RSS
 

Archive for the ‘Intermezzo’ Category

Kamu Ketahuan

07 Nov

Aku memang sering melihat tulisan orang di blog/komentar frase ini : kamu ketahuan…. yang sepertinya merupakan judul/lirik suatu lagu. Tapi terus terang baru pagi ini aku dengar lagunya…. Matta Band: Kamu Ketahuan hihihi ketinggalan banget ya?

Nah, gara-gara pagi ini aku buka SNSku berbahasa Jepang yang bernama MIXI. Kadang saya masuk ke situ untuk mengetahui tema-tema percakapan teman-teman Jepang, dan biasanya aku baca berita populer di situ. Yang paling aku sering buka adalah hasil angket online tentang suatu trend. Pagi ini adalah angket tentang “Tindakan pria waktu ketahuan berbohong”. Ternyata ranking nomor satu, yang menegaskan bahwa memang pria itu berbohong, dalam tindakannya, Ia akan “menjawab asal-asalan atau ambigu”… hihihi kayaknya aku bisa ngebayangin deh kayak apa.

Berikut urutan tindakan pria waktu ketahuan berbohong (meskipun itu alasan untuk kebaikan hubungan ya)

1. Menjawab asal-asalan
2. Mencoba mengalihkan tema pembicaraan
3. Tatapan matanya ke mana-mana
4. Kalau didesak akan marah sekali
5. Kembali bertanya, “Kenapa sih tanya seperti itu?”
6. Tidak seperti biasanya, lebih banyak omong
7. Bertanya terus, “Apa?”
8. Menyembunyikan handphone
9. Melarikan diri dnegan mengatakan, “Ngantuk! Mau tidur”
10. Menjadi lebih baik dari biasanya
11. Gerakan tangannya jadi aneh
12. Nada suaranya menjadi tinggi
13. raut mukanya menjadi keras
14. kedipan mata bertambah sering
15. Berbicara sambil mengetik sms/email
16. bicaranya tambah cepat
17. Tidak seperti biasanya, memuji-muji
18. Mempermainkan rambut
19. Menjelaskan dengan tegas, “Begini kok”
20. Tiba-tiba memberikan hadiah

Tapi kalau dipikir-pikir sebetulnya tindakan “ngeles” kayak gini juga akan dilakukan oleh wanita jika ketahuan ya? Atau wanita lebih pandai bersandiwara, sehingga tidak berubah tindakannya biarpun ketahuan, dan bisa ngeles dengan “pintar”?Ngga di Jepang, ngga di Indonesia sama aja ternyata ya?

Posting iseng, sambil nyiapkan sarapan: French Toast (roti yang direndam dalam adonan susu dan telur+gula, dengan bermacam variasi, kemudian digoreng di fry pan dengan sedikit mentega). Yang aku heran kenapa sih semua suka dengan menambahkan French? Ada juga French Fries (kentang goreng) dan French Bread (Roti Perancis/ Roti Pentung kalo keluargaku bilang) dan…. French Kiss (hmmm ada yang bisa mendefiniskan? Gampangnya…. cium jorok…alias basah semua hahahaha). Seperti semua tambahan kata Bangkok pada buah-buahan yang enak, manis, dan besar?

Apa sarapan kamu pagi ini? (Yang kutahu ada seseorang mengaku sarapan RENDANG pagi ini hahahaha)

 

Sssttt rahasia ya, aku pelit!

23 Jun

Jam 3 pagi aku terbangun karena Riku juga terbangun setelah hampir 12 jam tertidur. Mungkin pengaruh obat yang diminumnya, dia tidur enak sekali sejak jam 3 sore. Jadi aku temani dia makan, minum obat, dan sekarang tidur lagi. Cukup khawatir karena dia demam 37,9. Semoga besok tidak demam, karena aku ada tugas penting di PTA dari jam 8 pagi sampai jam 9 pagi.

Nah, sambil temani Riku tidur lagi, aku buka internet, masuk FB tidak ada yang online (jelas aja jam berapa mel?). Lalu aku iseng buka SNS berbahasa Jepang MIXI, yang jarang sekali aku masuki. Tapi di sini aku sering menemukan angket yang lucu-lucu. Ya, seperti yang aku tulis di judul, “Sssttt rahasia ya, aku pelit karena….”

