Yah, kali ini saya ingin bercerita mengenai saya. …taelah… Sebetulnya bukan mengenai saya tapi mengenai Ikkyu san (seharusnya saya tulis sesuai pengucapan adalah IKKYUU san - u nya diperpanjang, dalam bahasa Jepang panjang -pendeknya vokal menentukan, tidak seperti dalam bahasa Indonesia karena tidak mengubah arti). Saya terdorong menulis tentang si Ikkyu san ini akibat pertanyaan Daffa yang ingin tahu siapa sih yang suka nampang dan berkomentar di blognya dia (avatarnya saya). Seorang pendeta Buddha tanpa rambut tetapi memukau hati seorang Imelda, sehingga Imelda, yang pake cybername sebagai  Ikkyu_san ini, jadinya terdampar di negara matahari terbit.

Mereka yang hidup di jaman kejayaan tahun 80-an (kalau mau tahu trend tahun seginian tanya mas NH18 yang jauh lebih sering JJS daripada saya) tahu anime Jepang yang beredar saat itu yaitu Voltus V, dan Ikkyu san (mungkin juga Megaloman saya tidak yakin karena saya tidak pinjam videonya). Masih dalam format video betamax, serial Ikkyu san ini kabarnya hanya ada 5 jilid. (sebetulnya memang cuman dari 5 jilid itu yang kebanyakan orang Jepang kenal). Saya sendiri lupa menontonnya dalam bahasa Jepang dengan subtitle Inggris atau di dub Ingris dengan subtittle Jepang (setahu saya setelah saya bisa baca hiragana, saya masih sempat sewa 1 video untuk latihan baca hiragana). Lagu pembukanya, “Suki suki suki suki Ikkyu san…. ” (Suki artinya suka) itu selalu terngiang di telinga saya, tapi saya tidak bisa menghafal keseluruhannya karena terlalu cepat.

Ikkyu san adalah seorang pendeta Buddha yang amat terkenal di Jepang yang sangat cerdik dan bijaksana sejak dia kecil. Image pendeta Buddha ini menjadi lebih kuat melekat di dalam kepala orang Jepang dengan adanya film kartun Ikkyu san dengan beberapa episode-episode yang merupakan penggambaran dari kenyataan yang pernah tercatat. Film kartun Ikkyu san ini diputar selama  7 tahun, dari tanggal 15 Oktober 1975 sampai 28 Juni 1982 setiap hari Rabu dengan waktu tayang 30 menit. Keseluruhan cerita ada 296 episode dan merupakan film kartun yang terpanjang dengan rate pemirsa yang tinggi dan stabil selama 7 tahun. Setahu saya sekarang kita dapat membeli DVDnya satu series yang terdiri dari 10/11 DVD seharga 40.000 yen. (Nanti nabung ahhh beli, masukin wishlist) But of course semuanyanya bahasa Jepang tanpa subtittle. —- ada production house yang berminat? hehhehe—

Ikkyu san adalah nama sebagai pendeta Buddha, yang ditulis dengan kanji sebagai 一休さん hito yasumi (istirahat sebentar artinya) mungkin sekarang namanya jadi hiatus -san ya hihihi. Nama sebenarnya adalah Senggiku Maru, seorang anak bangsawan yang berkhianat terhadap shogun, sehingga perlu disembunyikan identitasnya. Ibunya Iyono Tsubone, menyerahkan Ikkyu ke dalam pengasuhan pendeta Osho, untuk ditempa menjadi pendeta Buddha. Ikkyu yang seharusnya hidup mewah dan bisa bersama ibunya, harus berpisah dengan ibunya dan itu yang paling membuatnya sedih. Oleh ibunya dia diberi omamori (jimat) berupa teru-teru bozu (dipakai sebagai penghalau hujan). Sehingga setiap ada masalah, Ikkyu akan berlari ke hadapan Teru teru bozu itu untuk berkeluh kesah.

Teru teru bozu

Teru teru bozu

Sebagai pendeta Buddha yang terkecil (waktu itu katanya berusia 6 tahun), Ikkyu sering dikerjain. Disuruh ini itu oleh sempainya terutama yang bernama Shuunen san. Cerita pada episode pertama menggambarkan betapa Ikkyu yang mungil itu harus pontang panting melaksanakan perintah Shuunen dan teman-temannya. Dia disuruh mencuci lobak di sungai. Dan waktu itulah dia bertemu dengan seorang samurai, bernama Ninagawa Shin-en-mon, yang diperintah Shogun (Jendral) untuk mengawasi Ikkyu. Oleh di Ninagawa, Ikkyu dipanggil Kozo san (Pendeta cilik), dan di situ Ikkyu mengatakan, “Anda panggil saya?”

