Nov
07

Saya sudah sering mengadakan kopdar (kopi darat) dengan teman-teman yang saya kenal di dunia maya, yang saya kenal lewat chatting di YM. Biasanya cukup memberitahukan kapan ada waktu kosong, berkumpul di suatu tempat dan siapa saja yang bisa datang, silakan datang. Akibatnya harus bertemu dengan  terlalu banyak orang yang sebetulnya hanya tahu nickname di YM saja. Belum ada pertemuan yang berkualitas yang saya rasakan pada kopdar-kopdar chatters. Itu 3-4 tahun yang lalu, kala chatting menjadi makanan sehari-hari.

Baru tahun ini saya membuka blog saya untuk umum. Dan dari pertemanan yang terjadi di blogsphere ini, saya pernah mengadakan acara kopdar dengan anggota “Asunaros”, so called group yang beranggotakan mas trainer NH18, Bang Hery Azwan, si bungsu Lala dan saya sendiri. Memang blog terasa lebih dalam artinya dari chat karena blog  merupakan cerminan sifat/pemikiran penulisnya. Kopdar pertama blogger itu terjadi bulan Agustus lalu, waktu saya mudik ke Jakarta dalam rangka summer holiday.

Setelah kembali ke Jepang,  menulis postingan di blog dengan intensif dan berjalan-jalan melanglang buana, terbang ke sana kemari dan menclok di Jakarta, Bandung, Amerika, dsb….dsb yang membuat pertemanan di blog juga bertambah banyak. Dan ketika saya harus pulang ke Jakarta dalam rangka menjenguk mama yang sedang masuk Rumah Sakit, saya sempat menghubungi Yoga, yang sebetulnya baru saja saya kenal lewat blognya yang lumayan “sulit dicerna”. Banyak bercerita berlatar filsafat dan yang menarik saya adalah ketertarikannya juga pada environment. Sampai saya bertanya padanya, apakah dia bekerja di LSM atau bahkan kantor negara yang mengurusi lingkungan hidup. Saya melihat ada banyak kesamaan pemikiran saya dengan Yoga, yang menyebabkan saya ingin bercakap-cakap langsung dengannya.

Yoga masih menutup jati dirinya
Yoga masih menutup jati dirinya

Padahal saya mengenal Yoga lewat blognya Danny julukan saya untuk Daniel Mahendra ….. seorang “cowok panggilan”…. baca tulisan bu Enny tentang cewek panggilan…. (bayangkan dalam 30 menit pertama bertemu ada 2-3 deringan telepon yang harus dijawab…. gimana bukan panggilan tuh?) yang saya tahu sibuknya super dupper, yang waktu tidurnya dikorting setiap hari untuk bekerja (dan pacaran mustinya hihihi), yang kerjanya berhubungan dengan buku dan editing…. sehingga membuat saya tertarik untuk mengetahui ilmu “membidani buku” di Indonesia. Dan dari percakapan lewat YM dengan Yoga dan Danny, tercetus juga nama Ibu Enny. Apalagi setelah Yoga mengatakan “Ibu Enny itu aslinya lain loh dengan isi blognya…. seru deh pokoknya”.

“Tapi apa ibu Enny mau ketemu saya?” Ragu karena saya merasa saya “bukan apa-apa” di mata Ibu Enny. Saya tidak dekat dengan ibu Enny, meskipun saya sudah beberapa kali berkunjung ke blog beliau. Saya merasa ilmu saya belum “sampe” untuk bisa mengerti tulisan ibu Enny mengenai Ekonomi dan Perbankan. Dari jawaban ibu Enny terhadap komentar-komentar juga meninggalkan kesan ibu Enny adalah guru yang tegas dan galak! Tanpa basa-basi….. Tapi saya diyakinkan oleh Yoga bahwa nama saya disebut juga dalam daftar blogger yang ingin ditemui….(bener tidak bu??? —semoga bener —hehehe)

Karena sebenarnya ketiga orang yang akan saya temui ini agak nyentrik, yang masing-masing mengaku sulit untuk “lumer” dalam percakapan dengan orang yang asing. Maka diputuskan untuk bertemu berempat saja (dan kelihatannya jumlah 4 ini keramat buat saya, karena asunaros juga terdiri dari 4 orang). Dan pertemuan ini benar-benar yang pertama dengan komposisi ini. Selain Yoga yang sudah pernah satu kali bertemu ibu Enny, kami semua belum pernah saling berjumpa. Tapi dengan keyakinan bahwa kopdar kali ini pasti butuh waktu lama, kami memilih untuk mulai dengan makan siang (dan tentu saja berlanjut dengan “tea time” dan “dinner” bahkan “supper”)

