Arsip Kategori: Song Lyric

Get Old With Me

Masih dalam suasana tulisan yang kemarin, aku ingin memperkenalkan sebuah iklan dan lagu yang akhir-akhir ini aku senangi.  Iklannya sebetulnya adalah iklan majalah untuk segala persiapan pernikahan dari gedung, gaun pengantin sampai interior rumah pengantin baru, yang bernama Zexy. Intinya sih, seperti  catch phrasenya: Menjadi tua denganku.  Iklan selama 30 detik itu benar-benar membuat orang berpikir untuk melewati harinya bersama….daripada sendirian menghadapi hari tua. Atau berpikiran kalau toh nanti harus sendirian, akan lebih bahagia jika mengisinya berdua… dan beranak-cucu. Aku tidak tahu apakah di Indonesia ada majalah seperti itu. Jadi seperti EO pernikahan yang menyusun berbagai plan upacara pernikahan tapi dicetak dalam majalah dan menjadi referensi bagi mereka yang akan menikah. Hmmm untuk mudahnya bayangkan seperti buku model rambut di salon deh. Tinggal tunjuk mau yang bagaimana, lalu telepon, (bayar) dan laksanakan. Bisnis pernikahan di Jepang memang amat berkembang, karenanya urusan nikah-menikah ini cukup menguras dompet 😀

Nah iklan ini memakai lagu dari seorang penyanyi dan pemain film Fukuyama Masaharu yang berjudul : Kazokuni narou (Mari membangun keluarga)

Meskipun telah membuatku bingung dengan berkata
“100 tahun berlalu tetaplah suka padaku”
Tetap tertawa di sebelahku
Terima kasih telah memilihku

Seberapapun kita saling percaya
Pasti akan ada hal yang tidak kita ketahui
Berdampingan hidup dengan “kesendirian”
Di situlah mungkin ada “cinta”

Suatu hari aku akan menjadi seperti papa yang tangguh sebagai sandaran keluarga
Suatu hari aku akan menjadi seperti mama yang lembut hatinya
Menjadi keluarga dan melewati segala yang akan menghadang

Waktu kecil aku amat lemah
sangat cengeng dan manja
sibuk dengan urusan sendiri
aku belum bisa membalas budi
Tetapi esok meskipun tak bisa langsung berubah
selangkah demi selangkah akan berubah dari orang yang menerima
bisa menjadi orang yang memberi 

Suatu hari aku menjadi seperti kakek yang pendiam tapi kuat
Suatu hari menjadi seperti nenek yang tersenyum manis
dapat hidup bersama kamu, menjadi seperti mereka

Suatu hari bersama seorang anak lelaki dengan senyum seperti kamu
Suatu hari bersama seorang anak perempuan yang cengeng seperti aku
Menjadi keluarga dan melewati segala yang akan menghadang
Jika bersama kamu pasti bisa
Mari kita meraih bahagia…. 

(diterjemahkan bebas oleh Imelda, dengan beberapa penyesuaian)

「100年経っても好きでいてね」
♪みんなの前で困らせたり
♪それでも隣で笑ってくれて
♪選んでくれてありがとう
♪どれほど深く信じ合っても
♪わからないこともあるでしょう
♪その孤独と寄り添い生きることが
♪「愛する」ということかもしれないから…
♪いつかお父さんみたいに大きな背中で
♪いつかお母さんみたいに静かな優しさで
♪どんなことも越えてゆける 家族になろうよ

♪小さな頃は身体が弱くて
♪すぐに泣いて甘えてたの
♪いつも自分のことばかり精一杯で
♪親孝行なんて出来てないけど
♪明日のわたしは
♪それほど変われないとしても
♪一歩ずつ 与えられる人から
♪与える人へかわってゆけたなら
♪いつかおじいちゃんみたいに無口な強さで
♪いつかおばちゃんみたいに可愛い笑顔で
♪あなたとなら生きてゆける そんなふたりになろうよ

♪いつかあなたの笑顔によく似た 男の子と
♪いつかわたしとおなじ泣き虫な 女の子と
♪どんなことも越えてゆける 家族になろうよ
♪あなたとなら生きてゆける
♪しあわせになろうよ

Satu lagi lagu untuk pernikahan yang sering dinyanyikan di pesta-pesta pernikahan yang liriknya cukup bagus (menurutku). Tentu saja selain lagu Kampai yang pernah kutulis di sini. Kalau di gereja memang banyak lagu-lagu yang cocok dinyanyikan untuk pesta pernikahan tapi apakah teman-teman tahu lagu umum berbahasa Indonesia yang cocok untuk pesta pernikahan. Kalau bahasa Inggris memang banyak yang memilihnya untuk dinyanyikan pada pesta pernikahan, tapi bahasa Indonesia? Aku sendiri waktu pesta pernikahanku memilih lagunya “Bawa daku pergi”nya Ruth Sahanaya dan “Serasa” nya Chrisye untuk diputar di pesta pernikahanku 12 tahun lalu.

Jika mau mendengar lagunya Fukuyama Masaharu ini, silakan matikan lagu di sidebar sebelah kiri dan tekan tombol play pada link YouTube di bawah ini:

Rumah Beratap Merah

Dari jendela kereta,
kulihat rumah beratap merah
rumah tempat tinggalku waktu kecil
Biji buah kesemek yang kutanam, sudah besarkah sekarang?
Coretan krayonku apakah masih ada di dindingnya?
Sekarang, siapakah yang tinggal di rumah itu?

Meskipun aku sudah berdiri setinggi-tingginya
suatu hari rumah beratap merah itu tak terlihat
Tertutup bangunan tinggi di sekitarnya
Suatu saat memang akupun menjadi dewasa
Jalan kecil penuh dengan rerumputan yang kurahasiakan itu
apakah masih ada?

