Open School

20 Sep

Ada dua kegiatan di sekolah dasar Jepang yang melibatkan orang tua murid yaitu Jugyo Sankan 授業参観 (Open Class – orang tua melihat pembelajaran di kelas anaknya) dan Gakkou Koukai 学校公開 (Open School – Sekolah dibuka untuk umum/ yang mau mengunjungi). Tujuannya sama, yaitu supaya orang tua bisa melihat langsung kegiatan pembelajaran anaknya, tapi untuk yang Open School ini, orang tua bisa mendatangi kelas-kelas lainnya untuk “melongok” kegiatan pembelajaran, misalnya kelas komputer, kelas seni dsb. Sedangkan jugyou sankan atau open class, orang tua hanya berada di kelas anaknya saja, kecuali kalau ada kakak/adiknya di sekolah yang sama.

Kedua kegiatan ini memang biasanya diadakan pada hari biasa, tapi pasti ada satu hari Open School yang diadakan hari Sabtu sehingga orang tua yang bekerja di hari biasa juga bisa hadir. Kedua kegiatan ini sudah terdapat dalam rencana kegiatan sekolah tahunan, jadi bisa diketahui dari jauh-jauh hari (tidak mendadak), seperti juga kegiatan sekolah yang lain (termasuk Idou Kyoshitsu – Kelas Bergerak). Tidak ada kegiatan di sekolah yang mendadak, bahkan kalaupun ada gangguan cuaca sehingga terpaksa dibatalkan, pasti akan diberitahukan cadangan hari pelaksanaannya.

Hari ini merupakan Open School untuk SD nya Riku. Dan seperti biasa Riku amat mengharapkan kedatanganku. Sebetulnya aku harus bersyukur, karena banyak anak yang tidak suka jika ibunya datang. Riku malah sedih kalau aku tidak bisa datang 😀 Sehingga waktu kemarin dia mengingatkan bahwa hari Jumat ada Open School, aku cepat-cepat membatalkan rencana kencan dengan Sanchan 😀

Tapi hari ini aku tidak enak badan. Entah akhir-akhir ini aku merasa tidak bertenaga, sehingga harus tidur siang supaya bisa kuat. Pengaruh cuaca mungkin ya. Jadi tadi aku tidur lagi setelah mengantarkan Kai ke TK. Dan terbangun pukul 11. Hmm setelah melihat jadwal pelajaran dari jam pertama sampai ke 4 aku merasa tidak apa-apa jika aku tidak hadir. Aku juga sudah tanya Riku jam pelajaran ke berapa yang dia ingin sekali aku datang. Mamanya sudah tidak bisa kalau harus seharian berdiri terus di belakang kelas. Dan dia katakan jam ke 5 (13:40-14:25) dan ke 6 (14:30-15:15), karena di jam ke 6 dia akan presentasi. Jadi deh aku keluar rumah jam 13:20 berjalan ke SD karena tidak boleh naik sepeda (tidak ada parkir sepeda).

Jam ke 5 ternyata diadakan di perpustakaan. Ternyata waktu kulihat di jadwal judulnya: “Story Telling and Book Talk” , sehingga waktu aku datang dan bertemu wali kelas Riku, aku diajak masuk ke perpustakaan dan duduk (huh lega deh bisa duduk hehehe). Selama jam ke 5 hanya ada 5 orang tua murid yang datang dari 31 murid satu kelas. Yah memang sih biasanya orang tua murid datangnya jam pertama sampai ke 4 yang diadakan sebelum makan siang. Waktu makan siang kami harus pulang dan datang lagi pukul 13:40 (jam ke 5) itu. Jadi memang biasanya sedikit sekali orang tua yang hadir pada jam ke 5 dan ke 6.

Tapi waktu kutanya pada ibu yang di sebelahku dan kepada Riku juga, ternyata orang tua yang mengunjungi kelas sangat sedikit kali ini. Paling banyak 5 orang 🙁 Kasihan juga anak-anak ya. Memang kalau melihat pengalaman yang lalu, ibu-ibu akan bersemangat untuk hadir di kelas-kelas rendah, kelas 1-2-3, lalu mulai kelas 4 ke atas mulai malas datang. Mungkin bosan, mungkin merasa tidak perlu, mungkin tidak bisa karena bekerja. Aku pun sebetulnya kalau hari Jumat tidak bisa, tapi berhubung semester genap belum mulai (baru mulai minggu depan) aku bisa datang.

Anyway, pelajaran jam 5 di perpustakaan ini BAGUS sekali. Setelah jam ke 5 selesai, aku sempat memuji wali kelasnya, dan ternyata pelajaran seperti ini BARU percobaan pertama kali. Wah, aku katakan “Bagus sekali kalau setiap bulan diadakan pak!”. Sebagus apa sih?

Guru penanggung jawab perpustakaan (aku singkat guru perpustakaan) memulai pelajaran dengan menceritakan satu cerita dari Ethiopia (Judul : Mura no Eiyu – Watanabe Shigeo)  . Cerita yang menarik dan menjadi pengetahuan juga karena dengan demikian anak-anak juga ditanya Ethiopia itu di mana, dsb pengetahuan umum. Aku pun ikut terhibur dengan Story Telling ini.

Cerita rakyat Ethiopia

Sesudah itu guru tersebut mengadakan Book Talk; yaitu memperkenalkan buku-buku pilihan yang menurutku semua menarik. Ada buku tentang Kucing Kampung : bagaimana kucing kampung melewatkan satu hari dan bagaimana manusia meneliti Kucing Kampung, Cerita tentang Topi Merah dan Topi Putih yang justru merupakan buku matematika yang sulit, ada buku tentang Nasi, mulai dari ukuran berat jaman dulu sampai dalam satu mangkuk ada berapa butir beras, Cerita tentang pohon Mochi yang ternyata ada dalam buku teks pelajaran SD kelas 5 dsb. Ada cerita tentang kalender yang dibuat Julius Caesar dan Gregorius. Aku sendiri berminat membaca buku tentang Nasi itu, menarik!

sebagian dari buku-buku yang diperkenalkan dalam Book Talk

Setelah Book Talk selesai, murid-murid diberi waktu bebas untuk membaca buku atau meminjam buku. Buku-buku yang diperkenalkan guru tadi itu juga menjadi rebutan untuk dipinjam. Aku mencari Riku untuk melihat dia membaca atau meminjam buku apa…eeeeh ternyata dia berada di belakang meja peminjaman. Dia menjadi Petugas Perpustakaan. Oh iya dia kan memang anggota OSIS untuk seksi perpustakaan 😀 Senang dan bangga juga melihat anak sedang “bertugas”.

Jam ke 6 murid- murid kembali ke kelas dan melaksanakan pelajaran SOGO (Multidisiplin). Mereka dibagi menjadi 6 kelompok dan mengadakan presentasi atas penelitian mereka tentang “Beras”. Pantas waktu itu Riku minta bantuan aku untuk mencari tentang “Pengembangan Jenis Beras” di internet. Anak-anak dibiasakan untuk mengadakan presentasi. Ada yang berbicara jelas tapi ada pula yang kecil suaranya. Juga ada yang penelitiannya kurang “dalam” sehingga berkesan asal-asalan, tapi semua sudah berusaha dengan baik. Ada yang membuat presentasi berupa “buku laporan” dan ada yang berupa poster. Bagian Riku dia menjelaskan bagaimana pembuahan padi yang menjadi “bapak” dan padi “ibu” untuk menjadi padi jenis baru yang lebih tangguh dan enak rasanya. Suaranya lumayanlah meskipun masih kurang keras dan jelas (menurutku).