Sebetulnya saya agak ragu hari itu. Karena jam 4 pagi saya baru sampai di rumah setelah 3 jam berada di UGD RSPP untuk Kai. Kai demam sampai 39,8 sehingga berkat saran teman-teman Plurk, saya bawa dia ke UGD untuk periksa darah. Jangan-jangan dia DB atau typhus. Untung saja bukan. Dan setelah pulang dari RS, saya tidak tidur lagi dan mengerjakan terjemahan yang lumayan banyak itu. Terus terang saya bimbang. Pergi tidak pergi tidak…. Untung banyak yang bersedia menjaga Kai, dan sudah saya siapkan obat yang harus diberikan. Tadinya saya berencana pergi sendiri saja,  sms ibu Enny dan membatalkan kehadiran 2 anak. Tapi sesudah saya kirim sms, Riku merengek ingin ikut…. “Mama, aku mau ikut mama terus…kemana saja. Mama tahu? Di dunia ini yang aku sayangi cuman mama loh!” Mulailah dia pakai his charm memuji-muji supaya dia boleh ikut sama-sama. Kemudian saya pikir, asal dia tidak mengganggu apa salahnya ajak dia. Sudah lama aku tidak date berdua dia. Dan mungkin dia bisa temani Danny kalau ketakutan menghadapi 3 cewek. Meskipun dalam pembicaraan telepon dengan Danny, “Hati-hati mbak, anak-anak biasanya lengket sama saya” (yang kemudian saya jawab bukannya nenek-nenek, ibu-ibu dan gadis-gadis juga lengket pada kamu? — kayak lem tikus super kuat aja si Danny ini hahaha—)

Foto by Yoga ( really appreciate it...arigato)
Foto by Yoga ( really appreciate it…arigato)

Jadilah saya pergi dengan Riku, bertemu dengan sang Guru ibu Enny dan si pemilik lesung pipit Yoga. Danny masih dalam perjalanan (sampai kami pikir dia sudah keliling pulau jawa dulu sebelum sampai di PIM sekitar jam 5-6 an). Dari jam 1 sampai jam 8 malam …. 7 jam! (Yang lainnya masih nyambung loh sampai mall itu tutup, yang bisa dibaca di tulisannya bu Enny) Kok saya betah duduk di situ terus????  Memang saya sempat keluar-keluar jjl untuk mencari mainan untuk Riku, atau berulang kali mengambil makanan dan dessert yang “all you can eat” itu, tapi ini rekor untuk saya bisa selama itu berada dalam restoran yang sama dengan komposisi orang yang sama! (kalau di rumah sih biasa, ini di luar loh….) Dan tak sekalipun saya merasa pantat saya jadi tepos! hehehehe.

like a family kata Yoga.... (hei kamu juga anggota family itu bukan?)
like a family kata Yoga…. (hei kamu juga anggota family itu bukan?)

Chemistry…. entah apa namanya itu, memang ada sesuatu yang bisa menghubungkan 4 orang yang sebetulnya lebih banyak bertolak belakangnya ke 4 arah mata angin. Ibu Enny yang selalu berpikir ekonomis, menimbang untung rugi, planning semua dengan teliti. Tapi siapa sangka, Ibu Enny ternyata dulu penggemar BC, ratu novel romance, yang dulu waktu saya SMP/SMA juga sering baca. Alasannya novel BC bisa dipakai belajar bahasa Inggris, ringan, romantis tapi tidak jorok. Wah….teringat saya akan plot cerita BC yang selalu salah satu entah si laki atau si perempuan adalah orang kaya dan yang satunya lagi orang miskin, bertemu lalu happily everafter…. Ada juga ternyata persamaan saya yang que sera-sera dengan Ibu Enny, sang planner.

Kejutan dari Yoga untuk kami bertiga

Yoga yang awalnya pendiam, ciri khas orang bijak dan berpengetahuan, tapi membuat saya terpesona kala dia menebarkan senyuman yang khas dengan lesung pipit kecilnya. (Maaf Yoga, saya sempat meraba-raba lesung pipit kamu hihihi… you should laugh more often please). Dan Yoga pemilik hati yang sensitif dan senyum mempesona ini benar-benar tahu menyenangkan orang. As I said, I like surprises. Dan kali ini saya yang mendapat kejutan darinya. Yaitu sebuah lukisan “kepala atas saya, Riku dan Kai”. Her painting… yang dia buat sendiri dengan cat acrylic yang menonjolkan ciri khas Yoga Paint. Dan Yoga membuat lukisan itu untuk saya, Ibu Enny dan Danny… dan tentu saja self potrait. Sehingga bisa dijadikan banner nih. Banner untuk sebuah pertemuan. (Yoga, Gen suka sekali dengan lukisan itu dan dia langsung pasang di ruang makan kami. Terima kasih banyak)

