Selamat Ulang Tahun Pa!!! 70 tahun….. 七十歳お誕生日おめでとうございます. Niatnya papa dalam menghadapi ulang tahun istimewa ini sebetulnya adalah membuat buku tentang lingkungan dan atau pengalamannya selama ini, tapi karena sibuk meeting/rapat sana sini, dan mengurus cucu, belum sempat terealisasikan. Papa bilang; sejak pensiun dia jadi PENGACARA (Penganggur yang banyak acara). Saya tulis sedikit kenangan bersama Papa ya…. Mungkin banyak terms yang salah, but aku tulis saja dulu apa yang terlintas di pikiranku beberapa hari ini. (sudah dapat perbaikan langsung nih dari ybs hehehe)
Papa bekerja selama 35 tahun di Pertamina, dan setelah dipanggil Menteri KLH waktu itu Pak Emil pada tahun 1990, papa bekerja delapan tahun di Lingkungan Hidup (Bapedal) , menjadi Ketua IPLHI ( Ikatan Profesional Lingkungan Hidup Indonesia) dan terakhir menjadi Executive Director IMA ( Indonesian Mining Association). Sementara itu setelah menjadi Alumni KSA III Lemhanas, Papa aktif sebagai Anggota POKJA SKA LEMHANAS(Kelompok Kerja Sumber Kekayaan Alam di Lembaga Ketahanan Nasional) Karir pertama papa di mulai di kilang SHELL Indonesia di Plaju ,bidang Pengolahan (eh bener ngga ya pa?), tapi kemudian juga menangani Lingkungan hidup dalam Pertamina sendiri di BKLL( Badan koordinasi Lindungan Lingkungan). Jadi papa sering harus pergi ke tempat-tempat yang terjadi kecelakaan untuk memonitor penanganan pertolongan sesuai dengan penanganan ramah Lingkungan. Karena tugasnya ini pulalah, saya mengetahui tentang proses penanganan limbah minyak jika tertumpah di laut/perairan. Atau jika terjadi kebakaran di kilang minyak darat/lepas pantai. Saya juga masih ingat papa pernah mengisi rutin acara Dunia Minyak di TVRI. Saya yang masih kecil waktu itu duduk dengan manis di depan televisi, seakan-akan mendengarkan kuliah papa, mengisap memori gambar-gambar kilang eksplorasi dsb, padahal saya tidak mengerti apa-apa.
Papa memang guruku. Atau mungkin hanya saya yang mau mendengarkan kuliah ‘gratis’ papa dengan seksama dan alim, seakan-akan saya mengerti. Yang paling senang adalah menyambut papa pulang dari tugas di luar negeri, mendapatkan oleh-oleh (dasar anak-anak selalu minta oleh-oleh), dan kemudian makan bersama di meja makan sambil mendengarkan cerita papa mengenai perjalanannya waktu itu. Sejak 1970 Papa memang sering ditugaskan ke luar negeri untuk Seminar,Conference ,Workshop dan Rapat Dinas dengan partner Pertamina. Setelah menjadi eselon I di pemerintah, Papa mendampingi Menteri Lengkungan Hidup di UNCSD (United Nations Council for Sustainable Development) di New York dan di Governing Council UNEP (United Nations Environment Program) di Nairobi (Kenya). Pengalaman yang sangat bersejarah baginya adalah ikut safari di malam hari di hutan Kenya. Dia sangat terkesan dengan melihat seekor Leopard yang besar berjalan dekat pohon dimana Papa berlindung. Leopard tersebut kelihatan sangat megah didalam kerajaannya waktu malam hari. Papa juga sering mewakili instansinya di forum-forum luar negeri, bahkan sering memimpin delegasi Republik Indonesia ke Forum internasional seperti ASEAN Marine Pollution Experts Group , ASEAN sub regional group meeting, atau memimpin delegasi ahli standardisasi ke ISO TC 207 yang membahas standard ISO 14000 di Oslo (Norwegia) 1995, Rio de Janeiro (Brasil) 1996, Kobe (Japan) 1997. Bagaimana jalannya konferensi, Papa harus memimpin/ menjadi moderator simposium, atau papa bertemu dengan orang-orang terkenal si ini, si itu (Baca juga “ketik cepat=baca cepat”). Papa sudah mengunjungi kota-kota yang penting di pantai Timur,pantai Barat dan Mid west Amerika Serikat Demikian juga dengan pantai Timur dan pantai Barat Canada serta daerah sekitar Niagara dan Ontario.Kecuali Burma/Myanmar dan Laos,Semua negara ASEAN sudah dikunjungi. Praktis semua kota besar di Australia seperti Brisbane,Sydney,Melbourne,Perth,Fremantle dan Canbera sudah dikunjungi. Dalam banyak kunjungan tersebut Mama diajak ikut,tentunya ticket Mama bayar sendiri tapi hotel dan transport boleh ikut Papa. Jadi Mama juga banyak melihat dunia (dan sering berjalan sendiri loh). Banyak negara telah papa kunjungi , dan setiap pulang dari negara itu, saya menemukan waktu berharga yang hilang karena sibuknya papa berkeliling dunia dan menjalankan tugas sehari-hari. The important thing is the quality not the quantity of being together. Saat itu saya banyak bisa mendapatkan pengalaman-pengalamannya berinteraksi dengan orang-orang asing. Tidak jarang juga diselipkan humor-humor yang di dapat saat itu. Saking serunya papa bercerita kadang dia tidak menyadari bahwa yang mendengar omongannya waktu itu tinggal saya (do you remember those old day pa?).
