Selamat Ulang Tahun Pa!!! 70 tahun….. 七十歳お誕生日おめでとうございます. Niatnya papa dalam menghadapi ulang tahun istimewa ini sebetulnya adalah membuat buku tentang lingkungan dan atau pengalamannya selama ini, tapi karena sibuk meeting/rapat sana sini, dan mengurus cucu, belum sempat terealisasikan. Papa bilang; sejak pensiun dia jadi PENGACARA (Penganggur yang banyak acara). Saya tulis sedikit kenangan bersama Papa ya…. Mungkin banyak terms yang salah, but aku tulis saja dulu apa yang terlintas di pikiranku beberapa hari ini. (sudah dapat perbaikan langsung nih dari ybs hehehe)
Papa bekerja selama 35 tahun di Pertamina, dan setelah dipanggil Menteri KLH waktu itu Pak Emil pada tahun 1990, papa bekerja delapan tahun di Lingkungan Hidup (Bapedal) , menjadi Ketua IPLHI ( Ikatan Profesional Lingkungan Hidup Indonesia) dan terakhir menjadi Executive Director IMA ( Indonesian Mining Association). Sementara itu setelah menjadi Alumni KSA III Lemhanas, Papa aktif sebagai Anggota POKJA SKA LEMHANAS(Kelompok Kerja Sumber Kekayaan Alam di Lembaga Ketahanan Nasional) Karir pertama papa di mulai di kilang SHELL Indonesia di Plaju ,bidang Pengolahan (eh bener ngga ya pa?), tapi kemudian juga menangani Lingkungan hidup dalam Pertamina sendiri di BKLL( Badan koordinasi Lindungan Lingkungan). Jadi papa sering harus pergi ke tempat-tempat yang terjadi kecelakaan untuk memonitor penanganan pertolongan sesuai dengan penanganan ramah Lingkungan. Karena tugasnya ini pulalah, saya mengetahui tentang proses penanganan limbah minyak jika tertumpah di laut/perairan. Atau jika terjadi kebakaran di kilang minyak darat/lepas pantai. Saya juga masih ingat papa pernah mengisi rutin acara Dunia Minyak di TVRI. Saya yang masih kecil waktu itu duduk dengan manis di depan televisi, seakan-akan mendengarkan kuliah papa, mengisap memori gambar-gambar kilang eksplorasi dsb, padahal saya tidak mengerti apa-apa.
Papa memang guruku. Atau mungkin hanya saya yang mau mendengarkan kuliah ‘gratis’ papa dengan seksama dan alim, seakan-akan saya mengerti. Yang paling senang adalah menyambut papa pulang dari tugas di luar negeri, mendapatkan oleh-oleh (dasar anak-anak selalu minta oleh-oleh), dan kemudian makan bersama di meja makan sambil mendengarkan cerita papa mengenai perjalanannya waktu itu. Sejak 1970 Papa memang sering ditugaskan ke luar negeri untuk Seminar,Conference ,Workshop dan Rapat Dinas dengan partner Pertamina. Setelah menjadi eselon I di pemerintah, Papa mendampingi Menteri Lengkungan Hidup di UNCSD (United Nations Council for Sustainable Development) di New York dan di Governing Council UNEP (United Nations Environment Program) di Nairobi (Kenya). Pengalaman yang sangat bersejarah baginya adalah ikut safari di malam hari di hutan Kenya. Dia sangat terkesan dengan melihat seekor Leopard yang besar berjalan dekat pohon dimana Papa berlindung. Leopard tersebut kelihatan sangat megah didalam kerajaannya waktu malam hari. Papa juga sering mewakili instansinya di forum-forum luar negeri, bahkan sering memimpin delegasi Republik Indonesia ke Forum internasional seperti ASEAN Marine Pollution Experts Group , ASEAN sub regional group meeting, atau memimpin delegasi ahli standardisasi ke ISO TC 207 yang membahas standard ISO 14000 di Oslo (Norwegia) 1995, Rio de Janeiro (Brasil) 1996, Kobe (Japan) 1997. Bagaimana jalannya konferensi, Papa harus memimpin/ menjadi moderator simposium, atau papa bertemu dengan orang-orang terkenal si ini, si itu (Baca juga “ketik cepat=baca cepat”). Papa sudah mengunjungi kota-kota yang penting di pantai Timur,pantai Barat dan Mid west Amerika Serikat Demikian juga dengan pantai Timur dan pantai Barat Canada serta daerah sekitar Niagara dan Ontario.Kecuali Burma/Myanmar dan Laos,Semua negara ASEAN sudah dikunjungi. Praktis semua kota besar di Australia seperti Brisbane,Sydney,Melbourne,Perth,Fremantle dan Canbera sudah dikunjungi. Dalam banyak kunjungan tersebut Mama diajak ikut,tentunya ticket Mama bayar sendiri tapi hotel dan transport boleh ikut Papa. Jadi Mama juga banyak melihat dunia (dan sering berjalan sendiri loh). Banyak negara telah papa kunjungi , dan setiap pulang dari negara itu, saya menemukan waktu berharga yang hilang karena sibuknya papa berkeliling dunia dan menjalankan tugas sehari-hari. The important thing is the quality not the quantity of being together. Saat itu saya banyak bisa mendapatkan pengalaman-pengalamannya berinteraksi dengan orang-orang asing. Tidak jarang juga diselipkan humor-humor yang di dapat saat itu. Saking serunya papa bercerita kadang dia tidak menyadari bahwa yang mendengar omongannya waktu itu tinggal saya (do you remember those old day pa?).
