Liburan Tanpa Rencana

9 Mei

Memang bukan baru kali ini sih, deMiyashita berlibur tanpa rencana. Sering! Kami namakan Nariyuki 成り行き : Jalan seenaknya kemana kaki (dalam hal ini biasanya sih mobil) melangkah. Nah pada libur Golden Week part 2 yaitu dari tanggal 3-4-5-6 Mei, kami juga nariyuki lagi deh. Tapi yang pasti Riku ingin menginap di rumah kakek-neneknya di Yokohama pada tanggal 3 Mei, jadi kami pergi ke Yokohama hari itu. Memang Riku amat sayang pada kakek-neneknya, dan hanya untuk datang saja, dan berada bersama mereka, Riku sudah senang. Aku pun bahagia melihat anak-anak sayang pada kakek-neneknya. Ternyata cukup banyak loh orang Jepang (ibu-ibu Jepang) modern yang tidak suka mempertemukan anak-anak mereka pada mertuanya (orang tua suami). Heran ya? Tapi itu kenyataan 🙂

 

berburu kupu-kupu di dekat rumah

Tapi sebelum berangkat ke rumah mertua, aku mesti siap-siap barang yang mau dibawa, sehingga Gen mengajak anak-anak mencari kupu-kupu di sekitar rumah kami. Lumayan dapat satu jenis kupu-kupu yang belum kami punyai specimennya yang ditangkap Riku. Kai juga sempat menangkap kupu-kupu tapi dilepas karena sudah punya specimennya. Setelah kembali ke rumah baru kami pergi ke Yokohama pada tanggal 3 Mei dan menginap di Yokohama. Tapi sebelumnya aku sempat mampir ke rumah adikku yang juga tinggal di daerah Yokohama untuk mengantarkan makanan Indonesia yang kumasak beberapa hari sebelumnya. Maklum dia wanita karir dan tidak masak sendiri, dan sebagai kakak yang baik…. hehehe. Sesampai di rumah mertua, kami makan malam bersama dan tidur. Nah keesokan harinya, cerah sekali. Sayang kalau dilewatkan di rumah saja, sehingga kami sepakat keluar rumah. Ntah kemana yang penting keluar rumah.

Kami mengarah ke semenanjung Miura. Tadinya kami ingin pergi ke Anjin, mungkin kalau pernah nonton film Shogun, orang Inggris yang bernama Wiliam Adams yang diceritakan pada film itu nama Jepangnya Anjin san. Nah konon di tempat itulah dia membangun kapal untuk pulang. Sayang kami tidak sampai ke sana karena berhenti-berhenti di tempat lain. Nanti lain kali ingin juga melihat daerah yang bersejarah itu.

kupu-kupu dan laba-laba yang kutemukan di taman PA Yokosuka. Kiri atas, mobil reklame dengan minuman kaleng di atasnya. Kanan bawah tempat charge utk mobil listrik

Tempat perhentian pertama kami adalah Parking Area dari highway di Yokosuka. Tempat para supir beristirahat makan, minum atau pergi ke toilet. Ada dua hal yang menarik kami temukan di PA ini, satu adalah adanya sebuah kolam tempat capung-capung berkumpul. Aku menemukan kupu-kupu cantik di sini. Ini merupakan fenomena menarik yang aku pelajari dari Jepang, yaitu meskipun mereka membangun fasilitas gedung untuk manusia, mereka tetap membiarkan beberapa tempat alami untuk habitat yang ada di situ. Kadang malah dibuat taman yang indah di sampingnya. Orang Jepang memang top dalam hal memadukan kedua unsur ini, buatan dan alami.

Yang kedua adalah tempat charge untuk mobil listrik. Aku takjub melihat bahwa mereka pun sudah menyediakan jasa seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana cara pembayarannya, apakah dihitung per waktu atau per energi yang dicharge. Maklum belum punya mobil listrik sih. Nanti ya kalau sudah punya, aku tulis 😀

Setelah istirahat di PA Yokosuka, kami melanjutkan perjalanan, lalu keluar tol…dan menemukan ada sebuah signboard yang bertuliskan “Tempat kupu-kupu”. Wah rupanya sebuah perusahaan LP gas bernama Sagami yang  membuat semacam museum kupu-kupu. Lumayan bagus untuk tingkat perusahaan (bukan pemda atau pemerintah). Suatu kontribusi bagi pengetahuan dan alam. Beberapa kupu-kupu yang dipajangkan berasal dari seluruh dunia. Sayang kalau difoto, lampu ruangan memantul sih, jadi tidak bisa membuat banyak foto di situ. Tidak sampai 30 menit kami di situ tapi Gen merasa senang sekali. Maklum memang melihat kupu-kupu itu hobinya. 

Museum kupu-kupu milik perusahaan Sagami. Lihat gambar kanan atas itu terbuat dari syaap kupu-kupu yang sudah mati, dari sbeuah negara di Afrika.

Melanjutkan perjalanan dan di kanan jalan kami menemukan papan “Ootawa Azalea Hills“. Mumpung sudah dekat, dan kami tidak tergesa-gesa, kami memutuskan untuk mampir. Dan untung saja kami mampir, juga dengan membawa jaring penangkap kupu-kupu, karena bukit ini indah sekali. Sepanjang mata memandang bunga Azalea di mana-mana. Lagipula dari atas kami bisa melihat kota Yokosuka membentang di bawah. Tentu saja aku menikmati waktu untuk memotret macam-macam yang bisa menjadi obyek kameraku.

Bukit Azalea Ootawa. Capek menaiki tangga ke atas, tapi pemandangannya indah. Di bagian atas ada tempat untuk piknik bagi yang mau. Masuk ke taman ini gratis

Waktu pulang menuju parkir, kami melihat ada kupu-kupu berwarna hitam yang terbang cepat. Hebat juga si Riku bisa menangkap kupu-kupu yang sedang terbang itu.

Dari bukit Ootawa itu kami menuju ke arah pantai, karena katanya di daerah itu (Nagai) ada pelabuhan ikan. Tapi sebelum itu kami menyusuri jalan sambil mencari rumah makan yang buka karena sudah waktu makan siang. Untung saja ketemu satu restoran Jepang, yang menunya hanya satu (tidak bisa pilih yang lain). Yaitu set nasi, sashimi dan ikan goreng untuk dewasa, dan nasi + sashimi maguro untuk anak-anak. Riku tentu sudah makan ukuran dewasa (dan kurang :D) sehingga kami memesan untuk  3 dewasa + 1 anak-anak.

Setelah selesai makan, kami bermain di pantai yang rupanya cukup dalam, tanpa pasir. Tapi airnya bening sekali. Ada sih sedikit sampah seperti bekas botol minuman dan plastik,tapi sedikit sekali. secara keseluruhan tempat itu bersih. Tapi tentu saja anak-anak lebih senang bermain di pasir.

Pantai buatan yang cukup dalam, tanpa pasir tapi bersih

Setelah puas bermain air, kami bergerak lagi menuju pelabuhan ikan. Rupanya ada pasar ikan tapi kecil. Dan karena kami takut ikannya busuk dalam perjalanan, kami tidak membeli ikan. Tapi kami membeli cumi-cumi bakar yang dijual di situ. Cumi-cuminya segar sehingga dagingnya tidak keras waktu dibakar. Riku suka tapi kami cuma beli satu. Itu saja harganya 300 yen (30.000 Rp).

Memang kami bisa melihat pemandangan pelabuhan di situ, yang tentu tidak sekotor/sebau di pelabuhan Sunda Kelapa. Tapi menurut Gen masih lebih besar dan lebih bagus pelabuhan Sunda Kelapa (wah baru ingat belum tulis nih…hampir setahun lewat hehehe). Ya memang pelabuhan ikan ini kan minor, tidak besar.

Pelabuhan Ikan Nagai. Kanan atas jepitan jemuran untuk menjemur ikan kering.

Karena sudah sore, aku mengajak Gen pulang saja ke Nerima. Tadinya kami berniat kembali dulu ke rumah mertua, tapi takut macet dan kemalaman, jadi kami langsung pulang ke rumah. Kami tidak bisa menginap lagi, karena tgl 5 (minggu) kami harus ke gereja pagi jam 9. Riku harus mengikuti Sekolah Minggu dan aku ada pertemuan dengan orang tua murid Sekolah Minggu.

