Oct
22
Filed Under (JADUL ・ 懐古 ・ Old times) by imelda on 22-10-2008

Yah pasti ada deh…. Akhir-akhir ini saya baca banyak teman blogger yang menulis tentang kondisi perumahannya. Ada soal pagar, keamanan, banjir dsb.  Saya akan bercerita sedikit tentang rumah saya di Tokyo.

Waktu pertama datang ke Jepang, saya tinggal bersama keluarga Jepang yang kaya. Rumahnya terletak di Meguro distric, dekat dengan kota anak muda Shibuya (kira-kira 15 menit) dan Harajuku (20 menit). Konsekuensinya tentu saja harga eceran di sekitar perumahan itu agak mahal.

Setelah 4 tahun saya tinggal di situ, dan nenek yang selalu menghalangi saya untuk pindah itu meninggal, saya pindah ke apartemen atau tepatnya mansion. OK saya jelaskan apa bedanya apartemen dan Mansion di Jepang. Apartemen itu mungkin lebih seperti rumah kos-kosan di Indonesia. Paling tinggi berlantai 3, bentuknya sederhana dan biasanya terbuat dari kayu. Sedangkan mansion bentuknya lebih berupa gedung tinggi di atas 4 tingkat dan terbuat dari beton. Mansion yang lama biasanya tidak ber-lift. Nah kalau yang disebut apartemen di Jakarta itu lebih dekat ke mansion atau yang mewah ke condominium (biasanya di Tokyo bertingkat 20-an dan terletak di daerah pusat kota sehingga mahal sekali). Nah sesudah 4 tahun itu saya pindah ke mansion lama yang letaknya sekitar 2 menit berjalan kaki dari rumah awal. Menempati sebuah pojok di lantai 4, dengan 2 kamar tidur, dapur, living (2LDK) . Saya memilih mansion ini karena Tina adik saya akan datang ke Tokyo dan menemani saya tinggal bersama. Karena mansion itu manison tua jadi tidak ada lift, olahraga terus setiap hari naik turun tangga 4 lantai. Belum lagi kalau ada yang ketinggalan.

Kemudian 9 tahun yang lalu, karena saya akan menikah, saya pindah ke mansion yang sekarang yang masih di dalam Tokyo tapi lebih ke utara. Maksudnya supaya perjalanan Gen dan saya, tidak terlalu jauh. Gen menjauhi pusat kota, sedangkan saya kerjanya lebih banyak di dalam kota. (Yang enak Gen bisa duduk di kereta karena arus balik, sedangkan saya …harus berjuang dalam rush hour).

Pojok yang saya tempati ini terletak di lantai 4 dari 5 tingkat, dan persis terletak di samping lift. Saya suka mansion ini karena serba putih dengan teras yang lebar dan memanjang untuk 3 kamar (3LDK). Saya kurang suka interior berwarna coklat karena gelap kesannya. Dindingnya juga banyak dan luas, sehingga seluruh dinding saya pasang rak buku sampai langit-langit (susyah kalau dua-duanya suka buku + CD kerjaan saya) Jadi hiasan dinding saya adalah buku, jangan harap ada hiasan lain…. palingan frame foto.

Nah kejadiannya tanggal 10 Januari 2002. Mulai sekitar tgl 20 Desember 2001 sampai 6 januari 2002, saya berwisata (sendiri tanpa Gen) ke Munchen. Ceritanya saya dan Tina akan bergabung dnegan papa dan mama melewatkan natal di Munchen, tempat Novi (adik saya no 2) +suami dan 1 anak tinggal di Munchen untuk bekerja waktu itu. Dari Munchen, kami ke Amsterdam untuk reuni dengan keluarga di sana (menikmati pemakaian EURO yang pertama) lalu tanggal 6 Januari saya kembali ke Tokyo. Nah tanggal 10 januari itu saya harus mengajar seharian sampai malam. Tiba-tiba sebelum saya pulang, petugas administrasi di sekolah bahasa menyapa saya dan berkata, “Suami Anda menelepon”. Hmmm ada apa? Begitu saya telepon Gen, yang dia tanya hanya satu,

“Kamu bawa laptop kamu hari ini?”

“TIdak…”

” Hmmm ok… yah… laptop itu tidak ada….”

“What do you mean with tidak ada?”

“Ya dicuri… sudah kamu pulang saja cepat-cepat”.

Langsung terbang pulang, dan waktu saya sampai di rumah, saya menjumpai rumah saya berantakan… bener-bener berantakan. Polisi sudah tidak ada, karena Gen sudah menyelesaikan laporan dsb. Well, kalau sering nonton film action pasti tahu deh kondisi rumah yang dibongkar oleh penjahat untuk mencari sesuatu. Tapak kaki bersepatu (huh seballlll, padahal di Jepang kalau masuk rumah HARUS copot sepatu), kertas-kertas buku semua di jungkirbalikkan, semua laci tertarik dan dia buang isinya, semua amplop dirobekin dipikir mungkin ada uangnya…. padahal tidak ada…. edannya lagi kasur di kamar tidur diacak-acak… tas yang berisi satu set sendok garpu yang saya beli di Jerman dibongkar… dia pikir tas itu isi uang mungkin. …. pokoknya heboh…dan saya hanya bisa bengong… speechless kalau mau niru katanya om nh18.

