Okuribito – Sang Pengantar

24 Mar

Orang Jepang boleh berbangga karena salah satu filmnya tahun 2008 mendapat penghargaan film berbahasa asing terbaik Academy Awards ke 81, th 2008. Juga mendapat beberapa penghargaan dari berbagai festival film lainnya baik nasional maupun internasional. Judul bahasa Jepangnya Okuribito (Sang Pengantar), atau dalam bahasa Inggrisnya Departures.

Saya tidak suka menonton film. Maka ketika kami pergi ke rumah mertua di Yokohama hari Sabtu lalu, dan ibu mertua mengatakan bahwa dia sudah membeli DVD Okuribito ini, saya tidak begitu antuasias. Apalagi saya bisa membayangkan isi ceritanya. Lah, artinya saja Sang Pengantar, dan bukan sembarangan pengantar. Dia bertugas mengantar jenazah sebelum dikremasikan. Suatu jenis pekerjaan yang dianggap hina oleh sebagian orang, karena berurusan dengan mayat! Langsung memegang mayat! Bahkan penggali kuburpun belum tentu harus memegang mayat. Tapi si Okuribito ini WAJIB memegang mayat.

Saya rasa bukan hanya karena pesan atau isi cerita yang bagus saja sehingga film ini dipilih menjadi film terbaik. Pemain utamanya Motoki Masahiro alias Mokkun adalah favorit saya. Ada beberapa film dia yang sudah saya tonton. Yang terlucu adalah “Shiko funjatta”. Orangnya keren, garis wajahnya tidak sekeras Abe, malah kelihatan “manis”. Tapi yang membuat saya suka padanya juga karena kehidupan pribadinya di belakang layar juga harmonis, seorang ayah dengan dua anak. Semestinya kehidupan pribadi seseorang tidaklah boleh menjadi satu penilaian dalam mengapresiasi film. Tapi saya tidak bisa mengabaikan pemikiran bahwa saya memang “melihat” orang itu luar dalam.

Cerita bermula dengan kisah pemecatan seorang pemain cello dari Orkes Kamar yang terpaksa dibubarkan. Daigo Kobayashi terpaksa menjual cello yang dibelinya seharga 1.8000.000 yen dan pulang kembali ke kampung halamannya di Yamagata bersama istrinya. Dia menempati rumah yang ditinggalkan ibunya yang meninggal 2 tahun sebelumnya. Rumah itu bekas night club (snack) yang sebelumnya pernah juga menjadi kedai kopi yang dikelola ayahnya. Ayah Daigo ini meninggalkan rumah itu sewaktu Daigo masih kecil, bersama perempuan muda yang dicintainya. Ingatan Daigo akan ayahnya hanyalah betapa dia harus merasa tersiksa berlatih cello sejak TK. Sedangkan wajah ayahnya pun dia tidak ingat.

Segera setelah kepindahan ke Yamagata, Daigo mencari lowongan pekerjaan dan mendapatkan iklan mencari pegawai di NK Agency. Di iklan tersebut hanya dikatakan “membantu perjalanan”, jadi dia berpikir menjadi guide atau koordinator travel. Tapi ternyata NK Agency itu adalah singkatan dari NouKan Agency, yang berarti “penaruh jenazah ke dalam peti”. (Mungkin kalau di Indonesia kita bisa bayangkan orang yang pekerjaannya memandikan jenazah ya). Kantor itu sendiri terdiri dari Direktur Sasaki Shoei, dan sekretarisnya. Daigo langsung diterima dan membawa pulang gaji pertamanya sebesar 500.000 yen (gaji yang besar, lebih besar dari gaji pegawai biasa!)

Karena gaji besar itulah, dia mencoba bertahan, dan menjalankan tugas pertamanya yaitu menjadi “jenazah” untuk pembuatan video ahli Noukan. Tantangan pertama selesai, dihadapi dengan tantangan kedua, yaitu harus membantu Sang Direktur untuk “menghias” jenazah seorang nenek yang ditemukan 2 minggu setelah meninggal. Sambil muntah-muntah (maaf….) dia melaksanakan tugasnya yang pertama sebagai (asisten) Noukan. Pengalaman dengan mayat yang sudah membusuk itu dilewati tidak dengan mudah. Apalagi setelah istrinya menemukan video yang memalukan itu dan memintanya untuk berhenti. Tapi Daigo berkeras untuk melanjutkan pekerjaan yang dianggap hina oleh istri dan teman-temannya, sehingga istrinya meninggalkan dia.

Daigo mulai “menikmati” pekerjaannya, dan mulai melaksanakan tugasnya sendiri, bukan sebagai asisten. Sampai pada suatu hari istrinya kembali dan membawa kabar bahwa ia mengandung anaknya, dan untuk itu minta… memohon agar Daigo berhenti bekerja sebagai Noukan. Tepat saat itu ada telepon yang memberitahukan kematian seorang kenalan mereka, nenek yang mempunyai public bath (sento). Saat mereka melayat, istrinya pertama kali melihat “kerja” suaminya, yang mendandani jenazah yang terbujur kaku, mencuci, mengganti kimono dan merias wajahnya, sehingga bisa tampil cantik di dalam peti jenazah. Nenek itu adalah ibu dari temannya yang mencemooh dia karena bekerja sebagai noukan. Dan saat itu mereka menyadari betapa penting dan indahnyanya pekerjaan Daigo.

Istri Daigo yang sudah menerima suaminya bekerja sebagai Noukan menyambut musim semi dengan riang. Tapi seorang  petugas pos mengantar telegram yang mengabarkan kematian ayah Daigo yang sudah lama tak diketahui kabarnya. Dilema bagi Daigo apakah dia akan pergi menemui ayahnya yang sudah meninggal atau tidak. Dia benci pada ayahnya yang sudah meninggalkan dia demi seorang wanita lain. Tetapi ternyata sang ayah tidak bersama siapa-siapa, dia bekerja sebagai pembantu nelayan di pelabuhan sampai akhir hidupnya. Daigo akhirnya melayani ayahnya untuk yang terakhir kalinya sekaligus memperbaiki hubungan mereka.

Sebuah film yang menguras airmata, karena memang kematian itu menyedihkan bukan? Tapi kematian adalah suatu tahap yang mau tidak mau kita lalui. Film yang bagus dan layak untuk ditonton, hanya sayangnya belum ada versi bahasa Inggris. Melalui film ini selain mengetahui kebudayaan Jepang, juga bisa melihat sisi kemanusiaan yang universal.

Perlu saya tambahkan di sini bahwa Motoki sendiri yang memilih skenario ini untuk dia pelajari, dan proses pembuatan film memakan waktu 10 tahun. Diapun mempelajari cara memainkan cello dengan sungguh-sungguh, dan sebelum pemutaran film, dia tampil di muka masyarakat yamagata, tempat lokasi film itu. Sang produser juga tidak berharap film ini akan laku untuk kepentingan komersial karena isu yang dibawa sangat peka, menyangkut tatanan hidup bangsa Jepang. Perlu diketahui juga bahwa pekerjaan seperti ini, yang menyangkut orang mati, dulu merupakan pekerjaan yang hina yang hanya dilakukan oleh pendatang (terutama orang korea). Memang bukan seperti perbedaan kasta, tapi yang jelas pekerjaan ini hina.

