Selalu Waspada!!!

26 Mar

Rasanya menyebalkan juga jika kita harus selalu FULL ALERT. Hidup di Jepang ini memang membuat otak kita bertambah tua lebih cepat. Selain membuat kita spanning terus…. high voltage deh. Betapa tidak, hidup di negara gempa Jepang, sudah membuat kita harus waspada terus jika kita merasakan tanah goyang ini. Harus tenang, jangan panik, tapi harus cepat matikan sumber api, dan buka pintu untuk mengamankan jalan keluar.

Bagi yang punya anak di kota besar, sekarang juga harus terus full alert… apalagi yang punya anak perempuan. Banyak kejadian anak-anak yang diculik, dibunuh bahkan yang lebih sadis lagi, foto anak yang dibunuh itu dikirimkan ke ibunya lewat handphone anak itu… duh duh duh…..

Berita terakhir juga yang membuat kita harus WASPADA pada makanan yang kita makan, yaitu dengan ditemukannya bahan pestisida dalam makanan beku yang diimpor dari Cina. Agak kaget juga saya waktu menonton acara di televisi tentang penelitian “Meja makan orang Jepang” 日本人の食卓. Ternyata banyak sekali keluarga yang selalu memakai bahan-bahan beku siap jadi untuk hidangan makanan sekeluarga sehari-hari. Padahal kalau dilihat dari fotonya hebat, pasti ada makanan pokok, daging, sayur, pickles, sup. pokoknya wah deh… Tapi ternyata itu semua hasil “cing”, defrost di microwave. Masih mending aku dong yang sekali makan hanya dua macam, sayur dan daging tapi buatan sendiri. Parahnya ada pengakuan satu keluarga : Ibu makan pizza, anak laki-laki makan mi, sedangkan anak perempuannya makan sandwich. Kok bisa beda-beda begitu? Ya, tinggal di microwave saja. cing!!! Jadi si Ibu tidak tahu sama sekali rasa makanan yang dikonsumsi anaknya. Jadi tidak tahu juga apakah makanan itu “aneh” beracun atau tidak.

Melengkapi daftar ALERT hari ini adalah berita kemarin. Seorang karyawan gubernuran bernama Kariya (38) pukul 11 malam, didorong seseorang di peron stasiun lalu jatuh ke rel kereta dan langsung dilindas kereta yang masuk ke stasiun. DUH…. kasihan sekali. Dan yang mendorong adalah seorang pemuda berusia berusia 18 tahun (tidak diberitakan namanya karena umur 18 th masih belum dewasa di Jepang, sehingga privasinya dilindungi pemerintah). Pemuda ini waktu diinterogasi mengatakan, “Kalau saya membunuh orang maka saya akan masuk penjara. Jadi siapa saja bisa saya bunuh (tidak harus orang tertentu)”. Hmmmm Penjara Jepang enak apa ya? mungkin masih dapat makan sehingga lebih nyaman berada di penjara ya? Anyway, pemuda ini memang aneh….

Padahal hari Minggu yang lalu, ada kejadian lagi di stasiun Tsuchiura yaitu seorang “pembunuh kalap” 通り魔 menusuk 8 orang di stasiun dan menyebabkan seorang meninggal. Si pembunuh kalap ini berusia 24 tahun, pengangguran, yang kecanduan game. Mungkin dia ingin mempraktekkan sang tokoh dalam permainan gamenya dengan menusuk siapa saja yang lewat.

Jadi, waspadalah selalu jika berada di tempat umum, seperti stasiun. Salah-salah kita apes menjadi korban orang-orang gila. Saya sendiri tidak pernah mau berdiri paling depan di peron, atau kalaupun kita yang pertama jauh-jauh dari garis batas seharusnya. Dan satu lagi yang penting, yaitu berdoa memohon perlindungan Tuhan dalam kehidupan kita supaya Tuhan menjauhkan kita dari mara bahaya.

25日午後11時7分、岡山市駅元町のJR山陽線岡山駅下りホームで、電車を待っていた倉敷市笹沖、県職員假谷国明さん(38)が、男に背後から押され、約1・5メートル下の線路に転落し、直後に入ってきた瀬戸発岡山行き普通電車(4両)にはねられた。

ホームを巡回していた県警鉄道警察隊員が、電車の警笛に気付いて駆けつけ、ホームにいた大阪府大東市の無職少年(18)を殺人未遂の現行犯で逮捕、岡山西署に引き渡した。假谷さんは全身を強く打ち、約5時間後に死亡。容疑を殺人に切り替えて調べている。

調べでは、少年は25日から家出しており、「人を殺せば刑務所に行けると思った。誰でもよかった」と供述している。少年と假谷さんとは面識がなかったという。

この影響で、同線は下り9本が1時間19~5分遅れ、約800人に影響した。

Tiada kata terlambat

26 Mar

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

IMELDA COUTRER MIYASHITA: Salam Pak EWA. Saya belajar menulis empat tahun, membiasakan menulis apa saja. Menyesal kenapa terlambat memulai.