Liburan kami tanggal 3 dan 4 berakhir dengan menyenangkan padahal tidak terencana dengan baik. Hal ini menyimpang dari kebiasaan orang Jepang pada umumnya yang apa-apa direncanakan secara mendetil. Ya,seperti Arman yang sedang merencanakan liburan musim panasnya di Canada. Bagus sih, cuma terkadang menyusun rencananya saja sudah capek duluan 😀

Teman-teman suka berlibur terencana atau nariyuki seperti kami?

Bukit Azalea Ootawa, Yokosuka

 

pantai Nagai, Yokosuka

Sumo Arena

3 Mei

Golden Week tahun ini kurang bagus urutannya. Maksudnya kurang bagus adalah tanggal yang tidak merah (sebanyak 3 hari) kena di hari biasa, sehingga tidak bisa libur berturut-turut tanpa mengambil cuti 3 hari. Kalau cuma 1 atau 2 hari, karyawan akan lebih mudah mengambil cuti daripada 3 hari, bukan? Jika urutannya bagus, ada yang bisa ambil libur sampai 10 hari berturut-turut seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini terpaksa Golden Week (GW) terbagi dua, bagian pertama yaitu tanggal 27-28-29 April dan bagian kedua tanggal 3-4-5-6 Mei.

Karena tanggal 27 dan 29 Gen harus kerja, kami akhirnya memutuskan untuk pergi berwisata di dalam kota Tokyo saja pada hari Minggunya. Tapi Riku harus mengikuti sekolah Minggu (padahal Sabtunya kami sudah ke gereja) di Kichijouji sampai pukul 11 siang. Jadi kami janjian bertemu di stasiun pukul 11 untuk bersama-sama pergi ke Ryogoku. Tujuan kami sebetulnya ada dua yaitu Sumo Arena (Ryogoku Kokugikan 両国 国技館) dan Tokyo Edo Museum. Dan perjalanan dari Kichijouji sampai Ryogoku ditempuh dalam 40 menit naik kereta lokal (berhenti setiap stasiun). Lumayan tidak usah ganti-ganti kereta lagi.

 

Stasiun Ryogoku ada cap tangan pesumo

Tapi kamu sampai di Ryogoku sudah mendekati pukul 1. Lapar, tapi menurut Gen ada kelas pembuatan teropong cermin sehingga kami buru-buru pergi ke museum Tokyo Edo Museum untuk bisa mendaftar. Tapi ternyata kami salah masuk, dan harus putar jauh sekali… memang museum ini besar sekali! Dan biasa, jika perut lapar rasanya tension semakin tinggi, kan? Kami akhirnya masuk ke Kokugikan saja (Sumo Arena), karena di situ ada bazaar yang menjual makanan khas pesumo yaitu Chanko Nabe. Kami membeli satu mangkuk chanko nabe seharga 500 yen, dan membawanya ke meja yang telah disediakan. BUT hari itu CERAH sekali, dan panas 25 derajat! Di bawah terik matahari, kami makan chanko nabe yang berupa sup panas… duh benar-benar tidak cocok deh 😀 Sementara aku dan anak-anak duduk, Gen mencari makanan lain yaitu yakisoba (mie goreng Jepang) dan takoyaki (octopus ball). Semuanya harus antri dan tentu tidak cukup untuk kami berempat, jadi aku membeli lagi satu mangkuk chanko nabe. Yang penting sudah ganjal perut deh.

panaaaaas 😀 silaauuuuuu 😀

Selesai makan kami masuk ke dalam Kokugikan. Tempat ini biasanya TIDAK dibuka untuk umum. Kalau mau masuk ke tempat ini ya harus menjadi penonton. Dan karcis menonton Sumo itu muahal jeh! Coba saja lihat tuh daftar harganya. Oh ya yang lucu dari tiket sumo itu, kita bisa membeli suatu “kapling” untuk 4 orang dan biasanya di situ duduk ala Jepang, alias di atas zabuton (alas duduk seperti cushion tapi lebih besar sedikit). Jadi tentu harus cari teman untuk bisa ber-4 atau ya bayar untuk 4 orang tapi pakai sendiri :D.

Begitu masuk memang ada beberapa stand yang menjual souvenir dan kegiatan membantu daerah-daerah terkena bencana di Tohoku. Tapi di situ juga ada boneka karakter sumo yang bernama Hakkiyoi Sekitorikun, jadi kami minta tolong staf untuk memotret kami. Di lobby masuk itu juga ada pertunjukan penyanyi-penyanyi yang membawakan lagu sebelum sumo dimulai. yang pasti sih bukan lagu pop 😀

berfoto dengan karakter sumo (bukan Angry Bird loh)

Lalu kami menuju tribun Timur, karena kami tahu bahwa ada tour backyard yang katanya akan mengantar kami melihat bagian belakang Sumo Arena. Harga karcisnya 200 yen untuk anak SD sampai dewasa. Kai tidak bayar. TAPI kami dapat giliran terakhir jam 3 sore. Masih ada waktu 1,5 jam yang harus dihabiskan. Jadi kami melongok ke dalam pintu yang terbuka, melihat arena sumo dari pintu keluar. Saat itu kami melihat ada orang-orang di bawah yang ambil foto. Kami juga mau ke sana tapi bagaimana? Mungkin perlu ijin lain ya? Jadi kami cukupkan dengan mengambil foto dari pintu atas saja.

panoramic sumo arena

Setelah itu kami pergi ke Sumo Museum yang menempati ruangan di sebelah depan utara. Museum ini menceritakan perjalanan Sumo Jepang lengkap dengan dokumen dan maket gedung sumo arena di beberapa tempat. Sayang kami tidak boleh memotret di dalam sini.

Setelah dari museum kami mengelilingi lagi arena bagian luar dan sampai pada bagian belakang yang ternyata ada pelayanan menuliskan  nama dengan kanji ala sumo di sebuah uchiwa (kipas bulat). Tulisan kanji ala sumo ini memang khas dan dipakai untuk menuliskan daftar pertandingan dalam sebuah musim. Agak bulat dan kotak. Rupanya kami bisa minta dituliskan namanya dengan membayar 1000 yen. Jadi kami minta untuk menuliskan nama Riku dan Kai. Penulis kaligrafi ini adalah Gyouji 行司 (judge atau juri). Aku baru sadar kok Juri juga menjadi penulis kaligrafi ya? Aneh.

 

minta dituliskan nama dalam huruf Kanji Sumo di uchiwa (kipas bulat)

Akhirnya sekitar jam 3 kurang 15 menit kami berkumpul untuk mengikuti tour backyardnya. Kami diantar melewati tangga dalam menuju ke tempat latihan para sumo. Seperti tatanan hidup masyarakat Jepang, di Sumo juga ada rankingnya. Yang paling top adalah Yokozuna, dan dia bisa berlatih di tempat paling ujung dan paling luas dibanding yang lainnya.

Di kamar latihan itu kami juga bisa melihat para Gyouji menulis daftar pertandingan sembari tidur. Rupanya memang begitu caranya supaya besar huruf bisa sama dan seimbang, seperti dicetak. Wah bisa jereng juga ya. Masih di ruang yang sama ada tiang kayu yang tinggi untuk latihan mendorong, serta di ujung ruangan ada WC dan kamar mandinya. Ukuran wc dan kamar mandinya sedikit lebih besar daripada milik orang biasa. Maklum badannya besar kan?

ruang latihan dan ruang gyoji

Setelah dari ruangan latihan, kami menuju ruangan Gyouji. Di sini dipamerkan baju/kimono yang dipakai para gyoji yang berbeda menurut rankingnya. Dalam sumo juga dibedakan grupnya dengan nama berakhiran ….beya (heya = kamar).

Dari situ kami menuju kamar wawancara, serta kamar penjurian yang cukup besar. Di situ terlihat daftar pertandingan dari tahun 1985. Dalam kamar ini konon setelah pertandingan selesai, mereka langsung menentukan daftar pertandingan berikutnya, siapa melawan siapa.

Ternyata setelah kami melihat kamar penjurian, kami diantar masuk ke dalam arenanya. Horreeeee… Kami pikir karena namanya tour backyard, jadi cuma bagian luar saja. Ternyata masuk sampai arenanya juga. wahhh 200 yen menurutku murah sekali kalau begitu 😀 Untung saja kami bisa mengikuti kesempatan langka ini.

