Label

16 Nov

Menurut KBBI, label (ternyata sudah menjadi kata bahasa Indonesia)  adalah 1 sepotong kertas (kain, logam, kayu, dsb) yg ditempelkan pd barang dan menjelaskan tt nama barang, nama pemilik, tujuan, alamat, dsb; 2 etiket; merek dagang; 3 petunjuk singkat tt zat yg terkandung dl obat dsb; 4 petunjuk kelas kata, sumber kata, dsb dl kamus; 5 catatan analisis pengujian mutu fisik, fisiologis, dan genetik dr benih dsb. Tentu saja dalam kehidupan kita sehari-hari banyak berjumpa dengan apa yang dinamakan label. Aku ingat dulu jaman SD-SMP ada trend untuk membuat label nama dan alamat di atas kertas stiker lalu bertukaran dengan teman-teman. Labelku jaman itu sederhana berwarna perak dengan tulisan hitam, karena paling murah. Bisa pakai gambar macam-macam kalau mau tapi ya harus tambah biaya tentunya.

Hari ini aku masih ingin melanjutkan tulisan kemarin soal kunjunganku ke SD Riku. Jam pelajaran ke 5 aku mengikuti pelajaran “Mengenalkan Buku” (Bahasa), dan yang menarik kelas 3 yang terdiri dari 3 kelas, dicampur muridnya, sehingga satu kelas berisi sepertiga dari murid kelas 3-1, 3-2 dan 3-3. Riku di kelas 3-2. Menurutku ini juga usaha yang bagus untuk mengendalikan anak-anak yang ramai di kelas biasanya. Maklumlah kalau teman sekelas kan sudah biasa bercanda. Dan kali ini setiap murid-murid dibagi menjadi grup beranggotakan 3 anak. Setiap anak harus memperkenalkan buku yang menurutnya bagus. Jalan cerita dan menerima pertanyaan dari 2 temannya mengenai buku itu. Jadi seperti latihan review buku deh. Sebetulnya aku agak sebal dengan Riku, karena dia memilih buku bukan berupa cerita, tapi kamus bergambar mengenai Kupu-kupu dan Ngengat! Bagaimana coba buat review kamus? Tapi Riku bilang gurunya tidak melarang dan tidak menegur apa-apa, jadi ya sudah biarlah Riku memperkenalkan kamus bergambar itu. Tapi sepanjang yang aku lihat, salah satu temannya amat tertarik dengan buku yang diperkenalkan Riku dan banyak bertanya. Syukurlah. Sebagai penutup pelajaran ke 5 itu, mereka harus menulis kesan tentang pelajaran itu. Jadi pelajaran ini mengajarkan : cara berpidato, cara mendengar dan bertanya, serta cara menulis kesan-kesan. Hmmm makanya orang Jepang suka baca, karena diwajibkan banyak membaca di sekolah. Oh ya, ada satu buku yang dijadikan “Buku Pilihan kelas 3-2” yaitu Petualangan Tom Sawyer. Well, aku akan belikan untuk Riku, karena aku ingat waktu kecil aku juga baca buku ini.

Pelajaran ke 6 tentang mata pencaharian masyarakat sekitar(IPS), dan ini yang berhubungan dengan label. Jadi masing-masing murid diharapkan membawa label bahan makanan dari rumah. Semua bahan makanan di Jepang PASTI ada label keterangan berupa:
1. Nama bahan
2. Daerah asal
3. Cara penyimpanan (kulkas-suhu kamar)
4. Tanggal pembuatan
5. Kedaluwarsa
6. Harga per gram
7. Berat bersih
8. Harga jual
9. Perusahaan pengemas

Tertulis asalnya Kokusan, berarti dari Jepang (bukan luar negeri) tapi tidak jelas daerah tepatnya.

Oleh gurunya masing-masing murid menerima peta buta peta Jepang tanpa tulisan apa-apa, serta selembar kecil peta lengkap. Di lembar peta buta itu mereka harus menuliskan daerah itu menghasilkan bahan makanan apa. Misalnya Hokkaido menghasilkan kentang, di daerah Hokkaido mereka menuliskan kentang. Untuk yang berasal dari luar negeri, ditulis di tempat terpisah.

Masalahnya mereka belum banyak bisa membaca kanji. Kebetulan aku  berdiri dekat meja Riku dan 3 teman (mereka duduk berkelompok ber-4) Jadilah aku ditanya-tanyain oleh mereka. “Riku no mama, Nagano itu nishi Nihon? (Jepang Barat)?” Lalu aku tunjukkan tempatnya. Yang aku rasa sulit juga buat anak-anak adalah 愛知 (Aichi) dan 愛媛 (Ehime), sama-sama memakai kanji 愛 ai, tapi bacanya berbeda. Memang kanji nama tempat itu sulit dibaca.

Melihat pelajaran seperti itu, aku merasa bagus karena mereka memakai bahan yang ada di sekitar mereka (label makanan) untuk mempelajari peta dan nama daerah Jepang, sekaligus belajar membaca huruf Kanji. Selain itu mereka bisa mengetahui daerah itu paling banyak menghasilkan apa. Misalnya Hokkaido biasanya hasil laut dan Nagano banyak menghasilkan bermacam-macam jamur. Pelajaran seperti ini sudah pasti TIDAK NGANTUK! Karena tidak melulu harus menghafal nama dan tempat. Ah seandainya saja pelajaran Ilmu Bumi di Indonesia bisa seperti ini ya? hehehehe. Masalahnya di Indonesia pelabelan juga tidak sedetil seperti Jepang kan? (Well sebetulnya aku juga sering membeli sayuran di ladang sekitar rumah sehingga sudah pasti tidak ada labelnya).

Bagaimana? Menarik kan pelajarannya. Mau jadi murid SD di Jepang ngga? 😀 (Pasti ngga mau ya, karena tulisannya kruwel-kruwel :D)

Bermacam-macam label yang sempat dikumpulkan Riku dalam satu hari 😀

Guru SD

15 Nov

Tadi pagi aku membaca status di beberapa teman waktu SD dulu. Mereka menuliskan tentang meninggalnya seorang ibu guru yang memang khas sekali, bernama ibu Dien. Meskipun aku tidak pernah diajar langsung olehnya, aku masih ingat sosok seorang ibu kurus, tinggi dengan rambut digelung seperti konde. Aku tidak tahu usianya sudah berapa tahun, tapi jika aku SD 30 tahun yang lalu mestinya memang sudah sepuh. Hmmm hukum alam memang tidak bisa dipungkiri, manusia memang setiap saat bertambah tua. Rest in Peace Ibu Dien.

Bicara mengenai guru SD, hari ini aku pergi ke SD Riku karena ada acara open school. Setahun 2-3 kali ada kesempatan untuk melihat langsung proses pembelajaran murid-murid di sekolah, dan harinya acak. Pernah juga diadakan pada hari Sabtu/Minggu supaya bapak/ibu orang tua murid yang tidak bisa datang di hari kerja, bisa juga datang dan melihat perkembangan serta proses belajar anaknya di kelas. Dan menurutku itu WAJIB.