Tentu saja si Samurai ini marah dan bilang, “Tentu saja, mana ada pendeta cilik yang lain di sini”

Lalu Ikkyu bertanya, “OK, ini apa? (sambil menunjuk lobak besar)”

Samurai,”Lobak”

“Lalu ini apa? (sambul menunjuk lobak kecil)

Samurai,”Ya, lobak….”

“Karena itu, lobak biarpun besar atau kecil…sama-sama namanya Lobak. Pendeta pun besar atau kecil, sama-sama Pendeta. Jangan panggil saya Pendeta Cilik. Lagipula saya punya nama, yaitu Ikkyu….”

Samurai itu tidak bisa berkata-kata lagi, dan mengakui bahwa korban intaiannya ini memang pandai.

Ikkyu san menjalani kehidupan di biara dengan senang, dan dia selalu membantu atau dekat/akrab dengan seorang gadis cilik yatim piatu bernama Sayo-chan. Ikkyu san selalu bersyukur bila melihat Sayo chan, karena dia tahu, dia masih mempunyai ibu, meskipun tidak bisa bertemu. Sedangkan Sayo chan, orang tuanya sudah meninggal dan tinggal bersama kakeknya saja. Dengan pemikiran ini Ikkyu san merasa kuat untuk menjalani “pengasingan”nya.

Dalam kehidupan berbiara ini, gangguan yang sering datang adalah dari sepasang bapak-anak perempuan yang bernama Kikyouya Rihei dan Yayoi, seorang pedagang yang sering bertandang ke Kuil. Yayoi san yang manja dan usil sering mengganggu ketentraman biara. Sedangkan bapaknya Rihei, tidak mau tahu kesopanan, dengan seringnya datang ke Kuil untuk bermain Igo dnegan Osho-san. Hingga suatu hari, pendeta-pendeta di biara itu ingin mengusir Rihei dengan cara memasang peringatan, “Barang siapa yang membawa atau mengenakan pakaian dari kulit binatang dilarang masuk Kuil”. Rihei san selalu memakai bolero dari kulit kelinci, tapi dia dengan cueknya memasuki kuil. Di pintu gerbang Ikkyu sudah menunggu dan berkata;

“Apakah Anda tidak melihat pengumuman itu?”

“Ohhh itu, ya saya baca. tapi di Kuil kan banyak yang terbuat dari kulit binatang. Buktinya ada gendang (drum) di dalam Kuil kan? Kenapa boleh ada gendang yang sudah pasti terbuat dari kulit itu di dalam Kuil?”

“Ya memang gendang itu terbuat dari kulit, karena itu terpaksa kami memukulnya setiap kali. Jadi kalau Anda mau tetap masuk ke dalam Kuil, saya terpaksa harus memukul kamu…”

Rihei san lalu melarikan diri takut kena pukulan Ikkyu.

Kepintaran Ikkyu yang termasyur adalah mengenai sebuah papan yang terdapat di jalan masuk sebuah jembatan. Cerita ini agak sulit diterjemahkan, tapi akan saya coba. Tulisannya begini,”Kono hashi wo wataru na” (Dilarang menyeberangi jembatan ini) Disini HASHI yang waktu itu tertulis dengan hiragana, berarti jembatan… tapi selain itu juga bisa berarti pinggiran. Karena itu Ikkyu san dengan gagahnya menyeberangi jembatan itu, dan tidak mengabaikan peringatan yang tertulis. Alasan ikkyu, “Saya tidak menyeberang di pinggiran kok, saya jalan di tengah-tengah jembatan” Jadi Ikkyu memakai sinonim kata hashi untuk menjelaskan tindakannya. Peristiwa ini sangat terkenal dan sering keluar di soal-soal ujian masuk SD…katanya.