Yang pasti sebelum saya berangkat ke Jepang papa selalu mengingatkan saya untuk berpikir berjenjang. “Imelda, kamu sering menganggap orang lain sudah tahu sehingga melompati urutan pemikiran. Dengan orang Jepang kamu tidak bisa begitu. Jangan dari A, B, lalu kamu lompat ke M, P dst. Orang Jepang tetap harus melampaui jenjang A, B, C, D….. dst. Sistematis. Jangan dilompati!! Ingat itu”. Dan berkat peringatan itu, saya berhasil mengubah kebiasaan saya yang melompati sesuatu, sehingga bisa bekerja/menjelaskan secara berurut… sistematis. Memang benar harus seperti itu karena orang Jepang kadang terlalu berpatokan pada Buku Manual. (Dan saya tidak pernah membuka buku manual jika harus set up komputer or elektroniks lainnya….sangat kontradiksi)
Cerita yang kadang membuat saya sedih, atau saya tahu papa juga sedih, adalah cerita jika orang-orang asing itu menanyakan papa lulusan universitas mana. UCLA? Barclay? Oxford?… then papa harus menjawab…. no I did’nt go to universities, I have no graduate tittle. Sampai lama-lama papa hanya menjawab ” Yes, I like fox”, then semua pikir papa lulusan dari Universitas yang berlambang fox (saya lupa universitas apa yang disebutkan). Papa berkata, yang penting saya tidak berbohong. Saya hanya mengatakan I like fox, not I went there. Menjadi sarjana adalah obsesi papa yang tidak bisa terpenuhi sampai saat ini. Karena itu papa selalu mengatakan kepada kami anak-anaknya untuk mengejar ilmu setinggi mungkin. Papa otodidak sehingga mendapat post-post tugas yang penting-penting itu tanpa gelar sarjana dengan kekuatan bisa berbahasa Inggris. Mana ada sih Eselon satu yang tidak bergelar sekarang? Sering dia memuat pidato atasan dalam bahasa Inggris, papers dalam bahasa Inggris dan mengisi majalah Science dan majalah lingkungan lain yang berbasis di luar negeri.Saya dengar dari Tina, bahwa papa melarangnya untuk belajar bahasa Perancis jika belum menguasai bahasa Inggris… Tapi itu jaman nya, jaman dulu, karena jaman sekarang tidak bisa tanpa gelar kesarjanaan seberapapun pintarnya engkau dan seberapa kuatnyapun engkau berusaha. Karena dorongan dan dukungan papa itu maka kami ke tiga anak perempuannya bisa mendapatkan gelar minimal Master. Saya master pendidikan ( dari Yokohama National University, Jepang), Novita Doktor (PhD) in Microbiology (Melbourne University, Australia) dan Tina Master Arsitek (Yokohama National University, Jepang). Kecuali Tina, semua dengan beasiswa dari negara ybs. Sedangkan papa tetap harus puas dengan sebutan “Sdr” di depan namanya dan menghibur diri dengan mengatakan my title is “Senior Doctor abv Sdr“. I still remember how proud he was when he attended my graduation day from University of Indonesia. But you have to know papa…. You are our Proffessor in many aspects especially for me. I am proud of you. I want to write more about you someday. But for today… Happy Birthday, my dearest Papa from your eldest daughter.