Mamma Mia!!! kok lelet banget ya?

30 Jan

Tadi pagi ada sesuatu di televisi yang membuat suami saya terlambat pergi kerja. Yaitu sebuah interview televisi Jepang dengan Merryl Streep, si pemain di film “Mamma Mia”. Wah memang dia sudah tua ya, sudah terlihat keriput di sana sini. Tapi ada satu kata-katanya yang cukup memberikan inspirasi (ah kata-kata ini aku tidak begitu suka… tapi ngetrend banget sih di Indonesia) yaitu, “Keep your spirit, jangan mau kalah dengan umur. Tapi jangan mengingkari umur juga. Yang penting jangan putus asa! ” 年に負けず Kira-kira begitulah kata-kata dia yang sudah diterjemahkan dengan subscript 字幕 di bagian bawah dalam tulisan bahasa Jepang (Dan saya selalu membaca script-script seperti itu, makanya saya benci jika terjemahannya salah)

Kenapa juga Merryl Streep diwawancarai hari ini? Ternyata hari ini , ya HARI INI tanggal 30 Januari 2009, FILM MAMMA MIA itu baru diputar di bioskop-bioskop di Jepang. WELL, coba baca ulasan adikku si Lala di sini. Postingannya di tanggal 13 Oktober jeh. Di Indonesia sudah main lama (udah kunoooo). Tapi di Jepang baru hari ini. Saya juga sudah bisa (sudah bisa bukan berarti sudah menonton loh… lain sekali… ) nonton di dalam pesawat SQ waktu pulkam akhir Oktober-November lalu. TAPI di bioskop Jepang, orang-orang Jepang baru bisa nonton HARI INI. Kenapa kok bisa begitu?

Ya, ini adalah sebuah masalah yang kelihatannya sulit untuk diatasi oleh masyarakat film di Jepang. Sudah pasti film-film dari Luar Negeri baik itu film hollywood atau film asing lainnya membutuhkan penerjemahan. Penerjemahan itu bisa berbentuk subscript (tulisan di bawah kalau di Indonesia dan di samping kanan kalau di Jepang — karena tulisan kanji itu dari atas ke bawah-kanan ke kiri) atau sulihsuara. Akhir-akhir ini lebih banyak film yang memakai sulih suara. Jadilah kita menonton film action di Swachi -chan ( Schwarzenegger)   dengan suara om-om Jepang yang terus terang saja TIDAK MACHO sama sekali. Kalau sudah dipasang di televisi memang kita bisa switch ke bahasa asli atau bahasa Inggris, tapi kalau di bioskop kan tidak bisa seenak perut. Pasti yang dipasang yang bahasa Jepang.

Film Wall-e yang Riku tonton bulan Desember lalu juga sudah di-sulihsuarakan ke dalam bahasa Jepang! Oi oi… makanya orang Jepang sampai kapanpun akan sulit berbahasa Inggris karena tidak terlatih!. OK deh Karena Wall e adalah konsumsi anak-anak yang belum bisa bahasa Inggris, mau tidak mau memang harus memakai sulih suara. Saya katakan MAU TIDAK MAU!. kenapa? Ya karena sulit untuk memberlakukan penulisan subscript terjemahannya di dalam film. Nah! kenapa lagi tuh.

Untuk menerjemahkan pembicaraan bahasa Inggris ke dalam bahasa Jepang tentu saja memakai KANJI. Pengetahuan Kanji anak-anak SD- SMP tentu saja masih terbatas. Akan ada banyak tulisan yang mereka tidak bisa baca dan mengerti. Yah, kalau begitu pakai hiragana saja. Nah itu dia masalahnya, kalau pakai hiragana maka kalimat yang harus ditulis akan semakin panjang. Ternyata ada ketentuan bahwa panjangnya satu subscript film hanya boleh memakai 13 huruf dalam 2 baris. Alasannya manusia hanya bisa membaca 4 huruf dalam 1 detik. Dan ternyata sekarang pun jumlah huruf yang 13 itu menjadi semakin sulit. Banyak pemuda Jepang yang tidak keburu membaca 13 huruf itu. Ini berhubungan dengan menurunnya kemampuan pemuda Jepang menguasai Kanji, menurunnya berbagai pengetahuan umum, termasuk sejarah dan budaya. Misalnya Soviet dalam bahasa Jepang disebut ソ連(それん), dan banyak pemuda yang tidak tahu apa itu.

Jadi sekarang banyak pengimpor film asing yang berputar haluan membuat sulih suara untuk film-film yang akan diputar di bioskop maupun di video. Dan proses pembuatan sulih suara itu memang lebih memakan waktu daripada hanya menambahkan subscript pada film. Karena proses panjang itulah sering kali kami yang di Jepang harus menunggu film-film baru hollywood yang sudah diputar di Indonesia paling cepat 3 bulan sesudahnya. Ironis ya? Dan JUDUL FILM nya bisa berubah, disesuaikan dengan bahasa Jepang misalnya Basic Instinct jadi 氷の微笑 (harafiah nya senyum es). Karena itu saya paling benci kalau murid-murid saya memberitahukan judul film holywood yang sudah diterjemahkan. Pasti saya tanya, “Bahasa Inggrisnya apa?” hehehhe. Dan tentu saja mereka tidak tahu! Kalau sekarang enak, bisa tanya sama Paman Google. Dulu belum lahir tuh Pamannya.

Sebagai tambahan saya juga ingin menceritakan pengalaman nonton bioskop di Tokyo. Saya tidak tahu apakah akhir-akhir sudah berubah, tapi yang pasti jika kita mau nonton film di bioskop, kita membeli karcis secepat mungkin. Kalau film baru malah biasanya harus antri berjam-jam. Nah, kalau di Indonesia kan biasanya kita bisa memilih tempat duduk yang ada, sehingga kita bisa pergi dulu jalan-jalan dan sebelum film mulai kita kembali ke gedung bioskop itu. Nah, kalau di Jepang, tidak ada sistem memilih tempat duduk. Siapa cepat masuk dia bisa memilih mau duduk di mana. Karena itu, sesudah membeli karcis, semua akan antri lagi di depan pintu masuk. Bayangin deh, dengan tiket di tangan kita masih musti tunggu lagi 1 jam untuk berebut tempat! Bete bete deh. Pernah saya mau membeli tempat duduk VIP saja. Eeee ternyata tempat duduk VIP itu bedanya hanya berada persis di tengah-tengah bioskop dengan tanda alas duduk berwarna putih! Mending kalau kursinya kursi sofa empuk bisa selonjoran. No! sama seperti yang lain tapi ada alas sandaran bahu/leher berwarna putih. Harganya? dobel …. HuH! Mending nonton DVD di rumah saja. Tapi mungkin juga sistem ini sudah berubah, soalnya sudah lama tidak nonotn film di bioskop sih.