Pendeta Ikkyuu yang menjadi model anime itu sesungguhnya

Pendeta Ikkyuu yang menjadi model anime itu sesungguhnya

Waktu membaca pertanyaan Daffa siapa sih Ikkyusan itu saya mencari lewat google dan ternyata ada beberapa cuplikan film Ikkyu san yang bisa ditonton di YouTube. Jika Anda mau melihatnya silakan ketik 一休さん atau monk Ikkyuu. Dan tadi pagi saya dibuat menangis terus karena saya menemukan sebuah episode terakhir dari Ikkyusan yang terbagi dalam 3 parts. Cerita yang 296 ini, memang harus diakhiri dan cerita penghabisan adalah dengan keluarnya Ikkyu san dari Kuil Angoku-ji untuk mengembara dan bertapa sendirian. Dengan bimbang, Ikkyu ingin pergi dari kuil itu diam-diam. Melihat keresahan Ikkyu san, Pendeta Osho-san memperbolehkan Ikkyu pulang menemui Tsubone ibunya dan diperkenankan untuk menginap. (sebetulnya pendeta dilarang untuk pulang ke rumah orang tua) . Ibunya langsung mengetahui bahwa pasti ada “masalah” sehingga Ikkyu san diperbolehkan pulang. Di situ untuk pertama kalinya Ikkyu mengatakan pada ibunya bahwa dia akan mengelana, pergi bertapa sendirian, keluar dari Kuil. Dan biasanya pendeta yang tidak mempunyai Kuil akan mengelana kemana kaki melangkah, bisa jadi mati kelaparan karena hidup dari pengasihan orang saja, atau bertemu dengan halangan-halangan lain. Ibaratnya pergi ke medan perang, belum tentu kembali. Dan malam itu Ikkyu san, bisa menikmati masakan ibunya terakhir kali dan tidur bersama ibunya. (Duuhhh you can imagine …bagaimana saya bisa tahan untuk tidak menangis…. dasar PMS juga mendukung saya untuk jadi tersedu-sedu deh…. banjir nih Nerima).

Perpisahan itu berat bagi siapa saja. Juga bagi Ikkyu san. Dengan mengendap-endap, dia tidak memberitahukan Sayo chan, sahabatnya…. lalu Shuunen san teman-teman se biara. Juga Ninagawa san si Samurai yang juga sudah akrab dengannya. Tapi semua usaha Ikkyu san untuk pergi tanpa lambaian tangan orang-orang yang dicintainya tidak bisa terlaksana. Karena semua sudah merasa keanehan Ikkyu yang biasanya ceria tetapi akhir-akhir ini murung. Sayo chan memberikan teru-teru bozu buatannya untuk disandingkan dengan teru-teru bozu buatan ibu Ikkyu san. Semua mengantar Ikkyu san dengan deraian air mata, sehingga Ikkyu san jauh melangkah menuju gunung dan lembah dan tidak terlihat lagi.

Saya sarankan untuk mereka yang sedang belajar bahasa Jepang untuk menonton film Ikkyu san ini. Karena selain bahasa yang bagus, di dalamnya terdapat ajaran-ajaran Buddha yang menjadi dasar pemikiran masyarakat Jepang. Siapa tahu juga bisa ketularan kecerdikan Ikkyu san dan dengan berusaha sungguh-sungguh Anda bisa mendapatkan IKKYU 一級 (level satu di Ujian Kemampuan Bahasa Jepang).

Memang saya pernah menulis tentang My Hero, Zorro dan kemudian Black Jack. Tapi sesungguh tidak ada Karakter yang melebihi kekuatan Ikkyu san bercokol dalam kepala saya sejak saya SMP… yang tidka saya sadari menuntun saya mengembara di Sastra Jepang, dan meneliti tentang Terakoya (Sekolah bagi masyarakat biasa) kemudian meneliti tentang pendidikan Indonesia jaman pendudukan Jepang dan akhirnya saya berada di masyarakat Jepang seperti sekarang ini. Emiko seakan berada di bayang-bayang Ikkyu san, yang mungkin juga kelak akan berkelana mencari arti kehidupan sesungguhnya. (hei bukankah kita semua begitu????)