Meskipun aku hanya mengikuti jam ke 5 dan ke 6, hari ini aku merasa menjadi “murid” yang baik dan banyak belajar dari guru perpustkaan dan dari presentasi murid-murid. Gratis lagi 😀 Hebat deh.

Pulang sekitar jam 15:45, dan karena masih ada waktu 30 menit sebelum Riku pergi Juku (bimbel) , aku mengajak dia kencan di restoran dekat rumah untuk makan es krim. Kapan lagi aku ada waktu benar-benar “berduaan” dengan sulungku, jadi aku menikmati waktu 30 menit yang berharga itu, dan menghabiskan sisa-sisa makanannya sementara dia bergegas naik sepeda ke Juku. Sedangkan aku masih ada waktu 20 menit lagi sebelum menjemput Kai di TK.

Very nice one Friday for me… How was your Friday?

 

 

Antara Smartphone dan Daag

15 Jun

Telepon Pintar itu memang sudah menyebar luas. Hampir semua mahasiswa di tempat aku mengajar, memakai smartphone. Meskipun dalam kenyataannya aku masih banyak melihat wanita dan sebagian pria yang tidak berstatus sebagai mahasiswa/karyawan yang  memakai telepon biasa non smartphone. Aku sekarang memang memakai smartphone dan awalnya aku merasa “hebat” karena dengan satu gadget itu kita bisa menelepon, chatting, bermain, mengambil foto, browsing dsb. Padahal sebelumnya, pakai telepon biasapun sebenarnya sudah bisa. Tapi kecepatan koneksi internet yang ditawarkan memang mengagumkan sehingga layaknya aku membawa sebuah komputer kecil bersamaku (aku belum mempunyai iPad). Kekurangannya cuma satu: kecil. Maklum mataku sudah mulai rabun karena faktor u. 😀

Ada satu hal yang aku pelajari dari ibu-ibu, mamatomo, ibu-ibu di TK dan sekarang menjadi kebiasaanku juga. Yaitu waktu membaca pengumuman yang ditulis guru TK di papan. Dulu aku selalu menulis di catatan. Tapi begitu aku melihat trend baru ibu-ibu, mereka tidak lagi menulis tapi memotret papan pengumuman itu. Dengan smartphone, sangat mudah membesarkan foto sehingga sehingga hurufnya bisa terbaca, tanpa harus memindahkan ke komputer. Segala informasi yang penting, tinggal foto saja. Beres!

Semakin aku terbiasa dengan smartphoneku, semakin aku terbiasa memotret semua informasi itu. Praktis dong. TAPI aku sempat kesal dua kali oleh smartphone di tangan mahasiswa.

Aku pernah menulis status di FB:

Sedang memeriksa test bahasa Indonesia, dan aku tertawa (kecut) mendapati jawaban seorang mahasiswa dari pertanyaan: 私のカバンは重いです (Watashino kaban wa omoidesu). Iseng kutanya pada Riku, apa terjemahannya. Lalu dia berkata, “Aku punya rucksack berat!” wow… padahal aku tidak pernah mengajarkannya, meskipun jawaban yang benar, “Tas saya berat”. TAPI jauh lebih bagus dari jawaban muridku, “Nama saya berat” hihihi.
(Langsung masuk blacklist deh. Hei….kemana saja waktu aku jelaskan?????)

dan sebenarnya selain daripada tidak adanya perhatian dia waktu aku terangkan, ada pula jawaban yang memakai kata-kata bahasa Indonesia yang belum pernah aku ajarkan. Hmmm kok bisa dia menjawab seperti itu ya? Lalu aku coba masukkan kalimat yang harus diterjemahkan ke dalam google translator dan bingo! Jawabannya persis seperti yang dia tulis. O o o kamu ketahuan memakai google translator dalam smartphonenya untuk menjawab test! Dan parahnya ada 3 mahasiswa yang jawabannya plek sama!

Memang susah mengontrol begitu banyak mahasiswa dalam satu kelas. Tapi dari lembar jawabannya aku sudah tahu bahwa mahasiswa ini memakai smartphone dalam menjawab. Jelas aku kesal dan marah, sehingga minggu berikutnya aku menceritakan hal itu di depan kelas dan langsung mengatakan, “Kerjakan test dengan jujur. Pasti ketahuan kok. Dan jika pada test berikutnya ada lagi kejadian seperti ini saya akan mengurangi nilai mereka yang memakai smartphone. Usaha sih boleh, saya lebih suka kalian buka buku dan cari jawabannya di buku daripada di smartphone. Itu artinya bukan kalian yang belajar tapi si smartphone yang belajar”.

Hal kedua yang membuatku kesal, baru terjadi tadi siang. Waktu aku menyuruh semua mahasiswa untuk membaca, aku melihat ada seorang mahasiswa yang melihat kertas fotocopy temannya. “Oh dia tidak punya fotocopynya ” pikirku dan aku mau berikan dia satu lembar. Tapi sebelum aku sempat memberikan fotocopy itu, aku melihat dia mengambil smartphonenya dan memotret kertas fotocopy temannya. Sambil meneruskan pelajaran, dalam dada ini berkecamuk apakah aku perlu menegurnya atau tidak. What the heck! Aku biarkan saja, selama dia bisa mengikuti pelajaran dan menjawab pertanyaanku. TAPI sebetulnya lain kan mereka yang belajar dengan membaca lewat kertas dan yang membaca lewat smartphone. Jika ada kertas, mereka bisa mencatat, memberikan tambahan arti sendiri, sehingga mereka bisa BELAJAR dan pada akhirnya bisa menjawab test. Foto lembaran yang di smartphone tidak bisa ditambahkan dengan catatan-catatan, dan aku tidak yakin dia akan buka kedua kalinya 🙂 Selain itu kalau dia memandang smartphone dan ditegur, dia bisa jadikan alasan bahwa dia sedang membaca foto itu. Jaman memang berbeda! Jauh berbeda berkat kecanggihan teknologi. Dan kurasa dalam waktu dekat pihak universitas perlu membuat peraturan mengenai smartphone, atau dosennya yang harus mengubah pola mengajar atau membuat testnya. Seperti seminggu lalu akhirnya aku membuat test lisan, dan yang tidak bisa menjawab…pass (lewatkan) deh. NOL! Tidak bisa juga diterapkan mengumpulkan smartphone sebelum kuliah dimulai layaknya anak SD, karena sudah pasti diprotes, selain juga makan waktu untuk mengembalikannya. Smartphone di kampus sudah mulai membuat banyak masalah. 🙁

Tapi di antara kekesalan atas tingkah beberapa mahasiswa, aku masih senang karena masih ada mahasiswa yang benar-benar mau belajar. Seorang mahasiswa yang rajin tadi bercerita bahwa dia membuat daftar kata-kata baru sendiri dengan komputer dan mencetaknya, lalu menempelkannya di kamar, di WC, di pintu kamar mandi (persis daftar perkalian dsb untuk anak SD :D) supaya bisa belajar dan menghafal. Mendengar ceritanya aku merasa senang dan menghargai usahanya. Dan teman-teman yang duduk di sekitarnya (ada 4 orang) memang termasuk mahasiswa yang aktif dan pintar. Selain itu mereka juga yang selalu memberi salam terakhir dengan “Daag!” 😀 Waktu mendengar pertama memang aneh rasanya, karena meskipun memang aku ajarkan bahwa orang Indonesia pakai “Daag” dalam percakapan, selama 20 tahun mengajar di Jepang belum pernah ada yang berkata “Daag” padaku. Jadi geli juga dan ingin kuperingatkan bahwa jangan pakai daag kepada orang yang lebih tua atau kurang akrab…….tapi ah aku kan masih muda :D. Just enjoy it 😉

Bagaimana cara teman-teman belajar bahasa asing supaya cepat hafal? Apakah pernah menempel daftar/tabel kata-kata di dinding?