Tapi yang enak sih memang dulu pernah nonton film di bioskop di daerah Chiba (desa? …heheeh jangan marah ya untuk mereka yang tinggal di Chiba). Kita bayar satu film tapi bisa nonton berkali-kali asal tidak keluar dari bioskopnya. Jadi bisa juga masuk tengah-tengah film duduk, dan nonton lagi mulai awal (jadi bisa nonton satu setengah film hahahaha… bener-bener deh gaya mahasiswa. Kalo anak 80-an bilangnya BOKIS!!! (Yang pernah ngajak saya nonton di Chiba baca posting ini ngga ya hehehe)

So, apakah saya akan nonton Mamma Mia hari ini? TIDAK. Hari ini hujan terus, dan saya tidak suka menonton. Nanti saja kalau saya naik SQ ke Singapore mungkin bisa menonton film baru dalam pesawat (kalau Kai tidak rewel— Kalau Riku sih enjoy banget nonton film dia, waktu itu pp dia menonton Kungfu Panda dan terbahak-bahak sendirian. Dan film itu memakai sulih suara bahasa Jepang! )

(Tadi sempat lihat trailernya di http://www.mamma-mia-movie.jp/enter.html     hmmm si Pierce Brosnan sudah tua ya —well saya juga sudah tua sih—  padahal aku suka banget sama dia waktu main di Return of the Saint)

Nonton Bioskop

2 Des

Malem minggu aye pergi ke bioskop
Bergandengan ame pacar nonton koboi
Beli karcis tau tau keabisan
Jage gengsi kepakse beli catutan

Aduh emak enaknye nonton dua duaan
Kaye nyonye dan tuan di gedongan
Mau beli minuman kantong kosong glondangan
Malu ame tunangan kebingungan

Film abis aye kepakse nganterin
Masuk kampung jalan kaki kegelapan
Sepatu baru, baru aje dibeliin
Dasar sial pulang pulang injek gituan

Ah lagunya Benyamin emang enak ya… Biarlah saya dianggap jadul, tapi hati menjadi riang setiap dengar lagu-lagu dia. Saya punya koleksi lagu-lagunya lumayan lengkap, karena ada seorang Jepang di sini yang bilang pada saya, “Benyamin adalah musisi besar”. Karena itu setiap saya pulang ke Indonesia dulu saya pasti mencari CD Benyamin Sueb. Kadang tukaran lagu dengan Kang Duren (kemana ya dia?) jika ada lagu yang saya tidak punya atau dia tidak punya. Maklum dulu kami berdua suka jadi DJ di chatroom. Lagu favorit saya? “Perkutut” deh. heheheh

OK kali ini saya bukan mau bercerita tentang Benyamin, tapi justru lirik lagunya Benyamin yang Nonton Bioskop. Saya tahu banyak teman-teman blogger pecandu film, dan mungkin malah selalu mengagendakan nonton film di bioskop sebagai jadwal rutin, baik dengan kekasih hati atau sendiri (mana ada sih yang pergi sendiri mel hihihi). Suami saya sendiri pecandu film, tapi dia benar-benar memilih film yang agak aneh. Bukan action, lebih banyak drama, dan bervariasi antara film Jepang atau bahasa Inggris. Sayangnya …. ya sayang sekali… saya tidak suka menonton film. Menonton film bukan hobby saya. Waktu pacaran, memang saya “agak terpaksa” menonton bersama di bioskop. Meskipun ada beberapa film yang akhirnya saya sukai, seperti Ponnette yang sedih, Shall We Dansu yang riang, tapi ada yang sempat membuat saya BENCI film dan rasanya ingin lari dari gedung bioskop itu… sebuah film yang berjudul, Christ of Nanking. Sebuah film yang dibuat berdasarkan novel Akutagawa Ryunosuke th 1920, sedangkan filmnya sendiri dirilis th 1996-an.

Lalu kok tidak suka film mau cerita tentang nontong bioskop? Ya begitulah…meskipun saya tidak suka film, tapi demi sks kelulusan saya di program Master, saya harus mengambil 4 sks mata kuliah pilihan apa saja. Nah ada dua mata kuliah yang saya ambil, dan dua-duanya tidak ada hubungan dengan penelitian saya waktu itu…. dan dua-duanya ANEH. Kalau dipikir, nekat bener saya ini atau saking ngga peduli yang penting MUDAH, Tidak pakai banyak bahasa Jepang, dengan jaminan dapat nilai bagus, sehingga bisa menghias daftar nilai saya dengan huruf A. Huh tipikal mahasiswa Indonesia.

OK, mata kuliah pertama yang tidak ada hubungan dengan postingan ini adalah “Sejarah Pemikiran Barat/Eropa”…. hmmm saya pikir dengan ikut kuliah ini paling tidak saya bisa kejar ketinggalan yang tidak saya dapatkan di SMA (karena di IPA ngga belajar ginian euy). BUT aduuuuh isi kuliah itu amit-amit deh. Si professor adalah peneliti tentang Majogari, Witches …pembunuhan Nenek-nenek sihir. Dan didalam kuliah itu berbicara tentang scape goat, inisiasi dll. Hiiiiii dan itu dengan terpaksa saya ikut karena…… pesertanya cuma SATU ORANG yaitu saya sendiri. HELP!!!!!. Karena waktu orientasi saya muncul, saya merasa tidak enak kalau saya tidak muncul di kuliah pertama. Dan bad news, tidak ada orang lain yang ambil kuliah itu ….. TERPAKSA deh, setiap hari Jumat, jam pertama (jam 9 pagi) , saya nongkrong di kamar beliau, mendengarkan kuliah dan membuat resume dan membuat presentasi! Presentasi apa? Inisiasi di masyarakat Indonesia. Klutekan deh cari nara sumber…. saya sampaikan ttg potong gigi di Bali, dsb dsb (udah lupa). Dan setelah sengsara satu semester, saya bisa puas dapat A. (Kalau tidak dapat A, saya protes bener deh tuh dosen). Pfff

Yang berhubungan dengan Film ini, judul mata kuliahnya “Study Film Barat/Eropa” dan dibawakan oleh kritikus film terkenal Jepang, Umemoto Youichi (9 Januari 1953 -12 Maret 2013) yang biasa menulis di majalah-majalah. Waktu ikut orientasi, banyak orang, jadi aman…. tidak usah harus sendirian. Dan yang membuat saya putuskan ambil kuliah itu adalah ucapannya, “Kalian pasti dapat sks, asalkan setiap minggu wajib menonton satu film dari sutradara yang saya sebutkan, entah di bioskop atau di video, dan pada pertemuan berikutnya presentasikan apa yang kamu rasakan, kesan waktu menonton film itu”. Yang pasti kuliah ini MAHAL, karena jika menonton di bioskop, paling sedikit 1000-1500 yen harus dikeluarkan. Atau kalau video, satu buah video 400 yen. Hmmm biarlah saya pikir, keluarkan uang meskipun saya tidak suka menonton, untuk sesuatu yang pasti …yaitu 2 SKS. hehehehe. Karena saya, bagaimanapun punya handicap, yaitu bahasa.

wheres friends home
where’s friend’s home

Well, mata kuliah film ini masih JAUUUUH lebih mending daripada yang Sejarah pemikiran tadi. BUT, jangan harap kamu bisa menonton film semacam “Sex and the City” atau “Mamamia” deh. Nama sutradaranya saja saya baru pertama kali dengar. Yang paling bombastis mungkin adalah KIKA, yang disutradarai Pedro Almodóvar asal Spanyol yang bercerita seorang make up artis (ini bahasanya Spanyol jeh) . Lalu saya harus menonton karya -karya Jean-Luc Godard (yang memang indah meskipun terus terang saya kurang mengerti —bahasa Perancis euy), karya Spike Jonze, kemudian ada satu film dari Timur Tengah karya sutradara Iran Abbas Kiarostami, yang berjudul “Where’s Friends house”. Dan satu yang boleh dibilang paling “dimengerti” awam adalah Pulp Fiction karya Quentin Tarantino (karena ada si John Travoltanya tuh).

