Si Gundul yang Bijaksana

Yah, kali ini saya ingin bercerita mengenai saya. …taelah… Sebetulnya bukan mengenai saya tapi mengenai Ikkyu san (seharusnya saya tulis sesuai pengucapan adalah IKKYUU san - u nya diperpanjang, dalam bahasa Jepang panjang -pendeknya vokal menentukan, tidak seperti dalam bahasa Indonesia karena tidak mengubah arti). Saya terdorong menulis tentang si Ikkyu san ini akibat pertanyaan Daffa yang ingin tahu siapa sih yang suka nampang dan berkomentar di blognya dia (avatarnya saya). Seorang pendeta Buddha tanpa rambut tetapi memukau hati seorang Imelda, sehingga Imelda, yang pake cybername sebagai  Ikkyu_san ini, jadinya terdampar di negara matahari terbit.

Mereka yang hidup di jaman kejayaan tahun 80-an (kalau mau tahu trend tahun seginian tanya mas NH18 yang jauh lebih sering JJS daripada saya) tahu anime Jepang yang beredar saat itu yaitu Voltus V, dan Ikkyu san (mungkin juga Megaloman saya tidak yakin karena saya tidak pinjam videonya). Masih dalam format video betamax, serial Ikkyu san ini kabarnya hanya ada 5 jilid. (sebetulnya memang cuman dari 5 jilid itu yang kebanyakan orang Jepang kenal). Saya sendiri lupa menontonnya dalam bahasa Jepang dengan subtitle Inggris atau di dub Ingris dengan subtittle Jepang (setahu saya setelah saya bisa baca hiragana, saya masih sempat sewa 1 video untuk latihan baca hiragana). Lagu pembukanya, “Suki suki suki suki Ikkyu san…. ” (Suki artinya suka) itu selalu terngiang di telinga saya, tapi saya tidak bisa menghafal keseluruhannya karena terlalu cepat.

Ikkyu san adalah seorang pendeta Buddha yang amat terkenal di Jepang yang sangat cerdik dan bijaksana sejak dia kecil. Image pendeta Buddha ini menjadi lebih kuat melekat di dalam kepala orang Jepang dengan adanya film kartun Ikkyu san dengan beberapa episode-episode yang merupakan penggambaran dari kenyataan yang pernah tercatat. Film kartun Ikkyu san ini diputar selama  7 tahun, dari tanggal 15 Oktober 1975 sampai 28 Juni 1982 setiap hari Rabu dengan waktu tayang 30 menit. Keseluruhan cerita ada 296 episode dan merupakan film kartun yang terpanjang dengan rate pemirsa yang tinggi dan stabil selama 7 tahun. Setahu saya sekarang kita dapat membeli DVDnya satu series yang terdiri dari 10/11 DVD seharga 40.000 yen. (Nanti nabung ahhh beli, masukin wishlist) But of course semuanyanya bahasa Jepang tanpa subtittle. —- ada production house yang berminat? hehhehe—

Ikkyu san adalah nama sebagai pendeta Buddha, yang ditulis dengan kanji sebagai 一休さん hito yasumi (istirahat sebentar artinya) mungkin sekarang namanya jadi hiatus -san ya hihihi. Nama sebenarnya adalah Senggiku Maru, seorang anak bangsawan yang berkhianat terhadap shogun, sehingga perlu disembunyikan identitasnya. Ibunya Iyono Tsubone, menyerahkan Ikkyu ke dalam pengasuhan pendeta Osho, untuk ditempa menjadi pendeta Buddha. Ikkyu yang seharusnya hidup mewah dan bisa bersama ibunya, harus berpisah dengan ibunya dan itu yang paling membuatnya sedih. Oleh ibunya dia diberi omamori (jimat) berupa teru-teru bozu (dipakai sebagai penghalau hujan). Sehingga setiap ada masalah, Ikkyu akan berlari ke hadapan Teru teru bozu itu untuk berkeluh kesah.

Teru teru bozu

Teru teru bozu

Sebagai pendeta Buddha yang terkecil (waktu itu katanya berusia 6 tahun), Ikkyu sering dikerjain. Disuruh ini itu oleh sempainya terutama yang bernama Shuunen san. Cerita pada episode pertama menggambarkan betapa Ikkyu yang mungil itu harus pontang panting melaksanakan perintah Shuunen dan teman-temannya. Dia disuruh mencuci lobak di sungai. Dan waktu itulah dia bertemu dengan seorang samurai, bernama Ninagawa Shin-en-mon, yang diperintah Shogun (Jendral) untuk mengawasi Ikkyu. Oleh di Ninagawa, Ikkyu dipanggil Kozo san (Pendeta cilik), dan di situ Ikkyu mengatakan, “Anda panggil saya?”

Tentu saja si Samurai ini marah dan bilang, “Tentu saja, mana ada pendeta cilik yang lain di sini”

Lalu Ikkyu bertanya, “OK, ini apa? (sambil menunjuk lobak besar)”

Samurai,”Lobak”

“Lalu ini apa? (sambul menunjuk lobak kecil)

Samurai,”Ya, lobak….”

“Karena itu, lobak biarpun besar atau kecil…sama-sama namanya Lobak. Pendeta pun besar atau kecil, sama-sama Pendeta. Jangan panggil saya Pendeta Cilik. Lagipula saya punya nama, yaitu Ikkyu….”

Samurai itu tidak bisa berkata-kata lagi, dan mengakui bahwa korban intaiannya ini memang pandai.

Ikkyu san menjalani kehidupan di biara dengan senang, dan dia selalu membantu atau dekat/akrab dengan seorang gadis cilik yatim piatu bernama Sayo-chan. Ikkyu san selalu bersyukur bila melihat Sayo chan, karena dia tahu, dia masih mempunyai ibu, meskipun tidak bisa bertemu. Sedangkan Sayo chan, orang tuanya sudah meninggal dan tinggal bersama kakeknya saja. Dengan pemikiran ini Ikkyu san merasa kuat untuk menjalani “pengasingan”nya.

Dalam kehidupan berbiara ini, gangguan yang sering datang adalah dari sepasang bapak-anak perempuan yang bernama Kikyouya Rihei dan Yayoi, seorang pedagang yang sering bertandang ke Kuil. Yayoi san yang manja dan usil sering mengganggu ketentraman biara. Sedangkan bapaknya Rihei, tidak mau tahu kesopanan, dengan seringnya datang ke Kuil untuk bermain Igo dnegan Osho-san. Hingga suatu hari, pendeta-pendeta di biara itu ingin mengusir Rihei dengan cara memasang peringatan, “Barang siapa yang membawa atau mengenakan pakaian dari kulit binatang dilarang masuk Kuil”. Rihei san selalu memakai bolero dari kulit kelinci, tapi dia dengan cueknya memasuki kuil. Di pintu gerbang Ikkyu sudah menunggu dan berkata;

“Apakah Anda tidak melihat pengumuman itu?”

“Ohhh itu, ya saya baca. tapi di Kuil kan banyak yang terbuat dari kulit binatang. Buktinya ada gendang (drum) di dalam Kuil kan? Kenapa boleh ada gendang yang sudah pasti terbuat dari kulit itu di dalam Kuil?”

“Ya memang gendang itu terbuat dari kulit, karena itu terpaksa kami memukulnya setiap kali. Jadi kalau Anda mau tetap masuk ke dalam Kuil, saya terpaksa harus memukul kamu…”

Rihei san lalu melarikan diri takut kena pukulan Ikkyu.

Kepintaran Ikkyu yang termasyur adalah mengenai sebuah papan yang terdapat di jalan masuk sebuah jembatan. Cerita ini agak sulit diterjemahkan, tapi akan saya coba. Tulisannya begini,”Kono hashi wo wataru na” (Dilarang menyeberangi jembatan ini) Disini HASHI yang waktu itu tertulis dengan hiragana, berarti jembatan… tapi selain itu juga bisa berarti pinggiran. Karena itu Ikkyu san dengan gagahnya menyeberangi jembatan itu, dan tidak mengabaikan peringatan yang tertulis. Alasan ikkyu, “Saya tidak menyeberang di pinggiran kok, saya jalan di tengah-tengah jembatan” Jadi Ikkyu memakai sinonim kata hashi untuk menjelaskan tindakannya. Peristiwa ini sangat terkenal dan sering keluar di soal-soal ujian masuk SD…katanya.