Tadi pagi dimulai dengan rusuh. Karena Riku mencari-cari jangka dan penggaris segitiganya yang akan dipakai pada jam pelajaran ke 3. Memang dia sudah tanya aku sejak hari Jumat, tapi karena aku juga sibuk sambil cari juga, dan kemarin aku lupa cari. Jadilah pagi-pagi bongkar sana-sini… tentu sambil ngomel, “Makanya alat-alat tulis wajib untuk sekolah itu harus diumpetin jangan sampai Kai ambil dan main-main. Apalagi jangka kan tajam, bahaya….. bla bla bla”….. Tetap tidak ketemu, dan Riku bilang, “Kalau tidak ada ya sudah ma, ngga papa. Tapi mama datang ya….” Dan meskipun aku sedang sakit kepala, aku memang berniat datang, sebelum jam ke 3 supaya bisa membelikan jangka dan penggaris segitiga. Jam ke 3 mulai jam 10:25, dan toko-toko buka jam 10. Jadi cukuplah waktu untuk mencari jangka itu.

Setelah mengantar Kai ke TK, aku mencari toko-toko yang buka, sekitar 3 toko tapi tidak ada dan akhirnya aku pergi ke supermarket yang agak jauh dari rumah. Di situ pasti ada, jadi aku bersepeda ke sana. Syukurlah ketemu dan aku cepat-cepat beli kemudian ke sekolahnya Riku. Pas jam istirahat antara jam ke 2 dan 3. Aku serahkan jangka dan penggaris pada Riku dan Riku amat berterima kasih. Dia memang mirip aku yang selalu merasa bersalah jika ada sesuatu yang tidak beres, semisal lupa membawa sesuatu atau lupa mengerjakan sesuatu.

Nah, pelajaran ke 3, Berhitung dimulai. Orang tua yang datang masih sedikit 3-4 orang saja. Kami berdiri di belakang kelas dan mengamati. Dan saat itulah aku memperhatikan satu anak laki-laki yang……. begitu nakal. Tempat duduk di jungkirbalikkan, dan dia duduki, atau sesekali dia berdiri, berjalan-jalan dan mengganggu teman laki-laki di belakangnya. Dia memasukkan tempat pensil dsb nya ke dalam baju temannya itu. Sementara guru menerangkan di depan. Memang ada beberapa anak lain yang tidak memperhatikan guru, tapi mereka masih duduk. Si anak X ini saja yang sama sekali tidak memperhatikan. Disuruh menyiapkan buku catatan, dia tidak bawa. Jadi dia mengambil kertas di depan kelas, yang memang disediakan untuk anak-anak yang tidak bawa. Di depan kelas ada tumpukan kertas dalam laci, spidol, pensil, rautan, pokoknya semua perlengkapan yang bisa dipinjam oleh anak-anak yang tidak membawa.

Tapi, si X ini tidak mencatat apa-apa di kertas itu. Pelajaran hari ini tentang menemukan segitiga dalam lingkaran. Dan dia malah melubangi  kertasnya, fotocopi tugas dia remas-remas dulu sebelum dikumpulkan. Duuuuuh benar-benar minta dihajar ini anak. Gurunya memang menegur, tapi di Jepang memang tidak bisa sembarangan menegur, apalagi memukul, mencambak, atau perlakuan apa saja yang mengenai badan. Kelihatan sekali si guru juga sudah kesal sekali, sehingga setengah menganggap anak ini tidak ada. Sampai ada ibu Filipin yang bertanya, “Anak itu siapa sih? Kok nakal sekali? Ibunya datang?” Lalu dijawab oleh murid lain, “Dia gakudo!”

Gakudo, adalah semacam tempat penitipan bagi murid-murid SD sesudah pulang sekolah sampai pukul 5 sore. Untuk memasukkan anak ke Gakudo, ibu/orang tuanya harus bekerja minimal 16 jam seminggu, dan mendaftar ke kelurahan. Aku sendiri bekerja tidak sampai 16 jam seminggu, sehingga aku merasa tidak bisa memasukkan Riku ke Gakudo. Jadi begitu dikatakan bahwa si X adalah anak gakudo, aku bisa mengerti bahwa ibunya bekerja. Tiap hari hanya bertemu waktu malam hari, kurang waktunya untuk bisa berinteraksi dengan anaknya. Dan memang di kelas Riku ada beberapa anak yang Gakudo, dan semuanya memang “hiper” jika tidak bisa dikatakan nakal. Tidak mau memperhatikan guru, bicara sendiri, jalan-jalan waktu pelajaran dan lain-lain. Tadi aku melihat si X ini, aku bersyukur, meskipun aku bekerja juga 3 kali seminggu, aku masih ada waktu dan sedapat mungkin hadir di acara-acara sekolah. Masih ada waktu untuk bermain dengan anak-anak sepulang sekolah, dan makan malam bersama. Seandainya aku bekerja ten-go, belum tentu aku bisa menghadapi anak-anak di rumah dengan santai.

Tadi aku mengikuti jam ke 3 Berhitung dan jam ke 4nya Musik. Ampun deh, itu anak-anak yang sama, biang kerok kelas juga yang selalu buat ulah. Untuk mulai menyanyi saja tidak bisa dalam keadaan diam dan hening. Saat ini aku ingat pada Pak Cheppy, guru angklungku dulu. Berapa tongkat dirigen yang patah karena beliau pukulkan ke papan tulis. Aku yang memang anak alim dan patuh yang selalu diam jika disuruh diam, sering heran pada teman-teman yang tidak mau mendengar guru. Kadang pak Cheppy marah kepada anak lain, tapi aku yang deg-degan dan ikut mau nangis. Karena itu waktu aku melihat si X dan teman-teman Riku yang seperti itu, aku juga jadi kesal sendiri. Riku? Dia tidak ramai tapi kurang perhatian. Karenanya setiap dia melihat ke arahku, aku tegur dia supaya memperhatikan guru. Nanti kalau dia pulang, aku akan minta dia lebih perhatikan jalannya pelajaran!

Dan dengan melihat proses pembelajaran di kelas itu tadi, aku benar-benar menghargai para guru SD. Duh, jika aku yang jadi guru, mungkin setiap hari satu kotak kapur terbang ke jidat anak-anak itu, atau aku hukum berdiri satu kaki di sudut kelas! Aku tidak bisa jadi guru SD deh. Salut dan hormatku untuk semua guru SD….

Selesai ditulis 12:50 dan pukul 13:05 pelajaran ke 5 Murid-murid memperkenalkan buku yang dibacanya (Bahasa), serta pelajaran ke 6 tentang mata pencaharian masyarakat sekitar(IPS). Pergi dulu yaaaaa…..

Bulan “O”

11 Okt

Bulan Oktober adalah bulan Olahraga! Untuk Jepang tentunya. Karena di bulan Oktober ini pada tanggal 10 (sekarang menjadi setiap hari Senin minggu kedua) adalah hari Olahraga. Tanggal 10 bulan 10 ini ditetapkan menjadi hari Olahraga dengan UU Mengenai Hari Libur Nasional, mulai tahun 1966. Setelah dua tahun sebelumnya pada tahun 1964 tanggal 10 Oktober Olimpiade Tokyo dimulai.

Menurut kabar burung, tanggal 10 Oktober itu dipilih karena hampir selalu cuaca cerah, bertahun-tahun. Tapi memang sekitar tanggal 10 biasanya cerah. Pada tanggal ini ada tempat-tempat olahraga yang memberikan diskon khusus atau malah menggratiskan harga tanda masuknya. Ada pula kelompok-kelompok yang menyelenggarakan pertandingan-pertandingan untuk memeriahkan Hari Olahraga ini. Tapi tidak ada satu sekolahpun yang mengadakan tepat di tanggal 10 Oktober, kecuali jika hari itu jatuh pada hari Sabtu.