Sambil mendengarkan penjelasan mengenai tempat pertandingan, aku memotret segala sudut Sumo Arena. Kapan lagi, karena belum tentu kami bisa masuk ke sini lagi. Tempat bertandingnya sendiri terbuat dari pasir yang berasal dari Kawagoe, dan dipadatkan dengan air, tanpa campuran bahan lain, kemudian digerus hingga rata. Undakan itu berbentuk kubus dan didalamnya dipasang tali sebagai batas aduan. Kalau kaki keluar dari tempat ini tentu saja kalah.

sumo arena dari dekat

Di bagian atas arena pertandingan itu ada atap tanpa tiang yang melambangkan dewa-dewa Shinto Jepang. Semua ada artinya, karena Sumo sebetulnya bukanlah olahraga pertandingan tapi merupakan festival laki-laki untuk menyembah dewa. Jadi semua gerak dan tempat ada arti-artinya. Yang pasti perempuan tidak boleh menginjak bulatan tempat sumo bertanding. Alasannya bukan karena anti feminisme atau tidak menghargai perempuan tapi lebih ke tempat sakral yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang tertentu. Dan tentu saja karena sumo merupakan festival laki-laki, perempuan tidak boleh masuk. Masuk akal kan alasannya?

Setelah mendengarkan penjelasan, tour backyard pun selesai sekitar pukul 4:30. Cukup lama ya, satu setengah jam dan biayanya hanya 200 yen/perorang. Kami sempat berfoto dengan guidenya dan kemudian keluar arena. Di luar yang tadinya penuh dengan orang yang datang untuk makan, sudah sepi dan meja kursi sudah dibereskan. Mereka memang tutup pukul 5 sore.

Persis di seberang Sumo Arena ada terminal untuk naik water bus (ternyata bukan sea bus, karena kami menyusuri sungai bukan laut :D) . Kami berniat untuk naik boat ini dulu sebelum makan, dan untung saja rupanya dalam 2 menit lagi ada boat yang akan berangkat. Kami cepat-cepat membeli karcis seharga 600 yen/dewasa dan 300yen/anak. Kami menyusuri sungai Sumida sampai ke terminal Asakusa dan kembali lagi. Karena kami datang terakhir kami tidak mendapat tempat yang strategis untuk berfoto dalam boatnya. Tapi pas kembali tentu saja kami bisa memilih mau duduk di mana. Dan waktu berhenti di terminal Asakusa itu, kami bisa melihat Sky Tree persis di depan kami. Disanding dengan langit yang biru, pemandangan saat itu benar-benar indah. Aku tadinya cukup takut naik boat, tapi kelihatannya sekarang sudah makin berani deh. Bisa pindah-pindah dalam boat hanya untuk mendapat posisi bagus untuk memotret 😀

sky tree dari sungai sumida

Setelah kami kembali ke terminal Ryogoku, kami mencari restoran untuk makan malam. Chanko nabe yang kami makan sudah tidak tersisa, dan membuat perut kami keroncongan. Tapi Riku ingin sekali makan es serut kakigori di stasiun kereta, jadi kami berdiri lama di depan toko dalam gedung stasiun yang menjual macam-macam. Yang mengherankan pelayan toko membagikan kue sakura mochi untuk semua orang yang lewat di depan tokonya, gratis! Suatu cara untuk mengundang tamu. Belum lagi aku membeli draught beer di situ, yang mustinya harga 500 yen ehhhh dikasih dua gelas, jadi cuma 250 yen/gelas. Memang jam 5lewat di daerah itu sudah mulai sepi pengunjung.

Sebetulnya Riku ingin makan di toko itu, tapi aku dan Gen pikir kalau masuk ke toko itu bisa-bisa habis 10.000 yen untuk makan dan minum. Jadi kami bermaksud mengelilingi stasiun mencari tempat makan yang murah saja. Nah, di situ Gen melihat ada tempat cukur rambut seharga 1000 yen (cukup 10 menit) jadi aku dan anak-anak makan dulu, sementara Gen cukur dan baru setelah itu bergabung.

Pepper Lunch. Lihat sumpit yang dipegang Kai, mengandung magnet, sehingga tidak jatuh

Toko murah yang kami masuki adalah Pepper Lunch, (sepertinya di Jakarta sudah ada), sebuah toko steak dan hamburger murah dengan sistem membeli karcis makan dulu. Aku pesan steak dan ayam panggang berdua dengan Kai, sedangkan Riku pesan hamburger. Lumayan juga makan di sini, tapi masih lebih murah makan di Yoshinoya gyudon sih hehehe.

Demikianlah kami menghabiskan GW part 1 dengan melihat salah satu kebudayaan Jepang yang sudah ada sejak zaman kuno.

 

Madame Tussauds Tokyo

30 Apr

Seperti yang sudah kutulis di posting tentang Legoland, aku membeli karcis masuk kolaborasi dengan Madame Tussauds Tokyo, yang letaknya persis sebelahan dengan Legoland, yaitu di lantai 3 mall DECK, Odaiba. Memang sih karcis itu berlaku sampai 30 hari, jadi tidak perlu pergi hari itu juga. Tapi kami pikir ngapain tunda-tunda lain hari, mumpung sudah di situ. TAPI belum tentu anak-anak suka ke museum Madame Tussauds ini. Jadi setelah makan siang, kamu ajak anak-anak ‘mampir’ ke Madame Tussauds dengan janji ‘cuma 15 menit’ dan setelah 15 menit kita akan ke Legoland lagi –nyambung main.

Matsuko Deluxe

Waktu kami masuk, sepi sekali tempat ini. Sebelum naik lift kami disambut dengan patung lilin MATSUKO Deluxe マツコデラックス, artis Jepang yang aslinya laki-laki (bisa baca di Hari Terjepit untuk Transgender). Ternyata ngga gede-gede amat badannya, soalnya kalau di TV bayanganku tinggi besar seperti pesumo 😀

Kami naik ke lantai 6 dengan lift dan begitu lift membuka disambut oleh Bruce Willis. Ho ho… sayang kesempatan kita berfoto singkat waktunya dan ruangannya sempit untuk bisa memotret satu badan (kecuali si pemotret di luar lift. Jadi yang kena foto dengan BW ini cuma Kai karena dia yang terdekat berdirinya.

Kai dan Bruce Willis

Setelah kami keluar lift nah, kami disambut oleh Johnny Depp deh. Memang di atur seperti ada red carpet dan begitu kami melangkah ke sana ada suara-suara dan lampu blitz. Di situ juga dipasang kamera yang otomatis mengambil foto kami bersama Johnny Depp dan dijual di pintu keluar. Untuk dua lembar (padahal pose dan komposisi berbeda) kami ‘cukup’ membayar 1800 yen. Padahal kami juga bisa mengambil dengan kamera kami sendiri, bahkan staff yang ada juga sudah mengambilkan foto kami. Tetap saja takut jika hasilnya buruk atau tidak jelas. Tapi untunglah semua pemotretan di tempat-tempat wisata seperti begini (baik lego, Madame Tussauds dan Disneyland) tidak pernah memaksa. Silakan beli kalau mau, kalau tidak juga tidak dikejar-kejar 😀

Red Carpet with Johnny Depp

Setelah selesai berfoto dengan Johnny Depp, kami memasuki ruang bulat yang berdirilah Lady Diana, Pangeran William dan Kate, lalu di situ juga ada kursi keratuan Inggris. Kami dipersilahkan memakai mantel bulu dan mahkota yang disediakan, lalu boleh duduk di kursi itu. Katanya, “Nikmatilah kursi ini seakan-akan Anda Ratu”. Memang oleh staff di bawah, kami diberitahukan bahwa kami boleh memegang patung-patung lilin itu asalkan tidak mendorongnya. Jadilah kami (terutama aku dan Sanchan) tidak mau melewatkan kesempatan untuk berfoto. Kebetulan juga masih sepi, sehingga kami bebas bergaya.

Mantan PM Koizumi dan Presiden Obama

Di ruangan yang sama juga ada Dalai Lama, mantan PM Jepang Koizumi dan presiden Obama. Wah rasanya aku ingin meniru gaya Mas Nug yang angkat kaki di mejanya. Sayang aku pakai rok sehingga tidak pantas untuk angkat kaki :D.

Setelah itu kami memasuki wilayah Sport. Patung lilin yang ditampilkan di sini adalah Darvish, pegolf Ishikawa Ryo, figure skating Asada Mao, pebalap Ayrton Senna, pemain bola Miura Kazuyoshi, Lionel Messi dan David Beckham. Eh ada pesumo juga tapi aku lupa namanya 😀

tokoh-tokoh olahraga

Sesudah dari wilayah Sport, masuklah kami ke ruangan selebriti. Dimulai dengan Maryln Monroe dengan gaun merah. Ternyata dia kecil sekali saudara-saudara. Bukannya kecil langsing, tapi juga tidak tinggi untuk ukuran negara sono.

