RSS
 

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Jangan paksakan diri demi aku

22 Jun

terjemahan dari bahasa Jepang, “Boku no tameni muri shinaide ne”

Sabtu malam, papa Gen pulang ke rumah sekitar jam 8 malam. Kebetulan anak-anak belum makan, dan pas baru akan makan. Waktu aku  mempersiapkan makanan, Gen bilang padaku, “Sorry sayang, besok (minggu) aku harus kerja”. What?
Aku juga agak kecewa, karena kebayang capeknya melewati hari minggu bertiga lagi. Tapi apa boleh buat, kalau memang kerjaannya belum selesai abis bagaimana. Jadi aku bilang pada Riku, “Riku besok papa kerja, jadi kasih itunya sekarang saja”.

Riku sudah membuat gambar dan “convinience tools” untuk papanya, kado di Hari Ayah. Karena aku bilang kasih sekarang saja (semestinya besok), kemudian dia berikan pada papanya. Terima kasih bla bla bla….. ok… dinner time.

Salah satu gambarnya Riku ; "Riku with Papa"

Tapi waktu kami akan mulai makan, Riku bertanya sekali lagi,
“Besok papa kerja?”
“Iya, maaf ya Riku….”
“Ya sudah, besok Riku, Kai dan mama pergi jalan-jalan yuuuk”, aku berusaha menghibur.
Tapi aku lihat warna mukanya berubah. Gen tidak perhatikan, karena dia duduknya menyamping. Aku tahu, Riku akan menangis, jadi aku langsung menghampiri dia, memeluk dia dan berkata,
“Riku, papa juga ngga mau pergi kerja, tapi kalau pekerjaannya belum selesai gimana”
Meledaklah tangis Riku, dan Gen terkejut. Tidak menyangka. Langsung Gen bilang,
“OK Riku, besok papa libur!!! Yosh… kimeta (saya putuskan) tidak ke kantor”
Gantian Gen memeluk Riku, dan terucaplah kalimat di atas,
“Papa jangan paksakan diri libur hanya untuk Riku!”
sebuah ungkapan yang sering dipakai orang Jepang yang sebetulnya berusaha untuk menyatakan bahwa dirinya tidak apa-apa. ….. Tapi biasanya dipakai oleh orang dewasa tentunya. Aku juga heran sampai Riku bisa berkata begitu. Kasihan, dia terlalu cepat menjadi dewasa pemikiran….

Sambil menahan haru, Gen bilang,
“Kamu bilang apa? Bagi papa, Riku lebih penting dari kerja. Besok kita pergi sama-sama ya”
Kami bertiga menghapus airmata dan berdoa makan…. cuma kai saja yang tertawa melihat kami…..

Hari Minggu Hari Ayah! Masak seorang Ayah harus bekerja di hari itu? Sama saja seorang buruh bekerja di Hari Buruh… dan itu sering terjadi di keluarga Jepang pada umumnya, dan keluarga Miyashita pada khususnya. Bukan karena suka kerja, workholic, tapi karena terpaksa. Sambil merenungi kejadian Sabtu malam itu, aku berpikir. Dulu papaku juga tidak pernah ambil cuti. Tapi anak-anaknya tidak ada yang protes atau berkata seperti Riku, jadi ya begitu saja terus. Kami jarang sekali bepergian/piknik bersama. Jadi teringat sebuah iklan mobil di TV Jepang, “Mono yori omoide” (Daripada barang lebih baik kenangan).

Berkat Riku, hari Minggu kami lewati dengan penuh kegembiraan, meskipun hari hujan dari pagi hari. Aku terbangun jam 6 pagi, padahal baru tidur jam 3 pagi. Tapi Riku juga bangun jam 6, dan tak lama Kai bangun juga. Jam 8 semua sudah berkumpul di kamar tamu. Jadi, hari ini mau ke mana?

Dan sekali lagi Riku berperan, “Aku mau ke yokohama, ke tempat A-chan (ibunya Gen) dan Ta-chan (bapaknya Gen)”. Ya, sekaligus deh merayakan Hari Ayah bersama Ketua Clan Miyashita.