KAPAN SAJA. Menulis adalah pekerjaan merdeka. Tidak ada istilah kapan memulai pabila berakhir. Dalam bahasa santainya, suka-suka. Orang bisa saja punya mau setinggi gunung, dan punya kemampuan lebih dari cukup, tetapi belum tentu menjadi penulis. Antara mau dan mampu telah dibahas pada tulisan terdahulu. Akan halnya ‘menjadi’ itu urusan lain lagi. Bisa saja, tiba-tiba muncul ‘kesadaran’ atau datang pemicunya, dan jadilah. Bisa-bisa ketagihan.

Yang penting, diri siap menulis. Siap dalam pengertian, apa-apa yang akan ditulis memang sudah tersedia di otak, dan atau, otak mampu mengolah apa yang akan ditulis. Orang yang banyak membaca, dan atau, punya pengetahuan luas, apalagi pengetahuan lebih khusus, lebih memungkinkan menulis, menjadi penulis. Bisa pula dikatakan, kalau posisi sudah stand by, tinggal menunggu pemicu.

Yang celaka, libido menulis menguasai ubun-ubun, pengetahuan cekak, penguasaan teori, tehnik, dana seterusnya nol koma nol. Mana sok pintar pula. Kalau mengidap penyakit sedemikian, akan sulit menulis. Hal tersebut harus diatasi terlebih dahulu.

selanjutnya baca di sini :

*********************

duuuh seneng deh komentar aku dulu dibahas oleh Pak Ewa. Aku menulis komentar atas tulisan “Menulis, ya menulis saja” begini:

Salam Pak Ewa, maaf baru menulis sekarang, padahal bapak sudah bertandang ke blog saya di http://13tahun.blogspot.com tepat sebulan yang lalu. Selama sebulan saya mempersiapkan website baru yang bisa menampung semua tulisan saya selama ini yang berserakan. Kalau Bapak ada waktu silakan berkunjung ke rumah maya saya yang baru, dan ditunggu kesannya.

Menanggapi tulisan Bapak yang ini, saya amat sangat setuju sekali dengan pendapat Bapak. Menulis, ya menulis saja. Kita toh menulis dalam bahasa kita, bahasa Indonesia, yang tentu saja sudah kita pelajari dari lahir atau paling tidak dari SD. Menulis itu merupakan ekspresi jiwa yang terekam dalam paduan huruf dan kata yang menjadi kalimat. Selama kita bisa bercakap-cakap dengan orang lain pasti kita bisa mengekspresikan isi percakapan itu dalam bentuk tulisan. Tapi memang benar menulis (mengarang) tidak dibiasakan dalam pendidikan kita. Sehingga kita akan canggung dan merasa TIDAK BISA.

Saya sendiri baru BELAJAR menulis 4 tahun lalu yaitu dengan membuka blog, dan membiasakan menulis apa saja. Di situ saya tahu kekurangan saya dalam menulis. Penyingkatan, tanda baca, terlalu kaku dsb. Menulis memang perlu stimulus, yang mungkin bagi saya waktu itu “Kenapa dia bisa punya blog. Saya sangat suka membaca tulisan dia, padahal isinya hanya keluhan terus. Kalau saya menuliskan kehidupan saya di sini pasti akan lebih menarik.” Lalu saya mulai menulis. Untuk saya umpannya adalah “rasa iri hati” itu. Kadang saya menyesal kenapa saya baru mulai 4 tahun yang lalu, kenapa tidak dari dulu-dulu. Kalau saya bisa menuangkan perasaan saya seperti kalau saya menulis sekarang, mungkin skripsi atau thesis saya akan lebih menarik, dan lebih singkat waktu yang diperlukan dalam penyusunan.

Hanya saja saya sarankan …pleaseeeee deh jangan tulis blog dengan kode kode sms. Jika kode sms seperti itu sudah begitu merasuk dalam kehidupan, sampai-sampai menulis di blog pun seperti itu, saya bisa bayangkan betapa kasihan hidupnya karena begitu dikejar-kejar waktu dan uang dan pasti orang itu lebih sibuk daripada bisnisman Jepang.

