RSS
 

Archive for the ‘Share’ Category

Mencegah kemalingan

27 Agu

Sebetulnya kalau kita kemalingan sesuatu… kita juga harus introspeksi diri. Pasti ada sesuatu yang bersumber pada diri sendiri yang kurang diperhatikan (taruh sembarangan), yang kurang dijaga (tidak pakai kunci), atau bahkan…kita lupa bahwa kita punya (baru sadarnya waktu dicuri). Meskipun kita tidak hidup di hutan yang berlaku hukum rimba, adakalanya kita terpaksa “berjaga-jaga” bagaikan kita hidup di hutan, karena penghuni “hutan dunia” itu ada yang tidak menaati “Panduan Tidak Tertulis Cara Bersahabat Universal”. Berjaga-jaga juga bisa dengan cara sedikit menjaga jarak sehingga tidak ngelunjak.

Nah, saya kemarin kedapatan sebuah surat di milis, yang saya juga pikir cukup bagus untuk dimulai. Karena kalau bukan masyarakat yang memulai siapa lagi? Kan kita tidak bisa menunggu pejabat pemerintahan yang sedang sibuk mengatur jalannya kehidupan bernegara untuk turun tangan dalam kasus ini. Selama bisa diadakan oleh swasta …why not?

Saya sendiri baru baca sekilas, tapi saya ingin share dengan pembaca TE soal PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA INDONESIA. Saya copykan saja ya surat elektronik yang saya dapat dari Milis ICJ (Indonesian Community in Japan) ini:

Malaysia kembali dituding mengklaim kekayaan budaya Indonesia. Untuk tarian saja, ini adalah kasus yang keempat, setelah “Tari Piring” dari Sumatera Barat, “Tari Reog Ponorogo” dari Jawa Timur dan “Tari Kuda Lumping” yang juga dari Jawa Timur. “Tari Pendet” dari Bali diklaim dengan dijadikan iklan pariwisata Malaysia. (Belakangan diketahui bahwa ini adalah salahnya Discovery Channel yang memasukkan tari itu di iklannya, bukan atas suruhan Malaysia)

Saya terkesan dengan upaya sejumlah anak muda yang terus berupaya
untuk mencegah hal ini untuk terus terjadi. Mereka (Indonesian
Archipelago Culture Initiatives atau IACI) telah melakukan sesuatu.
Teman-teman dapat melihat upaya mereka di situs
http://budaya-indonesia.org/ . Mereka melakukan proses pendataan
budaya indonesia dalam situs tersebut. Selain itu, mereka juga
mengupayakan langkah perlindungan hukum atas kekayaan budaya
Indonesia.

Saya pribadi sangat apresiatif dengan langkah nyata tersebut. Selain
itu, saya menghimbau kepada rekan-rekan sekalian untuk membantu
perjuangan anak muda ini agar kisah Batik, Sambal Balido, Tempe, Lakon
Ilagaligo, dan lain sebagainya tidak kembali terulang.

Setidaknya ada 2 bantuan yang dapat kita berikan untuk perjuangan tersebut:

1. mendukung upaya perlindungan budaya Indonesia secara hukum.
Kepada rekan-rekan sebangsa dan setanah air yang memiliki kepedulian
(baik bantuian ide, tenaga maupun donasi) di bagian ini, harap
menggubungi IACI di email: office@budaya-indonesia.org

2. Mendukung proses pendataan kekayaan budaya Indonesia.
Perlindungan hukum tanpa data yang baik tidak akan bekerja secara
optimal. Jadi, jika temen-temen memiliki koleksi gambar, lagu atau
video tentang budaya Indonesia, mohon upload ke situs PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA INDONESIA, dengan alamat http://budaya-indonesia.org/
Jika Anda memiliki kesulitan untuk mengupload data, silahkan
menggubungi IACI di email: office@budaya-indonesia.org

Sekarang bukanlah saatnya untuk saling menyalahkan atau sekedar pembelaan diri, tetapi melakukan sesuatu yang nyata.

- Lucky Setiawan

nb: Mohon bantuanya untuk menyebarkan pesan ini ke email ke teman,
mailing-list, situs, atau blog, yang Anda miliki. Mari kita dukung
upaya pelestarian budaya Indonesia secara online.