Jam 9 pagi kami sudah di jalan raya di bawah rintik hujan, dan… lapar. Lalu aku bilang pada Gen, bahwa mulai kemarin di Mac D hadiahnya karakter Pokemon. Dan ini pasti cepat habis. Jadi akhirnya kami mampir ke Mac D, dan saya juga pesan Happy Set + untuk anak-anak, supaya bisa dapat mainan pokemonnya 3 buah. Dan Kai, langsung berseri-seri melihat mainan pokemon, “Pipa…pipa…” rupanya dia mau bilang Pika (pikachu).
Ternyata tidak perlu makanan mewah dan mainan mahal untuk menggembirakan satu keluarga (Yang pasti Gen dan aku ikut gembira karena rasa lapar terobati. Paling tidak enak menyetir dalam keadaan lapar).

bermain bersama Ta-chan

Setelah selesai sarapan, kami bergerak menuju Yokohama dalam hujan yang menderas, dan jalanan yang mulai padat dan macet. Hampir satu bulan lebih kami tidak saling bertemu, dan ternyata banyak berita keluarga yang tidak sempat kami ketahui. Yang sakit, yang cuti, yang menderita…. Nampaknya tahun ini akan menjadi tahun yang sulit juga bagi keluarga kami. Menghitung hari-hari tersisa dalam kehidupan.

Biasanya kami pulang larut malam, tapi karena sudah lama juga tidak bertemu adikku Tina, jadi kami mampir dulu ke apartemennya. Ternyata dia sendiri, Kiyoko temannya sedang pergi ke rumah orangtuanya. Jadilah kami ajak dia makan malam bersama di restoran Taiwan. Yang saya merasa menyesal saat itu, kenapa tidak minta Tina untuk memotret kami berempat! Baru ingatnya setelah jalan pulang.

Well, week end is over, and back to reality.

 

Menjadi Seorang Ibu

12 Mei

Dulu, aku tak pernah membayangkan diriku mempunyai anak. Suka anak-anak? well, suka tapi tidak terlalu, meskipun tidak bisa dibilang benci anak-anak. Aku tidak pernah memimpikan diriku menjadi seorang ibu, karena aku takut melahirkan. Tapi itu dulu.

Takut sakit melahirkan? Ya mungkin itu penyebabnya, meskipun aku bisa menahan sakit usus buntu yang hampir pecah, yang katanya semestinya sakit tak tertahankan. Tapi selain itu mungkin aku tidak pernah bermimpi akan mendidik anakku seperti apa.

Gen berkata, “Aku tidak mau punya anak. Kasihan anak-anak itu hanyalah makhluk yang tidak berdosa yang harus menuruti kehendak ayah-ibunya dan tidak pernah punya kebebasan. Menderita selalu!” Dan dia tidak mau membuat anaknya menjadi sama dengan dia.

Namun Tuhan jugalah yang menentukan sehingga akhirnya kami punya dua anak laki-laki yang ….. baik …dan nakal.
“Apa konsep kamu mendidik anak?” katanya.
“Haruskah membuat manual?”kataku. “Aku tak punya konsep, akan kutiru apa yang diajarkan ibuku ketika kecil, dan tapi akan kuajarkan juga sesuatu yang kurang diajarkan ibuku padaku waktu kecil, yaitu percaya diri dan keberanian untuk bertindak”

Tidak jarang Riku berkata pada ayahnya, “Kita tanya saja petugasnya dimana letak binatang itu”…. dan dengan santainya dia menghampiri petugas kebun binatang dan bertanya, dan menemukan jawaban bahkan diberi hadiah. Sementara papanya melongo di kejauhan.

Atau Kai yang mengambil kain pel dari tanganku dan mengepel lantai basah seakan pekerjaan itu sudah biasa. Atau meminta aku membukakan plastik kue, tapi yang diambil bukan hanya kuenya saja, tapi juga plastiknya… pergi dan membuang plastik itu di tempat sampah. Meninggalkanku dengan mata berkaca-kaca.

“Papa, anone…. hari minggu kan hari ibu… Riku nanti mau beli coklat untuk mama. Dan tulis kartu untuk mama. Papa mau beli apa untuk mama? Ini rahasia loh …jangan sampai mama tahu.” –sebuah percakapan di kamar mandi—

“Mama… aku mau pergi ke Murata (toko kelontong) sebentar ya?”
“Ngga boleh… kamu itu buang uang terus untuk beli makanan, jus dsb”
“Aku kan mau beli untuk mama…. juga (sambil ngedumel : ahhh hampir ketahuan)”.  Dia pergi dan kembali setengah jam berikutnya.
“Aku pergi ke Murata ya Ma”
“Ya sudah pergi sana… cepat kembali ya” Sambil pura-pura tidak tahu, dan tidak tanya.

