Sudah bukan rahasia lagi bahwa konsumen mie instant di Indonesia menempati peringkat ke dua terbanyak di dunia, tepat di bawah China sebagai peringkat pertama. Kabarnya, sekitar 43,7 triliun bungkus mi instan dikonsumsi setiap tahunnya. Rata-rata konsumsi mie instan per kapita di Indonesia adalah 57 bungkus setiap tahunnya.
Mie instant dikembangkan oleh Ando Momofuku, dan pada hari ini (25 Agustus) tahun 1958, pertama kalinya perusahaan Nissin Food Product mengeluarkan mie instant bertajuk Chiken Ramen. Pada saat itu satu bungkus berisi 85 gram dijual seharga 35 yen (rate sekarang 2800 rupiah). Entah karena memperingati ulang tahunnya yang ke 50, beberapa waktu yang lalu, Riku membawa pulang “pembagian” Chicken Ramen mini dari TK nya. Ukurannya mini…kawai (lucu deh). Hanya 20 gram, yang bisa dimasukkan dalam cup dan diberi air mendidih 150 ml selama 2 menit. Ukuran yang cocok untuk anak-anak TK mungkin ya?

So? Apakah hari ini Anda sudah menyantap Mie Instant? Boleh juga kok sekali-sekali asal jangan setiap hari (bahkan katanya jangan makan mie instant 3 hari berturut-turut).
Pasti saya akan dimarahi ahli matematika, karena sudah pasti 1+1 =2, bukan satu. Tapi jika Anda pernah mengikuti upacara pernikahan dengan cara agama katolik, maka pasti Anda pernah mendengar “sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”(Markus 10:7)”
Bertambah lagi pasangan suami-istri di dalam keluarga besar Mutter, karena keponakan saya, Imma menikah dengan Ryggo, hari Minggu tanggal 3 Agustus yang lalu. Sudah lama saya tidak hadir dalam upacara pernikahan dalam keluarga besar kami karena saya berdiam di negeri lain. Dan dalam kesempatan ini, saya bisa menyegarkan kembali hubungan akrab yang pernah ada dalam keluarga kami. Memang biasanya pertemuan keluarga besar secara lengkap terjadi dalam dua “peristiwa” besar, yaitu kematian dan perkawinan. Hal ini sama juga dengan masyarakat Jepang, namun bedanya, jumlah anggota keluarganya berbeda. Sehingga terasa lebih cepat kita berjumpa dengan keluarga di Indonesia daripada dengan keluarga di Jepang.
Misa pernikahan dilaksanakan di gereja St Monika, BSD. Untung saja jalan menuju BSD dari rumah tidak macet, sehingga otomatis dalam 45 menit kami bisa sampai di sana (tentu saja dengan bertanya kanan-kiri untuk kepastian letak gereja). Misa dimulai pukul 1 siang, dan terus terang…. panas. Gereja ini tidak ber-AC, sehingga setelah sepuluh menit mengikuti misa, Riku menjadi gerah dan mulai merayuku untuk diperbolehkan pergi ke luar (sabar nak, di luar lebih panas daripada dalam ruangan!). Misa selama 2 jam ini dimeriahkan dengan alunan lagu-lagu dari paduan suara yang katanya sering menjuarai festival choir. Bagus… tapi menurut saya terkadang lagu yang dinyanyikan tidak cocok untuk dinyanyikan dalam gereja. Teringat akan Oma Poel F, pemimpin paduan suara Cavido, yang boleh dikatakan “cerewet” dalam pemilihan lagu. Misalnya lagu “Tonight I celebrate my love” rasanya tidak pantas dinyanyikan dalam misa…. entahlah, mungkin saya ini oldefo. Tapi memang perlu memikirkan juga kepantasan suatu lagu, untuk dinyanyikan pada suasana yang sakral itu.
Tapi ada satu lagu pop yang saya suka, dan karena dinyanyikan pada akhir misa, saya rasa tidak menjadi masalah. Berjudul “Congratulation” (dan ternyata berkat bantuan Mas Google ku…lagu dari Cliff Richard)
Congratulations and celebrations
When I tell everyone that you’re in love With me
Congratulations and jubilations
I want the world to know I’m happy as can be.
Who could believe that I could be happy and contented
I used to think that happiness hadn’t been invented
But that was in the bad old days before I met you
When I let you walk into my heart
Congratulations…
I was afraid that maybe you thought you were above me
That I was only fooling myself to think you loved me
But then tonight you said you couldn’t live without me
That round about me you wanted to stay
Congratulations…
Tak terasa badan ingin ikut bergoyang menyanyikan lagu ini. Hey, memang upacara pernikahan itu haruslah menggembirakan. Tapi….. jangan sampai mengikuti misa tanpa makan deh. Aku sendiri baru sadar bahwa aku belum makan apa-apa sejak pagi dalam misa, karena merasa pusing. Tapi dasar anak-anak, Riku terus-terusan berkata,”Mama kapan pulang? aku lapar…” Dan celakanya aku tidak bawa apa-apa dalam tas. Repot deh membujuk dia untuk bisa sabar. Dan memang misa 2 jam lama untuk dia, yang masih anak-anak, dan yang otomatis tidak mengerti apa-apa karena semuanya bahasa Indonesia.