Lalu yang kurasa juga kecil tuh Madonna dan di tempat Madonna diletakkan wig dan korset yang boleh dicoba jika mau. ho ho tentu saja kami coba, tapi maaf foto untuk konsumsi pribadi hahaha. Waktu kami mencoba wig itulah tiba-tiba anak-anak membawa bermacam wig, termasuk Kai dengan wig Elvis dan topinya Michael Jackson. Ah, anak-anak ini ternyata enjoy juga di sini, sehingga yang tadinya CUMA 15 menit, menjadi 1 jam lebih 😀 Mereka juga mengeksplore tokoh-tokoh dunia yang ada.

Kai dan Riku bergaya

Selain foto-foto dengan wig, kami juga tidak bisa memperlihatkan foto kami dengan aktor George Clooney yang menjadi idola para wanita. Takut nanti kami dilempari telur busuk oleh mereka karena kami berani-beraninya merangkul dan menc*um pipinya 😀 Eh TAPI si George Clooney itu TINGGI BESAR deh, lihat saja sofanya… aku duduk di situ saja kakinya melayang dan terlihat kecil kan 😀

George Clooney yang tinggi besar. Lihat kakiku nggantung 😀

Ada Leonardo diCaprio yang tinggi besar…(Kupikir dia kecil loh hehehe ternyata gede bo…), lalu ada si pretty woman Julia Roberts, ada Richard Gere, ada spiderman, ada juga anggota AKB yang sorry aku tidak hafal namanya 😀 Tapi di situ yang kurasa paling bagus fotoku adalah waktu minta bonceng si Kang Tom Cruise naik sepeda motornya 😀 Aku dan Sanchan bilang, “Coba ada kipas angin yang bisa membuat rambut tergerai seakan2 benar-benar naik motor” hahaha. Maunya sih gitu ….

Kang Tom ganti profesi jadi ojek

Di arena selebriti aku suka melihat foto Riku dengan Jackie Chan, atau anak-anak menaiki sepedanya ET yang sama sekali tidak mereka kenal. Wong ET itu ada waktu aku kecil…. hehehe.

ET dan Jacky Chan

Dan sebagai foto penutup di ruang selebriti kami berfoto dengan Lady Gaga deh.  

Setelah dari ruang selebriti, kami memasuki ruang tokoh yang menampilkan cara pembuatan patung lilin, juga sempat berfoto dengan alm Steve Jobs dan Einstein … moga-moga ketularan pintarnya 😀

bersama orang-orang pintar

Sayang lama-lama pengunjung bertambah banyak, sehingga kegilaan kami tidak bisa tersalurkan lagi. Cuma kami yang bergaya aneh-aneh di situ. Orang Jepang terlalu jaim sih… eh tapiiiii aku bisa ikut aneh-aneh karena ada temannya si Sanchan. Mungkin kalau bukan dengan Sanchan aku juga jaim deh 😀 Makasih ya Sanchan 😉

Museum Madame Tussauds Tokyo ini baru saja dibuka tanggal 15 Maret, sehingga masih baru dan masih kosong. Mungkin masih belum banyak yang tahu soal museum ini. Tapi ada juga penilaian orang Jepang yang mengatakan, “Ah di museum itu cukup 15 menit saja kok. Terlalu mahal (1900 yen) untuk waktu yang singkat…” Hmmm pasti dia cuma lihat-lihat saja tanpa foto-foto deh… atau… dia tidak suka infotainment 😀

Breakfast with Audrey Hepburn

Harga karcisnya 1900 yen jika membeli di loket pada hari itu, tapi kalau beli online hanya 1450 yen. Keterangannya bisa dibaca di website resminya. Saya sarankan kalau mau datang ke Madame Tussauds, datanglah pada hari biasa siang hari, dan kamu bisa narsis dengan patung lilin artis/aktor idolamu dengan santai.

NB: Pengumuman hasil GA TE BD5 ada di sini.

Jahil, Jail atau Iseng?

8 Mar

Iseng aku mencari penulisan yang benar dari kata jahil di KBBI daring, dan terkejut mendapati bahwa artinya seperti ini:

ja·hil a 1 bodoh; tidak tahu (terutama tt ajaran agama): para ulama berkewajiban menuntun golongan — dan bebal; 2 cak jail;
 murakab amat bodoh;
men·ja·hili v membodohi;
ke·ja·hil·an n 1 kebodohan; 2 kejailan

LOHHHH… padahal bukan itu maksudku. Maksudku orang yang suka iseng gitu loh. Jadi aku cari kata JAIL, dan ternyata memang benar kata itu yang kumaksud.

ja·il a cak 1 dengki; 2 suka mengganggu (menggoda dsb) orang lain; nakal: tangan-tangan –;
men·ja·ili v mengganggu atau menjahati (krn dengki, iri, dsb): dia dimarahi ayah krn sering ~ anak-anak tetangga;
ke·ja·il·an n perbuatan atau hal jail; kenakalan: kerusuhan itu terjadi krn ~ anak-anak muda di situ

Naaah maksudku itu yang jail, nakal suka menggoda bin iseng 😀 dan terus terang aku termasuk orang yang suka iseng 😀 Sepertinya sih keturunan dari mama. Masih ingat aku wajah kecut teman Jepangku waktu aku isengin dengan memberikan bungkus coklat kosong 😀 Eh tapi akhir-akhir ini sudah insaf kok…

Kemarin dan hari ini aku kembali iseng dengan membeli ini:

romanesco, katanya aslinya dari italia. Lumayan enak kok untuk salada (direbus)

Sayur sejenis broccoli yang pernah aku tulis di sini, tapi waktu makan di restoran itu kan sudah dipotong-potong. Sedangkan waktu aku lihat di tukang sayur dekat stasiun masih dalam bonggolnya, dan memang benar- seperti perpaduan brokoli dan kembang kol. Harganya cukup mahal yaitu 250 yen. Tapi karena iseng itulah aku membelinya.

mainan gacha gacha berbentuk unchi 😀 (kotoran manusia). Benar real karena empuk seperti karet 😀

Nah keisengan yang ke dua seharga 100 yen. Waktu aku belanja tadi pagi, aku menemukan mesin kotak mainan gacha-gacha dan tertulis REAL! Mainan itu terlihat real seperti kotoran manusia dengan 3 warna. Iseng aku beli satu dan sayang dapatnya warna kuning…coba warna coklat ya 😀 Waktu aku kasih lihat Kai dia tertawa, dan kami berdua sepakat untuk isengin Riku 😀 Eh tapi Riku tidak terkejut tuh… gagal deh isengnya 😀

Bagaimana kamu juga suka iseng begitu ngga? 😀 Well, hidup kalau terlalu serius juga tidak baik kan ya? 😉

Kebun Rekreasi Keluarga

6 Mar

Bermain di musim dingin, tentu tidak hanya bermain salju seperti membuat Manusia Salju Snowman atau meluncur dengan sepatu/papan khusus seperti skate, ski dan snow board. Bagi sebagian orang sepertinya memang hanya inilah kegiatan yang bisa dilakukan di luar rumah , dan jika takut kedinginan pasti akan lebih memilih kegiatan di dalam ruangan/rumah. Jarang sih ada orang Indonesia yang mau melakukan kegiatan di luar rumah seakan mencari “dingin”, kalau bisa enakan kemulan….

Tanggal 11 Februari lalu (duuuh sudah lewat hampir sebulan!) adalah hari libur di Jepang, yaitu hari pendirian negara Jepang (bukan kemerdekaan loh). Jadi kami mengajak pastor Ardy untuk ikut bersama kami bermain bersama, dengan tujuan utamanya pergi ke air terjun beku/Tsurara  di Otaki, Chichibu di prefektur Saitama. Kami ingin memperlihatkan keindahan alam di sini kepada pastor, karena kami sendiri sudah pernah pergi. Dan untuk ke Chichibu ini paling praktis naik mobil, jadi musti cari waktu yang Gen libur sehingga bisa menyetir. Jadilah Senin pagi itu kami berangkat dari Kichijouji pukul 9 lewat dan menuju ke arah Chichibu.

