Arsip Kategori: Article

Patah Hati :D

Beberapa hari yang lalu, Gen memberikan sebuah artikel surat kabar. “Baca deh!”…. Waktu membaca judulnya aku sudah tertawa, tapi baru sempat baca tadi pagi. Well memang ini adalah masalah ibu-ibu yang punya anak laki-laki 🙂

Judulnya, 息子に「失恋」母の傷心] awalnya karena baca sekilas kusangka artinya “Perasaan Ibu Jika Putranya Patah Hati” eh ternyata yang patah hati justru ibunya hahaha, patah hati terhadap sang putra 😀

Banyak ibu-ibu yang sudah mengalami bahwa semakin putranya beranjak dewasa, jarak akan menjadi jauh. Yang selama masih SD masih bisa dicium-cium, atau bisa mandi dan tidur bersama, lama-kelamaan tidak bisa lagi.  Apalagi kalau sang putra menampik pembicaran dengan “Mama mau tahu aja” atau “cerewet”. “Uzai ウザイ” (cerewet) atau “Kimoi キモイ” (memuakkan) adalah kata-kata hinaan jaman sekarang (slang) yang juga disebutkan kepada sang ibu. Sakit hati mendengarnya.

Rupanya ibu-ibu Jepang yang mempunyai anak lelaki, secara tidak sadar dalam kesibukannya sebagai seorang ibu, mulai “jatuh cinta” pada anak lelakinya. Setelah menikah 10 tahun lebih dan menjadi ibu rumah tangga 100% , mereka mulai bekerja part time dan mempunyai hobi sendiri. Tapi suaminya yang sibuk setiap hari membuat sang ibu kesepian. Ini menyebabkan “perhatian” beralih kepada anak lelakinya dan mencurahkan seluruh kasih sayang kepada anaknya. Sang ibu sering mengajak anak lelakinya untuk “kencan” makan berdua atau jalan-jalan di taman.  Meskipun sang ibu berusaha “menyamakan” pengetahuan dengan anaknya dengan membaca juga buku yang dibaca anaknya, atau berusaha mendengarkan musik yang disukai anaknya, tetap saja ada batasnya. Usia, pergaulan, komunikasi dan dunia sang anak semakin membuat sang ibu jauh dari anaknya sehingga sang ibu “patah hati”.

artikel dari surat kabar Asahi Shimbun

Hal ini bisa terjadi karena memang perubahan masyarakat Jepang sendiri yang membuat rata-rata seorang wanita melahirkan 1,39 anak. Jika anak hanya satu atau dua, tentu seluruh waktunya sebagai ibu dicurahkan kepada 1 atau 2 anak ini saja. Selain itu sekarang anak-anak lelaki berubah menjadi 草食系 (soushokukei) yaitu lelaki yang tidak “garang”. Kalau lihat dari kanjinya bisa diterjemahkan sebagai “pemakan rumput” dibandingkan dengan 肉食系 (nikushokukei) “pemakan daging” yang sifatnya lebih agresif. Perubahan laki-laki yang “garang” menjadi “lembut” membuat mereka lebih bisa mengerti hati wanita, sehingga bisa lebih dekat dengan ibunya. Sehingga ibu yang merasa “nyaman” dengan hubungan anak lelaki ini, akan menjadi “patah hati” jika sang anak menjauh.

Oleh psikiater disarankan kepada ibu-ibu untuk ① mengerti bahwa anaknya akan memasuki masa puber dan itu normal ② harus mempunyai kegiatan lain selain menjadi seorang ibu ③ tetap menjaga hubungan dengan suami…

Waaaah isi artikel yang kalau dipikir jauh dengan kondisiku. Aku masih mempunyai banyak hal yang harus dipikirkan selain anak-anak, keluarga, pekerjaan, hobi termasuk ngeblog 😀 TAPI aku bisa mengerti dan memahami bahwa akan ada suatu saat waktu seorang ibu harus melepaskan anak(-anak) lelakinya untuk memulai kehidupan sendiri.

Tadi pagi aku sempat memeluk Riku di depan pintu sebelum dia pergi sekolah, lalu dia sambil tertawa berkata “Uzai” “Kimoi”, aku hampir marah, tapi untung aku ingat, dia juga membaca artikel koran itu. Rupanya dia menggoda aku! Huh, aku cubit dia tapi dia sempat lari masuk ke lift. Memang sudah mulai ada jarak antara aku dan Riku. Dia maunya mandi sendiri, lalu sudah mulai memilih baju sendiri, tidak suka dengan baju pilihanku. Atau kadang-kadang dia tidak makan makanan yang kusediakan karena tidak suka. Tidak bisa lagi kumarahi kalau tidak makan seperti dulu.  Dia tentu saja sudah bisa belanja, bepergian atau menunggui rumah sendiri. Rasanya aku sudah tidak diperlukan selain untuk masak dan membereskan rumah 😀