Tapi laparnya seketika hilang, ketika dia bertemu misan-nya (katanya tidak boleh pakai istilah sepupu untuk anak-anak dari dua saudara sepupu, hmmm bahasa Indonesia ribet juga yah) bernama Timmy. Lalu dia tanya,
” Mama aku punya banyak misan?”
“Iya dong, kan mama punya banyak sepupu. Itu kakak-kakak yang dududk di situ semua misan-nya Riku.”
“E……. Yatta…. Aku punya banyak misan…. ”
Hmmm kalau dipikir, senang ngga sih punya banyak misan, banyak saudara? Kalau di Jepang memang ‘jumlah’ saudara itu sedikit, dan jaraaaaaaang sekali bisa bertemu. Kalau di Indonesia, keluarga dekat saja setiap ada pesta keluarga minimum datang 50 orang -100 orang. Jadi saya juga terbiasa masak untuk 100 orang (hmmm dulu pertama nikah sulit sekali masak “sedikit”) . Untuk Riku, punya misan/saudara banyak menggembirakan karena bisa bermain.
Riku senang sekali waktu keluar dari gereja mendapatkan “bekal” dalam kotak yang apik. Dia bilang,
“Mama, nanti di jepang, aku mau bawa bento pake ini aja”
“Ok,nanti mama taruh di situ ya makanannya Riku.”
“Tapi aku mau minta satu lagi untuk Kai”
Opanya dengar jadi jatah Opanya dikasih ke dia…. Lucu juga dengarnya. Tapi memang kemasannya apik sih, aku juga suka lihatnya.
Karena Opa masuk angin dan Oma kecapekan dua hari berturut-turut ikut acara, jadi malamnya Aku, Riku, Novi dan Chris saja yang pergi ke resepsinya. Di situ bertemu dengan Kepala Clan Mutter, Om Lody, opanya pengantin wanita. Dari Keluarga Mutter yang sepuh tinggal Om Lody, mama, Tante Dina dan tante Reny yang di USA. Terasa banget sepinya….soalnya biasanya kalau keluarga Mutter kumpul pasti ramai oleh canda tawa, meskipun dalam upacara kematian. Tinggal generasi aku yang boleh dibilang jarang ngumpul juga yang harus menjaga kerukunan keluarga besar Mutter ini.

Yang mngejutkan aku adalah aku tidak bisa mengenali beberapa saudara yang memang sudah lebih dari 20 th pindah ke luar negeri. Sesudah acara foto-foto bersama keluarga selesai aku heran juga ada seorang pemuda bule ganteng yang dikerubuti cewe-cewe pager ayu…hmmm coba masih muda akunya, pastilah aku ikutan ngerubutin hehehe. Wah ternyata si pemuda bule itu adalah keponakan jeh…. ngga jadi lah…. hehehe.

Berhubung bapaknya sang manten wanita bekerja di Bir Bintang, tersedialah stand BIr Bintang dan Green Sands. So Mama kampai dengan Riku deh. Tentu saja Riku tidak boleh minum bir ya (kalau mama boleh karena sudah 20th ke atas….–di Jepang merokok dan minuman keras baru boleh setelah 20 th ke atas)

Entah kapan kita bisa bertemu lagi, tapi yang penting sekarang saya harus menghafal nama keponakan-keponakan dan bersiap dipanggil “Oma” huh.
Hari Minggu tanggal 27 Juli. Homecoming Day Universitas Indonesia yang sebetulnya sudah dimulai dari tanggal 26 Juli.
Pagi jam 9, Windy sudah muncul di ruang tamu (kamu bener-bener sudah japanese minded deh win, but its a good habit) sesuai janjinya. Tunggu punya tunggu, windy ditemani papa, sementara aku wira-wiri siapkan segala macam untuk anak-anak meskipun I am ready to go(japanis ai am). Kai sedang dimandikan dan mulai diplontos tapi baru setengah…keburu batere shavernya habis. Dan dia menangis meraung-raung. Sedih aku dengarnya.