— Tulisan ini saya buat untuk memperingati kedatangan saya 16 tahun yang lalu ke Jepang untuk jangka panjang, yaitu tanggal 23 September 1992. Terima kasih Tuhan atas perlindunganMu kepada hambaMu ini selama berada di negara asing ini, terlepas dari sanak keluarga, terlebih papa mama yang saya cintai…… (betapa aku rindu mereka terutama di saat-saat ini) bisa bertahan mengatasi kesepian, kebimbangan, kesulitan-kesulitan sekian lama dan akhirnya Kau anugerahi seorang suami dan dua anak yang menjadi tumpuan hidupku sekarang ini.—

———————————————-

Cerita Ikkyu san final 1/3 lihat di You Tube  sini

2/3 di sini

3/3 di sini

Aug
27
Filed Under (Film 映画, Orang * Person * 人物) by imelda on 27-08-2008

Apa sih definisi Backpacker? Backpack itu kan ransel ya? Jadi mereka yang menyandang ransel di punggung lalu melakukan perjalanan (dengan biaya murah) itu yang disebut Backpacker. Buat Mang Kumlot…benar tidak pengertian saya ini? Nah, kali ini saya mau bercerita tentang backpacker ala Jepang, atau sebenernya cerita tentang seseorang Jepang yang backpacker. Bedanya, dia tidak menyandang ransel di punggungnya, tapi membawa sebuah koper kecil berwarna coklat ( mungkin sebesar kopernya tukang obat ya) dan melakukan perjalanan ke seluruh Jepang. Istilah bahasa Jepangnya sih Futen, tapi kalau futen lebih cocok diterjemahkan dengan menggelandang. Padahal di Indonesia konotasi gelandang(an) itu adalah pengemis. Nah si Torajiro-san ini bukan pengemis. Dia juga tidak miskin, tidak kaya, tapi senangnya melakukan perjalanan ke mana-mana. Dan dalam perjalanannya pasti dia bertemu dengan seorang wanita, yang menjadi “Madonnanya”. Hmmm kalau dilihat dari “ketemu perempuan”nya kok jadi cocok kalau disebut Don Juan ya??? Tapi…dia tidak pernah berhasil mendapatkan si Madonna itu, dan dia selalu kembali ke rumahnya yang terletak di Shibamata, Katsushika-ku Tokyo. Di rumahnya dia selalu disambut oleh adik perempuannya, Suwa Sakura (Baisho Chieko).

Torajiro ini adalah tokoh film “Otoko wa tsuraiyo…” yang saya artikan sebebas-bebasnya dengan “Jadi lelaki itu susah!”, “It’s tough being a man”. Film ini pertama kali diputar di layar perak tanggal 27 Agustus 1969, terus diputar menjadi film seri dengan lokasi dan madonna yang berbeda sampai tahun 1995. Saya juga merasa hebat dengan perfilman Jepang yang bisa membuat seri dari film sampai sekian lama (hampir 40 tahun) dan dengan tokoh yang sama, yaitu si Torajiro atau nama aslinya Kiyoshi Atsumi. Dalam kurun waktu itu 48 film telah dibuat dan dinyatakan sebagai film berseri yang terpanjang di dunia, dan tercatat dalam buku the Guinness Book of World Records, tetapi akhir-akhir ini digantikan kedudukannya oleh Huang Fei-Hong series.

Apa sih yang menarik dari film ini? Satu kata saja sebetulnya, yaitu lucu!. Si Tora san (Atsumi san) ini memang komedian. Tidak banyak lagak, tapi di kecanggungannya itu menggelikan. Senyumnya juga menarik, meskipun wajahnya tidak bisa dibilang tampan. (Frankly speaking, tidak menarik, dan aku pernah bertemu seseorang wanita dengan muka yang mirip si Atsumi san ini…. aku langsung merasa kasihan…. maaf….). Saya sendiri masih ingat waktu menonton salah satu seri Torajiro ini di Kedutaan Besar Jepang di MH Thamrin…. pengalaman tuh nonton film di dalam kedutaan (pakai pemeriksaan segala) mungkin sekitar tahun 1988-89 an. Dan salah satu scene yang masih saya ingat adalah, waktu si Tora san ini harus berjalan dalam terik matahari di musim panas jepang. Dia ingin berteduh, tapi bukannya cari pohon atau apa gitu, dia berteduhnya di bawah bayangan tiang listrik!!! stupid banget deh (Bayangin gimana caranya berteduh di bayangan tiang listrik? Ya kaki kanan dan kirinya saja ditaruh di bayangan $#&#$&$’). Dalam film ini tokoh Sakura san juga membuat cerita seimbang. Sakura san selalu menyambut kedatangan kakaknya dengan gembira, meskipun kakaknya selalu pulang tanpa membawa uang dan dalam keadaan patah hati. Wajah Baisho Chieko memang lembut menurut saya. Dan saya tambah fans pada Baisho karena dia juga menjadi penyulih suara tokoh Sophie dalam film “Howl the moving Castle”. Tokoh Sophie mempunyai dua jenis suara berbeda, yaitu Sophie waktu gadis dan Sophie yang nenek. Mungkin memakai teknik-teknik tertentu tapi suaranya memang memukau.