Yang pasti sebelum saya berangkat ke Jepang papa selalu mengingatkan saya untuk berpikir berjenjang. “Imelda, kamu sering menganggap orang lain sudah tahu sehingga melompati urutan pemikiran. Dengan orang Jepang kamu tidak bisa begitu. Jangan dari A, B, lalu kamu lompat ke M, P dst. Orang Jepang tetap harus melampaui jenjang A, B, C, D….. dst. Sistematis. Jangan dilompati!! Ingat itu”. Dan berkat peringatan itu, saya berhasil mengubah kebiasaan saya yang melompati sesuatu, sehingga bisa bekerja/menjelaskan secara berurut… sistematis. Memang benar harus seperti itu karena orang Jepang kadang terlalu berpatokan pada Buku Manual. (Dan saya tidak pernah membuka buku manual jika harus set up komputer or elektroniks lainnya….sangat kontradiksi)
Cerita yang kadang membuat saya sedih, atau saya tahu papa juga sedih, adalah cerita jika orang-orang asing itu menanyakan papa lulusan universitas mana. UCLA? Barclay? Oxford?… then papa harus menjawab…. no I did’nt go to universities, I have no graduate tittle. Sampai lama-lama papa hanya menjawab ” Yes, I like fox”, then semua pikir papa lulusan dari Universitas yang berlambang fox (saya lupa universitas apa yang disebutkan). Papa berkata, yang penting saya tidak berbohong. Saya hanya mengatakan I like fox, not I went there. Menjadi sarjana adalah obsesi papa yang tidak bisa terpenuhi sampai saat ini. Karena itu papa selalu mengatakan kepada kami anak-anaknya untuk mengejar ilmu setinggi mungkin. Papa otodidak sehingga mendapat post-post tugas yang penting-penting itu tanpa gelar sarjana dengan kekuatan bisa berbahasa Inggris. Mana ada sih Eselon satu yang tidak bergelar sekarang? Sering dia memuat pidato atasan dalam bahasa Inggris, papers dalam bahasa Inggris dan mengisi majalah Science dan majalah lingkungan lain yang berbasis di luar negeri.Saya dengar dari Tina, bahwa papa melarangnya untuk belajar bahasa Perancis jika belum menguasai bahasa Inggris… Tapi itu jaman nya, jaman dulu, karena jaman sekarang tidak bisa tanpa gelar kesarjanaan seberapapun pintarnya engkau dan seberapa kuatnyapun engkau berusaha. Karena dorongan dan dukungan papa itu maka kami ke tiga anak perempuannya bisa mendapatkan gelar minimal Master. Saya master pendidikan ( dari Yokohama National University, Jepang), Novita Doktor (PhD) in Microbiology (Melbourne University, Australia) dan Tina Master Arsitek (Yokohama National University, Jepang). Kecuali Tina, semua dengan beasiswa dari negara ybs. Sedangkan papa tetap harus puas dengan sebutan “Sdr” di depan namanya dan menghibur diri dengan mengatakan my title is “Senior Doctor abv Sdr“. I still remember how proud he was when he attended my graduation day from University of Indonesia. But you have to know papa…. You are our Proffessor in many aspects especially for me. I am proud of you. I want to write more about you someday. But for today… Happy Birthday, my dearest Papa from your eldest daughter.
Tulisan ini sudah pernah saya post di Multiply 28 Januari 2008.
Saya jarang sekali nge-fans sama orang…apalagi celebritis. Tapi untuk kali ini saya merasa saya akan menjadi fansnya Nakaya Miwa yang adalah seorang illustrator. Dia menulis buku bergambar untuk anak-anak, atau tepatnya menciptakan karakter yang dibukukan. Ada dua karakter yang sudah kami kenal dengan baik, karena kami mempunyai kebiasaan membacakan buku untuk Riku, anak kami. Yaitu Soramame kun dan Kureyon no Kuro kun.