Misotsuchi Tsurara yang alami, Chichibu, Saitama Prefektur

Kami sampai di daerah Chichibu pukul 11 dan memutar mau kemana dulu sebelum ke Air Terjun Beku/ Tsurara. Karena terus terang untuk melihat air terjun beku itu paling lama hanya 1 jam saja. Lagipula kami juga harus mencari makan siang. Terlintas di pikiran kami untuk memetik strawberry, karena pastor juga belum pernah. Dan di pintu tol kami diberikan pamflet dengan peta tempat rekreasi, pemetikan strawberry dan tempat istirahat seperti pemandian air panas. Tapi kebanyakan ladang strawberry yang ada memang hanya menyediakan strawberry yang bisa dipetik semaunya dengan hitungan 30 menit/ 1 jam. Tadinya kami pikir makan siangnya strawberry aja gitu hihihi (ketahuan pelit ya?)

Tapi waktu aku membaca ada Kebun Rekreasi Keluarga Komatsuzawa (Komatsuzawa Leisure Nouen), aku merasa tempat itu yang paling tepat. Karena di sana tidak hanya bisa memetik strawberry saja, tapi juga memetik jamur shiitake, memancing ikan Masu, membuat soba dan barbeque. Jadi langsunglah kami pergi ke sana.

Tapi begitu sampai di parkiran, kami disambut dengan petugas yang mengatakan, “Maaf, sudah tidak bisa memetik strawberry lagi karena sudah terlalu banyak orang.” Jadi meskipun buah strawberrynya masih ada, mereka membatasi pengunjung yang masuk untuk memetik, supaya tidak menurunkan mutu buah. Karena jika semua yang datang diberi kesempatan, maka yang datang terakhir pasti akan kebagian strawberry yang belum matang benar, dan tidak manis. Mereka tetap menjaga mutunya. Ini yang aku rasa hebat. ORANG JEPANG TAHU KAPAN HARUS BERHENTI DEMI MENJAGA KWALITAS. (Dulu malah sampai bunuh diri hehehe) Orang dari negara lain mungkin tidak peduli dengan “perasaan” pengunjung yang datang siang dan berkata, “Salah sendiri datang siang”. Tapi sebagai produsen, mereka tidak mau menurunkan “standar” mereka HANYA untuk keuntungan sesaat yang didapat dari pengunjung “kesiangan” (sebetulnya kebun memang dibuka sepanjang hari, tapi karena hari Minggu, pengunjung membludak).

memancing ikan Masu

Tapi kami katakan pada petugasnya bahwa kami mau memancing dan mungkin memetik jamur saja. Lalu kami diarahkan ke tempat parkir. Kami memasuki kebun yang luas sambil merasa kecewa tidak bisa memetik strawberry. Tapi waktu kami akan membeli karcis untuk memancing ikan Masu (namanya memang Masu, bukan mas yang dibaca secara Jepang :D) , kami membaca juga bahwa bisa mengikuti kelas membuat soba (mie Jepang) lalu memakan hasilnya. Paketnya bisa untuk 4 atau 5 orang. Daripada barbeque biasa, kami lalu sepakat untuk membuat soba saja.

menikmati ikan bakar

Jadilah kami memancing ikan Masu. Kami berlima memancing 5 ikan untuk dimakan, tapi karena aku dan Gen tahu Riku senang memancing, jadi memberikan kesempatan pada Riku untuk memancing bagian kami juga. Cukup lama baru bisa terpancing ikannya, belum lagi udara dingin saat itu, sekitar 1 derajat. Ikan yang dipancing, langsung dibersihkan di samping kolam oleh petugas, dan ditusuk dengan kayu. Kami lalu membawa ikan itu ke meja pembakaran. Sembari menunggu ikan kami jadi, aku sempat lari membeli strawberry yang dijual. Pikirku, sebagai “pelampiasan” tidak bisa memetik. Dan kami nikmati ikan bakar hasil pancingan sendiri di meja yang disediakan. Seekor ikan kecil itu tidak bisa memenuhi perut lapar dalam dingin, tapi membuat ikan itu terasa sangat mewah dan enak. Apalagi kami menikmati strawberry untuk dessert 😀

membuat soba

Kemudian kami menuju kelas pembuatan soba. Kami berlima mendapat sebuah meja panjang yang dilengkapi dengan sebuah baskom besar. Gurunya menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan dan memberikan contoh. Mulai dari mengaduk adonan, membuat adonan menjadi kalis, kemudian menggiling adonan menjadi tipis dan memotongnya. Setelah soba hasil buatan kami selesai, guru tersebut merebusnya untuk kami, dan kami nikmati bersama di tempat yang telah disediakan. Soba yang sederhana itu cukup bisa memenuhi perut kami.

menikmati soba buatan sendiri. Duuuh tebalnya 😀 seperti kwetiauw jadinya hehehe

Pukul 2:15 kami meninggalkan Kebun Rekreasi Keluarga ini untuk menuju Tsurara. Butuh waktu 1 jam untuk mencapai tempat ini dengan mobil. Dan… brrr, udara yang dingin terasa bertambah dingin melihat tetesan air yang membatu menjadi es itu. Tapi hati kami menjadi hangat juga melihat keindahan alam. Air Terjun beku ini hanya sampai akhir bulan Februari, karena jika udara menghangat es itu akan mencair. Tempat yang hanya menjadi tujuan wisata di waktu tertentu saja, selebihnya … tidak bagus! Ini juga yang harus dipertimbangkan jika mau berwisata ke Jepang. Mau melihat apa? Waktunya kapan? Kalau mau melihat sakura ya jangan datang bulan Oktober. Harus datang awal April. Kalau mau melihat Tsurara ya harus di bulan Januari-Februari. Dan biasanya setiap tempat mempunyai website yang bisa diakses untuk mengetahui apakah sudah bisa dilihat atau tidak, lalu berapa persen kondisinya. Waktu kami datang ke Tsurara ini kondisinya 80 persen, sehingga bukanlah waktu peak 100%, yang mestinya lebih bagus lagi. Tapi cukuplah.

Misotsuchi Tsurara di Chichibu, Saitama

Air Terjun Beku Tsurara ini ada 2 tempat yang besar, dan tempat pertama memang terlihat kalah besarnya dibanding air terjun sesudahnya. Tapi tempat pertama yang lebih kecil itu yang terjadi alamiah tanpa bantuan manusia, sedangkan yang kedua lebih besar, sudah ada campur tangan manusia (mungkin dengan cara membantu meneteskan air dari atas :D)

Oh ya waktu kami di situ, kami juga melihat seekor binatang berada di atas air terjun tersebut. Ternyata seekor KAMOSHIKA yang bahasa Inggrisnya Serow yang termausk dalam genus Capricornis. Benar deh seperti kambing gunung karena kami heran bagaimana dia bisa sampai di sana, dan kok tidak takut jatuh. (Sayang aku ternyata bukan capricorn sejati, karena aku takut ketinggian hihihi).

kamoshika atau serow. The serows are six species of medium-sized goat-like or antelope-like mammals of the genus Capricornis. All six species of serow were until recently also classified under Naemorhedus, which now only contains the gorals. (Wikipedia)

Sebetulnya tempat ini mulai pukul 5 sore akan diterangi lampu sehingga lebih bagus lagi, tapi selain karena suhu udara mulai turun, kami juga takut jika semakin malam, jalanan akan beku dan kami tidak bisa pulang karena ban mobil kami tidak berantai. Jadi perhatian juga bagi yang akan ke sini, jika dengan mobil sendiri harus siap jika jalanan membeku. Yaitu dengan memasang rantai, atau meninggalkan mobil di tempat yang aman kemudian naik kendaraan umum/jalan kaki. Posisi tempat ini memang berada di bayangan gunung sehingga sinar matahari tidak mampu menembus dinginnya daerah ini. Tapi tentu saja dengan begitu bisa terjadi fenomena alam seperti Air Terjun Beku Tsurara ini.

saiboku ham restaurant dengan lukisan dindingnya

Jam 4 sore kami meninggalkan tempat ini, untuk makan daging! dan menghangatkan badan tentunya. Kami pergi ke Saiboku Farm, dekat tempat kerjanya Gen di Saitama, dan menikmati makan malam yang cukup “berat”. Tadinya kupikir kami akan sulit mendapatkan tempat karena aku tahu biasanya tempat ini penuh. Karena di sebelah peternakan ini ada tempat onsen, pemandian air panas yang cukup terkenal. Tapi aku baru tahu dari Gen bahwa onsen itu ditutup, karena ditemukan bakteri yang bisa menimbulkan penyakit. Dinas Kesehatan di Jepang memang ketat sekali sih. Begitu ada laporan penemuan sesuatu yang mencurigakan, pasti akan diperiksa dan ditutup jika memang terbukti. Aku harap pengelola bisa membuka lagi pemandian itu karena sepi sekali rasanya daerah itu meskipun aku jarang ke sana.

