi untuk pagi tahun baru. Selain ozoni, aku juga sudah membeli Osechi ryoryi, makanan tahan lama untuk tahun baru. Osechi ini dihias dengan menarik dan masing-masing makanan mempunyai arti. Saya sudah pernah tulis di sini. Tapi sebelum kami makan, kami melakukan upacara “sembahyang” dulu di kamidana (altar Shinto) dan butsudan (altar Buddha) yang ada di rumah. Berterima kasih untuk Tuhannya orang Jepang dan hotokesama (leluhur) untuk pemeliharaan sepanjang tahun yang lewat dan semoga kami bisa menjalani sepanjang tahun yang baru dengan sehat dan tanpa halangan. Setelah itu baru kami minum otoso, semacam sake dengan campuran ramuan dan dimasak, sehingga alkoholnya sudah hilang, hanya tinggal rasa manis pahit. Otoso ini merupakan perlambang supaya kami tetap sehat sepanjang tahun dan dijauhkan dari penyakit.

kiri: otoso. Cawan yang merah di paling depan itu cawan khusus karena diterima kakeknya Gen dari Kaisar Jepang langsung (hadiah semacam bintang mahaputra) kanan: Ozoni, sup tahun baru. Paling bawah ada mochi bakarnya

Makanan tahun baru begini memang kebanyakan manis dan membosankan. Sehingga anak-anak (termasuk aku deh) bergembira waktu makan malam karena menunya sukiyaki. Nasi yang kumasak sampai ludes deh 😀 Padahal rencananya kalau sisa, akan kupakai untuk membuat bubur ayam yang akan kami santap pada hari kedua tahun baru. Jadi deh pagi hari kedua aku membuat bubur dari beras sehingga makan waktu cukup lama. Untung ayamnya sudah aku bumbui dan masak dari rumah.

osechi…. hidangan tahun baru. Tahun ini aku beli yang sudah jadi supaya aku tidak perlu menghias lagi hehehe.

Makan malam hari kedua aku olah dari semua yang sisa. Ada ayam goreng, bihun goreng dan potato gratin. Dan baru kali ini aku merasa senang karena kami tidak membuang makanan. Semua yang diperkirakan pas, tidak kurang dan tidak berlebih. Biasanya karena takut kurang, makanan osechi yang aku sediakan terlalu banyak.

Baru hari ketiga kami pergi berjalan-jalan keluar rumah, dengan tujuan membeli baju untuk Riku yang akan pergi bermain ski dengan sekolahnya. Mumpung ada sale Tahun Baru! Tapi aku TIDAK PERNAH membeli fukubukuro, 福袋, kantong keberuntungan, kantong berisi barang yang tidak diketahui isinya dan harganya, tapi dijual dengan harga sama sekitar 5.000 yen sampai 10.000 yen. Padahal ada satu temanku yang dini hari tgl 1 Januari sudah berburu fukubukuro dan melaporkannya di message FB :v Salut untuk keteguhan dan kerajinannya. Aku tidak bisa bayangkan harus kedinginan mengantri. Dasar bukan tipe pembelanja sih 😀

Dan hari keempat sekarang ini, aku sedang di rumah kami sendiri, sendirian karena anak-anak dan papanya pergi menonton di bioskop. Anak-anak memang masih libur sampai tanggal 9, tapi papa Gen sudah harus bekerja besok, dan aku lusanya. Libur panjang sudah hampir selesai dan aku pun sudah mulai menyibukkan diri lagi dengan berbagai pekerjaan yang aku sisihkan selama libur Natal dan Tahun Baru.

Terima kasih untuk ucapan hari Natal dan Tahun Baru yang dikirimkan kepadaku dan semoga Tahun Baru 2017 membawa kebahagiaan bagi teman-teman semua ya.

Counting down 3 years to Tokyo Olympic!

8 Besar dari Nerima 2016

Melanjutkan kebiasaanku menuliskan 8 hal terbesar yang terjadi dalam keluargaku selama tahun yang akan berlalu, tahun 2016.