Tahun Terakhir

9 Apr

Tadi pagi aku pergi bersama Kai ke TKnya untuk mengikuti acara pembukaan tahun ajaran baru th 2013-2014. Memang di Jepang pendidikan (bahkan kantorpun) memulai tahun ajarannya (tahun fiskal) pada awal April. Biasanya hari-hari permulaan sekolah begini dihiasi dengan rimbunnya bunga sakura yang menyambut murid baru. Tapi murid-murid Tokyo tahun ini harus cukup puas disambut dengan udara yang cerah saja, karena pohon sakuranya sudah lebih banyak daunnya daripada bunganya 😀

sakura rontok…. hiks

Kami ke sekolah jam 8:30, karena kami diharapkan berkumpul pukul 8:40 di kelas. Cepat-cepat memuat barang-barang perlengkapan alat tulis dan segala macam pernik-pernik milik Kai dalam keranjang sepeda, lalu aku cepat-cepat mengayuh sepeda. Untung masih dapat tempat parkir sepeda di lapangan parkir TK. Lalu cepat-cepat menuju gerbang masuk, dan baru ingat bahwa kelas Kai berada di lantai dua dan tempat uwabaki (sepatu dalamnya) ada di pintu tengah. Sehingga kami cepat-cepat mengantri di barisan yang mau masuk pintu tengah. Agak terhambat karena setiap anak dan ibu yang masuk lewat pintu yang lebih kecil dari pintu utama itu harus membuka sepatu dan menggantinya dengan uwabaki, dan ibunya dengan sandal. Ngomong-ngomong soal sandal aku lupa membawa sandal, sehingga cepat-cepat pinjam sandal sekolah yang berada di gerbang masuk. Memang disediakan sandal untuk tamu TK, tapi jumlahnya sedikit, sehingga sebenarnya kami harus membawa sandal masing-masing sendiri.

uwabaki paling sederhana dan paling murah. Riku punya di bagian depannya (karet) berwarna biru, dia yang minta…mau modis katanya hahaha. Dasar anak SD. Kalau Kai sih masih polos, pakai apa saja yang dibelikan mamanya 😀

Langsung masuk ke kelas YURI (bunga bakung) kelas Riku yang baru, dan bertemu dengan gurunya Haruka Sensei yang cantiiiiik sekali! (Aku mau jadi anak TK lagi kalau gurunya secantik ini hehehe). Aku masukkan kotak peralatan di lokernya Kai, serta mengambil semua surat-surat pengumuman yang sudah ditaruh dalam loker. Selain itu kami harus menaruh topi penyelamat/alas duduk, tas tambahan, buku agenda, buku latihan menulis, gunting dan lem di tempat yang sudah disediakan. Semuanya kemarin sudah aku beri nama, yang ternyata makan waktu seharian 😀 repot deh. (Makanya kemarin tidak bisa posting baru…hihihi nyalahin kesibukan mempersiapkan tahun ajaran baru nih)

tumpukan topi penyelamat/alas duduk serta tas dalam kotak besar

Persis jam 9, kami berkumpul di aula dan mendengarkan perkenalan guru-guru serta temu muka dengan pengurus sekolah. Sayang mikenya rusak sehingga acara pembukaan tahun ajaran baru itu tidak bisa lancar. Oh ya pertemuan ini hanya dihadiri oleh kelas nenchuu (tahun kedua TK – usia 4 tahun) dan nencho (tahun ketiga – usia 5 tahun). Sedangkan kelas nensho (tahun pertama TK – usia 3 tahun) akan dimulai setelah kami pulang. Mereka masih baru, jadi ada upacara penerimaan murid baru, yang pasti dipenuhi dengan tangis anak-anak yang baru saja akan lepas dari orang tua. TK tempat Riku dan Kai bersekolah ini memang TK 幼稚園 (youchien) 3 tahun yang menerima anak-anak dari usia 3 sampai menjadi 6 tahun (sebelum SD… SD di Jepang dimulai oleh anak usia 6 tahun terhitung sejak 1 April). Ada pula TK program 2 tahun (hanya untuk usia 4 -6 tahun), tapi selain itu ada pula tempat penitipan, Hoikuen 保育園(semacam playgroup) yang biasanya menerima peserta dari usia 50 hari sampai 6 tahun).

Gurunya Kai yang cantik memberikan pengarahan/perkenalan kepada murid-muridnya.

Setelah upacara selesai kamu kembali ke kelas, mendengarkan pengumuman dan pulang. Oh ya mulai minggu depan akan ada katei houmon 家庭訪問 yaitu kunjungan guru ke rumah murid selama 10 menit…. wah aku musti bebenah biar kinclong deh rumahnya 😀 (Semoga tidak mengganggu waktu untuk menulis posting hehehe). Dan setelah aku menemui guru Kai untuk memberitahu bahwa hari Jumat Kai akan bolos (akan kutitip kepada ibu mertua selama aku mengajar), kami pun pulang. Sulit memang bagiku yang bekerja di bidang pendidikan juga, karena tahun ajaran dari TK sampai universitas sama semua 🙁 sedangkan mertuaku jauh tinggalnya sehingga tidak bisa mewakiliku. Sampai akhir April jam belajar di TK sampai pukul 11 saja, sehingga ribet untukku yang harus mengatur waktu untuk pergi mengajar juga. Tapi masih untung karena belum perlu membawa bento (bekal makanan), jadi aku bisa sedikit lega.

Dalam perjalanan pulang itu aku melihat pasangan bapak-ibu dengan anak-anak krucils usia 3 tahun menuju ke TK…. jadi teringat 2 tahun yang lalu, waktu pertama kali Kai masuk TK (dan 6 tahun lalu waktu Riku masuk TK)…duh waktu terbang begitu saja. Dan tahun ini adalah tahun terakhir Kai berada di TK. Dia penuh semangat untuk bersekolah! Tadi pagi saja dia yang memeriksa lampu dan api dalam apartemen kami apakah masih nyala atau sudah mati, tanpa diminta, baru memakai sepatu. Ah… anakku sudah mulai menjadi anak gede! Dan tentu saja akupun harus tetap bersemangat dan enjoy, menikmati tahun terakhir di TK, sebelum tahun depan dia menjadi anak SD. Semoga…semoga saja Kai bisa mendapat seikinshou 精勤賞 (penghargaan kehadiran terus di TK, hanya maksimal tidak masuk 3 hari! hmmmm bisa ngga ya???? hihihi) , karena tentu saja tidak akan bisa mendapat kaikinshou 皆勤賞 dengan kehadiran 100% (wong Jumat besok saja sudah akan bolos :D)

Yang penting SEMANGAT! …( termasuk semangat untuk bersihin rumah sebelum dikunjungi gurunya Kai :D)

**********************************************************************************************************

Oh ya, hanya mau mengingatkan bahwa tanggal 1 April kemarin Blog TE ini berulang tahun ke 5 dan aku mengadakan giveaway yang bisa dibaca di sini detilnya. Kalau sempat ikut ya, masih lama sih penutupannya sampai tanggal 22 April … Terima kasih sebelumnya!