Begitu pulang, dia langsung sembunyikan coklatnya di laci, dan mengambil kertas untuk menggambar. Aku sengaja tidak mendekati dia. Sampai temannya datang ke rumah.
“Eh kamu… udah beli apa untuk ibu kamu?”
“Hmmm belum… tapi di TK buat gambar”
“Aku dong… udah beli coklat untuk mamaku” Diucapkan di kamar seeblah kamarku…. Oi Nak.. ada mama nih di sini.

Dan betapa marahnya dia, waktu Kai menemukan coklat itu di laci, dan membawanya padaku minta dibukakan. Aku ingin tertawa dan menangis bersamaan melihat kotak coklat yang bertuliskan dengan spidol “Mama… terima kasih….” Sambil berkata pada Kai…. “Ini punya kakak!”
“Rikuuuuu…. ini Kai ambil barang kamu loh” sambil pura-pura tidak baca. Kai mengejar Riku keluar kamar, dan di luar Riku memarahi adiknya, “Kai… INI KAN AKU BELI UNTUK MAMA….. JANGAN AMBIL” (Dalam bahasa Indonesia). Dan terpaksa aku mengambil stock es krim di lemari es untuk menghibur dua bouya-ku, yang satu sedang marah, satunya lagi menangis.

Coklat dan gambar dari Riku

Ahhh setiap hari aku sering harus bertengkar mulut, menyuruh ini itu, melarang ini itu, mengurut dada melihat kenakalan mereka memporakporandakan rumah……. tapi setiap kali kusadari mereka itu anak-anak yang “melihat” ibu – bapaknya dan meniru kami.

Aku selalu tertawa setiap kali melihat Kai yang terdiam dari tangis kelaparannya jika melihat makanan. Persis ibunya. Dan selalu melihat sosok papanya pada Riku yang menunduk diam setelah dimarahi, dan berusaha mencairkan suasana dengan membuatkan sesuatu atau mengambilkan sesuatu untuk mamanya.  Meskipun setelah itu Riku akan datang padaku dan memelukku, “Mama, maaf ya. Mama tahu di dunia ini yang aku sayangi hanya mama seorang”. CARA INI KHAS RIKU.

Ah…. mempunyai dua anak sangat menyenangkan. Apakah dulu mamaku juga merasa demikian? Ketika membesarkan kami empat anak di sebuah rumah besar di Jakarta, yang kerap tak ada pembantu? Apakah mama juga pernah merasa bahagia memiliki aku, anak tertuanya, yang dengan kehamilanku membuatnya tak bisa bekerja lagi? Yang harus menangis ngidam mie ayam tapi tak bisa beli karena tidak ada uang?  Yang.. yang… yang… lainnya?

Ya mama… di hari ulang tahunmu hari ini aku ingin bertanya, “Apakah mama bahagia selama ini?” Apakah anakmu yang dulu sering berteriak, “Mama minta tambah ayamnya” padahal maksudnya bayam… sudah bisa membuatmu bahagia?

Kartu Mothers Day dari Kai yang dibuat di penitipan

Kartu Mother's Day dari Kai yang dibuat di penitipan

Betapa aku merindukanmu hari ini Mama.  Sayang aku tak bisa ikut pergi ke misa pagi, misa syukur hari ulang tahun yang merupakan kebiasaan keluarga kita selama bertahun-tahun jika ada yang berulang tahun. Tapi yang pasti aku berdoa di sini, agar engkau tetap sehat dan menikmati hari-harimu di Jakarta. Selamat menyambut usia 71 tahun dengan ceria, dikelilingi anak-anakmu dan cucu-cucumu di sana, dan di sini. Dan kita semua bisa sama-sama berdoa, hari ini, “Terima kasih Tuhan atas semua anugerahmu kepada kami, setiap detik kehidupan kami. AMIN”

Imelda usia 6 bulan di Bantaeng, Sulsel

NB:  Dan ntah bagaimana hari ini adalah hari Perawat …sedangkan mamaku adalah mantan perawat. Aku juga ingin berdoa bagi semua Perawat di dunia, semoga mereka bisa membantu penderita sakit melewati hari-hari suramnya.