Danny? si cowok panggilan ini tidak banyak omong memang waktu saya masih ada di situ. Karena apa? Selain dia juga sibuk menghabiskan rib yang segunung itu (jahat deh aku ngga dibagi biar sedikit…padahal pengen rasa tuh…) , dia sedang meratapi nasibnya menghadapi 3 cewek yang berasal dari generasi berlainan ini tapi jika berurusan dengan goda menggoda tidak bisa dibendung lagi. Sehingga larilah dia menemani Riku, anak saya yang bermain dengan komputernya. Dan gara-gara komputer inilah terbongkar rahasianya yang tersimpan dengan rapi selama ini (don’t worry Danny, saya yakin kita bertiga bisa jaga rahasia kamu kok, meskipun saya punya bukti fotonya hehehe. —pasti pembaca penasaran deh!)

Danny dan Riku dan komputer pembongkar rahasia

Satu lagi pertemuan yang mengesankan terjadi. Dan karena kesibukan saya menyelesaikan terjemahan (akhirnya bisa selesai tadi pagi…but…diberi tambahan dengan deadline hari Minggu), baru bisa hari ini saya posting tentang pertemuan itu (mascayo sudah menunggu posting ini yah…. nanti kalau ke Jakarta lagi, pasti saya akan buat waktu khusus untuk bertemu dengan Zia) . Kopi darat yang tanpa kopi, karena semua penyuka teh (saya boleh dibilang selama di Jakarta tidak minum kopi…gara-garanya juga karena tidak ada stock kopi sedangkan saya tidak pergi belanja sama sekali —- can you believe it? Imelda tanpa pergi ke supermarket untuk belanja keperluan bangsa cabe, bumbu instant atau molto dll memenuhi koper pulang ….. ) Kopi darat yang berlanjut dengan kopi udara, dan kopi maya……. kopi dangdut! dengan harapan bisa bertemu lagi jika ada kesempatan mudik lagi. (Mungkin lain kali bisa lebih santai sambil makan masakan sendiri ala jepang) Juga tidak menutup kemungkinan untuk bertemu blogger lainnya… atau bahkan kalau bisa saya ingin pergi ke Yogyakarta ke tempat ibu Tuti dan ibu Dyah, Pekan Baru tempatnya putri dan Sadam, Pontianak tempatnya Ita, semua tempat yang merupakan kediaman teman-teman blogger lain. Masih banyak waktu … masih banyak teman-teman dan masih banyak kesempatan untuk membuat kenangan manis untuk hari tua.

EN DAYORI
EN DAYORI

EN DAYORI singkatan Enny Daniel Yoga Riku….(mewakili saya) bisa diartikan sebagai Berita yang Sempurna.

Oct
30
Filed Under (DEAI 出会い- Pertemuan - Encounter) by imelda on 30-10-2008

Sebetulnya mau dibilang aneh bener juga nggak. Karena saya sudah tahu bahwa ada seorang tante juga yang masuk rumah sakit yang sama dengan mama. Dia di lantai 5 sedangkan mama di lantai 7 dengan penyakit yang berlainan.

Kemarin pagi mulai jam 6 aya aplus menjaga mama di RS, dan kemudian menemaninya ikut fisioterapi untuk kaki dan tangan kanannya (ternyata tangan kanannya juga sulit dipakai, yang saya ketahui baru waktu menemaninya menggosok gigi…. bukan tangannya yang bergerak tapi gigi/mukanya…Ffffhhhh).

Masuk ruang Fisioterapi, di sana ada 3 orang lain, satu anak kecil yang kemudian pergi karena sudah selesai, lalu ada seorang oma dan seorang kakek lain. Kemudian mama menempati tempat tidur di seberang si Oma Belanda ini. Kenapa belanda? Karena si Mas Bambang, ahli fisioterapi ini menyapa dia dengan sedikit bahasa Belanda.  Sambil mama disinar tangannya, si Mas Bambang ini melatih si Oma Belanda dengan, “Ein twee drie fier ….. tin 1,2,3,4 …10 bahasa Belanda. Aku rasa geli sekali karena pengucapannya itu `medok’ ..Belanda jawa gitu. Nah…setelah selesai, Si Mas Bambang ini menuntun si Oma berlatih jalan. Saat itu saya merasa aneh….

“Pak, pasien itu namanya Mutter?”