Atsumi san meninggal pada tahun 1996, dan sejak itu pembuatan film Otoko wa tsurai yo selesai. Memang saya setuju bahwa Menjadi laki-laki itu sulit, banyak tuntutannya…yang terutama datang dari tatanan masyarakatnya. Apa salahnya laki-laki menjadi “bapak rumah tangga ” misalnya. Sudah mulai ada bapak rt di Jepang juga. Kemudian dengan kesempatan mendapatkan cuti bergaji demi membesarkan bayi selama 3 bulan bagi suami (Baca juga sertifikat untuk menjadi papa yang baik). Otoko wa tsurai yo, demo Onna mo tsurai yo. Wanita pun susah loh!!!. Hendaknya kita jangan menyalahkan gender, karena bagaimanapun juga kita kan tidak bisa merubah jenis kelamin kita (kecuali yang memang operasi dll).

Jul
17
Filed Under (Film 映画, Intermezzo) by imelda on 17-07-2008

Saya teringat kembali kata Asunaro waktu Bang Hery menyebutkan kata itu untuk menamakan ‘geng blog 4 sekawan’ . Bang Hery ini pasti ingat kata Asunaro dari sebuah seri drama TV yang aslinya berjudul “Asunaro Hakusho” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “Asunaro White Paper” or “Ordinary People“. Kabarnya seri ini juga sudah diputar di Indonesia dan cukup terkenal. Yang juga pasti diingat penonton adalah tema song film seri ini yaitu lagu yang berjudul True Love dari Fujii Fumiya.(Lagu dan lirik bisa cari sendiri deh, dibantu mas google ya.)

Film Drama seri ini diputar di Jepang bulan Oktober 1993, dan saya sendiri lupa saya pernah nonton atau tidak. Mungkin menonton tapi tidak lengkap. Saat itu saya sedang dalam proses “penantian” hasil ujian masuk program S2 di Yokohama National University. Kalau saya diterima, maka saya akan mulai program itu di bulan April 1994, tapi kalau tidak maka saya harus pulang (dan hanya membawa sertifikat mengikuti kursus menjadi guru bahasa Jepang).  Yang saya ingat dari film itu hanya ada beberapa mahasiswa dnegan raut muka suram-suram berkumpul di sebuah ruangan…. terlalu banyak percakapan. Sehingga saya menjadi boring …maybe. Padahal di situ bermain si Kimura Takuya , yang nantinya menjadi some sort of idol untuk saya. (Soalnya kalau ditanya murid, sensei suka aktor siapa? …harus bisa jawab kan…..hehheeh).

Asunaro ( Thujopsis dolabrata) itu sendiri adalah nama pohon jenis pinus Hinoki yang merupakan jenis khusus ditemukan di Jepang saja. Nama lainnya adalah Hiba. Dan ada hipotesa asal usul nama tersebut dari pernyataan “Ashita (Hinoki) ni naru”, Besok akan menjadi Hinoki… jadi seakan-akan jenis ini nanti jika besar akan menjadi pohon Hinoki…tetapi salah, karena ini merupakan jenis tersendiri. Ashita ni naru, disingkat menjadi Asunaro. Besok/ Kelak menjadi besar dan berguna. Karena Hinoki banyak dipakai dalam kehidupan di Jepang.

So, posting saya ini sebetulnya hanya untuk meyakinkan agar si grup 4 sekawanan ini, yang menamakan diri sendiri sebagai The Asunaro, dapat menjadi besar dan berguna…mungkin bagi blogger yang lain, mungkin bagi masyarakat yang membaca tulisan “The Asunaro” ini, mungkin bisa menelurkan buku-buku canggih (hayo lala dan mas trainer) dengan Bang Hery sebagai tonggaknya (sapa tahu bang hery juga menulis buku, who knows)… dan saya dari jauh di negara matahari terbit…. bisa melihat mataharinya pindah …terbitnya di Indonesia…  Duuuh ngomongnya kayak udah sepuh aja hihihi. Yah pokoknya, (keluar deh ciri khas Imelda dengan kata pokoknya dnegan penekanan di huruf K), semoga (blog) saya ini juga bisa berguna bagi yang baca deh.

SEKIAN dan Terima kasih.