Jam 9:30 an Susi datang sesudah nyasar di daerah HangLekir…. ( glad to meet you again Sus, aku hormat pada Doktor yang satu ini. Satu-satunya di angkatan aku yang mencapai gelar doktor dari Universitas Hitotsubashi. Tapi memang jam terbang bahasa Jepangnya jauuuuuh melampaui kita semua. Wong kita masih belajar katakana-hiragana , dia bawaannya 国語辞典 Kamus Jepang-jepang. Ngga heran kita cuman 6 bulan bersama ya…..)
Tak lama (hmm lumayan deh) si Elvi —alias daijobu san— datang dari Palembang hihihi. Ngga deh , dari rumah sodaranya di ….(huh i couldn’t recall the name) palmerah sonoan lagi deh. But bener-bener dia datang dari Palembang kemarinnya HANYA untuk ketemu AKU (iiih ge-er) …..untuk Reuni HIMAJA (Himpunan Mahasiswa Japanologi) FSUI lintas angkatan deh.
Sementara aku sudah di-sms-in terus sama Nana yang sedang nunggu kita di Pejaten, rumah Ira. She said…”Osoi….. mou 10 ji dayo…”(lelet banget..udah jam 10 loh)…. Iya Na….aku juga mau aja berangkat but
Rahma datang paling akhir datang dari cilandak. Uhhh ibu guru Inggris satu inih. Rahma emang aneh bin ajaib deh menurut kita…saya karena dari dulu udah macem-macem yang dibuat. Kuliah di sastra Jepang juga, di LPK Tarki juga…ndobel… tapi aku lupa kamu selesaikan di jepangnya ngga ya Mah? Kadang aku kagum dengan orang yang bisa ndobel gitu. Aku mah dobelnya di FSUI dan Japan Foundation aja deh (soalnya ada Matsushima sensei tuh, my idol… tapi setelah tahu dia gay, jadi ngga respect lagi deh)
Setelah lengkap kita berlima jemput tiga orang di Pejaten. Waktu aku keluar rumah, Riku sedang mandi di plastick pool di luar dengan sepupu-sepupunya. (Mungkin ini yang buat dia sakit). Sedangkan Riku aku ngga berani liat, takut dia nangis terus. Kita sewa colt untuk ke UI, supaya semua bisa santai sambil ngobrol ngga usah ada yang musti susah-susah nyetir. Ke arah pejaten, rumahnya Ira Koesnadi,yang bapaknya alm teman bapakku juga. Dan bapaknya meninggal dalam kecelakaan pesawat di Yogya. (Aku dikasih liat foto bangkai pesawat dari dekat …weird) Aku diberi hadiah buku kumpulan tulisan terpilih “Ekologi, Manusia, dan Kebudayaan”. Dengan papa, beliau satu ilmu yaitu Environment, tepatnya Hukum Lingkungan. Tapi aku pernah wawancarai beliau sebagai pelengkap thesis aku karena kebetulan waktu itu berada di Jepang. We had a good time sambil makan sambal buatan tante dan Om bercerita… kadang sambil berjalan-jalan di Shinjuku. I respect him as a teacher, scholar, writer and father of my friend. Keterangan om Koes juga dapat dibaca di dalam buku : “Dibawah Pendudukan Jepang - Kenangan Empat Puluh Orang yang mengalaminya” Perpustakaan Nasional …. dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Prof Aiko Kurasawa ふたつの紅白旗 (2835 Yen, 木犀社 1996/08)

Nana juga datang dari surabaya waza-waza untuk aku….(kalo ini bener ya Na hehehe, she need eyedrops and japanese tea, while aku butuh “the medicine”). She is my old friend yang terus berhubungan melalui chat…dan waktu di chat baru sadar bahwa kita bersekolah di SMA yang sama. Jadi isi Facebooknya dia hampir sama dengan isi Facebooknya aku. Cuma dia di IPS dan aku di IPA. Aku sering naik starletnya dia sampai terminal bus Pondok Labu, untuk kemudian aku naik bus pulang ke rumah. Itu sebelum aku bisa nyetir sendiri sih.
Yang terakhir Dina diantar oleh kakaknya ke Pejaten. Ibu yang satu ini awet muda banget…padahal anak tertuanya sudah masuk kuliah di Monash…goshhhh…am I that old??? Aku dan Dina adalah wisudawan pertama dari angkatan ‘86. Dina gara-gara sudah nikah, kebelet punya anak hehehhe (aku baru tahu bahwa dia kompre while pregnant), sedangkan aku emang maunya cepet lulus, supaya bisa mikir what is my next step… (sayangnya ipk aku cuman 3,6 ngga bisa seperti si ipk4cumlaude tuh … hmm narsisnya keluar …gomen ne)
Sesudah pick up Nana, Ira dan Dina dari Pejaten kita ber-delapan menuju ke UI Depok. Pas jam 11….padahal acaranya mulai jam 11…padahal ini pertemuan alumni jepang…padahal jepang itu disiplin waktu…. yah endonesah.