So, apa saja yang diambil? laptop, 2 celengan (yang cukup banyak isinya…. abis khusus koin 500 yen), perhiasan (anehnya dia tahu yang mana yang emas , mana yang bukan… dia pilih booooo), walkman dan rupanya barang itu dia masukkan ke dalam satu tas handbag milik Gen.  Ya sudah apa boleh buat, kita laporkan dan minta ganti asuransi saja. Tiba-tiba Gen bilang, “Sh*t”… kenapa? Rupanya rokok Malboro 2 sloss yang saya beli di Duty Free sebagai oleh-oleh untuk dia, diambil juga oleh si pencuri… Saya bilang, alahhhh gitu aja… kan cuman tabacco…

But saya kena juga ketika keesokan harinya saya mau mencari dus-dus coklat yang saya beli dari Belanda untuk hadiah pada murid-murid… loh kok tidak ada? Ternyata sodara-sodara, ROKOK dan Coklat  itu diambil oleh si pencuri… SEBAAAAAAAAAAAL sekali… rasanya waktu itu mau nangis aja. Masak sih kamu ambil juga yang harganya cuman segitu itu… hiks kesaaaal. Dan Gen dengan kalemnya bilang,”So, you know my feeling kan? waktu tau rokok saya diambil? ” Huh… Mengerti sekali. Gomennasai.

Dan ternyata tanggal 10 Januari itu di mansion saya yang terdiri dari 25 pojok, ada 2 pojok lagi yang kemasukan pencuri dan ada 20-an rumah di sekitar mansion kami juga yang menjadi korban. Jadi, pencurinya memang berkelompok, masing-masing punya targetnya. Dan diperkirakan bukan orang Jepang (Kalau orang Jepang tidak bisa menilai value emas, permata katanya… dan caranya either lebih vulgar atau lebih rapi) Dan saya menganggap gang penjahat ini seakan mengejek polisi. Karena tanggal 10-1 kalau dibaca secara Jepang akan terbalik 1-10 , yang mana 110 adalah dial khusus untuk polisi. APES deh emang.

Tapi dari musibah ini, saya bisa mengambil hikmah yaitu belajar mengenai asuransi Jepang. Ya, ternyata computer laptop, walkman…semua alat listrik portable tidak dicover oleh asuransi. Nangis deh. Mana Gen orangnya jujur sekali, jadi semua harganya dilaporkan dengan benar, tanpa ditambah-tambah… hiks. Yang diganti hanya uang tunai maksimum 200.000 yen (meskipun yang diambil lebih dari itu), lalu 80% dari harga perhiasan. Setelah kejadian itu saya banyak mendapat nasehat dari teman-teman untuk melebihi laporan kerugian perhiasan daripada melaporkan kehilangan uang tunai… (semoga petugas asuransi ngga baca ya hihihi… dan saya tidak tahu apakah taktik ini bisa dipakai di Indonesia atau tidak). But bagi saya sudah terlaporkan, sehingga saya harus bisa menerima bahwa komputer saya hilang, dan lumayan merugi. (Komputer hilang ya sudah…. tapi data-datanya??? untung saya secara rutin selalu backup data komputer saya).

So, siapa bilang Tokyo aman? ada juga kejadian kok pencurian di sini. Terutama untuk rumah yang sering ditinggal pemiliknya. Biasanya penjahat akan mengintai kebiasaan pemilik rumah, sehingga dia tahu kapan waktu paling aman untuk masuk dan beroperasi. Kejahatan ini disebut AKISU (pengintip rumah kosong) Hmmm untung waktu itu saya kerja, kalau tidak? mungkin sudah dibunuh ya? Karena itu saya menanggapi kejadian itu sebagai “buang sial” di tahun 2002. (kalau mau  lebih berpikir mistis lagi, waktu itu saya berusia 33 tahun. 33 tahun adalah tahun sial untuk wanita di Jepang. ) Dan Riku lahir Feb 2003….

Oct
05

Salah satu arbaito (pekerjaan sambilan) yang pernah saya kerjakan selama di jepang adalah menjadi model (waktu masih kurus sihh hihihi).

Nah kalo jadi model…. hmmm misalnya model kacamata…. ya ngga usah buka baju dong ya. Atau model jam tangan…  Yang musti buka baju ya pasti model baju dalam ya. Untung aku baru coba jadi model kacamata aja. Jadi difoto bagian muka aja kan hehehe.

Tapi biasanya kalau bilang model lukisan…langsung orang berkonotasi modelnya harus telanjang. Sebetulnya wajar sih ya kalau punya persepsi gitu. Karena hampir di setiap adegan yang menunjukkan orang belajar melukis pasti modelnya berbugil-bugil ria ya.

Nah sebenarnya saya pernah menjadi model lukisan. BUT…. justru harus pake baju tuh. Udah gitu yang melukis ibu-ibu sudah tua lagi (kuciwa deh… hehehe). Ceritanya suatu hari, saya dapat telepon dari KBRI, apakah mau menjadi model lukisan, soalnya ada yang cari ke KBRI. Memang wanita Indonesia yang muda (taelah) waktu itu langka sih… dan kebetulan waktu itu saya masih ada waktu nganggur jadi saya ok-in aja. Dan rupanya setelah saya telepon si pelukis dia minta saya bawa baju tradisional indonesia, karena dia mau menggambar orang asing dan alangkah baiknya kalau pakai baju tradisionalnya. Rupanya dia harus menuliskan proses  melukis orang, terutama yang non jepang. Buku itu terbitan NHK Publishing, yang disunting oleh pelukis kenamaan Jepang Hirayama Ikuo. Dan yang meminta saya untuk menjadi model adalah Shinozaki Mihoko, yang merupakan pelukis wanita anak-buah (desshi) dari Hirayama Ikuo.