  1. Mulai dari Kai dulu ya…. Kai menerima komuni pertama pada tgl 3 April 2016. Dengan demikian dia sudah bisa ikut maju ke depan bersama kami waktu penerimaan komuni pada setiap misa. Kai dalam tahun ini pertama kali pergi summer camp tanpa diriku, hanya berdua saja dengan papanya ke daerah selatan Jepang, Miyazaki untuk menangkap kupu-kupu bersama seorang kameraman terkenal Jepang Imamori Mitsuhiko. Beliau terkenal dengan konsep Satoyama, yang menemukan habitat asli Jepang terutama melalui serangga/kupu-kupu. Sejak saat itu dia hafal nama jenis kupu-kupu dan berminat terhadap buku mengenai kupu-kupu terutama hasil karya Imamori sensei.
  2. Riku di kelas 2 SMP menunjukkan ketekunan belajar yang lebih bertanggung jawab. Selain tetap melakukan latihan badminton (aku salut dia masih bisa teruskan dengan rajin) dengan mnegikuti beberapa pertandingan, juga belajar ekstra di bimbel. Tahun depan dia naik kelas 3 dan harus mengikuti ujian masuk SMA, yang dinamakan jukensei 受験生. Tahun yang berat untuknya (dan untuk diriku juga) . Semoga dia bisa mendapatkan SMA yang diinginkan pada bulan April 2018.
  3. Gen dipromosikan jabatan yang lebih tinggi tapi stress pekerjaan lebih berat (gaji sih tidak naik 😀 ) . Untung saja kami masih bisa mencuri waktu untuk liburan bersama. Kami berempat sempat berlibur 2 malam bulan Agustus di Nagano, di rumah mantan muridku, Ichijima san. Sudah lama memang, Ichijima san mengajakku untuk mengunjunginya, tapi baru bisa terlaksana musim panas, sepulangnya aku dari Jakarta dan Kai/Gen dari Miyazaki. Tiba-tiba saja kami pikir ingin pergi menginap di pegunungan dan aku langsung menguhubungi Ichijima san. Langsung di OK-kan! Jalan-jalan berempat satu keluarga kemudian baru bisa dilakukan lagi setelah masuk bulan Desember, yaitu ke Hakone untuk mengunjungi Museum Little Prince. Memang kami sudah pernah pergi ke sana, tapi ingin kembali ke sana karena Riku mulai membaca bukunya! Selain ke Museum Little Prince, kami juga pergi ke Museum Kristal di Hakone. “Garasu no mori hakubutsukan”.
  4. Yang terbesar dari diriku sendiri, adalah menerima tanggung jawab besar sebagai wakil ketua KMKI (Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia). Dulu sekali aku memang pernah menjadi sekretaris bertahun-tahun. Tapi sejak menikah dan punya anak, aku cuti. Baru tahun ini aku bersedia untuk aktif kembali dan kegiatan dimulai dengan acara seminar “Kiprah warga Indonesia di Jepang” yang menampilkan Rustono Tempeh dan Pdt Efra. Lalu acara Natal Bersama yang diselenggarakan tanggal 17 Desember 2016 (belum kutulis laporannya ya hehehe), dan mendatangkan penyanyi rohani Nikita. Kegiatan KMKI ini otomatis menyita waktuku terutama pada bulan Desember dan untuk itu aku bersyukur bahwa kedua anakku bisa mengerti kalau mamanya kadang tidak bisa menyiapkan makan malam buatan sendiri (terpaksa beli jadi) atau bahkan sama sekali tidak ada waktu membeli. Kalau begitu, Riku yang membeli atau menyediakan makanan untuk adiknya. Kadang kulihat Kai meninggalkan panci bekas memasak nasi goreng ala dia. Setelah acara selesai, Kai memelukku dan kami tidur bersebelahan 😀 Kangen dia pada mamanya 😀
  5. Di keluarga besar Coutrier, menyambut anggota baru yaitu Tante Hermina (Tina) sebagai istri baru papa (opa). Senang sekali papa sudah menemukan teman hidup dan bisa mengurangi kesepiannya selama ini dengan kegiatan bersama tante Tina di gereja dan kegiatan lainnya.  Acara pernikahan dilakukan tgl 30 April dan kami juga bisa bertemu anak tante yang tinggal di USA pada liburan musim panas. Ya, kami tahun ini pulang kampung 2 kali dengan jangka waktu tinggal yang tidak lebih dari 10 hari. Untuk tahun depan mungkin sulit bagi kami untuk mudik ke Jakarta karena Riku menghadapi ujian, tapi semoga aku bisa “curi” waktu ya.
  6. Di keluarga Gen, kami harus menerima kenyataan bahwa ibunya harus menjalani perawatan khusus karena mulai terlihat gejala dimentia. Karena itu dua kali seminggu, dijemput untuk rehabilitasi. Karena itu pula, aku mengusahakan untuk mampir ke rumah mertua setiap Jumat, setelah mengajar di dekat Yokohama untuk makan malam bersama. Paling sedikit bisa ngobrol. Siapa saja, entah Gen dan Kai, atau Gen saja, setiap ada waktu kosong pasti pergi ke rumah mertua…. Ini juga yang membuat waktu luang kami tidak bisa lagi kami gunakan untuk mengumpulkan cap kastil. Memang yang paling baik adalah jika kami bisa tinggal bersama, namun untuk itu perlu persiapan dari semua pihak yang cukup makan waktu.
  7. Untuk hobi, keluarga kami memang tipe “pembaca” jadi tidak heran kalau rumah kami berantakan dengan buku (alasan hehehe). Kai pertama kali bisa menyelesaikan buku novel sebanyak 3 buku, yang untuk ukuran umur dia cukup sulit. Selain itu dia mulai membaca serial TinTin karena aku yang kenalkan 😀 Riku? Mulai bulan April sampai hari ini menyelesaikan  12.000 halaman 35 buku novel. Papa Gen tidak pernah menghitung jumlah buku, tapi yang pasti dia menonton 2 film Indonesia “Filosofi Kopi” dan ”Laut Bercermin” mengalahkan aku 😀 (Aku memang tidak suka menonton sih). Setiap mau nonton film, pasti aku pass, tidak mau ikut sehingga Gen pergi dengan anak-anak saja. KECUALI film Kimi no Na (Your Name), ini kami pergi bersama. Film anime yang bagus menurutku. Untuk hobiku yang satu lagi, yaitu memotret, tahun ini aku bisa puas pergi memotret bunga sakura pada musim semi dan maple pada musim gugur. Untuk hobi masak, aku masih sesekali membuat black forest, rendang atau kemarin membuatkan ayam woku untuk adikku Titin. O ya, aku juga sudah berhasil membuat kue mocca tart sesuai resep mama. Sudah lama ingin mencoba buat butter creamnya, tapi baru kemarin berhasil meluangkan waktu.
  8. Dalam pekerjaanku, tanggung jawabku masih sama seperti tahun lalu. Tahun depan juga masih sama, tapi dengan satu tanggung jawab tambahan lagi di PTA. Kalau tahun lalu sudah menjadi seksi publikasi, tahun depan aku akan menjadi SEKRETARIS PTA sekolah SMP nya Riku! Duh! Ini terpaksa, karena aku kena lotre dan di antara tugas-tugas yang ada, yang masih sesuai dengan kemampuanku (komputer) aku menerima menjadi sekretaris saja hehehe. Nah loh deh dong! Kebayang deh tahun depan tambah sibuk 😀 Tapi cuma satu harapanku dengan melaksanakan tugas ini, yaitu bisa duduk di depan pada acara wisuda Riku di SMP (hanya petugas inti yang duduk di deretan depan) hehehe.