Hari Olahraga di sekolah-sekolah (TK/SD) ditandai dengan diadakannya UNDOKAI 運動会 pertandingan olahraga yang lebih bersifat eksibisi dan permainan, bukan layaknya class meeting di Indonesia. Bukan mencari juara tapi kerjasama. Bayangkan satu sekolah SD dibagi dua kelompok merah dan putih saja. Dan tahun ini Riku termasuk kelompok Merah.

kiri atas : rebut galah... yang lain foto eksibisi tari oleh kelas 3

Beruntung hari Sabtu tanggal 1 Oktober, cuaca cerah. Dua tahun yang lalu hujan sehingga harus diundur pelaksanaannya. Tapi hari Sabtu itu dari pagi sudah terang benderang. Tadinya kupikir bakal dingin karena akhir-akhir ini memang suhu aneh, naik sampai 25 derajat tapi bisa turun sampai 15 derajat.

Acara dibuka dengan sambutan, parade tiap kelas dan senam pemanasan, serta tak lupa yel-yel semangat untuk kelompok merah dan putih. Riku hari ini tampil 3 kali yaitu pertandingan rebut galah, eksibisi gerak tari berdasarkan lagu dan lari 80 meter. Untuk rebut galah, kelompok merah kalah. Gerak tari…lumayan Riku pintar mengikuti gerak-gerak yang diajarkan gurunya… kalau mamanya yang disuruh pasti ngga bisa :D. Lari 80 meter dia urutan ke 4 dari 6 orang, mayan deh tidak nomor buntut 😀

Satu jenis pertandingan yang kurasa bagus untuk dicontoh. Menggendong satu temannya bertiga, lalu teman yang digendong berusaha mengambil topi yang dipakai pihak lawan. Misal dia dari kelompok putih dia mengambil topi kelompok merah, dan membalikan topinya. Seperti catur orang deh

Tapi hari itu Kai tidak sehat, agak demam sehingga lemas dan digendong papanya terus. Karena itu begitu Riku selesai menari, kami pulang ke rumah. Kami makan siang, dan aku menemani Kai di rumah, sementara Gen kembali ke sekolahnya Riku untuk menjadi volunteer satu jam dan menonton Riku berlari. Hasil keseluruhan kelompok Riku, kelompok Merah menang tipis dengan kelompok putih. Malamnya kami makan sushi di resto dekat rumah, sebagai penghargaan pada Riku yang sudah capek berlatih selama sebulanan. Karena tanggal 1 Oktober adalah hari Batik, tentu saja deMiyashita pakai batik ke resto sushi itu 😉

DeMiyashita on Batik's Day 1 Oktober 2011 ....

Tapi ternyata setelah itu demamnya Kai tidak sembuh-sembuh…. sampai akhirnya aku bawa dia ke dokter hari Selasa. Diberi obat antibiotik tidak mau diminum (selalu begini, meskipun sudah diusahakan dan dibujuk macam-macam). Ya sudah aku suruh tidur saja terus. Tapi dokter mengatakan kalau sampai hari Jumat masih demam, harus diperiksa laboratorium. Untung saja Rabu siang dia sudah sehat, sehingga hari Kamis dan Jumat aku bisa kerja dengan tenang. Tapi berarti dia hanya masuk 2 hari saja sebelum pelaksanaan Hari Olahraga di TK nya hari Sabtu tanggal 8 Oktober!

Dan tibalah hari Olahraga untuk Kai…udara cerah dan aku dari pagi sudah mempersiapkan bento, bekal untuk dimakan bersama. Believe me, Undokai di TK itu lebih meriah daripada SD. Kenapa? Karena yang hadir itu satu anak satu keluarga, minimum 4 orang, karena kakek nenek juga ikut. Doooh penuuuuh deh halaman sekolahnya. Waktu Riku 2 kali aku datang dan heran bin takjub melihat kakek-nenek itu bersemangat sekali ikut menonton anak-anak TK berlomba. Tapi ya lama-lama aku bisa mengerti antusiasme bapak-ibu-kakek-nenek terhadap undokai TK. Soalnya TK adalah kelompok masyarakat sosial pertama yang dihadiri sang anak. Bayangkan anak usia 3-4-5 tahun berlomba. PASTI lucu!

Sayangnya, Kai karena kurang latihan dan MANJA sama mamanya, dia MENANGIS terus sejak datang. Ya bisa mengerti kenapa dia nangis. Begitu masuk halaman sekolahnya, satu lapangan dipenuhi orang begitu banyak, dan dia harus duduk bersama  teman-teman sekelasnya di bangku khusus. Aku (baca: kami) juga salah tidak datang jauh lebih pagi sehingga dia ada waktu untuk adaptasi (well… untuk hal ini memang aku harus bisa terima bahwa tidak semua orang bisa bangun cepat dan siap cepat-cepat, dan pergi cepat-cepat **sambil memandang seseorang di sampingku** hihihi)

Undokai di TK nya Kai.. nangis terus, cuma tersenyum waktu makan bento bersama 😀

Jadi deh dia berdiri di belakangku terus dan tidak mau ikut acara-acara. Tapi untuk acara pertama, aku melarikan diri dari pandangannya dan dia digendong oleh guru OR laki-laki untuk berdefile di tengah lapangan…. ya satu halaman TK itu tentu saja bisa mendengar suara tangisannya yang begitu keras 😀 Malu….malu deh. Jadi waktu dia mau ikut tanding lari, meskipun ogah-ogahan ya aku puji terus menerus. Dia akhirnya juga cuma mau ikut acara menari dengan ibu (aku) dan pertandingan lari gendong dengan bapak. Ciri khas undokai di TK memang PASTI melibatkan orang tua (bapak/ibu) bersama anaknya dalam acara.

Kai akhirnya mau ikut bertanding krn bersama papanya. Setelah acara selesai semua murid mendapat hadiah yang sama.

Belum lagi ada acara pertandingan tarik tambang antar orang tua, dan lomba lari yang mengikutsertakan anak-guru-ibu-bapak…. kebersamaan, kerjasama, tertawa, gembira dan haru bercampur jadi satu dalam acara yang PASTI diadakan sekali setahun ini, menjelang tanggal 10 Oktober. Sayang sekali aku belum pernah mengalami atau mendengar acara seperti ini di Indonesia :). Kalau ada, kasih tahu ya 🙂

 

Mamat or Matmat

26 Apr

Aku sering mengatakan pelajaran matematika sebagai mamat atau matmat. Pelajaran yang dulunya aku pernah suka. Karena ada sesuatu hal di SMP, membuatku benci pelajaran matematika. Jadi beruntunglah aku bisa melewati pelajaran matematika kelas IPA di SMA meskipun dengan pas-pasan.

Kali ini aku ingin bercerita sedikit mengenai beberapa penemuanku mengenai matematika atau berhitung di Jepang. Sambil belajar bersama Riku aku menemukan hal-hal yang menarik. Tidak  susah kok, karena aku juga tidak mau membuang energi untuk yang susah-susah kok 😀

1. Aku baru tahu bahwa dalam dadu, angka yang kita lihat dengan angka yang ada di bagian belakang dadu itu pasti berjumlah 7.

Di belakangnya 3 pasti.... 4 (berjumlah 7 kan?)

Jadi kalau kita melihat dadu dengan dua titik, pasti di bagian belakang itu 5. Kalau 6 pasti di bagian belakang 1. Ini penting kalau kita mau membuat dadu sendiri, tidak bisa seenaknya mencantumkan titik-titik itu kan?