Nah, jadi kalau ada waktu dan ada pikiran/ide dan lain-lain bisa bergabung tuh di sana. Paling sedikit….intip yuuuk website itu.


 
12 Comments

Posted in Share

 

Tips

26 Agu

Semua orang pasti tahu apa itu tips. Meskipun banyak sebetulnya artinya, bisa berarti ujung, bisa berarti kiat/nasehat/info, tapi juga bisa berarti uang persenan/uang rokok/uang jajan.

Nah, sebelum saya menulis tentang tips di Jepang, baca dulu sebuah ilustrasi yang cukup “kena” di hati saya waktu saya membacanya.

Satu sore di sebuah mal, seorang anak berusia sekitar 8 tahun berlari kecil. Dengan baju agak ketinggalan mode, sandal jepit berlumur tanah, berbinar-binar senyumnya saat dia masuk ke sebuah counter es krim ternama.

Karena tubuhnya tidak terlalu tinggi, dia harus berjinjit di depan lemari kaca penyimpan es krim. Penampilannya yang agak lusuh jelas kontras dibanding lingkungan mal yg megah, mewah, indah dan harum.

“Mbak, Sunday cream berapa?” si bocah bertanya, sambil tetap berjinjit agar pramusaji dapat melihat sedikit kepalanya, yang rambutnya sudah lepek basah karena keringatnya berlari tadi.
“Sepuluh ribu!” yang ditanya menjawab.

Si bocah turun dari jinjitannya, lantas merogoh kantong celananya, menghitung recehan dan beberapa lembar ribuan lusuh miliknya.

Kemudian sigap cepat si bocah menjinjit lagi. “Mbak, kalo Plain cream yang itu berapa?”

Pramusaji mulai agak ketus, maklum di belakang pelanggan yang ingusan ini, masih banyak pelanggan “berduit” lain yang mengantri. “Sama aja, sepuluh ribu!” jawabnya.

Si bocah mulai menatap tangannya di atas kantong, seolah menebak berapa recehan dan ribuan yang tadi dimilikinya.
“Kalau banana split berapa, Mbak?”
“Delapan ribu!” ujar pramusaji itu sedikit menghardik tanpa senyum.

Berkembang kembali senyum si bocah, kali ini dengan binar mata bulatnya yang terlihat senang, “ya, itu aja Mbak, tolong 1 piring”. Kemudian si bocah menghitung kembali uangnya dan memberikan kepada pramusaji yang sepertinya sudah tak sabar itu.

Tidak lama kemudian sepiring banana split diberikan pada si bocah itu, dan pramusaji tidak lagi memikirkannya. Antrian pelanggan yang tampak lebih rapi dan berdandan trendi banyak sekali mengantri.

Detik berlalu menit, dan menit berlalu. Si bocah tak terlihat lagi dimejanya, Cuma bekas piringnya saja. Pramusaji tadi bergegas membersihkan sisa pelanggan lain. Termasuk piring bekas banana split bekas bocah tadi.

Bibirnya sedikit terbuka, matanya sedikit terbebalak. Ketika diangkatnya piring banana split bocah tadi, di baliknya ditemukan 2 recehan 500 rupiah dibungkus selembar seribuan.

Apakah ini?
Tips?
Terbungkus rapi sekali… rapi !

Terduduk si pramusaji tadi, di kursi bekas si bocah menghabiskan Banana splitnya. Ia tersadar, sebenarnya sang bocah tadi bisa saja Menikmati Plain Cream atau Sunday chocolate, tapi bocah itu mengorbankan keinginan pribadinya dengan maksud supaya bisa memberi tips kepada dirinya. Sisa penyesalan tersumbat di kerongkongannya. Disapu seluruh lantai dasar mall itu dengan matanya, tapi bocah itu tak tampak lagi.

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2009/06/18/418/Di.Balik.Sepiring.Banana.Split

Menyentuh bukan? Mengingatkan kita, yang bekerja di bidang jasa/pelayanan agar tidak memandang penampilan pembeli dengan apa yang terlihat saja.

Saya tidak tahu siapa sih yang memulai kebiasaan memberikan tips atau persenan kepada pelayan/petugas yang telah melayani kita. Memang tips merupakan salah satu penghargaan si “pelanggan” terhadap “service” yang diterimanya. Tapi tidak semua dapat diekspresikan dengan uang, bukan? Kata terima kasih dan pujian yang tulus, sebetulnya sudah cukup karena toh sebetulnya pembeli sudah membayar apa yang sudah dibelinya.