Ada satu “happening” dalam mengikuti kuliah ini. Suatu waktu saya absen dan tidak mengikuti kuliah. Lalu saya tanya pada teman apa tugas untuk minggu itu? Lalu dia berkata “Katteni shiagare” yang artinya saya tangkap sebagai “terserah kamu”. Ya saya pikir boleh menonton film apa saja. Eeee ternyata, ada film Godard yang berjudul begitu….. dan waktu saya jelaskan, minta maaf saya tidak menonton dengan alasan salah judul, dosen itu tertawa terbahak-bahak. (Untung dia kasihan sama saya yang orang asing satu-satunya di kelas dia hiks).

Akhirnya satu semester habis, dan saya berhasil mendapatkan nilai A juga untuk mata kuliah ini. Memang sulit bagi saya, tapi paling tidak saya bisa mengerti apa saja yang ditonton oleh orang FILM, yang pastinya bukan film-film picisan (menurut mereka) yang hanya mengejar “jumlah penonton” . Selain itu saya bisa berkenalan dengan kebudayaan lain, film Spanyol, film Perancis, film IRAN….. yang tentu saja tidak akan saya lirik sebelah mata jika saya tidak mengambil kuliah ini.

SEBUAH CERITA TENTANG KESETIAAN

28 Nov

Di Shibuya, Tokyo, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali.. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.

Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.

Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasiun Shibuya bersama Hachiko. Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.

Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.

Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan,” saya akan menunggu tuan kembali.”

” Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!” teriak pegawai kereta setengah berkelakar.

Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,”guukh!”
Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.

Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat koridor kampus.

Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia.
Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.

Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.

Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemudian, dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.

Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.

Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.

Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.

Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.

Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiko saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiko pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati.

Sungguh kisah yg menggugah hati….tak habis2nya saya meneteskan air mata membaca cerita hidup Hachiko….

Film ttg kisah hachiko dibuat d jepang tahun 1987 dgn judul “Hachiko Monagatari”. Film ini byk memperoleh penghargaan. ..
Dan saat ini versi hollywoodnya sedang dibuat dgn judul “Hachiko : A Dog’s Story” (Starring and Co-Producted by Richard Gere)….

Hachiko: A Dog’s Story,[9] to be released in 2008, is an American movie starring actor Richard Gere, directed by Lasse Hallström, about Hachikō and his relationship with the professor. The movie is being filmed in Rhode Island, and will also feature actresses Joan Allen and Sarah Roemer.[10]

(sumber dari milis IKAJA UI)

depan patung hachiko Shibuya,  sebagai meeting point
Depan patung Hachiko Shibuya, yang terkenal sebagai meeting point

NB: Saya heran kok Richard Gere lagi, soalnya sebuah film Jepang yang terkenal di sini “Shall We Dance” versi bahasa Inggris juga diperankan oleh Richard Gere. Saya pernah posting tentang film Shall We Dansu/Dance versi bahasa Jepang di sini

 

 

Si Gundul yang Bijaksana

22 Sep

Yah, kali ini saya ingin bercerita mengenai saya. …taelah… Sebetulnya bukan mengenai saya tapi mengenai Ikkyu san (seharusnya saya tulis sesuai pengucapan adalah IKKYUU san – u nya diperpanjang, dalam bahasa Jepang panjang -pendeknya vokal menentukan, tidak seperti dalam bahasa Indonesia karena tidak mengubah arti). Saya terdorong menulis tentang si Ikkyu san ini akibat pertanyaan Daffa yang ingin tahu siapa sih yang suka nampang dan berkomentar di blognya dia (avatarnya saya). Seorang pendeta Buddha tanpa rambut tetapi memukau hati seorang Imelda, sehingga Imelda, yang pake cybername sebagai  Ikkyu_san ini, jadinya terdampar di negara matahari terbit.

Mereka yang hidup di jaman kejayaan tahun 80-an (kalau mau tahu trend tahun seginian tanya mas NH18 yang jauh lebih sering JJS daripada saya) tahu anime Jepang yang beredar saat itu yaitu Voltus V, dan Ikkyu san (mungkin juga Megaloman saya tidak yakin karena saya tidak pinjam videonya). Masih dalam format video betamax, serial Ikkyu san ini kabarnya hanya ada 5 jilid. (sebetulnya memang cuman dari 5 jilid itu yang kebanyakan orang Jepang kenal). Saya sendiri lupa menontonnya dalam bahasa Jepang dengan subtitle Inggris atau di dub Ingris dengan subtittle Jepang (setahu saya setelah saya bisa baca hiragana, saya masih sempat sewa 1 video untuk latihan baca hiragana). Lagu pembukanya, “Suki suki suki suki Ikkyu san…. ” (Suki artinya suka) itu selalu terngiang di telinga saya, tapi saya tidak bisa menghafal keseluruhannya karena terlalu cepat.

Ikkyu san adalah seorang pendeta Buddha yang amat terkenal di Jepang yang sangat cerdik dan bijaksana sejak dia kecil. Image pendeta Buddha ini menjadi lebih kuat melekat di dalam kepala orang Jepang dengan adanya film kartun Ikkyu san dengan beberapa episode-episode yang merupakan penggambaran dari kenyataan yang pernah tercatat. Film kartun Ikkyu san ini diputar selama  7 tahun, dari tanggal 15 Oktober 1975 sampai 28 Juni 1982 setiap hari Rabu dengan waktu tayang 30 menit. Keseluruhan cerita ada 296 episode dan merupakan film kartun yang terpanjang dengan rate pemirsa yang tinggi dan stabil selama 7 tahun. Setahu saya sekarang kita dapat membeli DVDnya satu series yang terdiri dari 10/11 DVD seharga 40.000 yen. (Nanti nabung ahhh beli, masukin wishlist) But of course semuanyanya bahasa Jepang tanpa subtittle. —- ada production house yang berminat? hehhehe—

Ikkyu san adalah nama sebagai pendeta Buddha, yang ditulis dengan kanji sebagai 一休さん hito yasumi (istirahat sebentar artinya) mungkin sekarang namanya jadi hiatus -san ya hihihi. Nama sebenarnya adalah Senggiku Maru, seorang anak bangsawan yang berkhianat terhadap shogun, sehingga perlu disembunyikan identitasnya. Ibunya Iyono Tsubone, menyerahkan Ikkyu ke dalam pengasuhan pendeta Osho, untuk ditempa menjadi pendeta Buddha. Ikkyu yang seharusnya hidup mewah dan bisa bersama ibunya, harus berpisah dengan ibunya dan itu yang paling membuatnya sedih. Oleh ibunya dia diberi omamori (jimat) berupa teru-teru bozu (dipakai sebagai penghalau hujan). Sehingga setiap ada masalah, Ikkyu akan berlari ke hadapan Teru teru bozu itu untuk berkeluh kesah.