Huruf Titik

10 Okt

Bukan hurufnya tulisan teman kita, si Titik, tapi memang huruf yang terdiri dari titik-titik. Setidaknya itulah terjemahan dari 点字 Tenji , atau yang kita kenal dengan huruf Braille. Kenal? Pernah lihat? Aku ragu apakah orang Indonesia pernah melihat langsung (bukan foto) pemakaian huruf Braille di sekitar kita. CMIIW

Ini sebetulnya tugas pelajaran Bahasa Jepangnya Riku. Kami memang libur berturut dari hari Sabtu, Minggu, Senin lalu. Bahkan hari Jumatnya sebetulnya adalah akhir semester satu SD nya Riku. Dan tidak ada libur antarsemester karena sudah banyak libur pada musim panasnya. Jadi hari Selasa adalah hari permulaan semester dua, dan Riku mempunyai PR yang harus diselesaikan. Padahal seperti yang kutulis di posting kemarin, kami sampai di rumah pukul 12 malam. Jadi?

Tugas Riku adalah mencari pemakaian huruf Braille di sekitar kehidupan kita, dan menuliskan laporan singkat, untuk kemudian dipresentasikan dalam grup mereka di kelas. Ini merupakan bagian pelajaran Bahasa Jepang yaitu menulis sakubun 作文 dan presentasi happyou 発表. Bagian ini menurutku penting sekali, karena dengan demikian mereka terbiasa memresentasikan pendapat mereka, sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Teratur deh kalau mendengar orang Jepang happyou, karena mereka sudah biasa dari kecil. (Indonesia bagaimana ya? hehehe)

Biasanya ‘Huruf Titik’ ini bisa dijumpai di stasiun. Banyak! Seperti daftar harga tiket ke setiap tujuan, lalu di lift juga banyak yang memiliki huruf braille. Pegangan tangga untuk memberikan informasi tangga itu ke mana, dan …(mungkin) berapa anak tangga (aku tak bisa baca jadi tidak tahu info apa yang tertulis). Tapi sebetulnya tidak usah jauh-jauh, karena di jalanan atau di stasiun pun ada biasanya berwarna kuning, dengan ‘tonjolan) bulat atau panjang, khusus untuk pejalan kaki tuna netra.

garis kuning dengan tonjolan, juga merupakan tenji bagi penyandang tuna netra

 

Tapi masalahnya Riku tidak sempat mencari contoh sebagai bahan penulisan. Waktu di rumah mertua di yokohama, aku sempat menemukan sebuah contoh yaitu tenji di kaleng minuman bir. Mungkin untuk memberitahukan kepada penyandang tuna netra bahwa kaleng minuman itu beralkohol. TAPI rasanya kurang cocok untuk dipakai sebagai contoh oleh Riku yang kelas 4 SD (kok minuman alkohol gitu). Jadi waktu pulang, sebelum kami pulang ke rumah, kami bermaksud mampir ke stasiun lalu mengambil foto untuk bahan PR nya Riku. Riku sendiri waktu itu sudah tertidur di mobil. Dan tiba-tiba aku teringat pernah melihat di bus surat di depan kantor pos dekat rumah kami. Kantor pos itu lebih dekat daripada stasiun, dan pastinya tidak banyak teman Riku yang “menemukan” pemakaian braille di bus surat. Jadi aku langsung memotret bus surat itu. Dan kalaupun perlu, Riku bisa ke kantor pos pagi harinya (pasti lewat sini juga kalau pergi ke sekolah).

Pagi harinya Riku menulis laporannya berdasarkan foto yang kubuat, dan menurutnya memang tidak ada temannya yang menulis sama dengannya. Horree…..

Dan secara tidak sengaja kemarin itu rupanya Hari Pos Sedunia. Rasanya pas sekali memadukan pos dengan huruf braille sebagai pengetahuan untuk Riku.

Bagaimana? Pernah lihat pemakaian huruf ini di tempatmu? Atau mungkin malah bisa membacanya? Hebatnya di buku pelajaran bahasa Jepangnya Riku ada loh daftar huruf braille itu lengkap dengan ‘tonjolan’nya.

pengenalan huruf braille kepada murid SD kelas 4

Penggalan dari postinganku di sini :

Pada tanggal 1 November 1890 untuk pertama kalinya huruf Braille yang memakai 6 titik dipakai untuk menggantikan huruf titik bagi penderita tunanetra di Jepang yang 12 titik. Yang merupakan bapak huruf titik untuk tuna netra di Jepang adalah Ishikawa Kuraji ( Huruf titik di Jepang berlainan dengan huruf yang dipakai di luar negeri, mungkin dikarenakan Bahasa Jepang tidak memakai alfabet, sehingga tidak cocok jika huruf Braille dipakai begitu saja. ) Yang pasti penderita tuna netra di Jepang sejak tahun 1890 ini sangat diperhatikan dengan pemakaian huruf titik ini di hampir semua fasilitas umum. Bahkan di kaleng-kaleng minuman, atau pegangan tangga, pasti didapati tulisan titik ini. Bila mau melihat dokumen mengenai huruf titi silakan baca wikipedia ini , yang memang berbahasa Jepang, tapi dengan melihat fotonya saja mungkin dapat kita lihat usaha-usaha melakukan Barrier Free bagi penyandang Tuna netra.

Pertemuan Orang Tua Murid

5 Okt

Aku tidak tahu apakah di Indonesia ada seperti ini. Dulu saya pernah dengar ada istilah POM, mungkin ini sebangsa PTA (Parent Teacher Association), dan aku tidak tahu seberapa sering mereka berkumpul dan membicarakan apa saja.

Kemarin aku mengikuti hogoshakai 保護者会 kelasnya Riku. Setiap tahun 3-4 kali diadakan pertemuan orang tua murid bersama gurunya untuk membahas perkembangan anak-anak. Kemarin adalah pertemuan terakhir di semester ganjil karena hari ini Riku menerima raport yang dinamakan Ayumi (あゆみ) artinya “langkah”. Pertemuan itu mulai pukul 3 siang, padahal aku musti mengajar sampai pukul 2:30. Dan butuh satu jam untuk pulang…. Terpaksa aku mempersingkat pelajaran sebelum waktunya selesai, dan lari pulang. Dari stasiun aku masih harus naik sepeda dan melewati jalan tanjakan. Tapi hebat, aku bisa sampai teng jam 3 di depan kelasnya Riku. Gurunya juga heran melihat aku, karena sebelumnya aku sudah memberitahukan bahwa aku akan terlambat.