Berdasarkan ranking terbanyak dilakukan orang, ada beberapa tindakan “pelit” yang malu untuk diberitahukan pada orang lain. Aku tuh pelitnya di sini nih…

  1. Pergi ke Toko/Restoran yang bisa memakai kupon discount. (wajarlah ini)
  2. Hampir semua baju hasil belian waktu SALE. (wah aku juga tuh! apa salahnya?)
  3. Membeli sayuran/daging/bahan mentah, sengaja waktu supermarket akan tutup sehingga dapat potongan harga banyak (Memang semua supermarket di Jepang memberlakukan sistem potongan harga sampai 70% pada bahan mentah yang tidak bisa disimpan lagi. Tapi saya malah sulit untuk belanja menjelang toko tutup. Kalau bisa sih mau aja)
  4. Tidak pernah membeli majalah, baca sambil berdiri di toko buku (kalau ini sih saya tidak pernah)
  5. Menghemat ongkos telepon dengan memakai internet (waaah ini mah gue banget… kalo emang bisa apa salahnya?)
  6. Memakai point hasil belanja untuk membeli barang (kalau ini agak susah menerangkannya karena mungkin tidak ada di Indonesia. Setiap membeli barang misal di toko elektronik biasanya akan mendapatkan point berapa persen dari harga barang. kemudian point ini bisa ditukarkan dengan uang, atau barang setara dengan jumlah point. Aku pernah bisa beli scanner dengan point yang ditabung)
  7. Tidak pernah membeli tissue, cukup memakai tissue gratisan yang dibagikan di jalan-jalan ( Di Jepang biasanya toko promosi dengan membagikan tissue di stasiun/jalan-jalan. Aku sering mengumpulkan tissue seperti ini tapi tidak cukup kalau hanya mengandalkan tissue2 ini saja)
  8. Mencari pompa bensin yang harga bensinnya paling murah…. (aku males malah, dengan cari-cari gitu kita tidak sadar sudah berapa liter dipakai)
  9. Handuk wajah (Face towel) yang dipakai di rumah berlabelkan surat kabar atau penginapan (Di Jepang surat kabar/penginapan sering membagikan handuk wajah dengan logo perusahaannya)
  10. Mengambil plastik yang disediakan supermarket sebanyak-banyaknya. (Ya…aku sering liat ibu-ibu mengambil begitu banyak plastik roll yang disediakan di supermarket. Aku malah ngga pernah pakai kecuali untuk daging yang mungkin akan mengotori tas belanja)
  11. Selalu mencari rute kereta yang termurah meskipun harus muter-muter. (Aku jarang pake kereta sih sekarang)
  12. Supaya hemat biaya salon, potong rambut sendiri ()wah kena deh gue. tapi aku sebtulnya potong rambut sendiri bukan hanya karena biaya salonnya, tapi waktunya untuk ke salon juga sih)
  13. Hampir semua barang rumah tangga hasil belanja di toko seratus yen (hmm aku suka pergi ke toko seratus, tapi biasanya untuk stationary bukan alat rumah tangga)
  14. Kalau lapar, pergi ke supermarket dan makan sampel makanan (doooh ini mah pelit banget yak… never do that!)
  15. Seberapapun murahnya BSS (Bayar sendiri-sendiri, selalu menghitung sampai pecahan 1 yen (nahhhh ini pernah membuat aku takjub, kok sampe segitu pelitnya orang Jepang. Tapi sejak menjadi ibu rt bisa tahu kenapa harus pelit)
  16. Membeli barang, yang ada kemungkinan terjual mahal di auction (waduh auction… ngga deh, aku ngga bakat. pernah sekali aja beli kaset di Yahoo auction. suman pengen tahu cara mainnya)
  17. Mencukupkan diri dengan memakai kosmetik gratisan (sampel) yang dibagi-bagi di toko kosmetik. (pakai sih sampel gitu, tapi mana cukup lagian jarang beli kosmetik jadi jarang dapat sampel juga hehehe)
  18. Meskipun tidak membeli apa-apa, selalu mengecek uang kembalian di vending machine (doooh ini sih terlalu hihihi)
  19. Hadiah yang diterima dari orang lain, diberikan sebagai hadiah untuk orang lain (Aduh kalau aku sih ngga pernah, biar gimana kan pemberian orang ada kenangannya)
  20. Pinjam CD/DVD, tidak pernah membeli sendiri (no way… aku selalu beli CD yang aku suka, seleranya lain sih …jieee)

Nah, ini 20 tindakan PELIT nya orang Jepang, mungkin tindakan pelitnya orang Indonesia lain lagi. Misalnya untuk menghemat ongkos transportasi nebeng temen terus, atau ngga punya HP sendiri kalau mau kirim sms pinjem HP temen, atau ngumpulin shampoo dan sabun hotel untuk dipakai di rumah dsb dsb dsb dsb.