Judul bukunya “Melukis Manusia” (人物を書く) dari seri teknik Kursus Melukis Lukisan Jepang (Nihonga). Nah sepertinya saya harus menjelaskan sedikit di sini bahwa Nihonga, Lukisan Jepang, itu memakai cat dan kanvas khusus. Bukan cat minyak, tapi cat yang terbuat dari serpihan mineral seperti emas, perak atau besi, tembaga lalu dicampur juga dengan kerang, tulang atau serangga malah sehingga kasat dan mempunyai warna yang terbatas. Yang pasti hasil lukisannya berat! Mungkin lebih tepat kalau Anda membayangkan lukisan relief di atas kanvas. Dan yang menarik, biasanya Nihonga ini memakai warna emas untuk point-point yang ingin ditonjolkan.  Kalau ada kesempatan melihat Nihongga, coba sentuh dengan jari, dan akan dirasakan bahwa memang seret dan seperti relief.

Jadi, sekitar 3-4 kali saya harus datang ke atelier (studio) sang pelukis itu, dan pakai baju kebaya (untung ngga usah di sanggul) dan…. duduk jadi patung. Sumprit deh…(aku ngga biasa pake kata sumprit euy….) ngga dua kali deh aku mau lagi jadi model. Bayangin saja … musti diam tak bergerak. Orang kayak Imelda gini, di suruh duduk diam? mana bisa sih. Belum lagi kalo abis makan siang, rasanya pengen bobo aja. (Udah gitu bayarannya dikit lagi hihihi, tapi yah demi negara Indonesia …taelah). Dan aku juga tanya kenapa ngga difoto aja sih? Tapi memang lain sih ya, pencahayaan waktu melihat langsung dan dengan hasil foto. Perlu pengorbanan yang tidak sedikit baik dari model dan pelukis nya untuk mendapatkan hasil yang bagus dan maksimum.

Setelah buku itu selesai, saya membelinya untuk kenang-kenangan. (日本画技法講座「人物を書く」平山郁夫監修・NHK出版:2500円)

… dan ketika si pelukis itu menelepon lagi untuk minta saya kembali menjadi modelnya saya tidak tega untuk mengatakan tidak!. Untung kali ini karena dia harus bayar sendiri, saya cukup satu kali datang dan dia banyak memotret pose-pose saja, untuk kemudian dipadukan dalan selembar kanvas berukuran 2mx2m. Hasil lukisannya dipamerkan di Museum Ueno dalam pameran Nihonga.

So, ada juga pekerjaan menjadi model lukisan yang tidak harus berbugil ria….hehhehe.

Aug
30

Wah saya terkejut waktu membaca bahwa tanggal 31 Agustus ini akan diadakan Pameran Pendidikan Jepang 2008. Kenapa? Karena saya tidak mendengar beritanya, atau selentingannya, atau bau-baunya sedikitpun. Apa mungkin karena saya tidak baca koran Indonesia lagi ya? Anyway saya berharap akan banyak datang pengunjung ke pameran pendidikan tersebut. Dan semoga, pengunjung tidak disambut dengan board NARUTO di pintu gerbang (entah kenapa saya muak melihat Naruto dimana-mana. hey…. Jepang bukan Naruto saja!!!) Pelajari dong di belakang Naruto nya.

Saya punya kisah tersendiri dengan Pameran Pendidikan Jepang ini. Di tahun 1992, juga diadakan Pameran Pendidikan Jepang tapi bukan di tempat bergengsi seperti sekarang. Tempatnya di Universitas Dharma Persada yang di samping Komdak itu (dulunya). Universitas yang kecil, ruangan kelas kecil, pamerannya dihadiri paling oleh 20-an universitas Jepang. Berpanas-panas karena tidak ada AC waktu itu. Diselenggarakan selama 2 hari kalau tidak salah. Dan pengunjungnya sedikit (bisa bayangkan mungkin class meeting sekolah lebih banyak pengunjungnya), mungkin juga karena pamor Jepang di tahun itu belum semarak sekarang ini.

Tapi Pameran Pendidikan Jepang 1992 itu (mustinya sih sekitar Februari 1992) yang mengubah jalan hidup saya menjadi seperti sekarang ini. Dengan membawa beberapa berkas seperti transkip nilai, sertifikat ujian bahasa Jepang dll dalam sebuah map, saya datangi pameran itu. Sebelum pameran memang saya sudah mengadakan korespondensi dengan seorang dosen di Tokyo (Rikkyo Univ) tapi karena universitas swasta mahal, saya pikir saya bisa cari universitas lain yang lebih murah dan mempunyai bidang yang ingin saya perdalam.