“Betul bu…. ”
Ya Ampun….. ya itu tante saya, alias kakak iparnya Mama. Saya tidak yakin dengan tampilang tubuh bagian belakang, tapi setelah meyakinkan wajahnya…

“Tante …ingat saya? (Duuuh pertanyaan yang salah ditujukan kepada orang yang aku ketemu 10 tahun sekali hehehhe)

“Coutrier…. Imelda”

“(Dalam bahasa Belanda) Tunggu sebentar… mana mama? dia kan juga di RS ini…”
“(Dalam bahasa Belanda) Ya…itu di depannya tante….)

Jadilah dua pasien adik ipar dan kakak ipar saling menjenguk di Ruang Fisioterapi. Sambil Mas Bambang dan petugas lain ramai bercanda dengan bahasa Jawa… (Kok iso ketemune di rumah sakit…. Si Mbak pinter boso londo gitu, kok iso ya? Yo, biasa denger… Lah…anakku ora iso jowo, tiap hari denger…krusak krusuk)

“Ya, saya juga iso jowo….hihihi, ngerti aja kalo bicara ya ngga bisa… ”

So, pagi kemarin ada lagi satu kejadian pertemuan yang aneh, meskipun prosentase kemungkinan terjadinya memang tinggi. Tapi saya pernah mengalami suatu pertemuan yang aneh di Lourdes, Perancis Utara Selatan. Lourdes adalah tempat Ziarah bagi umat Katolik dan setiap hari jutaan orang berkunjung di sini dari berbagai negara. Di situ saya bergabung dengan Day Pilgrim berbahasa Inggris, mengikuti misa bersama di bawah gereja utama…dan kebetulan karena grup ini kecil, saya yang disuruh mewakili grup membawa “papan nama” bahasa Inggris (seperti defile gitu deh). Nah berkat itu juga, tiba-tiba saya dipanggil oleh kakak teman sekelas, Mbak Elmi dan suami. “Imelda…. ya ampun kok bisa ketemu di sini”.

Ya memang aneh, karena dia dan suaminya sedang belajar Sastra Jawa di Belanda dan kebetulan ke Lourdes, sedangkan saya sedang short stay di London dan kebetulan ke Lourdes…. Dan di situ saya merasa bahwa dunia ini kecil adanya.

“Its a small world afterall”

Saya rasa banyak juga di antara teman-teman yang mengalami pertemuan aneh seperti ini. Bertemu kenalan di suatu tempat yang tidak diduga.

Mama dan Tante Zus (Eleonora Mutter)

Oct
01

Di hari yang suci ini,

aku ingin mohon maaf dari lubuk hatiku pada semua sahabat blogger yang merayakan Hari Raya Idul Fitri 1429 H.

Semoga aku diampuni….

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Tapi terutama aku mau mohon maaf pada sahabat serumahku di Jepang yang telah tiada. Yang telah kembali pada penciptanya, tepat hari ini tanggal 1 Oktober 2005. Tiga tahun yang lalu… sebagai korban Bom Bali 2.

Maafkan saya Ratih, saya tidak bisa mengunjungi pusaramu. Tidak juga berusaha menghubungi keluargamu setelah itu. Aku takut dan juga tidak bisa menghadapi kenyataan bahwa kamu sudah tidak ada. Tapi ketahuilah aku selalu berdoa untukmu, dan untuk anak-anakmu yang harus kehilangan ibu di usia yang belia. Kita memang tidak terlalu akrab, aku sibuk dengan kuliahku, dan kamu dengan pelajaran bahasa Jepang dan part time job. Tapi kita pernah mengalami saat-saat senang dan susah bersama, selama satu setengah tahun di bawah satu atap. (yang rumah itu sekarang sudah tidak ada tih…karena disegel pemerintah …karena induk semang kita berhutang banyak sekali ternyata untuk kegiatan politik suaminya. Untung kamu tidak lihat tih… tahun lalu aku ke sana dan shock melihat tempat itu rata dengan tanah)

Kamu ingat kan Tih, kita sama-sama pergi nonton Asia Bagus, sama-sama berdendang “Won’t be long”…. Atau waktu kita berdua terkikik-kikik masuk toko “condomania” di Harajuku. Menyusuri jalan Takeshita yang penuh dengan punkers… terbengong-bengong kita lihat manusia aneh berseliweran di situ. Juga kita sama-sama menikmati hiasan lampu Natal di Ebisu.

Kita sama-sama juga selalu ikut rombongan kakek-nenek berwisata naik bus, sebagai “pelengkap” dan “penggembira” rombongan induk semang kita. Masuk (onsen) pemandian air panas bersama. Menonton festival kembang api….