Cerita “Kureyon no Kuro kun” (Story about Black Crayon) diawali dengan sebuah kotak crayon yang masih baru. Karena bosan tidak pernah dipakai, Crayon berwarna kuning keluar dari kotaknya dan berjalan-jalan, dan menemukan selembar kertas gambar putih. Kegirangan, ia meluncurkan badannya dan menggambar di atas kertas tersebut. Kemudian dia memanggil crayon berwarna Merah dan Pink, kemudian mereka menggambar bunga. Lalu crayon Merah memanggil si Hijau Muda dan Hijau Tua, yang kemudian menggambar daun untuk bunga-bunga itu. dst…dst… sehingga lengkaplah sebuah pemandangan yang indah.
Namun datanglah si Hitam. “Aku menggambar apa?? ”
Yang lain berkata…”kami tidak perlu kamu…. ”
Hitam menjadi sedih. Untung ada Sharp-pen (Pensil mekanik) yang menghibur dia. Sementara itu si Crayon-crayon lainnya, keasyikan menggambar sehingga saling tindih dan akhirnya berkelahi. Gambar yang semula bagus menjadi berantakan. Di sini Sharp-pen berkata kepada si Hitam untuk meng-hitam-kan semua warna. Tentu saja crayon lainnya marah….
Setelah semua menjadi hitam….tiba giliran Sharp-pen untuk menggambar. Dan terciptalah sebuah gambar kembang api yang berwarna-warni dengan bentuk bermacam-macam. Karena ada si Hitam ini terciptalah sebuah gambar yang indah…. Crayon lainnya meminta maaf pada si Hitam karena sudah mengasingkan dia…
Makna cerita ini? Tentu saja menekankan pentingnya persaudaraan, dan menunjukkan bahwa tidak ada “orang” atau “sesuatu” yang tidak berguna. Dalam sekali maknanya, tapi diceritakan dengan menarik dengan tokoh karakter yang sebetulnya sudah lama ada dalam kehidupan kita.
Itu membuat saya menjadi suka dengan Nakaya Miwa ini. Kemampuannya untuk menciptakan karakter dari kehidupan sehari-hari yang diceritakan dengan gamblang dengan menyusupi “ajaran kehidupan”. Cocok untuk anak-anak balita. Andaikan saja ada seorang Nakaya Miwa di bumi Indonesia….
Naruto… Masked Rider…Ultraman…. tokoh-tokoh karakter dengan kehebatan masing-masing memang lebih terkenal di bumi Indonesia. Mereka lebih maskulin dan melambangkan “Jepang”…. tapi saya akan lebih suka memperkenalkan karakter-karakter lain yang lebih lembut, lebih kreatif, dan lebih mengajarkan kedamaian kepada teman-teman di Indonesia sebagai penyeimbang akan apa yang dikenal sebagai kebudayaan.
Satu lagi pesan saya…. usahakan untuk membacakan buku untuk anak Anda… meskipun mereka sudah bisa membaca. Dengan membaca buku bersama, mereka akan merasakan kehangatan keluarga, dan waktu seperti itu juga bisa dipakai untuk mengemukakan pikiran masing-masing. Kebiasaan yang saya terapkan pada anak saya sejak dia berusia 6 bulan, sampai sekarang hampir berusia 5 tahun…. memberikan waktu pada kami orang tua yang begitu sibuk dalam kegiatan sehari-hari untuk merasakan kedekatan dengan anak kami. Semoga kebiasaan ini bisa berlanjut terus…. ….
NB 1: Saya cukup sedih karena Riku sekarang lebih suka membaca buku Pooh daripada cerita Jepang yang lain. Tapi yah, yang penting ada maknanya deh. Saya paling benci kalau dia minta dibacakan majalah … apalagi yang tokusatsu seperti Ultraman. Selalu saya tolak dengan alasan “Mama ngga suka baca katakana”. Njelimet, abis bahasa Inggrisnya semua dikatakana-kan sih.
NB 2: Tunggu cerita saya mengenai buku Miwa yang lain!!
Pasti pada berpikir, judul kok aneh begitu. Ceritanya posting ini mau menjawab pertanyaannya Ai-san mengenai perbedaan sapaan (atribut) orang Jepang (gara-gara nonton Naruto tuh hihihi).
Semoga Ai-san dan mungkin yang lain yang sedang belajar bahasa Jepang bisa mendapat pencerahan hihihi.
BTW, hari ini adalah hari peringatan seorang pengarang Jepang terkenal yang bernama Dazai Osamu. Dia lahir tanggal 19 Juni 1909, dan meninggal (bunuh diri) tgl 13 Juni 1948 dalam usia 38 tahun. Karyanya yang berjudul Ningen Shikkaku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi No Longer Human. Kalau terjemahan harafiahnya “tidak memenuhi syarat menjadi manusia”. Buku ini kabarnya merupakan novel terlaris/ternama ke dua di Jepang, setelah “Kokoro” karangan Natsume Soseki. Pengarang ini benar-benar terobsesi pada kematian dan bunuh diri. Yang heran banyak orang Jepang yang suka, termasuk suami saya. Terus terang saya belum pernah baca karyanya, dan sepertinya kok malas ya membaca karya orang yang bunuh diri. prejudice lagi

Moomin Valley…. ada yang sudah tahu? Saya cari di Gugel tidak ada keterangan bahasa Indonesianya. Tentu saja topik saya kali ini adalah Picture Book, sehingga mungkin kurang menarik bagi orang dewasa. Tapi saya merasa kenapa sih begitu banyak Picture Book dari negara asing yang masuk ke Jepang? Kata suami saya, Jepang atau perusahaan Jepang tidak akan segan-segan menetapkan budget yang besar untuk Picture Book bagi anak-anak. Hanya dengan label “Pendidikan anak-anak” akan mudah untuk mendapatkan budget….