Adalah papa yang menggerakkan saya untuk mengumpulkan informasi mengenai melanjutkkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena pada tahun 1989-1990, Papa dipindahtugaskan ke London, untuk menjadi kepala perwakilan Pertamina wilayah Eropa yang berpusat di sana. Dan waktu itu saya sedang mencari tema skripsi, sehingga waktu berkunjung ke sana, saya sempatkan datang ke University of London, tepatnya ke SOAS (School of Oriental and African Studies) dan ke toko bukunya dan menemukan buku yang bisa menjadi sumber pustaka utama penulisan skripsi saya. Karangan R.P. Dore “Education in Tokugawa Japan” (masih ada tuh harganya 32 pound…. mahal euy). Dan ternyata setelah saya mencari informasi, juga papa mencari informasi ke teman-temannya di London… diketahui bahwa SOAS adalah sekolah yang terkenal jika Anda mau mempelajari Asia dan Africa. Mungkin aneh ya kok mau mendalami Jepang tapi di negara lain. In some cases, bahkan lebih baik mendalami pengetahuan ttg suatu negara bukan di negaranya. Contohnya saja, jika Anda mau mendalami sejarah kebudayaan Jawa, belajarlah ke Leiden University, karena sumber dokumen mereka mungkin jauh lebih banyak daripada di Jawa nya sendiri (Dan ada memang teman saya dari sastra Jawa yang ambil master di Leiden). Juga saya pernah disarankan oleh Prof Kurasawa untuk mengambil PhD di Cornell Universiy….. she said go internasional… selain dari kenyataan bahwa mengambil PhD untuk bidang humaniora di Jepang itu amat sangat sulit.

Jadi papa menganjurkan saya supaya cepat menulis skripsi, dan mendaftar saja ke SOAS, mempersiapkan diri untuk TOEFL dsb. Dan dengan tinggal bersama keluarga di London tentu akan lebih murah daripada saya pergi sendiri ke Jepang. But rencana memang tinggal rencana karena tidak lama kemudian Papa harus kembali ke Indonesia sebelum waktu tugasnya selesai, bukan karena tidak becus menjalankan tugasnya di London, tapi karena dia dipanggil oleh Bapak Emil Salim untuk menjadi wakilnya di Bapedal, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang akan dibentuk. Dalam segi promosi, memang papa langsung menjadi eselon satu, dan sebagai orang dari Pertamina yang dipinjamkan istilahnya, pengangkatan ini juga merupakan suatu blessing in disguise karena dalam 2 tahun lagi papa harus pensiun. Padahal dengan pengangkatan ini, seakan menjadi perpanjangan pensiun. Papa selalu berkata, “Bersyukurlah atas apa yang ada” (karena itu saya setuju ungkapan Pak Oemar “seize the day”)

So, dengan kepulangan papa ke Jakarta, mimpi saya untuk tinggal di London, menimba ilmu di kampus terkenal University of London, menikmati dinginnya dan muramnya London di taman-taman kecil yang ada di sekitar rumah, membayangkan kehidupan Sherlock Holmes, Shakespeare, or Agatha Christie, menikmati british garden dengan tea time nya, menyusuri Hyde Park dan sesekali berbaring di atas rerumputan yang menghampar di sana ditemani squirel yang berlarian ke sana kemari, sambil menunggu disapa polisi London dengan seragamnya yang kakko ii (keren) itu… hmmm I love London. Meskipun it is indeed the most expensive city in the world.

But Papa bilang, cari saja univesitas di Jepang kalau kamu mau melanjutkan ke S2nya. Padahal kalau dipikir-pikir, waktu itu aku sebetulnya tidak begitu ngotot untuk pergi ambil master. Aku bisa kok langsung bekerja, dan Asmara Mariko san, my best friend di UI sudah menyambut saya untuk bekerja bersama-sama di bussiness centre nya (dan saya enjoy bekerja selama 3 bulan di sana). Sambil saya mengajar privat bahasa Indonesia kepada orang Jepang expatriate yang bekerja di Indonesia. Kalau bukan karena papa yang menyuruh mencari informasi itu, dan mendorong saya untuk sekolah terus, mungkin saya juga tidak akan melangkahkan kaki ke Pameran Pendidikan Jepang 1992 itu.

Hhhhh, ngalor-ngidul ke sana kemari dan akhirnya sampai ke topik masalah. Gomennasai…..

Memasuki kelas tempat diadakan pameran pendidikan, berderet bangku yang bertuliskan nama Universitas yang ada di Jepang. Waktu itu tentu saja hadir perwakilan dari Tokyo University, Yokohama University, Chiba University, universitas negeri di daerah-daerah Jepang, dan beberapa universitas swasta. Dosen/perwakilan tiap universitas tidak semuanya didampingi penerjemah. Kelihatannya satu penerjemah dipakai untuk beberapa universitas. Jadi kalau perlu baru memanggil dia. Sejak awal saya sudah mencoret Tokyo University dari daftar saya. Why? Imelda ngga mau masuk the best university in Japan? Yes, aku tidak mau. Aneh kan? Yup aneh… karena saya tidak mau menjadi nerd, kutu buku…. itu saja alasannya heheheh. And  I want to be number one, dan saya tahu kemampuan saya, saya tidka akan bisa bersaing di sana. Saya akan mati-matian untuk suatu goal yang belum tentu ada. Program Master hanya 2 tahun. Saya tidka mau menjadikan 2 tahun itu penuh penderitaan. I want to enjoy life also.