Atau cuma aku saja ya yang tidak tahu tentang hal ini? Teman-teman sudah tahu? (Aku sempat tanyakan pada beberapa orang Jepang, dan mereka juga tidak tahu. Gen tahu dan dia bilang bahwa itu diajarkan di bimbel untuk ujian masuk SMP)

2. Mengenai perkalian 1 s/d 9 yang disebut dengan KUKU 九九(Bahasa Jepang nya untuk 9… 9×9)

Bagaimana orang Indonesia menghafalnya? Hmmm aku sih dulu ya begitu saja menghafalnya. Tapi di Jepang ada cara menghafalnya yang disebut dengan kuku itu. Memang keunikan bahasa Jepang angka itu bisa dirangkaikan menjadi sebuah kata untuk memudahkan. Kalau bahasa Indonesia tidak bisa, karena misalnya tiga ya kita menyebutkan tiga saja kan? (kecuali dalam bahasa daerah). Tapi dalam bahasa Jepang, tiga itu bisa disebut dengan “san”atau “mitsu“. Dan san bisa disingkat menjadi sa, sedangkan mitsu itu kadang bisa disingkat menjadi mi. 3156 dibaca singkat sebagai sa-i-ko-ro (artinya dadu). Jadi gampang deh.

Nah KUKU ini juga menghafalkan dalam bentuk kalimat. Terus terang aku tidak bisa merubah pola pikir hafalan menjadi kalimat, jadi aku menyerahkan pelatihan perkalian Riku pada papanya.

misalnya 2 x 8 = ( ni kakeru hachi) dihafalkan niha

nah yang aku baru sadari adalah perkalian 9

1×9 =  9
2×9 = 18
3×9 = 27
4×9 =36
5×9 =45
6×9 =54
7×9 =63
8×9 = 72
9×9= 81

bisa terlihat kan rapihnya angka hasil perkalian 9 itu. Jika dijumlahkan hasilnya ya 9 , 18 (1+8) ya 9, 27 (2+7) ya 9. dan semua hasilnya tinggal dibalik saja tuh mulai perkalian 6 x9 dituker-tuker angkanya. Cantik yah.

Nah lebih cantik lagi waktu aku melihat bentuk ini:

Bentuk yang dihasilkan setiap perkalian, ternyata cukup menarik nih

Ada bulatan dengan angka 0 sampai 9. Dalam masing-masing perkalian menghubungkan hanya angka terakhir dari hasilnya. Jadi misalnya 3 x4 = 12, hanya dilihat angka 2 nya saja. Dan ternyata jika menghubungkan titik2 tersebut di setiap perkalian bisa diketahui bahwa bentuk perkalian 1 dan 9 itu sama, perkalian 2 dan 8 itu sama. Perkalian 3 dan 7 serta perkalian 4 dan 6 itu sama. Memang ini merupakan hasil “ingatan” perkalian, tidak bisa mulai menghafal perkalian dengan bentuk-bentuk ini. Tapi “penemuan” ini cukup menarik buatku. Kata Gen sebetulnya usaha-usaha begitu ingin menunjukkan bahwa matematika itu menyenangkan, menarik pada anak-anak. Meskipun mungkin mereka sendiri tidak menyadarinya 😀

Waktu aku ceritakan pada Gen, dia mengatakan “Menarik bagi kamu, karena kamu mempunyai “perhatian” dalam matematika. Kamu itu sebetulnya tidak benci matematika…..” hehehe. Ya, aku akui aku tidak benci matematika tapi MALAS 😀

(Jadi ingin bertanya pada Pak Marsudiyanto dan Pak Amin Hers, teman blogger yang guru matematika :D)

Ensoku

25 Apr

Ensoku memang bahasa Jepang 遠足 yang memakai kanji jauh (tooi 遠い) dan kaki (ashi 足), membawa kaki ke tempat jauh. Bisa diterjemahkan Outing atau sekedar piknik saja. Kegiatan ini merupakan kegiatan resmi sekolah, paling sedikit TK dan SD, biasanya sekali setahun. Sedangkan untuk SMP dan SMA namanya bukan ensoku lagi, dan mungkin dengan sedikit tugas semacam karya wisata gitcuuuu.

Bagi anak-anak TK dan SD yang paling disukai tentu bento (bekal makanan) dan oyatsu (snack/makanan kecil), selain kesempatan bermain di tempat terbuka. Dan untuk kebanyakan sekolah TK dan SD di kelurahanku biasanya pergi ke Taman Shakujii yang mempunyai danau sendiri atau Taman Tokorozawa Aviation Park, Kouku-Koen, bekas lapangan terbang di Saitama. Kedua tempat ini sudah sering kami kunjungi, sehingga sebetulnya tidak “baru” lagi. Tapi namanya anak-anak, asal ada teman + tempat bermain + makanan cukuplah 😀

Nah tanggal 22 April lalu, tepat Jumat Agung, bukan hari libur di Jepang, dan ditentukan oleh TK nya Kai sebagai hari pelaksanaan Ensoku tahun ini. Tempatnya dari tahun ke tahun di Kouku Koen, dengan acara tetap yaitu berpotret bersama di depan kapal terbang.

Lucunya kalau di TK Kai ini, disebut sebagai Oyako Ensoku atau Ensoku yang diikuti anak-ortu. Aku ingat dulu waktu Riku hanya satu kali aku bisa pergi karena ada pelaksanaan persis aku harus mengajar. Tahun ini pun sebenarnya jika tahun ajaran baru di universitas tidak ada perubahan, aku pun tidak bisa pergi bersama Kai. Untunglah aku masih dalam kondisi “libur” sehingga bisa mengikuti acara TK ini.

Aku berdua Kai berangkat naik kereta untuk berkumpul langsung di Koukuu Koen pukul 10:15. Setelah absen, per kelas berjalan bersama dipandu gurunya yang membawa bendera warna kuning. Tentu saja kelas lain warna lain, sesuai dengan warna topi kelas. Kelas Kai adalah Kelas Tulip dengan topi warna kuning. Aku suka merasa lucu saja, rombongan turis berkelompok di Jepang pasti dipandu dengan pemandu yang membawa bendera. Karena aku tidak pernah ikut tur di Indonesia, aku tidak tahu apakah pemandu Indonesia membawa bendera atau tidak. Ada yang tahu?

Awalnya mau pulang aja tuh, akhirnya mau foto bersama, makan bento dan main bersama

 

 

Cukup sulit untuk mengatur anak-anak untuk berbaris rapih di depan pesawat. Ada fotografer profesional yang disewa pihak sekolah untuk mengambil foto per kelas ini. Tentu saja nanti kami bisa (dan biasanya pasti) memesan foto kelas itu dengan harga yang cukup mahal 😀

Setelah foto bersama, kami pindah tempat ke lapangan yang luas untuk makan bento bersama. Kami memang harus membawa bento sendiri, juga tikar alas, snack dan air minum. Kami makan bersama salah satu teman Kai dan ibunya yang aku rasa cukup cocok sifatnya denganku. Mungkin usia kami dekat, sehingga merasa tidak perlu terlalu lengket satu sama lain seperti mama-mama muda lainnya. Bisa baca soal mama-tomo di sini.

puas bermain,...dan mengejar burung tekukur ke mana-mana 😀

Setelah makan, free time sampai pukul 1 siang karena pukul 1 siang itu kami harus berkumpul di satu tempat sebelum pulang. Waaah lumayan deh ada 2 jam untuk membiarkan anak-anak bermain. Tapi… mamanya ngapain coba? Tentu saja mamanya HARUS menjaga anaknya bermain, jangan sampai celaka, atau jatuh atau berbuat yang bahaya.