Persoalan memberikan tips ini juga sering membuat saya pusing. Berapa sih sepantasnya saya memberikan tips kepada pelayan, yang jangan sampai dia tersinggung karena terlalu sedikit misalnya. Karena sejak kecil saya memperhatikan waktu bapak saya membayar, saya melihat berapa yang dia berikan untuk tips pelayan sebuah restoran misalnya. Besarnya tergantung pula pada “level” restoran itu, apakah hanya ber”level” rumah makan, atau restoran mahal yang eksklusif. Yang paling sering saya lihat memang, meninggalkan kembalian dari jumlah yang dibayarkan. (Dari segi kepraktisan memang malas rasanya menerima kembalian, apalagi kalau banyak koin nya)

Karena bapak saya juga sering ke luar negeri, saya juga tahu bahwa di Amerika atau negara Eropa, ada kebiasaan memberikan tips sebesar 10% dari apa yang sudah kita bayarkan. Hitungan ini yang kemudian saya pakai jika pergi ke luar negeri. Tapi ternyata, setiap negara punya hitungan dan kebiasaannya sendiri.

Misalnya waktu saya pergi ke Melbourne, saya sempat dimarahi adik saya yang tinggal d situ waktu itu, karena memberikan tips 10% dari yang saya harus bayarkan di sebuah restoran Vietnam. Katanya, “kamu merusak tatanan perburuhan di sini”. Jadi? saya harus membayar tips berapa? Katanya cukup 2-3 dolar saja. Hmmm….

sepanjang Romantischen Strasse dan berhenti di Wieskirche

sepanjang Romantischen Strasse dan berhenti di Wieskirche

Yang menarik juga pengalaman waktu menyewa mobil di Munchen sekitar akhir tahun 2001. Sudah sejak dari Jepang saya menghubungi Mr some-german-name lewat internet. Minta dijemput di bandara Munchen, untuk menuju Hersching, rumah kediaman adik saya waktu itu. Saya memakai jasa Mr itu selama 3 hari karena dia bisa berbahasa Inggris, dan mempunyai mobil besar yang bisa mengangkut 7 orang + koper.

Nah, yang menarik waktu saya akan membayar dengan credit card. Di situ tertera juga kolom “tips” selain dari harga yang saya harus bayarkan. Saya tinggal menuliskan berapa yang saya mau beri, lalu jumlahkan dan tanda tangan. Ow, praktis sekali. Jadi saya tidak usah menyediakan uang kecil terpisah.

Tapi, untung juga saya sempat menanyakan di bagian informasi airport Changi, waktu saya mendarat di Singapore dan akan bermalam di hotel di sana. Saya tanyakan berapa saya harus bayar tips untuk supir taxi, dan berapa untuk petugas hotel. Kemudian kembali saya ditanya, “Madam, kamu akan menginap di hotel mana?”
“Raffles”
“THE Raffles??? (hei… I ‘m on honeymoon you know! jangan pasang muka aneh gitu dong) well, kamu tidak usah memberikan tips pada petugas di sana, karena semua service dia sudah termasuk dalam bill hotel. ”
“Untuk bell boy juga?”
“Ya, tidak usah….” uhhh gini deh kalo katrok.
Jadi memang akhirnya saya tidak memberikan apa-apa kepada petugas hotel yang bersorban dan gagah-gagah itu. Tapi tetap saja rasanya tidak “nyaman” jika tidak memberikan tips.

Raffles Hotel, sayang tidak ada foto dengan bapak bersorban

Raffles Hotel, sayang tidak ada foto dengan bapak bersorban

Memang saya perhatikan juga kebanyakan restoran besar di Jakarta sekarang sudah menambahkan sekian persen (5% rasanya) di dalam tagihan makanan khusus untuk service. Nah, kalau saya sudah melihat tulisan itu, enak deh, tidak usah memberikan tips lagi.