So saya hampiri booth Yokohama National University. Seakan Tuhan membimbing saya ke situ. Karena sebelumnya saya datangi booth sekolah bahasa Jepang dan ditolak (”Anda sudah bisa berbahasa Jepang, kenapa mau belajar lagi dengan kami…. pelajarilah yang lain…” “Hai, wakarimashita!”, dan disarankan ke YNU itu. ) Dua orang lelaki setengah baya menyambut saya, dan dengan memakai bahasa Jepang saya memperkenalkan diri, dan mengatakan bahwa saya ingin melanjutkan pendidikan di bidang sejarah pendidikan sesuai tema skripsi saya Terakoya, dan atau bahasa Jepang. Watanabe sensei dari kantor administrasinya dan Sato sensei, professor bahasa dan sejarah Jerman itu melayani saya dan langsung Sato sensei berkata, “Kami tidak ada program studi sejarah, tapi kami terkenal dengan fakultas pendidikannya. (dan memang benar YNU terkenal dengan Fakultas pendidikannya). tinggal sekarang kamu mau meneliti dari sejarahnya atau pendidikannya.”  Ok terus terang saya tidka mau dari sejarahnya. Saya tidak mau jadi ahli sejarah, but untuk pendidikan saya juga tidak ada latar belakang yang kuat. Tapi pendidikan itu amat berguna di kemudian hari. So saya putuskan untuk mulai dari bawah belajar pendidikan sambil meneliti sejarah pendidikan Jepang. Sato sensei langsung mencari dosen mana yang kira-kira bisa menjadi dosen pembimbing saya jika saya belajar ke sana. (FYI, belajar di jepang = belajar pada seorang dosen, jadi harus mencari dosennya dulu yang kira-kira bisa dan mau menerima kita+ usulan penelitian kita…. dna mencari dosen pembimbing itu yang sulit). Dan dengan seenak perut (maaf ya sensei) dia bilang…. yah kita suruh si S.M.  ini membimbing Imelda. Dia kan thesisnya tentang sejarah pendidikan Manchuria, dan dia punya mata kuliah sejarah pendidikan Jepang… dia yang paling cocok untuk Imelda.

OK Imelda, saya pikir bahasa Jepang kamu sudah cukup, dan saya bisa kenalkan  kamu dengan si SM ini, Kapan kamu bisa datang? Untuk masuk program Master kamu harus jadi mahasiswa pendengar/peneliti (Kenkyuusei) dulu minimal 6 bulan (biasanya 1 tahun).  Untuk menjadi mahasiswa di April 1992 ini tidak bisa karena pendaftarannya baru saja ditutup. Tapi kami minta fotocopy berkas untuk kami bawa supaya bisa dipersiapkan kamu masuk bulan September 1992.

Oi..oi..oi… saya harus bicarakan dulu dnegan papa. Berapa biaya segala…. Saya tidak bisa putuskan saya mendaftar ke YNU saat ini juga. “OK… kan pameran masih ada sampai besok, bicarakan dulu kalau memang berminat, bawa saja berkasnya besok ke sini lagi”……… aku terdiam…. begini cepatkah prosesnya? sambil aku lihat disekelilingku, booth universitas lain yang kurang pengunjung, sementara booth Tokyo University yang dipenuhi mahasiswa… tapi muka dosen yang menyambutnya amat sangat tidak ramah. Muka-muka dosen lainnya yang terlihat bosan dan kepanasan, dan seakan terus menerus melihat jam … kapan berakhirnya sih pameran ini. Saya pulang ke rumah masih dalam keadaan “bengong”. Dan menceritakan hasil pameran kepada papa, dan keputusannya…. daftarkan saja, siapkan berkas untuk diberikan besok. Tapi kata papa, kamu pergi shitami (survey) bulan April-Mei selama 3 bulan dengan visa turis, untuk lihat-lihat Tokyo dan cari informasi, dan kalau perlu belajar bahasa Jepang lagi. Nanti saya minta info dari Hatakeyama san (teman papa).

So…. dengan kilat, saya serahkan berkas keesokan harinya, sambil persiapkan survey bulan Aprilnya, dan bulan Septembernya saya sudah di Jepang memulai hidup yang baru. Speedy…. what a preparation.

Jadi bagi saya Pameran Pendidikan Jepang ini sangat berarti, karena dia yang membuka jalan ku menuju masa depan. Karena itu waktu tahun 2004 almamaterku Yokohama National University bermaksud untukmengikuti pameran pendidikan Jepang di Jakarta, saya menawarkan diri untuk menjadi penerjemahnya dan mengatur liburan saya ke jakarta  bertepatan dengan waktu pelaksanaan Pameran tersebut.

Di Tahun 2004 itu juga didorong oleh keinginan pihak universitas untuk membuat network bagi alumni YNU, saya mengumpulkan alumni YNU dan mengadakan reuni yang pertama serta memikirkan apa dan bagaimana kita bisa membantu almamater kita dalam melaksanakan kegiatan2 terutama karena mulai tahun 2005, universitas negeri di seluruh Jepang di swastanisasi. Jadi mereka harus “menghidupi” diri sendiri dan tidka mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Jadi pihak Universitas juga yang harus mempromosikan diri dan mencari calon mahasiswa sebanyak-banyaknya termasuk dari luar negeri.

Jadi di malam pertama sesudah pameran, hanya ada 7 orang yang berhasil berkumpul. Namun ini menjadi awal reuni ke dua, setahun sesudahnya (8 maret 2005) yang dihadiri 20 an orang dan terakhir tahun berapa ya (soalnya kalau bukan saya yang nanya2 atau pas datang ke jkt, pada ngga ngumpul sih…)

Semoga saja ikatan alumni YNU ini bisa terus exist dan bisa membantu almamater kita, tempat kita menimba ilmu di negeri matahari terbit.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Berikut undangan dari Japan Foundation untuk Pameran Pendidikan Jepang 2008:

APAKAH ingin coba membuat Origami (melipat kertas khas Jepang), menulis
Shuji (menulis indah huruf Jepang), bermain Igo atau ingin tanya tentang
program-program The Japan Foundation, Jakarta ?