Pendeta Ikkyuu yang menjadi model anime itu sesungguhnya

Pendeta Ikkyuu yang menjadi model anime itu sesungguhnya

Waktu membaca pertanyaan Daffa siapa sih Ikkyusan itu saya mencari lewat google dan ternyata ada beberapa cuplikan film Ikkyu san yang bisa ditonton di YouTube. Jika Anda mau melihatnya silakan ketik 一休さん atau monk Ikkyuu. Dan tadi pagi saya dibuat menangis terus karena saya menemukan sebuah episode terakhir dari Ikkyusan yang terbagi dalam 3 parts. Cerita yang 296 ini, memang harus diakhiri dan cerita penghabisan adalah dengan keluarnya Ikkyu san dari Kuil Angoku-ji untuk mengembara dan bertapa sendirian. Dengan bimbang, Ikkyu ingin pergi dari kuil itu diam-diam. Melihat keresahan Ikkyu san, Pendeta Osho-san memperbolehkan Ikkyu pulang menemui Tsubone ibunya dan diperkenankan untuk menginap. (sebetulnya pendeta dilarang untuk pulang ke rumah orang tua) . Ibunya langsung mengetahui bahwa pasti ada “masalah” sehingga Ikkyu san diperbolehkan pulang. Di situ untuk pertama kalinya Ikkyu mengatakan pada ibunya bahwa dia akan mengelana, pergi bertapa sendirian, keluar dari Kuil. Dan biasanya pendeta yang tidak mempunyai Kuil akan mengelana kemana kaki melangkah, bisa jadi mati kelaparan karena hidup dari pengasihan orang saja, atau bertemu dengan halangan-halangan lain. Ibaratnya pergi ke medan perang, belum tentu kembali. Dan malam itu Ikkyu san, bisa menikmati masakan ibunya terakhir kali dan tidur bersama ibunya. (Duuhhh you can imagine …bagaimana saya bisa tahan untuk tidak menangis…. dasar PMS juga mendukung saya untuk jadi tersedu-sedu deh…. banjir nih Nerima).

Perpisahan itu berat bagi siapa saja. Juga bagi Ikkyu san. Dengan mengendap-endap, dia tidak memberitahukan Sayo chan, sahabatnya…. lalu Shuunen san teman-teman se biara. Juga Ninagawa san si Samurai yang juga sudah akrab dengannya. Tapi semua usaha Ikkyu san untuk pergi tanpa lambaian tangan orang-orang yang dicintainya tidak bisa terlaksana. Karena semua sudah merasa keanehan Ikkyu yang biasanya ceria tetapi akhir-akhir ini murung. Sayo chan memberikan teru-teru bozu buatannya untuk disandingkan dengan teru-teru bozu buatan ibu Ikkyu san. Semua mengantar Ikkyu san dengan deraian air mata, sehingga Ikkyu san jauh melangkah menuju gunung dan lembah dan tidak terlihat lagi.

Saya sarankan untuk mereka yang sedang belajar bahasa Jepang untuk menonton film Ikkyu san ini. Karena selain bahasa yang bagus, di dalamnya terdapat ajaran-ajaran Buddha yang menjadi dasar pemikiran masyarakat Jepang. Siapa tahu juga bisa ketularan kecerdikan Ikkyu san dan dengan berusaha sungguh-sungguh Anda bisa mendapatkan IKKYU 一級 (level satu di Ujian Kemampuan Bahasa Jepang).

Memang saya pernah menulis tentang My Hero, Zorro dan kemudian Black Jack. Tapi sesungguh tidak ada Karakter yang melebihi kekuatan Ikkyu san bercokol dalam kepala saya sejak saya SMP… yang tidka saya sadari menuntun saya mengembara di Sastra Jepang, dan meneliti tentang Terakoya (Sekolah bagi masyarakat biasa) kemudian meneliti tentang pendidikan Indonesia jaman pendudukan Jepang dan akhirnya saya berada di masyarakat Jepang seperti sekarang ini. Emiko seakan berada di bayang-bayang Ikkyu san, yang mungkin juga kelak akan berkelana mencari arti kehidupan sesungguhnya. (hei bukankah kita semua begitu????)

— Tulisan ini saya buat untuk memperingati kedatangan saya 16 tahun yang lalu ke Jepang untuk jangka panjang, yaitu tanggal 23 September 1992. Terima kasih Tuhan atas perlindunganMu kepada hambaMu ini selama berada di negara asing ini, terlepas dari sanak keluarga, terlebih papa mama yang saya cintai…… (betapa aku rindu mereka terutama di saat-saat ini) bisa bertahan mengatasi kesepian, kebimbangan, kesulitan-kesulitan sekian lama dan akhirnya Kau anugerahi seorang suami dan dua anak yang menjadi tumpuan hidupku sekarang ini.—

———————————————-

Cerita Ikkyu san final 1/3 lihat di You Tube  sini

2/3 di sini

3/3 di sini

Posted under Buku * Books *本, Film 映画, Opini 意見, Orang * Person * 人物

This post was written by imelda on September 22, 2008

Tags: , , , , , ,

Mengapa harus tikus sih?

Anda semua pasti kenal Mickey Mouse dong… Lalu Tom and Jerry. Atau pernah nonton juga Little Stuart yang bisa membuat kita menitikkan air mata. Kemudian yang terakhir adalah Ratatouille atau yang di bahasa Jepangnya di beri judul “Remi no oishii resutoran レミーのおいしいレストラン” — Restoran Lezat Remi. Coba perhatikan saja sekian banyak karakter yang dipakai yang menjadi populer itu, tidak lain dan tidak bukan adalah seekor TIKUS. Tikus yang digambarkan memang macam-macam, ada yang lucu, imut-imut bahkan bisa diterima sebagai ikon yang mendunia. Tapi coba kalau dipakai fotonya yang asli, bukan gambar kartun… dijamin tidak bisa makan sambil menonton deh. Apalagi kalau kita bayangkan si REMI yang membuat masakan kita yang sedang kita santap itu …Wuaaaaahhh. (Maaf kalau baca ini sedang puasa… )

Fenomena ini memang sudah lama terjadi. Entah apa tujuan Paman Walter memilih si tikus untuk hero-nya. Saya juga heran kenapa alat tambahan untuk memudahkan penulisan di computer itu harus dinamakan MOUSE atau TETIKUS. Mungkin ini merupakan obsesi dari para pencipta karakter itu untuk mengangkat derajat si tikus dari binatang buruk rupa, pembawa penyakit (yang pasti bau..ngga pernah mandi sih)  dan umpan si Kucing (kayaknya anjing juga banyak yang suka sih… bahkan manusia pun ada yang mau makan) …pokoknya …. si makhluk yang jueleeeek ini menjadi lucu, imut-imut, gemesin (seperti jeunglala hihihi …ngga deh seperti anak-anak saya….kapan lagi narsis) dan menjadi idola manusia di dunia ini (di planet ngga tau ada tikus ngga).

Anyway, saya benar-benar merasa perlu untuk meneliti fenomena ini, tapi sayangnya waktunya saya tidak ada. Mungkin jika ada yang punya banyaaaaak waktu luang bisa memikirkan topik ini sebagai tema skripsi atau thesis atau disertasinya (haiyah….). Dan ternyata Jepang pun tidak mau kalah dengan negara Amerika dengan Mickey Mousenya. Karena ternyata ada sebuah Picture Book di Jepang yang terbit tahun 1963 (bayangkan ….seumuran mas trainer atau pak grandis mungkin hihihi) yang mengambil tokoh TIKUS. Bukan hanya satu…malah dua ekor Tikus. Hebat ngga?