Memang di salah satu pojok ada tempat bermain untuk anak-anak seperti jungle gym, tower, tempat pasir, perosotan besar dll. Awalnya Kai takut-takut untuk memanjat dan bermain di jungle gym, tapi akhirnya dia bisa enjoy juga. Mamanya? Ya menjaga sambil memotret deh hihihi.

Emang aku sudah niatin untuk memotret hari itu, makanya meskipun berat aku tetap membawa DSLR Nikon D-80 dan  Canon G9 yang biasa. Maklum aku belum terbiasa pakai yang Nikon, sehingga jika perlu yang close-up biasanya aku pakai Canon G9nya. Malas mengganti-ganti lensa Nikonnya. Aku cukup puas dengan hasil “hunting” foto hari Jumat itu.

dalam perjalanan pulang, payah nih si Kai selalu siap bergaya kalau mau difoto 😀

Jam 1 kami berkumpul dan pulang berpencar. Kalau masih mau lanjut boleh, mau pulang boleh. Tapi Kai sudah memaksa untuk cepat-cepat pulang. Aku sih berjalan santai ke arah stasiun (yang cukup jauh), tapi tahu-tahu kami menjadi rombongan terakhir yang pulang, dan satu gerbong dengan guru-guru Kai. Aku sempat terkagum-kagum dengan vitalitas guru-guru ini terutama kepala sekolahnya, yang masih ingat pada Riku. Dia sempat tanya Riku sekarang sudah kelas 3 ya? Duuuh kan muridnya banyak gitu, kok masih ingat sih? (Mungkin karena aku orang asing yah :D)

Perjalanan naik kereta sampai stasiun dekat rumah memang makan waktu 30 menit, dan 3 stasiun menjelang stasiun rumah Kai sudah mulai kriyep-kriyep matanya. Aku ajak main terus supaya dia jangan tertidur. Kalau tertidur aku payah karena harus gendong dia. Dia sudah lumayan berat 14 kg dan aku sendiri sudah bawa ransel yang berat kan.

Sesampai di stasiun rumah, kami sempat belanja sedikit, tapi cepat-cepat karena Riku pulang jam 3, dan aku mau sampai di rumah sebelum Riku pulang. Jadi cepat-cepatlah aku mengayuh sepeda pulang ke rumah, membonceng Kai yang sangat puas bermain hari itu.

Hasil foto pemandangan yang kurasa bagus 😉

 

 

 

Home Visit

21 Apr

Kunjungan ke rumah. Bahasa Jepangnya Katei Houmon 家庭訪問。 Oleh siapa? Ya tentu oleh Guru wali kelasnya, abis siapa lagi yah hehehe. Jadi di TK atau SD tertentu di Jepang masih ada sekolah yang memberlakukan Katei Houmon ini. Biasanya dilakukan sampai dengan akhir April, dengan perjanjian sebelumnya akan mengunjungi hari apa dan jam berapa. Waktunya hanya 5-10 menit saja.

Tujuan home visit ini untuk:
1. Mengetahui letak rumah murid sebenarnya.
2. Mengetahui (membaca) kondisi rumah tangga si murid.
3. Mengetahui (membaca) apakah ada permasalahan dalam keluarga si murid.
4. Menyampaikan perkembangan murid kepada orang tua.
5. Menjawab keraguan orang tua murid tentang perkembangan kelas dan tujuan pengajaran masing-masing tingkat kelas.
6. Mengecek keselamatan rute perjalanan ke sekolah.

Jadi barusan nih jam 13:40-13:50 gurunya Kai dua orang datang ke rumahku. Natsuko sensei (guru utama) dan Yachiyo sensei (guru pembantu) . Yang lucunya Natsuko sensei ini sebetulnya tahun lalu tinggal (orang tuanya) tinggal di lantai 2 apartemenku, jadi sebelum Kai masuk TK itu sudah sering bersapa-sapa terutama di parkiran sepeda. Tapi waktu itu aku tidak tahu namanya jadi cuma hafal muka saja. Jadi tadi waktu Natsuko sensei datang, dia langsung berkata, “Miyashita san, saya kan dulu di lantai 2 tinggalnya”….

Lalu Natsuko sensei menyampaikan perkembangan Kai selama bersekolah 2 minggu di TK. Ternyata Kai amat detil jika melakukan pewarnaan atau gunting menggunting. Sangat berkonsentrasi dan detil sekali dibanding dengan teman-temannya. Sampai Natsuko sensei bertanya apakah di rumah Kai sering melakukan prakarya? Hmmm sebetulnya sih tidak, tapi di tempat penitipan memang diajarkan membuat macam-macam, dan Kai sejak kecil belum 2 tahun sudah bisa menggambar mata, hidung, mulut pada tempatnya. Pewarnaan memang lebih rapih, berusaha tidak keluar garis (lain dengan Riku yang lebih bebas berkreasi). Dari situ saja kelihatan ya sifat-sifat masing-masing.

Selama 2 minggu sekolah, baru kemarin Kai menangis waktu aku tinggal di pintu masuk sekolah (sampai diantar masuk kelas oleh ibu kepseknya). Kupikir dia baru “sadar” akan kerutinan yang harus dia jalankan. Tapi tadi pagi tidak menangis, meskipun memang setiap hari sebelum berangkat ke TK dia akan mengatakan, “Aku kangen mama”. Kai lebih bisa dibujuk untuk tetap ke TK, dengan menjanjikan main ke taman atau pergi belanja sama-sama, atau bermain game “hidden object” di komputerku.

Menurut Natsuko sensei, selama ini Kai juga hanya menangis satu kali di dalam kelas, yaitu waktu Kai bingung harus bagaimana setelah melakukan satu tugas. Kai memang suka sebel kalau dirinya tidak bisa sesuatu, jadi itu kupikir nangis desperate nangis kesal (persis Riku dan mamanya hahaha)

Sebelum pulang, ke dua guru ini aku suguhi pisang goreng dan teh melati. Dulu waktu Riku aku tidak menyuguhi apa-apa, tapi kali ini kupikir, aku sudah biasa menghadapi guru-guru itu dan kebetulan ada waktu jadi aku goreng pisang saja. Pisang goreng itu pasti cocok deh untuk lidah orang Jepang. Mudah (dan murah) juga membuatnya kan?

Sepuluh menit itu cepat sekali berlalu, tapi untuk sepuluh menit itu aku sudah susah payah hampir 2 minggu untuk membereskan rumah hihihi (hiperbolis). Soalnya pas pergantian musim jadi barang-barang musim dingin seperti heater dan baju-baju harus disimpan, belum lagi mainannya anak-anak yang tiap hari berserakan di lantai. Lumayan deh sekarang rumahku(baca kandang kelinci)  sudah bisa menerima tamu nih. Siapa yang mau datang? Mumpung masih bersih dan aku belum ngajar hihihihi.

Gambat Kai dengan cat air pertama kali, judulnya "Sakura" katanya.

 

 

 

Belajar Berpuisi

9 Feb

Kapan ya kita pertama kali belajar berpuisi? Apakah masih ada puisi/ sajak yang kita ingat sampai saat ini? Yang kita pelajari di SD misalnya?

Aku sendiri lupa kapan persisnya aku belajar puisi. Sudah pasti dalam pelajaran bahasa Indonesia. Memang ada sebuah contoh puisi, lalu kami disuruh menulis puisi pendek, apa saja. Satu-satunya puisi pendek yang aku ingat pernah tulis di SD berjudul Ibuku.