(haiyah kok jadi kayak pidato…gini nih kalo lagi kumat….forgive me ne asunaro’s yang lain hihihi)

Apr
15
Filed Under (Film 映画) by imelda on 15-04-2008

Ini adalah judul sebuah film Jepang, yang sejak diputar tahun 1996 sudah aku tonton lebih dari 10 kali, jumlah yang hampir mendekati rekorku dalam menonton film sesudah “The Sound of Music”. Terus terang saja, saya tidak suka menonton. Tidak dengan sengaja mencari film dan ingin menontonnya. Apalagi sebuah film Drama. Saya selalu sakit kepala sesudah menonton, sehingga benci menonton. Tapi mungkin sakit kepalanya lebih disebabkan karena menangis daripada cahaya lampu/film yang dipancarkan (alasan saya setiap ditanya kenapa tidak suka menonton). Karena itu jika harus menonton, saya pasti akan lebih memilih untuk menonton drama komedi.

Shall We Dansu ini tentu saja dilatar-belakangi oleh lagu Shall We Dance dalam film The King and I. Akibat ketenaran film ini, th 2004 Amerika membuat recover versi Amerika dengan bintangnya Richard Gere. Cerita berpusat pada seorang pegawai (Yakusho Koji) yang mulai bosan akan kehidupannya, dan suatu malam melihat seorang gadis cantik yang berdiri di jendela sebuah kelas dansa. Ingin tahu akan gadis ini, membawanya untuk ikut kelas dansa, yang ternyata dimiliki oleh si gadis yang merupakan pedansa terkenal. Adegan-adegan kocak banyak terdapat dalam film yang sebetulnya tidak kocak, karena menggambarkan krisis kehidupan orang Jepang saat itu. Sejak film ini diputar, kelas dansa social dance banyak diminati middle age yang ingin keluar dari kerutinan hidup yang terasa mulai membosankan.
Photobucket
Dalam film ini ada seorang figur yang tidak terlalu besar porsi kehadirannya dalam film tapi sangat menunjang. Yaitu figur seorang pria berkelakuan seperti wanita (belum bisa dibilang sebagai banci) yang diperankan oleh Takenaka Naoto. Waktu Yakusho Koji mulai belajar dansa di studio dansa, Takenaka ini sudah terlebih dahulu menguasai dansa, dan terkenal eksentrik. Dia sangat kaget melihat Yakusho Koji juga belajar di kelas tersebut. Betapa tidak, ternyata Yakusho Koji sekantor dengan Takenaka Naoto, dan waktu itu penggemar dansa dianggap aneh. Cerita lengkap bisa dibaca di wikipedia.

Saya pribadi suka dengan akting Yakusho Koji, cool… kata yang tepat dalam bahasa Inggris. Tapi di satu pihak saya juga suka Takenaka Naoto, karena dia mampu berakting sebagai orang aneh. Selalu… setiap film yang dia bintangi, pasti perannya sebagai orang aneh, padahal kalau di luar film, orangnya cool sekali. Nah loh…. Itu merupakan salah satu kemampuan yang sulit ditiru orang lain. Ada beberapa film yang dibintangi oleh Takenaka Naoto, yang juga masuk dalam kategori “Bagus” menurut saya. Yaitu Swing Girl, Shikko Funjatta, dan Water Boys. Sayang sekali saya terlambat menulis tentang film-film Takenaka Naoto ini, karena tanggal 9-12 April yal ada 3 film yang dibintangi Takenaka ini yang diputar di Japan Foundation Jakarta. Berikut adalah sinopsis film dikutip dari Milis The Japan Foundation.
PhotobucketPhotobucket

Takenaka Naoto adalah aktor, komedian, penyanyi dan sutradara yang lahir di Yokohama tahun 1956. Peran sebagai Hideyoshi dalam NHK Taiga drama (1999) melambungkan namanya. 10 dari ratusan film yang pernah dibintanginya dinominasikan untuk Japanese Academy Awards. Film ‘Shiko Funjatta’ (Semangat Sumo) dan ‘Shall We Dance’ menempatkannya sebagai pemeran pembantu terbaik. Suaranya juga mengisi peran Puss in Boots dalam film ‘Shrek’ berbahasa Jepang.