 

One scoop free

09 Mei

Sudah sejak kemarin saya dan adik mayaku, Yoga membicarakan soal es krim. Kami berdua memang pecinta es krim, kue, kopi dan teh. Yang terakhir baru saja masuk listku, karena memang dulu saya tidak begitu senang minum teh. Tetapi sejak sering sakit perut, saya hanya bisa minum teh, dan coba-coba bermacam jenis teh dari berbagai merek … terutama yang berasa orange/lemon dan fruit.

Nah, tadi pagi kembali lagi es krim menjadi topik pembicaraan. Katanya dia mupeng pengen es krim hihihi. Lalu saya tanya, bisa ngga sih beli eskrim online di Jakarta?  Hehehe, pertanyaan yang aneh, karena di Tokyo pun sebetulnya tidak ada layanan itu. Ada, tapi hanya eskrim yang disediakan oleh pizza or kentucky delivery. Padahal yang kita mau makan es krim berkualitas.

Wah istilah apa lagi ini es krim berkualitas? Mungkin yang paling langsung bisa diketahui bahwa es krim itu berkualitas itu seperti apa, ya yang dijual dengan harga mahal per scoopnya, dengan nama merek-merek terkenal yang ada di cabang-cabangnya di berbagai mal di kota besar.

Waktu kita datang ke gerai tsb sedang ada diskon 31% jadi bisa beli 6 scoop untuk berempat

Waktu kita datang ke gerai tsb sedang ada diskon 31% jadi bisa beli 6 scoop untuk berempat

Dan sebetulnya hari ini memang saya ingin sekali pergi ke gerai Baskin Robbins 31, tapi karena Kai dan saya sendiri sedang tidak enak badan saya batalkan. Karena waktu beberapa hari yang lalu ke sana, saya membaca bahwa pada tanggal 9 Mei, Baskin Robbins akan memberikan satu scoop es krim gratis bagi penyumbang pengumpulan dana Unicef.  Rupanya kegiatan untuk membangun pendidikan di negara Burkina Faso yang terletak di Africa ini sudah berlangsung sejak tahun 2002. Pada awal kegiatan tahun 2002 terkumpul dana sebesar 47.80o.000 yen. Dan tahun kemarin 2008, terkumpul 284.680.000, meningkat hampir 6 kali lipat!!!! (sumber situs baskin jepang) Dan perlu diketahui, hari ini pemberian satu scoop gratis ini hanya dibatasi dalam dua jam sejak toko dibuka. (hmm saya ingin tahu hasil tahun ini deh…. meskipun saya tidak bisa berpartisipasi)

(Kabarnya dulu Presiden AS Obama pernah bekerja di gerai ini di Honolulu, dan waktu kencan pertama dengan First Lady juga di gerai ini dan menyantap es krim rasa coklat… Jadi Riku pun sekarang setiap ke sini, mau memesan rasa “Obama” heheeh)

Lalu mengapa Baskin Robbins membuat acara bagi-bagi es krim gratisnya hari ini? Ya, karena hari ini adalah hari es krim, yang sudah pernah saya tulis tahun lalu di postingan ini.

Jadi hari ini apakah saya sudah makan es krim. Jawabnya? Sudah, karena Riku pergi beli es krim (meskipun yang murah)  di toko konbini dekat rumah. Yang membuat saya terharu dari anak sulungku itu adalah dia juga membeli susu dan coklat padahal saya hanya menyuruh dia membeli es krim. Lalu dia bilang, “Soalnya saya tahu tidak ada susu di lemari es. Mama kan setiap hari harus minum susu kan?” Duh, anakku……

NB: Yug, itu rasa baru Pudding ala Mode dan Strawberry Choco Dipped. Es krim untuk kamu dipending dulu ya, sampai aku bisa ke Jakarta lagi, dan kita sama-sama pergi makan es krim di Sency hihihi (Jangan khawatir Kai sudah bisa dititipin makanin es krim untuk kamu, sambil mamanya bantu).

 

IBSN : Enam jam kehidupan

21 Apr

Saya pernah membaca cerita ini 5 tahun yang lalu. Renungan yang selalu membuat saya menangis. Dan saya ingat saya pernah memberikannya pada seorang teman yang sedang menderita kanker. Dia berkata renungan itu amat menguatkannya. Dan betapa senangnya saya mendengar dia sudah sembuh sekarang. Berkat teh hijau…..