Biji buah kesemek yang kutanam, sudah besarkah sekarang?
Coretan krayonku apakah masih ada di dindingnya?
Kamu selalu ada di hatiku….

Rumah beratap merah.

でんしゃのまどから 見える赤いやねは
小さいころ、ぼくが すんでた あの家
にわにうめた 柿のタネ 大きくなったかな
クレヨンのらくがきは まだかべにあるかな
今は、どんなひとが すんでる あの家

せのびして見ても ある日赤いやねは、
かくれてしまったよ ビルのうらがわに、
いつかいつかぼくだって 大人になるけど
ひみつだったちか道 はらっぱはあるかな、
ずっと心の中
赤いやねの家

Rumahku di Jkt. Ah...sambil menyanyi lagu ini aku kangen rumahku ini. Hai papa... hai mama... hai Nov, Chris, Dharma, Sophie, Kei... I miss you all.

Sore tadi  Riku pulang ke rumah dari sekolah dengan berdendang. Kebetulan papa Gen ada di rumah karena kurang enak badan. Kai juga demam  sejak Minggu, dan aku sendiri sudah mulai merasa kurang enak badan. Sepertinya aku tertular Kai.

“Papa tahu lagu ini?”, dan papanya ternyata tidak tahu.
Dan dia menyanyikan lagu “Akai Yane no Ie 赤い屋根の家” “Rumah beratap merah”.

Aku langsung mencarinya di uak Google yang baik hati dengan gudang informasinya. Dan menemukan lagunya di Youtube (silakan klik jika mau mendengarnya). Ah, lagu ini memang enak didengar sekaligus membuat mellow. Dan aku ikut berdendang bersama Riku.

Lagu yang juga bagus liriknya.

Aku memang jarang berpindah rumah. Aku memang tidak lahir di rumah yang terpajang fotonya di atas. Tapi di sebuah rumah yang berjarak 300 meter dari situ. Kami pindah ke rumah yang sekarang waktu aku berusia sekitar 7-8 tahun. Rumah tua bangunan Belanda dengan halaman luas. Setiap rumah yang ada di kompleks itu mempunyai nama, tapi sayang rumahku itu sudah dicopot namanya. Mungkin dulu rumah-rumah ini merupakan bungalow? Aku tak tahu. Yang aku ingat rumah itu begitu besar bagi kami yang masih kecil, dengan halaman gelap tertutup pohon bambu dan kamboja di halaman depan, dan pohon pisang, mangga, nangka di halaman belakang. Angker sekali kelihatannya.

Dan rumah itu beratap merah! Genting merah bata. Sehingga waktu aku mendengar lagu ini, aku merasa kangen pada rumahku di Jakarta.

Dan, aku ingin berbagi lagu ini untuk Vania yang akan berulang tahun tanggal 22 Mei nanti. Memang masih lama bagi Vania untuk bisa mengerti arti sebuah rumah, tapi rumah itu adalah saksi bisu perjalanan hidup seorang manusia. Ia melihat kegiatan kita sejak bangun sampai tertidur, dan perkembangan hidup kita. Rumah kenangan.

Saya tidak mendaftarkan posting ini dalam acara Vania’s May Giveaways yang diadakan Lyliana Thia di blog berdomain barunya The Green Pensieve karena saya tinggal di luar Indonesia. Tapi bagi yang mau ikutan, silakan bertandang ke sana. Banyak sekali info yang bisa didapatkan di sana, terutama yang mau belajar berkebun hidroponik. Adem banget rumahnya loh.

 

Dewi WC

Judulnya aneh ya? Bukan DEWI dengan nama panjang yang disingkat menjadi WC tapi memang WC, atau Water Closet beneran! Abis aneh kalau aku tulis Dewi Kakus kan? Judul aslinya Toire no kamisama トイレの神様 dari penyanyi bernama Uemura Kana. Sebuah lagu yang aku dengar di acara Kohaku Uta Gassen, acara tahunan NHK dalam menutup tahun pada oomisoka (malam tutup tahun).

Terus terang aku sudah lama tidak dengar lagu-lagu Jepang yang baru dan aku rasa duh kok judul lagu seperti itu sih? Pasti ada sesuatu pesan di dalamnya. Gen langsung berkata, “Denger deh mel, lagu itu kamu pasti suka. Cocok untuk kamu”. Dan aku dengarkan…. dan…aku menangis! Lah? Kok Dewi WC bisa bikin nangis?

Ok aku akan coba terjemahkan isi liriknya ya… (baca deh sampai habis)

Sejak aku kelas 3 SD
entah mengapa aku tinggal dengan nenek
Memang tinggalnya  di sebelah rumah kami
sama saja, kami tinggal bersama nenek

Setiap hari aku membantu pekerjaan rumah
dan kami juga bermain “catur jawa” (seperti Igo)
Tapi aku paling benci membersihkan WC
dan nenek berkata padaku begini

**di ruang WC ya nak…
tinggallah dewi WC yang amat cantik
makanya jika kamu membersihkan WC setiap hari
kamu juga akan cantik seperti dewi

Sejak hari itu
aku selalu membuat WC berkilap
aku ingin menjadi cantik
setiap hari kusikat bersih

Waktu kami pergi berdua
Kami makan soba dengan daging bebek
dan aku marah besar pada nenek
waktu dia lupa merekam acara kesukaanku

Ketika aku besar sedikit
aku bertengkar dengan nenek
dengan keluargapun aku tidak harmonis
aku merasa “jauh” dari mereka

Hari liburpun aku tidak pulang ke rumah
berdua saja bermain dengan pacarku
tidak ada lagi soba daging bebek dan catur jawa
di antara aku dan nenek