Tidak usah susah-susah…

DATANG saja ke booth THE JAPAN FOUNDATION, Jakarta
di “Pameran Pendidikan Jepang” oleh JASSO yang diselenggarakan pada,
Hari/Tanggal : Minggu, 31 AGUSTUS 2008
Jam : 11.00 s.d 17.00 wib
di : Jakarta Convention Center (JCC)
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
**** Pengunjung tidak perlu tanda masuk dan tidak dipungut biaya.

Aug
27

Cherry Pie? manis lagi…. ngga deh. Saya untuk membayangkannya saja tidak mau. Mungkin saya akan lebih suka Apple Pie deh…

Lalu …kenapa posting tentang itu?  Sweet Cherry Pie ini adalah sebuah lagu yang dinyanyikan White Snake,  kelompok Band Hard Rock/Metal (dari Warrant juga sih). Padahal saya tidak suka musik metal…. Tapi lagu ini amat sangat membantu saya untuk membuat mata saya melek selama menyetir.

Mungkin saya jarang bercerita di sini bahwa saya mempunyai seorang adik laki-laki. Dia yang paling bontot dari 4 bersaudara. Jarak antara saya dan dia 9 tahun, karena memang dia bisa disebut sebagai naar kommertje (hmmm ngga tau tulisnya bener ngga tapi seorang anak yang lahir terlambat sehingga jarak dengan kakak langsungnya cukup jauh). Karena beda antara saya dan dia itu 9 tahun, saya banyak membantu ibu saya dalam mengurus dia. Mulai dari ganti popok, sampai kasih susu dan menidurkannya, sehingga banyak yang mengatakan saya seperti “ibu”nya.  Dengan jarak 9 tahun ini juga, waktu dia SMP, saya hampir selalu mengantarkan dia ke sekolahnya yang terletak di Haji Nawi itu. Sekitar jam 6:20 kalau dia tidak pergi sendiri, dia pasti membangunkan saya dan saya yang masih terkantuk-kantuk langsung mengantar dia. Supaya jangan terjadi “apa-apa” di jalan, dia memutarkan lagu-lagu yang waktu itu sedang nge-trend juga…. Dan diantaranya ada Duran-duran (tapi emang kurang keras sih), dan White Snake ini. Jadilah kita berdua teriak-teriak dalam mobil. Hmmm sweet memories.

But, ada satu yang membuat saya sebel bener setelah dia mengatakan begini ke saya, “temen aku ada loh yang bilang gini…. Andy nyokap kamu baik banget ya selalu anter kamu ke sekolah. Keliatannya dia cool juga ya, masih mau ngikutin trend anak muda. ” WHAT????? Aku ini NYOKAP kamu? siapa tuh yang bilang? masak umur 9 tahun aku sudah beranak? Emang gue tampang tua ya????

And u know what, hari itu, tanpa ada alunan Sweet Cherry Pie pun saya tetap “melek” nyetir pulang ke rumah, padahal harus lewat jalan gang-gang dengan mobil besar ku. Gara-gara mangkel disebut sudah NYOKAP-NYOKAP. Huh!!!

Menurut milis 80-an sekitar Oktober, si grup White Snakw ini akan datang ke Jakarta. Makanya teringat akan lagu ini. Grup dr Inggris yang memulai debutnya di tahun 1977 (pas lahirnya Andy tuh) akan bawakan lagu2 keras? mustinya membernya kan udah tua-tua juga ya? Hmmm kebayang ngga ya Opa-opa yang gaek menyanyikan ….

She’s my cherry pie
Cool drink of water
Such a sweet suprise
Taste so good
Make a grown man cry
Sweet cherry pie
Well, Swingin’ on the front porch
Swingin’ on the lawn
Swingin’ where we want
Cause there ain’t nobody home
Swingin’ to the left
And swingin’ to the right
If I think about baseball
I’ll swing all night, yeah
(yeah, yeah)

Swingin’ in the living room
Swingin’ in the kitchen
Most folks don’t
Cause they’re too busy bitchin’
Swingin’ in there
Cause she wanted me to feed her
So I mixed up the batter
And she licked the beater
I scream, you scream
We all scream for her
Don’t even try
Cause you can’t ignore her

dengan suara gitar elektrik yang melengking dan gedubag-gedebug drum …..hmmm

Jul
17
Filed Under (JADUL ・ 懐古 ・ Old times, curhat) by imelda on 17-07-2008

“Di Radio aku dengar…. lagu kesayanganmu…..”