Tapi memang paling enak menjadi turis di Jepang. Semua restoran, hotel, pelayanan jasa … SEMUA TIDAK MENERIMA TIPS. Jangan sekali-kali mencoba memberikan tips kepada supir taxi, pelayan toko/restoran di Jepang, karena biasanya kamu akan malu sendiri. Mereka akan kembalikan, dan menjawab, service sudah termasuk dalam barang/jasa yang dibayarkan. Tidak usah bersusah payah menghitung-hitung berapa tips yang patut diberikan. Bayar sesuai tagihan saja. (Oh ya, kebanyakan restoran di Jepang kita yang harus membawa tagihan bill ke kasir dan membayar sebelum keluar restoran. Sedikit sekali yang mau menerima bayaran di meja. Kecuali hotel internasional)

Lalu apakah orang Jepang memang sama sekali tidak memberikan tips? Kata beberapa murid saya, tentu saja ada yang memberikan tips jika menginap di hotel ala jepang “ryokan” yang pelayanannya memang bagus sekali (dan biasanya memang mahal). Diberikannya langsung pada pemilik ryokan tersebut. Atau pelanggan pria yang menggunakan jasa “pub/snack” memberikan pada host “Mama-san” (pemilik night club). Dan biasanya tips itu juga cukup besar jumlahnya. Tapi untuk kita yang “turis biasa-biasa” tidak perlu memikirkan tips di Jepang.

Nah, karena di Jepang tidak ada kebiasaan memberikan tips, biasanya orang Jepang yang ke Indonesia juga terbawa kebiasaan itu, tidak memberikan tips pada pelayanan yang diterima di tempat wisata/restoran di Indonesia. Sehingga terkenallah, “Orang Jepang Pelit!”. Meskipun bagi orang Jepang yang sudah sering ke luar negeri, mereka tahu kebiasaan memberikan tips ini. Dan biasanya mereka menaruh uang tips itu di atas bantal. Namanya saja Makurazeni 枕銭 まくらぜに (Makura = bantal, zeni = uang). Katanya itu untuk petugas yang membersihkan kamar. Hmmm memang orang Jepang jarang ada yang bisa memberikan langsung tips ala “salam tempel”.

Well, berapa pun yang kita berikan untuk tips pada jasa yang kita terima tentu saja akan diterima, asalkan kita juga memberinya dari hati bukan? Seperti si anak yang membeli Banana Split pada cerita di atas. Bagaimanapun Pelayan juga manusia!

 
56 Comments

Posted in Share, curhat

 

Kimigayo

13 Agu

“Mel… lagu kebangsaan Jepang apa?” Nov (adikku)
“Kimigayo”
“Thanks”

Itu adalah sms yang saya terima sekitar seminggu yang lalu, dari adik saya yang menanyakan soal lagu kebangsaan Jepang. Saya sudah tahu pasti dia mau mengisi teka teki silang. Pertanyaan yang umum.

Dan kebetulan kemarin waktu aku buka i-google ku, tercantum bahwa hari itu tgl 12 Agustus adalah hari Kimigayo. Lagu Kebangsaan Jepang.

Terus terang saya jarang mendengar lagu Kimigayo ini. Tidak seperti Indonesia Raya, yang dulu pasti dikumandangkan setiap TV habis, atau di upacara-upacara bendera, atau upacara penyerahan piala dalam turnamen internasional. Rasa bangga pada waktu-waktu bersejarah seperti itu, membuat para atlit tegak berdiri (saya harap) dan bernyanyi “Indonesia Raya”, mungkin sambil menghormat ala militer/polisi.

Tapi, pemandangan seperti itu sangat jarang saya lihat di Jepang. Paling-paling waktu pencapaian medali emas di Olimpiade/Kejuaraan Olahraga. Banyak atlit yang tidak menyanyikannya. Entah karena tidak bisa atau tidak hafal atau tidak mau. Di sekolah-sekolah tidak ada itu upacara bendera setiap hari senin, sehingga paling-paling Kimigayo dinyanyikan saat upacara penerimaan murid baru dan upacara wisuda. Pokoknya, saya tidak familier, meskipun waktu sata pergi ke upacara penerimaan murid SD nya Riku, Gen menyanyikan Kimigayo dengan lantang, di sebelah saya. Dan saya hanya bisa terdiam….juga tanpa tahu artinya.