Mengapa ya, manusia melukai manusia lain
membuang sesuatu yang berguna
Meninggalkan nenek yang selalu menjadi pendukung
meninggalkan rumah (di Osaka) dan hidup sendiri

Tinggal di Tokyo sudah lebih dari 2 tahun
Nenek  masuk rumah sakit
menjadi kurus dan pucat
aku menjumpai nenek di rumah sakit

“Nenek, aku pulang”
sengaja aku bicara dengan nada riang seperti dulu
baru sebentar bercakap-cakap
Nenek mengusirku  “pulanglah….” katanya

Keesokan pagi
nenek pulang dalam damai
seakan-akan selama ini
menanti kedatanganku
Padahal aku selalu diasuhnya
aku belum sempat balas budinya
aku bukan cucu yang baik
tapi nenek selalu menungguku

“di ruang WC ya nak…
tinggallah dewi WC yang amat cantik”
Kata-kata nenek itu
apakah bisa membuatku jadi cantik?

**di ruang WC ya nak…
tinggallah dewi WC yang amat cantik
makanya jika kamu membersihkan WC setiap hari
kamu juga akan cantik seperti dewi

Aku bercita-cita menjadi
menantu yang baik
Hari ini pun aku
membersihkan WC sampai mengkilat

Nenek… Nenek …. Terima kasih
Nenek… benar-benar..kuberterimakasih….
(terjemahan bebas “Toire no Kamisama” oleh Imelda Coutrier, lirik bahasa Jepangnya bisa lihat di sini )

huhuhuhuhu….. ayo anak perempuan! Siapa yang tidak menangis mendengar lagu seperti ini. Apalagi kalau sambil lihat video clipnya. (Video clip yang di Youtube sudah ditonton 7 juta kali lohhhh huibat deh).  Tentu saja mereka yang pernah mengenal kehadiran seorang nenek akan menangis. Kalau tidakpun, biasanya yang cerewet soal WC siapa? Kalau bukan ibu kita sendiri?

Dan memang cobalah datang ke Jepang. Sedangkan WC di kedai makan yang kecilpun, WC nya bersih. Kalau pergi ke restoran yang agak besar atau toko convinience store seperti 7eleven/circle K, bahkan di dalam WC nya biasanya ada daftar kapan dan siapa yang bertugas membersihkan WC. Cobalah pergi ke WC stasiun sekitar pukul 10 pagi, pasti bersih karena baru dibersihkan. Jangan datang jam 7 pagi, karena sisa-sisa kotoran dari malam sebelumnya memang masih banyak. Memang kadang aku juga menjumpai WC yang kotor, tapi itu tidak sampai 10% dari WC yang kukunjungi. Dan memang benar toilet menunjukkan bagaimana kepribadianmu, atau kepribadian masyarakatnya, seperti yang ditulis Mamah Aline di sini.

Lagu Toire no Kamisama ini sekarang memang sedang hit di Jepang, tidak tahu menempati rangking berapa, tapi cukup sering dipasang dimana-mana. Apakah lagu ini menggambarkan WC Jepang terlalu kotor sehingga perlu dibersihkan? Rasanya bukan…. Lagu ini terpilih dalam Kohaku Uta Gassen, lebih karena menggambarkan keharmonisan keluarga. Pentingnya keluarga sering diangkat sebagai tema karena seperti dalam lirik lagu itu memang biasanya anak-anak jika sudah masuk universitas, dan jauh dari tempat tinggal akan hidup kost sendiri, dan semakin jauh dari keluarga. Lagu ini memang membuat pemuda/pemudi  20-an tahun menangis terharu. Semoga saja mereka tetap memikirkan kakek/neneknya terlebih orang tuanya.

Tapi yang kadang aku merasa heran dengan penyanyi Jepang itu memang idenya untuk menciptakan lagu yang sangat beragam. Kok bisa aja gitchuuu… Dari kejadian-kejadian kecil sehari-hari saja bisa menjadi tema lagu. Tidak melulu cinta dan perselingkuhan seperti lagu-lagu di Indonesia. Tidak pernah akan terpikir kan oleh pengarang lagu Indonesia untuk memasukkan soal membersihkan WC atau menyeterika kemeja dalam lirik lagu? Tapi itu ada di Jepang. Selayaknya pemusik Indonesia juga bisa mengangkat tema-tema sosial/masyarakat dalam lagunya dan menjadikannya  populer!

NB:  Buat yang mau dengar lagunya seperti bagaimana silakan lihat di Youtube ini

Hadiah Kata-kata

Menjelang akhir bulan Maret…. Di mana-mana di Tokyo bisa terlihat mahasiswa yang memakai hakama dan jas untuk menghadiri upacara kelulusan. Memang hakama untuk wanita seringnya dipakai untuk acara lulusan sotsugyou shiki 卒業式, meskipun tidak dilarang untuk memakai kimono atau baju biasa. Dan biasanya malamnya diadakan pesta “terima kasih” shaonkai 謝恩会, acara bagi para mahasiswa mengucapkan terima kasih atas bimbingan dosen-dosennya.

Pagi ini, Gen memakai dasi putih dan jas hitam karena ada acara wisuda di universitasnya yang diadakan di hotel terkenal di Yotsuya. Begitu Gen mengikat dasinya, Riku mengatakan, “hari ini ada apa pa? pesta?” Rupanya dia mulai mengamati bahwa baju yang lain berarti ada sesuatu. Yang praktis memang untuk pria, cukup mempunyai jas hitam untuk acara formal. Dasi putih jika itu perayaan, dan dasi hitam jika upacara kematian.