Pagi hari ini sebelum keluar rumah, Riku minta dibelikan nendo (malam/lilin). Tapi sebelumnya dia memang minta ikut. Dengan macam cara aku bujuk dia, dan berjanji akan membelikan nendo, dan besok akan pergi ke Game Center. Kemarin malam juga sebetulnya dia manja sekali padaku, dia minta Tina untuk telepon aku yang sedang dinner dengan temen-temen almamater.
“Mama pulang jam berapa?”
“Mama sudah selesai makan sayang, sebentar lagi naik mobil dan 30 menit lagi akan sampai rumah”
“Wakatta. Aku kangen mama”
“Mama juga kangen Riku, tapi mama ada teman yang datang dari jauh, jadi mama temani makan”
“Cepat pulang ya”
“Iya sayang”
Sambil nunggu Ira dan Nana ngebul dulu, aku beli majalah yang kira-kira bisa Riku baca. Duh aku jadi kangen sekali sama dia. Setibanya di rumah dia langsung peluk aku, dan bilang kangen…. Dan tercetus di mulut dia, “Aku kangen papa, aku mau pulang”…. hhhhhhh. Langsung call Tokyo, dan biarkan dia cerita-cerita pada papanya. Kejadian yang sama dengan 2 minggu pertama waktu dia ke Jakarta 2 tahun yang lalu. Selama seminggu di sini, boleh dikatakan dia enjoy but….semua percakapan dalam bahasa Indonesia. Dan itu mungkin yang membuat dia tertekan tidak bisa pakai bahasa Jepangnya. Dan dia selalu jadi nomor dua, karena aku selalu menomorsatukan Kai selama ini. Kira-kira 10 menit dia bercerita di telepon pada papanya dengan gaya orang dewasa. Kita berdua kaget dengan perubahan gaya bahasanya.
So, memenuhi janji saya pada Riku, aku beli nendo sebelum menuju The Cafe Hotel Mulias bersama Lala. But selagi makan dering HP dari Chris, adik iparku (yang sebetulnya lebih tua 2 hari dari aku) menyuruh aku telpon rumah. Riku demam tinggi. OMG…. Untung deh tinggal dessert yang harus kita habiskan (duh bener kemaruk euy…meskipun merasa rugi juga karena hari ini nafsu makanku kurang, but not Lala’s hehehe) Kami berdua langsung naik Silver Bird (gaya kali….) pulang ke rumah. Dan aku ngga bisa nahan airmata liat my boy yang biasanya ceria tergeletak tidur menggigil akibat demam. Maafkan mama sayang…. sejak kemarin malam kamu bilang Kangen mama, kangen, kangen, kangen, kangen, kangen …….tapi mama tidak memanjakan kamu. Cepet sembuh ya sayang…. besok mungkin tidak bisa bermain di Game Center, tapi begitu kamu sembuh, kita berdua saja akan pergi main seharian ya. Please….cepet sembuh sayang. Please God help him.
Dan aku menganggap aku beruntung karena Riku sakitnya di Jakarta (meskipun aku bukan Jawa masih menganggap apapun harus dilihat dari segi positifnya). Coba kalo dia sakit seperti ini di Tokyo, sedangkan Kai juga maunya aku gendong terus, I could not handle them alone. Di sini Kai bisa dipegang oleh Tina, Mama, Novi, or the other three asisten (pinjem istilahnya mas trainer). And aku bisa konsentrasi menjaga Riku (diselingi posting sambil nonton “Vanished” ….serem). Untung!!!
Sambil gendong Kai, aku buka kumpulan foto-foto hari ini, dan Kai yang biasanya tersenyum liat foto dia…kali ini menangis dan tidak mengenali foto dia sendiri. Bagaimana tidak, …… Di layar monitor yang terpajang adalah seorang IKKYU SAN bermata belo. He should be my avatar from today Tsuru-tsuru…. KAMI ga NAI!!!!

Riku sakit seperti aku, tidak mengeluh, hanya tidur dan…mengigau. Tiba-tiba bisa berkata/bercerita ini itu, yang tidak nyambung sehingga membuat heran yang mendengar.