Liriknya dalam bahasa Jepang :

君が代は   Kimigayo wa
千代に chiyo ni
八千代に yachiyo ni
細石の Sazare ishi no
巖となりて Iwao to narite
苔の生すまで Koke no musu made

artinya:

Semoga kekuasaan Yang Mulia, berlanjut selama seribu (tahun), delapan ribu generasi. Sampai kerikil berubah menjadi batu karang, yang diselimuti lumut. (Kimigayo-wikipedia)

Lagu Kimigayo yang sekarang diciptakan tahun 1880, tetapi liriknya merupakan sebuah puisi anonim yang tertulis dalam kumpulan puisi lama “Kokin Wakashu” pada Jaman Heian (794-1185). Karena merupakan puisi, dan bahasa jepang memang pendek, maka lagu kebangsaan Jepang ini merupakan lagu kebangsaan sebuah negara yang terpendek di dunia dengan 32 suku kata (bunyi bahasa Jepang).

Meskipun sudah lama warga Jepang menganggap Kimigayo sebagai lagu kebangsaan, sebetulnya barulah pada tahun 1999, ditegaskan dalam parlemen mengenai lagu kebangsaan dan bendera nasional. Meskipun demikian masih banyak polemik sekitar pemakaian di sekolah, karena dianggap lagu Kimigayo mengandung unsur imperialisme dan militerisme.

Ah, sebentar lagi hari kemerdekaan Indonesia. Semoga aku masih bisa (hafal) menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan tidak lupa liriknya. Tapi yang pasti aku cinta Indonesia.



 

Singkat-menyingkat

23 Mei

“km b4 sdh smp di 7an dgn slmt. Bsk pg bgt brgkt naik GA ke Sby. ”

Arrrghhh saya paling benci membaca sms yang penuh dengan singkatan begitu. contoh saja b4 itu bisa dibaca berempat atau before dalam bahasa Inggris kan? Memang yang disingkat kebanyakan adalah bunyi vokal sehingga kita masih bisa mereka-reka dari ke 5 vokal yang ada, kata apa yang dimaksudkan. OK deh kalau singkatan itu dituliskan pada sms untuk menghemat pulsa. TAPI, please jangan diteruskan ke dalam blog atau catatan akademis Anda. Belum lagi kalau tulisannya dalam satu kata terdapat penggunaan huruf besar/angka yang tidak pada tempatnya. Semisal aQ suKa an9ka sEmbiLaN ugggh… sorry aja kalau ada yang merasa tapi terus terang bikin pusing. (Ada yang pake angka 8 untuk B ngga ya? seperti 8ukan)

Padahal bahasa Indonesia sudah mengakui adanya singkatan dan akronim. P.T.  yang bisa singkatan dari Perguruan Tinggi atau Perseroan Terbatas (bisa dilihat dari konteksnya), SIM atau WNI, yang merupakan penyingkatan huruf awalnya saja atau sosbud, pemilu, tilang (bukti pelanggaran) yang merupakan akronim. Kalau yang lain-lainnya juga mau disingkat lagi, bagaimana jadinya bahasa itu?

Posting ini memang bukan untuk membahas bahasa Indonesia. Apalah saya ini sehingga mau “sok tau” melangkahi pak Sawali yang memang guru Bahasa Indonesia, atau penulis-penulis handal seperti pak EWA dan mas DM (mas loh uhuuy) dan mbak Tuti Nonka. Saya cuma mau mencoba menjawab pertanyaan Ariez yang nyasar ke shoutbox saya (Ngga tau juga kenapa dia sampai mempertanyakan hal penyingkatan bahasa Jepang ke saya, dan sayanya kok jadi tergelitik untuk menjawab).

Sebetulnya satu kanji dalam bahasa Jepang sudah mewakili satu kata, sehingga untuk term tertentu, satu kanji saja bisa dipakai. Misalnya dalam rekening bank ada kanji (普) yang singkatan dari 普通 futsuu, rekening biasa. Atau simbol sebelum/sesudah nama perusahaan (株) yang merupakan singkatan 株式会社 kabushiki kaisha, perseroan terbatas.  Atau yang sering terdapat dalam kartu nama orang Jepang yang bekerja di Kantor besar (代) singkatan dari 代表 Nomor telepon utama mereka.