Jadi… cari umpan yang bisa menstimulus kemauan untuk mulai menulis. Dan seperti Zul katakan, aturan belakangan setelah kita menikmati enaknya menulis. Mulai dengan topik yang ringan dan singkat. Lama-lama Anda tidak sadar sudah menulis 10 halaman (seperti saya tahu-tahu sudah kepanjangan nih). Soal dibaca orang, atau dikomentari orang saya rasa tidak penting. Bener tidak pak Ewa…..

***Setuju esensinya. Ya, mari dibalik … menulis itu justru susah mengehentikannya. Jadi, siapa bilang susah memulai menulis?

**********************

dan untuk komentar “Tiada kata terlambat” saya tulis lagi komentar demikian:

waaaahhhh senang sekali baca tulisan bapak dengan topiknya saya. Betul tidak ada kata terlambat untuk menulis. Tapi namanya manusia selalu berpikir “kenapa tidak dari dulu”, “kenapa tidak begini, tidak begitu”. Dan benar kata Bapak yang penting kita SIAP lahir-batin untuk menulis. Saya juga sadar kalau saya menulis lebih awal, mungkin isi tulisan saya tidak akan se “dewasa” sekarang. Hanya berupa catatan-catatan bagaikan anak kecil. Meskipun saya tidak merendahkan tulisan anak kecil, tapi tentu itu tidak sesuai dengan umur saya.

Ada sosok satu orang yang selalu mengingatkan saya bahwa “tidak ada kata terlambat” yaitu mantan murid bahasa Indonesia saya. Seorang lelaki Jepang bernama Watanabe Ken, yang mulai belajar bahasa Indonesia (di kelas saya) waktu beliau berusia 83 tahun. Dan dia belum pernah sekalipun pergi ke Indonesia. Sekarang beliau berusia 92 tahun, masih sehat, masih belajar meskipun bukan di kelas saya, dan sudah pandai menerjemahkan kalimat bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jepang. 92 tahun…. semangatnya patut kita contoh.

戻れない道 tak bisa mundur lagi

25 Mar

Mungkin lirik lagu dari Hiramatsu Eri ini tepat buatku sekarang. Modorenai,…aku tak bisa kembali lagi. Tak bisa mundur lagi. Kenapa?

Aku mulai membuat Blog tanggal 28 April 2005. Waktu itu aku banyak membaca blog dari teman chat di Belanda, QQ yang menceritakan “kebanyakan” keluh kesah kehidupan seorang Janda dengan 2 anak. Kadang aku ikut menangis membacanya. Kadang aku ikut membayangkan kehidupannya. Dan dari blog dia, aku juga melihat bahwa dia banyak “tamu”nya, yang juga memberikan komentar pada tulisannya. Yang hebat, dia menulis blognya dengan 4 bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Belanda dan Bahasa Ibu yaitu bahasa Batak. Satu kata untuk dia…Hebat!! Dia tidak mau menyerah pada kondisinya yang ditinggalkan suami. Dan dia mau belajar. Dia memakai blogger.

Nah, melihat dia, aku pun berpikir…. selama ini aku selalu ingin menulis, tapi… malasnya lebih besar daripada keinginan itu. Dan aku punya banyak ide atau bahan yang bisa aku tulis…asalkan ada stimulusnya. Dan kebetulan aku bertemu QQ, akhirnyapada hari libur Golden Week tahun 2005 itu, aku mulai menulis di Blogspot. Dengan nama 13 tahun. Padahal sebetulnya aku punya account blogger sudah lama, sejak 2003. Itu karena diajak teman meramaikan blog dia yang isinya puisi-puisi (terpakai hanya 2-3 kali saja).

Pertama aku pakai template yang ada. Boring…..lalu aku mencari template di Blogskin, ganti-ganti sendiri. Karena masih pakai html, masih bisa ngerti deh. Sengaja aku matikan fungsi komentar, karena aku merasa aku tidak perlu komentar orang pada setiap kegiatan yang aku lakukan. Aku juga terlalu malas untuk blogging dan meninggalkan komentar di blog orang lain. Aku juga malas membuat link tautan pada blog orang lain. Yang ada di pikiranku waktu itu hanya, Aku mau biasakan menulis setiap hari, atau paling tidak rutin.