Namanya GURA dan GURI. Ingat saja Gula itu membuat gurih makanan sebagai bumbu penyedap (kakushi aji 隠し味) . Dua tokoh tikus ini diciptakan oleh Nakagawa Rieko (karangan) dan Oomura Yuriko (gambar) pada tanggal 1 Desember 1963. Diterbitkan oleh penerbit kesayangan saya FUKUINKAN SHOTEN. Ditujukan untuk anak-anak berusia 3-5 tahun … dan ditetapkan sebagai “buku wajib” oleh Asosiasi Perpustakaan Sekolah Seluruh Jepang. You can not believe it but….. buku ini sudah dicetak 160 kali per data tahun 2005. Tidak ada orang Jepang yang tidak mengetahuinya. HEBAT!!!!.(Aduuuh saya ingin sekali anak-anak Indonesia juga mengetahui cerita ini)

Ceritanya sangat sederhana. Dua tikus bersaudara (kembar) itu menemukan sebutir telur yang besar di hutan, dan ingin membuat kue castella. Tapi mau membawa telur itu ke rumah mereka tidak bisa… pasti pecah di perjalanan, karena terlalu berat. Jadi mereka membawa panci, bowl untuk adonan, pengaduk, susu dan gula dari rumah mereka ke tempat si telur berada. Sambil mengadon dan memasak kue itu, bau yang harum menyebar ke seluruh hutan, mengundang binatang lain berdatangan. Dan kue yang besar itu kemudian dinikmati bersama oleh seluruh penghuni rimba.

Yang menarik dari cerita ini adalah lagu yang dinyanyikan ole Guri dan Gura waktu menunggu kue matang yang menjadi trade mark mereka.

Bokura no namae wa Guri to Gura

Kono yo de ichiban suki nano wa

Oryori suru koto taberu koto

Guri gura guri gura….

(Nama kami Guri dan Gura

Yang kami sukai di dunia ini

Memasak dan makan

Guri gura-guri gura)

Sederhana sekali bukan? Lagunya tentu saja diiramakan sendiri oleh si pembaca. Jadi bisa saja irama pop atau dangdut (heheheh). Tapi waktu pertama kali Riku yang berumur 2 tahun dibacakan cerita ini oleh papanya, saya juga heran mendengar iramanya… seperti nyanyi gregorian hihihi. Lagu yang gen nyanyikan itu  biasa-biasa saja, tapi tetap melekat sampai sekarang. (Tapi di situ saya juga kagum bahwa membaca cerita yang simple itu bisa begitu memukau jika dihayati, dan sejak itu saya berusaha memakai “ekspresi” jika membacakan cerita untuk Riku. )

Guri dan Gura

Ini adalah buku pertama, dan setelah itu ada beberapa cerita dari seri Guri dan Gura ini dengan judul “Tamu Guri dan Gura”, “Guri dan Gura : Berenag di laut”, “Guri dan Gura :Piknik” “Guri dan Gura bersama Kururikura”, “Guri dan Gura: Pembersihan besar-besaran”. “Guri dan Gura bersama Sumire-chan” dll. Buku ini juga saya sarankan untuk mereka yang baru belajar bahasa Jepang karena semuanya tertulis dalam hiragana. Saya tidak tahu apakah di perpustakaan Japan Foundation Jakarta ada atau tidak, mungkin bisa ditanyakan langsung ke sana.

Buku Guri dan Gura ini yang pasti sudah diterbitkan dalam bahasa Inggris. Berikut adalah sinopsisnya dalam bahasa Inggris.

Guri and Gura, popular characters in Japan since their 1963 debut (of which this book is the translation), enter the American market with the first of the publisher’s projected series. Here, the two exuberant mice find a huge egg in the forest and decide to use it to make “a sponge cake so big we can eat it from dawn to dusk and still have some left over.” Realizing that the egg is too big to move, Guri and Gura haul a huge frying pan (and everything else they need) over to the egg, then mix up the batter, build a fire and share the results with all the animals who have sniffed out their cake. Yamawaki’s pared-down line drawings deliver information plainly and directly, with little shading on an expansive white background: Gura holds the lid of the pan (which towers over him), Guri raises his tiny mouse fist in excitement, and the nicely risen cake is revealed. A childlike refrain becomes a light-hearted mantra: “My name is Guri. And my name is Gura. And what do you think we like to do best? Cook and eat. Eat and cook. Yeah! Guri and Gura, that’s us.” The book’s visual appeal is dampened somewhat by bland type design and bleed-through on the matte pages. But cake-making is always a delicious theme for small readers, and Guri and Gura’s inventive energy loses nothing in the Pacific crossing. Ages 4-8.
Copyright 2002 Reed Business Information, Inc.

Posted under Buku * Books *本, Gambar イラスト, Opini 意見

This post was written by imelda on September 20, 2008

Tags: ,

(Blind Power) Tatkala Gelap Tak Lagi Mencekam

Well, akhirnya Pe-eR saya dari Bang Hery selesai juga. Hari Sabtu lalu saya baca buku tersebut di kereta sampai halaman 30, lalu hari ini saya konsentrasi selesaikan sisanya sampai halaman 373…. capek karena sambil diganggu unyil-unyil kecil dan kesibukan rumah tangga. Tired but satisfied!

Saya tidak tinggal di Indonesia. Saya belum pernah menonton acaranya Kick Andy, sehingga saya tidak tahu nama Ramaditya kalau tidak membaca buku ini. Memang sebelumnya saya diberitahu bahwa Rama adalah tunanetra yang menjadi Motivator. Terus terang saya tidak akrab dengan kata motivator, karena menurut saya apa saja atau siapa saja bisa menjadi motivator yang bisa memotivasi, inspiring somebody yang kebetulan “pas”. Tetapi kelihatannya kata ini sedang naik daun di Indonesia karena memang masyarakatnya sedang membutuhkan “angin segar” di masa-masa seperti sekarang ini. Indeed.

Waktu saya baca buku “BLIND POWER Berdamai dengan Kegelapan” ini sampai halaman 97 kecepatan membaca saya yang biasanya cepat menjadi agak lambat, mungkin karena ada beberapa istilah game/komputer yang tidak saya mengerti (padahal ngga bego-bego amat loh). Tapi setelah itu, saya bisa menikmati perjalanan hidup seorang RAMA yang begitu padat dan berisi. Kalau Anda berpikir bahwa dengan membaca buku ini Anda akan menangis terharu maka Anda salah besar. Buku ini tidak menceritakan tentang “kemalangan” seorang tunanetra, meskipun ada bagian-bagian tertentu yang sempat membuat saya menghapus air mata yang menggenang di sudut mata. Tapi lebih sering saya terbahak-bahak atau terkikik-kikik waktu membaca sehingga mengagetkan anak-anak saya (mereka pikir wah ibunya mulai …… deh). Enchanting book!

Sembari membaca, saya menaruh Post-It di halaman yang penting, mencoret dan membuat catatan-catatan dan juga membuka website Yayasan Mitra Netra, yang sempat membuat saya tak tahan untuk tidak klik pages nya yang bilingual itu….. semua ini membuat proses membaca saya juga akhirnya menjadi lambat. Dan saya tahu pasti editor buku ini cukup keras bekerja memadatkan buku menjadi 373 halaman, sebab mungkin kalau Rama mau menceritakan pengalamannya lebih mendetil pasti ketebalan buku akan menjadi 2-3 kali lipat. Tapi percayalah, seandainya sampai sebegitu tebalnya pun, pengalaman Rama tetap akan menarik untuk dibaca. Believe me.

Seperti yang Anda semua ketahui, Rama memang lain daripada yang lain yaitu dia tunanetra. Tapi saya salut dengan Rama yang tidak mau menggunakan “keterbatasan” nya itu sebagai alasan atau halangan. Dia mau menunjukkan bahwa dia bisa sama seperti yang lain, tapi juga tidak maksa untuk menjadi manusia super. Bahkan di halaman 196 dia menekankan….. (kita ini cacat, jadi buang jauh-jauh gengsinya!), menanggapi tunanetra lain yang malu memakai alat-alat ketunanetraan. Dan tongkat itu amat membantu Rama misalnya pada saat dia tidak sengaja harus berurusan dengan “gunung putri”. (hal. 253) Face the fact.