.
yang terkenal memang adalah sebutan salah satu konstruksi khas ciptaan orang Indonesia. Tapi tentunya Anda juga tahu bahwa ceker ayam yang sesungguhnya adalah kaki ramping (pasti ngga ada dong ceker yang “daikon” alias gendut) penyangga tubuhnya ayam yang mungkin kelak akan menjadi santapan di meja makan. Banyak mengandung gelatin, dan sering dipakai sebagai pembuat kaldu. Kalau lagi miskin, Sup ayam bisa berubah menjadi Sup Ceker. Karena membeli satu kg ceker tentunya jauuuuuh lebih murah daripada membeli satu kilogram ayam.
Selain sup ada masakan chinese yang menyajikan ceker ini dengan bumbu pedas. Saya tidak mengerti namanya mungkin Shechuan style, yang pasti rasanya enak! Dulu waktu papa masih di London, kami sering menerima kiriman “dim sum” ceker ini satu loyang penuh dari Ibu Husein. Yummy. Namun tidak semua orang bisa tahan melihat “bentuk”nya sehingga merasa jijik untuk membawanya masuk dalam mulut. Kebanyakan orang Jepang memang tidak bisa makan segala “isi perut” dan ceker, bahkan melihat satu ayam utuhpun mereka tidak bisa. Kimchiii my japanese sister, smepat kaget waktu melihat satu ayam utuh di Ayam Suharti….tapi setelah melewati masa “shock”nya, saya rasa dia sekarang sedang ngiler membayangkan Ayam Suharti (nanti saya makankan untuk kamu ya kim).
Nah, beberapa kali Riku ikut pergi makan Dimsum di restoran depan Bulungan. Dan saya perkenalkan dia dengan jenis masakan yang satu ini, sambil berkata” Kalau tidak suka, jangan dimakan. Agak pedes loh!!”
But, Riku bilang,”Ini enakkkkkkk!!!”, dan setelah itu bilang “Mama, besok kita ke toko ini lagi ya”.
Dan setelah itu dia dua kali ke restoran ini tanpa saya, dan dia selalu minta “tori no ashi (kakinya ayam)”. Repotnya kalo dia minta dimasakin itu nanti sesudah pulang ke Tokyo. Karena, ceker ayam tidak dijual di toko/supermarket biasa. Harus pergi ke tempat ethnic food, yang jauh dari rumah kami. Jadi….puas-puasin makan di sini ya Riku!!!

Kalau di Jepang, hanya pada hari Minggu Riku bisa berjalan-jalan di luar. Hanya untuk berjalan ke dry cleaning dengan bapaknya, lalu mampir ke taman-taman yang banyak tersebar di dekat rumah kami. Atau kadang-kadang drive sampai suatu tempat dan jalan-jalan. Tidak pernah ada kebiasaan jalan pagi. Tentu saja itu juga karena setiap hari sibuk dengan pergi ke TK dsb. Tapi meskipun sedang libur pun, tidak bisa pada hari biasa. Karena saya tidak bisa menemaninya. Begitu keluar apartemen kami, langsung jalan sedang sehingga benar-benar berbahaya jika anak-anak keluar sendiri.

Selama liburan di Jakarta setiap hari Riku jalan pagi dengan Opanya. Kadang ditemani Kei-chan anaknya Novi. Dua hari yang lalu, karena Kai juga sudah bangun pagi, kami semua berjalan pagi di depan rumah. Hmmm andaikan suasana hijau di depan rumah saya ini ada di Jepang juga. Mungkin memang saya harus pindah dari apartemen yang sekarang. Dan mencari perumahan yang masih terletak di bagian dalam wilayah saya. Saya tidak mau pindah dari Nerima-ku. Karena wilayah ini amat sangat memperhatikan kesejahteraan dan pendidikan bagi anak-anak. Setiap bulan ada tunjangan dari pemerintah daerah sebesar kurang lebih 5000 yen (400.000 rupiah) per anak. Belum lagi tunjangan kesehatan gratis sampai dnegan anak itu berusia SMP. Lingkungannya juga masih asri, dengan ladang-ladang sayur di sekitar kami. Desa dalam kota, demikian kami menyebutkan wilayah ini. Nerima-ku terkenal sebagai penghasil Daikon (lobak).