 

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Informasi detil:

Komatsuzawa Leisure Nouen 小松沢レジャー農園

〒368-0072 埼玉県秩父郡横瀬町大字横瀬1408 Tel 0494-24-0412・Fax 0494-24-4534

Misotsuchi no tsurara 三十槌の氷柱(みそつちのつらら)

秩父市大滝4066-2
TEL:0494-55-0707 (一般社団法人秩父観光協会大滝支部) atau websitenya di sini.

Saiboku Restaurant (Restoran dan Peternakan babi)

〒350-1221 埼玉県日高市下大谷沢546 TEL 042-985-4272

 

 

 

 

Pulang Kampung

23 Jan

Mudik atau pulang kampung. Di mana ya kampungmu?

Aku kadang heran karena sebetulnya kalau mau dikatakan aku “pulang kampung” ke Jakarta, kata-kata ini tidaklah tepat. Kurasa Jakarta bukanlah kampung, dan kita tidak mungkin juga mengubah menjadi “pulang kota” kan? Mau pakai kata mudik juga tidak tepat juga…. tapi karena tidak ada kata yang cocok untuk menggambarkan pulang ke tempat asalnya, maka kupakai saja pulang kampung.

Untuk bahasa Jepang ada istilah 里帰り Satogaeri (Sato = kampung, gaeri=kaeri = pulang), itu untuk orang Jepang. Tapi untuk orang asing biasanya dipakai 一時帰国 Ichiji kikoku (ichiji= sesaat, kikoku = pulang ke negaranya), dan ini adalah bahasa resmi yang dipakai orang Jepang kepada pelajar asing di sini.

Aku pulang kampung ke Jakarta mulai tanggal 22 Desember sampai tanggal 7 Januari yang lalu. Begitu sampai di Jakarta aku dijemput adikku yang membutuhkan 2 jam untuk sampai ke bandara, diakibatkan banjir di dekat Senayan City. Ya hari Sabtu itu banyak temanku yang terjebak banjir. Oleh karena itu sebelum pulang ke rumah, kami bersiap makan dan ke wc dulu, dan ternyata jalanan lancar jaya dan kami bisa sampai rumah kurang dari 1 jam. Padahal banyak temanku yang menyarankan lewat BB untuk nginap di bandara saja saking parahnya kemacetan hari itu. Makanya aku agak heran waktu jalan Sudirman ke arah blok M begitu lancar. Semesta mendukung nih.

Memulai “pulang kampung” tgl 28 Desember 2012 @Soeta

Setelah menghabiskan waktu memperingati Natal bersama keluarga di rumah Jakarta, tanggal 28 Desember aku benar-benar pulang kampung, atau tepatnya menemani papaku pulang kampung. Kalau aku kelahiran Jakarta, papaku kelahiran Makassar dan sebetulnya ingin pulkam bulan Oktober lalu. Aku tahu memang biasanya bulan Oktober papa pulang sekitar hari ulang tahun oma, untuk nyekar dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Terakhir papa ke Makassar masih bersama alm. mama, dan setelah mama meninggal papa menjalani pengobatan untuk jantungnya yang hanya berfungsi 20%. Jadi sudah pasti tidak diperbolehkan bepergian sendiri ke luar kota. Nah, waktu aku merencanakan pulkam Natal/Tahun Baru yang cukup mendadak ini (mendadak dalam hal keuangan juga hehehe), aku menawarkan pada papa apakah mau pulkam ke Makassar berempat dengan kami. Papaku tentu dengan gembira menyambut ajakanku sampai berkata, “Aku bisa bayar tiket pesawat sendiri kok mel…..” Tapi itu kan hadiah Natalku dan Gen untuk papa 🙂

Sebelum naik pesawat. Kiri : aku dengan baby Riku, Agustus 2003 dan Kanan: Kai dan Riku, 9 tahun kemudian. Ya aku sudah 9 tahun tidak ke Makassar.

Kupikir kapan lagi aku bisa mengajak kedua anakku mengetahui asal muasal keluarga Coutrier di Makassar. Gen sudah dua kali ke Makasar th 2000 dan tahun 2003, sehingga kurasa tidak perlu menunggu Gen untuk mengajak anak-anak ke Makassar. Sejak opa dan omaku meninggal (th 2000 dan th 2004), meskipun masih banyak saudara di Makassar, agak sulit meluangkan waktu dan biaya untuk pergi ke sana. Dan sebetulnya dengan biaya yang sama aku bisa saja ke pulau Bali ikut adikku yang memang setiap tahun berlibur ke Bali. Bali bisa menunggu, tapi Makassar kurasa hanya bisa kudatangi sekarang ini.  Merencanakan perjalanan ke luar kota memang harus banyak perhitungan. Dan aku beruntung masih bisa mendapatkan tiket pesawat dan hotel dengan harga murah meskipun jadwalnya sudah sekitar akhir tahun yang biasanya padat pengunjung.

anak lanangku, dengan sukarela menjaga opa dan membantu membawakan ransel opa. I’m proud of you son!

Kami berangkat dari rumah pukul 4 pagi, untuk naik pesawat Garuda yang take off sekitar jam 6. Kami hanya membawa satu koper yang berisi pakaian ganti untuk kami berempat. Sedapat mungkin travel light, dengan hanya membawa satu bagasi untuk cabin. Riku yang biasanya membawa ransel, kali ini tidak membawa. Dan dia yang langsung menawarkan diri untuk menggendong ranselnya Opa. Memang aku sudah beritahu dia untuk memperhatikan opanya karena opanya tidak boleh capek, tapi tak kusangka dia punya keinginan sendiri untuk membawakan ransel opa. Tanggung jawab yang besar karena ranselnya berisi uang :D. Sebelum berangkat, waktu memesan dua kamar hotel, aku juga sudah katakan pada Riku bahwa dia satu kamar dengan Opa. Dengan khawatir dia berkata, “Kalau ada apa-apa dengan opa, aku musti gimana?” “Ya cukup telepon ke kamar mama dong… nanti mama usahakan supaya kamarnya sebelahan. Paling  juga kamu tidak dengar apa-apa, langsung mlempus tidur duluan 😀

Bandara Hasanuddin yang baru… begitu turun dari pesawat

Tapi begitu kami sampai di bandara Hasanuddin yang baru itu, kami tidak langsung ke hotel. Kami menuruni pesawat lewat belalai dan bisa melihat bangunan megah itu dari luar. Yang aku masih tidak bisa mengerti, mengapa di bandara Cengkareng (waktu berangkat) kami harus turun dan naik shuttle bus sampai ke dekat pesawat, lalu naik tangga. Memang sih anak-anak senang bisa melihat badan pesawat dari dekat, tapi amat sangat tidak menyenangkan bagi mereka yang sulit berjalan. Aku jadi teringat dulu opa dan oma  Makassar (sebutan kami untuk opa dan oma pihak papa) kalau mau ke Jakarta, pasti kami minta bantuan staff garuda untuk menyediakan kursi roda. Perjalanan domestik di Indonesia amat tidak menyenangkan bagi lansia dan mereka yang sulit berjalan. Tidak barrier free tentu saja, tapi jika ada belalai langsung dari gate ke pesawat paling sedikit mempermudah mereka yang sulit berjalan. Papa yang jantungan sebetulnya tidak boleh naik turun tangga, sehingga aku khawatir sekali waktu dia harus naik tangga masuk pesawat. Ah, ini suatu kenyataan yang harus aku hadapi bahwa lansia di Indonesia memang tidak didukung untuk bepergian, dan harus berpikir banyak kali sebelum mengajak lansia bepergian di dalam negeri. Jauuuuh sekali dengan pelayanan bagi lansia dan penyandang cacat di Jepang. So, lakukanlah perjalanan jauh sewaktu engkau masih sehat (dan muda)! (Dan aku bersyukur kampungku di Jakarta, at least masih bisa merasakan pelayanan untuk orang asing 😀 Pakai belalai dan eskalator!)