Ahhh seandainya….. (stop wishing Imelda… u know your country…)
Orang Indonesia pasti tahu tentang karakter disney, atau yang pernah populer di TV Indonesia seperti Tom and Jerry, Popeye the Sailor Man…..dll. Dan ini memang karakter terkenal yang berasal dari Amerika. Yang mengagumkan di Jepang tidak hanya mengambil karakter Amerika saja, meskipun sering dikatakan Jepang berkiblat ke Amerika. Buktinya si Moomin ini berasal dari Finlandia. Dan kita ketahui Finlandia itu menempati peringkat pertama mengenai kualitas pendidikan. Mungkin Moomin tidak ada hubungannya, tapi ada baiknya juga kita mengetahui negara Finlandia lewat Moomin.

Moomin diciptakan oleh Tove Jannson (Mrs) pada tahun 1945, tapi mencapai puncak populeritasnya waktu dikeluarkan film seri anime sekitar tahun 1990. Buku Moomin sudah terkenal sebelum itu tapi Moomin Boom timbul setelah adanya film animasi Moomin, terutama di Finlandia dan Jepang. Populer berarti banyak barang-barang dengan karakter tersebut pula yang laku di pasaran. Jannson memenangkan Anderson award International dan banyak award lainnya. Meninggal tahun 2001 dalam usia 86 tahun. Cerita Moomin dilanjutkan oleh adik lelakinya yang bernama Lars Jannson, dan sekarang dilanjutkan oleh anaknya Sophia Jannson. Untuk menjaga keaslian cerita turun temurun dalan keluarga Jannson, mereka menolak tawaran Walt Disney Company yang ingin membeli hak cipta mereka.

Meskipun saya tidak mengenal cerita-ceritanya secara langsung, saya suka warna-warna yang dipakai dalam gambar Moomin itu. Sekilas karakter Moomin mengingatkan saya pada badak yang manis. Hari ini tanggal 3 Juni dianggap oleh para fans Moomin di Jepang sebagai Hari Moomin , dari pengucapannya Mu (6) Mi (3) n. Padahal sebetulnya hari lahirnya Moomin adalah tanggal 9 Agustus.

Catatan: Kualitas pendidikan Finlandia terbaik di dunia
Mudah-mudahan dengan judul Ganti baju, banyak yang akses dan buka judul ini hahaha. Heran emang, kalau judulnya nyrempet pasti banyak yang mau buka. Kalau judulnya kaku, meskipun isinya menarik, tidak ada yang buka. Don’t judge the book by its cover ya…. tapi cover memang perlu kalau tidak kan telanjang hihihi.
OK kenapa judulnya ganti baju?
Sebetulnya lebih tepat kalau judulnya “Ganti baju yang sesuai musim”. Dalam bahasa Jepangnya 衣替え(ころもがえ) Pas hari ini 1 Juni biasanya fashion/baju musim dingin/semi diganti menjadi pakaian yang cocok untuk musim panas. So, mustinya mulai hari ini semakin banyak yang memakai baju Aloha Hawaii, rok tipis atau mini skirt, atau celana pendek, tank top (baju singlet)…..Pokoknya yang serba tipis atau mini karena panas. Tak lupa memakai topi/payung parasol, atau bahkan ada yang memakai sarung tangan, supaya tangannya tidak terbakar sinar matahari. Kaca mata hitam jarang dipakai di Jepang, padahal bagi saya sunglasess itu perlu, karena mata saya tidak kuat kalau cahayanya terlalu terang. Tidak lupa membawa saputangan handuk, spray pengharum tubuh (buat BB), kadang membawa thermos berisi air es, dan UV cut lotion. Duuuh siap berperang melawan si matahari deh.
Saya tidak suka musim panas di Jepang. Selain karena panasnya lembab, seperti masuk sauna. Juga karena ribut oleh suara serangga semi (cicadas)…mungkin kalau di Jakarta tidak ada, tapi suami saya pernah dengar di Kebun raya Bogor. Karena benci panasnya Jepang, biasanya saya melarikan diri ke Australia waktu adik saya masih belajar di sana, atau pulang kampung ke Jakarta (Jakarta bukan kampung padahal ya). Tahun lalu saya tidak bisa pulang musim panas, karena melahirkan anak kedua, Kai. Tapi karena di dalam RS dan rumah terus, tidak sempat merasakan teriknya matahari.