Tahun 2017, semakin sibuk, anak-anak semakin dewasa, sayanya sendiri semakin tua, semakin lambat bergerak. Tapi kupikir, badan dan pikiran manusia itu butuh stimulus, butuh energi dari dalam dan luar, tapi juga butuh dukungan, butuh pengakuan. Semoga aku masih bisa menjalankan tugas-tugasku sebagai ibu, sebagai istri, sebagai anak, sebagai umat, sebagai dosen, sebagai anggota masyarakat dan sebagai blogger 😀

Tulisan pertama dalam bulan Desember yang juga merupakan tulisan terakhir! Semoga tahun depan besok sudah bisa memulai menulis lagi dengan aktif 😀

Selamat menutup tahun 2016 dan selamat menyambut tahun baru 2017, tahun AYAM!

Tulisan serupa dari tahun-tahun yang lalu:

8 Besar dari Nerima

8 Besar dari Nerima (edisi 2011)

8 Besar dari Nerima (2012)

8 Besar dari Nerima (2013)

8 Besar dari Nerima 2014

 

 8 Besar dari Nerima : 2015

Peringatan Tsunami

Pagi hari tanggal 22 November, Selasa, seperti biasa aku terjaga pukul setengah lima pagi. Karena aku mesti memasak nasi untuk sarapan, aku masuk dapur dan mulai beberes ini itu. Tentu sambil sesekali kembali ke komputerku untuk menyiapkan bahan pelajaran hari itu. Kira-kira pukul 5:55 pagi, aku sedang berdiri sambil melipat cucian, dan aku merasa goyang. Aneh pikirku, mungkin aku terlalu capek. Eh persis 1 menit sebelum pukul 6, pas Riku juga sudah berada di dekat meja makan bersamaku, terasa gempa yang cukup lama. Kami berdua langsung bersiap kalau gempa akan menjadi besar, sementara Gen membangunkan Kai yang masih tidur. Langsung kupasang TV, dan mengetahui bahwa telah terjadi gempa di Fukushima, dan langsung melihat ada Peringatan Tsunami. Jepang telah belajar banyak dari gempa besar di Tohoku 5 tahun lalu. Pembaca berita mengatakan, “Belajarlah dari gempa yang lalu, segeralah pergi mengungsi ke tempat yang lebih tinggi!”.

Kabarnya ketinggian tsunami hanya 1,4 meter, tapi meskipun dikatakan tidak terlalu tinggi, air pasang yang hanya sebetis pun, jika berbalik akan menghanyutkan orang. Apalagi jika air itu membawa benda-benda hanyut berbahaya. Dan diketahui bahwa gempa bumi magnitude 7,4 skala richter ini tidak memakan banyak korban.

gempa-difb

senangnya FB mengumpulkan informasi dampak gempa untuk diberitahukan kepada teman/keluarga

Tapi pengaruh gempa pagi itu cukup terasa di Tokyo. Transportasi terutama kereta banyak yang terlambat, sehingga aku harus menunggu mahasiswa datang untuk mengikuti kuliahku. Nah, saat itu, sambil menunggu aku mendapat pesan lewat inbox message, dari BANTA san. Dia menanyakan kabarku, karena mendengar bahwa ada gempa di Jepang. Waaaah aku langsung menjawab messagenya dan bahkan memulai percakapan dengannya. Sebetulnya aku sudah mendapat pesan-pesan dari keponakan dan dari dia sendiri di sosmed, tapi setiap kubalas, tidak ada kelanjutannya. Baru kali ini, aku berhasil bercakap-cakap dengannya.

Siapa Banta san? Kalau ada teman yang pernah membaca tulisan di TE ini yang berjudul Kartu Pos itu…., tentu mengenal nama Banta. Dia adalah seorang pendengar setia acara radioku (jaman aku masih penyiar radio)  yang berasal dari Aceh. Waktu terjadi tsunami di Aceh aku kepikiran dia terus, karena aku tahu dia sudah pulang ke Indonesia. Dan tulisan tahun 2008 itu dijawab oleh keponakan Banta san tahun 20014 bahwa Banta san masih hidup! Itu saja sudah membuatku lega, meskipun semua pertanyaanku lewat email tidak dijawab. Nah, pagi itu, tgl 22 November 2016, Banta san sendiri menghubungiku.

Setelah menjawab pertanyaannya soal gempa paginya, aku langsung bertanya padanya ….soal Tsunami Aceh, 26 Desember 2004, apakah dia berada di Aceh saat itu? Dan dia menjawab:

Saya di pidie.aceh.langsung mengalami dan melihatnya.anak saya umur 2′ th meninggal.adik ipar 2, dan kemenakan.1 .hampir 5 th.saya seperti orang ling lung.sekarang sudah ada pengganti 3’orang

Ah, ternyata memang Banta san di Aceh dan terkena dampak tsunami. Aku hanya bisa mengatakan turut berduka dan berharap dia tetap tegar dan kuat. Lalu tadi sore dia mengirimkan pesan.

Saya membaca tulisan diblog, saya sampai menitikkan, air mata sungguh sangat kelu,saya waktu mengingat saat tsunami, apalagi membaca tulisan kk imelda, saya membaca semua,….

Aku merasa bersalah telah membuatnya sedih lagi, teringat lagi akan peristiwa itu. Tapi berkat aku menulis di blog ini, aku bisa mengetahui kabarnya. Ini adalah manfaat yang langsung bisa kurasakan dengan menulis di blog. Meskipun akhir-akhir ini aku jarang menulis di sini, aku akan usahakan terus mencatat atau paling sedikit merekam bukti-bukti berupa foto yang kelak bisa kutuangkan dalam tulisan.

Kutulis posting ini pada hari libur di Jepang, 23 November, Kinro Kansha 勤労感謝の日 atau Labour thanksgiving day. Hari yang dingin dengan awan merebak di langit, sesekali membiarkan sinar matahari menyembul. Sambil menantikan hari esok yang diperkirakan lebih dingin lagi dengan maksimum suhu 2 derajat saja. Kai sih senang sekali mendengar kemungkinan itu 😀

Keharuan Hari Ini

Sebetulnya tidak baik memulai bulan baru dengan keharuan ya? Mestinya dengan kegembiraan 😀 Tapi benar deh, ada peristiwa-peristiwa kecil hari ini yang menimbulkan keharuanku.