Rama pasti bisa menjadi motivator untuk penyandang tunanetra lainnya dengan mengisahkan pengalaman pribadinya yang seabrek-abrek itu. Bayangkan saja selain Game Music Composer, Blogger, Motivator, Penulis, Wartawan dan Editor, seperti yang tertulis di halaman sampul buku, dia juga pengembara. Mengembara bepergian ke tempat yang jauh dan belum pernah dikunjunginya seakan hal yang lumrah bagi Rama, karena dia punya tekad yang kuat. Apalagi dia selalu dilindungi oleh Lima Bidadari imajinasinya. Waktu membaca percakapan-percakapan Wahita, Tiara, Lala, Aurora dan Darth Aurora, awalnya saya sulit memahami percakapan itu, tapi dengan saya berfantasi dengan membayangkan film anime, saya bisa memahami peran dari masing-masing bidadari. Sungguh Rama berhasil mengendalikan dirinya dengan baik. Mungkin dengan imajinasi yang kuat seperti penciptaan 5 bidadari ini Rama kelak bisa juga menjadi pencipta film anime asli Indonesia? Who knows?

Dan kalau saya boleh tambahkan Rama juga adalah pengembara cinta (maaf ya Rama) yang tidak sungkan juga untuk bergaul dengan lawan jenis yang normal. Coba lihat deretan nama wanita yang pernah singgah di hatinya (saya rasa ini belum semua hehehe). Mungkin jumlahnya lebih banyak daripada pemuda “biasa”. Dan ini menunjukkan juga bahwa dia itu percaya diri. Baca pula tulisannya kepada sesama tunanetra yang curhat mengenai masalah cinta. Saya rasa nasehat itu tidak hanya berlaku untuk penderita tunanetra tapi juga bagi kita yang “biasa”! Bahkan saya sempat tertawa waktu membaca bahwa dalam komputer Rama ada video joroknya. Hei, itu wajar bukan? So penyandang cacat… Jangan rendah hati, jangan pula tinggi hati… Be normal and head ahead!! (hal. 316)

Tetapi siapa bilang Rama tidak bisa menjadi penggugah untuk kita manusia normal? Saya sempat tertegun waktu membaca kisahnya di Bab 12. Ya, Rama menunjukkan bahwa dia juga manusia biasa yang sama seperti kita, punya lara hati, putus asa dan pernah melarikan diri. Analoginya bahwa manusia bagaikan pedang yang harus ditempa, dipanaskan, dipahat, dibakar dalam kobaran api supaya kuat. Atau 4 “terlalu” yang dia gambarkan dapat membuat kita lara, rasanya pas untuk saya yang sering mengkonsumsi TERLALU seperti Rama juga. Mari Rama, kita sama-sama berjuang dan menaikkan level kita menuju bahagia (yang tidak terlalu). Go for it!

Rama memang hebat…. Bahkan Ibunya mengatakan, “Kamu akan jadi orang hebat, Nak” sambil memeluk Rama ketika Rama kembali dari pelariannya di tahun 2005… Dan kalau saya boleh berkata… Orang tua Rama lebih hebat lagi. Saya merasa luar biasa dan berpendapat mustahil kedua orang tua Rama tidak memberitahukan pada Rama bahwa dia “lain”…. berbeda dengan orang “biasa” sampai umur 7 tahun. Bagaimanapun juga pasti caranya berbeda dalam membesarkan dan mendidik anak tunanetra. Di Jepang biasanya banyak diterbitkan juga buku kisah orang tua yang membesarkan anak-anak hebat. Dan kiat atau pengalaman orang tua Rama inilah yang saya ingin sekali baca, sehingga kalau Rama berhasil menjadi motivator untuk kaumnya dan kaum muda, maka saya berharap orangtua Rama menjadi motivator bagi orang tua-orang tua yang mempunyai anak cacat. Hoping and waiting.

Semoga dengan kehadiran buku Rama, semakin banyak manusia Indonesia, baik yang mempunyai kekurangan fisik maupun yang mempunyai kesempurnaan fisik dapat terinspirasi dan termotivasi. Saya juga berharap barier free – bebas hambatan - bagi penderita cacat tubuh di Indonesia dapat dipikirkan dengan serius (Kalau bisa contohlah Jepang!). Akhir kata, Selamat pada Rama dan semoga saya bisa bertemu Anda di Tokyo, mungkin dalam rangka jalan-jalan atau bekerja. Selamat juga bagi Grafindo atas peluncuran buku hebat ini. Congratulations!

***imelda coutrier miyashita***
Foto contoh panduan jalan bagi tunanetra yang ada di setiap stasiun dan jalan-jalan di Tokyo:

Baca juga ulasan buku ini dari teman-teman saya:

“RAMA, SANG RAMA-RAMA”

“in search of lights”

“Blind Power: Berdamai dengan Kegelapan”

Posted under Buku * Books *本, Orang * Person * 人物

This post was written by imelda on September 10, 2008

CD Cerita Anak-anak

Dalam pekerjaan saya sebagai narator, suara saya sering dipakai untuk komersial/advertising di radio, atau dalam video atau di pesawat JAL, atau dalam CD untuk pelajaran bahasa Indonesia seperti yang sudah saya masukkan dalam page logbook. Kadang saya tidak punya arsip untuk saya sendiri terutama jika itu untuk komersial dan video (but saya masih menunggu Alex katanya dia mau minta copy DVDnya Yamaha) . Kalau mau mendengar yang JAL berarti saya harus pulkam terus hhihihi (maunya sih gitu). Tapi ada satu CD yang lain dari yang lain, yaitu CD cerita anak-anak.

Bentuknya mungkin bukan seperti yang dituliskan oleh Bang Hery tentang Talking Book. Ada buku cerita bergambar dan ada CDnya. Saya harus mengerjakan terjemahannya dan setelah itu mengerjakan narasinya. Dalam proses menerjemahkannya saya terbentur pada masalah-masalah yang cukup rumit yaitu onomatope. Dalam bahasa Jepang banyak sekali dipakai onomatope dan itu ada yang bisa dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia, dan banyak yang tidak bisa dicari kata-kata yang persis untuk bahasa Indonesianya. Misalnya ini :

onna no ko ameno naka wo tattaka tattaka hashitteimasu.

anak perempuan berlari-lari dalam hujan.

tattaka tattaka ini menggambarkan suara anak berlari…. nah… bahasa Indonesianya? ceplak cepluk? atau kalau gendut mungkin debam debum? hihihihi. Dan suara seperti tattaka tattaka ini berbeda tergantung subyeknya… penguin pettan pettan.… duhhhhhhhhhh pusing!!!

Jadi saya harus mengabaikan onomatope seperti itu dalam menerjemahkan.

Selain faktor onomatope yang rumit dalam bahasa Jepang, saya mau memberikan pengakuan yang sebetulnya “memalukan”. Begini, …. dalam cerita ada bagian tentang “Mandi dengan Ayah”. Di Jepang, istilah bagian badan itu sama semua… baik untuk anak-anak laki-laki maupun pria dewasa mengacu pada kata yang sama, yaitu o-chinchin (pasti ada yang sudah pernah mendengar lagu anak-anak chinchin ponpon… nah itu adalah kelamin pria, hampir semua benda dalam bahasa jepang berawal o- yang menyatakan hormat/sopan. Jadi kalau mencari di kamus harus mencari di kata chinchin…. yang dalam bahasa Indonesianya mengacu ke “ring” — makanya dalam misa perkawinan pasangan campur harus menghindari pemakaian kalimat, “Terimalah cincin (RING). ini sebagai lambang cintaku padamu”)

Nah, masalahnya pada tahun 2002 itu saya belum chatting. Coba kalau saya sudah mulai chatting mungkin saya tidak akan membuat kesalahan ini. Saya bisa mengadakan survey/angket ttg kata yang satu ini. Ya, saya hanya mengacu pada kata k**** untuk menerjemahkan kata chinchin ini. Terus terang (phillips terang terus hihihi) saya TIDAK INGAT (kalo lupa ya lupa aja deh ) sama sekali bahwa ada kata t**** …. Dan waktu saya cari di kamus… kata t**** ini berasal dari bahasa Jakarta. Jadi belum tentu dipakai di daerah lain (KBBI: Jk n kemaluan anak laki-laki ). Jadi saya bingung waktu itu dan memutuskan memakai kata k****  itu. Ini benar-benar merupakan pengalaman bagi saya dan semakin sadar betapa pluralnya masyarakat indonesia.