Swing Girls 2004/105 menit
Sutradara : Shinobu Yaguchi
Pemain : Naoto Takenaka, Juri Ueno,Shihori Kanjiya
Sinopsis
Sekelompok gadis ‘terperangkap’ di kelas Matematika yang membosankan. Di tengah pelajaran, tersiar kabar bahwa kotak makan siang klub baseball yang akan bertanding tertinggal. Para gadis ini berinisiatif untuk membantu mengantarkannya, sekedar agar lepas dari kelas Matematika. Terlalu lama di jalan membuat makanan menjadi basi dan mengakibatkan anggota klub keracunan…….
Film ini meraih 7 penghargaan pada 2005 Japanese Academy Awards dan masuk dalam kategori film box office di Jepang.

Shall We Dance? 1995/136 menit
Sutradara : Masayuki Suo
Pemain : Naoto Takenaka, Koji Yakusho, Tamiyo Kusakari
Sinopsis
Pak Sugiyama adalah seorang akuntan yang tampan dan mapan. Ia juga memiliki keluarga bahagia. Namun, rutinitas kantor membuatnya bosan, hingga ia tertarik untuk ikut les dansa setelah melihat seorang guru dansa yang sedang termenung di jendela kelas…….

Shiko Funjatta/ Semangat Sumo 1992/103 menit
Sutradara : Masayuki Suo
Pemain : Naoto Takenaka, Masahiro Motoki, Misa Shimizu
Sinopsis :
Profesor Anayama mengharuskan Yamamoto untuk ikut klub sumo sebagai syarat kelulusannya. Klub ini tidak populer di kampus, karena lebih berbau tradisi. Walaupun demikian, berkat usaha kuat mereka, klub ini pun terbentuk. Nama mereka terangkat dan berhasil tampil di TV. Mereka pun ikut pertandingan, namun di tengah proses seorang anggota mengalami kecelakaan. Yang tersisa hanya staff wanita…. Apakah ia akan menggantikan pemain pria? Bukankah diharamkan bagi wanita bahkan hanya untuk menginjak arena sumo?

Apr
03
Filed Under (Film 映画) by imelda on 03-04-2008

Aduuuh aku sambil tulis posting ini ketawa-ketawa sendiri, gara-gara Riku latihan bernyanyi keras-keras di dalam kamar. Dia baru selesai nonton Kim Possible di Disney Chanel, yang ceritanya tentang si Kim ini ikut perlombaan menyanyi. Riku bilang dia juga mau jadi penyanyi, jadi perlu latihan…jangan dengarin ya…. Udah gitu lagunya pakai lirik buatannya dia sendiri…. mirip sama aku yang nyanyi lagu selalu ganti lirik sendiri alias ngga hafal.

OK… sesuai dengan judul topik hari ini, Ponette. Pagi ini aku berhasil memindahkan film ini dari video menjadi DVD Video yang bisa dipasang di seluruh player. Aku mau kirim hasil kopian itu ke Mas Zay di yokohama…. sudah 2 minggu yang lalu janjinya, tapi baru berhasil hari ini. Siapa Ponette itu?
Photobucket
Film Ponette dibuat tahun 1996, sebuah film Perancis yang dibuat oleh Jacques Doillon. Menceritakan tentang seorang anak perempuan yang bernama Ponette yang kehilangan ibunya karena meninggal dalam kecelakaan lalulintas. Ponette yang diperankan oleh Victoire Thivisol ini tidak bisa mengerti apa itu kematian. Kenapa tiba-tiba ibunya tidak ada. Dia menunggu dan menunggu…. tapi ibunya tidak muncul-muncul. Lalu dia pun belajar berdoa supaya ibunya kembali.

Pergulatan batin seorang anal polos yang belum mengenal kematian. Saya tanggung semua pasti akan menangis menonton film ini. Saya maluuuuu sekali waktu menonton film ini di bioskop, karena setelah lampu dinyalakan waktu film selesaipun saya masih sesengukan menahan tangis. Yang saya heran, kok orang Jepang lain tidak ada yang sehebat saya menangisnya. Apakah mereka memang tidak punya perasaan ? atau tidak mengerti? Yah mungkin juga tidak mengerti….karena film ini berbahasa Perancis dengan subscript, tulisan bahasa Jepang. Jadi bisa dibayangkan …saya tidak bisa bahasa Perancis, dan saya harus membaca jimaku (tulisan) bahasa Jepang itu dengan cepat. Ohhh film Perancis… Tapi waktu saya browsing tentang film ini, ternyata sesudah itu dijual DVD nya dengan dubbing bahasa Jepang (No way saya tidak suka nonton film hasil dubbing), dan juga bahasa Inggris. Saya tidak tahu apakah film ini sudah masuk atau pernah masuk Indonesia atau belum.
Photobucket