Kami masing-masing menempati tempat duduk anaknya yang sudah disusun bentuk U mengelilingi guru. Sebelum mulai, kami menerima agenda pertemuan dalam selembar kertas dan gurunya berbicara menurut topik yang tertulis. Bahasan pertama adalah : Menoleh ke belakang, selama satu semester (Evaluasi) . Guru memberitahukan kami perkembangan murid-murid di matanya selama satu semester. Katanya dibanding 6 bulan yang lalu, murid yang masih kekanakan itu sudah berkembang menjadi setengah remaja. Contohnya anak-anak laki-laki sudah mulai memperlihatkan perhatian pada lawan jenis, dan bergerombol membicarakan “cewe” yang ditaksir (hihihi di mana aja sama ya?)  dan teman-temannya memberi advis bagaimana cara “mengaku” bahwa si A itu suka pada cewe itu… kokuhaku 告白. Guru Riku memang laki-laki jadi cukup dekat dengan anak laki-laki, sehingga merasa lucu dan mungkin ada waktunya untuk mengontrol pembicaraan soal lawan jenis sehingga yang perempuan juga tidak terganggu. Ini soal kehidupan, sedangkan soal pelajaran, ya memang pelajaran Kanji yang paling sulit dan merupakan momok untuk hampir semua anak. Setiap tahun jumlah kanjinya bertambah terus dan memang kanjinya sulit-sulit.

Gurunya juga menjelaskan bahwa rapor yang dibagikan hampir semua tidak bermasalah. Seperti yang pernah kutulis di sini, raport Jepang untuk kelas 4 SD hanya ada 3 penilaian yaitu “yoku dekiru よくできる bisa sekali, dekiru できる bisa dan mou sukoshi もうすこし sedikit lagi”, bukan berupa angka seperti di Indonesia. Juga tidak ada ranking kelas apalagi juara-juaraan. Tapi yang dinilai kebanyakan adalah sisi moralnya, bagaimana bersikap di kelas, apakah menjalankan tugas yang diberikan atau tidak. Seperti Riku, semester ini menjadi petugas lampu dan jendela, jadi apakah dia menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab atau tidak. (Barusan Riku pulang dan memberikan ayuminya, lumayan lah hasilnya)

Selain membicarakan perkembangan selama satu semester yang telah lewat, gurunya juga menerangkan rencana-rencana di semester ke 2 seperti ada 3 kali kunjungan masyarakat yaitu ke Dinas Pengolahan Air Limbah, planetarium dan keliling Tokyo, serta 3 kali kegiatan bersama dengan SLB yang berada dekat SD nya Riku. Kegiatan bersama ini aku rasa hebat karena anak-anak bisa mengetahui bahwa ada anak-anak juga yang tidak seberuntung mereka karena cacat mental. Aku tidak tahu apakah SD Riku ini bisa mengadakan kerjasama karena letaknya yang dekat, atau ada SD lain yang juga punya program semacam ini.

Setelah penjelasan dan pengumuman gurunya, kami orang tua murid, diberi kesempatan untuk bicara, memberitahukan perkembangan apa yang menyolok dari anak-anaknya, dan apa yang kurang atau perlu diperhatikan. Kebanyakan ibu-ibu menyampaikan bahwa selama 6 bulan anaknya mulai rajin, bisa belajar dengan tenang, tidak suka lupa barang, atau membantu pekerjaan rumah dengan masak bersama dll. Pas giliran aku, aku juga menyampaikan bahwa Riku menjadi lebih dewasa, sampai sering memperingati aku agar tidak kecapaian, atau kalau ada yang perlu dibeli biar dia yang belikan di toko terdekat bahkan memperhatikan adiknya. Kadang aku merasa Riku menjadi dewasa karbitan terlalu cepat, padahal dia masih anak-anak. Itu kusadari waktu dia menangis jika bertengkar dengan adiknya. Rupanya dia juga masih anak-anak. Wajar kan.

Selain itu aku menceritakan kepada gurunya mungkin anak-anak laki-laki itu belajar untuk approach anak perempuan karena mengikuti acara TV anak-anak Piramekino. Karena ada suatu tayangan bagaimana caranya anak lelaki “menyatakan cinta” pada teman ceweknya. Aku sendiri selalu ikut menonton acara TV itu, sehingga aku langsung memperingati Riku jangan seperti itu, kalau mau kokuhaku, liat dulu si cewe itu ada perhatian juga ngga. Karena sakit loh patah hati itu hahahhaa. Dan selama aku menceritakan soal TV ini, ternyata ibu-ibu yang lain jadi rame, karena mereka juga menganggap acara itu “tidak berbobot” sama seperti aku :D. Dan gurunya tidak tahu acara ini karena pada jam tayang jam 6:30, dia masih di sekolah, jadi tidak tahu sama sekali. Jadi aku sarankan merekam acara itu sehingga bisa tahu trend anak-anak jaman sekarang seperti apa. Karena mau melarang Riku untuk tidak menonton acara itu juga tidak bisa, karena teman-temannya menonton. Kasihan Riku jika tidak ada topik percakapan yang sama dengan teman-temannya kan?

Jadi gurunya Riku berterima kasih sekali karena aku menyebutkan acara TV yang mungkin bisa menjadi bahan trend anak-anak. Rupanya selama ini dia tidak tahu keberadaan acara ini. Senang juga aku bisa bicara yang berguna bagi gurunya, juga bagi ibu-ibu yang bekerja dan tidak bisa menemani anak-anaknya menonton TV. Inilah pentingnya ada pertemuan orang tua murid, hogoshakai, sehingga ibu-ibu (atau bapak) bisa mengetahui perkembangan anaknya, juga sekaligus  kehidupan berteman di sekolah. Karena semakin tinggi kelasnya (kelas 5 dan 6) akan lebih rumit lagi masalah-masalah yang dihadapi anak-anak, baik di bidang pergaulan atau pelajaran. Pentingnya pertemuan ini sangat aku sadari, sehingga aku selalu mengusahakan untuk datang. Dan ini jauh dari gosip di luar sekolah antar ibu-ibu, karena resmi dengan dipimpin gurunya. Biasanya pertemuan ini hanya berlangsung maksimal 1,5 jam sehingga tidak bertele-tele dan tidak buang waktu, langsung to the point. Tentu saja tanpa makan dan minum, bukan untuk nge-rumpi deh 😀 Sayang kegiatan ini tidak bisa aku foto, karena sulit mendapatkan ijin dari semua pihak terkait. Begitu masuk gedung sekolah, kami tidak bisa seenaknya memotret, karena berkaitan dengan privacy right kojin jouhou 個人情報。

Latihan Penanggulangan Bencana

15 Jun

Tiba lagi hari sibuk untukku. Ya, Kamis dan Jumat (juga Senin) merupakan hari sibukku. Untung saja Jumat pagi ini, Kai sangat kooperatif dan aku bisa sampai di kampus jauh lebih cepat dari jam mulai kuliah yang 10:45 (Jam kedua 10:45 – 12:15). Seharusnya aku juga mengajar jam ke tiga (13:05 – 14:35), tapi hari ini aku liburkan. Hmmm bukan liburkan tepatnya aku beri tugas yang dikerjakan masing-masing. Tugas sebagai pengganti jam ke tiga hari itu adalah mencari informasi tentang Indonesia dari internet, sambil menjawab pertanyaanku. Pertanyaanku itu sudah kuberikan minggu lalu dan  tidak susah, seperti berapa jumlah pulau di Indonesia, siapa nama presiden Indonesia, apa ibu kota dan di pulau apa dst, dst. Ada beberapa yang sudah mengumpulkan tugas itu via email dan mereka menuliskan kesan : “Dengan mencari informasi sendiri di internet, saya semakin ingin mempelajari Indonesia, dan ingin pergi ke sana”. Learning by doing and searching!