Kamu juga yang mengajari aku untuk telaten dan sabar waktu pakai kutex… karena aku iri lihat jari kamu yang mungil itu selalu rapih terhias warna-warni kuteks. Aku masih simpan satu kutex dari sekian banyak kutex yang sudah mengering pemberian kamu waktu kamu pulang ke Indonesia. Oh ya tih, aku seminggu lalu bertemu mantan boss kamu di Travel Biro “Orient Pasific” loh. Kantor itu sudah tutup tahun 2000 katanya. Dunia ini memang kecil ya.

Aku juga sempat bengong waktu kamu cerita bahwa putra ibu K yang menempati kamar sebelahku itu ternyata g*y, padahal kamu sempat naksir dia (kemana juga dia sekarang ya? Perancis maybe). Kamu begitu bersemangat mencari pacar orang Jepang, dan ingin menikah dengan orang Jepang… suatu hal yang sangat aku herankan. Tapi ternyata memang Tuhan memberikan kamu jodoh orang Jepang yang tinggal di Indonesia, moslem lagi. Dan kamu mempunyai 2 anak perempuan yang manisssss sekali.

Tapi… Ratih…. kamu harus pergi secepat itu. Aku masih tidak percaya membaca berita di koran yang memuat nama kamu besar-besar sebagai korban Bom Bali 2. Duh…. Ratih … 35 tahun saja usia kamu waktu itu. Sampai saat ini pun aku masih merasa kamu ada di jakarta. Biarlah aku mengenang kamu di usia yang muda, cantik dan ceria…. semoga Tuhan mau memelihara anak-anakmu, dan seluruh anggota keluarga yang kamu tinggalkan. Semoga keluarga kamu bisa merayakan hari Idul Fitri tahun ini dengan ikhlas dan tabah.

Ratih Tedjojanti…”Won’t be long”….kita mungkin akan bertemu di alam sana. Tunggu aku ya…. dan kita masuk onsen bersama lagi jika ada onsen di sana.

Alm Ratih - Alm Obaasan - aku
Alm Ratih - Alm Obaasan - aku, foto diambil 30 Sept 1993 (15 tahun yal). Dua orang yang membantu aku melewati masa-masa awal kedatangan di Jepang yang sulit.
Sep
18
Filed Under (Blogthing, DEAI 出会い- Pertemuan - Encounter) by imelda on 18-09-2008

Pasti sudah tahu kemana arah posting saya kali ini (ngga jauh-jauh dari persahabatan di dunia maya deh). Jika saya mencari di kamus Inggris-Jepang, virtual itu mempunyai 3 arti atau saya ringkas saja menjadi 2 arti yang sebetulnya saling bertolak belakang. Arti pertama : 事実上Real, sesungguhnya, fakta, atau tidak real tetapi “asli” 本質. Dan arti kedua : Angan-angan 仮想 atau di network (dalam hal ini internet). Dan bisa dipastikan jika kita mendengar kata virtual itu, kita langsung berasumsi yang ke dua, angan-angan atau internet. Jarang sekali ada yang mengartikan sebagai yang pertama. Bahkan saya pernah terpaksa harus menerjemahkan kata virtual itu menjadi “dilihat keseluruhan dari atas” yang masuk ke arti pertama tadi. Dan anehnya banyak sekali istilah yang memakai kata virtual di kamus tersebut, tapi tidak ada kata “Virtual Friend/Friends”. Lain halnya kalau kita input kata Virtual Friends dalam situs google, maka langsung keluar bermacam-macam situs, yang mengelola pertemanan di internet, di dunia maya.

Jadi saya ingin menulis tentang virtual friends (yang saya tidak mau terjemahkan menjadi teman maya… keenakan dong yang namanya Maya) yang sebetulnya cocok dengan penjelasan dari Kamus Inggris-Jepang itu. Teman di internet tetapi akhirnya dalam real, kenyataannya juga pernah bertemu. Yaitu tentang kelompok yang disebut dengan The Asunaros. (huh imelda mau cerita aja pake mubeng-mubeng dulu, to-the-point nape hehehe).

Apa dan siapa sih The Asunaros itu?  Yang mencetus kata Asunaros (with or without s) adalah Bang Hery, dan itu dalam komentarnya menyangkut buku dari Eko Ramaditya (hei Rama, kamu juga terlibat dalam pembentukan kami loh) yaitu di posting Tuna Netra Luar Biasa. Di situ pertama kali Bang Hery menyebutkan penamaan Asunaro pada  4 sekawan “virtual”. Katanya gini: ”

Untuk klub Asunaro (4 sekawan hi hi…): Bos Nh18, Ime-chan dan Lala
Jangan khawatir….don’t worry….
Semua kebagian tanda tangan…
Bila perlu ditambah tanda tangan saya sekalian…….