And here is it… Pusat Studi Jepang, tempat kita ngadain reuni lintas angkatan. Di pintu kita disambut oleh Bu Ermah Mandah…. Ibu yang disiplin banget, yang galak (emang bener ya bu) tiap hari ada test kata-kata baru bahasa Jepang, dan tidak boleh terlambat barang 5 menit pun. fffff fokoknya streng deh. Dan Ibu Ermah berkata padaku, “Eh Imelda, anakku sekarang di Kobe lagi ambil S2 nya, nanti aku suruh dia hubungi kamu”… “%#&$%’&()’)((’&R&$R Oh My….anak yang dulu sekecil apa…umur 4-5 tahun …. sudah program S2…. Bener berasa TUA deh.

Ngomong-ngomong soal tua, Si Dedi —tuh yang sebelah kiri saya di foto kanan — dia yang termuda di angkatan kita, karena lahirnya bulan April 3 bulan sesudah aku… (padahal kalo ngga ada si Dedi ini, aku jadi yang termuda dan terimut loh…uhuyyyyy…) Dan Dedi bergabung dengan kita di TKP sehingga melengkapi angkatan kita menjadi 9 orang. Tuh foto bisa liat aku dan dedi yang sudah berubah setelah 22 tahun berlalu padahal dulunya ceking tuh kita berdua.
Acara reuninya dibuka oleh MC nya Bang Tabah Helmi dan Diana chan dari JF. Sambutan oleh Ketua Jurusan yang sekarang Pak Jonni dan sambutan dari Dekan FIPB UI yang alumni sastra Jepang angkatan 84, Bambang -san. Dulu kita memang sering panggil Bengki. Dekan yang satu ini dulu bener2 anak Band…rambut panjang semeter, dan kuku panjang. Bahkan kalo denger ceritanya, pernah pura-pura sakit jantung waktu di mapram heheheh. Seorang Doktor dari Universitas Tohoku, yang jadi Dekan sekarang. Hebring euy. Sesudah sambutan dipanggil tiap angkatan secara kelompok dimulai dari angkatan 1967 (wahhh aku belum lahir tuh heheheh) sembari ditayangkan foto-foto jaman baheula.

Untung angkatan 1986 masuk ke grup 1986-2000 hihihi… masih berasa muda dikit. Tapi yang membuatku sedih sebetulnya lebih ke ngga ingat nama sempai dan kohai, padahal dulu lumyan deket. Untung pada pake label nama di bajunya, jadi bisa sambil ngelirik, dan mukanya tidak banyak berubah. Yang buat aku terharu juga banyak yang angkatan di bawah aku, masih ingat bahwa aku pernah jadi Ketua Himaja (untuk dua tahun ya? lupa euy. musti bongkar dokumen lagi ntar di Tokyo). hihihi… Sambil makan siang yang katanya sumbangan dari sempai-sempai. Gochisosamadeshita.

Setelah itu kita diantar oleh Pak Dekan ke Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (ntah kapan ganti namanya) jjl sekitar kampus sastra yang dulu. Dan memang sudah banyak perubahan. Kolam sastra tempat anak-anak berkreasi baca puisi dll udah ngga ada. Gedungnya tambah banyak dan yang aku ngga tau adalah Jembatan Teksas ( yang menghubungi Fakultas Teknik dan Sastra) …. mungkin maksudnya dulu sebagai jembatan utk yang cowo-cowo cari cewe-cewe cantik di Sastra hihihi.Dari situ kita pulang dan tidak lupa berfoto juga deh di depan lambang UI dari luar kampus.

Dari Depok kita langsung ke rumahnya Uti, teman seangkatan yang sedang dalam proses penyembuhan dari breast cancer. Mendengar penjelasan dia, jadi ngeri juga sih…. Hayoooo Mammograf…and Pap Smear ….. Dan jangan lupa periksa darah 6 bulan sekali. Selama kita di rumah Uti mulai jam setengah enaman-an Hujan deras turun. Dan karena Susi musti langsung kerja (dia orang tipi sih) kita langsung pamit dan menuju Rest Midori, di Pondok Indah. Dina bilang…
“Sorry ya Mel, kamu udah bosen kali makanan Jepang”
Hmmm mau dibilang bosen juga ngga sih… aku sendiri lagi bingung kok maunya apa. So, aku makan sushi aja karena porsinya kan kecil.
And the time for say goodbye. Dan kita berencana untuk kembali mengadakan reuni 25 tahun kebersamaan pada tahun 2011 nanti. Kalau bisa mau nginep bareng dimana gitu hehehe. Bol-bol aja sih…tapi siapa mau ngurus? Masa gue dan Windy lagi? And thank you for the friendship we share together….