Ada sebuah lagu yang selalu dinyanyikan pada waktu perpisahan selain lagu “Omoide no Album” (Album Kenangan) yang pernah aku tulis di postingan tentang wisudanya Riku di TK, yaitu  Okuru Kotoba 贈ることば yang arti harafiahnya Hadiah (berupa) Kata-kata.

(1)  Senja hari, kota berada dalam cahaya dan bayangan
kata-kata ini kuhantarkan untuk kamu yang akan pergi
daripada kau tekan rasa sedih dan tersenyum
lebih baik kau menangis sampai kering airmatamu
karena semakin banyak bersedih
manusia menjadi semakin lembut
terlalu menyedihkan jika kuucapkan sayonara saja
kupersembahkan hadiah kata-kata  untukmu yang kucinta

(2) Meskipun kata-kataku terpotong angin senja
dengarkanlah hadiah kata-kataku ini sampai selesai
daripada kamu mengeluh tak bisa percaya orang
lebih baik percayai manusia dan  terluka
jangan kejar sebuah kebaikan
karena itu hanyalah alasan seorang pengecut
kupersembahkan hadiah kata-kata  tanpa hiasan ini
untukmu yang kamu yang pertama kucinta

(3) Dalam kehidupan yang akan dimulai sekarang
pasti akan ada seseorang yang mencintaimu
akan tetapi pasti tidak akan ada
orang yang mencintaimu sedalam aku
bayang itu semakin jauh, tenggelam dalam lautan manusia
dan hadiah kata-kataku tak tersampaikan
hadiah kata-kataku …tak tersampaikan

(translated by imelda, dengan banyak modifikasi)

(1) 暮れなずむ町の 光と影の中
去りゆくあなたへ 贈る言葉

悲しみこらえて 微笑むよりも

涙かれるまで 泣くほうがいい

人は悲しみが 多いほど

人には優しく できるのだから

さよならだけでは さびしすぎるから

愛するあなたへ 贈る言葉

(2) 夕暮れの風に 途切れたけれど
終わりまで聞いて 贈る言葉

信じられぬと 嘆くよりも

人を信じて 傷つくほうがいい

求めないで 優しさなんか

臆病者の 言いわけだから

はじめて愛した あなたのために

飾りもつけずに 贈る言葉

(3) これから始まる 暮らしの中で
誰かがあなたを 愛するでしょう

だけど私ほど あなたのことを

深く愛した ヤツはいない

遠ざかる影が 人混みに消えた

もう届かない 贈る言葉
もう届かない 贈る言葉

Lagu ini dinyanyikan oleh grup musik Kaientai 海援隊 dengan vokalnya Takeda Tetsuya 武田鉄矢 . Dia terkenal sebagai Sakamoto Kinpachi sensei dalam film “Kinpachi sensei, guru kelas3B” Sannen B gumi kinpachi sensei 3年B組金八先生 sebuah film pendidikan tentang lika-liku guru mengajar kelas 3 SMP. Merupakan film drama seri oleh chanel TV swasta Jepang TBS, yang dimulai tahun 1979 sampai 8 seri, dan seri ke delapan disiarkan s/d Maret 2008. Aku pernah beberapa kali mengikuti film drama ini, dan aku rasa bagus sekali bagi mereka yang berminat pada pendidikan, serta masalah-masalah pendidikan di Jepang. Meskipun memang banyak yang menyindir film ini sebagai “kotbah”, karena pada kenyataannya masalahnya lebih sulit dan kompleks. Mungkin kalau Riku SMP, aku harus melihat ulang semua filmnya.

Bagi yang mau mendengar lagunya silakan lihat link dari Youtube di bawah ini:

“Desaku” nya Jepang

Pasti dong semua masih hafal lagu “Desaku” ciptaan Ibu Sud. Kalau sudah lupa ya terlalu deh dong sih!!

Desaku

Desaku yang kucinta
pujaan hatiku
tempat ayah dan bunda
dan handai taulanku
tak mudah kulupakan
tak mudah bercerai
selalu kurindukan
desaku yang permai

Nah, ternyata di Jepang juga ada tuh lagu Desaku. Si Lala bahkan katanya sejak kecil dinyanyikan dan menyanyi lagu Furusato dalam bahasa Jepang sebelum tidur. Kalah deh Riku, soalnya si Riku paling dinyanyikan “Medaka no Kyodai”.

Gunung tempat mengejar kelinci
Sungai tempat memancing ikan
Sampai sekarangpun dalam mimpi
Sulit terlupakan, kampung halaman

Bagaimana kabar, ibu bapak
sahabat karibku
Dalam hujan dan angin
Pasti teringat, kampung halaman

Melaksanakan keinginanku
Entah kapan, aku pasti akan kembali
Ke birunya gunung, kampung halamanku
Ke jernihnya air, kampung halamanku

兎(うさぎ)追いし かの山 usagi oishi kanoyama
小鮒(こぶな)釣りし かの川 kobunatsurishi kanokawa
夢は今も めぐりて、 yume wa ima mo megurite
忘れがたき 故郷  wasuregataki furusato

如何(いか)に在(い)ます 父母 Ikani imasu chichihaha
恙(つつが)なしや友がき tsutsuganashiya tomogaki
雨に風に つけても amenikazeni tsuketemo
思い出(い)ずる 故郷 omoiizuru furusato

志(こころざし)を はたして kokorozashi wo hatashite
いつの日にか 帰らん itsunohinika kaeran
山は青き 故郷 yama wa aoki furusato
水は清き 故郷 mizuwa kiyoki furusato

Wah lagu furusato ini memang cocoknya untuk mereka yang merantau seperti saya. Yang rindu pulang kampung terus. Jadi kalau tinggal di Indonesia, atau di rumah bersama orang tua yang kampung halamannya sama, sepertinya tidak cocok tuh (aneh kan kalo rindu kampung halaman padahal kamu tinggalnya di kampung tsb. Kecuali rindu pada kampung halamannya pacar hihihi)

Dari lagu “Desaku” dan “Furusato”, memang yang paling dirindukan adalah orang tua (orang Indonesia malah nambah handai taulan, kalau orang Jepang cukup bapak ibu hihihi), dan pemandangan alam yang biasa digeluti waktu kecil. Karena kampung halamanku adalah Jakarta, aku tidak bisa membayangkan gunung atau sawah atau sungai deh… mana ada gunung di Jakarta (meskipun nama kelurahanku adalah kelurahan gunung)? hihihi. Jadi apa bayanganku tentang kampung halaman selain orang tua?