(Bang, kayaknya aku dapet ngga ada tanda-tangan Rama dan abang deh… ngga aci dong… Nanti kalau saya ke jkt lagi, akan saya tagih tanda tangannya — ngga usah di buku Rama, tapi di cek juga boleh hihihi)

Jadi sejak tanggal 8 Juli itulah The Asunaros berdiri…. (haiyah…. pake acara ulang tahun segala… hayoooo pasti yang mencetuskan sendiri lupa tuh. Aku soalnya orang sejarah, jadi tanggal/tahun amat penting! hihihi). Kemudian nama Asunaros dipakai untuk memudahkan panggilan ke 4 orang ini, seperti pada postingan saya yang “Mutiara” (sekarang saya bisa tahu kenapa postingan saya yang itu menjadi top di Pupolar Post… rupanya ada hubungannya dengan asunaro juga nih hihih…. mas Bos Om NH sebagai yang tertua ….ups… kudu beliin mutiara buat kita semua nih) Dan sepertinya sih, kelompok Asunaros ini bisa terbentuk karena usahanya Jeung Lala yang ingin sekali bertemu dengan Om (angkat juga) nya yang di Jakarta, Abang (angkat juga) nya yang penerbit dan kakak (angkat juga… eh la apa kuat kamu angkat aku???) nya yang akan mudik ke Jakarta. (Jadi aku juga berperan ya…gara-gara aku mudik kan tuh kalian-kalian mau ketemuan hihihi….. weleh ge-ernya keluar)

sorry ya asunaros, saya pasang fotonya di sini

Entah kenapa, memang awal persahabatan kami ini dimulai dari saling komentar pada postingan salah satu di antara kita, dan komentar itu dikomentari lagi sehingga bagaikan chatting dalam kolon komentar. Dan akhirnya hampir semua postingan kami setelah itu pasti ada komentar dari the Asunaros ini. (kecuali kalo males ngga tahu mau nulis apa). Mungkin dengan melihat itu juga Bang Hery tercetus nama Asunaro, yang merupakan judul dari film seri Jepang, Ordinary Trainer People, yang katanya pernah diputar juga di Indonesia. Dan kami ini benar-benar kompak sehingga pada tanggal 17 Juli, dalam satu hari itu kami berempat menulis potingan dengan topik yang sama. (Sesuai urutan waktu pemostingan) Saya membahas Asunaro dari asal katanya, Bang Hery tentang Sahabat Dunia Maya yang lebih akrab daripada teman/tetangga  di real, Mas trainer membahas keanehan pertemuan di dunia maya lengkap dengan informasi sifat-sifat masing-masing, khas seorang trainer yang amat cermat. Dan si Lala yang tidak sudi ketinggalan menulis ala novel, dengan kata-katanya yang memukau. Ya, katanya kami ini a little piece of heaven. (kok cuma a little sih la huehueehu).

Pertemuan kami yang tadinya hanya di internet menjadi kenyataan pada tanggal 1 Agustus lalu di sebuah restoran di kawasan Sudirman. Meskipun cuman sebentar, kami bisa menyadari, hey sebutan-sebutan yang kami kenal lewat internet itu benar-benar ada, riil dan mereka adalah manusia biasa sama seperti masing-masing dari kami. Dan benar…sifat-sifatnya sama seperti tulisan-tulisannya, yang ganjen ya memang ganjen, yang narsis memang narsis, yang jaim ya emang jaim, yang cuek bebek memang cuek bebek…. bukan cuek ayam, yang jorse emang jorse (weleh salah ya? ). Waktu bertemu seakan-akan kita sudah sekian kali bertemu, bukan untuk pertama kali. Ke-empat orang ini memang menulis sesuai dengan karakternya masing-masing, tanpa bumbu-bumbu yang jauh dari kenyataan, tanpa tipu menipu. Dan setelah pertemuan itu pun, persahabatan Asunaros tetap berlangsung, mungkin sedikit lebih kalem dari awal-awalnya (karena tambah hari tambah tua mungkin, semakin sadar…. tapi ngga tahu juga ya sesudah Ramadhan lewat mungkin meledak-ledak lagi). Setelah kami menulis review tentang Rama, yang bukunya diterbitkan oleh kantor nya Bang Hery, mungkin tugas kami, The Asunaros berikutnya saling menulis review penerbitan bukunya Lala, Mas trainer dan saya(?) … apapun kegiatannya senang rasanya kalau kita tahu ada yang selalu mendukung kita di setiap waktu in this unlimited world.  Kelompok Asunaro ini baru berusia 2 bulan je … masih bayi … (Waktu 8 September lupa aku… ngga tumpengan ya… bulan Ramadhan sih jadi mustinya buk ber ). (Sambil nulis gini jadi liat tgl 8 kemarin aku posting apa ya? Ternyata MY (NEW) HERO loh… hehehe) Semoga persahabatan di VIRTUAL WORLD ala kamus Jepang bisa berlanjut terus…