Satu Kanji juga sering dipakai di surat kabar untuk menunjukkan nama negara. Misalnya 印 untuk India, 仏 untuk Perancis,  独 untuk Jerman, 米 untuk USA, 伊 untuk Italia. Untuk Indonesia? tidak ada tuh, biasanya dipakai katakana saja インドネシア。

Biasanya kata-kata yang disingkat (略称)juga merupakan nama yang mungkin aslinya panjang, kemudian disingkat dengan mengambil huruf-huruf awal dari frase. Yang paling sering adalah nama perusahaan, nama universitas,nama departemen atau kantor-kantor pemerintah. Dan ini sering menghiasi poster, slogan-slogan yang dipasang di tempat umum selain surat kabar Jepang.

  • 東大 早大 慶大 上智大 専大 (Tokyo University, Waseda University, Keio University, Sophia University, lalu tempat saya juga ngajar Senshu University)
  • 全日空 (ANA) maskapai penerbangan ANA; 日航 (日本航空) maskapai penerbangan JAL; 日石(新日本石油) Nisseki, perusahaan minyak
  • 全農 (全国農業協同組合連合会) Japan Agriculture; 入管 (入国管理局) Kantor Imigrasi;  東京フィル (東京フィルハーモニー交響楽団) Tokyo Philharmonic Orchestra
  • 文科省 (文部科学省) Departemen Pendidikan dan Science;  農水省 (農林水産省) Departemen Pertanian, Kehutan dan Perikanan

Bagi mahasiswa, singkatan yang sering didapat misalnya, 入試 dari 入学試験 ujian masuk setiap jenjang pendidikan dari SD sampai universitas. 一限  dari 第一限目 Mata kuliah jam pertama (dst).  Untuk tugas akhir 卒論  dari 卒業論文 skripsi,  修論 dari 修士論文 thesis,  博論 dari 博士論文 disertasi.

Dalam kehidupan kita sehari-hari tentunya tidak bisa lepas dari  kata-kata ini : アニメ anime singkatan dari アニメーション animation;  アポ apo singkatan dari アポイントメント appointment ; エコ eko singkatan dari エコロジーecology;  コネ kone  コネクション connection; コンビニ konbini singkatan dari  コンビニエンスストア convinience store; デパート depato singkatan dari  デパートメントストアdepartement store;  サントラ santora singkatan dari  サウンドトラック sound track;  ケータイ ketai singkatan dari 携帯電話 keitaidenwa (ponsel)  ;着メロ chakumero 着信メロディ chakushin melody (nada panggil); デジカメ dijikame singkatan dari  デジタルカメラ digital camera ; リモコン rimokon リモートコントローラー remote control;  バイトbaito singkatan dari  アルバイトarbaito (kerja sambilan); パンスト pansuto singkatan dari  パンティーストッキング panty stocking; ママチャリ mamachari singkatan dari  ママ用チャリンコ (自転車) mama yo charinko (jitensha) – sepeda untuk ibu-ibu yang mempunyai keranjang depan belakang untuk belanja.

Nah, ternyata bisa dilihat bahwa yang banyak dipakai itu singkatan dari  katakana ya? Meskipun belum bisa dikatakan kesimpulan karena perlu penelitian lebih lanjut. Kanji yang saya ambil contoh itu juga saya pilih yang paling sering saya dengar/lihat dan mungkin dimengerti orang asing. Karena banyak sekali yang tidak bisa dimengerti tanpa Anda tinggal di Jepang.

Wah senang juga sih bisa menulis yang agak serius sedikit tentang bahasa Jepang, dan ingat kembali keinginan untuk meneliti macam-macam.  Paling sedikit saya bisa menghasilkan satu posting deh dalam waktu 1,5 jam research (cihuuuy). Akhir kata saya mau bilang 39 sankyu (thank you ) -arigatou pada  Ariez yang telah membangkitkan kenangan mahasiswa (baca : meneliti) malam ini.