Hmmm …. aku membayangkan sebuah rumah besar tempat aku dibesarkan dan suasana waktu hujan keras dengan geledek dan bau tanahnya yang khas! Rumah tempat kita dibesarkan memang tidak akan pernah terlupakan, bukan? Akhir-akhir ini aku sering mengenang kembali rumahku di Jakarta yang telah kuhuni berpuluh tahun apalagi setelah membaca tulisannya Nana tentang rumah.

Jadi kampung halamanku sebetulnya sih = rumahku, yang lain-lain sebetulnya numpang aja, nebeng! … seperti lingkungan perumahan, pasar, makanan, teman-teman dll. Mumpung sebentar lagi musim mudik, sebetulnya apa bayanganmu tentang kampung halaman sih? (Pasti beda tergantung asalnya kan?)

(Lagu ini pernah dinyanyikan di acara wisuda di Yokohama University waktu aku wisuda Pasca Sarjana… dan lagu ini berhasil membuatku menangis. Memang bukan lirik yang sama, tapi melodi dan bayangan pantai dengan pohon kelapa menari-nari di dalam benakku…. huh mewek deh)

Sayap-sayap Tsubasa

Ada sebuah lagu Jepang yang pernah kami, mahasiswa Sastra Jepang UI pelajari dan nyanyikan di sebuah festival jepang. Lagunya sederhana tapi memang melambangkan kemerdekaan dan harapan.

Well, aku memang tidak pernah bermimpi untuk terbang, karena aku takut jatuh. Phobia di ketinggian, tapi aku suka melihat burung-burung terbang bebas di angkasa.

Lagu 翼を下さいTsubasa wo kudasai ini dirilis tahun 1971 oleh grup folk Akaitori dengan vokalnya Yamamoto Junko, dan sejak dimasukkan ke dalam buku teks pelajaran, akhir tahun 1970-an lagu ini sering dinyanyikan oleh kelompok paduan suara sekolah, sehingga lagu ini hampir pasti diketahui semua orang, semua lapisan, baik tua maupun muda.

Lagu ini kemudian sering dinyanyikan kembali oleh penyanyi-penyanyi terkenal seperti Tokunaga Hideaki dan Oda Kazumasa (penyanyi Tokyo Love Story)

Sayap-sayap

Jika permohonanku di penuhi
saat ini aku mau sayap
bagaikan burung tempelkanlah
sayap putih di punggung ini
kulebarkan sayap di langit luas
dan terbang….
kukepakkan sayap pergi
ke langit merdeka tanpa kesedihan

Sekarang, ku tak perlu kekayaan atau nama baik
yang kuinginkan hanya sayap
kini kulihat mimpi yang sama
dengan mimpi yang lihat waktu kukecil
kulebarkan sayap di langit luas
dan terbang….
kukepakkan sayap pergi
ke langit merdeka tanpa kesedihan


いま私の 願いごとが
かなうならば 翼(つばさ)がほしい
この背中に 鳥のように
白い翼 つけてください
この大空に 翼をひろげ
飛んで行(ゆ)きたいよ
悲しみのない 自由な空へ
翼はためかせ 行きたい

いま富とか 名誉ならば
いらないけれど 翼がほしい
子供の時 夢見たこと
今も同じ 夢に見ている
この大空に 翼をひろげ
飛んで行きたいよ
悲しみのない 自由な空へ
翼はためかせ 行きたい

Jika mau tahu lagunya silakan melihat clip ini

Kembali ke masa lalu

Akhir-akhir ini saya suka mendengarkan lagu dari Yumi Matsutoya (dulu Yumi Arai), yang berjudul “Ano hi ni kaeritai” (harafiahnya “Aku ingin pulang ke hari itu”). Terjemahan sebebas-bebasnya oleh Imelda.

Sambil kumenangis kupandangi
foto yang telah kurobek
dalam telapak tanganku,
dan ingin menyambungnya kembali
Tanpa alasan aku menyesali senyuman kemarin
Yang terkembang bak tak ada masalah
Manusia semua bisanya lupa pada sosok remaja
Aku ingin kembali ke jaman itu, dan bertemu lagi denganmu

Di langit kota yang menyosong senja
menari-nari kenangan masa laluku
Terlihat diriku berlari
di antara lautan rerumputan
yang berkilau diterpa angin
Manusia semua bisanya lupa pada sosok remaja
Aku ingin kembali ke jaman itu, dan bertemu lagi denganmu

Jika kubuang cinta itu sekarang
Tidak ada orang yang terluka
Aku akan pulang… ke saat itu…
di antara dua pintu
Pada alamat yang sudah sedikit usang

(1) 泣きながら ちぎった写真を
手のひらに 繋げてみるの
悩み無き 昨日のほほ笑み
わけもなく 憎らしいのよ
青春の 後姿を
人は皆 忘れてしまう
あの頃の私に戻って
あなたに逢いたい