Teru teru bozu
Teru teru bozu

Sebagai pendeta Buddha yang terkecil (waktu itu katanya berusia 6 tahun), Ikkyu sering dikerjain. Disuruh ini itu oleh sempainya terutama yang bernama Shuunen san. Cerita pada episode pertama menggambarkan betapa Ikkyu yang mungil itu harus pontang panting melaksanakan perintah Shuunen dan teman-temannya. Dia disuruh mencuci lobak di sungai. Dan waktu itulah dia bertemu dengan seorang samurai, bernama Ninagawa Shin-en-mon, yang diperintah Shogun (Jendral) untuk mengawasi Ikkyu. Oleh di Ninagawa, Ikkyu dipanggil Kozo san (Pendeta cilik), dan di situ Ikkyu mengatakan, “Anda panggil saya?”

Tentu saja si Samurai ini marah dan bilang, “Tentu saja, mana ada pendeta cilik yang lain di sini”

Lalu Ikkyu bertanya, “OK, ini apa? (sambil menunjuk lobak besar)”

Samurai,”Lobak”

“Lalu ini apa? (sambul menunjuk lobak kecil)

Samurai,”Ya, lobak….”

“Karena itu, lobak biarpun besar atau kecil…sama-sama namanya Lobak. Pendeta pun besar atau kecil, sama-sama Pendeta. Jangan panggil saya Pendeta Cilik. Lagipula saya punya nama, yaitu Ikkyu….”

Samurai itu tidak bisa berkata-kata lagi, dan mengakui bahwa korban intaiannya ini memang pandai.

Ikkyu san menjalani kehidupan di biara dengan senang, dan dia selalu membantu atau dekat/akrab dengan seorang gadis cilik yatim piatu bernama Sayo-chan. Ikkyu san selalu bersyukur bila melihat Sayo chan, karena dia tahu, dia masih mempunyai ibu, meskipun tidak bisa bertemu. Sedangkan Sayo chan, orang tuanya sudah meninggal dan tinggal bersama kakeknya saja. Dengan pemikiran ini Ikkyu san merasa kuat untuk menjalani “pengasingan”nya.

Dalam kehidupan berbiara ini, gangguan yang sering datang adalah dari sepasang bapak-anak perempuan yang bernama Kikyouya Rihei dan Yayoi, seorang pedagang yang sering bertandang ke Kuil. Yayoi san yang manja dan usil sering mengganggu ketentraman biara. Sedangkan bapaknya Rihei, tidak mau tahu kesopanan, dengan seringnya datang ke Kuil untuk bermain Igo dnegan Osho-san. Hingga suatu hari, pendeta-pendeta di biara itu ingin mengusir Rihei dengan cara memasang peringatan, “Barang siapa yang membawa atau mengenakan pakaian dari kulit binatang dilarang masuk Kuil”. Rihei san selalu memakai bolero dari kulit kelinci, tapi dia dengan cueknya memasuki kuil. Di pintu gerbang Ikkyu sudah menunggu dan berkata;

“Apakah Anda tidak melihat pengumuman itu?”

“Ohhh itu, ya saya baca. tapi di Kuil kan banyak yang terbuat dari kulit binatang. Buktinya ada gendang (drum) di dalam Kuil kan? Kenapa boleh ada gendang yang sudah pasti terbuat dari kulit itu di dalam Kuil?”

“Ya memang gendang itu terbuat dari kulit, karena itu terpaksa kami memukulnya setiap kali. Jadi kalau Anda mau tetap masuk ke dalam Kuil, saya terpaksa harus memukul kamu…”

Rihei san lalu melarikan diri takut kena pukulan Ikkyu.

Kepintaran Ikkyu yang termasyur adalah mengenai sebuah papan yang terdapat di jalan masuk sebuah jembatan. Cerita ini agak sulit diterjemahkan, tapi akan saya coba. Tulisannya begini,”Kono hashi wo wataru na” (Dilarang menyeberangi jembatan ini) Disini HASHI yang waktu itu tertulis dengan hiragana, berarti jembatan… tapi selain itu juga bisa berarti pinggiran. Karena itu Ikkyu san dengan gagahnya menyeberangi jembatan itu, dan tidak mengabaikan peringatan yang tertulis. Alasan ikkyu, “Saya tidak menyeberang di pinggiran kok, saya jalan di tengah-tengah jembatan” Jadi Ikkyu memakai sinonim kata hashi untuk menjelaskan tindakannya. Peristiwa ini sangat terkenal dan sering keluar di soal-soal ujian masuk SD…katanya.

Pendeta Ikkyuu yang menjadi model anime itu sesungguhnya
Pendeta Ikkyuu yang menjadi model anime itu sesungguhnya

Waktu membaca pertanyaan Daffa siapa sih Ikkyusan itu saya mencari lewat google dan ternyata ada beberapa cuplikan film Ikkyu san yang bisa ditonton di YouTube. Jika Anda mau melihatnya silakan ketik 一休さん atau monk Ikkyuu. Dan tadi pagi saya dibuat menangis terus karena saya menemukan sebuah episode terakhir dari Ikkyusan yang terbagi dalam 3 parts. Cerita yang 296 ini, memang harus diakhiri dan cerita penghabisan adalah dengan keluarnya Ikkyu san dari Kuil Angoku-ji untuk mengembara dan bertapa sendirian. Dengan bimbang, Ikkyu ingin pergi dari kuil itu diam-diam. Melihat keresahan Ikkyu san, Pendeta Osho-san memperbolehkan Ikkyu pulang menemui Tsubone ibunya dan diperkenankan untuk menginap. (sebetulnya pendeta dilarang untuk pulang ke rumah orang tua) . Ibunya langsung mengetahui bahwa pasti ada “masalah” sehingga Ikkyu san diperbolehkan pulang. Di situ untuk pertama kalinya Ikkyu mengatakan pada ibunya bahwa dia akan mengelana, pergi bertapa sendirian, keluar dari Kuil. Dan biasanya pendeta yang tidak mempunyai Kuil akan mengelana kemana kaki melangkah, bisa jadi mati kelaparan karena hidup dari pengasihan orang saja, atau bertemu dengan halangan-halangan lain. Ibaratnya pergi ke medan perang, belum tentu kembali. Dan malam itu Ikkyu san, bisa menikmati masakan ibunya terakhir kali dan tidur bersama ibunya. (Duuhhh you can imagine …bagaimana saya bisa tahan untuk tidak menangis…. dasar PMS juga mendukung saya untuk jadi tersedu-sedu deh…. banjir nih Nerima).