Lupa mau tulis ini 新型インフル shingata infuru singkatan dari shingata influenza a.k.a flu babi. Baru nih… fresh from the oven hihihi

*****************************

Gara-gara baca komentarnya Muzda, aku teringat deh pernah delete id YM seseorang yang berbahasa begini:

W   : Quwh dpet ID mu dri tmend quw namanya ***.. tau kan??
EM: oooh ok
W   : quwh tertarik nge add samean cz ktanya samean kerja d jepang yah??
EM: tinggal di jepang
W   : jga kerja d sanah kn??
EM: ya kerja sbg dosen  part timer
W   : ooooooooo skrg msh da d jepang??
EM: msh
W   : gmn critanya samean bsa kerja d sanah??
EM: wahhh panjang lah ceritanya, mending baca di blog saya
EM: sudah 17 th di sini, ceritanya ngga habis 5 menit
W   : gy sbug pa nie samean??
EM : saya sedang kerjain terjemahan
EM : kamu laki atau perempuan sih?
EM : bhsnya kayak laki2
W    : ya perempuan lah.. emangnya knp??
W    : mav yah klo emang ganggu samean….
W    : klo ganggu mending saya klwar ja deh…
EM : samean itu apa?
EM : sampeyan sih ngerti
EM : kebiasaan sms pasti
W   :  yah maksudnya sampeyan,, getoo..
W   : iyaah..

Langsung saya delete deh ID nya….. kesel bener, ngga ada hormat-hormatnya. Bukannya gila hormat, tapi daripada dia ngetik samean, jelas lebih dikit ngetik MBAK kan? trus seperti yang Muzda cerita, MAV untuk maaf, QUWH untuk aku (masih mending AQ deh) . Mau nyingkat tapi diperbanyak di kata-kata yang ngga perlu seperti QUWH dan Getoo (jelas lebih pendek gt kan?

(Kalau ada yang khawatir dia baca tulisan ini? Bodo amat deh biar dia tahu bahwa bahasanya aneh. Dan orang kayak gini jelas-jelas ngga akan baca kalimat yang panjang-panjang hahahaha…ywd (ya udah deh , ini juga singkatan baru sodara-sodara, kali ada yang ngerasa …sorry ya dipake jadi contoh hihihi)  ihhh syirik deh quwh.

 

Tokyo Tower and mother

10 Mei

Jumat malam, anak-anak sudah tidur jam 9 malam. Saya menemani Gen yang baru pulang untuk makan malam sekitar jam 10 sambil bercerita soal Riku,Kai dan hariku di universitas. Dan saat itu Gen mengganti chanel TV yang tadinya berita, menjadi sebuah adegan film. Waktu itu tepat adegan seorang laki-laki yang pulang ke rumah bersama pacarnya, dan sang Ibu menyambut dengan masakan yang hangat. Hommy.

Dan aku tahu, film ini adalah sebuah film yang bagus, karena pernah diulas di televisi, sehingga merasa sayang kami mulai menonton sudah setengah (biasanya film dimulai jam 9 malam dan selesai jam 11 malam). Cerita tentang seorang anak lelaki yang ibu dan bapaknya bercerai karena main perempuan. Umur 3 tahun, dia dibawa ibunya ke rumah kakek-neneknya di desa, dan dibesarkan oleh ibunya yang bekerja banting tulang sendirian.  Setiap hari dia makan masakan ibunya yang sangat lezat (ofukuro no aji) , sampai dia berumur 15 tahun ingin berdikari dan pergi dari sarangnya (baca: desanya). Menuju Tokyo, dia masuk SMA kesenian dan akhirnya Institut Kesenian. Antara lulus dan tidak, ancaman menjadi mahasiswa abadi, dia tetap dikirimi uang kuliah oleh ibunya, bahkan sampai dia membuat hutang sana sini.

Salah satu adegan yang terkenal. Hei, kapan terakhir Anda menggandeng Ibu Anda?

Setelah dia berhasil menjadi “orang” (sebagai penulis), melunasi hutangnya, dan dia memanggil ibunya untuk tinggal bersama di Tokyo. Setahun pertama dia mengajak ibunya jalan-jalan dan menikmati Tokyo. Ya, saya ikut menangis waktu melihat adegan si Pemeran Utama menggandeng ibunya menyeberangi jalan. Hei, anak laki-laki…. kapan terakhir kamu menggandeng ibumu? Dalam adegan itu Si Anak mengatakan pikirannya, “Aku pertama kali menggandeng ibuku. Aku yang menggandeng ibuku. Dulu waktu aku kecil Ibuku yang menggandeng aku. Sekarang dia mulai melemah, aku yang menggandeng dia”. Duh… aku juga jadi kangen mama. Kapan terakhir aku menggandengnya?

Waktu kukecil, ibuku yang menggandengku.....

Waktu kukecil, ibuku yang menggandengku.....