Pagi hari, aku bangun pukul 6 pagi. Biasanya sih pukul 4 atau 5 , tapi hari ini molor. Mungkin karena terlalu capek, yang tertimbun dari hari-hari sebelumnya. Tidak biasanya juga, Kai terbangun pukul 6:30 an tanpa mesti aku bangunkan. Rupanya dia gelisah karena hari ini ada pelajaran olahraga di sekolahnya. Dia memang tidak suka olahraga terutama sekarang mempelajari senam matras… Kebayang sih, dulu aku juga paling tidak bisa koprol hehhee. Takut! Nah, jadi beberapa kali dia mendatangiku yang sedang mempersiapkan bahan ajar di komputer dan mengatakan, “Peluk dong….!” Aduh… aku sedang sibuk tapi…. aku tahan dan pikir kapan lagi anakku ini akan minta peluk lagi? kakaknya sekarang sama sekali tidak mau digandeng, apalagi dipeluk. Jadilah aku memeluk Kai dan menenangkannya.

Hari ini basah dan dingin. Hujan cukup deras dan pagi itu suhunya 12 derajat saja. Brrr. Aku diantar oleh Gen sampai stasiun dekat rumah. Kereta terlambat, dengan alasan ada penumpang yang sakit mendadak, sehingga seluruh kereta terlambat sekitar 10 menit. Tentu disertai permintaan maaf. Tapi ternyata aku masih beruntung! Karena ternyata jalur lain juga banyak yang terlambat! Dan satu jalur biasanya juga kupakai hari Selasa itu ternyata terlambat karena menabrak BABI HUTAN hahaha. Sampai ramai di twitter, masa sih ada babi hutan di Tokyo? 😀 (Dan ya, memang masih ada babi hutan di pinggiran Tokyo yang bersebelahan dengan hutan tentunya. Aku pernah diberi daging babi hutan oleh salah satu murid yang tinggal di Hachiouji).

Lalu waktu aku pulang kerja, sekitar jam 3 aku perlu pergi ke kantor pos. Pas saat itu Kai pulang sekolah. Dia kaget bertemu denganku di depan pintu, “Loh kok mama sudah pulang?” ah…. akhir-akhir ini jarang aku pulang sebelum dia pulang sekolah. Rasanya …sedih, lalu aku pikir, aku akan ajak dia ke kantor pos, lalu kencan berdua di restoran dekat rumah. Makan es krim kek, dessert kek. Lalu kami bersama berjalan ke kantor pos.

Setelah urusanku selesai, aku ajak dia ke resto, tapi tahu apa yang dia bilang?
“Ma… di resto itu mahal. Mending kita beli es krim di toko konbini, lalu kita makan di rumah saja. Aku juga mau cepat-cepat bikin PR. Banyak sekali PR hari ini…”
Duuuh… aku terharu karena dia memikirkan aku. Rupanya dia tahu tadi pagi aku bilang ke papanya, di dalam dompetku tidak ada uang hari ini (karena belum ambil tunai). Jadilah kami berdua ke konbini dan membeli es krim dan desert. Dan aku menikmati jalan berdua bergandengan tangan dengan anak bungsuku.

Salah satu PR Kanji Kai, huruf SHINU (mati). Dia harus membuat contoh kalimat dan dia tulis

Salah satu PR Kanji Kai, huruf SHINU (mati). Dia harus membuat contoh kalimat dan dia tulis “susah setengah mati waktu membuat PR” dan dijawab gurunya, “Wah susah ya? Tapi kamu buat PR dengan baik kok”…. dan aku geli setengah mati waktu membaca PR Kai ini 😀

Selain keharuan dari Kai, hari ini aku juga terharu waktu menerima email dari sekolah (SD Negeri) nya Kai, siang hari. Kupikir apa, ternyata isinya begini:
“Hari ini sebagai salah satu lauk makan siang, kami membuat rebusan sayuran. Rupanya ada bagian-bagian di dasar panci yang  hangus. Setelah diperiksa ahli gizi dan penanggung jawab, dipastikan bahwa tidak berbahaya, kami membagikan makanan ke kelas-kelas. Ternyata waktu dibagikan ada yang mengatakan “bau hangus” dan beberapa anak mendapat lauknya sedikit. Untuk itu kami mohon maaf, dan berusaha supaya kejadian ini tidak terulang. Kami berusaha menyediakan makanan yang sehat dan enak bagi murid-murid”

Duh, ntah kenapa aku merasa terharu. Mereka (pihak sekolah) terlihat benar-benar menjalankan tugasnya. Memang banyak juga orang tua murid jaman sekarang yang “cerewet” soal-soal sepele seperti itu (dinamakan monster parents) , tapi untunglah aku tidak seperti mereka :D. Dan waktu aku tanyakan pada Kai, dia berkata, “ngga enak, soalnya aku ngga suka” hahaha (bukan karena hangus). Memang Kai agak “pemilih” soal makanan, tapi dia tetap makan kok.

Keharuan-keharuan kecilku hari ini, dan membuatku bersyukur atas hari yang dingin ini. Tapi hatiku hangat kok menyambut bulan baru, November.

Benar atau Betul?

Pemandangan sebelum fajar benar-benar (betul-betul) indah. Indah betul!

Pemandangan sebelum fajar benar-benar (betul-betul) indah. Indah betul (benar)!  Ini diksi saya 😀

Kemarin malam, aku mendapat pertanyaan dari salah satu murid orang Jepangku.

“Sensei, apa bedanya benar dan betul? Saya tanya pada 3 orang dan selalu dijawab ‘sama’. Memang sama ya?”

Sama, tapi juga tidak sama. Pemakaian bisa saja sama, tapi mungkin perlu ada pembedaan yang mendasar. Kalau menurutku, `betul’ itu pada sesuatu yang terlihat (nyata) dan mempunyai standar. Sedangkan ‘benar’ itu lebih pada sesuatu yang tidak terlihat (kualitas/abstrak) dan kebanyakan sulit menentukan standarnya. Mungkin sama seperti kata 正解 dan 正確 dalam bahasa Jepang.