Meskipun saya tidak suka musim panas di Jepang, hari ini saya mau menikmati matahari, karena sudah dua hari ini hujan terus di Tokyo, sehingga temperaturnya 15 derajat saja…Brrrr.
Hari ini tanggal 1 Juni, ternyata banyak sekali peringatannya. Sampai saya pikir duhh pasti tulisan saya panjang deh. But sebagai catatan untuk saya juga, maka satu per satu saya tulis ya.
1. Denpa no hi , hari frekuensi. Peraturan mengenai frekuensi gelombang dikeluarkan pada tahun 1950.
2. Hari meteorologi. Mengenangkan pendirian tower meteorologi pertama di Jepang di Akasaka, Tokyo pada tahun 1875. Tower ini yang nantinya akan menjadi Badan Meteorologi. Dan pada tahun 1884, untuk memperingati dimulainya perkiraan cuaca dan gempa di wilayah Tokyo Meteorological Tower itu diresmikan.
3. Ume no hi. Hari Ume/ PLUM. Jika pohon Plum bermekaran, maka kita mempunyai harapan musim semi akan datang dan menjadi hangat. Pohon Plum biasanya mekar sebelum Sakura. Jadi sekitar akhir Februari- Maret. Bunganya mirip dengan sakura, sehingga mungkin orang Indonesia tidak bisa membedakannya. Jika Sakura menghasilkan buah cherry, maka Ume menghasilkan buah Plum. Buah plum tidak dimakan begitu saja. Biasanya buah plum muda akan dipetik dan dibuat minuman keras Umeshu- Plum Wine. Atau buah Plum akan dikeringkan dan diberi garam, serta daun shiso untuk menjadi Umeboshi, Dry Plum, pelengkap nasi bagi orang Jepang. Saya dulu tidak suka umeboshi karena kecut, tapi sejak ada teman mertua yang membuat umeboshi tidak terlalu kecut, saya bisa makan. Kalau di China plum akan lebih dikeringkan lagi sehingga hampir-hampir daging buahnya tidak mengandung air, dan dried plum ini dimakan sebagai snack. Saya ingat dulu banyak snack plum kering di Indonesia. Pasti ada orang Indonesia yang pernah coba.

(bunga Plum dan buah Plum)

(Ume Wine) (Umeboshi) (ume kering snack)
4. Hari Fotografi. Mengenai Fotografi lebih baik serahkan pada yang ahli saja ya. Meskipun dulu di SMA pernah ikut Exkul Fotografi…. pernah coba cuci cetak foto hitam putih, hunting foto dsb. Waktu itu pinjam kamera Fujica nya papa (Yang nikon tidak dikasih hiks). Pertama kali membeli camera sendiri ya di Tokyo, Canon Eos Kiss. Tapi sekarang jaman digital, sudah tidak ada yang pakai film 35mm lagi. Jadilah si Canon penghuni lemari. Entah kenapa saya lebih suka Canon daripada Nikon, sehingga waktu membeli digital camera juga merek Canon. (Terakhir beli beberapa bulan lalu Canon Powershot G9, gara-gara yang G6 rusak). Kapan ya bisa beli yang EOS digital…..mahal euy.
5. Hari penghapusan larangan memancing ikan Ayu. Ayu nya Indonesia sih cantik-cantik, tapi kalau di Jepang Ayu juga merupakan nama ikan sungai (air tawar). Nah biasanya mulai tanggal 1 Juni diperbolehkan memancing ikan Ayu di sungai-sungai. Entah kenapa ikan ini juga populer di kalangan masyarakat Jepang, padahal banyak durinya. Biasanya kalau pergi ke festival Matsuri di musim panas, dijual ikan ayu yang ditusuk dan dibakar dengan arang. Enak juga….

(Ikan ayu dan dibakar dengan cara seperti di foto …jadilah sate ikan hihihi)
6. Gum no hi. Hari permen karet. Ditetapkan sejak tahun 1994 oleh Japan Chewing Gum Association. Permen karet mulai masuk ke Jepang tahun 1916. Tapi penentuan tanggal ini berdasarkan kebiasaan yang berlaku sejak jaman Heian yaitu setiap tanggal 1 Juni diadakan upacara untuk menguatkan gigi dengan menguyah mochi. Dengan dasar itu Asosiasi Permen Karet Jepang menentukan tgl 1 Juni sebagai hari permen karet. Yang pasti hari atau peringatan seperti ini tidak ada di Singapura ya.
7. Hari Mugicha. Hari Teh Mugi. Karena sebetulnya tidak memakai daun teh, tidak bisa dikatakan teh Mugi. Namun hampir semua minuman di Jepang selain yang berasal dari sari buah, diberi nama cha atau teh. Mugicha ini dibuat dengan menyangrai sejenis gandum, kemudian dicampur dengan air. Biasanya diminum dingin. Karena tidak mengandung Caffein, mugicha ini cocok untuk diberikan kepada anak bayi.