(Imelda — Nana — Windy… mustinya aku pake kacamata juga biar seragam…padahal bawa tuh dalam tas heheh)
NB: aku disuruh jadi koordinator acara Zona -80 Metro TV, kabarnya akan ada rekaman tanggal 10 Agustus nanti …tapi aku belum pernah liat acaranya kayak gimana …so gimana bisa jadi koordinator? Kalo cuman buat masuk tipi aja mah aku ogah…udah sering sih di Tokyo huheuheuehu…hmmm narsis lagi.
Untuk melihat foto-foto lainnya dari reuni Himaja lintang, clik di sini
Hmmmm lupa saya tambahkan dalam postingan saya Summer in Japan means… bahwa es serut atau kakigori merupakan salah satu ikon musim panas.Tentu saja sama dong dengan Es serut di Indonesia, tapi isinya yang agak lain. Kalau es serut di Indonesia, yang dnegan nama macam-macam biasanya berisi buah-buahan, kolang-kaling, tape singkong, cincau dll. Nah kalau di Jepang biasanya isinya kacang azuki (sejenis kacang merah kecil direbus dengan gula) lalu sirup maccha (teh hijau) kadang diberi es krim vanila. Ini yang biasanya ada di restoran-restoran. Rasa Japanis banget deh. Tapi kalau pergi ke Festival-festival summer yang ada, yang namanya kakigori biasanya hanya berupa es serut yang diberi sirup rasa Melon, Strawberry dan Blue Hawaii. Nah hari ini tanggal 25 Juli adalah peringatan hari NATSUGORI, sama dengan kakigori (natsu =summer gori =ice). Dipilihnya tanggal ini karena sebutan Na-tsu-go yaitu 7-2-5. Dan kabarnya tanggal ini adalah hari terpanas di Jepang. Hiiii, untung saya di Indonesia ya. Bisa makan es shanghai, es teler, es merah delima, es-te-em-jeh …wah yang terakhir ini lain ya….

Hmmm mau cari es -es an dulu deh. Tergantung juga sih es nya satu atau dua atau tiga. Kapan ya aku bisa es tiga heheheh.
Di Jepang ada istilah ini….果物の王様 Kudamono no Ousama. Rajanya buah-buahan. Dan itu adalah Durian. Mungkin sedikit orang Indonesia tahu istilah ini, tapi jika Anda berada di Jepang, pasti akan mendengar istilah ini. Kenapa Durian dianggap Rajanya buah-buahan. Katanya sih karena RASA Manis nya yang kuat, Tapi karena baunya yang menyengat banyak orang Jepang tidak bisa membawa buah ini ke dalam mulutnya. Suami saya tidak bisa, dan ternyata Riku juga tidak bisa. Saya sendiri sudah menjadi alergi pada Durian, gatal hebat di leher bagian dalam jika memakannya. Tapi…ibu mertua saya suka sekali. Dan satu peringatan (pemerintah) yaitu jangan makan durian jika sedang minum alkohol, karena bisa menyebabkan kematian. Dan ini bukan tabu saja, mungkin (hipotesa saya) kadar gula yang ada dalam tubuh bisa naik tiba-tiba….

(pertamanya sih semangat…di foto terakhir mulai terlihat dia tahan-tahan tuh untuk keluarin heheheh)
Saya tidak tahu siapa yang pertama kali memastikan bahwa Durian adalah Rajanya buah-buahan, dan Manggis sebagai Ratunya. Tentu bagi setiap orang, anggapan Raja dan Ratu buah-buahan untuk dirinya akan berbeda. Bagaimana dengan Anda? Kalau saya…. Semangka (makanya bisa jadi induk semang heheheh) dan Longan atau Pear Korea. FYI, saya alergi buah rambutan, manggis dan durian. (Dulu sempat alergi kismis, tapi sekarang sudah tidak apa-apa)
Beginilah kalau hidup sudah cukup lama di dunia. Pasti ada barang-barang atau merek-merek yang menyimpan kenangan masa kecil. Dalam liburan saya kali inipun, saya banyak menemukan barang-barang yang mempunyai arti atau kenangan tersendiri. Memang akhirnya pasti dibilang “imelda pasti buntutnya makanan”, mungkin ya, tapi tentu saja ada yang lain dong.
Nah kali ini saya mau tulis tentang dua snack, satu dari Belanda dan satu dari Indonesia.