Tapi untuk mengantisipasi mahasiswa yang minggu lalu tidak hadir (dan tidak mengetahui bahwa hari ini ada tugas khusus), aku menunggu sampai pukul 13:15. Benar saja ada 3 mahasiswa yang lupa dan tidak tahu bahwa hari ini tidak ada kuliah melainkan tugas khusus. Setelah itu aku cepat-cepat pulang naik bus dan kereta yang ekspress karena aku harus berada di SD Riku pukul 14:50. Ya, hari ini ada latihan penanggulan bencana yang diadakan pemerintah daerah Nerima, tempat aku tinggal. Jadi seluruh SD di Nerima mengadakan latihan ini. Disimulasikan ada gempa besar 7,3 SR di daerah Kanto (Tokyo dan sekitar) pada pukul 14:46. Kemudian murid-murid berlatih untuk berlindung di bawah meja dan mengikuti perintah gurunya. Mereka kemudian keluar ke halaman sekolah smabil berbaris. Nah pada pukul 15:00 ini kami orang tua diharapkan menjemput anaknya masing-masing. Latihan penyerahan anak kepada orang tua. Saat itu kami orang tua harus menyebutkan nama murid dan hubungan apa (ibu/bapak/nenek/kakek) dengan sang anak. Ini supaya guru tidak menyerahkan pada orang yang salah, atau bisa menjawab jika ditanya anak ini dijemput siapa.

Dalam pengumumannya, kepala sekolah mengatakan bahwa sekolah Riku menjadi tempat pengungsian bagi warga sekitar, jadi nanti sekitar bulan November akan diadakan lagi latihan bersama warga sekitar dan kami diminta ikut berpartisipasi juga. Kelihatannya memang sepele sekali, tapi sekolah bertanggung jawab akan murid-muridnya sehingga perlu diadakan simulasi dan penegasan tugas masing-masing personil sekolah. Dan kegiatan ini memang dikoordinir juga oleh pemerintah daerah. Aku rasa penting sekali pemerintah daerah menata apa-apa saja yang harus dilaksanakan jika terjadi bencana.

Aku tidak bisa menjawab ketika seorang mahasiswa universitas W yang mengambil kuliah bahasa Indonesia kemarin bertanya, “Apakah ada latihan bencana untuk murid sekolah Indonesia?”. Yah, kujawab “Setahuku tidak ada. Tapi mungkin saja daerah yang sering terkena gempa seperti Padang sudah melaksanakannya. Saya tidak tahu. Pemerintah Daerah juga saya rasa belum berpikir sampai di sana.” Dia memang meneliti tentang Pendidikan Bencana untuk program Masternya. Ah, sedih rasanya kalau bicara soal pendidikan di Indonesia, terutama sehubungan dengan tanggung jawab sekolah akan keselamatan anak-anak didiknya. Semoga suatu saat, pendidikan kita akan teratur seperti di Jepang… Aku tetap berharap.

(Sambil aku teringat tulisan Nana : http://nanaharmanto.wordpress.com/2012/06/07/fire-drill/ yang menulis tentang latihan kebakaran…. tapi bukan jika terjadi bencana alam seperti gempa)

Tomat dan Stroberi

3 Mei

Akhir-akhir ini aku sering membeli stroberi, karena kebetulan toko sayur – yaoya 八百屋 tempat aku biasa membeli sayuran menjual stroberi dengan harga murah. Tahun-tahun lalu aku “pelit” sekali dalam soal membeli buah-buahan karena mahal, tapi tahun ini aku cukup royal. Satu kotak plastik bisa berisi sekitar 24 biji stroberi berukuran sedang seharga 200-250 yen (20rb-25rb rupiah). Dan kemarin toko sayur itu mengatakan bahwa setelah GW tidak akan menjual stroberi lagi karena musimnya sudah selesai.

 

Untuk tomat, terus terang aku juga jarang membeli. Apa sebab? Aku kurang suka tomat Jepang. TIDAK MANIS! Perasaan dulu waktu di Indonesia, aku sering makan tomat dan manis rasanya. Oleh ibuku sering dibuat sebagai “snack” tomat yang dipotong dadu lalu diberi gula pasir. Jadi buatku tomat adalah buah 😀 karena manis. Sedangkan tomat Jepang tidak ada rasanya. Biasanya dimakan untuk salad, setelah didinginkan di lemari es. Sedangkan kalau aku akhir-akhir ini sering membuat appetizer tomat dengan mozzarella chesse dan bumbunya lada, garam dan olive oil (Kalau suka basil bisa diberi basil, tapi aku ngga suka sih :D).

 

Kok aku menulis Tomat dan Stroberi untuk judul? Sebetulnya aku ingin bertanya menurut teman-teman Tomat dan Stroberi itu termasuk kategori “sayur 野菜” atau “buah 果物” ?

Setelah makan malam beberapa hari yang lalu, aku mengeluarkan dessert stroberi, hanya dicuci begitu saja. Biasanya Riku dan Kai akan “mencolek” stroberi itu pada susu kental manis (kalau ada) atau gula pasir. Sedangkan papa Gen selalu makan begitu saja. Nah saat itu, tiba-tiba Kai bertanya padaku,
“Mama, mama tahu stroberi itu apa? sayur atau buah?”
“eh? Buah kan?”
“BUKAN! Stroberi itu sayur loh!”
“Masa sih? Kok bisa?”
“Iya, kan nih liat masih ada rantingnya”

Lalu Riku menimpali, “Iya betul. Stroberi sama dengan tomat dan semangka, juga waluh termasuk sayur loh. Cuma karena manis aja maka ditaruh di tempat buah.”

Nah loh… aku langsung googling dengan bahasa Jepang イチゴは野菜?くだもの? dan ternyata memang (menurut orang Jepang) stroberi itu termasuk sayur. Karena pohonnya tidak tinggi (alasannya kurang jelas sih dan memang masih merupakan polemik). Jadi memang di Jepang Stroberi dan Tomat itu termasuk kategori “sayur”.

Tapi jika cari dengan bahasa Inggris akan bertemu jawaban lagi yaitu stroberi itu bukan termasuk buah, karena dia adalah pseudofruit (bijinya di luar). Polemik “sayur” atau “buah” itu muncul karena ada perbedaan pendapat antara “kuliner” dan “botanis”, atau antara yang membuat tumbuhan itu dan pemakai tumbuhan itu. Persepsinya berbeda.

Apapun kategorinya, stroberi itu memang enak yah hehehe.