8. Hari paku ulir. Neji no hi.
9. Hari Landscape, pemandangan. 景観の日. Peringatan baru nih, 2006. Karena peraturan landscape menjadi wewenang departemen pertanahan dan agraria, departemen lingkungan hidup dan Dept. kehutanan, pertanian dan perikanan.
10. Hari Susu sedunia. 牛乳の日. Ditetapkan oleh FAO sejak tahun 2001.
11. Hari TUBE. Tube adalah nama Band Jepang sejak tahun 1985 yang identik dengan Summer. Karena iramanya cocok untuk summer dan selalu mengeluarkan album waktu summer. Namun Hari Tube ini ditetapkan oleh masyarakat Hawaii, karena pada tanggal ini pada tahun 2000 diadakan live performance di Hawaii. Lagunya yang terbaru tahun 2008 ini berjudul HOTARU (kunang-kunang). Saya sendiri suka lagu mereka yang berjudul “Garasu no Memories”, “Datte Natsu janai”, Season in the sun”, “Because I love you”, dan “Natsu Matsuri”. Mau dengar lagunya seperti apa? Silakan klik imeem di bawah ini. Dan siap-siap joget hihihi.

OH iyaaaaa, mulai hari ini, semua penumpang mobil yang duduk di belakang pun harus memakai seat belt!! Apa hukumannya kalau tidak pakai? Tidak ada, tapi SIM si pengemudi akan ditandai satu tanda kesalahan.
Aku ingin menjadi awan….
(by Kaneko Misuzu)
melayang perlahan
menjelajahi angkasa biru
dari ujung ke ujung
Waktu malam
bermain petak umpet
dengan Sang Bulan
Dan jika bosan
menjadi hujan
bersama Sang Kilat
terjun kembali
ke kolam dekat rumahku.
雲 (金子みすゞ)
私は雲に
なりたいな。
ふわりふわりと
青空の
果てから果を
みんなみて、
夜はお月さんと
鬼ごつこ。
それも飽きたら
雨になり
雷さんを
供につれ、
おうちの池へ
とびおりる。
Hidup di negara dengan empat musim itu memang menarik. Setiap 3 bulan ada pergantian musim yang berarti pula pergantian pemandangan, pergantian fashion trend dan pergantian musik!. Ya, saya juga heran karena ternyata memang ada lagu-lagu yang cocok untuk dinyanyikan pada musim tertentu. Misalnya di Jepang ada kelompok musik TUBE yang selalu merilis album pada musim panas, dan tema lagunya tidak jauh dari trend musik panas yaitu pantai, bikini dan matahari. Saya suka musik TUBE yang riang ini, meskipun liriknya kadang agak aneh dan seksi hihihi (gimana ya lirik seksi itu…..ada deh )
Tapi kali ini saya mau menceritakan tentang sebuah band yang bernama Southern All Stars (SAS), sebuah band rock/pop terkenal di Jepang. Memang SAS tidak hanya mengeluarkan album di musim panas, tapi biasanya mereka mengadakan konser pada musim panas dan malam tahun baru. Memulai debut musik mereka pada tahun 1975, dari sebuah kelompok musik universitas Aoyama Gakuin yang bernama “Better Days”. Hampir semua lagu-lagunya menempati tangga musik Jepang, bahkan HMV menyatakan kelompok band ini sebagai peringkat teratas 100 pemusik Jepang terkenal.
Aku merasa dengan tinggal di Jepang, aku lebih banyak bisa berinteraksi dengan negara-negara di dunia, lebih daripada jika aku tinggal di negara Eropa atau Amerika. Biar bagaimanapun, Amerika atau Eropa kurang menghargai negara-negara kecil apalagi Asia. Tapi Jepang, sangat berkiblat pada Amerika memang …dan juga senang segala sesuatu yang unik. Jadi menurut saya kesempatan saya untuk misalnya makan masakan Turki atau Ghana lebih besar di Jepang daripada negara lain (kalau Indonesia jangan dibicarakan deh).
Saya pernah coba makan masakan Turki, rasanya? Hmmm kurang suka mungkin karena kurang rasa. Kebetulan masakan yang dipesan tidak begitu meninggalkan bekas. Tapi saya coba minuman alkohol dari Turki, yang awalnya transparan, tapi jika dicampur menjadi putih seperti air santan. Tapi waktu diminum rasanya mengingatkanku pada OBH (Obat Batuk Hitam).