Aku senang karena masih ada Kai. Dia masih mau tidur dan mandi bersamaku. Atau dia masih mau mencium pipiku dan memelukku meskipun sudah malu kalau di depan umum. Tapi dia juga sudah mulai “besar” dan bertanggung jawab. Dia sering memarahiku kalau lupa atau membiarkan lampu menyala. “Boros kan ma…” Atau dia selalu  bertanya, “Mama tidak apa-apa?” kalau mendengar aku batuk atau bunyi “gubrak” waktu aku menjatuhkan sesuatu. Kadang aku peluk dia erat-erat dan berkata, “Aduh tahun depan Kai sudah SD, mama tidak bisa begini lagi ya?” Dan… tahu dia jawab apa?
“Aku akan terus tidur sama mama”
“Loh sampai kapan?”
“Sampai aku gede!”
“Ngga bisa dong, Kai harus bisa tidur sendiri kalau sudah gede!”
Aku sebetulnya mau gangguin dia…. “Kan kamu suatu waktu juga akan menikah” tapi aku diamkan saja dulu. Karena kalau aku bilang sekarang, sudah pasti jawabannya, “Aku tidak mau menikah!” (Dia pernah bilang mau jadi pastor :D) hahahaha

Akankah aku “patah hati” … hmmm let say, 5 tahun lagi? Mungkin! Tapi aku akan bersiap-siap mencari kesibukan baru jika anak-anak sudah besar. Mau belajar membuat keramik, mau belajar melukis, atau mau treking sambil hunting foto. Tapi yang pasti aku mau ngeblog terus 😀

Tapi sebetulnya yang susah itu justru kalau anak-anak lelakiku patah hati ya? Jangan-jangan aku ikut “patah hati” jika mereka patah hati 😀 hihihihi

 

Sesuatu yang Rusak

Aku ingin memperkenalkan adik iparku yang bernama Ryoko Oguchi (42, penyair). Lulusan Universitas Waseda dan namanya mulai mencuat karena mendapat penghargaan Kadokawa Tankasho tahun 1998. Setelah itu dia sudah menerbitkan 3 buku berjudul “Hai Lian”, “Tohoku” dan “Hitakami”, yang masing-masing juga mendapat penghargaan di bidang Tanka Jepang. Dari judul bukunya saja, kecuali Hai Lian (nama tempat di Cina), Tohoku dan Hitakami adalah nama yang sekarang menjadi topik sejak Gempa Tohoku 11 Maret, yang besok menjadi 3 minggu.

Dan kebetulan tanggal 27 Maret yang lalu, tulisannya dimuat di koran Mainichi Shimbun, dan aku ingin share pada teman-teman, dengan menerjemahkan tulisannya. Sebuah tulisan dari salah seorang korban gempa.

Sesuatu yang Rusak

dari daerah gempa Higashi Nihon Daishinsai

Empat belas hari sesudah gempa, ketika aku menulis artikel ini. Berada di Sendai dengan listrik dan air mati berkelanjutan, aku mengumpulkan informasi lewat surat kabar dan radio, dan kadang-kadang antri untuk makanan dan air minum. Dikejar-kejar dengan waktu untuk mencari keberadaan teman-teman, sambil terus membujuk anak lelakiku yang ketakutan setiap terjadi gempa susulan.

Tak bisa mandi, bahkan kadang lupa cuci muka. Bahkan hari-hari berlalu tanpa diketahui lagi ini hari apa atau jam berapa. Dua minggu yang berlalu begitu cepat, tapi tak sebait puisi pun bisa tercipta.

Di lain pihak 2 minggu ini aku berasa menjadi tua. Kehidupan 6 bulan yang lalu, seakan-akan sudah lama sekali berlalu. Lifeline (air, gas, listrik) hampir pulih sempurna, barang-barang pun sudah mulai beredar. Tapi kehidupan normal seperti sebelum gempa, sama sekali tidak terasa.

Apa yang terasa benar-benar rusak? “Sesuatu” itu yang sampai sekarang tidak bisa kujadikan puisi. Tersiksa oleh frustasi dan ketidakberdayaan.

Waktu itu, kebetulan aku berada di rumah, di Sendai.

Kebetulan kami bertiga berada dalam kamar yang tidak berperabot besar.

Kebetulan kami tidak pergi ke taman “dekat laut” yang disukai anak lelakiku.

Dengan “kebetulan-kebetulan” yang bertumpuk itu, aku sekarang hidup. Hanya bersyukur dan berterimakasih…. dan itu menakutkan.

Sambil diterangi lampu senter, saat itu kami bertiga berkumpul, kami makan berbagi satu bungkus cracker. Sambil gemetar dan tahu bahwa cracker ini adalah satu kemewahan.

Dari TV yang berada di kantor pos, kami mengetahui keadaan Stasiun Sendai, Bandara, kota yang pernah kami tinggali Ishinomaki, pelabuhan, sungai Hitakami. Semua pergi kemana? Informasi tentang desa di Iwate yang pernah kukunjungi waktu mahasiswa tidak ada. Semua bagaimana ya?