Perpisahan itu berat bagi siapa saja. Juga bagi Ikkyu san. Dengan mengendap-endap, dia tidak memberitahukan Sayo chan, sahabatnya…. lalu Shuunen san teman-teman se biara. Juga Ninagawa san si Samurai yang juga sudah akrab dengannya. Tapi semua usaha Ikkyu san untuk pergi tanpa lambaian tangan orang-orang yang dicintainya tidak bisa terlaksana. Karena semua sudah merasa keanehan Ikkyu yang biasanya ceria tetapi akhir-akhir ini murung. Sayo chan memberikan teru-teru bozu buatannya untuk disandingkan dengan teru-teru bozu buatan ibu Ikkyu san. Semua mengantar Ikkyu san dengan deraian air mata, sehingga Ikkyu san jauh melangkah menuju gunung dan lembah dan tidak terlihat lagi.

Saya sarankan untuk mereka yang sedang belajar bahasa Jepang untuk menonton film Ikkyu san ini. Karena selain bahasa yang bagus, di dalamnya terdapat ajaran-ajaran Buddha yang menjadi dasar pemikiran masyarakat Jepang. Siapa tahu juga bisa ketularan kecerdikan Ikkyu san dan dengan berusaha sungguh-sungguh Anda bisa mendapatkan IKKYU 一級 (level satu di Ujian Kemampuan Bahasa Jepang).

Memang saya pernah menulis tentang My Hero, Zorro dan kemudian Black Jack. Tapi sesungguh tidak ada Karakter yang melebihi kekuatan Ikkyu san bercokol dalam kepala saya sejak saya SMP… yang tidka saya sadari menuntun saya mengembara di Sastra Jepang, dan meneliti tentang Terakoya (Sekolah bagi masyarakat biasa) kemudian meneliti tentang pendidikan Indonesia jaman pendudukan Jepang dan akhirnya saya berada di masyarakat Jepang seperti sekarang ini. Emiko seakan berada di bayang-bayang Ikkyu san, yang mungkin juga kelak akan berkelana mencari arti kehidupan sesungguhnya. (hei bukankah kita semua begitu????)

— Tulisan ini saya buat untuk memperingati kedatangan saya 16 tahun yang lalu ke Jepang untuk jangka panjang, yaitu tanggal 23 September 1992. Terima kasih Tuhan atas perlindunganMu kepada hambaMu ini selama berada di negara asing ini, terlepas dari sanak keluarga, terlebih papa mama yang saya cintai…… (betapa aku rindu mereka terutama di saat-saat ini) bisa bertahan mengatasi kesepian, kebimbangan, kesulitan-kesulitan sekian lama dan akhirnya Kau anugerahi seorang suami dan dua anak yang menjadi tumpuan hidupku sekarang ini.—

 

Backpacker ala Jepang

27 Agu

Apa sih definisi Backpacker? Backpack itu kan ransel ya? Jadi mereka yang menyandang ransel di punggung lalu melakukan perjalanan (dengan biaya murah) itu yang disebut Backpacker. Buat Mang Kumlot…benar tidak pengertian saya ini? Nah, kali ini saya mau bercerita tentang backpacker ala Jepang, atau sebenernya cerita tentang seseorang Jepang yang backpacker. Bedanya, dia tidak menyandang ransel di punggungnya, tapi membawa sebuah koper kecil berwarna coklat ( mungkin sebesar kopernya tukang obat ya) dan melakukan perjalanan ke seluruh Jepang. Istilah bahasa Jepangnya sih Futen, tapi kalau futen lebih cocok diterjemahkan dengan menggelandang. Padahal di Indonesia konotasi gelandang(an) itu adalah pengemis. Nah si Torajiro-san ini bukan pengemis. Dia juga tidak miskin, tidak kaya, tapi senangnya melakukan perjalanan ke mana-mana. Dan dalam perjalanannya pasti dia bertemu dengan seorang wanita, yang menjadi “Madonnanya”. Hmmm kalau dilihat dari “ketemu perempuan”nya kok jadi cocok kalau disebut Don Juan ya??? Tapi…dia tidak pernah berhasil mendapatkan si Madonna itu, dan dia selalu kembali ke rumahnya yang terletak di Shibamata, Katsushika-ku Tokyo. Di rumahnya dia selalu disambut oleh adik perempuannya, Suwa Sakura (Baisho Chieko).

Torajiro ini adalah tokoh film “Otoko wa tsuraiyo…” yang saya artikan sebebas-bebasnya dengan “Jadi lelaki itu susah!”, “It’s tough being a man”. Film ini pertama kali diputar di layar perak tanggal 27 Agustus 1969, terus diputar menjadi film seri dengan lokasi dan madonna yang berbeda sampai tahun 1995. Saya juga merasa hebat dengan perfilman Jepang yang bisa membuat seri dari film sampai sekian lama (hampir 40 tahun) dan dengan tokoh yang sama, yaitu si Torajiro atau nama aslinya Kiyoshi Atsumi. Dalam kurun waktu itu 48 film telah dibuat dan dinyatakan sebagai film berseri yang terpanjang di dunia, dan tercatat dalam buku the Guinness Book of World Records, tetapi akhir-akhir ini digantikan kedudukannya oleh Huang Fei-Hong series.

Apa sih yang menarik dari film ini? Satu kata saja sebetulnya, yaitu lucu!. Si Tora san (Atsumi san) ini memang komedian. Tidak banyak lagak, tapi di kecanggungannya itu menggelikan. Senyumnya juga menarik, meskipun wajahnya tidak bisa dibilang tampan. (Frankly speaking, tidak menarik, dan aku pernah bertemu seseorang wanita dengan muka yang mirip si Atsumi san ini…. aku langsung merasa kasihan…. maaf….). Saya sendiri masih ingat waktu menonton salah satu seri Torajiro ini di Kedutaan Besar Jepang di MH Thamrin…. pengalaman tuh nonton film di dalam kedutaan (pakai pemeriksaan segala) mungkin sekitar tahun 1988-89 an. Dan salah satu scene yang masih saya ingat adalah, waktu si Tora san ini harus berjalan dalam terik matahari di musim panas jepang. Dia ingin berteduh, tapi bukannya cari pohon atau apa gitu, dia berteduhnya di bawah bayangan tiang listrik!!! stupid banget deh (Bayangin gimana caranya berteduh di bayangan tiang listrik? Ya kaki kanan dan kirinya saja ditaruh di bayangan $#&#$&$’). Dalam film ini tokoh Sakura san juga membuat cerita seimbang. Sakura san selalu menyambut kedatangan kakaknya dengan gembira, meskipun kakaknya selalu pulang tanpa membawa uang dan dalam keadaan patah hati. Wajah Baisho Chieko memang lembut menurut saya. Dan saya tambah fans pada Baisho karena dia juga menjadi penyulih suara tokoh Sophie dalam film “Howl the moving Castle”. Tokoh Sophie mempunyai dua jenis suara berbeda, yaitu Sophie waktu gadis dan Sophie yang nenek. Mungkin memakai teknik-teknik tertentu tapi suaranya memang memukau.