Setelah melalui proses penerjemahan, masuk studio sekitar bulan November 2002 waktu saya sedang hamil Riku. Tentu saja dalam narasi bagian “Mandi dengan Ayah” itu saya harus menahan jangan sampai tertawa atau malu-malu sampai pengucapan tidak jelas hihihi.

Ohanashi ehon ini diterbitkan dalam 25 bahasa oleh Lembaga Pendidikan Shichida. Bagi yang berminat, saya rasa masih dijual di toko buku terkenal di Tokyo.

Posted under Bahasa 言語, Buku * Books *本, Opini 意見, Uncategorized

This post was written by imelda on September 2, 2008

Tags: , , ,

Anda tahu PLTA Cirata?

Well terus terang, saya tidak tahu. Kalau dari namanya Cirata, saya tahu pasti daerah yang terletak di Jawa Barat, karena Ci itu kan airnya Air, dan rata? masak sih dataran? …. Kalau seandainya Gen tidak memberitahukan tentang Picture Book ini, saya tidak akan tahu tentang PLTA Cirata. Saya cuma tahu waduk Jatiluhur. Dan yang membuat saya malu, saya tahu tentang negara kita ini melalui orang asing dalam hal ini orang Jepang.

Picture book ini berjudul “Para Ayah pembuat waduk —- sampai selesainya pembangunan PLTA Cirata berkat kerjasama Internasional”. Pengarangnya Kako Satoshi. Tentang pengarang ini memang sudah sejak lama Gen menyarankan saya menulis tentang dia, karena hasil karyanya sudah terkenal sejak dulu terutama yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Dan dia menyampaikan sesuatu ilmu yang sulit dengan gambar sehingga menjadi mudah dna menarik.

Di sampulnya tertulis begini,” Buku ini dibuat untuk menceritakan kegiatan para ayah yang berasal dari Indonesia, Jepang, Australia, Perancis dan Jerman waktu membuat waduk besar di tempat yang bernama Cirata”. Pembangunan dimulai bulan Desember 1983, dan selesai September 1988. Sebanyak 5000 orang bekerja dan diantaranya 300 orang Jepang, sehingga kalau dilihat dari besar dan banyaknya tenaga kerja yang dipakai bisa disebut sebagai pembuatan Piramid modern.

Dalam buku ditampilkan tokoh Ayahnya Wawam, yang harus bekerja di situs pembuatan waduk. Kemudian kita bisa melihat tempat yang dimaksud. Gambarnya begitu detil, dipenuhi dengan keterangan yang diperlukan, juga nama-nama binatang yang ada. Sementara cerita berlanjut mengenai diadakannya rapat/pertemuan untuk membicarakan pembangunan waduk itu. Kemudian mulai diadakan pengiriman barang dari luar negeri melalui pelabuhan laut dan udara.

Dari pelabuhan, barang-barang tersebut dibawa ke situs tempat pembuatan dam, dan dimulailah pembangunan prasarana jalan, juga “Camp” tempat para ayah itu menginap selama waduk dikerjakan, pembangunan waduk pun dimulai. Wahhh sebanayak 47 halaman penuh dnegan gambar mendetil proses pembuatan waduk sampai pada upacara peresmiannya. Seandainya proses pembuatan waduk itu hanya dituliskan dalam bentuk tulisan, saya yakin anak-anak tidak akan bisa mengerti. Tapi karena dapat melihata gambar yang detil tersebut, saya yakin anak-anak bahkan bisa menghapal dna bisa menjelaskana proses pembuataan waduk dengan jauh lebih berurutan daripada orang dewasa. Waktu Riku dibacakan buku inipun, dia sudah banyak bertanya-tanya, kenapa harus begini kenapa begitu. Air yang di sungai bagaimana lalu bagaimana isi air ke dalam waduk…. ditanya oleh anak usia 5 tahun …. Dan saya yakin itu karena dia bisa mengerti melalui gambar.

Kako Satoshi sendiri menuliskan dalam ending buku ini bahwa dia pernah membuat buku dnegan tema waduk Jepang pada tahun 1959, namu buku itu kemudian 絶版 zeppan (tidak dicetak lagi) akibat perubahan ekonomi dan masyarakat. Karena itu dia merasa ada kesempatan bagus membuat buku mengenai waduk yang dikerjakan dnegan kerjasama luar negeri. Dan berkat bantuan dari banyak pihak, Buku itu bisa terbit setelah hampir 30 tahun.

Keterangan buku :

Judul asli : ダムをつくったお父さんたち Dam wo tsukutta otosantachi, 1 Oktober 1988, dan cetakan ke empat Juni 2000. ISBN4-03-529310-5  Penerbit Kaiseisha. ukuran A4  harga 2000 (+pajak 5%)

Dan yang menarik tertulis di halaman belakang, biasanya Picture Book hanya tulis dari umur sekian . Tapi picture book ini tertulis: 子どもから大人まで Kodomo kara Otona made (dari anak-anak sampai dewasa). Ya benar, orang tua juga bisa belajar dari buku ini. Saya pun akan lebih memilih picture book daripada harus membaca buku dengan tulisan yang kecil-kecil.

NB; akhir-akhir ini Gen getol mengumpulkan Picture book yang berhubungan dengan Indonesia. Masih ada satu lagi yang akan saya bahas di kemudian hari.

Berikut review dalam bahasa Jepang oleh Gen :

海や地球の断面を描かせたら右に出る者のない著者によるダムの断面絵本。ものすごい絵本です。
インドネシアのジャワ島で大成建設が関わったダム建設。山奥の谷川がページを追うごとに巨大ダムに変貌していくその過程はスペクタクルと言っても過言ではありません。
山中、というか山という立体の内奥に、発電機をいくつも並べておくための空間を掘削してしまう、なんて素人には想像もつきません。それもジャンボジェットが6機も入りそうな巨大な空間。5歳の息子と一緒に感嘆しつつ鑑賞。
インドネシアのエネルギー省に勤務するしているお父さんや日本の建設会社に勤務しているお父さん、フランスやドイツのお父さんたちが関わった5年 がかりの大プロジェクト。最後にインドネシア大統領が祝賀のために登場したときには、息子も喝采でした。nasi kuningももちろん登場です。
インドネシアの動物や昆虫たち、水力発電の仕組み、大規模土木工事に繰り出されるいろんな機材、車両、そして多国籍のお父さんたち。いくつもの 山々を越えて立ち並ぶ送電塔。電気をつくるという事業の大きさを目に訴えてくれます。この夏息子が過ごしたジャカルタの家の電気もこのダムから来ているか もしれない、と思うとわくわくします。
かこさとし先生に大感謝です。

Posted under Buku * Books *本, Orang * Person * 人物

This post was written by imelda on August 31, 2008

Tags: ,

Di Amersfoort Aku Jatuh Cinta

Kota Amersfoort (kira-kira sejam bermobil dari Amsterdam, Netherland) memang akrab dengan keluarga saya. Ada beberapa saudara dari pihak papa yang tinggal di sini. Yang tertua adalah Oma Do, yang berusia 88 tahun. Masih sehat dan mungkin masih menyetir mobil sendiri. Saya terakhir bertemu Oma Do, dan generasi opa tahun 2002. Kapan lagi bisa ke sana ya? Bukan di Amersfoort tapi di sebuah kota pantai, ada pula teman maya saya, si Peri Biru Kiki yang kemarin berulang tahun. Karena Kiki ini lah aku mulai nge-blog di blogspot th 2005.