Lalu pergi makanan Ghana, yang terkenal dengan coklatnya. Sekilas makanannya seperti Italia, yang banyak memakai Tomat, tapi kurang mak nyus istilah sekarangnya… Kalau makanan China, Korea, Thailand, Philipine, Kamboja, India, Vietnam, mungkin pernah tahu, dan pastilah masih cocok dengan lidah orang Indonesia. Makanan Italia, Meksiko, Spanyol…. hampir mirip. Makanan Roma, Jerman (susis melulu), Perancis (nah kalau ini maunya dibayarin). Saya masih ingin mencoba makan kangguru, makan buaya, kelinci dan lain-lain.
Tapi globalization atau mendunia itu bukan hanya dalam hal makanan saja. Seberapa jauh kita mengenal sebuah negara? Kebetulan dulu waktu SMA, saya tidak pernah dapat pelajaran sejarah dunia, jadi terus terang saya sebetulnya tidak bisa membedakan Amerika pantai barat dan pantai timur. Tapi saya terus berusaha di sini untuk lebih mengetahui dunia selain yang terkenal saja.
Satu usaha globalization terjadi tadi malam bersama Riku. Suami saya membeli buku baru terbitan Fukuinkan Shoten, penerbit terkenal khusus buku bergambar (picture book) Anak-anak. Judulnya Podda and Poddi. Karena akhir-akhir ini saya berusaha supaya Riku tidur cepat (jam 8-9, biasanya jam 10-11 tunggu babenya pulang), jadi jam 8 saya suruh matikan tv, dan menyuruh dia memilih buku yang dia ingin saya bacakan. Saya bilang, “pilih 4 buku”.
Riku, “5 ya ma?”
“Boleh 5…”
“10???”
“Boleeeeeh, udah cepat sikat gigi, dan bawa buku-buku itu ke kamar”
Jadi dia masuk kamar dengan 10 buku (tentu saja semua bahasa Jepang).
OMG….Waktu saya cari keterangan tentang sebuah buku bergambar picture book karya Eric Carle yang berjudul “The Very Hungry Caterpillar” saya mendapat informasi bahwa buku ini sudah diterjemahkan dalam lebih dari 45 bahasa dan sudah terjual lebih dari 25 juta jilid. But, waktu saya cari dalam bahasa Indonesia? not found!!! berarti belum ada dalam bahasa Indonesia? How come? Karena orang Indonesia belum ada yang mau terjemahkan? atau tidak mau diterbitkan di Indonesia yang terkenal dengan penerbitan ilegal, dan tidak menghormati hak cipta? Karena kalau diterbitkan juga tidak ada yang MAU dan BISA beli? aduh..aduh…aduh…

Kadang saya juga merasa sedih dengan pengetahuan dasar yang seharusnya dimiliki seorang anak. Memang standar pengetahuan dasar itu berbeda di setiap negara, namun terlihat sekali bedanya…. sedih deh. Misalnya seorang anak biasanya tahu cerita-cerita anak-anak terkenal dunia. Waktu saya kecil, saya banyak membaca dan saya tahu siapa itu HC Andersen, saya tahu cerita-cerita ternama dunia dari Album Cerita Ternama (mungkin sekarang tidak terbit lagi). Saya tahu tentang kucing bersepatu lars dari ibu yang mendongengkan kepada kami dari sebuah buku berbahasa Belanda. Memang tidak pernah diperkenalkan di sekolah, kita harus mencari sendiri. Tapi ternyata pengetahuan saya tentang cerita-cerita anak-anak ini masih jauuuuuhhhh dari cukup. Masih banyak yang saya belum tahu…dan waktu menyadari hal itu saya sedih. Bagaimana dengan anak-anak jaman sekarang ya? Mereka lebih suka dengan cerita komik modern dan terjemahan dari Jepang yang katayoru (berat sebelah). oi oi…. biar bagaimanapun klasik cerita-cerita anak-anak yang saya baca 30 an tahun yang lalu, cerita-cerita ini mengandung pengetahuan dan moral yang tak lekang oleh waktu. Saya sekarang enjoy dengan membacakan cerita anak-anak dalam bahasa Jepang kepada anak-anak saya sambil meng-input da refresh pengetahuan yang saya dapat waktu saya kecil.
Kembali ke buku Eric Carle ini, saya mengenal buku ini dalam bahasa Jepang tentu saja. judulnya harapeko aomushi はらぺこあおむし. Bukunya saja ada dua versi, yang biasa untuk dibaca di rumah sendiri dan versi giant untuk dibaca bersama-sama di playgroup atau TK. Buku ini pasti ada dimana-mana. Di rak buku ruang tunggu rumah sakit, kantor pemda dll. Menceritakan tentang ulat bulu yang lapaaaar terus. Hari Senin si ulat bulu ini menemukan satu buah apel dan melahapnya. Kemudian hari Selasa, ia menemukan dua buah pir dan melahapnya…. terus sampai seminggu lewat dan akhirnya dia tidur lamaaaaaa sekali. Waktu bangun dia menjadi seekor kupu-kupu. Selain mengajarkan nama-nama hari, hitungan angka, juga ilmu hayat (haiyah istilah jaman baheula, sekarang Biologi..tapi kadang-kadang kangen kan dengan istilah kuno hehehe). Buku ini disarankan untuk anak berusia 3 tahun sampai 6 tahun.