(Di dalam taman pembatas ada ayunan dan sedikit tempat bermain minimum. Masih jauh dari cukup, tapi daripada tidak ada…. Dulu waktu saya kecil, sama sekali tidak ada ayunan atau space bermain seperti ini.)

(riku di depan mobil pulisi endonesah hehehe….–kanan adalah foto kolam ikan yang kering sejak maraknya demam berdarah dan setelah gempa meretakkan dasarnya (ingat postingnya Mas trainer yang mana yah….) )

(Dengan 5 cucu nya Opa…rumah kami penuh dengan mainan, teriakan anak-anak dan kadang tangisan manja atau berkelahi…heboh deh pokoknya. Karena itu kami menamakan rumah kami TK mtb. )
Apakah Anda masih ingat atau pernah diberitahu orang tua Anda, apa judul buku (bergambar) yang pertama kali didongengkan orang tua pada Anda waktu masih kecil? Orang tua saya sibuk sekali waktu saya kecil. Bapak saya seperti bapak-bapak muda lainnya sedang sibuk meniti karir di perusahaan. Bahkan sering mengikuti training ke luar negeri. Otomatis yang tinggal di rumah, yaitu ibu saya yang harus menyelenggarakan roda rumah tangga sendirian. Dan pastinya kerja di rumah itu tidak ada habisnya (ini saya alami sekarang). Jadi sangatlah jarang kami dibacakan dongeng oleh mama. Buku dongeng yang dibacakan adalah sebuah buku berbahasa Belanda yang diberikan saudara kami. Kumpulan dongeng seperti Upik Abu dsb. Mama akan membacakannya dengan menerjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia. Kami akan memilih bagian mana yang kami minta bacakan. Tapi kadang karena mama sudah lelah, ceritanya sering tidak “nyambung”, dan mama tertidur. Kami bangunkan, “ma…apa lanjutannya?”… Bayangkan kalau kemudian mama berkata, “Iya, kemudian Yusuf naik tembok…” (gubraaak). Biasanya kalau begitu, kami tahu diri dan akhirnya tidur tanpa mendengar kelanjutan ceritanya.

Nah dalam liburan kali ini, saya menemukan buku itu. Tertanggal 20 desember 1974, hadiah dari Opa Luke dan Oma Alie yang tinggal di Belanda. Memang adik dari Oma Alie ini adalah pengarang buku cerita anak-anak di Belanda. Isi ceritanya:
Selain Upik Abu, Si Topi Merah dan Putri Tidur, yang lain kurang saya ingat. Terutama si Jenggot Biru, sepertinya agak mengerikan. Nanti mau coba baca sendiri aaahhh.
Hmmmm lupa saya tambahkan dalam postingan saya Summer in Japan means… bahwa es serut atau kakigori merupakan salah satu ikon musim panas.Tentu saja sama dong dengan Es serut di Indonesia, tapi isinya yang agak lain. Kalau es serut di Indonesia, yang dnegan nama macam-macam biasanya berisi buah-buahan, kolang-kaling, tape singkong, cincau dll. Nah kalau di Jepang biasanya isinya kacang azuki (sejenis kacang merah kecil direbus dengan gula) lalu sirup maccha (teh hijau) kadang diberi es krim vanila. Ini yang biasanya ada di restoran-restoran. Rasa Japanis banget deh. Tapi kalau pergi ke Festival-festival summer yang ada, yang namanya kakigori biasanya hanya berupa es serut yang diberi sirup rasa Melon, Strawberry dan Blue Hawaii. Nah hari ini tanggal 25 Juli adalah peringatan hari NATSUGORI, sama dengan kakigori (natsu =summer gori =ice). Dipilihnya tanggal ini karena sebutan Na-tsu-go yaitu 7-2-5. Dan kabarnya tanggal ini adalah hari terpanas di Jepang. Hiiii, untung saya di Indonesia ya. Bisa makan es shanghai, es teler, es merah delima, es-te-em-jeh …wah yang terakhir ini lain ya….

Hmmm mau cari es -es an dulu deh. Tergantung juga sih es nya satu atau dua atau tiga. Kapan ya aku bisa es tiga heheheh.
Sungguh menarik mengetahui apa yang dilakukan masyarakat Jepang dengan padi. Anda dapat mengenal segala sesuatu tentang Padi dan Kehidupan Masyarakat Jepang melalui tayangan film dokumenter menarik di TVRI. Tayangan ini diselenggarakan atas kerjasama The Japan Foundation dan TVRI.
setiap hari Rabu, Kamis dan Jumat pk. 16:30-17:00 WIB di TVRI.