So…. apa kesan kota Amersfoort bagi saya? Tidak begitu jelas, tapi yang pasti teringat adalah waktu kami naik mobil melewati hamparan padang rumput luas… dengan pemandangan windmill yang indah…. tapi…. bau kotoran sapi yang amat sangat menyengat. Kok bisa ya tinggal di daerah sini?

“Di Amersfoort Aku Jatuh Cinta”  adalah judul buku yang aku baca selama 1,5 jam. Sudah lama aku beli mungkin 2 tahun yang lalu. Sebuah buku karangan Toeti Senja. Ceritanya sederhana, kalimatnya sederhana. Tapi kesanku MANIS. Karena bisa juga membuatku menitik airmata pada bagian akhir. Kisah cinta sepasang manula, belum terlalu tua banget tapi keduanya sudah menjanda dan menduda. Memang benar apa kata pengantarnya, bahwa belum banyak cerita/novel yang menceritakan tentang kaum paruh baya. Tentu saja mereka punya problema masing-masing, juga kekuatan mereka pada adat istiadat mempengaruhi pandang hidup mereka selama ini.

Kalau ada waktu yang tidak terlalu banyak dan ingin membaca suatu yang ringan, saya sarankan baca buku ini meskipun mungkin Anda belum manula….

Posted under Buku * Books *本, Intermezzo

This post was written by imelda on August 25, 2008

Tags:

Sabtu dengan pertentangan batin

aneh sekali judulnya ya… Tapi emang sepertinya Sabtu ini (9 Agustus) banyak pertentangan batinnya. Antara ingin maju ke depan, tapi seakan-akan ditarik mundur dan ingin mengenang masa lalu. Bermula dari pernyataan seorang teman di MP, “Mel, aku juga belakangan ini jadi agak males step back in time.” Kita termasuk orang-orang pencinta lagu-lagu 80-an dan selalu hunting musik lama yang langka. Sampai cari di toko loak, dan kalau ada satu yang sudah dapat akan upload di MP share dengan contactnya saja. Well, aku juga tidak sampai segitunya, ubek-ubek Aquarius saja sudah cukup. Dan sampai detik ini saya belum membeli CD jadul satu lembarpun.

step back in time…. perlukah? hanya untuk nostalgia….tapi juga membangkitkan kenangan lama. Untungnya saya tidak mempunyai lagu-lagu lama yang bisa dikaitkan dengan sebuah memori tertentu, yang bila mendengarnya bisa membuat menangis terharu-biru. Atau memang saya sudah mati rasa.
Well, seperti kata teman saya itu…step back in time mungkin tidak boleh sering-sering, dan dilakukan dalam kondisi hati yang sedang riang saja.

Sesudah menulis posting tentang pergi ke Cafe Pisa, lalu saya online di YM sebentar, dan bang Hery buzz saya tanya apakah hari ini ada reuni dengan sastra Jepang. Well, sebetulnya memang kita berencana untuk bertemu lagi makan siang. Tapi satu-per-satu anggotanya menyatakan tidak bisa. Untung saya belum pesan tempat juga, so… tidak jadi reunian nya. Kosong hari ini. Karena kebetulan Mbak Yuli bisa dan mau bertemu, Saya janjian dengan bang Hery bertemu di Starbuck Senayan City, jam 4 sore. Untung saja kita bertiga jadi bertemu, sehingga hari Sabtu ini bisa saya pakai dengan efisien (baca ngga bete di rumah). Dengan badan yang segar sudah dipijit Yu Tum, 20 menit ke Senayan City (lamaan cari taksinya deh). Dan memang jalanan macet.

Ngalor ngidul bercerita (maaf ya Bang dan si mbak yang cantikdan pintar …kebanyakan saya yang bicara) sambil makan es krim lewat jam 6:30. Karena si abang sudah capek nyetir, kita berpisah di lantai 3 tanpa makan malam bersama (ngga jadi deh makan di Ootoya). Hmmm lalu ada waktu banyak untuk jalan sendirian dan window shopping. Terus terang, window shopping bukan sifat saya. Ngga betah. Tapi waktu saya lihat ada toko buku internasional, saya masuki toko itu. Siapa tahu ada novel bagus, pikir saya. Sambil melihat-lihat buku-buku yang dipajang…. saya merasa kok saya berbeda dengan dulu. Tidak ada buku yang menarik untuk saya ambil dan paling sedikit baca sinopsisnya. Buku-buku yang dipajang berwarna pastel, kebanyakan bercerita soal cinta, anak muda dan backpacker, perjalanan…. (Kalau trilogynya Andrea Hirata sudah dibelikan Melati san jadi saya tidak usah beli lagi). Huh… kenapa tidak ada satu judulpun yang menarik sih? Sempat terpegang buku tentang Tarot yang pasti dibeli si Lala, seharga Rp100.000…. tapi masak aku saingan sih belajar Tarot sama Lala heheheh.

Ada deretan bukunya Agatha Christie…. sudah punya dan sudah baca semua. Ada buku2 komputer, ….tidak menarik (bagaimana cara Hacking…. buat apa coba?). Ada ceritanya Marga T, tapi cuman ada buku 4-5 nya saja…. Hmmm bete bener deh. Lalu saya kembali ke bagian pintu masuk dan bertemu dengan novel bahasa Inggris dengan judul Twilight. Wow judul blog saya…. The twilight saga…. Cerita tentang cinta seorang wanita dengan vampire. Cinta lagi…huh saya pikir but karena gaya cerita di sinopsisnya kelihatan bagus… ingin aku beli. Lihat harganya Rp169.000 dengan ketebalan seperti kamus Inggris heheheh. Satu buku tuh (mungkin sekitar 10 $ ya….) Dan saya ingin beli semua seri…berarti itu bisa menyita seperempat koper. So…hasilnya… saya batalkan beli, dan akan pesan melalui amazon saja sekembali di Tokyo. Memang lebih murah sedikit jika membeli di Indonesia, dibanding di Jepang. Tapi beratnya itu loh. Saya masih ada satu novel untuk persediaan baca di dalam pesawat, jadi cukuplah itu.

Sesudah dari toko buku, masuk toko CD dan beli DVD film Indonesia yang saya belum punya untuk koleksi. (Paling nanti Melati san yang nonton ya hehehhe)…. Dan pulang dengan rasa ingin tahu buku Twilight tadi. Cari-cari di web dan ketemu web pengarangnya Stephenie Meyer. Ada yang pernah baca? Kelihatannya novel ini akan difilmkan juga ya. Hmmm horor tapi romance… trus bacanya malam-malam hihihihi. terus bayangin vampirenya datang…terus …. ahh aku bayangin si Zorro aja deh (my hero when i was 7 y.o)

Softly he brushed my cheek, then held my face between his marble hands.’Be very still,’ he whispered, as if I wasn’t already frozen. Slowly, never moving his eyes from mine, he leaned toward me. Then abruptly, but very gently, he rested his cold cheek against  the hollow at the base of my throat.

As Shakespeare knew, love burns high when thwarted by obstacles. In Twilight, an exquisite fantasy by Stephenie Meyer, readers discover a pair of lovers who are supremely star-crossed. Bella adores beautiful Edward, and he returns her love. But Edward is having a hard time controlling the blood lust she arouses in him, because–he’s a vampire. At any moment, the intensity of their passion could drive him to kill her, and he agonizes over the danger. But, Bella would rather be dead than part from Edward, so she risks her life to stay near him, and the novel burns with the erotic tension of their dangerous and necessarily chaste relationship.