Atsumi san meninggal pada tahun 1996, dan sejak itu pembuatan film Otoko wa tsurai yo selesai. Memang saya setuju bahwa Menjadi laki-laki itu sulit, banyak tuntutannya…yang terutama datang dari tatanan masyarakatnya. Apa salahnya laki-laki menjadi “bapak rumah tangga ” misalnya. Sudah mulai ada bapak rt di Jepang juga. Kemudian dengan kesempatan mendapatkan cuti bergaji demi membesarkan bayi selama 3 bulan bagi suami (Baca juga sertifikat untuk menjadi papa yang baik). Otoko wa tsurai yo, demo Onna mo tsurai yo. Wanita pun susah loh!!!. Hendaknya kita jangan menyalahkan gender, karena bagaimanapun juga kita kan tidak bisa merubah jenis kelamin kita (kecuali yang memang operasi dll).

Asunaro

17 Jul

Saya teringat kembali kata Asunaro waktu Bang Hery menyebutkan kata itu untuk menamakan ‘geng blog 4 sekawan’ . Bang Hery ini pasti ingat kata Asunaro dari sebuah seri drama TV yang aslinya berjudul “Asunaro Hakusho” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “Asunaro White Paper” or “Ordinary People“. Kabarnya seri ini juga sudah diputar di Indonesia dan cukup terkenal. Yang juga pasti diingat penonton adalah tema song film seri ini yaitu lagu yang berjudul True Love dari Fujii Fumiya.(Lagu dan lirik bisa cari sendiri deh, dibantu mas google ya.)

Film Drama seri ini diputar di Jepang bulan Oktober 1993, dan saya sendiri lupa saya pernah nonton atau tidak. Mungkin menonton tapi tidak lengkap. Saat itu saya sedang dalam proses “penantian” hasil ujian masuk program S2 di Yokohama National University. Kalau saya diterima, maka saya akan mulai program itu di bulan April 1994, tapi kalau tidak maka saya harus pulang (dan hanya membawa sertifikat mengikuti kursus menjadi guru bahasa Jepang).  Yang saya ingat dari film itu hanya ada beberapa mahasiswa dnegan raut muka suram-suram berkumpul di sebuah ruangan…. terlalu banyak percakapan. Sehingga saya menjadi boring …maybe. Padahal di situ bermain si Kimura Takuya , yang nantinya menjadi some sort of idol untuk saya. (Soalnya kalau ditanya murid, sensei suka aktor siapa? …harus bisa jawab kan…..hehheeh).

Asunaro ( Thujopsis dolabrata) itu sendiri adalah nama pohon jenis pinus Hinoki yang merupakan jenis khusus ditemukan di Jepang saja. Nama lainnya adalah Hiba. Dan ada hipotesa asal usul nama tersebut dari pernyataan “Ashita (Hinoki) ni naru”, Besok akan menjadi Hinoki… jadi seakan-akan jenis ini nanti jika besar akan menjadi pohon Hinoki…tetapi salah, karena ini merupakan jenis tersendiri. Ashita ni naru, disingkat menjadi Asunaro. Besok/ Kelak menjadi besar dan berguna. Karena Hinoki banyak dipakai dalam kehidupan di Jepang.

So, posting saya ini sebetulnya hanya untuk meyakinkan agar si grup 4 sekawanan ini, yang menamakan diri sendiri sebagai The Asunaro, dapat menjadi besar dan berguna…mungkin bagi blogger yang lain, mungkin bagi masyarakat yang membaca tulisan “The Asunaro” ini, mungkin bisa menelurkan buku-buku canggih (hayo lala dan mas trainer) dengan Bang Hery sebagai tonggaknya (sapa tahu bang hery juga menulis buku, who knows)… dan saya dari jauh di negara matahari terbit…. bisa melihat mataharinya pindah …terbitnya di Indonesia…  Duuuh ngomongnya kayak udah sepuh aja hihihi. Yah pokoknya, (keluar deh ciri khas Imelda dengan kata pokoknya dnegan penekanan di huruf K), semoga (blog) saya ini juga bisa berguna bagi yang baca deh.

SEKIAN dan Terima kasih.

(haiyah kok jadi kayak pidato…gini nih kalo lagi kumat….forgive me ne asunaro’s yang lain hihihi)

Shall We Dansu?

15 Apr

Ini adalah judul sebuah film Jepang, yang sejak diputar tahun 1996 sudah aku tonton lebih dari 10 kali, jumlah yang hampir mendekati rekorku dalam menonton film sesudah “The Sound of Music”. Terus terang saja, saya tidak suka menonton. Tidak dengan sengaja mencari film dan ingin menontonnya. Apalagi sebuah film Drama. Saya selalu sakit kepala sesudah menonton, sehingga benci menonton. Tapi mungkin sakit kepalanya lebih disebabkan karena menangis daripada cahaya lampu/film yang dipancarkan (alasan saya setiap ditanya kenapa tidak suka menonton). Karena itu jika harus menonton, saya pasti akan lebih memilih untuk menonton drama komedi.

Shall We Dansu ini tentu saja dilatar-belakangi oleh lagu Shall We Dance dalam film The King and I. Akibat ketenaran film ini, th 2004 Amerika membuat recover versi Amerika dengan bintangnya Richard Gere. Cerita berpusat pada seorang pegawai (Yakusho Koji) yang mulai bosan akan kehidupannya, dan suatu malam melihat seorang gadis cantik yang berdiri di jendela sebuah kelas dansa. Ingin tahu akan gadis ini, membawanya untuk ikut kelas dansa, yang ternyata dimiliki oleh si gadis yang merupakan pedansa terkenal. Adegan-adegan kocak banyak terdapat dalam film yang sebetulnya tidak kocak, karena menggambarkan krisis kehidupan orang Jepang saat itu. Sejak film ini diputar, kelas dansa social dance banyak diminati middle age yang ingin keluar dari kerutinan hidup yang terasa mulai membosankan.
Photobucket
Dalam film ini ada seorang figur yang tidak terlalu besar porsi kehadirannya dalam film tapi sangat menunjang. Yaitu figur seorang pria berkelakuan seperti wanita (belum bisa dibilang sebagai banci) yang diperankan oleh Takenaka Naoto. Waktu Yakusho Koji mulai belajar dansa di studio dansa, Takenaka ini sudah terlebih dahulu menguasai dansa, dan terkenal eksentrik. Dia sangat kaget melihat Yakusho Koji juga belajar di kelas tersebut. Betapa tidak, ternyata Yakusho Koji sekantor dengan Takenaka Naoto, dan waktu itu penggemar dansa dianggap aneh. Cerita lengkap bisa dibaca di wikipedia.

Saya pribadi suka dengan akting Yakusho Koji, cool… kata yang tepat dalam bahasa Inggris. Tapi di satu pihak saya juga suka Takenaka Naoto, karena dia mampu berakting sebagai orang aneh. Selalu… setiap film yang dia bintangi, pasti perannya sebagai orang aneh, padahal kalau di luar film, orangnya cool sekali. Nah loh…. Itu merupakan salah satu kemampuan yang sulit ditiru orang lain. Ada beberapa film yang dibintangi oleh Takenaka Naoto, yang juga masuk dalam kategori “Bagus” menurut saya. Yaitu Swing Girl, Shikko Funjatta, dan Water Boys. Sayang sekali saya terlambat menulis tentang film-film Takenaka Naoto ini, karena tanggal 9-12 April yal ada 3 film yang dibintangi Takenaka ini yang diputar di Japan Foundation Jakarta. Berikut adalah sinopsis film dikutip dari Milis The Japan Foundation.
PhotobucketPhotobucket

Takenaka Naoto adalah aktor, komedian, penyanyi dan sutradara yang lahir di Yokohama tahun 1956. Peran sebagai Hideyoshi dalam NHK Taiga drama (1999) melambungkan namanya. 10 dari ratusan film yang pernah dibintanginya dinominasikan untuk Japanese Academy Awards. Film ‘Shiko Funjatta’ (Semangat Sumo) dan ‘Shall We Dance’ menempatkannya sebagai pemeran pembantu terbaik. Suaranya juga mengisi peran Puss in Boots dalam film ‘Shrek’ berbahasa Jepang.