6 Agustus : The Life Cycle of Rice & Rice Cultivation around the World.
8 Agustus : Preparing the Paddy & Water : The Rice Paddy’s Font of Life
27 Agustus : Creature of the Paddy & The War against Pests
28 Agustus : The History of Rice Cultivation in Japan & Selective Rice Breeding
3 September : Let’s Eat Rice & Rice Dishes Around the World
4 September : Animals Brace Themselves for Winter & Making Rice Cake
5 September : A Rice Farmer’s Challenge & Environmentally Friendly Rice Cultivation
The Japan Foundation, Jakarta merupakan lembaga administrasi independen yang didirikan tahun 1974 dengan nama Pusat Kebudayaan Jepang untuk mempromosikan kegiatan pertukaran budaya antara Jepang-Indonesia.
Jam buka :
Kantor : Senin-Jumat 08:30-16:30
Perpustakaan ( terbuka untuk UMUM ), menyediakan sekitar 29,000 buku berbahasa Indonesia,Inggris dan Jepang.
Senin-Jumat : 09:30 - 18:00
Sabtu : 09:00 -12:30 ( minggu ke 2&4 TUTUP )
Rabu, Minggu dan hari besar TUTUP.
The Japan Foundation, Jakarta
Summitmas I lantai 2-3, Jl.Jend.Sudirman - Jakarta Selatan
T.021-520-1266 F.021-525-5159 | http://www.jpf.or.id
Di Jepang ada istilah ini….果物の王様 Kudamono no Ousama. Rajanya buah-buahan. Dan itu adalah Durian. Mungkin sedikit orang Indonesia tahu istilah ini, tapi jika Anda berada di Jepang, pasti akan mendengar istilah ini. Kenapa Durian dianggap Rajanya buah-buahan. Katanya sih karena RASA Manis nya yang kuat, Tapi karena baunya yang menyengat banyak orang Jepang tidak bisa membawa buah ini ke dalam mulutnya. Suami saya tidak bisa, dan ternyata Riku juga tidak bisa. Saya sendiri sudah menjadi alergi pada Durian, gatal hebat di leher bagian dalam jika memakannya. Tapi…ibu mertua saya suka sekali. Dan satu peringatan (pemerintah) yaitu jangan makan durian jika sedang minum alkohol, karena bisa menyebabkan kematian. Dan ini bukan tabu saja, mungkin (hipotesa saya) kadar gula yang ada dalam tubuh bisa naik tiba-tiba….

(pertamanya sih semangat…di foto terakhir mulai terlihat dia tahan-tahan tuh untuk keluarin heheheh)
Saya tidak tahu siapa yang pertama kali memastikan bahwa Durian adalah Rajanya buah-buahan, dan Manggis sebagai Ratunya. Tentu bagi setiap orang, anggapan Raja dan Ratu buah-buahan untuk dirinya akan berbeda. Bagaimana dengan Anda? Kalau saya…. Semangka (makanya bisa jadi induk semang heheheh) dan Longan atau Pear Korea. FYI, saya alergi buah rambutan, manggis dan durian. (Dulu sempat alergi kismis, tapi sekarang sudah tidak apa-apa)
Beginilah kalau hidup sudah cukup lama di dunia. Pasti ada barang-barang atau merek-merek yang menyimpan kenangan masa kecil. Dalam liburan saya kali inipun, saya banyak menemukan barang-barang yang mempunyai arti atau kenangan tersendiri. Memang akhirnya pasti dibilang “imelda pasti buntutnya makanan”, mungkin ya, tapi tentu saja ada yang lain dong.
Nah kali ini saya mau tulis tentang dua snack, satu dari Belanda dan satu dari Indonesia.

Permen Hitam ini dari dulu selalu ada di rumah saya. Biasanya Oleh-oleh dari Belanda, dengan variasi bentuk dan sedikit variasi rasa garam/warna. Namanya DROP tapi saya heran juga, kok bisa-bisanya orang Belanda suka dengan rasa yang lumyan aneh begini. Mungkin untuk membayangkannya, Anda tentu tahu OBH (Obat Batuk Hitam)…nah rasa itu dipadatkan menjadi sebuah permen gummy. Dan waktu saya tanyakan pada ibu saya, ternyata memang permen ini punya fungsi sebagai pastiller, pengurang batuk. Meskipun rasanya aneh, kalau sudah lama tidak lihat dan tiba-tiba muncul di hadapan Anda, mungkin tak terasa tangan ini akan meraih dan memasukkan satu butir permen ini dalam mulut Anda. Dan saat itu saya teringat masa-masa kecil, kala papa membawa oleh-oleh drop, coklat verkade dan marsepein (marzipan) . Hmmm lekker.