Meyer has achieved quite a feat by making this scenario completely  human and believable. She begins with a familiar YA premise (the new kid in school), and lulls us into thinking this will be just another realistic young adult novel. Bella has come to the small town of Forks on the gloomy Olympic Peninsula to be with her father. At school, she wonders about a group of five remarkably beautiful teens, who sit together in the cafeteria but never eat. As she grows to know, and then love, Edward, she learns their secret. They are all rescued vampires, part of a family headed by saintly Carlisle, who has inspired them to renounce human prey. For Edward’s sake they welcome Bella, but when a roving group of tracker vampires fixates on her,the family
is drawn into a desperate pursuit to protect the fragile human in their midst. The precision and delicacy of Meyer’s writing lifts this wonderful novel beyond the limitations of the horror genre to a place among the best of YA fiction. (Ages 12 and up) –Patty Campbell

Posted under Buku * Books *本, Catatan Harian * Diary * 日記, Uncategorized

This post was written by imelda on August 11, 2008

Memorabilia #2

Apakah Anda masih ingat atau pernah diberitahu orang tua Anda, apa judul buku (bergambar) yang pertama kali didongengkan orang tua pada Anda waktu masih kecil? Orang tua saya sibuk sekali waktu saya kecil. Bapak saya seperti bapak-bapak muda lainnya sedang sibuk meniti karir di perusahaan. Bahkan sering mengikuti training ke luar negeri. Otomatis yang tinggal di rumah, yaitu ibu saya yang harus menyelenggarakan roda rumah tangga sendirian. Dan pastinya kerja di rumah itu tidak ada habisnya (ini saya alami sekarang). Jadi sangatlah jarang kami dibacakan dongeng oleh mama. Buku dongeng yang dibacakan adalah sebuah buku berbahasa Belanda yang diberikan saudara kami. Kumpulan dongeng seperti Upik Abu dsb. Mama akan membacakannya dengan menerjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia. Kami akan memilih bagian mana yang kami minta bacakan. Tapi kadang karena mama sudah lelah, ceritanya sering tidak “nyambung”, dan mama tertidur. Kami bangunkan, “ma…apa lanjutannya?”… Bayangkan kalau kemudian mama berkata, “Iya, kemudian Yusuf naik tembok…” (gubraaak). Biasanya kalau begitu, kami tahu diri dan akhirnya tidur tanpa mendengar kelanjutan ceritanya.

Nah dalam liburan kali ini, saya menemukan buku itu. Tertanggal 20 desember 1974, hadiah dari Opa Luke dan Oma Alie yang tinggal di Belanda. Memang adik dari Oma Alie ini adalah pengarang buku cerita anak-anak di Belanda. Isi ceritanya:

  • De schone slaapster in het bos (Putri Tidur)
  • Roodkapje (Si topi merah)
  • Blauwbaard (Jenggot Biru)
  • De gelaarsde kat (Kucing bersepatu Laars)
  • De feeen (Peri)
  • Assepoester (Si Upik Abu)
  • Riket met de Kuif (Riket si Jambul)
  • Klein Duimpje (Si Jempol Kecil)
  • Griseldis (griseldis)
  • De dwase wensen(Orang gila)
  • Ezelsvel (Kulit keledai)

Selain Upik Abu, Si Topi Merah dan Putri Tidur, yang lain kurang saya ingat. Terutama si Jenggot Biru, sepertinya agak mengerikan. Nanti mau coba baca sendiri aaahhh.

Posted under Buku * Books *本, Sastra * Literature * 文学

This post was written by imelda on July 26, 2008

Kei-chan dari Pemandian Fukunoyu

Posting ini sudah pernah saya post dengan judul Posting Review. Dan entah kenapa, mungkin karena judulnya, banyak sekali yang akses ke sini. Dan ternyata banyak yang tertangkap akismet, alias mereka itu spam yang banyak mencantumkan link jorse. Saya pikir mereka tidak mungkin membaca seluruh isi yang memang tentang mandi….apalagi dalam bahasa Indonesia. Jadi saya pikir yang masalah ada judul dari potingannya yaitu “posting review”. Karena itu saya pikir, saya mau ganti judulnya dan mau lihat apakah masih banyak spam yang akan melihat posting ini meskipun sudah diganti judul. Kalau memang masih banyak maka berarti mereka memang bisa membaca isinya hehehe. Posting ini hanya ada 1 yang mengomentari yaitu Bang Hery. Saya masukkan di paling bawah saja ya bang.

Kei chan dari Pemandian Fukunoyu.


Pasti mereka yang tinggal atau datang ke Jepang, atau paling sedikit pernah membaca kebudayaan Jepang mengetahui bahwa di Jepang ada Sento atau pemandian umum. Sulit sekali bagi orang Indonesia untuk bisa masuk ke Sento, karena faktor kebudayaan. Saya rasa bahkan yang tinggal di desa pun, yang terbiasa mandi di sungai pun belum tentu bisa mandi bersama-sama di sini. Karena untuk bisa mandi bersama di Sento Jepang ini, Anda harus bisa berbugil ria.

Begitu masuk pemandian umum ini, kita akan mendapatkan dua pintu. Ruangan untuk laki-laki dan ruangan untuk perempuan. Di dalam ruangan biasanya ada tempat untuk membuka baju, lalu baju kita masukkan , keranjang yang tersedia. Setelah itu baru masuk ke tempat mandi berupa kolam besar dan beberapa keran/shower di bagian dindingnya. Kita harus membersihkan badan dengan sabung dahulu di keran-keran tersebut baru nyemplung ke dalam kolam yang berisi air panas. Biasanya panasnya antara 40-45 derajat. Dengan berendam di air panas ini, otot-otot yang tadinya kaku bisa dikendurkan.

Orang Jepang sangat suka mandi bersama. Entah itu di Sento atau di Onsen (hot spring). Dengan menanggalkan benang di tubuh, berarti Anda membuka diri. Tidak jarang orang menceritakan hal-hal pribadi sambil masuk sento dan mandi bersama. Sehingga ada 2 hal yang menjadi syarat utama jika Anda ingin bisa diterima dalam masyarakat Jepang yaitu sento dan minum alkohol bersama (nomikai). Dalam keadaan telanjang dan dalam keadaan mabok, you can show the real you, and you can see the real him/her/them.

Ada satu buku bergambar untuk anak-anak yang diterbitkan penerbit Fukuinkan yang menggambarkan pemandian umum ini. Buku ini menceritakan anak perempuan bernama Kei. Keluarganya mengelola pemandian umum sento. Diceritakan bagaimana kerja satu hari sebagai pengelola sento lengkap dengan denah/ gambar keadaan sento tersebut. Setahun sekali gambar yang ada di dinding kamar mandi perempuan dan laki-laki akan diganti.Karena membaca buku ini, Riku, anak saya yang berumur 4 tahun ingin sekali ke sento, dan sekarang sudah terbiasa ke sana.

Berikut ada beberapa percakapan antara Riku dan papanya. Karena diterjemahkan maka mungkin tidak lucu lagi.

melihat gambar orang mengecat dinding pemandian:

俺:ほら、R。こんなにたかいハシゴにのぼって描いてる。
Liat. Orang ini naik tangga yang tinggi untuk menggambar di dinding.
R:地球より大きな絵だったらたいへんだよね。にじゅうろく時間もかかっちゃうよ。
Wah, kalau gambarnya besar lebih besar dari bumi susah ya. Butuh waktu 26 jam. (entah kenapa Riku suka angka 26)
俺:R,一日って何時間か知ってる?
Riku tau ngga satu hari ada berapa jam?
R:知らない。
Nggak tau.
俺:24時間しかないんだよ。
Ada 24 jam loh
R:ええ?にじゅうよじかんしかないの?
Apa? Cuman ada 24 jam aja?

Melihat gambar dalam pemandian untuk perempuan
R:どうしておんなのひとしかいないの?
Kenapa sih cuman ada perempuan aja?
俺:この絵を描いた人が女の人だからだよ。おばあちゃんとかおばちゃんばかりだろう?男湯の絵はRが描いてくれ。
Iya soalnya yang bikin buku ini kan perempuan. Jadi lebih banyak nenek-nenek dan ibu-ibu. Makanya nanti Riku aja yang gambar pemandian laki-laki.
R:かけないよ。パパが描いてよね。上手に描いてよね。
Ngga bisa. Papa aja yang gambar. Gambar yang bagus ya.