Meskipun aku berada di Tohoku, aku tidak mendengar suara Tohoku. Rintihan, teriakan sama sekali tidak terdengar. Di telingaku hanya ada suara dengung pejabat tinggi dari studio di Tokyo.

Di televisi, berita mengenai musibah ini tak putus-putus. Tentang gempa, tentang tsunami, tentang kecelakaan PLTN, kata-kata yang begitu banyak melimpah ruah sekaligus, sehingga terasa menghapus suara warga yang terkena musibah. Dan ini membuatku langsung menjauhi televisi itu.

Salah satu yang rusak oleh gempa ini mungkin adalah “Perspektif  Bahasa”.  Sekarang yang aku ceritakan bukan bahasa diriku sendiri, tapi bahasa “siaran berita” . Yang kudengar tadi malam, bukan suamiku tapi mungkin suara orang mati. Dalam perspektif yang tidak jelas demikian, kuingin sesuatu yang jelas seperti puisi (Tanka).

Kalau dilihat dari sisi orang-orang yang melewatkan hari di pengungsian, atau mereka yang ditinggalkan kekasih mereka, puisiku juga akan menjadi tidak jelas. Tapi aku tetap ingin membuat puisi dari kenyataan yang ada di depan mata. Setelah ini mungkin akan banyak tercipta puisi yang tercetus dari musibah gempa ini. Dan bait demi bait akan kuresapi dengan semangat untuk bangkit kembali. (Ooguchi Ryouko – Penyair- Mainichi 27 Maret 2011)

 

NB: Kami sebenarnya ingin sekali pergi ke Sendai, menjenguk mereka. Tapi kemarin adik Gen mengatakan bahwa Ryoko sedang berada di Kobe untuk acara puisinya. Lagipula jangan datang ke Sendai. Masih banyak mayat yang belum terurus karena jumlah begitu banyak 🙁 Jadi belum pantas untuk dikunjungi.

 

Kenangan Abadi?

Kadang kita mengatakan perbuatan memotret sebagai “mengabadikan”.  Menurut KBBI daring mengabadikan adalah : 2.membuat gambar kenang-kenangan (dng dipotret, dilukis, dsb); menjadikan peringatan yg kekal.

Kekal? Abadi? Seberapa abadinya? Terus terang aku sedang mangkel karena HardDisc External 160GB kepunyaanku macet. Tidak bisa terbaca. Mungkin masih bisa diusahakan oleh ahlinya tapi untuk itu aku harus mengeluarkan uang cukup banyak, dan sekarang belum ada budget untuk itu (bisa seharga DSLR Canon Kiss4 terbaru tuh). Padahal di dalamnya berisi foto-foto sejak tahun 2003 dan koleksi mp3 musik Indonesia-Inggris-Jepang-Jerman-Belanda  dll. Soal koleksi musiknya masih bisa aku kumpulkan lagi, karena kebanyakan memang sumbernya dari CD-ku sendiri, tapi foto? duh duh duh. Kesal sekali. Soalnya baru sebagian yang aku copy ke HD 1TB aku, keduluan rusak 🙁

Karena itu aku sekarang sering mengupload foto di Photobucket atau FB karena ternyata dengan aku upload di SNS  semacam multiply, FB banyak membantu jika koleksi di HD hilang begini.

Amankah data Anda? Sudah dibackup? Kalau mau tahu serba-serbi back-up silakan baca tulisan adik maya saya Jumria di TV (Tuti Nonka’s Veranda) untuk detilnya, tapi dari situ juga kita bisa tahu bahwa backup di CD/DVD juga tidak abadi. Ada batas waktunya. Yaitu cuma 20 tahun. (sumber dari 朝日小学校新聞2010年11月8日)

Dari surat kabar khusus untuk anak SD ini, selain bahwa umur CD/DVD hanya 20 tahun, aku juga tahu bahwa sebenarnya IC Memory seperti Flash disc itu umurnya hanya 5-10 tahun. Hard Disc hanya 5-20 tahun (yaaah pas aku ulang tahun umur 60, data itu bisa jadi hilang semua deh). Sedangkan media yang boleh dikatakan umurnya lebih lama adalah Microfilm 500-900 tahun, Kertas (hihihi pada lupa sama kertas ya….) 250-700 tahun…. kalau tidak ada banjir dan kebakaran. Dan yang paling lama mendekati kekal atau semi permanen adalah BATU! Nah loh, kembali ke jaman batu aja deh.