Victoire ini mendapatkan penghargaan Volpi Cup sebagai Artis terbaik dalam Venice Film Festival. Dia adalah artis termuda yang pernah mendapatkan best actress award ini. Bayangkan waktu pembuatan film ini, dia berusia 4 tahun. Karenanya dia didampingi psikiater sepanjang pembuatan film, supaya dia tidak terganggu kestabilan emosinya mengingat dia masih muda. Jika Anda pencinta film Drama, atau jika Anda mau melihat artis alami berakting, dan mau banjir air-mata saya sarankan untuk menonton film ini. Jika Anda punya penyakit seperti saya yaitu sakit kepala setiap selesai menonton film, pastikan tidak ada kegiatan lain yang Anda harus kerjakan setelah menonton film. Untuk yang sedang homesick saya amat sangat tidak menyarankan untuk menonton film ini. Saya rasa cukup ancaman saya sampai di sini, dan selamat menangis!!!
Photobucket
The film centers on four-year-old Ponette (Victoire Thivisol), who is coming to terms with the death of her mother. The film received acclaim for Thivisol’s performance, who was actually only four at the time of filming.Ponette’s mother dies in a car crash, which Ponette herself survives with only a broken arm (she consequently is forced to wear an arm cast). After her mother’s death, her father (Xavier Beauvois) leaves Ponette with her Aunt Claire (Claire Nebout), and her cousins Matiaz (Matiaz Bureau Caton) and Delphine (Delphine Schiltz). Ponette becomes increasingly withdrawn, and spends most of her time waiting for her mother to come back. When waiting alone fails, Ponette enlists the help of her school friend Ada (Léopoldine Serre) to help her become a “child of God” to hopefully convince God to return her mother.
Photobucket

Feb
03
Filed Under (Film 映画) by imelda on 03-02-2008

shining boy
Karena batal makan di luar malam ini, kami bisa menonton film ini bersama di televisi. Sebuah Film mengenai anak lelaki yang “jatuh cinta” pada gajah. Tetsu (Yagira Yuga) tinggal di Hokkaido di sebuah peternakan binatang yang menyewakan binatang untuk pembuatan film kepunyaan ibunya (Tokiwa Takako) dan ayah tirinya (Takahashi Katsumi).
Tinggal di peternakan membuat Tetsu dan kakak perempuan serta dua adiknya terbiasa dengan kehadiran binatang di sekitarnya. Akan tetapi di sekolah, dia selalu diganggu teman-temannya “bau binatang”.

Untuk menambah pemasukan keluarga, ibunya membeli seekor gajah yang sudah terlatih. Ini membuat Tetsu menjadi tertarik akan gajah, tetapi dia tidak berhasil berkomunikasi dengan gajah kedua yang dibeli ibunya karena belum terlatih, dan tidak mengerti bahasa jepang. Mendengar bahwa di Thailand ada sekolah untuk menjadi pelatih gajah, Tetsu memaksa ibunya supaya dibolehkan pergi ke Thailand.

Di Thailand Tetsu juga mendapat kesulitan untuk bisa berkomunikasi dengan gajah yang menjadi tanggung jawabnya. Sampai gajah itu lari, dan dia harus mencarinya. Karena menghindar dari gigitan kalajengking, Tetsu terjatuh di air terjun, dan dibantu oleh gajah yang dia cari. Sejak itu Tetsu bisa berkomunikasi dengan baik.

Namun menurut kami film ini berkesan terlalu singkat. Dan mungkin tidak bisa dihindari karena Tetsu harus meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Yang membuat terharu, persis Tetsu ditabrak truk, dua gajah yang berada di peternakan berteriak dan menangis, seakan-akan tahu kejadian tersebut. Demikian pula waktu mengantar jenazah Tetsu, ke dua gajah ini menangis.

“Gajah dapat saling berkomunikasi dalam kelompoknya, melebih manusia yang kadang kala sulit untuk menyampaikan pikiran kepada orang tua, atau orang lain. Saya banyak belajar dari gajah untuk dapat berkomunikasi”.
Photobucket
滝に落ちたテツはぞうに助けられた時、「心温まる場面ですね」と陸が言いました。
「心温まる」・・・・4歳の陸が難しい言葉を使うね。どこで習っただろう。