Yang aku banget tuh nomor 5 dan 12. Juga ngga langganan koran, cukup dengan baca di internet. pelit juga kan tuh. Kasih tahu dong,kamu pelitnya gimana sih? Ngga bakal aku kasih tahu ke orang lain deh…hihihi….

 
 

Hujan Berudu

09 Jun

hmmm kalau seandainya saya tuliskan hujan beludru, maka akan terbayangkan sesuatu yang romantis… velvet rain… meskipun saya tahu kadang hujan tidak bisa selembut beludru.

Tapi yang saya mau tulis adalah berudu, atau kata lainnya cebong/kecebong, anak katak. Dan yang pasti menjijikkan sekali ya jika terjadi hujan berudu.

Fenomena alam yang aneh ini terjadi sejak tgl 4 Juni lalu, di Ishikawa Prefektur sekitar pukul setengah lima sore. Seorang pegawai pemda mendengar suara “pletak pletak” di pelataran parkir salah satu fasilitas pemda. Waktu didekati ternyata di atas mobil dan sekitar pelataran parkir itu ada banyak sekali kecebong sepanjang 2-3 cm berjatuhan. Dilihat dari posisi jatuhnya cuma bisa diperkirakan bahwa kecebong itu jatuh dari langit…. dan berarti? hujan kecebong? Dan kejadian ini berlangsung juga di beberapa tempat dalam beberapa hari.

Foto dari sini

Ternyata di daerah Ishikawa pada musim-musim sering terjadi angin puting beliung memang sering terjadi “hujan ikan dan benda benda lain” tapi saat ini bukanlah musim angin puting beliung. Pada saat kejadian cuaca sedang stabil. Kepala kebun binatang Ishikawa mengatakan,” Memang kadang burung bangau atau bebek makan kecebong,  tapi tidak mungkin kalau sampai menjatuhkan 100 ekor lebih kecebong pada saat yang bersamaan” .

Kalau hujan kecebong yang sekecil-kecil uprit sih ngga papa mungkin ya… meskipun agak geli juga. Tapi kalau sampai hujan kodok? hiiiiiii

 

5:30

02 Mei

Setiap hari, kecuali hari Rabu, saya menitipkan Kai di penitipan sampai jam 6 sore. Kebetulan sekali saya setting mulai dari jam 8 pagi sampai jam 18:00 untuk  4 hari seminggu sejak bulan April.  Sehingga begitu ada telepon dari Paulo Berwanger, mantan rekan penyiar radio InterFM, yang juga CEO nya Praia KK, yang menawarkan pekerjaan terjemahan sebanyak 200 halaman, langsung saya OK-in (tanpa menanyakan deadlinenya kapan … stupid hehehe) .

Riku biasanya berangkat dari rumah pukul 7:45 , mampir ke rumah Fuuka chan jemput dia, atau jika ada sempai (kakak kelasnya) yang lewat di jalan, dia mengikut dari belakang. Nah saat itu juga Kai bersikeras untuk pergi ke luar… sibuk mengambil kutsu くつ (sepatu) dan kutsushita くつした (kaus kaki) , sambil marah-marah minta dipakaikan. (Anak ini benar tidak sabaran deh hihih). Jadi pukul 7:45 itu Riku, Kai dan saya keluar rumah dan pergi ke tujuan masing-masing. Setelah antar Kai ke penitipan saya kembali lagi ke rumah dan bekerja di rumah atau ke universitas kalau hari Jumat.

Nah biasanya pukul 5:30 sore saya berangkat dari rumah naik sepeda ke arah stasiun untuk menjemput Kai. Ada suatu tanda yang membantu saya mengingatkan bahwa sudah jam 5:30 sore. Yaitu sebuah bel dengan alunan lagu yang dikumandangkan ke seluruh wilayah Nerima-ku (mungkin, tapi yang pasti di daerah saya ya. Dan dulu di Meguro saya juga pernah dengar, rupanya tergantung pemdanya) . Serentak disampaikan pengumuman sebagai berikut:

“Yoiko no minasan, go jihan ni narimashita. Soto de asondeiru kodomo wa ouchi ni kaerimashou” . 良い子の皆さん、五時半になりました。外で遊んでいる子どもはおうちに帰りましょう。

artinya begini,

“Anak-anak yang baik, sudah jam setengah enam sore. Mereka yang masih bermain di luar, pulanglah ke rumah”.