(2) 暮れかかる 都会の空を
想い出は さすらってゆくの
光る風 草の波間を
駆け抜ける 私が見える
青春の 後姿を
人は皆 忘れてしまう
あの頃の私に戻って
あなたに逢いたい

今 愛を棄ててしまえば
傷つける人もないけど
少しだけ滲んだ アドレス
扉にはさんで 帰るわ あの日に



Pernahkah Anda ingin kembali ke masa lalu? Bukan flash back, mengenang masa lalu saja, tapi benar-benar jiwa raga kembali ke masa lalu, masa yang lebih bahagia dan menyenangkan daripada sekarang? Saya rasa pasti setiap kita pernah mempunyai pemikiran itu. Ingin kembali ke hari-hari bahagia dulu, waktu kita kecil, atau remaja, pada pelukan sang pacar yang pertama (atau yang kedua-ketiga dst), atau pelukan ayah bunda yang mungkin sekarang sedang berbahagia di surga sana. Masa-masa indah itu ingin kita ulang kembali.

Jangankan kita yang sudah berusia di atas 20 tahunan yang sudah mengalami berbagai macam pengalaman hidup, Riku yang baru berusia 6 tahun saja dia berkata ingin kembali ke masa lalu. Kemarin dia bilang begini,

“Mama, aku ingin kembali ke masa lalu”
“Hah? Kenapa Riku….?”
“Hmmmm …. aku ingin kembali ke umur 2 tahun”
“Kok 2 tahun?”
“Ya, aku tidak mau belajar di SD. Aku lebih suka pergi ke Himawari (Tempat Penitipan Anak, yang sekarang Kai pergi setiap hari biasa).”

Memang seperti pernah saya tulis di posting “Kala Riku Bernostalgia“, dia pernah merindukan teman-temannya di masa lalu. Itu mungkin karena dia tidak mempunyai teman di saat TK. Tidak ada waktu untuk bermain dengan teman, karena saya tidak membiarkan dia bermain di rumah teman (saya ada bayi). Tapi sekarang dia sudah SD, dan yang pasti menurut pengakuan dia, dia sudah punya 5-6 orang teman. Sudah ada 2 orang yang sering bermain ke rumah juga. Tapi sekarang, masalahnya bukan teman lagi, masalahnya dia sudah mulai tidak menyukai “Belajar” dan menjadi besar dengan tuntutan macam-macam.

Lalu saya katakan padanya,

“Riku, seandainya kamu berusia 2 tahun, dan masih di Himawari, kamu kan tidak bisa seperti sekarang? Bisa pergi sendiri bermain ke rumah teman, atau memanggil teman ke rumah kita. Atau kamu sekarang bisa beli coklat dan kue sendiri kalau mau, asal minta ijin pada mama. Dulu, kamu kan tidak bisa pergi ke mana-mana sendirian? Ada banyak hal yang dulu kamu tidak bisa, tapi sekarang kamu bisa.  Kamu harus enjoy.”
“Iya sih, tapi aku ngga mau ke sekolah…..”

Ya, tidak mau menghadapi masa depan. Takut akan apa yang terbentang di hadapan kita. Itu juga masalah setiap manusia. Riku seperti terantuk batu sandungan “belajar di SD”, dan takut/malas untuk bangun dan berjalan lagi. Kita takut untuk bangun dan berjalan lagi mengatasi pengalaman buruk/negatif kita. Ditinggal pacar, ditinggal orang tua, kegagalan karir, kena teguran dan lain-lain. Dan membuat kita berkata, “Aku ingin kembali ke masa lalu saja, masa yang lebih bahagia”.

Padahal hidup itu cuma sekali, tidak bisa di-rewind. Riku pernah menanyakan padaku, “Kalau mama bisa jadi kecil lalu besar sekali lagi mama mau jadi apa?”. Tapi hidup kan hanya sekali, kita hanya bisa berandai-andai, jika ini… jika itu… atau menyesali keadaan dan ingin kembali ke masa lalu, ke saat itu.

Nah, berbahagialah jika Anda tidak pernah ingin kembali ke masa lalu, karena berarti Anda berbahagia dengan keadaan sekarang ini. Bagi yang seperti Riku, mungkin perlu berhenti sejenak dan mengumpulkan semangat untuk memulai hari yang baru, yang seharusnya lebih bagus dari hari ini. Mari bersama-sama Riku menghadapi Senin yang menggairahkan!

Have a nice SUNday (meskipun di sini hujan dari pagi, dan sekarang mendung)

8:58

Last Supper @ Sunset Cafe

Beberapa hari terakhir ini saya memang memasang status di YM dan GTalk saya dengan “Last Supper” dan “Sunset Cafe”.  Sampai Mbak Noengki menyapa saya dan berkata, “Duh enaknya yang online di Cafe“. Padahal itu tidak benar, karena sebetulnya Sunset Cafe tidak ada di kenyataan (Baru-baru ini saya googling ternyata ada yang baru buka di cafe di pulau Bali, padahal sebelumnya — well 10 tahun yang lalu belum ada. Sampai pernah saya dan teman Suto san bilang kita buat di Jakarta yuuuk ). Dan bagi pendengar setia “Gita Indonesia” di InterFM 76,1 masih ingat tentunya lagu ini. “Sunset Cafe” oleh Rita Effendy, karena lagu ini salah satu lagu kesayangan yang sering saya putar.

Bias jingga senja menjelang
senandung ombak berkumandang
matahari turut terbenam
mengiringi angan kita

Secangkir cappucino panas
berbagi mimpi menembus batas
sekumpul nyiur tersenyum
mendengar janji kita

Reff.
Di Sunset Cafe kita bersama
di Sunset Cafe kita berdua
di Sunset Cafe kita bercinta
memandang lautan lepas
khayalan kita seakan jadi nyata…
di Sunset Cafe

Kecupan hangat pipi kiri
terasa menggetarkan hati
redup lilin-lilin menyala
melihat gairah kita

Cinta bersemi di Sunset Cafe
angan melambung di Sunset Cafe
hasrat membara di Sunset Cafe
cinta yang indah ini
terukir di Sunset Cafe

Irama yang enak didengar dan sambil membayangnya Tasogare, Twilight, Senja ….. saya hirup cappucino panas. Hmmmm…..