Adegan itu menjadi semakin menyedihkan karena saat itu dia sudah tahu bahwa ibunya menderita kanker, dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Kemoterapi. Sang Anak harus melihat ibunya yang kesakitan menahan efek sesudah kemo seperti mual-mual dan kejang-kejang. Duhhh,  akting pemeran ibu yang memang artis kawakan itu hebat … tapi waktu saya melihat film itu saya tidak henti menangis dan berdoa, semoga ibu atau keluarga saya jangan sampai ada yang harus menderita kanker. Tidak tahan atas rasa sakit treatment kemoterapi itu, sang Ibu minta supaya treatment itu dihentikan. Dan dokter berkata pada sang Anak, hidup ibunya tinggal 2 bulan lagi.

Yang juga menjadikan film ini benar-benar filmnya orang Jepang adalah adegan  perjuangan sang Anak untuk menulis novel dan ilustrasi yang deadlinenya persis di hari pemakaman ibunya. Di sebelah jenazah ibunya, dia menulis, menulis dan menulis terus, sambil bercakap-cakap dengan ibunya. Dan terakhir dia tidur kelelahan di samping jenazah ibunya setelah menyelesaikan tulisan yang ditagih penerbit.

Pada suatu hari yang cerah, Sang Anak membawa Ihai (kayu bertuliskan nama yang diberikan pendeta Buddha, fungsinya sama dengan batu nisan)  menaiki Tokyo Tower, dan memenuhi janjinya memperlihatkan kota Tokyo dari atas. Tokyo Tower tu juga selalu terlihat dari jendela kamar ibunya di Rumah Sakit.

a real multitalented

a real multitalented person

Judul film ini  “Tokyo Tower, my mom, me and sometimes my father”. (東京タワー オカンとボクと時々オトン). Ditulis oleh “Lily Franky” , nama lain dari Nakagawa Masaya, yang berangkat dari kisah nyatanya yang dinovelkan. Dijadikan drama seri di televisi pada tahun 2006, dan kemudian menjadi film di layar lebar tahun 2007.  Novelnya sendiri mendapat penghargaan HonyaTaisho 2006 (penghargaan yang diberikan oleh Serikat Toko Buku kepada buku yang terlaris tahun itu) . Waktu saya mencari siapa sih Lily Franky itu, ternyata dia adalah multi talented person yang berprofesi sebagai illustrator, writer, penulis essei, novelist, art director, designer, pemusik, pencipta lagu, aktor, fotografer….. (uhhh bikin ngiri ngga sih tuh?). Foto diambil dari CinemaToday.

Pemeran Sang Anak adalah seorang aktor muda yang lumayan terkenal bernama Odagiri Joe. Ibu diperankan artis Kiki Kirin. Wah kalau artis ini memang hebat kalau memerankan seorang ibu yang tangguh. Dan dia adalah ibu mertua dari Motoki, Mokkun, aktor yang pernah saya bahas dalam film Okuribito, Sang Pengantar.

Setelah film itu selesai, kami berdua menyayangkan karena menonton tidak dari awal. Tapi saya mungkin tidak mau menonton ke dua kalinya, karena saya tahu pasti saya akan menangis terus, dan menjadi homesick ingin bertemu mama. Dan kami baru sadar saat itu bahwa film ini diputar untuk merayakan Hari Ibu, Mother’s Day yang jatuh pada hari ini, tanggal 10 Mei 2009. So untuk semua Ibu, Happy Mother’s Day. (I love you MyMama…. really do). Dan saya juga mau memberikan selamat khusus kepada Mbak Tuti Nonka yang hari ini berulang tahun. Happy Birthday to you mbak Tuti …. I love you too.

Hari Ibu Internasional selalu dirayakan pada hari Minggu ke dua di bulan Mei,demikian pula Father’s Day yang dirayakan pada hari Minggu ke tiga bulan Juni. Jika ingin tahu coba buka saja portal yahoo.com hari ini, dan di situ ada animasi kangguru memberikan bunga Tulip pada ibu Kangguru.

NB:
Saya berkata pada Gen, “Saya selalu bilang pada orang-orang bahwa saya tidak suka menonton, tapi kok lumayan sering menulis tentang film di T.E. ya? hihihi.”
Katanya, “Kamu harus berterima kasih sama aku”
huh….

hihihi have a nice SUNDAY.