Untuk soal matematika, tentu bisa dipakai keduanya. 1+1 =2 itu ‘betul’, dan ‘benar’ sebagai lawan kata ‘salah’.

Tapi untuk pemakaian dengan kalimat lainnya, belum tentu sama.

Misalnya:

Jawaban itu betul (sesuai dengan pertanyaan). Tapi isi jawaban benar atau tidak, aku tidak berhak menentukannya.

Atau

Ya, betul Robin Hood mencuri untuk orang miskin. Tapi apakah perbuatan Robin Hood itu benar? Tergantung. 😀

Atau kalau sulit memahami hanya dengan kata ‘betul’ dan ‘benar’, kita bisa memakai penambahan awalan/akhiran.

Kebetulan tidak sama dengan kebenaran. Pembetulan juga tidak sama dengan pembenaran. Di sini terlihat bedanya kan? Lagipula kalau ‘betul’ dan ‘benar’ itu sama, tentu KBBI tidak akan membuat betul dan benar sebagai lema terpisah kan?

Memang banyak sinonim kata, kata-kata yang berarti sama. Tapi, sebetulnya tidak akan sama persis. Pasti ada bedanya meskipun sedikit. Kalau sama persis, buat apa dibuat kata lain kan?Karena itu perlu konteks kapan bisa pakai kata x atau kapan bisa pakai kata y.  Untuk orang Indonesia mungkin bisa membedakan dengan ‘perasaan’ 😀 tapi bagi orang asing yang sedang belajar bahasa Indonesia, perlu ada penjelasan yang lebih detil untuk pembedaan kata-kata yang dikatakan ‘sama’. Dan jangan cepat-cepat berkata: “Oh itu sama!” karena itu akan memperlihatkan bahwa kamu tidak mau berpikir dan menjelaskan hehehe. Juga usahakan untuk memakai kata yang tepat dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari.

Sebagai penutup, saya akan mengatakan, “Betul, saya blogger. Benar, saya blogger. Tapi saya blogger benar atau tidak, saya tidak tahu :D. Karena akhir-akhir ini saya sering absen menulis di blog ini. Tapi saya akan menegaskan sekali lagi bahwa betul, saya akan berusaha ngeblog terus sampai mati :D”

Selamat Hari Blog Nasional, 27 Oktober 2016!

Dan ternyata aku cukup rajin menulis pas hari Blog Nasional di tahun-tahun yang lalu 😀

 

Hari Blogger?

Rasa Bangga

HP untuk Anak-anak

Orang tua bodoh = Bangga

Jangan Menyamakan Semuanya

Kemarin  malam aku merasa bahagia. Sederhana saja sebenarnya.

Kemarin Kai pergi karya wisata bersama teman-teman satu angkatan. Memang setiap tahun sekolahnya (negeri) mempunyai program dengan mengajak satu angkatan pergi ke luar sekolah. Kelas satu dan dua pergi ke tempat yang dekat saja, dan tahun lalu (kelas 2) Kai demam sehingga tidak bisa ikut. Tahun ini mereka pergi ke daerah Saitama yang terkenal dengan higanbana, bunga berwarna merah. Sudah sejak seminggu sebelumnya Kai mempersiapkan sendiri apa saja yang mesti dibawa. Sehingga benar-benar meringankan tugasku. Tugasku hanya menyiapkan bekal di pagi harinya.

Karena sangat capek mendaki bukit, Kai tidur lebih cepat. Tapi sebelumnya, dia minta untuk tidur bersama aku, di sebelahku sebab malam sebelumnya dia mimpi buruk. Karena akupun capek, aku juga leyeh-leyeh di tempat tidur, dan tak lama Gen juga masuk kamar. Daaaan…. aku mulai ngedumel soal perkuliahan. Karena tahu kami masih bangun, Riku masuk kamar kami dan bertiga leyeh-leyeh di tempat tidur. Tentu sambil mendengarkan aku yang sedang ngedumel hehehe.

Apa sih kekesalan aku sebenarnya?
Ini merupakan kekesalan seorang dosen terhadap sikap mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Waktu aku datang 24 tahun lalu, aku cukup kaget melihat sikap mahasiswa Jepang dalam perkuliahan, terutama jika kuliah itu diikuti oleh 50 orang lebih. Ya, mereka sering tidur!

Waktu aku masuk UI dulu, aku juga sering heran melihat sikap mahasiswa yang amat sangat berlainan dengan sikap murid di SMA asalku. Doooh waktu SMA kami benar-benar disiplin dan harus menghormati guru deh. Di UI pun aku mengikuti beberapa kuliah di ruangan besar, tapi tidak ada yang tidur deh sepertinya. (Atau aku saja yang tidak lihat?)

Anyway, jadi aku sudah tahu bahwa mahasiswa Jepang suka tidur di kelas. Alasannya macam-macam, ada yang capek karena mesti bekerja sampai malam. Atau memang tidak berminat mengambil mata kuliah itu tapi merupakan kuliah wajib ambil.

Aku mempunyai satu kelas yang pesertanya sampai 70 orang. Berat sekali mengendalikan kelas ini, yang sudah tiga tahun aku jalani. Pengaruh smartphone terhadap perkuliahan itu amat besar, seperti yang sudah kutulis di sini. Tapi akhir-akhir ini aku merasa kondisi menjadi lebih parah. Biasanya jika aku menyuruh mahasiswa membaca dan ketahuan dia tidur, tapi kalau dipanggil namanya, pasti bangun dan berusaha mencari bagian mana yang dia mesti baca. Mahasiswa itu akan merasa “malu” ketahuan tidur. Tapi sekarang, rasa malu itu sudah tidak ada 🙁 Bahkan waktu aku menyuruh menjawab soal, yang jawabannya pun ada di halaman yang sama, tidak bisa! Tidak usaha sama sekali! Duh!