Permen Hitam ini dari dulu selalu ada di rumah saya. Biasanya Oleh-oleh dari Belanda, dengan variasi bentuk dan sedikit variasi rasa garam/warna. Namanya DROP tapi saya heran juga, kok bisa-bisanya orang Belanda suka dengan rasa yang lumyan aneh begini. Mungkin untuk membayangkannya, Anda tentu tahu OBH (Obat Batuk Hitam)…nah rasa itu dipadatkan menjadi sebuah permen gummy. Dan waktu saya tanyakan pada ibu saya, ternyata memang permen ini punya fungsi sebagai pastiller, pengurang batuk. Meskipun rasanya aneh, kalau sudah lama tidak lihat dan tiba-tiba muncul di hadapan Anda, mungkin tak terasa tangan ini akan meraih dan memasukkan satu butir permen ini dalam mulut Anda. Dan saat itu saya teringat masa-masa kecil, kala papa membawa oleh-oleh drop, coklat verkade dan marsepein (marzipan) . Hmmm lekker.
Tidak kalah dengan oleh-oleh dari luar negeri, oleh-oleh ini juga nikmat loh. Brem cap suling. Ditulisnya sih produksi Boyolali…. tapi saya lupa papa dulu suka bawa dari mana. Mungkin oleh-oleh dari Yogya ya? Sama dengan brem putih berbentuk bulat pipih (kalau kami bilang seperti “hosti”), brem ini sering jadi penganan kecil di sore hari. Rasanya masih sama seperti dulu, tapi…..kok semakin tipis ya? Volumenya berkurang, mungkin untuk menjaga harga yang sama. Taktik perdagangan….tapi biasanya tidak begitu ketara. Mungkin karena memang sudah lama tidak lihat, perubahan itu sangat terlihat di mata saya kali ini. Tipis bo… Dan saya juga jadi teringat, sebelum pulang, saya dapat oleh-oleh Beng-Beng dari adik saya Mariko-san. Saat itu dia bilang “Mbak pasti akan kaget deh, lihat deh ukurannya”…Hmm benar juga bentuknya sih sama tapi tipis dan kecil. Benar-benar menciut deh. Untung saja rasanya tidak menciut sehingga saya masih suka.
Ultraman adalah idola anak laki-laki di Jepang. Pahlawan yang berubah menjadi Raksasa penolong manusia daari serangan makhluk asing (Kaiju) bermacam bentuk. Ultraman berasal dari planet M78 yang datang ke dunia dalam rupa manusia biasa. Jika Kaiju datang, dia akan berubah bentuk “Henshin” menjadi raksasa. Ultraman yang datang ke dunia ini ada banyak dan masing-maisng mempunyai nama sendiri dan kekuatan yang berbeda-beda. Ultraman pertama kali tampil di layar televisi pada tanggal ini, 10 Juli 1966 sebagai ekstra, dan film nya mulai reguler diputar seminggu sesudahnya. Selama 40 tahun sampai tahun 2007 lalu setiap minggu menghibur anak-anak dengan cerita yang seru. Jika sekarang kita menonton film tahun-tahun awal, terlihat sekali pembuatan yang kaku dengan teknik yang masih amatiran. Lama-kelamaan dengan berkembangkan teknik CG, adegan perkelahian antara ultraman dengan Kaiju semakin seru dan halus pembuatannya, juga jalan cerita lebih kaya. Ultraman yang terakhir muncul adalah Mebius, yang kemudian di bagian akhir, film diperkaya dengan pemunculan ultraman jaman baheula seperti Ultraman 80, Ultraman Leo, Hikari, Seven, bahkan ultra Father. Di bagian akhir keamanan dunia diserahkan kembali kepada manusia, tanpa bantuan ultraman lagi. Saya yang sempat mengikuti film ultraman ini sejak Riku berusia 3 tahun dnegan tampilan ultraman Max, kemudian sesudahnya Mebius sangat menikmati cerita-cerita yang ditampilkan. Saya bisa membayangkan selama 40 tahun, anak-anak dihibur dengan tampilan cerita-cerita yang menarik dengan rating tinggi (yang tertinggi 42,8 pada tahun 1967). Kesuksesan film ini membawa kepopuleran yang terus menerus selama 40 tahun dengan dijualnya berbagai macam produk, mulai dari boneka plastik sampai tempat pensil, tempat bento, saputangan dan lain-lain. 40 tahun bukan waktu yang pendek, disneyland saja di Jepang baru 25 tahun. Sebelum ada disneyland, anak-anak Jepang sudah mengenal tokoh impian mereka Ultraman.
Tapi kenapa saya tulis judul Ultraman suka Natto? Karena ternyata hari ini adalah hari peringatan untuk natto. Natto adalah kedelai yang difermentasikan, sehingga mengeluarkan lendir. Rasanya seperti tempe busuk, dan merupakan makanan yang bergizi tinggi. Natto bisa menjadi bahan untuk diet, sayangnya saya dan kebanyakan orang asing lainnya tidak bisa makan natto….. padahal sehat sekali. Tapi coba deh lihat foto di sebelah….ngeri kan hehhehe. Padahal katanya semua bahan makanan yang berlendir begitu, seperti okura juga bagus untuk kesehatan. Mau coba?