Pengumuman ini terdengar sampai di seluruh pelosok karena pakai pengeras suara yang dihubungkan ke kantor kelurahan Kuyakusho 区役所. Selain sebagai pengingat bagi anak-anak, juga menjadi semacam alarm bagi semua warga. Memang di Jepang biasanya makan malam mulai jam 6 (bagi yang punya anak kecil).

Satu lagi keuntungannya dengan adanya pengumuman ini adalah bahwa pengeras suara itu masih bekerja dengan baik, sehingga jika terjadi gempa bumi besar, dan perlu mengumumkan kebijakan pemerintah daerah, pengeras suara ini terbukti bisa dipakai. Saya juga pernah memang mendengar suatu pengumuman penting (meskipun lupa tentang apa) yang disampaikan lewat pengeras suara ini. Kadang ada juga latihan menghadapi bencana alam lewat pengeras suara ini.

Jadi kalau di Indonesia biasanya saya mendengar suara azan subuh dan magrib dari mesjid terdekat, atau lonceng gereja setiap pukul 12 siang, kalau di Jepang hanya mendengar bell dan pengumuman itu setiap pukul 5:30 sore saja. Pagi hari? tidak ada … paling-paling lonceng sekolah hehehe.

Satu lagi tatanan bermasyarakat di Jepang, yang saya rasa bagus dan berguna.

 

Kartu Nama

28 Apr

Ada satu hal yang kadang saya rasakan kurang ketika bertemu dengan teman-teman lama atau teman-teman baru, baik waktu reuni, maupun  kopdar blogger di Indonesia. Yaitu tidak adanya kebiasaan untuk bertukar kartu nama. Seperti saya dengan Lala, saya tidak punya kartu namanya, sehingga kalau saya mau mengirim sesuatu, saya harus menanyakannya via email atau sms. Dari sekian banyak blogger/teman lama yang pernah saya temui, mungkin hanya 5-10 lembar kartu nama yang pernah bertukar tempat dengan kartu nama saya.

Mungkin memang cukup dengan nama, blog dan email saja. Tapi mungkin karena saya sudah (seperti) orang Jepang, maka saya merasakan ada kejanggalan. Ya, di Jepang, jika mau bertemu dengan seseorang , harus menyiapkan KARTU NAMA atau MEISHI  名刺. Kalau tidak membawa, seakan kamu tidak “serius” dalam berkenalan, dan saya yakin, kamu akan kehilangan chance untuk mendapatkan pekerjaan. Terutama untuk orang seperti saya yang freelancer, then don’t leave home without it! (kalau Anda hanya ibu rumah tangga tentu saja tidak perlu, sekarang cukup tukar menukar nomor HP dan email HP saja!)

Tidak berbeda dengan di Indonesia, Kartu Nama di Jepang tentu saja memuat Nama, Alamat dan Nomor telepon. Untuk bisnis, biasanya hanya mencantumkan alamat dan nomor telepon kantor, nomor HP dan email HP. Dan untuk kalangan entertainer (maklum pernah bekerja di Radio) biasanya dipasang juga foto wajah (bukan pas photo).

kartu nama ini sempat saya pakai sebentar, tapi sekarang sudah habis

Nah ada satu fenomena yang menunjukkan bedanya masyarakat Jepang dan Indonesia mengenai pendidikan. Dan ini saya sering pakai untuk menjelaskan mengenai Gakureki shakai 学歴社会 society which places excessive [undue] emphasis on academic records . Dalam kartu nama saya yang berbahasa Jepang, tidak pernah saya cantumkan gelar kesarjanaan saya. Tetapi dalam kartu nama yang berbahasa Indonesia “terpaksa” saya pasang gelar itu. Saya selalu memberikan contoh kartu nama orang Indonesia misalnya Prof. Dr. H. Alibaba SE, MA, MSc dst dst. (Jadi bahan juga untuk menjelaskan singkatan apa saja itu, termasuk bedanya singkatan dan akronim). Saya rasa sedikit sekali orang Indonesia yang “tidak mau memamerkan” gelar mereka yang panjang-panjang itu. Lah…untuk dapatkannya juga susah payah …mungkin itu alasannya. Dan inilah gakureki shakai… yang jumlah elite berpendidikan masih sedikit (dibanding Jepang), sehingga gelar yang didapat haruslah dipajang.