Yang paling menyebalkan, kejadian waktu pokemon go dirilis di Jepang. Pas hari itu aku mengadakan ujian akhir. Open book, satu jam saja. Tapi kalau sudah selesai, boleh kumpulkan dan keluar. Daaaan ada satu mahasiswa yang mengumpulkan di menit ke 30. Kupikir dia pasti pintar, tapi waktu kulihat lembar jawabannya, hanya setengah yang diisi. Ternyata waktu pulang, aku melihat dia dan teman-temannya sedang main pokemon go! So, dia sama sekali tidak berusaha mengisi semua ujiannya, dan yakin dia pasti akan dapat sksnya meskipun dengan nilai pas-pasan!

Suamiku juga bekerja di bidang yang sama, pendidikan. Dan menurutnya, mahasiswa jaman sekarang  tidak mempunyai lagi “keinginan untuk maju”. Yang aku namakan dengan tidak mempunyai “alert” terhadap bahaya. Bahaya bahwa kamu tidak bisa dapat pekerjaan! Kelihatannya mahasiswa Jepang bersekolah di universitas hanya untuk memenuhi keinginan orang tua. Toh orang tua yang bayar! Tidak perlu lah dapat nilai bagus, nanti juga dapat pekerjaan. Bahkan, ada kecenderungan beberapa orang mahasiswa laki-laki yang merasa cukup, jika dia bisa bekerja menjadi “tukang bangunan”, seperti tukang cat, tukang semen dll. Bukan, bukannya aku merendahkan pekerjaan itu, tapi kok tidak punya keinginan untuk “lebih” dari yang lain ya? Jepang sudah terlalu lama berada dalam “kedamaian” mungkin ya?

Kesimpulannya, aku akan lebih “galak” lagi, dengan memberikan ancaman-ancaman jika tidak memenuhi syarat akan kuminta tidak usah datang saja ke kuliahku, karena aku tidak akan “memberikan” sks.

Nah, yang membuatku bahagia malam kemarin itu, Riku ikut mendengarkan dan berdiskusi dengan kami soal “mahasiswa yang tidak belajar” itu. Baru kali ini kami terlibat pembicaraan serius yang cukup lama. Sampai aku baru sadar setelahnya, bahwa dia BARU kelas 2 SMP, karena gaya bicaranya yang cool 😀

Katanya, “Memang aku juga banyak mendengar dari guru-guru di bimbel bahwa murid SMA dan mahasiswa sekarang ini kurang belajar. Tapi murid SMP nya lain loh. Murid SMP yang aku lihat itu mereka belajar loh. Mereka berusaha menjadi yang terbaik. Memang dibilang bahwa murid SMA dan mahasiswa sekarang menjadi bodoh karena pakai smartphone. Tapi jangan samakan mereka dengan murid SMP ya, karena kami TIDAK punya smartphone yang bisa dibawa ke sekolah (memang tidak diperbolehkan, sedangkan SMA dan univ tidak ada larangan). Kami pakai smartphone pun di luar jam sekolah. Menyebalkan sekali jika kami disamakan dengan mereka!”

Ya, ya…. memang tidak boleh menyamakan semuanya. Karena sebetulnya kemarinnya lagi, aku baru saja memulai satu kelas baru di universitas yang lain. Muridnya 35 orang. Memang aku lihat ada 2-3 orang yang ngantuk-ngantukan, tapi secara keseluruhan mereka bisa menunjukkan kecerdasan mereka. Apalagi ternyata hampir setengahnya sangat fasih berbahasa Inggris. Kepalaku sampai pening memakai tiga bahasa, Jepang, Inggris dan Indonesia  dalam tiga jam hahaha.

Yang penting, semoga anakku tidak seperti mahasiswa yang malas-malasan itu deh 😀 dan semoga dia bisa menemukan bidang yang disenangi untuk diselami lebih dalam di universitas.

*dongeng perkuliahan*

Jika Asap Masuk ke Matamu

apa yang akan terjadi? Ya pastilah akan matamu akan berair ya? Air mata memang diciptakan untuk menghapus semua “rintangan” yang masuk ke mata.

Aku jarang sekali mengungkapkan perasaanku yang terdalam di blog ini. Tapi hari ini sepertinya aku harus menuliskannya.

Tadi pagi aku bangun jam 6 pagi. Masih mengantuk karena semalam tidur jam 1, dan malam sebelumnya tidur hanya 3 jam. Biasanya, aku menghapus kekurangan tidur di dalam kereta perjalanan kerja, tapi kemarin aku jarang bisa dapat tempat duduk dalam kereta. Aku masih belum “ahli” untuk tidur sambil berdiri 😀

Jadi, tadi pagi, setelah anak-anak dan suami pergi, jam 8 pagi… aku jemur cucian, lalu menuju tempat tidur. Ingin membayar tidurku paling tidak 1-2 jam. Tapi sekitar pukul 9:15 aku terbangun. Oleh mimpi….. 🙁

Aku bermimpi, aku berada di rumah ala Jepang, rumah tua, dengan pintu halaman terbuat dari kayu yang tinggi. Hujan lebat, pintu terbuka… Di luar pintu aku melihat tanjakan semen yang mengalirkan air… masuk ke dalam halaman rumah. Ah! Pasti akan kebanjiran. Aneh juga rumah ini yang lebih rendah dari jalanan, pikirku. Lalu kututup pintu untuk menghalangi air masuk. Kemudian aku berbalik menuju teras rumah, tanpa payung, sambil memandang ke bawah, jalan setapak menuju teras. Sepanjang jalan dan teras itu penuh dengan tanaman di kanan-kirinya. Ah ini pasti karena aku sering baca “Dapur Hidup”nya mbak Ni Made nih….