Stroberi yang kami petik di kebun stroberi setahun yang lalu

Kembali lagi ke Kai dan Riku yang memberitahukan aku bahwa Stroberi adalah sayuran. Setelah aku googling, lalu aku berkata pada Kai dan Riku….
“Eh bener loh ternyata stroberi itu sayur! Terima kasih ya sudah kasih tahu mama. Mulai sekarang bukan hanya mama yang ‘mengajar’ Kai dan Riku tapi sebaliknya mulai sekarang kalian juga “mengajar” mama yah

Dan, persis sehari setelah itu aku menemukan dua buah pepatah  bahasa Jepang yang diperkenalkan dalam acara NHK kids, yaitu:

聞くは一時の恥、聞かぬは一生の恥

Kiku wa ittoki no haji, kikanu wa isshou no haji

Waktu bertanya itu mengalami rasa malu saat itu, tapi kalau tidak bertanya maka akan malu seumur hidup.
(Ya mungkin hampir sama dengan Malu bertanya sesat di jalan, tapi penekanannya berbeda. Di pepatah bahasa Jepang yang ditekannya rasa malunya. Ah memang orang Jepang berbudaya malu. Malu kalau tidal bisa! Malu kalau tidak berhasil sesuatu dsb dsb)

稽古とは 一より習ひ 十を知り 十よりかへる もとのその一 (千利休)

Keiko to wa ichi yori manabi ju wo shiri ju yori kaeru motono sono ichi (Sen no Rikyu)

Latihan itu belajar dari urutan pertama, sampai mengetahui urutan ke sepuluh, kemudian dari urutan ke sepuluh kembali lagi ke urutan pertama.
(Maksudnya jika kita berlatih dari awal sampai pada tingkat penguasaan maksimal, kemudian kembali ke awal, kondisi kita berbeda  dengan waktu pertama kali sekali kita berlatih. Jika manusia merasa sudah menguasai dan merasa cukup, maka manusia itu berhenti sampai di situ saja. Tidak benar-benar menguasai ilmu tersebut. Jadi sampai kapanpun harus terus belajar dan berlatih)

Sebetulnya aku ingin menuliskan tentang pepatah ini kemarin, pas hari Pendidikan Indonesia, tanggal 2 Mei, tapi biasa deh tertunda sampai sekarang. Silakan menghubungkan sendiri cerita Tomat dan Stroberi serta kedua pepatah di atas. Intinya tentu saja BELAJAR TERUS ya.

 

Cita-cita Anak dan Orang Tua

10 Apr

Ya, saya ingin menegaskan kembali bahwa memang tahun ajaran baru di Jepang itu dimulai bulan April, bukan Januari, Juli atau September. Alasannya?

Memang di Amerika dan Eropa, juga China tahun ajaran baru mulai  bulan September, sedangkan Korea bulan Maret. Kenapa musti dimulai April sih? Sebetulnya yang paling bisa dikatakan sebagai alasan yang tepat adalah bahwa karena bulan April merupakan awal tahun fiskal, sehingga semua anggaran bisa dimulai bersamaan. Lucunya awal tahun fiskal di Jepang yang April itu meniru Inggris tapi Inggris sendiri tidak menyamakan awal tahun fiskal dengan tahun ajaran 😀

Selain alasan bersamaan dengan tahun fiskal, ada juga alasan-alasan “sekunder” seperti kalau bulan April, awal musim semi ditandai dengan mekarnya bunga Sakura. Setiap upacara masuk sekolah/universitas pasti ada latar belakang bunga sakura. Secara psikologis, keindahan bunga ini memberikan semangat untuk memulai sesuatu yang baru. Musim semi juga berarti bertambah hangat, sehingga tidak perlu “berdingin-dingin” waktu belajar. Meskipun sekarang semua sekolah dilengkapi dengan AC dan Heater, rasanya akan lebih enak belajar jika udara itu “pas”, tidak dingin dan tidak panas. Jadi, tahun ajaran di Jepang itu dimulai April sampai Juli, kemudian sekitar 20 Juli masuk libur musim panas. Kemudian mulai lagi September sampai Februari/Maret, dengan libur pergantian tahun dan libur “kenaikan kelas” di bulan Maret. Jadi memang libur yang terpanjang itu waktu summer, musim panas yang sampai 1 bulan lebih. (Dan karena itu pula aku cuma bisa mudik pada musim panas ini. Sayang kan kalau mudiknya harus cepat-cepat.)

Nah, kemarin di tulisan “Langkah Baru“, aku menceritakan soal upacara awal tahun ajaran baru di TK. Karena Kai sudah tahun kedua di TK, kami datang ke TK dari pukul 8:40 sampai 9:40. Ya, kira-kira satu jam saja. Waktu meninggalkan TK, kami berselisipan dengan orang tua dan murid TK baru yang akan memulai TK pada tahun ini. TK Nensho (tahun pertama – usia 3 tahun). Mereka akan mengikuti upacara penerimaan murid baru yang dimulai pukul 10:30. Biasanya satu anak diantar oleh bapak dan ibunya (kecuali Ibu Imelda Miyashita dulu mengantar Riku dan Kai sendirian karena papanya juga sibuk dengan acara di universitasnya hehehe). Si Bapak tentu saja berjas, dan si Ibu juga dandan abiz, membawa kamera dan handycam untuk meliput upacara. Ya, pada hari ini mereka pertama kali melepas anaknya ke “masyarakat”.

Hebohnya orang tua yang mengantar anaknya pertama kali ke TK, tidak sama dengan waktu mengantar anaknya masuk SD, KECUALI jika anaknya tidak mengikuti pendidikan di TK, langsung masuk SD. Tapi pengamatanku ini juga mungkin karena SDnya Riku itu SD Negeri, jadi tidak terlampau “heboh”. Bagaimanapun juga memang ada kebanggaan tersendiri waktu mengantar anak kita mengikuti upacara masuk SD, sistem pendidikan formal yang memang wajib diikuti (sampai SMP). Nah, murid SD kelas 1 ini sering disebut dengan “pika-pika ichinensei” (Kelas 1 yang berkilau) dan tentu saja banyak diliput oleh media massa.

Pohon sakura di dekat SD nya Riku

Salah satu pertanyaan media massa itu biasanya, “Apa cita-citamu?”. Nah, jika pertanyaan ini diajukan pada anak-anak Indonesia, biasanya akan mengatakan : mau jadi dokter atau insinyur kan? Tapi ternyata di Jepang anak-anak lelaki itu nomor satu ingin menjadi “Atlit” dan yang perempuan ingin menjadi “tukang roti/kue”. Hmmm memang atlit profesional pendapatannya besar jeh. Aku memang juga sudah pernah menulis di posting Nak, kalau besar mau jadi apa?, dan meskipun angket itu dilakukan oleh perusahaan yang berbeda dengan responden berbeda, ternyata jawabannya sama!

Dan survey yang diadakan perusahaan ransel yang sudah diadakan sejak 1999, selama 14 tahun itu, cita-cita anak laki-laki itu tidak berubah untuk 3 besar, yaitu  menjadi Atlit, Polisi dan Supir. Hanya untuk perempuan 3 besarnya berubah urutan saja, tapi tetap mereka ingin menjadi pembuat roti/kue, artis dan florist. Membumi sekali kan?

Tapi cita-cita anak-anak tidaklah selalu sama dengan keinginan orang tua. Ternyata orang tua Jepang paling ingin menjadikan anak-anaknya sebagai : 1. Pegawai Negeri, 2. Atlit dan 3. Dokter…. untuk anak laki-laki 3 jenis pekerjaan ini juga tidak berubah selama 21 tahun. Sedangkan untuk anak perempuan, orang tua paling menginginkan anaknya menjadi perawat (nomor 1). Dan lucunya pekerjaan yang berhubungan dengan medis seperti farmasi, dokter dan medis lainnya menjadi lebih populer di kalangan orang tua. Hmmm, pegawai negeri ya…. mungkin sama saja dengan orang tua Indonesia ya? Bagaimana kamu? 😀

Tapi sebetulnya yang bercita-cita seharusnya memang si anak ya? Dan tentu bisa berganti-ganti sesuai dengan tingkat kedewasaannya. Orang tua hanya bisa mengarahkan saja, meskipun berkeinginan yang didasari pengamatan mendalam. Cita-cita Riku sekarang apa ya? Dulu dia pernah mau menjadi Pelukis, mungkin sekarang mau bekerja di Lego Corp hahaha. (Barusan Riku pulang, dan aku tanya dia kalau besar mau jadi apa? Dijawab: Cameraman! hahaha)

sumber data dari  http://juken.oricon.co.jp/2009661/full/#rk

 

Cita-cita anak-anak Jepang: LAKI-LAKI : Atlit, Polisi, Supir, Karakter TV/anime, Pemadam Kebakaran, Tukang, Koki, Pembuat roti/kue, Peneliti/Ilmuwan, Wiraswasta. PEREMPUAN: Pembuat roti/kue, Artis, florist, Guru PAUD, Perawat, Salon, Pet shop/trimmer, Toko ice cream, dokter, guru.