NB: satu lagi peringatan adalah hari minyak salad (minyak goreng). kenapa? karena 7-10 (10 juli) itu kalo dibaca terbalik menjadi OIL…. duh ada-ada saja orang Jepang hihihi
Weleh, coklat kok asin sih? Tapi emang bener kok. SHIO CHOKORE-TO tuh tulisannya. Coklat Garam. Kok bisa?Nah kalau ditanya kok bisa, saya juga tidak tahu mengapa bisa. Kan kopi juga bisa dimasukkan garam (kabarnya ini obat begadang), jadi mustinya coklat juga bisa.
Coklat jenis ini sedang trend di Jepang. Saya tidak tahu kenapa, tapi hampir semua produsen coklat Jepang membuat coklat versi garam ini pada musim panas ini. Selain rasa caramel tentunya. Tadinya saya rasa aneh, tapi setelah mencoba, ternyata enak juga loh. Manis, tapi ada asin-asinnya. Tapi yang saya ras paling top itu justru buatan pabrik coklat yang kurang dikenal yaitu Tirol. Coklat tirol ini biasanya dijual ketengan sehingga paling disukai anak-anak, karena bisa dibeli dengan uang jajannya. (sttt Riku juga suka sembunyi-sembunyi ambil coklat ini dan masukkan ke keranjang belanjaan saya). Yang saya beli namanya Shio Vanila, karena memang terbuat dari coklat putih, yang dalamnya ada semacam marshmallow yang asin. Harganya 105 yen isi 6-7 buah. Biasanya saya tidak suka coklat putih karena manis, tapi ini sempat membuat saya ketagihan……
Kali ini saya mau posting khusus mengenai onigiri atau bahasa Inggrisnya Rice Ball, dan saya mengatakannya dalam bahasa Indonesia adalah nasi kepal, karena dibuatnya dnegan mengepalkan tangan, meskipun besarnya belum tentu sekepalan tangan (boleh juga sih…. yang big size ya hihihi). Onigiri juga sering disebut dengan omusubi, atau nigirimeshi. Nasi kepal ini mudah dibuat, enak dan mengenyangkan. Saya posting ini sambil teringat Eva, Jeng lala, Ai dan teman-teman lain yang mungkin mau coba buat. Atau untuk Bang Hery, Mas trainer mungkin yang mau memanjakan istri, atau bahkan mas Hangga untuk memikat gadis-gadis.
Hari ini adalah hari yang paling tepat posting mengenai Onigiri, karena ternyata hari ini adalah hari Onigiri, menurut masyarakat dari Prefektur Ishikawa. Prefektur ini menghasilkan beras yang pulen dan enak. Beras diperingati setiap tanggal 18 dan kenapa bulan juni peringatan onigiri? Karena ada sebuah daerah di Prefektur Ishikawa yang bernama Rokuseimachi yang dianggap sebagai kampung halamannya onigiri, akibat ditemukannya fosil onigiri tertua disebuah perumahan dari tanah liat (pithouse). Dan ditetapkan bulan juni karena bulan juni = rokugatsu , roku nya merupakan kata pertama dari nama kota tersebut (huh asal bunyi sama …gitu aja alasannya).
Beras yang enak tentu menentukan rasa dari onigiri itu sendiri. Beras jepang termasuk dalam keluarga japonica sehingga pulen dan bisa menyatu jika dipadatkan, berlainan dengan beras indica. Karena itu jika Anda yang berada di Indonesia ingin membuat onigiri, saya sarankan Anda membeli beras Jepang (pasti mahal) atau mencampur beras indonesia dengan beras ketan dengan perbandingan 3:1. (Dicoba saja nanti sendiri perbandingan yang tepat karena tentu saja beras di Indonesia berbeda kepulenannya berdasarkan jenis/mereknya) . Begitu beras tanak, biarkan sebentar supaya uap air yang tersisa bisa menguap. Kemudian ambil nasi tersebut sebanyak yang mau dibuat sebagai onigiri. Jangan lupa basahkan tangan. Tangan yang basah penting sekali untuk membuat onigiri. Karena di musim panas bakteri mudah berkembang biak, perhatikan kebersihan tangan sebelum membuat onigiri. Juga jangan memakai air ledeng untuk membasahkan tangan di Indonesia (kalau di Jepang sih air ledeng bisa diminum sehingga tidak menjadi masalah). Jika Anda suka, Anda bisa menaburkan sedikit garam pada telapak tangan Anda. (Kalau saya tidak begitu suka asin …mengurangi garam untuk kesehatan sehingga tidak pernah memakai garam) Nasi panas itu dikepalkan setengah jadi dan bagian tengah dibuat lubang untuk mengisi “lauk/daging” yang akan dimasukkan. Setelah lauk itu ditaruh di tengah-tengah, lanjutkan kembali dengan menutup lauk tersebut dan buat bentuk onigiri yang diinginkan. Onigiri ada bermacam bentuk, tapi yang lazim adalah segitiga. Ada pula yang berbentuk bulat gepeng seperti perkedel. Setelah nasi menjadi padat dan berbentuk tutupi dengan nori (rumput laut kering) jika suka. Saya tahu banyak orang Indonesia yang tidak begitu suka nori, sehingga buat mereka yang tidak suka, tidak perlu ditutup dnegan nori. Kalau mau, bisa juga menutup nasi kepal dengan wijen putih atau hitam. Wijen yang segar dapat menambah aroma dan rasa yang enak pada nasi kepal tersebut.