Oh Ibu,
bila kudengar nama itu…. (selanjutnya lupa)

Dan terus terang, puisi yang aku buat bukan original. Ya, aku comot-comot sana sini menjadi satu puisi. Dulu aku punya kebiasaan membuat clipping puisi dan cerpen, sehingga dari situlah aku ambil… (payah banget yah? untung masih kreatif ngga plagiat plek hihihi)

Ada dua puisi penyair terkenal yang aku ingat sampai sekarang. Siapa lagi kalau bukan Chairil Anwar dengan “Aku” nya. Dan satu lagi, sepenggal puisi dengan : Beta Pattirajawane yang dijaga datu-datu cuma satu. Masih karangan Chairil Anwar tahun 1946, dengan judul Cerita buat Dien Tamalea.

Cerita Buat Dien Tamaela

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satuBeta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
Mari beria!
Mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau….

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

Aku temukan puisi Chairil Anwar ini dalam sebuah buku kumpulan puisi papa yang ada di kamar kerjanya. Waktu itu aku ingat, aku bersikeras ini menghafal sebuah puisi, dan terpilihlah puisi yang ini. Di kamar kerja yang sepi, aku bisa mendeklamasikan puisi itu dengan berapi-api tanpa malu…. maklum deh dulu aku memang benar-benar pemalu. Tapi …. aku yakin waktu itu aku sudah lebih besar dari SD.

Yang aku rasa hebat, semua murid Jepang dapat menghafal puisi-puisi penyair terkenal Jepang yang jumlahnya ratusan. Mereka harus menghafalnya, karena keluar dalam berbagai ujian/ujian masuk sekolah yang lebih tinggi!

Helloooooo sastra Indonesia? rasanya aku ingin malu deh membandingkan dengan sastra Jepang. Ok, memang sejarah Indonesia sebagai suatu negara masih baru. Anggap saja Indonesia masih anak SD yang baru mengenal huruf….hiks. Tapi benar deh, jika sebuah negara ingin maju, haruslah lebih mengenal sastra dan budayanya dengan benar. Bahasa, sastra budaya mutlak diperlukan dalam pembentukan diri.

Sebetulnya tujuan postingan ini hanyalah ingin memberitahukan bahwa anakku Riku, 2 SD, baru saja belajar puisi. Karena penasaran, aku intip, puisi macam apa sih yang diberikan sebagai contoh?  Apakah haiku seperti yang pernah ditulis IndahJuli di sini? Atau puisi modern yang lebih bebas tidak terikat dengan jumlah suku kata.

Mari kita intip puisi yang dipelajari:

Kaeru (Tanikawa Shuntaro)

Kaerukaeru wa
michimachi kaeru
mukaeru kaeru wa
hikkurikaeru

kinoborigaeru wa
kiwo torikaeru
tonosamagaeru wa
kaerumo kaeru

Kaasangaeru wa
Kogaeru kakaeru
tousan gaeru
itsukaeru

terjemahan bebas:

Kodok


Kodok yang pulang
salah jalan
Kodok yang menjemput
terbalik

Kodok yang memanjat pohon
tidak bisa konsentrasi
Kodok buduk besar
kodok-kodok pun pulang

Ibu kodok
Menggendong anak kodok
Bapak kodok
kapan pulang?

Ka no iroiro (Sakata Hiroo)

Ka
Tobu ka
Tobanu ka
Tobanu ka nanka
naidewanai ka
nemui ka
nemurenai ka
yorujuu naiteruka
kawaisouna ka
kawaisou ka
kawaisou dewanaika
kiitemita ka
kiitemo wakaranka
aa soudesu ka


Serba serbi nyamuk

Nyamuk
Nyamuk terbang
Apakah ada nyamuk tak terbang?

Ngantuk
Tidak bisa tidur
Sepanjang malam menangis

Kasihan nyamuk itu
atau tidak apa-apa ya?
Coba kubertanya
Ah, ditanyakan pun tidak mengerti
Begitu ya?

(FYI puisi-puisi ini aslinya ditulis dengan hiragana)

Dua puisi (ada 4 puisi sebenarnya) yang aku tuliskan di atas memang puisi modern, yang lebih menekankan pada permainan bunyi. Seperti cara kita berlatih huruf P dalam bahasa Inggris: Peter piper picked a pack of pickled peppers, how many packs of pickled peppers did peter piper really pick? atau huruf R bahasa Indonesia: Ular melingkar di pinggir pagar bundar.

Dan dua pengarang puisi di atas Tanikawa Shuntaro serta Sakata Hiroo adalah penulis puisi yang terkenal, pengarang Picture Book dan bahkan Sakata Hiroo adalah sastrawan anak-anak. Hampir semua orang Jepang mengenal nama mereka (well suamiku tahu dan memang dia suka sastra).

Tanikawa Shuntaro, 80th.... lihat senyumnya saja ikut senang ya. Ah, aku mau cari karya-karyanya yang lain

Memang Indonesia juga mempunyai penyair puisi/sajak yang terkenal. Tapi karyanya kebanyakan panjang-panjang dan tidak dipopulerkan di kalangan sekolah dasar. Mungkin juga karena isi puisi yang sulit dimengerti anak-anak. Tidak cocok untuk anak-anak karena berbau sosial atau protes terhadap pemerintah. Aku sendiri selalu suka karya W.S. Rendra, puisi mbelingnya Remy Sylado, Sutardji Calzoum, Eka Budianta atau yang paling baru aku kenal Joko Pinurbo (yang karya benar-benar tidak cocok untuk anak-anak alias 17 th ke atas 😀 ) Tapi aku tidak tahu apakah anak-anak SD sekarang kenal sastrawan-sastrwan ini. Atau mungkin saja karena aku tidak tahu kondisi di Indonesia sekarang, jadi tidak tahu puisi apa yang dihafal anak-anak SD Indonesia.

NB: Mohon maaf bagi teman-teman yang memakai blogspot (termasuk Intan rawit) saya tidak bisa menuliskan komentar, ditolak terus, ntah kenapa. Mungkin ada masalah dengan security IP saya atau bagaimana. ntahlah.

Tamiflu dan Kebijakan Sekolah

8 Feb

Ada seorang teman yang bertanya padaku, “Untuk influenza karena Virus H1N1 itu obatnya apa?” sambil bercanda dia bilang akan mempersiapkan kamus bahasa Jepang. Tapi sebetulnya tanpa kamus bahasa Jepang, cukup mas Google saja sudah bisa tahu spesifikasi obat yang Riku dan aku minum itu. Obat itu bernama Tamiflu dari Roche.

The drug is sold under the trade name Tamiflu and is taken orally in capsules or as a suspension. It has been used to treat and prevent Influenzavirus A and Influenzavirus B infection in over 50 million people since 1999.(wikipedia: tamiflu )

Seperti yang aku tuliskan sebelum ini, Dokternya sempat mengucapkan, “Kalau ibu demamnya naik, bisa minum obat yang sama ini. Saya rasa Riku tidak perlu semua”. Riku mendapat obat tamiflu itu, mungkin karena dia anggap sudah besar. Karena waktu kami baca surat keterangan dari apotik, sebenarnya obat ini dilarang diberikan pada anak berusia belasan tahun. Nah loh…..

obat keras tuh katanya ….

Selain tidak boleh diberikan pada pasien yang berusia belasan, dituliskan juga bahwa penderita flu yang minum obat ini jangan dibiarkan sendirian, paling sedikit selama 2 hari. Katanya karena obat ini keras, bisa beberapa penderita yang tidak kuat bisa melihat ilusi (penampakan? hihihi) atau keadaan setengah sadar yang mungkin dapat berbahaya.  Lucunya selama Riku minum obat ini, yang suka ngigau waktu tidur, justru bukan Riku, tapi Kai hahaha.