Enak ya lagunya si Alm. Gombloh ini. Menunjukkan keberadaan RADIO sebagai media untuk “bercinta”. Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, tapi dulu senang rasanya bila kita mendengarkan nama kita diucapkan oleh sang penyiar, …untuk xXx dari yYy dengan ucapan ……

Atau melalui Radio, saya juga menikmati sandiwara Radio dan menikmati suara Maria Oentoe yang bagi saya “bening” (istilah sapa ya ini)…. Pernah terlintas di benakku, aku ingin menjadi seperti dia. Seiyu bahasa Jepangnya. Kalau diterjemahkan harafiah “Artis Suara”. Dan ….tahukah Anda bahwa Seiyu di Jepang merupakan profesi yang menjadi incaran pemuda-pemudi Jepang. Banyak kita temukan sekolah-sekolah yang melatih profesional Seiyu ini. “Pengisi Suara” atau dubber biasanya melewati sekolah-sekolah ini. Saya tidak tahu apakah ada unsur “teknik” rekaman, tapi coba dengarkan suara si Nenek Sophie dalam film “Howl the Moving Castle”. Suaranya bisa berubah dari suara Sophie Remaja menjadi Sophie Nenek, dan kembali lagi. Pengisi suara si Sophie ini adalah seorang Artis yang menjadi adik tokoh Torajiro yang terkenal itu.

So, kembali ke Radio…. Radio mungkin merupakan media hiburan yang termurah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Saya rasa kalau Anda bermobil, dan lupa membawa CD/Kaset, juga pasti mendengarkan Radio di mobil Anda. (Hei….ada acara di suatu Radio di Jakarta yang selalu saya dengarkan dan itu damn good, humornya hidup euy). Radio juga sempat dipakai sebagai alat propaganda Jepang pada waktu pendudukan di Indonesia (1942-1945). Lewat Radio disiarkan lagu-lagu untuk senam bersama, lomba pidato bahasa Jepang, pengumunan-pengumuman penting bagi kejayaan Asia Timur Raya. Radio berperan penting dalam “Shakai Kyouiku” (Pendidikan masyarakat). Waktu saya meneliti tentang  Pendidikan Indonesia jaman Pendudukan Jepang inilah, saya tergelitik juga untuk menyelidiki peran Radio bagi pendidikan masyarakat… tapi belum ada waktu. Pikiran saya sekarang, Jika mau mendidik bangsa Indonesia secara menyeluruh, kita bisa menggunakan Radio… karena Radio merupakan alat yang termurah dan termudah.

Stop tentang Radio-radioan… sebetulnya yang ingin saya posting di sini adalah ingin bercerita mengapa di kolom perkenalan saya terdapat kata “Mantan DJ”. Sebetulnya saya juga tidak setuju istilah DJ ini tapi ternyata seorang “yang bekerja sebagai pembawa acara dan memutarkan lagu di Radio” awalnya disebut sebagai DJ. Atau jika bagian “bicara”nya lebih banyak dari “musik”nya sering disebut personality. Baru kemudian konotasi DJ adalah untuk mereka yang memutar lagu dari piringan Hitam or whatever dengan mencampuradukkan lagu-lagu sehingga menjadi suatu musik yang baru. Yang terkenal di Jepang misalkan DJ HOnda. Saya tidak tahu tentang DJ Indonesia bagaimana… (or mungkin sepupu saya, Richard Mutter bisa disebut terkenal, secara dia mantan pemain drumer PAS dan sekarang berprofesi sebagai VJ yang pernah juga mendapatkan penghargaan. Sorry aku ambil nama kamu sebagai contoh ya Ki.)

Saya mulai bekerja sebagai announcer, pembawa berita di Radio InterFM, Tokyo (76,1 Mhz) sejak usai menyelesaikan program Master di Yokohama National University (YNU), April 1996. Saya langsung diterima sebagai pembaca berita berbahasa Indonesia di situ karena mempunyai “pengalaman” dengan “Mike Radio”. Itu saja alasannya. Memang saya pernah sebelumnya selama 3 tahun kontrak mengisi sebuah acara di Radio Japan (radio NHK-Internasional) yang berjudul “Ogenkidesuka” yang disiarkan lewat Radio SW (ShortWave). Acara pengajaran percakapan bahasa Jepang selama 5 menit setiap minggu selama setahun, dan paket itu diulang selama 2 tahun (padahal honornya cuman buat setahun tuh….heheheh). Di NHK ini yang dipakai adalah pengalaman saya or latar belakang saya yang pernah mengikuti pendidikan menjadi guru bahasa Jepang. Bukan latar belakang “Radio” nya. Dan itu ternyata menjadi jalan pelicin saya menjadi “Orang radio”.

(NHK -Ogenkidesuka with Yasui-san    — Stasion’s opening ceremony -PSA personality)

Awalnya tugas saya hanya menerjemahkan berita dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dalam acara “Public Service Announcement” (PSA) …ini disiarkan satu kali seminggu dengan jangka waktu 3 menit saja. Tapi di hari yang sama, saya memperoleh jatah 2 x 3 menit untuk membacakan berita-berita aktual dalam bahasa Indonesia. Dan beritanya saya cari sendiri, edit sendiri dan bacakan sendiri, karena producernya tentu saja tidak mengerti bahasa Indonesia. Jadi kalau seandainya saya seorang provokator, saya bisa saja mengumumkan “seruan perang”, berbohong pada laporan isi berita. Jadi untuk acara 3x 3 menit ini saya harus datang seminggu sekali ke studio InterFM , yang waktu itu berkantor di Shibaura, dekat Tokyo Tower. Jadi kalau dipikir juga, biasanya honor di Jepang itu dihitung berdasarkan jam, saya berdasarkan menit. hehheh …cuma persiapannya itu loh….

Selain membaca berita, kemudian saya harus membuat Bansen (Bangumi Senden= Promosi Acara lain) di Radio kami dalam bahasa Indonesia. Misalnya … “Anda sedang mendengarkan Acara Prime Time bersama Charles Glover”. Si Charles ini biasanya minta kita bacakan dengan “suara bersemangat”, “suara seksi” (karena acaranya dia larut malam), dan “biasa-biasa”. Huh, suara seksi itu yang paling susah bo…..