Tapi di sebelah kiri, di belakang sebuah tanaman gantung, aku melihat setengah badan dari pinggul ke bawah. Aku tahu itu alm mama 🙁  (Mama tidak pernah memperlihatkan mukanya dalam mimpi, tapi aku sadar dan merasa kehadirannya). Lalu aku berkata, “Mama biarkan aku memelukmu”. Dan aku peluk…erat sekali…. dan aku terbangun. Setelah sadar, aku tahu aku kangen mama! Aku rindu sekali. Sudah 4 tahun mama pergi, tapi baru kali ini aku bisa merasakan memeluk mama yang eraaaat sekali meskipun dalam mimpi. Dan aku teringat peristiwa suatu malam kira-kira 2 tahun sebelum mama meninggal. Aku dan mama berpelukan erat sekali, di kamarnya. Tanpa bicara dan hanya bisa menangis. Aku dan mama tahu, moment seperti ini mungkin tidak akan terulang kembali. 

Aku memang sudah 24 tahun berpisah dari keluarga dan tinggal di Jepang, tepat tanggal 23 September yang lalu. Dan sekarang aku menjalani tahun ke 25 aku berada di Jepang.  Aku pun tahu bahwa aku bukan anak yang suka “lendotan” nempel pada orang tua (atau orang lain). Mungkin karena aku anak pertama, aku juga tidak pernah merasa takut melangkah, meskipun aku akan menangis terus di dalam hati jika harus berpisah dengan orang yang kusayangi. Separuh hidupku sudah kulalui di perantauan ini. Dan akan terus bertahan… di mana saja aku harus berada. Sama seperti mama yang juga bisa kuat berpindah-pindah tempat tinggal.

Pagi ini aku merasa perlu mengingat mama yang mungkin sedang memikirkanku juga di sana. Aku ingat mama yang suka berkebun dan merawat tanaman apa saja. Dia tahan berlama-lama memberikan siraman tanaman seadanya di sekitar rumahku. Aku ingat mama yang suka sembunyi-sembunyi makan nasi sederhana, nasi dengan sekotak kaldu Bouillon dan air panas dengan sambal…. mirip ochazukenya di Jepang, atau nasi dengan emping dan kecap manis saja. Aku yang kerap memergokinya, melihatnya makan enaaaak sekali, selalu meminta suapannya. Mama begitu sederhana, selalu tanpa make-up meskipun punya kosmetik yang mahal-mahal. Seakan memakai make up itu beban baginya. Dan aku selalu membujuknya untuk memberikan kosmetik itu padaku saja 😀

Ah, aku merasa memang aku harus sekali-sekali menyisihkan waktu untuk mengingatnya. Proses mengingat masa lalu yang selalu aku hindari karena aku takut menjadi sedih dan menangis. Tapi ternyata perlu juga ya menjadi sedih itu ya 😀 Karena dengan membuat waktu seperti itu aku justru bisa merasakan kehangatan “pelukan” mama. Dan aku bisa menuliskannya di sini….

Aku beranjak dari bantal yang basah, merasa bahwa aku harus mulai bekerja lagi. Sambil bernyanyi lagu yang disukai mama yang pernah dinyanyikannya, dulu, waktu kami mempunyai mesin karaoke di rumah di Jakarta.

Smoke Gets in Your Eyes!

They asked me how I knew
My true love was true
I of course replied something here inside
Cannot be denied

They said someday you’ll find
All who love are blind
When your heart’s on fire you must realize
Smoke gets in your eyes

So I chaffed them and I gaily laughed
To think they would doubt our love
And yet today my love has gone away
I am without my love

Now laughing friends deride
Tears I cannot hide
So I smile and say when a lovely flame dies
Smoke gets in your eyes

 

NB: konon “When your heart’s on fire smoke gets in your eyes” adalah peribahasa dari Rusia.

Mai Mama

Aduh maaf…. sudah lama blog ini ditelantarkan. Kebetulan baru kemarin membuka dan membaca sebuah email dari “silent reader” TE, bernama Olivia. Jadi aku teringat bahwa sudah lama tidak menulis hehehe. Terima kasih banyak ya Olivia, dan semoga aku mulai rajin lagi menulis 😀

Pasti bingung membaca judulnya ya…. Mai Mama. Sebetulnya dalam bahasa Jepang, anak tersesat disebut 迷子 MAIGO, dan itu biasa dong kalau anak tersesat dan terpisah dari orang tuanya semisal di keramaian. Tapi kali ini aku ingin cerita bahwa aku yang tersesat, sehingga timbullah istilah Mai Mama 迷ママ di keluarga kami.

Ceritanya, waktu liburan musim panas lalu, anak-anak beberapa kali pergi ke perpustakaan dekat rumah. Mereka memang sudah mempunyai kartu perpustakaan di situ, dan sering pergi dengan papanya. Aku sendiri belum pernah ke sana. Biasanya papanya mengajak anak-anak ke perpustakaan sekaligus bermain ke taman, atau pergi ke pemandian umum (sento) justru untuk membiarkan aku sendiri di rumah melewati “me time” (yang biasanya kupakai untuk beberes malahan hahaha).

Nah beberapa hari setelah libur musim panas berakhir, anak-anak harus mengembalikan buku pinjaman dan Kai harus membuat kartu perpustakaan baru karena kartunya hilang. Padahal Riku ada pelajaran bimbel sehingga tidak bisa menemani Kai. Jadilah aku menawarkan diri pergi bersama Kai. Kami berdua naik sepeda menuju perpustakaan itu, yang ternyata cukup jauh. Kai di depanku sebagai penunjuk arah.

Tapi…. karena jalanan menurun, dia melesat jauh meninggalkanku. Aku sempat melihat dia berbelok, tapi waktu kumasuki jalan itu, dia sudah tidak ada. Aduh pasti dia belok lagi ke jalan kecil-kecil… tapi yang mana? Cepat-cepat aku buka GPS di iphoneku dan mencari letak perpustakaan itu. Ternyata aku keterusan, sehingga aku berbalik dan menuju perpustakaan itu. Dan… Kai (dan sepedanya) tidak ada! Nah loh!