Dan kelihatannya memang tahan lama seperti “batu” itu yang menjadi cita-cita dari peneliti Jepang di Keio University. Prof. Kuroda Tadahiro mengembangkan sebuah media yang diharapkan bisa menyimpan data sampai 1000 tahun yang diberi nama Digital Rosetta Stone(DRS). Dengan memakai sistem seperti IC Memory , dia mengusahakan data “dipahat” dalam DSR ini layaknya kita memahat batu, yang tidak akan hilang. Di dalam IC Memory itu  banyak terdapat transistor yang dapat meng – on off aliran listrik dengan perintah 1 dan 0.  Pelat IC memory itu sendiri terbuat dari silikon yang memang tahan lama, tapi metal berupa garis halus menghubungkan sirkuit itu bisa berkarat terkena kandungan air di udara. Nah, kalau saja IC itu benar-benar tertutup dari udara luar, maka tidak akan karatan sehingga bisa menjadi penyimpan yang semi permanen. Tapi kalau benar-benar tertutup maka tidak bisa dialiri listrik apalagi membaca datanya. Untuk itu dipakai induksi elektromagnetik seperti sistem IC Card yang dikenal masyarakat, misalnya membuka pintu peron hanya dengan menyentuhkan kartu dengan panel scanner.

Pak Profesor Kuroda dengan DRS nya

Harga DRS ini diperkiraan bisa mencapai ratusan ribu yen jika dengan kapasitas komputer sekarang yang sekitar 300 GB. Tapi seperti harga IC Memory yang setiap tahun harganya turun, diharapkan 10 tahun mendatang bisa dibeli seharga ribuan yen saja. Apalagi dalam 20 tahun mendatang, DRS bisa jadi dapat dibeli amat murah, dan yang terpenting jaminan umur data Anda itu bisa 1000 tahun loh!

Hmmm…. tapi siapa yang bisa memastikannya ya? kita toh tidak hidup 1000 tahun untuk menggugat pak profesor jika ternyata DRS tidak memenuhi janjinya itu. Tapi yang pasti memang kita sendiri yang harus berusaha memakai bermacam media supaya data yang ingin kita abadikan bisa benar-benar abadi, sambil berharap anak-cucu kita tetap menganggap data yang kita simpan itu memang penting untuknya, atau untuk generasi lanjutannya. Paling tidak sebagai bukti sejarah kita. Semoga….

(Sumber data dan foto dari Asahi Shogakko Shimbun 08-11-10)

Hujan Berudu

hmmm kalau seandainya saya tuliskan hujan beludru, maka akan terbayangkan sesuatu yang romantis… velvet rain… meskipun saya tahu kadang hujan tidak bisa selembut beludru.

Tapi yang saya mau tulis adalah berudu, atau kata lainnya cebong/kecebong, anak katak. Dan yang pasti menjijikkan sekali ya jika terjadi hujan berudu.

Fenomena alam yang aneh ini terjadi sejak tgl 4 Juni lalu, di Ishikawa Prefektur sekitar pukul setengah lima sore. Seorang pegawai pemda mendengar suara “pletak pletak” di pelataran parkir salah satu fasilitas pemda. Waktu didekati ternyata di atas mobil dan sekitar pelataran parkir itu ada banyak sekali kecebong sepanjang 2-3 cm berjatuhan. Dilihat dari posisi jatuhnya cuma bisa diperkirakan bahwa kecebong itu jatuh dari langit…. dan berarti? hujan kecebong? Dan kejadian ini berlangsung juga di beberapa tempat dalam beberapa hari.

Foto dari sini

Ternyata di daerah Ishikawa pada musim-musim sering terjadi angin puting beliung memang sering terjadi “hujan ikan dan benda benda lain” tapi saat ini bukanlah musim angin puting beliung. Pada saat kejadian cuaca sedang stabil. Kepala kebun binatang Ishikawa mengatakan,” Memang kadang burung bangau atau bebek makan kecebong,  tapi tidak mungkin kalau sampai menjatuhkan 100 ekor lebih kecebong pada saat yang bersamaan” .

Kalau hujan kecebong yang sekecil-kecil uprit sih ngga papa mungkin ya… meskipun agak geli juga. Tapi kalau sampai hujan kodok? hiiiiiii

Jangan Bugil di Sini

Kemarin pagi saya terkejut mendengar berita, bahwa salah satu anggota boysband tekenal di Jepang, SMAP, ditangkap polisi. Apa pasal? Ternyata si Kusanagi ini saking maboknya (katanya sih 10 gelas bir… ) berbugil ria, telanjang tanpa selembar benang pun di taman di Tokyo. Saya sering kok mendengar orang yang berbugil ria karena mabok, meskipun mungkin cuma sebentar, tapi tak ada yang seheboh si Kusanagi ini.

Entah mungkin karena dia seleb, atau dia sempat mengganggu ketertiban atau apa, sehingga ditangkap. Saya berkata pada Gen, “Kenapa sih, yang telanjang kan dia. Kenapa harus ditangkap?”. Ya ditangkap dengan dakwaan, mengganggu kepentingan umum. Laaahh? Kalau di Indonesia mah, mungkin semua emang ngerubuti dia, bikin foto lalu jual di net, dengan harga tinggi. Maklum fansnya kan banyak. (Mungkin kalau dianya berjenis kelamin wanita akan lebih laku lagi). Atau satu lagi, sebelum dia telanjang, pasti ada temannya yang membawa dia pulang, sehingga tidak sempat membuat ulah di taman. Saya masih merasa aneh dengan hukum Jepang yang ini (dan mayarakat Jepang ini).