Bang Hery yang sedang sibuk imbas penerbitan bukunya Rama yang gempar itu take care kesehatannya….ditunggu lagi buku-buku dan postingan menariknya.

Mas trainer yang ngga tau sibuk atau ngga, tapi sementara ini tidak ada posting ganjen di bulan Ramadhan (LURUS —kayak jalan tol—kata bang Hery) … take care juga dan Selamat Ulang Tahun yang ke ….. , hari ini tgl 18 Sept 2008. Semoga panjang umur dan sukses selalu (meskipun sekarang pun sudah merupakan trainer yang sukses, believe me …btw kayaknya musti ganti bukan the ordinary trainer tapi extraordinary tuh. Lihat aja jumlah pengunjung blognya … padahal relatif baru ngeblog juga kan?) So dengan iringan piano mas trainer (weks yang ulang tahun kudu main), angkat suara…. He…… pi bersde tu yuuuuuu.

kakak dan adik angkat (-angkatan hihihi)

Jeung Lala, yang sedang manyun karena koneksi internet tidak mendukung untuk menulis postingan dan komentar…. (buruan ganti provider!)  Take care dengan kesehatan dunk, Makan yang bener pas buka dan sahur, jangan dikorting. Seperti yang aku bilang, jangan diet waktu bulan puasa… itu mah bunuh diri.  Dan pasti kalo kamu mati ngga diterima Tuhan loh. Kakakmu ini tetap menunggu-nunggu penentuan tanggal liburan ke Sby buat pesen tiketnya loh. Aku naik SQ aja biar bisa langsung ke sana hehehe (Sayang mileagenya SQ udah hangus).

Tapi saya juga berharap pertemanan kami ini juga jangan terlalu, jangan over-do/keep it moderate, hodo-hodoni kata orang Jepang.

Banzai!!!

itu bahasa Inggrisnya 一期一会 Ichigo-ichie yang pernah juga saya tulis dalam topik [Idiom4 huruf]. Artinya menghargai setiap pertemuan (deai) karena mungkin itu tidak akan pernah terjadi lagi. Pertemuan itu hanya ada satu kali dalam kehidupan kita. Perkataan ini merupakan inti pemikiran Sado (茶道) The way of tea, yang diucapkan pertama kali oleh Yamanoue Souji, yang merupakan murid Sen no Rikkyu. Master of Tea Ceremony. Karena menganggap pertemuan itu untuk pertama dan terakhir, maka dengan penuh perasaan dia akan melayani tamu yang datang untuk minum teh.

Kalau saya menoleh dan mengenang kembali, Saya pernah mengalami Ichigo Ichie ini. Di sebuah perjalanan kereta, bersama seorang wanita China yang bekas pelajar asing di Jepang. Kalau tidak salah waktu itu dia sudah bekerja, sedangkan saya masih mengurus wisuda master. Kami berdua naik kereta, saya sendiri lupa dari mana sampai mana, tapi yang saya ingat, kami berdua berdiri dan perjalanan cukup jauh….. Mungkin dari Yokohama menuju Tokyo. Terus terang waktu itu saya dalam keadaan bingung, bimbang apa keputusan saya selanjutnya. Ada 3 pilihan yaitu melanjutkan program Doktor, atau pulang ke Indonesia, atau tetap bekerja di Jepang. Program Doktor saya hapus dari pilihan karena saya sudah lelah waktu itu, lahir batin… sesudah menyelesaikan thesis yang tidak mudah dalam bahasa Jepang. Dalam satu tahun saya harus membaca Kanji kuno (tidak kuno-kuno banget sih), lalu harus menyusun apa yang mau saya tulis di thesis, berdasarkan pustaka yang ada. Sampai dengan seminggu sebelum penyerahan thesis, saya merubah susunan chapter…. sampai dosen pembimbing saya geleng-geleng kepala, meskipun dia lebih suka dengan susunan yang baru. But …1 minggu… seperti orang antara mati dan hidup.  Capek!! jadi melanjutkan bukan merupakan pilihan bagi saya saat itu.