Phinisi di bandara Hasanuddin, 28 Des 2012

Karena masih pagi (jam 10 pagi euy…. kalau di Jepang itu sudah siang hahaha) , kami santai dulu pergi ke WC dan berfoto di depan perahu Phinisi di lobby kedatangan. Sambil papa menelepon orang yang akan menjemput kami. Kami beruntung sekali karena disediakan mobil selama berada di Makassar oleh teman lama papa, Om Benny. Padahal om Bennynya sendiri berada di Manado. Aku sudah kenal om Benny ini sejak masih anak-anak karena setiap kami pergi ke Makassar pasti kami dijamu oleh Om Benny. Dan aku masih ingat “tangan kanan”nya om Benny di Makassar, Om Ari yang selalu bertugas mengantar kami. Setelah mengambil koper kami keluar bandara. Karena papa mau minum obat, kami mencari teh tarik. Memang papa penikmat teh sejak dulu. Jaman aku pertama kali minum kopi di usia 12-an, papa sudah berganti haluan dengan minum teh. Dan akhir-akhir ini papa kerajingan dengan teh tarik. Ada sedikit insiden di suatu toko gerai donut terkenal DD, karena itu toko yang terdekat begitu kami keluar pintu kedatangan. Jadilah papa minta teh susu di situ, yang dijawab tidak ada, adanya teh biasa. Dan papa harus memilih salah satu tea-bag yang tersedia. Aku sendiri tidak tahu awal mulanya apa, tapi aku lihat di daftar menunya ada tea latte, jadi aku bilang, “Loh ada tea latte kan? Itu kan teh susu… Kalau itu ada, kenapa tidak sediakan itu saja?” Dan dijawab ada! Papa langsung marah dan bilang, “Saya tanya ada teh susu, kamu bilang tidak ada. Sekarang bilang ada. Kalian niat jualan ngga sih? Ayo kita pergi dari sini!” Hmmm mulai deh. Memang aku tahu pelayanan di Indonesia itu membutuhkan kesabaran, dan tidak cocok bagi orang-orang yang mobilitasnya (bisa dibaca: tempramen) tinggi 😀 (Makanya aku tidak kerasan tinggal di Indonesia :D). Teh susu kok bisa beda dengan Tea Latte? Jangan kasih nama asing deh kalau tidak tahu artinya 🙂 Akhirnya kami pindah ke toko lain, yang justru malah menyediakan teh tarik dengan tempat duduk yang lebih nyaman…. Welcome home papa!

Setelah minum yang hangat, kami bersiap untuk menuju tujuan pertama di kampung halaman Papa/Opa. Bantimurung!

Bantimurung

 

Canggih!

10 Jan

Sudah 20 tahun aku tinggal di Jepang, dan melihat banyak kecanggihan orang Jepang dan terbiasa dengannya. Ada satu hal yang membuat aku sadar waktu Natal kemarin pulkam sebentar. Yaitu waktu di Bandara aku ke wc dan mau cuci tangan. Loh kok tidak keluar airnya? Tentu saja! Karena aku hanya mengulurkan tangan di bawah keran, tanpa memutar keran. Terbiasa di Jepang hampir semua keran di fasilitas umum itu otomatis. Memakai sensor sehingga air akan keluar hanya dengan mendekatkan tangan ke keran. Dan saat itu aku berkata, “Welcome to Jakarta mel”.

Hari ini mau posting pendek saja deh, masih capek pulang kerja pertama di Tahun Baru. Tidak terbiasa jalan lagi di dalam udara dingin, sehingga badan meriang dan kepala pusing. Apalagi katanya hari ini angin memang kencang dan dingin di Tokyo, dengan prakiraan max 8 derajat. Kalau di bawah sinar matahari sih masih mending….

Kecanggihan yang ingin kuperkenalkan kali ini adalah usaha merubuhkan sebuah hotel di pusat Tokyo. Jika teman-teman pernah perhatikan di televisi. Biasanya orang merubuhkan bangunan pasti dengan memakai alat berat seperti shovel car, atau kalau bangunannya besar memakai bahan peledak…. boooommmm!

Nah, di daerah Akasaka ada sebuha hotel yang terkenal dengan nama AKAPURI, singkatan dari Akasaka Prince Hotel. Aku pernah beberapa kali mengikuti acara di sana, dan hotel ini memang termasuk hotel tua karena dibuka tahun 1955. Hotel berlantai 40 setinggi 140 meter itu sesudah Gempa bumi Tohoku pernah menampung 788 pengungsi, sampai ditutup tanggal 30 Juni 2011. Tentu saja hotel ini ditutup karena sudah merasa “kuno” dan di tempat yang sama akan dibangun komplek apartemen/hotel yang lebih canggih lagi. Lokasinya memang bagus sih.

Nah masalahnya bagaimana merubuhkan hotel dengan 40 lantai, tanpa memakai bahan peledak? Nah di sini canggihnya. Jadi, perusahaan Taisei yang bertugas merubuhkan hotel ini, memakai cara unik, yaitu “memotong” bagian lantai atas tiap 10 hari 2 lantai. Sehingga tingginya akan menciut, sampai yang tertinggal adalah lantai teratas dan lantai bawah dan … habis semua pada bulan Mei 2013. Dimulai tanggal 13 November, pada tanggal 8 Januari kemarin sudah berkurang 30 meter tingginya dari 140 meter hotel aslinya.

Cara “pemotongan” lantai ini dilaksanakan karena ingin mengurangi debu dan suara yang keluar dari pembongkaran bangunan yang begitu besar (mengurangi polusi). Bahkan kalau tidak memperhatikan atau tidak tahu proyek ini, orang yang lewat di dekatnya bahkan tidak sadar bahwa sebetulnya hotel itu sedang menciut. Memang sih kalau memakai bahan peledak, resikonya besar sekali karena letaknya di pusat kota. Canggih ya? Cuma pasti biayanya tidak sedikit tuh…..

(Sumber data dan foto dari http://ajw.asahi.com/article/behind_news/social_affairs/AJ201301090049)

 

 

Rasa Baru & Edisi Terbatas

9 Jan

Horreee…aku sudah kembali ke rumah di Tokyo! Dan berarti kembali pada kesibukan utamaku sebagai… pembantu dan ojek sepeda 😀 Banyaaaaak sekali cerita yang akan aku tulis, tapi tentu saja tidak bisa sekaligus. Juga kadang aku bingung untuk mulai dari mana. Jadi sabar ya hehehe.

Senin, 8 Januari 2013. Sambil membereskan koper, aku menyiapkan makan malam. Karena siangnya sudah makan rendang, bingung juga malam hendak masak apa. Di kulkas tidak ada bahan yang cukup. Sedangkan Riku maunya makan sushi…. Tapi aku malas keluar rumah karena dingin, apalagi Gen yang sudah kurang tidur karena harus menjemput kami jam 7 pagi di Narita. Jadi aku bongkar koper deh, dan menemukan ini:

Indomie Cabe Ijo

Memang aku membeli Indomie rasa baru ini pada hari Minggu, sehari sebelum aku pulang. Tidak seperti biasanya aku belanja cukup sedikit untuk ukuranku. Karena aku tidak mau menambah jumlah koper yang ada, meskipun sebetulnya aku masih bisa sih membawa 1 koper lagi (=23 kg lagi). Belanja secukupnya saja. TAPI aku mengambil 20 bungkus Indomie rasa Cabe Ijo karena si @Pitoist bilang jumlah yang beredar sedikit sehingga agak sulit carinya. Maksudku, aku mau coba dulu sebelum masuk koper, kalau enak masuk semua, tapi kalau tidak enak ya aku tinggal saja di rumah Jakarta 😀 Jadi begitu pulang dari Carrefour aku minta mbak Anna, asisten rumahku itu untuk masak. Dan rasanya not bad lah. Demikian pula kesan Gen waktu semalam aku masakkan satu bungkus. “Pedes yaaaa!” Kata dia. Cuma aku agak ragu dengan warna “ijo” nya si cabe, kok sepertinya tidak wajar ijonya hehehe 😉 . Yah cukuplah untuk kali ini aku hanya membeli rasa yang baru ini saja, padahal biasanya aku beli berbagai macam rasa loh.