Dan karena dia seleb, langsung masuk TV, langsung semua perusahaan yang mengikat kontrak dengan dia menghentikan tayangan CM (Commercial = Iklan di Media TV), dan membatalkan kontraknya. Berapa juta yen kerugian dalam sehari, hanya karena bugil di tempat umum, yang mungkin tidak sampai berjam–jam itu. Karena dia public figure, seleb, dia seharusnya tidak berbuat seperti itu (kalau orang biasa, saya yakin kerugiannya paling hanya memalukan keluarga doang, ngga sampai berjuta-juta yen). Kasian deh… Lihat wajahnya yang kuyu dan tak ada ekspresi di matanya waktu konperensi pers.

“Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”… peribahasa yang masih tepat dipakai sampai kapanpun. Padahal dalam peribahasa Jepang juga ada, “Saru mo ki kara ochiru”猿も木から落ちる。Harafiahnya “Monyetpun jatuh dari pohon”. Atau kalau peribahasa Indonesia menjadi : ”Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga”. Namanya juga manusia. (Kenapa di peribahasa Indonesia pakai tupai ya? bukan pakai monyet sebagai perlambang? Kenapa justru orang Jepang pakai monyet? hmmm aneh!)

Jadi kesimpulannya? “Jangan bugil di sini!”

foto ini saya ambil di KB Yurasia, Yokohama

foto ini saya ambil di Kebun Binatang Zoorasia, Yokohama


Tiga K atau Tiga D

Kalo 2 D mustinya yang seangkatan dengan aku pada tahu ya… Singkatannya Deddy Dhukun dan Dian Pramana Putra. Tapi yang saya mau tulis di sini adalah  3 K dalam bahasa Jepang, atau dalam bahasa Inggrisnya menjadi 3 D. 3 K dalam bahasa Jepang merupakan singkatan dari Kitsui (Sulit), Kitanai (Kotor), dan Kiken (berbahaya). Bahasa Inggrisnya adalah Dirty, Dangerous dan Demeaning. Jenis pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh Blue Collar (pekerja kerah biru sebagai lawan pekerja kerah putih a.k.a deskwork)

Semakin banyak warga Jepang yang tidak mau melakukan pekerjaan yang merupakan kategori 3 K tersebut. Akibatnya pekerjaan yang sulit, kotor dan berbahaya itu kebanyakan dilakukan oleh pendatang asing terlebih yang datang tidak melalui prosedut semestinya (baca: ilegal). Secara bercanda pernah teman saya, Andre mengatakan pada temannya, bahwa ada lowongan pekerjaan sambilan arbaito dengan gaji 20.000 yen per jam tapi malam hari. Teman-teman mahasiswa dari Indonesia antuasias, tapi setelah tahu bahwa pekerjaannya adalah membersihkan stasiun setelah jam kereta selesai, mereka melempem. Karena itu berarti harus membersihkan WC, dan juga muntahan (maaf) orang-orang yang mabok karena minuman keras. Saya rasa tidak ada di antara teman-teman blogger yang dengan senang hati mau melakukan pekerjaan seperti itu, meskipun gajinya besar. “Gengsi dong!” ….

Tadi pagi saya mendengar berita yang menarik di televisi. Entah apa yang menjadi tujuan komite pendidikan suatu daerah Jepang untuk membangkitkan kembali kegiatan membersihkan WC (toire souji) oleh murid-murid SD. Rupanya 20 tahun lebih yang lalu murid-murid pernah “disuruh” membersihkan WC tapi kemudian dihapus. Sekarang mau dibangkitkan lagi. Hmmm saya jadi berpikir bahwa pasti orangtua-orangtua murid banyak yang keberatan. Pasti akan banyak protes bermunculan. Mana mau mereka jika anaknya yang “berharga” itu disuruh membersihkan WC. Wong di rumah saja anak-anak tidak boleh bekerja. Pasti hampir semua anak Jepang (terutama anak laki-laki)  tidak pernah mencuci piring di rumah. Masa anak-anak ini mau disuruh membersihkan wc sekolah?

(Posting ini ditulis tahun 2009, dan ternyata sampai saat ini sudah cukup banyak sekolah yang memberlakukan pembersihan wc di sekolah mereka, meskipun sekolah Riku tidak. Selain itu ada lagu yang hit pada tahun 2010 berjudul Dewi WC)

Memang disebutkan dalam laporan televisi itu bahwa sebelum anak-anak membersihkan wc tersebut, guru akan melihat dulu “derajat” kekotoran WC. Jika kotor sekali, maka kegiatan itu dibatalkan. Dilaporkan bahwa dengan adanya pilot project usaha tersebut, anak-anak lebih aktif membantu di rumah dan lebih bertanggung jawab akan kebersihan sekelilingnya. Jadi semestinya pelajaran ini bagus adanya.