Jika saya pulang ke Indonesia, saya akan kehilangan kehidupan saya dan berarti putus dengan pacar saya (sekarang mantan pacar)… tapi saya tahu bahwa saya belum tentu menikah dengannya waktu itu. Jika saya tinggal di Jepang, saya senang karena bisa bersama dia terus, tapi apakah saya akan terus bekerja sambilan sebagai dosen/guru honorer saja?  Bingung….

Tapi apa sebetulnya yang dilakukan si wanita China itu pada saya waktu itu?  Dia hanya bercerita tentang dia. Seorang wanita yang meninggalkan segala-galanya, juga pacarnya demi bekerja di tempat yang sekarang. Women Power!! Saya tidak ingat wajahnya…tidak pula tahu dimana dia tinggal, bahkan namanya. Yang saya ingat dia bertubuh kecil, bersetelan jas biru khas karyawan, begitu feminin tapi begitu kuat. Dia hanya berkata, “Apapun pilihan kamu, pasti bisa kok. Saya yakin kamu bisa. Kita wanita yang kuat, bukan? Gambatte ne”. Bukan suatu jawaban A atau B, tapi hanya sebuah sentilan bahwa apa saja yang saya pilih saya pasti bisa. Jangan dengarkan orang lain. Saya yang biasanya tidak suka pada orang China yang begitu egois, saat itu hanya terpana, dan turun di stasiun tujuan saya, sementara dia melambaikan tangan dari dalam kereta. OMG Saya lupa tanya teleponnya. Namanya…. tinggal di mana…. Bahkan saya tidak ingat mukanya. Tapi hari itu saya melangkah keluar pintu stasiun berjalan ke rumah saya dengan yakin bahwa saya harus tinggal di Jepang. Apapun yang saya akan lakukan. Itu pilihan saya. Satu episode hidup yang mungkin tidak akan terulang kembali. Ichigo-ichie.

Dengan pengalaman bertemu banyak orang sebagai guru bahasa Indonesia, saya menghargai setiap pertemuan dengan orang lain. Setiap orang membawa suatu pemikiran yang baru bagi saya. Dan mungkin itu  sedikit banyak merubah pandangan hidup saya.

Ada satu episode kecil dalam sebuah taksi. Saya akan pergi rekaman di studio Radio InterFM suatu malam. Studio biasanya kosong di atas jam 10 malam sampai kira-kira jam 5 pagi sebelum dipakai untuk siaran pagi hari. Karena waktu saya siang hari juga sibuk dengan mengajar, saya sering mengambil jadwal studio pukul 10 sampai 3 pagi, dan pulang-pergi naik taxi dari/ke rumah. Seperti biasa saya sering bercakap-cakap dengan supir taksi dan dia bertanya,

“jam segini ke daerah sini, apakah kamu bekerja di Hakuhoudou?” (Hakuhoudou adalah sebuah perusahaan advertising Jepang terkenal yang berkantor dekat studi saya. Dan perusahaan adv tidak mengenal jam kerja)

“BUkan…saya bekerja di Japan Times, tepatnya di Radio nya.”

“InterFM? 76,1 MHz?”

“Ya…. saya bekerja sebagai DJ di situ”

“Pantas saya pernah dengar suara Anda. Saya dari tadi mendengar suara Anda, tapi tidak ingat di mana. Siaran dini hari dalam bahasa asing kan?”

“Ya setiap sabtu dini hari jam 2, bahasa Indonesia”

“Ya…. saya selalu dengar kata-kata “Indoensia”…. Saya tidak mengerti tapi saya senang mendengar suara Anda seperti bernyanyi dan lagu-lagu yang diputar juga enak-enak”

“Wah terima kasih ….. Hari ini saya akan rekaman untuk Sabtu besok. Karena itu saya ke sini malam ini”

“Gambatte…nanti saya akan dengarkan lagi. Senang sekali bisa bertemu dengan DJ nya”

Dan dia menurunkan saya di depan gedung Japan Times. Dalam siaran malam itu, Saya putarkan satu lagu khusus untuk dia, whereever he hear me.

出会い本当に不思議ね DEAI hontouni Fushigi ne. Pertemuan itu memang aneh. Dari pertemuan dengan si supir taksi, saya sadar waktu itu bahwa suara saya bisa didengar oleh siapa saja. Dan mungkin ada seseorang entah dimana yang terhibur dengan acara saya. Itu membuat saya semakin bersemangat lagi dalam bekerja.

Si wanita China dan Si supir Taksi… ichigo ichie…..