Aku sempat masuk ke perpustakaan dan mencari dia, tapi tidak kutemukan. Langsung kupikir… Kai pintar, jadi dia pasti kembali ke rumah! Cepat-cepat aku menelusuri jalan yang sama kembali ke rumah. Sempat termegeh-megeh (bahasa Indonesianya ; terengah-engah!) karena tanjakan (kalau ada turunan, pasti baliknya tanjakan kan huhuhu). Aku juga tahu bahwa Kai tidak membawa kunci rumah. Tak lama aku lihat dari kejauhan Kai yang bersepeda kembali ke arahku, sambil menangis!

Begitu dia lihat aku,”Mama di mana? Aku cari mama…. kok tidak ada. Jadi aku kembali ke  rumah. Tapi lihat di parkir sepeda juga tidak ada. Jadi aku kembali lagi”
“Maaf Kai…. tapi Kai pintar. Lain kali tunggu saja di perpustakaan ya. Kan mama punya HP, jadi bisa cari letak perpustakaannya di mana”
“Iya sih… tapi aku kan panik lihat mama tidak ada. Aku pikir mama MAIGO! ….eh tapi mama bukan Kodomo (anak-anak) jadi Mayoi mama ya….”
“Hahaha.. iya Mai Mama!

Lalu sambil tertawa kami menuju perpustakaan dan mengurus kartu peminjaman yang baru. Setelah itu Kai bilang,
“Mama, pulang ya. Aku capek! Bukan capek badan, tapi capek hati. Karena aku khawatir sekali tadi mama kok tidak ada”
“Iya, kita langsung pulang saja. Nah begitu deh perasaan orang tua kalau anaknya hilang. Sama. Dan dulu waktu Kai kecil, Kai sering nyasar sendiri, meninggalkan kita. Tahu-tahu mama dengar tangisan. Mama hafal suara Kai, jadi mama tahu Kai ada di mana….”

Seperti yang kutulis di posting sebelumnya, Kai memang sudah ‘dewasa’ untuk ukuran 9 tahun. Dia yang paling memperhatikanku, kalau aku batuk, atau sakit. Dia selalu berkata, “Mama jangan sakit, jangan mati ya…. Kai tidak bisa kalau tidak ada mama!”.
Dan ya, akhir-akhir ini dia sering menangis kalau aku godain (aku memang suka iseng sih). Dia cepat tersinggung, karenanya sekarang aku juga harus hati-hati kalau bercanda dengannya.

Hmmm susah deh 😀 (ucapan mama yang nakal sambil nyengir) hehehe

Akhirnya mau difoto karena aku janji pinjamkan iphoneku. Sekarang sudah susah ambil foto Kai karena dia menolak terus!

Akhirnya mau difoto karena aku janji pinjamkan iphoneku. Sekarang sudah susah ambil foto Kai karena dia menolak terus!

 

Sembilan

Sembilan adalah sebutan angka bahasa Indonesia, yang paling sulit dihafal oleh Kai. Jadi setiap dia ditanya, “Umur berapa?” Dia pasti melihat padaku… “Apa aya?” …”Sembilan!” “Iya ituuu…”

Memang dia baru saja menjadi usia sembilan tahun, tanggal 16 Juli lalu (wih tepat sebulan lalu ya… terlalu sibuk nih.). Kebetulan jatuh pada hari Sabtu, dan papanya libur (ambil libur), jadi bisa kami rayakan bersama. Kasihan Kai sebetulnya karena ulang tahun kali ini, aku sibuk sekali dan tidak merencanakan membuat apa-apa, atau memesan tempat di restoran atau apa gitu. Yang aku sempatkan hanya membeli ice cream cake sehari sebelumnya, sehingga pada pagi hari ulang tahunnya, dia bisa tiup lilin. Setelah tiup lilin itulah, baru kami bingung… makan di mana? Memang seperti biasanya kami akan pergi ke Yokohama ke rumah mertua, tapi masak kami tidak memikirkan “pesta kecil” sama sekali? Terlalu deh.

Akhirnya sekitar pukul 9, Gen mengajak pergi ke restoran Zauo, di Yokohama, restoran yang biasanya kami pergi kalau Riku ulang tahun. Resto dengan konsep memancing sendiri, kemudian dimasakkan saat itu. Kai sebetulnya mau ke resto ini, tapi aku yang tidak begitu mood ke situ karena… mahal hahaha. (Mahalnya karena semua ikan yang dipancing harus dimakan, sedangkan anak-anak maunya mancing terus!)  Tanpa pesan tempat, kami janjian langsung di restonya, pukul 11:30 karena memang waktu bukanya jam segitu. Untung saja sekitar pukul 10:30 -an aku menyempatkan diri menelepon untuk pesan tempat dan bisa! Yeah…

Kami tidak naik mobil pribadi, karena memang mobil kami waktu itu sudah tidak ada asuransinya. Belum sempat diperpanjang! Jadi kami naik kereta dan taxi ke sana. Untungnya, dengan naik kereta, Gen bisa minum alkohol hehehe. Kai tentu saja sangat senang karena memang dia ingin ke resto ini. Apalagi dia mendapat hadiah ultah dari tante Titinnya, DVD Boruto, anaknya Naruto 😀

the birthday boy

Apa yang berubah dari Kai begitu usia 9 tahun? Dia langsung mau menginap di rumah kakek-neneknya sendiri! Biasanya dia selalu nempel denganku, “tidak bisa tidur kalau tidak ada mama!”… dan hari itu, dia minta untuk nginap sendiri. Huhuhuhu… yang nangis mamanya, bukan Kai 😀

Dan memang sejak itu dia tidak mau lagi dicium-cium mamanya. Yaaah anakku sudah gede 🙁

Dan sesudah menginap di rumah kakek-neneknya sendiri, Dia juga sudah pergi 4 hari hanya dengan papanya ke Miyazaki (sebelah selatan Jepang) untuk mengikuti “Summer Camp” dan malam kemarin juga menginap di Yokohama lagi, sendiri tanpa kami.

Well, aku sudah harus bersiap melepas ke dua anak laki-lakiku yang semakin lama semakin dewasa tentunya….