Tidak kalah dengan oleh-oleh dari luar negeri, oleh-oleh ini juga nikmat loh. Brem cap suling. Ditulisnya sih produksi Boyolali…. tapi saya lupa papa dulu suka bawa dari mana. Mungkin oleh-oleh dari Yogya ya? Sama dengan brem putih berbentuk bulat pipih (kalau kami bilang seperti “hosti”), brem ini sering jadi penganan kecil di sore hari. Rasanya masih sama seperti dulu, tapi…..kok semakin tipis ya? Volumenya berkurang, mungkin untuk menjaga harga yang sama. Taktik perdagangan….tapi biasanya tidak begitu ketara. Mungkin karena memang sudah lama tidak lihat, perubahan itu sangat terlihat di mata saya kali ini. Tipis bo… Dan saya juga jadi teringat, sebelum pulang, saya dapat oleh-oleh Beng-Beng dari adik saya Mariko-san. Saat itu dia bilang “Mbak pasti akan kaget deh, lihat deh ukurannya”…Hmm benar juga bentuknya sih sama tapi tipis dan kecil. Benar-benar menciut deh. Untung saja rasanya tidak menciut sehingga saya masih suka.
Sebuah kalimat terakhir yang masih aku hafal “Terima kasih atas pilihan Anda terbang bersama Japan Airline”. Serentetan salam dan pengumuman yang harus aku bacakan dan direkam dan sudah diputar bertahun-tahun. Aku sendiri tidak berharap untuk bisa mendengarnya kali ini, tapi ternyata masih juga diputar meski dengan volume yang lirih sekali. Sambil aku kasih tahu Riku, “Itu suara mama loh”. Ternyata masih dipakai.
Jam 5:45 pagi Gen jemput Tina dan Koko untuk kemudian langsung ke Narita, sedangkan aku dan anak-anak naik mobilnya mertua langsung ke Narita juga. Untung aku hanya membawa satu koper kecil, karena dua koper yang besar sudah menunggu di Narita (bahkan mungkin di pesawat) dan tinggal kita ambil di Cengkareng Tebura puran (hands free plan), layanan dari ABC+JAL. Proses check in lancar, meskipun aku lihat ada antrian panjang di beberapa counter JAL. Bandara saat itu boleh dikatakan sepiii sekali. Mengherankan juga. Apa akibat kenaikan harga avtur (bensin pesawat) menjadikan orang-orang Jepang memilih untuk berlibur di daerah yang dekat-dekat saja. Or ini juga menandakan resesi juga sedang terjadi di Jepang. Entahlah aku bukan ahli ekonomi, dan tidak pernah berminat memperdalam ekonomi. Mungkin kalau mau belajar lagi aku lebih memilih Hukum daripada bidang ilmu lainnya. Wahhh kok melantur sampai hukum ya? Pesawat JAL yang kami tumpangi ini juga tidak penuh, tidak sampai separuhnya.

KKami menempati tempat duduk pertama setelah Bussiness Class, sebelah kiri dan ada bashinet, baby bed nya untuk Kai. Aku pesan child meal and baby meal. Yang mengherankan, makanan child mealnya lebih enak dan lebih cool dari yang untuk dewasa. Pudingnya puding caramel sedangkan di meal dewasa puding manggo. Saladnya Fruit Cocktail…. Duuh kan aku suka puding caramel…akhirnya tukeran deh sama Riku. Aku sambil suapin Riku karena Kai bobo, dan Riku kalau sambil menonton pasti tidak akan makan. Dia lebih pilih nonton daripada makan. Riku enjoy banget karena setiap tempat duduk ada video/game nya. Dia main terus, juga nonton Disney Channel.