Selain Bansen, saya juga mengerjakan narator untuk iklan-iklan misalnya Kartu Telepon Internasional. Tentu saja dalam bahasa Indonesia karena targetnya adalah orang Indonesia yang tinggal di Tokyo sekitarnya. Oh ya mungkin saya harus menjelaskan sedikit mengapa Radio InterFM ini memiliki siaran 7 bahasa asing, dan merupakan Radio berbahasa Inggris (90%) , satu-satunya di Tokyo. Awalnya adalah karena gempa KOBE yang banyak menelan korban jiwa. Nah disitu terpikirkan bagaimana orang asing yang tinggal di Jepang ini bisa mendapatkan “bantuan” informasi jika terjadi bencana alam yang besar. Dengan tujuan memberikan informasi pada warga asing itulah, akhirnya di Tokyo didirikan InterFM ini (meskipun setelah 10 tahun tujuan itu memudar dan akhirnya dibeli pihak swasta dan tidak menjadi internasional lagi…dan saya juga berhenti dari situ…after 10 years).  Jadi misalnya selama saya bekerja di situ, terjadi gempa besar di tokyo, saya harus datang ke studio dengan cara apa pun  dan bagaimanapun, untuk kemudian membacakan pengumuman-pengumuman bagi masyarakat dalam bahasa Indonesia. Karena itu juga saya tahu banyak tentang apa yang harus dipersiapkan dalam menghadapi gempa. (Untung saja selama itu belum —dan amit-amit jangan—- terjadi gempa besar di Tokyo).

Setahun sesudah acara PSA berjalan, saya ditawari dipaksa untuk menjadi DJ, host untuk program 1 jam dalam bahasa Indonesia. Program ini BOLEH diisi apa saja. TERSERAH kamu. Bagaimana-bagaimana nya semua TERSERAH kamu. Karena pihak Radio hanya BUTUH program 1 jam itu berbentuk kaset digital SIAP PUTAR setiap minggu. DOOOOr deh. So saya yang sorangan ini, harus menjadi Producer, Penulis naskah, Pemilih lagu (jangan sebut music director deh…kekerenan), Pemutar lagu, dan Cuap-cuap dan setelah itu menulis laporan lagu apa saja yang dipasang, dan berita apa saja yang dibicarakan ke dalam bahasa Inggris (mengisi Cue sheet), dan terakhir menuliskan keterangan lagu (judul, artis, album, produksi, lama lagu, lama diputar) untuk diserahkan ke JASRAC. Duuuh ,…… Help Meeee. Dan satu lagi teman-teman, saya waktu itu sudah 5 tahun di Jepang dan no touch dengan musik Indonesia… how can I know that in this very short notice. Untuuuuung banget waktu itu adik saya baru datang dari Indonesia untuk melanjutkan studi di sini, dan tinggal sama-sama (of course yah) dan dia yang input saya dengan band baru Indonesia saat itu, GIGI, Dewa, Slank dsb dsb dsb dsb dsb ….

Start from zero!!! Saya belajar bagaimana mainkan operator board, bagaimana rekam ke kaset digital DAT, menggunakan DAD, MD,  kemudian tidak boleh ada blank lebih dari 5 detik karena bisa menjadi “kecelakaan siaran” and so on, and so on. Sepertinya saya harus MENJELMA menjadi DJ (yes saya rasa saya bisa pakai kata DJ for this kind of work, not just announcer) dalam huh …no time. Saya hanya diberi satu kali studio rehearsal untuk coba alat-alat then sesudah itu langsung rekaman siaran pertama. SAKIT PERUUUUT. Untung lagi si Tina mendampingi aku, dan bantu serabutan…wong sama -sama ngga tau. Program yang satu jam itu butuh waktu studio 6 jam, padahal skrip nya sudah disiapkan, album juga sudah disiapkan. So saya sekarang tidak mau dengar kaset rekaman siaran pertama saya…. gagap jeh. kaku…  Ya gimana dong, sistem One Man Studio ini bagaimana bisa saya kuasai dalam waktu yang (bukan relatif lagi) BENAR-BENAR singkat. Bagaimana saya bisa nyaingi DJ kawakan seperti si Charles yang sudah “bangkotan” kerja di Radio. aduh aduh aduh deh. Dan musti diingat juga saya tidak kerja as a DJ saja waktu itu. Saya masih dan terus kerja sebagai guru bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Bahasa. Satu hari dalam satu minggu saya harus menderita euy. (satu hari lainnya yang PSA itu sudah “bukan apa-apa” lagi). Saya harus putar otak terus…ini acara 1 jam harus saya isi apa….. Nangis, nangis deh loe. Satu-satunya yang menghibur saya waktu itu adalah jam penyiarannya jam 2 pagi hari Sabtu (Jumat jam 26:00 istilahnya). Saya pikir ah sudahlah …toch tidak ada yang mau dengar jam segitu.

BUT …… perkiraan saya salah….. hiks….. (lanjutnya besok besok aja ya….capek….jadi inget masa lalu sih).

bersambung

NB: Nama program musik 1 jam itu saya namakan “Gita Indonesia” dan memakai Tema Song lagu-lagunya Ruth Sahanaya yang riang, berganti setiap tahun (untuk 4 tahun).