Saya sendiri sebagai orang tua setuju sekali jika diberlakukan kegiatan membersihkan wc di sekolah. Saya jadi teringat dulu (sekarang saya tidak tahu) pernah mendengar bahwa Canisius College yang sekolah laki-laki saja memberlakukan hukuman membersihkan wc bagi mereka yang terlambat. Waktu saya katakan pada Gen soal ini, dia berkata, saya setuju sekali… lah saya juga kadang bekerja membersihkan wc kok…. (dan saya teringat betapa dia shock dan tidak bisa menerima harus bekerja seperti itu waktu awal-awal bekerja).

Lebih jauh lagi, kita sendiri bisa melihat betapa untuk bidang jasa di Jepang, semua pegawai bahkan boss nya pun turun tangan ikut membersihkan jalan, atau apa saja yang berhubungan dengan kebersihan. Tidak heran jika di Jepang kita melihat sosok pegawai berjas dan berdasi memegang sapu dan membersihkan jalanan depan toko/bank. Kalau toh kelak jika besar dia harus melayani dan melakukan pekerjaan seperti itu, apa salahnya waktu anak-anak diberi pengalaman seperti pelajaran membersihkan WC itu. Supaya jangan shock seperti suami saya itu hehehe.

Mungkin orang Indonesia akan bertanya, kenapa kok karyawan yang berjas itu mau bekerja seperti itu, emangnya ngga ada office boy? Di kantor Jepang, tidak ada office boy. Pekerjaan yang termasuk kategori pekerjaannya office boy itu dilakukan oleh karyawan yang baru masuk (bulan April) , atau disebut shinjin (orang baru). Boleh saja kita katakan itu semacam inisiasi yang harus dilewati untuk kemudian tahun berikutnya tugas itu diambil alih oleh junior (kohai) nya karena dia telah menjadi senior (sempai).

Pesta Salju

Jangan khawatir, di Tokyo belum turun salju. Meskipun udara di sini kering, sehingga berbahaya bagi tenggorokan dan juga kemungkinan kebakaran. Setiap pagi dalam siaran berita, pasti ada berita kebakaran. Dan yang menyebalkan bagiku adalah alergi serbuk bunga. Menjelang musim semi, pohon mulai menyebarkan serbuk sarinya dan itu membuat saya alergi. Bersin-bersin dan gatal-gatal. Susah deh. KAFUN 花粉,serbuk bunga menyebabkan penyakit modern baru yang disebut Kafunsho. Sebetulnya Kafunsho ini lebih disebabkan oleh serbuk pohon pinus.

Saya sendiri baru terserang penyakit ini kira-kira 10 tahun yang lalu. Waktu itu sekitar bulan Maret, saya harus pergi mengajar ke rumah murid yang letaknya dekat pelabuhan udara Narita. Karena agak desa, masih banyak salju yang tersisa, padahal di Tokyo sama sekali tidak ada. Nah, selama saya mengajar itulah saya bersin-bersin terus. Ternyata waktu pulang saya baru tahu, bahwa di belakang kompleks perumahan itu ada hutan pinus. Dan persis waktu itu angin bertiup…. waaahh sampai kelihatan itu serbuk menguning beterbangan. Itulah sumber dan penyebab saya sampai sekarang alergi serbuk bunga. Kalau bersin/pilek saja sih tidak apa-apa, karena saya sudah biasa. Sejak SD kelas 4 sudah langganan dokter alergi Dr. Karnen Baratawidjaja di RSPP dan disuntik 3 kali seminggu. Tapi alergi Kafun ini juga menyebabkan hidung, mata dan keseluruhan muka menjadi gatal. Mata berair juga. Menyebalkan sekali.

OK, back to SNOW. Hari ini adalah hari pembukaan Pesta Salju “Snow Festival” di Sapporo. Dan tahun ini adalah yang ke 60 kalinya. Memang festival ini selalu diadakan di awal Februari, di 3 lokasi tetapi yang paling terkenal adalah di Taman Odori. Taman ini terletak persis di bawah Menara TV Sapporo. Sayang sekali waktu saya berkunjung ke Sapporo beberapa tahun yang lalu, bukan pada awal bulan Februari. Tentu saja awal bulan februari ini yang terdingin di Sapporo, bahkan katanya siang hari bisa minus 11 derajat celsius.. Brrrrr. (Tapi ada kota di Hokkaido yang minimum suhunya minus 30 derajat! Bisa bayangkan tidak ya???Dingin tidak menghalangi wisatawan yang datang. Kabarnya paling sedikit 2 juta wisatawan dari luar dan dalam Jepang datang untuk melihat langsung bangunan-bangunan es ini.

Konon salju yang dibentuk menjadi patung-patung itu tingginya hanya 7 meter, tetapi sekarang seudah melebih 15 meter. Taman Odori ini dipenuhi oleh pahatan es yang menjadi bentuk yang indah-indah. Pemahat Es dari Indonesia pun sering memeriahkan festival Salju Sapporo ini. Jika tahun lalu dimeriahkan dengan bentuk bangunan megah, kastil jepang dan Cerita Narnia, saya belum melihat reportase tahun ini berbentuk apa.