Melihat ada dinding pembatas antara pemandian perempuan dan laki-laki
俺:男湯と女湯は壁でわかれているんだよ。はずかしいからさ。
Nih lihat, antara pemandia perempuan dan laki-laki ada dinding pembatas kan. Soalnya malu.
R:じゃあさぁ、壁が倒れちゃったらおへそとかおっぱいとかみえちゃうの?
Kalo gitu, kalo dindingnya roboh, keliatan dong ya pusar dan tet*k
俺:壁が倒れたらすぐにおちんちん隠せよ。
Makanya kalo dindingnya roboh, langsung tutup t*titnya yah.
R:きゃはは。
Hahahaha….

Pemandian laki-laki
俺:ほら、この子がばちゃばちゃしてるからこのおじさん怖い顔してるだろう?Rはやっちゃだめだぜ。
Liat tuh, anak laki ini main-main di kolam, jadi si om yang ini keliatan galak kan. Riku ngga boleh main-main kayak gini ya.
R:だれがいちばんつよいの?このおじさん?
Siapa yang paling kuat di sini? om yang ini?
俺:そりゃあ、こっちのイレズミのおじさんだよ。このおじさんにお湯かけたら殺されるぜ。ぜったいするなよ。
Wah yang pasti om yang pake tato ini. Kalo siram air ke om ini pasti dibunuh deh. Jangan ya.
R:うん。わかったー。
Oooo. OK.

Ada beberapa pemandian umum yang melarang orang bertato untuk masuk. Alasannya membuat tamu-tamu yang lain takut….

********************

Komentar dari Bang Hery:

Wah, kirain dicampur antara pemandian laki dan perempuan. Oo,jadi ngeres. Tapi, meskipun sama-sama laki2 di Indonesia memang belum bisa diterima pemandian sejenis ini. Terutama terkendala faktor agama kali ye…

ada juga pemandian campur, misalnya di hot spring, tapi biasanya kalau campur ya tidak telanjang bulat. Pake handukan gitchu…kecuali kalo yang ada cuman berdua hihihi….ngeres deh. Ada juga pemandian hot spring di alam terbuka, yang bisa disewa untuk berdua aja hihihi…kok hahahahihihi jadinya ya. Mungkin karena faktor agama juga, tapi yang tinggal di pedalaman bagaimana kalau mandi di sungai. Terus terang saja saya pernah ke Bali 20-an tahun yang lalu, lalu lagi naik mobil melewati sungai. Banyak laki-laki mandi dan telanjang bulat (bukan anak-anak loh) wah shock saya pertama kali liat hihihi.

From Posting Review, 2008/05/10 at 2:03 PM

Posted under Buku * Books *本, LIVING in Japan

This post was written by imelda on July 13, 2008

Tags: ,

Tempat tidur si Kacang Babi

Wah kok kacang babi sih? Tenang saja, yang ini tidak haram karena tidak ada hubungannya dengan babi. Mungkin pernah menjadi pakan babi. Dan memang mungkin orang Indonesia tidak kenal pada kacang babi ini. Kalau di Jepang banyak dikonsumsi, namanya Soramame . Tapi sebetulnya bisa diproduksi di Indonesia juga loh. Dan sudah termasuk dalam daftar komoditi binaan Departemen Pertanian. Nama Latinnya Ficia Faba L. Nah si kacang babi ini yang akan menjadi primadona dalam buku bergambar Picture Book yang akan aku ulas hari ini.

Seperti yang sudah saya katakan di postingan tentang si Black Crayon, aku bakal nge-fans pada Nakaya MIwa (kelahiran 1971) yang juga pengarang buku “Tempat Tidur si Kacang Babi” ini. Siapa sih yang terpikir untuk mengangkat jenis kacang-kacangan ini menjadi tokoh karakter dalam bukunya. “Soramame-kun no Beddo” menceritakan tentang kacang Babi ini yang mempunyai tempat tidur yang empuk karena dalam kenyataannya Anda juga bisa merasakan bahwa kulit kacang babi ini empuk (seperti pete deh).  Di bagian dalamnya terdapat lapisan seperti kapas putih bagaikan awan. Nah tempat tidur ini bagi soramame-kun merupakan hartanya yang paling berharga. Jadi ketika Edamame (kacang Eda) datang untuk pinjam tempat tidurnya, Soramame-kun menolak dengan tegas, “tidak boleh! Ini hartaku”.

Edamame Green Peas

edamame(kiri)   —– green peas(kanan)

Kemudian green peas juga datang dan minta ijin untuk meminjam tempat tidur Soramame-kun, dan tentu saja tidak boleh “Jangan , kalau begitu banyak masuk , tempat tidurku rusak”. Kemudian datanglah Sayaendo, si Kacang Kapri untuk meminjam tempat tidurnya. “Tidak boleh, kamu terlalu besar!” . Lalu  yang terakhir datanglah si Kacang Tanah. “Jangan, Kamu paling cocok tidur di tempat tidurmu yang keras itu!”.

Pada suatu hari, Soramame-kun tidak menemukan tempat tidurnya. Tempat tidurnya hilang ntah kemana. Dia mencari kemana-mana…. Dia bertanya pada Edamame, GreenPeas, Kacang kapri dan Kacang tanah. Semua tidak tahu, “Rasain, dia tidak mau pinjami kita sih“…. Semua menyalahkan keangkuhan Soramame-kun.

Tapi hari semakin gelap, semua menjadi kasihan pada Soramame-kun karena tidak ada tempat tidur. Mereka menawarkan tempat tidur mereka pada Soramame-kun. TAPI….

Tempat tidur Edamame …. terlalu kecil

Tempat tidur GreenPeas ….terlalu sempit

Tempat tidur Kacang kapri …. terlalu tipis

Tempat tidur Kacang Tanah…. terlalu keras

hmmmm memang tempat tidurku yang paling enak!!!

Soramame-kun berhari-hari mencari tempat tidurnya….hingga suatu hari dia menemukan tempat tidurnya. Tapi seekor burung puyuh mendudukinya. Waaaah gimana nih… Akhirnya Soramame-kun membuat tempat tidur dari daun tak jauh dari tempat itu untuk mengawasi tempat tidurnya. Berhari-hari dia mengawasi… tapi lambat laun yang menjadi perhatian dia bukannya tempat tidur,  tetapi telur yang sedang dierami burung puyuh itu.  Pada suatu hari… krraaak kraaak, telur itu retak dan keluarlah anak burung…”Waaah anak-anak itu lahir di tempat tidurku yang empuk itu!” Anak-anak puyuh itu keluar dari tempat tidur dan berjalan mengikuti induknya. Soramame-kun melambaikan tangannya.

Malam itu teman-teman yang ikut khawatir mengenai tempat tidur Soramame-kun mengadakan pesta kembalinya tempat tidur Soramame-kun. Selesai pesta, Soramame-kun memperbolehkan semua teman-temannya untuk tidur bersama menikmati kelembutan tempat tidur kesayangannya.

Buku ini ada versi bahasa Inggrisnya dan dilengkapi dengan CD, Tapi harganya masih mahal. 2000 yen dan kabarnya (menurut testimoni dari yang sudah beli) CD bahasa Inggrisnya kurang bagus. Ekspresinya yang kurang bagus…mungkin dia mendatar saja bacanya. Sedangkan dalam bahasa Jepang seharga 800 yen-an.

BUku Soramamekun no Beddo ini terbit tahun 1997 dan sampai 2005 sudah dicetak kembali sampai 40 kali. Ditujukan untuk usia 3 tahun (jika dibacakan) dan kelas awal SD, jika membaca sendiri. Saking terkenalnya buku ini soramame-kun ini menjadi karakter terkenal dan banyak goods, barang-barang dengan bentuk si soramame yang imut-imut dalam berbagai item. Di sini langsung terlihat kapitalismenya Jepang, semua karakter langsung di produksi menjadi bermacam jenis usaha. Riku waktu ulang tahun ke 5, mendapat sebuah buku kenangan dengan ilustrasi soramame-kun dari TKnya. Dan sodara-sodara, cerita tentang Soramame-kun tidak hanya ini saja. masih ada beberapa cerita, yang akan saya perkenalkan di kemudian hari.

Posted under Buku * Books *本, Opini 意見

This post was written by imelda on July 8, 2008

Tags: ,

Pages: 1 2 Next