Lalu apa hubungannya dengan “Last Supper”. Kalau saya tulis 2 minggu yang lalu tentu semua tahu yang saya bicarakan adalah perjamuan terakhir Yesus bersama 11 orang muridnya. Dan topik “Last Supper” ini muncul kembali hari Senin yang lalu, tanggal 20 April.

Hari itu, saya sempat pergi “date” untuk lunch, dan menikmati makanan Perancis-Jepang di sebuah restoran di Kichijoji. Kaisen Shokudo, sebuah restoran yang kadang kami datangi untuk menjamu tamu atau merayakan pesta dengan jumlah orang yang sedikit. Hanya 14 tamu yang biasanya bisa masuk, sehingga harus menelepon dulu sebelumnya untuk memesan tempat. Makanan juga dipesan sebelumnya, pilih course dengan menu main dish saja yang berbeda, dan harganya tergantung mau half course atau full course. Kalau siang ada lunch course.


Mungkin untuk laki-laki, makan “seuprit” begini tidak akan kenyang, tapi bagi wanita lumayan, karena dishesnya disajikan satu per satu, dan harus sediakan waktu minimum 1 jam untuk menikmati obrolan, makanan dan …. wine kalau mau. Oh ya satu lagi…di sini bisa menikmati indahnya piring-piring keramik yang mereka pakai. Keramik Jepang memang lain dengan keramik eropa, white porcelain. Keramik Jepang lebih menonjolkan tanah liat, bentuk asimetris, dan warna-warna “bumi”. Saya suka keramik Jepang, ingin coba membuat, tapi belum ada waktu. Ibu mertua saya kadang membuatkan saya piring keramik sesuai pesanan bentuk dan warna yang saya sukai.

Nah, waktu makan appetizer yang di foto kanan atas, dalam gelas itu, ada mouse sayuran dan di atasnya adalah roti bakar dengan “UNI” di atasnya. Uni ini artinya bukan kakak perempuan untuk bahasa Minang,  tapi bahasa Jepangnya untuk Sea Urchin (Bulu Babi). Orang Indonesia tidak makan bulu babi, padahal itu merupakan makanan mewah bagi orang Jepang. Saya ingat salah satu murid saya pernah naik perahu di Laut Makassar, membawa pisau dan shoyu, kecap asin Jepang (kikkoman) . Ambil bulu babi, dan buka kulitnya yang seperti rambutan berduri hitam itu, dan …. nyammmm… makan isinya dengan kecap asin yang dibawanya. Mungkin bentuknya tidak menarik, tapi rasanya? …… Heaven…. katanya (dan kata saya, kata Riku dan kata Ayu-san).


Ya, Teman date saya adalah Ayu san, yang pernah saya tulis di posting ” Perbedaan Usia“. Hari itu saya mau merayakan “She becoming a salarywoman”. Dia sudah berstatus pegawai sekarang , sudah shakaijin (harafiahnya : manusia masyarakat… yang bergaji dan bisa mengabdi masyarakat). Shakaijin adalah suatu status bahwa kamu bukan mahasiswa, dan bukan pengangguran. Dan di Jepang, Bulan April adalah titik awal untuk menjadi shakaijin, dengan upacara-upacara penerimaan pegawai baru di setiap kantor. (Untuk menceritakan shakaijin dan upacara penerimaan pegawai baru ini perlu posting tersendiri).

Tema pembicaraan kami saat itulah, tentang “Last Supper”, Perjamuan Terakhir, Saigo no Bansan 最後の晩餐. Yang juga menjadi judul prgram TV di Jepang, yang isinya “Makanan apa yang kamu ingin makan di hari terakhir kamu hidup?”. Bagi Ayu, dia paling suka UNI, jadi pada saat terakhir itu dia ingin makan UNI. dan dia bertanya, “Kalau Imelda Sensei? ”

Well, terus terang saya tidak tahu. Sedih juga kalau tidak tahu makanan apa yang kamu sukai, yang kamu ingin makan sebagai makanan terakhir di dunia ini. Saat ini kalau ditanya, saya benar-benar tidak tahu. Saya suka macam-macam, tapi kalau disuruh menyebutkan satu dari macam-macam itu? Saya tidak tahu jawabannya.

“OK”,  kata Ayu. “Kalau begitu,tidak usah makanan, tapi tempat terakhir yang sensei inginkan sebagai tempat terakhir waktu meninggal?”. Nah… kalau itu saya bisa jawab! Ya, saya ingin berada di suatu tempat, yang bisa memandang ke matahari tenggelam, tasogare, senja ….. Menikmati karya Tuhan yang amazing. Dan bersamaan dengan tenggelamnya matahari itu, saya ingin hidup saya berakhir. Warna tasogare, twilight adalah warna yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Karena itu saya namakan blog saya ini Twilight… Twilight Express.

“Well, kalau begitu di beach? Sunset at the beach?”

“No, Aku tidak begitu suka pantai…. tapi aku suka danau. Pantai kesannya panas, beta-beta suru…. (peliket). Kecuali mungkin pantai waktu musim dingin ya? Tapi saya suka sekali danau. Magis…. tranquil… melenakan. Mungkin seperti foto ini.