Lihat perbandingan tinggi orang dengan bentuk yang dibuat. Tapi kenapa melihat gambar-gambar indah begini, saya tetap tidak mau pergi ke sana ya? Mungkin terlalu takut memikirkan untuk menghadapi temperatur dibawah 0 derajat? (Padahal waktu saya ke Munchen saat itu minus 15 derajat saja! dan tidak apa-apa, malah saya rasa lebih dingin Tokyo, karena Tokyo berangin). Jika Anda ingin menyaksikan pesta salju ini, masih diselenggarakan sampai dnegan tanggal 11 Februari nanti. Cuma, jangan berharap untuk mendapatkan hotel/penginapan karena sudah fully booked.

Mumpung Tahun Baru…..

Sambil nonton Ekiden (pertandingan maraton antar universitas) di televisi, saya membaca angket di internet yang menarik. Judulnya, “Mumpung Tahun Baru, kemewahan seperti ini diperbolehkan”. Nah, kemewahan seperti apa sih yang dilakukan orang Jepang pada Tahun Baru? Rankingnya sebagai berikut:

  1. Tidur sepuas-puasnya (kasian deh…ketahuan banget selama ini kurang tidur ya...)
  2. Makan yang disukai sepuas-puasnya (lupakan diet)
  3. Memanjakan diri dengan menyewa kamar dengan pemandian air panas di udara terbuka (open air hot spring) dan menikmati mandi pertama dalam tahun yang baru dengan santai. (hmmm mandi/berendam  memang merupakan kesenangan tersendiri… aku juga mauuuuu)
  4. Menikmati old and new di luar negeri (nggak ah… kalo tidak bersama keluarga. kemarin ada berita 4 orang Jepang melewati old n new di Thai dan menjadi korban kebakaran)
  5. Membeli kantong keberuntungan fukubukuro yang mahal (no way… ngga tau apa isinya gitu …)
  6. Minum sake (nihonshu) yang mahal (nah kalo ini boleh juga hihihi)
  7. Makan masakan tahun baru osechi ryouri yang mahal (hmmm apa sih yang mahal? Udang? ngga usah deh soalnya aku ngga begitu suka udang)
  8. Melihat matahari pertama di tahun baru dari kamar teratas di hotel mewah (hmmm sekali-sekali boleh juga nih. Aku pernah punya cita-cita untuk hotel-traveling)
  9. Membeli barang tanpa melihat label harga (Not my style)
  10. Mengeset rambut di salon (haiyah…ke salon aja ngga pernah hihihi)

Buat saya mungkin yang paling saya inginkan sekarang adalah liburan di Hot Spring, entah itu hot spring yang di dalam ruangan (daiburo大風呂) atau di luar ruangan di alam terbuka (rotenburo 露天風呂). Takut diintip? Hmmm orang Jepang biasanya tidak punya kebiasaan mengintip atau arsitektur penginapan dibuat sedemikian rupa sehingga tidak bisa diintip. Kalau mau ngintip-ngintip mending pergi ke Shinjuku, ada tempat khusus untuk intip mengintip hihihi. Mandi di alam terbuka sambil memandangi pemandangan yang menghampar, baik itu pegunungan maupun pantai/danau…. amat sangat membuat badan dan hati menjadi relaks. Otot-otot yang tegang bisa diistirahatkan. Bener deh, saya sarankan untuk mencoba.(Perhatian: Masuk onsen atau hot spring tidak boleh pakai swimsuit!)

(kiri hot spring dalam salju…. hmmm saya belum berani untuk coba masuk ke hot spring dalam salju. Mungkin hangat berendam di dalamnya, tapi dari leher ke kepala pasti dingin ya…atau sesudah selesai untuk masuk ke kamar? brrr dingin ya…. hihihih — kalau yang berupa tong besar di luar atau foto sebelah kanan itu sudah biasa. Superb…. meskipun biaya penginapan juga biasanya mahal — sekitar 20.000 yen per malam per orang termasuk 2 kali makan)

Gara-gara Cosmos

Waaaha siapa lagi tuh si Cosmos? (Bukan Cosmas loh, kalo Cosmas memang banyak dari Batak tuh). Yang pasti Cosmos ini bukan nama bunga yang pernah saya bahas di sini. Tapi Cosmos adalah nama sebuah komputer sistem pengatur Shinkansen Jepang Utara. Gara-gara dia kecapekan, hari ini sekitar 112 dari 380-an shinkansen yang harusnya berangkat terpaksa dibatalkan. Waktu mendengar berita pertama mengenai keterlambatan Shinkansen Tohoku pagi ini, Gen berkata, pasti itu gara-gara salju. Memang badai salju sedang melanda Jepang Utara. Tapi ternyata penyebabnya ya sistem trouble, kesalahan si Cosmos ini. Tetapi secara tidak langsung badai salju juga turut berperan sehingga si Cosmos akhirnya “meledak”. Karena Badai salju, dial (jadwal kereta) kemarin banyak yang tidak tepat. Nah pagi dini hari sebelum jadwal shinkansen mulai pagi ini diberikan input data jadwal baru. Dn ternyata karena terlalu banyak data baru itu menyebabkan si Cosmos ngambek. Biasanya kalau ngadat begini dalam waktu 1 jam bisa diselesaikan, tetapi hari ini paling sedikit 3 jam shinkansen lumpuh. Sekitar 137.000 orang yang akan mudik ke kampung halamannya terpaksa menunggu di stasiun selama tiga jam dalam dingin. Brrrrr.