Saya ingin menaruh renungan ini di sini sebagai ingatan akan makna kehidupan untuk semua orang… Dan terutama ingin mendoakan Sassie, seorang blogger, anggota IBSN yang berpulang karena sakit juga. Semoga Sassie bisa menjadi cahaya yang menerangi kita yang masih tinggal di dunia, sama seperti tulisan-tulisannya yang begitu memberikan inspirasi bagi kita teman-temannya.

Copy berita dari sms:

innalillahi wa innalilahi rojiun.. telah berpulang ke rahmatullah.. adik dan saudara kami tercinta SASSIE KIRANA Binti Abdul muthalib pada hari minggu dini hari/senin pukul 3 pagi di lahad Datu Hospital jenazah telah dikebumikan pada hari senin sore di tarakan kami atas nama keluarga Almarhumah mohon maaf atas segala kekhilafan almarhumah semasa hidupnya semoga almarhumah mendapat tempat yang layak di sisiNYA Amin.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Sepasang suami istri hidup bahagia. Sejak 10 tahun yang
lalu, sang istri terlibat aktif dalam  kegiatan  untuk menentang
aborsi, karena menurut pandangannya,  aborsi berarti membunuh
seorang bayi. Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang
istri  hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka
menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan
lingkungan sekitarnya. Semua  orang ikut bersukacita dengan
mereka.

Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi.
Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan
perempuan. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin
tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga
dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk
dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2
nya.

Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami
maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan  ini bersikeras untuk
tidak menggugurkan bayi  perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi
juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. “Saya bisa merasakan
keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak”, kata sang  ibu di sela
tangisannya.

Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada
pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah  kehendak
Tuhan. Ketika sang istri semakin mendekatkan  diri dengan Tuhan,
tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik
semua ini.

Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka
mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan
banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi
mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak
sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga  mengalami situasi yang
sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga
menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka
mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang
sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang
lain ?

Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini  menamakan
bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada
mulanya, mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian
mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan
untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan
punya rencanaNya sendiri.

Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne  cukup sehat
untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2
jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika
sesuatu yang buruk terjadi  pada Anne, mereka akan mendonorkan
organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang
sedang menunggu donor organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini
berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang
tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan
ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan
terjadi.

Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua
bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut,
sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap
ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak
akan pernah terlupakan dalam
hidupnya.

Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan
perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa
mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi
Anne), mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil
tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini
akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh tidak ada kata2 yang
dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air
mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa
mereka yang terluka..

Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki
kesempatan untuk melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap
bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih
banyak bagi Keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan.
Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam
jam…..

Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran
organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb
bahwa donor tsb berhasil. Pasangan tersebut sekarang sadar akan
kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia
berhasil menyelamatkan nyawa saudaranya.  Bagi pasangan tersebut,
Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup
dalam hati mereka
selamanya…

Sumber : Gifts From The Heart for Women – Karen Kingsbury

******************************

***************************************
2. REFLECTION

1.      SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu
hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah
APA YANG KITA TELAH KITA LAKUKAN SELAMA HIDUP KITA, YANG BERMANFAAT
BAGI  ORANG LAIN.

2.      SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita
telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang
benar2 penting adalah APA YANG DILAKUKAN PERUSAHAAN KITA SELAMA INI,
YANG  BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN

3.      Ibu Anne mengatakan “Hal terpenting bagi orang tua bukanlah
mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka
tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan.
TETAPI HAL TERPENTING BAGI KITA SEBAGAI ORANG TUA ADALAH UNTUK
MEMASTIKAN BAHWA ANAK-ANAK  KITA MELAKUKAN HAL2 TERPUJI SELAMA
HIDUPNYA, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan
menuju surga”.

*********************************************************************

 
 

Akhir tahun fiskal dan TPA

28 Mar

Sampai dengan tanggal 31 Maret merupakan tahun fiskal 2008, sehingga hampir semua pegawai pasti pulang larut malam. Semua laporan keuangan harus selesai sampai dengan tgl 31, dan tanggal 1 merupakan awal tahun fiskal baru, tahun fiskal 2009. Meskipun suamiku bukan bagian keuangan, tapi setiap proyek atau kegiatan kantor pasti memakai biaya, sehingga dia pun terpaksa harus mendekam di kantor hingga larut malam. Tadi malam pun dia baru jam 1 sampai di rumah.