Lama-kelamaan aku membuat beberapa halaman di blogspot juga dengan tujuan yang berbeda. Rick Days dengan isi laporan tentang perkembangan Riku dalam bahasa Jepang, dengan maksud bisa dibaca ibu Mertua. Healing Getaway, kumpulan foto dan joke/cerita yang lucu-lucu yang aku dapat dari email atau mailing list. Counting Our Blessing, kumpulan cerita rohani atau doa-doaku. IndoJapan, kumpulan artikel koran yang lucu atau bermanfaat untuk aku terjemahkan kalau ada waktu atau sebagai bahan penulisan. Lalu aku juga membuat kumpulan tulisan dari chat room Solitaire4ever.

Dari Blogger, mulai bosan, mulai membuat domain sendiri, yang dibuatkan teman, sehingga aku tinggal mengisi artikel saja….. Ini banyak terhenti, karena aku tidak tahu tulisan apa yang cocok ditampilkan. Sampai akhirnya aku ditawari tulis di WordPress, dan melihat WP seorang teman. Aku pikir…ayo buka saja yang baru, khusus cerita tentang Jepang. Seseragi. Baru kemudian setelah ngobrol dnegan teman, sampai pada kesimpulan untuk membuka WP di domain sendiri. Dan hasilnya ini.

Ternyata terbukti aku lebih senang dengan sistem blog. Meskipun aku tidak mengerti php, coba-coba plugin sudah membuatku senang. Dan aku juga butuh waktu mempelajari Feed/RSS, dan sampai hari ini aku bertemu teman di dunia maya yang webdesigner. Dari situ aku menyusuri dan menemukan MyBlogLog. Ohhh rupanya ini yang sering dipakai blogger Indonesia. Aku coba buat account, edit informasi ini itu….dan link sana link situ. Sampai aku tersentak sendiri…. Dengan memakai fungsi MBL ini, aku berarti membuka website aku pada umum. Suatu hal yang menakutkan….karena khawatir privasiku bisa terbaca. Well, aku tidak bisa retreat lagi sekarang, aku harus bisa hadapi dunia blog ini dengan segala konsekuensinya. Selama aku bisa memberikan informasi dan pengetahuan ditambah sedikit suka duka tinggal di Jepang, aku akan coba meneruskan kebiasaan menulisku. Apa salahnya? Keep going.

Bakso

24 Mar

Hari ini aku selesaikan editing terjemahan dan pergi ke kantor pos sekitar jam 2:30. Akhirnya selesai juga tuh proyek satu. Cuman kok duitnya jadi sedikit ya….??? Kerjaan aku yang masih nggantung tinggal rekaman videonya si Alex. Kapan ya tuh jadwalnya? Katanya perlu cepet, tapi kok masih undur-undur terus. Kalau arbaito-arbaito ini masuk, lumayan deh bisa nabung untuk beli tiket summer nanti.

Karena aku udah beli daging giling, harus cepat dibuat BAKSO dengan resep ala letty leksono. Kelihatannya gampang, dan waktu coba buat, not bad lah. Setelah itu aku upload foto-foto sambil santai dnegan Riku dan Kai. Untung mata aku yang kemarin gatal dan merah-merah, hari ini sudah sembuh. Entah apakah karena hari ini hujan, jadi pollennya sedikit….

Photobucket

Trip to Sendai

23 Mar

Sabtu 22 Maret pagi jam 5:45 (rencananya sih jam 4:00) berangkat dari rumah naik mobil, dan sekitar jam 10:30 sudah masuk ke kota Sendai. Tentu saja pakai acara istirahat di Parking Area/Service Area. Setelah menghubungi adik/adik ipar kami, kami sempat pergi ke bekas Istana Sendai. Kalau pernah tahu lagu KOJO NO TSUKI, ya asalnya dari sini.

Dari situ kita beli kembang lalu ke rumah adik. Hari ini adik ipar saya, Ryoko dibaptis di gereja Katedral Sendai. Sesudah acara gereja kita pergi makan bersama, dan tentu saja sambil minum Sake deh….

Keesokan harinya kita pergi ke gereja kecil tempat Ryoko biasanya pergi dan sesudah misa ada pesta kecil-kecilan. Kalau selamatan di Indonesia menyuguhkan nasi kuning, maka di Jepang disuguhkan nasi merah. Merah dan putih adalah warna khas upacara sehingga telur paskah pun berwarna merah (pink) putih. seusai acara di gereja, kami pergi jalan-jalan dengan tujuan makan (lagi) makanan khas Sendai yaitu Lidah Sapi.

Sekitar jam 3:30 sore kita meninggalkan kota Sendai untuk kembali ke Tokyo… macet… sehingga kita baru sampai rumah pukul 10 malam. Tired but we really had a precious Easter Day.