So, teman-teman? Jika Anda ditanya, apa yang ingin Anda santap di hari terakhir Anda, apa jawab Anda? Atau di mana Anda ingin berada sebagai tempat terakhir Anda hidup di dunia ini?





Afterglow Snow – Salju Terakhir

Tinggal di negara dengan empat musim, terutama di Jepang, kita diajarkan untuk menikmati alam, menikmati musim. Sampai lagupun ada musimnya. Kalau di Indonesia mungkin jarang ada sebuah lagu khusus yang hanya cocok untuk dinyanyikan pada waktu khusus. Mungkin yang paling bisa dijadikan contoh adalah lagu Indonesia Pusaka, untuk event-event nasional, dan biasanya waktu acara akan selesai. Atau untuk lagu yang lebih populer contohnya adalah “Kemesraan”, yang bisa dinyanyikan pada acara kumpul-kumpul … dan akan bubar acaranya. Apakah ada lagi lagu Indonesia untuk waktu yang khusus? Misalnya lagu untuk wisuda (Gaudamus Igitus jangan dianggap lagu Indonesia yah), lagu untuk pernikahan…. (paling-paling Kaulah segalanya, tapi tidak setiap pernikahan ada lagu ini kan?)

OK, yang mau saya katakan adalah bahwa orang Indonesia tidak menyanyikan  satu lagu hanya untuk masa/waktu tertentu, sedangkan orang Jepang amat memperhatikan unsur waktu. Tentu saja ini karena faktor 4 musimnya. Lucu kalau kita menyanyi lagu tentang pantai, wanita berbikini, surfing atau segala sesuatu yang berkesan musim panas pada waktu musim dingin. Membayangkan wanita berbikini pada musim dingin, pasti merasa menggigil. Atau tentunya tidak akan menyanyikan lagu sakura pada musim gugur misalnya.

Nah, ada satu lagu di Jepang yang hampir selalu dinyanyikan menjelang musim semi. Sebuah lagu folk yang berjudul “Nagori Yuki” dari Iruka. Lagu balada yang dikarang oleh grup folk Kaguya Hime ini lebih populer sejak dinyanyikan oleh Iruka pada tahun 1975. Lagu ini menceritakan tentang perpisahan  seorang kekasih di stasiun Tokyo. Mungkin ke kota lain untuk menuntut ilmu. Dan kalau menyanyi lagu ini, kok saya jadi ingat “Teluk Bayur” nya Ernie Djohan ya?

TELUK BAYUR

Selamat tinggal Teluk Bayur permai
daku pergi jauh ke negeri seberang
ku kan mencari ilmu di negeri orang
untuk hidup kelak di hari tua

Selamat tinggal kasihku yang tercinta
doakan agar ku cepat kembali
ku harapkan suratmu setiap minggu
kan ku jadikan pembuluh rindu

Lambaian tanganmu ku rasakan pilu di dada
kasih sayangku bertambah padamu
air mata berlinang tak terasakan olehku
nantikanlah aku di Teluk Bayur

Memang butainya (panggungnya/lokasinya) lain. Teluk Bayur di pelabuhan sedangkan Nagori Yuki ini di stasiun, tepatnya stasiun Tokyo. Dan entah kenapa setiap menyanyikan lagu ini di karaoke, saya ikut menjadi sedih dan menitikkan air mata. Mari kita lihat liriknya:

Salju Terakhir

Disebelah kamu yang sedang menunggu kereta
Aku selalu melihat jamku
Sedangkan salju yang tidak disangka turun menyelimuti bumi
“Ini adalah salju terakhir yang kulihat di Tokyo”
kamu menggumam sedih
waktu ku mengetahui turun salju tersisa ini
musim seakan bercanda padaku
Ya musim semi tiba dan engkau menjadi cantik
Lebih cantik daripada tahun lalu

Kau tempelkan wajah
di jendela kereta yang mulai bergerak
Kamu seakan ingin berkata sesuatu
Tapi aku takut melihat kamu mengucapkan “sayonara”
jadi aku memandang ke bawah saja
Seiring dengan jalannya waktu
Engkau yang masih bocah lucu

Tanpa disadari sudah menjadi dewasa

Ya musim semi tiba dan engkau menjadi cantik
Lebih cantik daripada tahun lalu

Aku tinggal di peron sesudah kepergianmu
Memandang salju yang turun dan mencair

Ya musim semi tiba dan engkau menjadi cantik
Lebih cantik daripada tahun lalu
Lebih cantik daripada tahun lalu
Lebih cantik daripada tahun lalu

(1) 汽車を待つ君の横で
ぼくは時計を気にしてる
季節外れの雪が降ってる
「東京で見る雪はこれが最後ね」と
さみしそうに君がつぶやく
なごり雪も降る時を知り
ふざけ過ぎた季節のあとで
今 春が来て君はきれいになった
去年よりずっときれいになった

(2) 動き始めた汽車の窓に
顔をつけて
君は何か言おうとしている
君のくちびるが「さようなら」と動くことが
こわくて下を向いてた
時が行けば 幼い君も
大人になると 気付かないまま
今 春が来て君はきれいになった
去年よりずっときれいになった

(3) 君が去ったホームに残り
落ちてはとける 雪を見ていた
今 春が来て君はきれいになった
去年よりずっときれいになった

去年よりずっときれいになった
去年よりずっときれいになった

Jika mau mendengar lagunya silakan melihat video berikut ini:

Hari ini adalah hari terakhir bulan Maret. Dan entah kenapa hari ini tanggal 31 Maret menjadi hari peringatan untuk Orkestra (Philharmonic). Nah, kalau berbicara soal orkestra, saya hanya bisa menikmati saja, tidak bisa mengatakan judul-judul lagu yang saya suka…. abis kebanyakan kode-kode dan nomor-nomor sih hehehe.