Nah, sekarang apa saja sih yang bisa dimasukkan dalam onigiri? Banyak!! Tapi yang terumum di Jepang adalah Umeboshi (buah plum kering), serpihan Ikan tuna begitu saja atau dicampur dengan mayoneise, telur ikan mentaiko/tarako mentah atau dibakar dan okaka (serutan ikan tuna kering - katsuobushi). Selain memasukkan lauk tadi secara utuh di tengah onigiri, Anda bisa mencampurnya dulu pada nasi sebelum dikepal. Biasanya di Jepang jenis-jenis sayuran kering/ wakame (gagang laut) atau ikan teri nasi mentah/goreng yang paling banyak dijadikan campuran dalam nasi tersebut. Pokoknya hampir semua bahan makanan/daging yang cocok dimakan dengan nasi bisa dijadikan “lauk/daging” dari onigiri. Daging sukiyaki, semur, susis, ikan sardin, ayam cincang bumbu kecap ….whatever lah.
Variasi untuk di Indonesia misalnya :Coba deh masukkan corned beef begitu saja atau dicampur mayoneise dulu…pasti enak. Atau abon sapi…. hmmm yummy. Mustinya sih kalau dimasukkan keringan tempe juga enak, tapi saya belum coba karena tempe mahal sekali di sini. Pokoknya cobalah buat onigiri versi Anda sendiri… Dan kalau ada teman yang mau membuka usaha restoran, bisa juga nih coba usaha restoran ONIGIRI…saya yakin pasti laku deh. Di sini saja banyak kok warung onigiri yang bisa makan di situ sambil berdiri.
Sebagai pendamping onigiri biasanya disajikan acar-acaran. Kalau di Jepang ada Takuwan (acar lobak yang berwarna kuning) yang praktis, atau kalau di restoran tentu saja ada tsukemono (acar) dari bermacam-macam sayur, seperti terong, ketimun, lobak putih, sawi dsb. Kalau untuk orang Indonesia, mungkin lebih cocok dengan acar ketimun/wortel. Selain acar, juga bisa disajikan dengan sup miso yang panas…. hmmm jadi lapar nih. ITADAKIMASU (artinya saya makan yahhhh)
So…silakan coba. Yang penting adalah Nasi panas dan tangan basah. Tak ada daging? Garam saja cukup kok.
Entah kenapa kok sekarang sambil nulis begini saya membayangkan onigiri yang isinya tempe bakar, yang ditumbuk dengan cabe rawit….. duh kangen tempe…..hiks…. (sabar…. sebulan lagi bisa makan tempe sepuasnya). Trus… supnya sayur bening hihihi. Ini mah bukan masakan Jepang lagi, udah menu masakan Indonesia dengan Nasi kepal. hihihi
Masih ingat saya pernah cerita tentang Fanta Orange yang harus di shake dulu sebelum diminum? Saya sudah coba, dan rasanya…bu bu…..(suara bu bu sering dipakai untuk menandakan “dump”, not good)
Ternyata Fanta keluarkan lagi yang serupa dengan rasa Grape. Saya pikir…harus coba. Saya bayar 120 yen, kocok dan buka… pssttt suara soda memang terdengar, tapi weird!!! masak grape berwarna transparan? Saya tadinya membayangkan cairannya berwarna grape…. ternyata tidak saudara-saudara!. Saya kecewa. BUT mungkin rasanya bisa menyembuhkan kekecewaanku. Saya teguk …. glek…glek…. hueeeekkkk tidak enak bo. Sorry deh, tapi ternyata Fanta Grape kocok ini tidak cocok untuk seleraku… (Emang lebih enak grape beralkohol alias wine hahaha)

Satu lagi produk minuman baru adalah Pepsi Blue Hawaii. Warna kereeeeeen. Biru laut. Melihatnya saja langsung terbayang pasir putih dan air laut kebiruan (so pasti bukan di Indonesia !!!) Wahhh deh warnanya. Saya amat sangat berharap rasanya akan sebagus warnanya. Tapi? gagal lagi try out aku hari ini. Memang tertulis di situ pineapple and lemon. Tapi…. jadinya rasanya nanonano deh. Ngga jelas. Saya biasanya minum segala yang bersoda… Tapi hari ini dua minuman soda yang saya beli benar-benar mengecewakakanku. Fanta masih aku minum semua karena isinya cuma 200 ml. Tapi si Hawai biru ini terpaksa saya buang, karena isinya 500 ml. Ngga ketelan semuanya. Maaf ya Pepsi….. Ini hanya pendapat saya saja kok… yang lain mungkin suka hihihi.