Saya tidak bermaksud mengritik siapa-siapa, lah wong saya juga akhirnya pakai penulisan gelar itu karena memang masyarakat Indonesia menuntutnya. Sayang saya tidak sempat memotret baliho-baliho caleg di Indonesia waktu itu. Duuuh banyak sekali gelar kesarjanaan yang saya TIDAK TAHU singkatan apa itu. Coba lihat poster caleg Jepang! tidak ada satupun yang memakai gelar kesarjanaan. Dan memang pada dasarnya gelar kesarjanaan TIDAK ditulis. Lulus Universitas itu atarimae 当たり前, lumrah. Gelar kesarjanaan hanya dipakai di biografi buku yang ditulisnya, atau di seminar-seminar ilmiah.

Ada satu cerita lucu yang saya dapatkan dari teman saya. Dia cerita begini:

“Mel, kamu punya kebiasaan nulis sesuatu ngga di kartu nama orang?”
“Ya dong, biasanya tulis pake pensil, ketemu kapan, di mana”
“Tulis ciri khas orang itu ngga?”
“Hahahahahaha … iya, abis orang jepang kan mirip semua. Kadang aku tulis berkacamata, atau pinter bhs indo, atau cantik, atau spt somebody dll”
“Nah …. ini kejadian. Aku dan temanku pergi bertemu orang Jepang. Setelah selesai, kita masih ada di kantor itu beberapa saat, sambil ngopi di coffee shopnya. Terus temen gue ini pergi ke WC. Di situ ketemu dua kartu nama yang jatuh. Ternyata itu kartu nama kita. Dan……

“Hahahaha ada tulisan apa di belakangnya?”
“Ah elu mel, nyela aja. Iya gitu deh, ternyata si Jepun itu tulis ciri khas kita. Nah si temen gue ini sampai pucet, ternyata di kartu namanya ditulis cerewet, gendut, rambut kriwil. Sebel banget dia.
“Haahahaha. Makanya kalo nulis di kartu nama orang tuh yang bagus-bagus aja. Atau jangan pake bahasa yang bisa dimengerti orang lain. Kode dong kode…..”
“IYAAAAA…. tapi kan ini orang Jepang. Dan lu tau ngga di kartu nama gue ditulis apa? Si temen gue ini sampe ngga mau kasihin ke gue, takut gue marah.
“Apa? Gendut? ”

“Masih mending… ditulis HAGE はげ alias BOTAAAAAAAAAAAAAAAKK!”

“Hahahahahahahahaahah…. sorriiiiii but…. abis …. gimana lagiiiiiii”
“Sompret bener tuh orang”
“Hahahaha….. ya sudah… abis mau digimanain lagi kan? ”
“Iya…sekarang masalahnya. Dia ngejatuhin kartu nama kita nih kan. Nah kalo dia mau urusan sama kita kan ngga bisa jadinya. Dia mungkin cari ke WC. Tapi itu kan udah kita ambil. Mau kita balikin, ntar diambil org lain gimana? NAHHHH, kalo kita kembaliin ke YBS, lebih gawat lagi dong. Dia akan tahu kalo kita udah baca “MEMO” dia di kartu nama itu kan. Mazui まずい。 Payah!”
“Hahahahahahha… buah simalakama ya…. susyah deh. Ya diemin aja lah, mustinya dia bisa usaha tanya temennya yang lain atau gimana.”
“Ho oh. Cuman gue kan KESEL banget ditulis gitu”

Cerita nyata dengan sedikit modifikasi. Untuk yang merasa sorry ya …. hehehe.

So, hari ini tentang Kartu Nama ada dua pelajaran penting yang harus dihapal:

1. Selalu siapkan kartu nama jika bertemu dengan orang Jepang
2. JANGAN menulis yang negatif sebagai keterangan di kartu nama orang lain.

eh yang ketiga:

3. JANGAN menjatuhkan kartu nama orang lain di tempat senonoh….hihihihi  (Kalau kartu nama sendiri sih namanya promosi atau cari masalah hihihi)