 

 

Keinginan orang tua terhadap anaknya. LAKI-LAKI : Pegawai negeri, atlit, dokter pegawai kantor, pemadam kebakaran, tukang, peneliti, farmasi, arsitek/sipil, polisi. PEREMPUAN: Perawat, pegawai negeri, farmasi, guru PAUD, Pembuat roti/kue, dokter, medis, guru, pramugari, artis.

Yuki dan Mochi

10 Des

Yuki adalah bahasa Jepang untuk Salju, sedangkan mochi tentu sudah banyak orang Indonesia yang tahu, yaitu kue yang terbuat dari beras ketan, yang kalau di Indonesia sering berisi kacang dan berlapis “bedak”. Kalau berbicara tentang Yuki dan Mochi, biasanya aku teringat pada produk LOTTE yang bernama Yuki Daifuku. Daifuku adalah mochi yang berisi sesuatu, bisa pasta dari kacang merah, atau stroberi dan lain-lain. Penampakannya seperti ini.

Dua hari ini, Jumat dan Sabtu, kami mengalami keduanya. Salju dan Mochi.

Sebagai bagian dari kurikulum TK nya Kai, tanggal 9 kemarin seharusnya kami mengikuti acara MOCHITSUKI (Membuat mochi dengan cara menumbuk beras ketan panas-panas, sampai halus dan bisa dibentuk menjadi kue mochi). Ini merupakan kegiatan tradisi TK ini yang selalu diadakan bulan Desember, sebelum libur Musim Dingin. Tapi, kenyataannya kemarin kami tidak bisa mengadakan acara itu karena hujan.

Ya, waktu aku bangun ternyata hujan dan aku menunggu telepon berantai yang menyatakan bahwa acara dibatalkan. Jika hujan memang pasti dibatalkan, tapi untuk kepastiannya akan ada pemberitahuan lewat telepon sekitar pukul 7 pagi. Setelah menerima telepon pemberitahuan dan meneruskan kepada orang tua yang lain, aku mempersiapkan bento (bekal makanan) untuk Kai. Karena aku kerja hari Jumat, aku telah minta pada Gen untuk ambil libur dan menemani Kai selama acara. Aku tidak bisa membatalkan kelas, karena sudah mendekati ujian akhir. Sambil mempersiapkan bento, aku melihat ke luar jendela, TERNYATA hujan berubah menjadi salju. Saljunya memang langsung mencair begitu menyentuh tanah, tapi tetap salju…..

WAH! Salju di awal Desember adalah hal yang aneh sekali. Belum pernah terjadi. Sudah bisa dipastikan transportasi akan terganggu. Jadi aku minta Gen untuk mengantarku ke stasiun setelah mengantar Kai dengan mobil. Benar saja, di halte bus kulihat banyak orang sudah menunggu bus yang tak kunjung datang. Mereka yang biasanya naik sepeda, pada hari hujan/salju akan menggunakan jasa bus. Aku bersyukur sekali Gen mengantarku sampai stasiun, sehingga aku malahan lebih cepat sampai di universitas daripada biasanya. Dan tentu saja Kai senang sekali diantar-jemput oleh papanya.

Memang sudah diberitahukan oleh pihak TK, bahwa jika Jumat hujan, maka acara akan digeser ke hari Sabtu. Orang Jepang memang selalu penuh perhitungan. Selalu ada simulasi, jika hujan bagaimana…. bahkan mereka juga berpikir sampai jika Sabtu hujan bagaimana. Jadi sering kami mendapat pemberitahuan pengadaan acara dengan dua alternatif tanggal pengganti jika hujan/badai/hal darurat lainnya.

Jadi Sabtu pagi ini aku bersama Kai (papanya ngantor, Riku tinggal di rumah) menghadiri acara Mochitsuki di TK nya Kai. Cuaca cerah hangat, sehingga aku tidak perlu memakai jaket tebal. Bersepeda ke TK, cukup sulit mencari tempat parkir sepeda, karena cuaca cerah menyebabkan satu keluarga datang! Satu anak paling sedikit 2 orang…bisa dibayangkan penuhnya deh.

Tapi acara pembuatan mochi ini dilaksanakan di luar, di halaman sekolah. Ada dua usu 臼 atau lumpang kayu dan sebuah penanak nasi tradisional untuk memasak nasi ketan. Setiap kelas (ada 9 kelas) mendapat 8 kg nasi ketan. Setelah ditaruh dalam lumpang, tiga bapak orang tua murid memukul/menumbuk nasi ketan dalam lumpang dengan palu khusus, sampai halus.

lumpang berisi nasi ketan yang sudah mulai halus

Tentu saja di tengah acara penumbukan nasi ketan itu diberi waktu untuk membuat acara potret bersama, guru, murid dan orang tua murid. TK ini bekerjasama dengan satu foto studio yang mengabadikan acara-acara TK sepanjang tahun. Nanti ada kesempatan orang tua murid untuk memesan dan membeli foto-foto kenangan tersebut. Tentu saja agak mahal dibanding dengan memotret sendiri, tapi memang bagus hasilnya. Untung aku sempat minta tolong mamatomo (mama temannya Kai) untuk mengambilkan fotoku. Jadi bisa aku pasang di sini. 😀 (Tak lupa harus diblur wajah orang yang lain ya)

Anak-anak diberi kesempatan memegang palu pemukul mochi

Aku senang dengan kegiatan ini, karena banyak anak-anak tidak tahu bagaimana mochi itu dibuat, apalagi secara tradisional. Kalau bukan kita yang melestarikan budaya itu, siapa lagi dong. Nah, setelah mochi itu halus, ditaruh di dalam panci besar dan dibawa ke kelas masing-masing. Di kelas ibu-ibu yang bertugas membuat kue mochi bulat dengan 4 rasa. Pasta kacang merah, saus mitarashi yang asin, kecap asin dengan nori, dan bertabur bubuk kedelai. Karena buatan sendiri dan cepat-cepat tentu bentuknya tidak bagus, tapi rasanya enak, karena langsung dimakan saat itu juga. Mochi kalau tunggu terlalu lama menjadi kering dan kurang enak. Aku sampai lupa mengambil foto hasil jadinya, karena tidak begitu bagus dipandang hehehe. Ternyata 8 kg itu cukup banyak sehingga semua bisa makan, dan aku bawa pulang bagianku untuk Riku.

Untuk tahun ini, kegiatan mochitsuki adalah kegiatan TK terakhir, karena mereka akan libur musim dingin dari tanggal 22 Desember sampai 9 Januari.