Akhirnya memang Riku cuma minum 3 butir saja. 1 butir setiap 12 jam. Sisanya 3 butir mamanya yang minum. Kami hentikan minum karena sudah tidak demam lagi.Masih ada 4 butir nih, untuk persediaan 😀

Ternyata memang sejak 2009, H1N1 dinyatakan sebagai virus influenza tipe baru yang diderita oleh kebanyakan penderita influenza, terutama jika belum pernah menderita influenza sebelumnya. H1N1 ini adalah yang dulu rame-ramenya disebut flu babi, swine flu. Tapi karena sekarang obatnya sudah ada, menderita influenza jenis baru ini sama sekali “biasa-biasa saja”, tidak ada perlakuan khusus. Aku ingat sekali, tahun lalu, waktu mau ambil obat di apotik saja, sampai harus lewat pintu belakang. Kayaknya heboooooh banget. Sekarang mungkin tipe barunya sudah jadi lama yah hihihi. (Tapi jangan lagi ada penyakit aneh-aneh ah).

Hari ini, Selasa 8 Februari, akhirnya Riku masuk sekolah kembali. Sejak tanggal 2 Februari dia dikenakan “Penghentian Absensi” 出席停止 shusseki teishi. Berdasarkan peraturan dalam “Hukum Kesehatan Sekolah” , bagi murid yang menderita penyakit-penyakit menular, yang kehadirannya bisa membuat orang-orang di sekelilingnya sakit, diberlakukan Penghentian Absensi, berhenti sekolah. Dengan adanya Penghentian Absensi,  maka waktu tidak masuk sekolah karena sakit itu tidak dihitung sebagai “tidak masuk sekolah/absen”. Karena banyak murid yang mengincar 皆勤賞 (kaikinshou) yaitu Penghargaan Tidak Pernah Absen…. (Riku juga mengincar ini, jadi dia tidak pernah malas dan minta bolos).

Nah, jika sudah sembuh, maka orang tua mengajukan surat mohon ijin sekolah kembali, dengan menyebutkan nama penyakit dan RS yang mengobatinya. Untungnya orang tua cukup mengisinya sendiri, karena untuk sekolah tertentu ada yang minta Surat Keterangan Dokter bahwa sudah sembuh dan itu tentu harus bayar 😀 minimal 300yen.

Penyakit menular apa saja yang dikenakan “Penghentian Absensi” ini, dan kapan boleh masuk (kapan dinyatakan sembuhnya):

1. Influenza     : 2 hari sesudah demam reda
2. Batuk Rejan (batuk 100 hari) : sampai batuk yang khas itu hilang
3. Measles Campak (Hashika) : 3 hari setelah demam reda
4. Gondong (Otafuku): setelah bengkak di bawah telinga kempis
5.  Measles jenis 3 hari (Mikka Hashika) : sampai bintik-bintik di badan hilang
6. Cacar Air (Mizubousou): Setelah semua cacar menjadi keropeng (kering)
7. Pharyngoconjunctival Fever (Adeno virus atau Puru byou): “hari setelah gejala penyakit hilang)
8. Tuberculosis : Sampai dokter menyatakan tidak berbahaya lagi

Ke delapan jenis penyakit ini dikategorikan menjadi penyakit jenis 2. Sedangkan penyakit jenis 3 semuanya membutuhkan pernyataan dokter bahwa sudah sembuh, seperti : Diare, muntaber, Kolera, hepatitis, Penyakit mulut, tangan dan kaki, Microplasma, Norovirus dll.

Memang untuk mencegah penyebaran penyakit menular harus ada peraturan yang ketat seperti ini. Apalagi untuk anak-anak (dan ibu-ibu) yang rajin belajar (kebanyakan orang Jepang memang rajin sih)  sehingga tidak mau absen. Kepentingan umum memang harus dijunjung tinggi ya.

Open House

22 Nov

Kalau di Indonesia biasanya kita mendengar istilah Open House ini pada hari Raya semisal Idul Fitri dan Natal, yaitu pejabat-pejabat dan boss membuka rumah mereka dan menerima tamu yang ingin mengucapkan selamat hari Raya. Kegiatan seperti ini tidak ada di Jepang (kecuali di KBRI) karena tentu saja orang Jepang tidak merayakan hari-hari agama (lagian rumahnya kecil sih hehehe).

Nah, hari Jumat-Sabtu kemarin (19-20 November) SD nya Riku mengadakan “Open House” atau mungkin kebih tepat diterjemahkan “Open School” (tapi takutnya orang Indonesia menyamakan Open School dengan Universitas Terbuka) . Bahasa Jepangnya memang persis sama dengan bahasa Inggris Open School gakkoukoukai 学校公開, membuka sekolah untuk umum, siapa saja boleh datang, asal mengisi buku tamu demi keamanan (kalau orangtua cukup memakai badge khusus). Istilah Open School ini aku bedakan dengan Open Class yang pernah kutulis di sini, yang bahasa Jepangnya jugyosankanbi 授業参観日 kunjungan ortu ke kelas untuk melihat proses pembelajaran.

Open school juga memperbolehkan orang tua melihat proses pembelajaran selama dua hari itu, tapi selain itu diadakan pameran hasil karya murid satu sekolah di gedung olahraganya.

Terus terang aku penuh dilema waktu itu, karena aku harus mengajar jumat sedangkan acaranya Riku itu jumat dan sabtu. Waktu kuberitahu aku tidak bisa datang jumatnya, Riku menangis. Dia bilang, “Tapi orangtua yang lain datang kan?”. Dia ingin memperlihatkan hasil belajarnya padaku. Ah, bingung, tapi kupikir kapan lagi Riku dengan senang hati, malahan berharap kedatangan orang tuanya ke kelas seperti ini. Biasanya sesudah kelas 4 SD, anak-anak tidak suka orang tuanya datang ke sekolah dan melihat mereka belajar.  Akhirnya aku minta ijin tidak mengajar, dan memberikan tugas saja kepada mahasiswa untuk pergi ke SD nya Riku.

Waktu aku sampai jam 9 pagi (jam pertama mulai jam 8:50 ~) mereka sedang belajar matematika. Dan …aku adalah orang tua yang pertama hadir. Betapa senangnya melihat wajah Riku yang berseri-seri tersenyum begitu. Dia memang duduk paling belakang, dan aku melihat pembelajaran itu di bagian belakang kelas. Gurunya- Chiaki sensei- senang juga melihat aku datang. Saat itu kelas dua sedang  mempelajari bentuk-bentuk segitiga, empat persegi panjang. Wah, aku juga jadi ikut belajar deh… karena sebetulnya aku tidak tahu istilah titik sudut itu chouten 頂点 (Inggrisnya vertex)  atau sisi itu hen へん   (Inggrisnya edge) … hahaha. Abis waktu universitas belajar bahasa Jepangnya kan tidak belajar matematika! (ngeles.com)

Pelajaran kedua adalah musik. Semua mengeluarkan pianika (di sini namanya kenban harmonika) . Satu kelas memainkan lagu edelweis dan yuuyake koyake. Aku langsung perhatikan tangan Riku…. benar deh dia kadang skip not yang dia tidak tahu, atau dia tidak tiup, sehingga tidak ketahuan kalau dia salah. Dasarrrr…. Memang oleh gurunya aku diberitahu bahwa Riku kurang bisa untuk pelajaran musik (kecuali nyanyi karena nyanyi dia bisa) dan olahraga. Dan musik itu sebetulnya bisa di -catch up dengan latihan. BUT persoalannya aku juga tidak bisa main musik. Paling yang aku bisa menyanyi  di sebelahnya dan membantu Riku mempertahankan tempo lagu. Itu yang aku lakukan, jadi untung saja waktu ada presentasi masing-masing murid, Riku tidak memalukan meskipun dia memilih lagu yang mudah hahaha. (Sampai aku berniat membeli metronom loh… tapi waktu aku bilang gen soal beli metronom, gen bilang tidak perlu)