Foto diambil dari sini

Puncak mudik diperkirakan tanggal 30 dan 31 besok. Semua orang ingin bergabung dengan sanak-saudaranya di kampung halaman untuk melewatkan pergantian tahun dari tahun Tikus menjadi tahun Sapi. Pada waktu-waktu seperti ini memang paling enak yang tetap tinggal di Tokyo dan sekitarnya, karena lalu lintas dalam kota akan menjadi sepi. Akan tetapi memang diperkirakan 2 hari lagi udara yang sekarang lumayan hangat akan menjadi dingin, menjadi musim dingin yang sebenarnya. Ah…tetapi yang paling enak lagi adalah Tina yang sekarang sedang melewatkan liburan di Jakarta…. duh iri hati deh… urayamashii

Di saat seperti ini kita disadarkan betapa manusia sekarang terlalu bergantung pada sistem komputer. Begitu sistem itu error, heboh deh… Tapi akhirnya yang membetulkan sistem itu juga manusianya. Manusia memang masih diperlukan, secanggih-canggihnya suatu sistem. Dan ngomong-ngomong soal komputer, kemarin aku dan Gen menerima hadiah Natal dari…. masing-masing hehehhe. Untuk Gen aku beli Harddisk external 1 TB (satu Tera byte)… dengan harga yang UNBELIEVABLE  (eh eh eh…masak pengucapan Japlish nya untuk kata ini ANBELIBABO hihihi). iya…. hanya 12.000 yen saja. Mereknya Buffalo, sebuah merek yang selalu aku pakai untuk urusan memory data. Padahal produsen lain masih memberi harga 18.000 – 28.000 yen (saya pernah posting di sini). Dan karena HD externalku yang 160 GB juga sudah mulai penuh, aku beli yang 640 saja, beda harganya 4.000 yen (yaitu 8000 yen dari produsen IO Data). Sebetulnya bisa saja sih beli dua yang sama, cuma Buffallo yang 1 TB itu hanya ada warna hitam (warna PC nya Gen hitam sih), sedangkan aku maunya putih… Dan 1TB yang putih muahaaaaalll (mahal maksudnya heheheh)

Hari ini Riku dan papanya pergi lagi ke Kichijoji untuk menonton Film Wall-E. Harga Tiket di sini 1800 yen untuk dewasa dan 1000 yen untuk anak-anak. Di dalam film terdapat adengan bergandengan tangan, dan katanya Riku pun menggandeng tangan papanya sambil menonton. Gen menjadi terharu di situ…. Film Wall-e ini baru diputar di bioskop jepang mulai tanggal 10 Desember yang lalu. Semua disulih suara dengan  bahasa Jepang. Riku dan Gen menonton pertunjukan jam 11:45, jadi pas waktu makan siang. Tapi meskipun begitu bioskop penuh dengan keluarga yang menonton. Untung juga menonton jam segitu karena pertunjukan berikutnya sudah terdapat antrian yang panjang sekali.

Imelda dan Kai? Hari ini di rumah saja. Sambil nge-print kartu Tahun Baru, aku bermain dengan Kai dan membacakan buku untuk dia. Kelihatan Kai juga suka pada buku. Dia memilih sendiri buku yang ingin dia lihat. Tapi gara-gara Kai aku membuat kesalahan fatal, yaitu tujuan pengiriman Kartu Tahun Barunya semua menjadi 3 lembar. Rupanya cursor untuk menunjukkan berapa copy tergeser menjadi tiga waktu Kai “mengganggu” komputer saya. Dan saya tidak sadar sama sekali, sampai saya heran kenapa waktu pencetakan begitu lama. Tetapi semuanya sudah terlambat. Terpaksa saya kumpulkan 2 lembar yang lain (kan aneh jika orang menerima 3 lembar katu tahun baru dari saya…nanti dipikir saya sudah rada-rada hehehhe) , ada kira-kira 50 lembar, untuk besok dikembalikan ke Kantor Pos. Nah sistem ini juga aneh menurut saya. Kartu pos Tahun baru itu memang sudah tercetak perangko seharga 50 yen. Dan waktu kita beli selembar 50 yen. Tetapi jika kita salah mencetak/menulis nama, kita bisa mengembalikan/menukarkan dengan kartu pos atau perangko dengan dipotong 5 yen per lembar. Heran bener deh… Kalau di Indonesia, jika terjadi kesalahan begitu kan pasti resiko ditanggung penumpang ya? Salut deh aku sama kantor pos di sini.