Ada satu kejadian dengan Riku sehubungan dengan WC. Waktu pertama kali ke WC, dia pergi ke WC bersama aku. Kedua kalinya dia pergi sendiri dan berhasil. Good. Kemudian yang ketiga kalinya, di minta pergi sendiri lagi dan aku sedang kasih makan Kai yang sudah terbangun dari tidurnya. Sayup-sayup aku dengar suara teriakan anak-anak dua kali. Anak siapa tuh? pikirku. Ehhh tau-taunya Riku muncul dan dia bilang
“Mama tadi aku pergi ke WC yang lain, trus….. aku …. ngga bisa buka……(dia mulai nangis)… aku teriak dan pramugarinya buka…..”
Aduuuh anakku….
“OOOhhh pantesan tadi mama dengar anak teriak, itu Riku ya?”
Aku peluk dia dengan sebelah tangan. Dan aku bilang,
“Riku pintar deh….Riku kan teriak jadi orang orang bisa tau dan bisa bukakan pintu untuk Riku. Memang harus begitu. Bagus Riku. Nanti kalau mau ke WC lagi, nanti Riku liat deh ada tombol yang bergambar orang dan berwarna oranye. Tekan itu saja, nanti pasti ada orang yang tolong. Tapi teriak itu sudah bagus.”
Aku takut dia trauma dan tahan pipisnya tidak mau ke WC bisa berabe. Jadi waktu dia mau ke WC lagi aku antar dia dan kasih tunjuk tombol yang aku maksudkan. Sesudah itu dia bisa pergi sendiri lagi.
Terkunci di WC, suatu kondisi yang pasti tidak mau kita alami. Tapi aku ingat Mama pernah mengalaminya di bandara Yogyakarta. Sampai terpaksa petugas naik dari atas dan masuk ke dalam bilik, untuk membuka pintu dari dalam. Untung masih sempat naik pesawat. Aku sendiri belum pernah mengalami, tapi mungkin karena dulu ikut pramuka, aku selalu memeriksa kondisi wc/kamar yang aku masuki untuk mengantisipasi kemungkinan terkunci dsb. Prepared, tapi melelahkan karena syarafnya tegang terus deh. Kadang tidak enak juga menjadi orang yang “selalu siap”
Tujuh jam perjalanan memang melelahkan. Untuk sendiri saja capek, apalagi jika membawa bayi/anak balita. Belum lagi kalau nangis terus. Untung aku bisa konsentrasi ke Kai saja, karena Riku bisa main video game sendiri. Tapi waktu landing, Riku sempat muntah, dan aku dengan satu tangan harus cari kantong plastik, dan akhirnya pakai selimut untuk bantu Riku. Rasanya ingin punya 10 tangan supaya bisa melakukan semuanya sekaligus. Ini aku sudah terlatih deh untuk melakukan dua pekerjaan yang berbeda dengan satu tangan. Sulit memang menjadi seorang ibu. Untuk urusan barang kali ini tidak menjadi masalah karena Tina bantu aku untuk angkat barang. Tapi kalau misalnya tidak ada Tina? duhhh bagaimana nanti pulangnya ya? Que sera-sera deh.
Akhirnya setelah 7 setengah jam, kita landing dengan selamat di bandara Soekarno Hatta. Satu hal yang membuat aku senang dengan bandara Indonesia adalah dengan adanya sistem porter. Kalau di Jepang tidak ada sistem porter. Semua orang harus bertanggung jawab mengangkat kopernya sendiri dari luggage belt ke trolley. Dan aku harus mengalami mengangkat koper sendiri dalam keadaan hamil dan waktu menggendong bayi. Tidak ada orang Jepang yang membantu. This is what I called DINGIN. Nobody cares. Kalau ada porter, biarpun mahal aku akan bayar. Tapi tidak ada. Di sini bisa dirasakan bahwa uang tidaklah menyelesaikan segalanya (eh bisa deng kalau saya bayarin tiket seseorang khusus untuk angkat-angkat koper…ayo siapa mau? tapi duitnya ngga ada tuh).
Setelah bertemu orangtua, Chris dan Andy, kita muat koper di dua mobil dan go home deh. Satu hal yang membuat aku sedih juga waktu melewati bundaran Senayan, yaitu berubahnya pemandangan akibat adanya Senayan City. Where is my old town?

(lucu deh si riku dan kai lagi bobo….ada suatu saat riku sebelah dalam dan Kai sebelah luar, sesudah 2-3 jam kedudukan berubah….kok bisa?)