Fenomena menarik dari penutupan akhir tahun fiskal ini adalah, dana yang disediakan terutama untuk pemerintah harus habis. Jadi memasuki bulan Maret, jika masih ada sisa dana, biasanya semua berlomba-lomba untuk menghabiskannya. Kalau bisa satu paper clip juga ditagih. Karena itu menjelang penutupan tahun fiskal, bulan februari-maret di Jepang banyak kita jumpai perbaikan jalan/trotoar yang sebetulnya belum perlu untuk diperbaiki. Katanya sih ini salah satu cara untuk menghabiskan dana.

Ketika saya tanya kenapa sih harus habis? Bukannya lebih baik bersisa, dan bisa dikembalikan dan mungkin bisa digunakan untuk yang lain? Oleh teman saya yang bekerja di universitas dijelaskan bahwa jika dana itu tidak habis, maka dianggap proyek itu tidak sesuai anggaran. Yang susahnya itu bisa berakibat anggaran untuk tahun fiskal berikutnya dipotong. Huh, enaknya memang mikirin keuangan keluarga aja deh, sisa di satu pos, bisa diputar untuk pos lain, atau ditabung. Sayangnya kalau uang negara (Jepang) tidak bisa dibegitukan. Dan jangan tanya saya bagaimana kondisi perputaran uang di negara Indonesia, karena saya sama sekali tidak tahu. (Kalau di Indonesia mungkin baru setengah tahun fiskal aja udah kurang anggaran mungkin ya? huh kok jadi sinis sih?)

Karena Gen sibuk dengan kerjaannya, jadi saya harus mengurus semua keperluan Riku untuk masuk sekolah dan juga keperluan Kai. Jika Riku mulai April nanti akan menjadi murid SD, maka Kai akan menjadi murid TPA (Tempat Penitipan Anak — bukan tempat pembuangan akhir ya……)  yang dalam bahasa Jepangnya disebut Hoikuen. Hoikuen ini biasanya menerima bayi sejak umur 51 hari sampai usia sebelum sekolah yaitu 6 tahun. Hoikuen Himawari yang Kai akan masuki adalah TPA yang sama dengan Riku sebelum dia masuk TK, menjaga anak-anak mulai pukul 7 pagi sampai 8 malam dari Hari Senin sampai Sabtu.

Saya sendiri senang sekali waktu mendengar bahwa mulai bulan April ini Kai bisa menjadi “murid” tetap di Himawari, karena dengan begitu saya bisa menentukan paling sedikit 4 hari seminggu (minimum 8 jam per hari) dia saya titipkan di TPA, sementara saya bekerja. Sebelumnya status Kai masih “tamu” yang biayanya dihitung perjam (900-1100 yen per jam).

Sebetulnya TPA ini memang berguna bagi ibu-ibu yang bekerja. Tapi selain hanya sebagai tempat penitipan, saya sendiri merasa TPA sebagai tempat yang bagus untuk mengajarkan anak-anak untuk bermasyrakat. Selain itu makanan yang disediakan dirancang oleh ahli gizi sehingga sudah pasti lebih sehat daripada kalau mengandalkan menu pilihan saya.

Nah tanggal 26 kemarin saya pergi ke Himawari untuk mengurus pendaftaran Kai. Bertiga dengan Riku, naik sepeda melewati jalan ke arah stasiun, dan saat itu kami menemukan suatu pemandangan yang menakjubkan. Yah, kami melihat semacam bemo/ bajaj terbuka atau becak bermesin,  kendaraan dari Thailand yang bernama tuk tuk. Jelas-jelas tertulis di bagaian atas TUK TUK. Saya berdua Riku kegirangan melihat Tuk tuk itu, sayang tidak bisa memotret, karena sulit mengeluarkan HP sambil mengayuh sepeda. Dan untuk berhenti dulu, rasanya juga tidak perlu. Tapi “penampakan” tuk-tuk itu benar-benar memberi semangat di tengah dinginnya udara saat itu. Saya pikir musim semi sudah datang, ternyata dia masih malu-malu untuk mengambil alih peran musim dingin.