Hari Sabtu setelah menonton pameran foto, Riku sempat pergi ke pameran buku Eric Carle di Matsuya Ginza. Untuk masuk harus membayar 1000 yen, tapi di pameran itu pertama kali mengetahui cara Eric membuat bukunya. Yaitu dengan mewarnai selembar kertas tipis berkali-kali, lalu disimpan sebagai stok. Waktu mau pakai baru digunting-gunting. Jadi bukan menggambar langsung di atas kertas tapi lebih ke haribari, menggunting dan menempel. Kami sekeluarga kagum dengan maraknya warna yang dipakai. Di pameran itu Riku membeli buku baru karya Eric Carle yang berjudul From Head to Toe, tentu saja dalam bahasa Jepang “Dekiru kana, atama kara tsumasaki made できるかなあたまからつまさきまで”
saya berharap picture books bisa lebih berkembang di Indonesia…. (mustahil??? who knows) mungkin llebih berharap lagi harga buku lebih murah sehingga bisa dijangkau masyarakat umum.
entah kenapa aku langsung teringat peribahasa ini. Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan yang artinya tidak akan berubah. Kata lekang itu begitu kuat dalam otakku, tapi selain dalam peribahasa itu, jarang bisa ditemukan. Waktu Gen membacakan sebuah puisi dari Miyazawa Kenji yang berjudul Ame nimo Makezu (Harifiahnya tak kalah oleh hujan). Dia sedang tergila-gila sama pengarang ini. Kayaknya aku juga pernah dengar namanya tapi samar saja. Ternyata dia yang mengarang Ginga Tetsudo, sebuah cerita anak-anak, yang sering menjadi tema film. Nanti kapan-kapan aku mau baca cerita originalnya dan kalau ada waktu mau coba terjemahkan.
Waktu aku minta puisi itu ternyata aslinya tertulis dengan Kanji-katakana. Memang Miyazawa Kenji ini adalah pengarang kelahiran jaman Meiji (1896-1933) yang usianya cukup pendek hanya 37 tahun. Aku coba terjemahkan puisinya dalam bahasa Indonesia (tentu saja ala Imelda).
tak lapuk oleh hujan
tak goyah oleh angin
tak lekang oleh salju dan teriknya matahari
badan yang kuat
tak ada nafsu, tidak pemarah, dan selalu tersenyum lembut
satu hari makan nasi 4 omplong, dengan miso dan sedikit sayuran
dalam segala hal tidak memenangkan diri sendiri
lihat dan dengar dengan seksama, mengerti dan tidak melupakannya
tinggal dalam gubuk kecil di bayangan hutan pinus
jika ada anak yang sakit di timur, pergi untuk merawatnya
jika ada ibu yang lelah di barat, pergi membantu
jika ada orang sekarat di selatan, pergi dan mengatakan tidak usah takut
jika ada orang yang berkelahi atau menggugat di utara, pegi dan katakan hentikan perbuatan tak berguna itu
waktu matahari terik, menitikkan air mata
Pada dinginnya musim panas, berjalan dengan teguh
dikatakan sebagai makhluk sia-sia oleh semua orang
tanpa pujian, dan tanpa derita
Saya ingin menjadi orang seperti itu
(baca tulisan aslinya bisa pusing deh)
〔雨ニモマケズ〕
宮澤賢治
雨ニモマケズ
風ニモマケズ
雪ニモ夏ノ暑サニモマケヌ
丈夫ナカラダヲモチ
慾ハナク
決シテ瞋ラズ
イツモシヅカニワラッテヰル
一日ニ玄米四合ト
味噌ト少シノ野菜ヲタベ
アラユルコトヲ
ジブンヲカンジョウニ入レズニ
ヨクミキキシワカリ
ソシテワスレズ
野原ノ松ノ林ノ蔭ノ
小サナ萓ブキノ小屋ニヰテ
東ニ病気ノコドモアレバ
行ッテ看病シテヤリ
西ニツカレタ母アレバ
行ッテソノ稲ノ朿ヲ負ヒ
南ニ死ニサウナ人アレバ
行ッテコハガラナクテモイヽトイヒ
北ニケンクヮヤソショウガアレバ
ツマラナイカラヤメロトイヒ
ヒドリノトキハナミダヲナガシ
サムサノナツハオロオロアルキ
ミンナニデクノボートヨバレ
ホメラレモセズ
クニモサレズ
サウイフモノニ
ワタシハナリタイ
*** Kalau melihat tulisan Kanji-katakana begini aku jadi teringat mimpi buruk waktu aku menulis thesis. Semua dokumen asli yang aku harus baca seperti ini…hiks… Maklum penelitian tentang jaman perang sih.