Pelajaran ketiga adalah olahraga. Pemanasan dan permainan dodge ball. Yang lucu saking aku ngobrol dengan ibu yang lain, aku tidak tahu kapan Riku itu jatuh dan terluka lututnya. Tau-tau dia kembali ke lapangan dengan kaki kanan berplaster. Gurunya menghampiri aku dan menjelaskan bahwa Riku jatuh, sambil minta maaf kok terjadi di depan mamanya….semua kejadian di sekolah adalah tanggung jawab guru soalnya…. wah aku langsung bilang, no problem sensei. Aku yang mengikuti pelajaran dari awal (dan terus sampai akhir) saja capek apalagi si guru, benar-benar perlu stamina tinggi sebagai guru kelas 1-2-3 SD itu, karena harus mengajarkan semua pelajaran sendirian. Salut deh sama ibu guru SD.

Sesudah pelajaran olahraga,  jam keempat adalah jam prakarya. Tapi karena mereka sudah membuat hasil karya yang dipajang untuk pameran di gedung olahraga, maka jam pelajaran ini dipakai untuk melihat pameran.

Well, begitu masuk ruang olahraga aku terpana. Jujur, awalnya aku pikir, “Ah hasil karya anak SD bisa diprediksi hasilnya seperti apa…” Tapi, begitu masuk langsung terpampang karya seni yang mungkin kalau dipajang satu saja tidak “WAH” tapi dipajang banyak begitu, benar-benar menjadikan PAMERAN sungguhan (ya, masak boongan mel). Ungkapan Jepangnya: hakuryoku ga aru 迫力がある ada daya tarik yang besar.

Paling dekat pintu karya kelas 1, yang memamerkan lukisan dengan satu tema yaitu “Sarung Tangan”, sebuah cerita rakyat Ukraina (picture booknya terkenal juga di sini), dan topeng shishimai dari kotak tissue. Kelasnya Riku menampilkan lukisan hangga (nukilan kayu), lukisan memakai tinta hitam dan topi kertas. Lukisan hangganya Riku cukup bagus, menggambarkan tanuki (sejenis srigala) . Tapi topinya duuuuh HADE alias rameeee hiasannya. Ceritanya dia mau buat topi pet, jadinya tidak kelihatan seperti topi deh karena kebanyakan hiasan hahaha.

Yang membuatku terpana, setiap kelas menampilkan lukisan dan seni rupa yang berbeda dan memakai beragam media. HEBAT! ada paduan lukisan dan guntingan kertas, ada lukisan dengan memakai cat poster/cat air dipadukan robekan kertas, ada lukisan ala batik, ada hasil kerajinan keramik biasa (pot), tapi ada juga keramik dipadukan dengan kaca yang dibakar 1150 derajat sehingga menghasilkan semacam stained glass. Selain itu ada kursi karya kelas 6, dan lukisan bersama putih biru ala Henri Matisse.

topi pechanko (ambles) nya Riku....bener-bener ...rame! hahaha

Wah, melihat hasil karya anak SD sedemikian bagus dan beragam, benar-benar membuat aku ingin mempraktekkannya setelah pulang. Nanti ajak Riku dan Kai untuk membuat prakarya macam-macam ahhhh… (meskipun bisa bayangkan betapa berantakannya rumahku nanti …hiks…)

Sesudah jam ke4, murid-murid makan siang dan kami orang tua harus pulang (tidak boleh menonton mereka makan…alasannya? ngga ketelen makanannya hahahah) . Jadi setelah aku makan siang di rumah, aku kembali lagi untuk mengikuti jam ke 5. Pelajaran terakhir itu adalah Kokugo (bahasa Jepang), berdiskusi membuat cerita, dan menyatakan pendapat. Misalnya : “Aku suka ceritanya si anu bagian yang ini….” Bagus juga untuk pelajaran menyatakan pendapat.

Waktu aku masuk kelas awal pelajaran ke 5, sekali lagi aku yang pertama datang. Entah kenapa hari Jumat itu sedikit sekali ibu-ibu yang datang. Mungkin semua anggap toh bisa datang hari sabtunya bersama suaminya. Ada seorang murid teman Riku bertanya,
“Tante, tante datang dari pagi ya?”
“Iya…”
“Nggak capek?”
“Capek, tapi kan mau belajar sama kalian. Tante juga belajar loh hari ini. Semua pintar-pintar”
dan si murid tersenyum. Ah senangnya melihat beberapa teman sering memandang padaku dan menunjukkan hasil karya/tulisan mereka atau bertanya padaku. Apalagi Riku waktu pelajaran terakhir berkata, “Mama tunggu aku ya… pulang sama-sama” Anak lelaki ku ini memang masih manja, tapi aku menikmatinya, sebelum dia memasuki masa puber dan malu dekat-dekat ibunya hehehe.

Akhirnya memang benar tebakanku bahwa orang tua banyak yang datang hari Sabtunya. Sudah seperti pasar malam deh. Tapi kelas Riku juga sudah tidak belajar, karena mereka membuat semacam permainan-permainan untuk anak-anak dan pengunjung. Orang tua juga bisa ikut memancing, menebak barang, lempar gelang dan boling. Panitianya semua anak-anak.

Pelajaran ke 5 di hari kedua adalah bahasa Jepang tentang huruf Katakana. Waktu itu kami sebal juga karena seharusnya Riku bisa jiman, bangga menuliskan nama Indonesia atau Jakarta atau nama mamanya dalam katakana. Tapi Riku sama sekali menulis contoh yang lain hahaha. Tidak menjawab keinginan papa-mamanya.

Satu hal yang aku lihat di kelas yang membuat aku mengingat kembali apakah dulu kami begitu. Yaitu setiap jam pelajaran mulai  pasti semua dalam keadaan diam, duduk yang manis, dan waktu berakhir mengucapkan terima kasih, sambil menunduk pada guru. Sesudah pelajaran terakhir  juga menunduk memberikan hormat pada orangtua yang sudah hadir. Apakah di Indonesia masih melakukan hal-hal begini ya? Bukan gila hormat, tapi merupakan pelajaran disiplin yang aku rasa tetap perlu di jaman manapun, sekolah manapun, negara manapun… dmei membentuk anak-anak yang “teratur”.

Well, dua hari yang melelahkan bagi Riku dan bagiku juga. Dan karena Riku masuk sekolah di hari Sabtu, maka hari Senin ini Riku libur sebagai ganti hari Sabtu. Padahal besok (Selasa 23 November) merupakan hari libur nasional, hari untuk pekerja/buruh sehingga 3 hari berturut-turut libur. Tidak apa-apa sih untuk aku, cuma….. musti siapin makanan/snack yang banyak itu loh yang cukup merepotkan. Riku dan Kai sudah mulai makan banyak nih… hehehe

So… have a nice Monday temans!

(Hari ini aku masak ayam goreng, daging pedas, balado terong, ketoprak, jelly dan es buah…. kayak mau pesta yah hahahaha. Hujan! dingin! Aku pergi ngajar dulu yah)