Memang setiap perusahaan yang inovatif biasanya mengeluarkan rasa-rasa baru untuk menarik pembeli lebih banyak lagi. Semakin banyak terjual semakin untung bukan? Tapi kadang kala penuh resiko karena bisa saja bukannya malah laku, tapi merugi karena onglos produksi lebih mahal. Nah, tadi malam aku terbangun pukul 1 malam JST dan lapar. Jadi aku buat sup cangkir yang diberikan ibu mertua. Di kotaknya tertulis Clam Chowder, tapi waktu aku masukkan air panas… loh kok warnanya oranye seperti sup tomat? Mustinya Clam Chowder itu kan putih. Rupanya yang terambil olehku itu adalah extra, tambahan yang dimasukkan dalam kotak dengan rasa sup krim udang. Mungkin perusahaan itu sedang mencoba mempromosikan dengan memberikan sample rasa sup yang baru diproduksi. Rasanya? Hmmm aneh sih, mungkin karena aku tidak begitu getol makan udang ya. Yang pasti, meskipun dijual, aku belum tentu mau membelinya.

sup krim udang

Ada banyak rasa baru dalam produk-produk makanan di Jepang (tentunya di Indonesia juga). Aku biasanya membeli untuk mencoba. Kalau enak ya beli lagi, kalau tidak enak ya stop sampai di situ saja. Aku memang suka mencoba rasa-rasa baru, selama masih edible 😀 Dan sering kali rasa-rasa baru itu dijual untuk jangka waktu tertentu saja, limited edition 期間限定 kikan gentei. Edisi terbatas. Atau ada juga yang dikeluarkan oleh daerah-daerah (perfektur di Jepang) tertentu saja, sehingga kalau mau mencoba harus membeli di daerah itu, atau minta tolong orang belikan, atau lewat internet. Di sini disebut sebagai Chiiki Gentei 地域限定. Dan memang orang Jepang itu suka sekali memburu makanan/barang yang terbatas-terbatas seperti ini. (Sepertinya Imelda sudah mulai jadi orang Jepang :D)

Kitkat limited edition (seasonal and regional)

Aku sempat membeli beberapa kitkat dengan beraneka rasa lewat internet. Ada yang edisi terbatas musim dan ada yang terbatas daerahnya. Memang perlu modal besar untuk mengumpulkan rasa-rasa ini karena satu kotak berisi 12 mini itu harganya sekitar 100.000 rupiah. Dan aku berikan untuk saudara-saudara kandungku dan sahabat terdekat saja masing-masing satu mini berbagai rasa. Limited person only. Untuk kalangan terbatas deh 😀 Aku sendiri belum coba semuanya, meskipun aku bawa pulang kembali satu set. Waktu aku tanya apa Gen mau coba dia bilang, “Aku lebih suka yang classic!”. Classic = coklat tanpa tambahan rasa-rasa lain alias coklat (bitter sweet) tok! … hmmm untuk coklat memang kami  berbeda :D. Mau tahu coklat yang paling aku suka? Marmalade, kulit jeruk yang dilapis coklat bittersweet! (Dan ini mahal harga per ons nya, jadinya jaraaaang sekali aku bisa beli 😀 )

Tapi Gen sangat setuju waktu aku membeli limited edition yang ini. Perangko dan kartu pos khusus peringatan 60 th Anniversary All Nippon Airways (ANA) yang hanya dijual di atas pesawat. Cukup mahal, tapi… kapan lagi kan? Belum tentu tahun ini aku bisa naik ANA lagi. Untuk menambah koleksiku dan mungkin bisa dijual mahal kalau ANA ulang tahun yang ke 100 😀 (kalau aku masih hidup atau aku hibahkan ke Riku saja 😉 )

Perangko terbatas

Rasa baru apa yang sedang kamu sukai? 😉

 

 

Tukang Sayur Modern

20 Nov

Kemarin aku pasang link di FB ku sebuah lagu dari Matsuzaki Shigeru yang berjudul “Ai no Memori” (Kenangan Cinta). Dan menambahkan info bahwa tgl 19 November itu adalah hari ulang tahun penyanyi ‘jadul’ tersebut, yang kubilang seperti Pance nya Jepang. Aku juga baru tahu soal penyanyi itu, apalagi bahwa kemarin itu hari ulang tahunnya. Aku tahunya dari email tukang sayurku 😀

Dan kemudian sahabatku ini menulis komentar, “Wah keren, tukang sayur punya email”. Hmmm menurutku, supir bajaj dan tukang becak di Indonesia malah lebih keren, punya HP dan bisa sms-an :D. Di Jepang memang hampir setiap orang punya HP dan HP di Jepang sampai dengan tahun lalu tidak bisa sms, tapi bisa kirim email. Setiap HP di Jepang bisa internet-an, asal membayar paket internetnya. Tapi kupikir si Tukang Sayurku ini tidka mengirim emailnya dari HP tapi dari PCnya 😀

Sebetulnya kalau dikatakan Tukang Sayur, orang Indonesia akan beranggapan seperti bapak-bapak yang dorong gerobak berisi sayuran dari rumah ke rumah. Meskipun di Jepang ada juga tukang sayur yang membawa sayur dengan mobil pickup (sedikit), yang kumaksud dengan Tukang Sayur di sini adalah si pemilik toko sayur dekat stasiun di rumahku. Nama tokonya Tokoro Seika, dan merupakan toko sayur termurah di daerah kami. Memang kadang mutu sayurnya jauh dibawah standar, tapi yang penting murah 😀 Mungkin bisa disamakan dengan toko grosir sayuran. Dulu aku tidak begitu suka belanja di situ karena sayurnya kelihatan tidak segar, dan buahnya kecut-kecut. Kemudian aku pergi ke toko sayur murah, saingannya tidak jauh dari situ. Eeeeehhh ternyata lama kelamaan toko sayur saingan ini mutunya anjlok dan akhirnya tutup! Jadilah aku belanja agak jauh, menyeberang rel ke toko sayur murah lainnya.

Tapi si Tokoro Seika ini kemudian memperbaiki mutu sayurannya, dan dia memebuat gebrakan baru. Yaitu menarik pelanggan dengan membuat harga khusus anggota. Caranya, dengan langganan email yang setiap pagi sekitar pukul 9:30 (toko sendiri buka jam 10:00) . Dia sediakan QR code, atau kalau HP nya tidak bisa baca QR Code, dia memberikan alamat emailnya untuk pendaftaran anggota. Setiap pagi itu dia akan mengirimkan email kepada anggota, berisi harga-harga khusus berbagai jenis sayuran hari tersebut. Jadi misalnya Tomat 3 biji 200 yen, Jamur Eringi 80 yen, telur 150 yen… Jadi waktu kami membaca emailnya, kami malah bisa tahu sayuran apa yang bisa kami beli hari itu, atau bahkan menu masakan dengan sayuran tertentu. Kalau tomat sedang murah, kami bisa membuat menu masakan dengan memakai tomat, dsb dsb. Kurasa kreatif sekali cara ini. Juga kami bisa membandingkan harga dengan toko lain tentunya.

Nah, sebagai tanda bahwa kami anggota, setiap hari dia akan menentukan Aikotoba 合言葉, sandi hari itu. Kebanyakan adalah nama bunga atau bebatuan yang merupakan bunga/bebatuan ulang tahun hari itu. Berkat pilihan bunga harian itu pula aku sempat mencari website birthday flower, dan selalu mengecek bunga apa hari itu. Kalau aku punya fotonya, aku pasang dan beri nama, termasuk nama latinnya. Untuk bebatuan aku tidak begitu perhatian. Kadang dia juga memberikan hari peringatan atau nama atlit yang baru menang, atau ya itu artis kesukaannya yang sedang berulang tahun.

Setiap aku belanja ke tokonya, meskipun dia sudah tahu aku anggota (mungkin satu-satunya gaijin, orang asing yang suka belanja di situ), aku selalu mengucapkan kata sandi hari itu. Dan dia selalu berterima kasih karena aku selalu perhatikan kata sandinya, padahal katanya kalau lupa bisa saja sebutkan “Anggota”. Dan aku suka memujinya karena memilih kata sandi yang bagus dan aneh, dan menjadi pelajaran untukku. Kemarin aku bilang, “Terima kasih ya sudah kasih tahu nama Matsuzaki Shigeru itu, karena ternyata saya pernah lihat orang itu dan tahu lagunya. Saya googling dan coba dengar lagunya”
“Wah, kamu sampai googling? Terima kasih ya. Ya saya suka dia. Hebat ya jaman sekarang, mau tahu info langsung googling saat itu juga bisa tahu informasinya. Kalau dulu kan mesti cari di perpustakaan dan butuh waktu. Canggih ya jaman sekarang”.
Dan aku rasa tukang sayurku ini juga canggih, karena bisa memberikan info padaku ini hehehe.

Sssttt cara dia memberikan harga anggota sepertinya bisa ditiru ya? Bagaimana menurutmu?