Swing Girls 2004/105 menit
Sutradara : Shinobu Yaguchi
Pemain : Naoto Takenaka, Juri Ueno,Shihori Kanjiya
Sinopsis
Sekelompok gadis ‘terperangkap’ di kelas Matematika yang membosankan. Di tengah pelajaran, tersiar kabar bahwa kotak makan siang klub baseball yang akan bertanding tertinggal. Para gadis ini berinisiatif untuk membantu mengantarkannya, sekedar agar lepas dari kelas Matematika. Terlalu lama di jalan membuat makanan menjadi basi dan mengakibatkan anggota klub keracunan…….
Film ini meraih 7 penghargaan pada 2005 Japanese Academy Awards dan masuk dalam kategori film box office di Jepang.

Shall We Dance? 1995/136 menit
Sutradara : Masayuki Suo
Pemain : Naoto Takenaka, Koji Yakusho, Tamiyo Kusakari
Sinopsis
Pak Sugiyama adalah seorang akuntan yang tampan dan mapan. Ia juga memiliki keluarga bahagia. Namun, rutinitas kantor membuatnya bosan, hingga ia tertarik untuk ikut les dansa setelah melihat seorang guru dansa yang sedang termenung di jendela kelas…….

Shiko Funjatta/ Semangat Sumo 1992/103 menit
Sutradara : Masayuki Suo
Pemain : Naoto Takenaka, Masahiro Motoki, Misa Shimizu
Sinopsis :
Profesor Anayama mengharuskan Yamamoto untuk ikut klub sumo sebagai syarat kelulusannya. Klub ini tidak populer di kampus, karena lebih berbau tradisi. Walaupun demikian, berkat usaha kuat mereka, klub ini pun terbentuk. Nama mereka terangkat dan berhasil tampil di TV. Mereka pun ikut pertandingan, namun di tengah proses seorang anggota mengalami kecelakaan. Yang tersisa hanya staff wanita…. Apakah ia akan menggantikan pemain pria? Bukankah diharamkan bagi wanita bahkan hanya untuk menginjak arena sumo?

Ponette

3 Apr

Aduuuh aku sambil tulis posting ini ketawa-ketawa sendiri, gara-gara Riku latihan bernyanyi keras-keras di dalam kamar. Dia baru selesai nonton Kim Possible di Disney Chanel, yang ceritanya tentang si Kim ini ikut perlombaan menyanyi. Riku bilang dia juga mau jadi penyanyi, jadi perlu latihan…jangan dengarin ya…. Udah gitu lagunya pakai lirik buatannya dia sendiri…. mirip sama aku yang nyanyi lagu selalu ganti lirik sendiri alias ngga hafal.

OK… sesuai dengan judul topik hari ini, Ponette. Pagi ini aku berhasil memindahkan film ini dari video menjadi DVD Video yang bisa dipasang di seluruh player. Aku mau kirim hasil kopian itu ke Zay di yokohama…. sudah 2 minggu yang lalu janjinya, tapi baru berhasil hari ini. Siapa Ponette itu?
Photobucket
Film Ponette dibuat tahun 1996, sebuah film Perancis yang dibuat oleh Jacques Doillon. Menceritakan tentang seorang anak perempuan yang bernama Ponette yang kehilangan ibunya karena meninggal dalam kecelakaan lalulintas. Ponette yang diperankan oleh Victoire Thivisol ini tidak bisa mengerti apa itu kematian. Kenapa tiba-tiba ibunya tidak ada. Dia menunggu dan menunggu…. tapi ibunya tidak muncul-muncul. Lalu dia pun belajar berdoa supaya ibunya kembali.

Pergulatan batin seorang anal polos yang belum mengenal kematian. Saya tanggung semua pasti akan menangis menonton film ini. Saya maluuuuu sekali waktu menonton film ini di bioskop, karena setelah lampu dinyalakan waktu film selesaipun saya masih sesengukan menahan tangis. Yang saya heran, kok orang Jepang lain tidak ada yang sehebat saya menangisnya. Apakah mereka memang tidak punya perasaan ? atau tidak mengerti? Yah mungkin juga tidak mengerti….karena film ini berbahasa Perancis dengan subscript, tulisan bahasa Jepang. Jadi bisa dibayangkan …saya tidak bisa bahasa Perancis, dan saya harus membaca jimaku (tulisan) bahasa Jepang itu dengan cepat. Ohhh film Perancis… Tapi waktu saya browsing tentang film ini, ternyata sesudah itu dijual DVD nya dengan dubbing bahasa Jepang (No way saya tidak suka nonton film hasil dubbing), dan juga bahasa Inggris. Saya tidak tahu apakah film ini sudah masuk atau pernah masuk Indonesia atau belum.
Photobucket

Victoire ini mendapatkan penghargaan Volpi Cup sebagai Artis terbaik dalam Venice Film Festival. Dia adalah artis termuda yang pernah mendapatkan best actress award ini. Bayangkan waktu pembuatan film ini, dia berusia 4 tahun. Karenanya dia didampingi psikiater sepanjang pembuatan film, supaya dia tidak terganggu kestabilan emosinya mengingat dia masih muda. Jika Anda pencinta film Drama, atau jika Anda mau melihat artis alami berakting, dan mau banjir air-mata saya sarankan untuk menonton film ini. Jika Anda punya penyakit seperti saya yaitu sakit kepala setiap selesai menonton film, pastikan tidak ada kegiatan lain yang Anda harus kerjakan setelah menonton film. Untuk yang sedang homesick saya amat sangat tidak menyarankan untuk menonton film ini. Saya rasa cukup ancaman saya sampai di sini, dan selamat menangis!!!
Photobucket
The film centers on four-year-old Ponette (Victoire Thivisol), who is coming to terms with the death of her mother. The film received acclaim for Thivisol’s performance, who was actually only four at the time of filming.Ponette’s mother dies in a car crash, which Ponette herself survives with only a broken arm (she consequently is forced to wear an arm cast). After her mother’s death, her father (Xavier Beauvois) leaves Ponette with her Aunt Claire (Claire Nebout), and her cousins Matiaz (Matiaz Bureau Caton) and Delphine (Delphine Schiltz). Ponette becomes increasingly withdrawn, and spends most of her time waiting for her mother to come back. When waiting alone fails, Ponette enlists the help of her school friend Ada (Léopoldine Serre) to help her become a “child of God” to hopefully convince God to return her mother.
Photobucket