Bersih-bersih…siap-siap

21 Mar

Hari ini aku bebersih rumah, termasuk juga lemari es…. aku makanin sisa masakan yang ada, tapi baru sadar setelah jam 2 siang, bahwa semua yang aku makan itu mengandung daging…. wahhh. Padahal hari ini adalah hari Jumat Agung, yang semestinya pantang dan puasa. Yah apa boleh buat deh. Udah ngga ke gereja, makan daging lagi…. Plus lupa bahwa hari ini Riku ada sepak bola jam 10 pagi. Duuuh , mau alasan hujan tidak bisa, karena sudah dibilang biarpun hujan akan tetap dilaksanakan latihan di hall TK. Wahhh

Sedikit demi sedikit barang yang mau kita bawa ke Sendai, aku kumpuin dalam kardus. Selain itu aku lipat semua cucian yang sudah kering. Berapa hari ini cuaca kurang bagus, dan aku selalu gantung di dalam rumah karena biarpun terik, aku tidak mau kebut-kebut cucian untuk get rid of pollen. Bisa tambah sengsara hidung aku.

Sekitar jam 6 sore, aku mulai buat roti. Kali ini aku coba buat butter roll yang diisi dengan sosis/ ham. Jadi 12 biji. Lumayan enak kalau makan panas-panas. Siap-siapnya berlanjut smapai jam 1 pagi. Padahal renacananya Gen mau ambil mobil jam 4 pagi….

Photobucket

Enjoy shopping

18 Mar

Hari ini aku harus pergi ke Bank dan kelurahan untuk minta surat keterangan ID (semacam KTP) ceritanya mau nagih tunjangan dari kelurahan.Maunya keluar rumah jam 10-11 an eeeesi Kai bobo dari jam 11 sampai jam 2. Begitu dia bangun langsung dudukin dia di baby car, langsung naik mobil dan parkir dekat stasiun. Cepet-cepet ke Bank karena bank tutup trasnfernya jam 3 sore. Setelah selesai, ke kelurahan cabang …Lucunya yang tadinya namanya出張所 sekarang namanya事務所…moga-moga pelayanannya sama.

Di kantor kelurahan cabang itu lumayan nunggu lama, dan si Kai sempat nangis minta minum. Untung aku selalu bawa susunya. Selesai dari situ aku menepati janji pada Riku yaitu ke Mac Donald. Dia minta Happy set karena mau goods dari Naruto dan Sasuke. Kemudian ke Lantai dua….penuh…untung ada tempat di pojokan dekat mainan game yang Riku suka. Aku sudah bilang sama Riku bahwa kita tidak bisa lama-lama. Jadi sekitar jam 4:30 an kita keluar dari Mc D. Lalu aku tanya dia, mama mau beli buah, Riku mau ikut ya… Tumben dia mau. Dia bilang dia mau beli Anggur. Waaah mana ada anggur bulan segini. Akhirnya beli jeruk aja.

Sesudah itu kita pulang. Waktu mau turunin Kai, ternyata dia udah ketiduran. Kasian juga sih terpaksa aku pindahin dia ke Baby car, lalu bawa dia ke atas. Tangan kanan aku udah lumayan tidak begitu sakit lagi, karena aku kurangi gendong Kai, biarpun dekat aku selalu pakai Baby Car. repot tapi efeknya besar.

Sesampai di rumah sekitar jam 5, Antaran aquaclara datang, dan sesudah itu aku masukin surat ke kantor pos. Ngga tau kenapa tapi hari ini aku enjoy banget jalan sama anak-anak. Mungkin karena ngga merasa dikejar-kejar waktu, dan Riku juga mau aja diajak kemana-mana.

Oh ya ada beberapa perubahan di sekitar Stasiun aku. Lumayan lama juga tidak ke daerah stasiun. sekarang ada Mister Donut di bagian Utara Stasiun. Lalu beberapa toko yang aku sering lewati juga sudah berganti wajah. Misalnya dari toko benang, jadi toko baju wanita. Kadang aku merasa sedih dengan perubahan ini, karena aku tahu berarti tokoyang lama itu bangkrut dan terpaksa menutup tokonya. But thats life….

Photobucket

Karya Riku 陸の作品

18 Mar

Satu tahun berlalu sejak April 2007, saat Riku pertama kali masuk TK. TK di Jepang mulai umur 3 tahun (Nensho), tetapi Riku masuk pada umur 4 tahun (Nenchu). Perlu waktu yang cukup lama untuk dapat membiasakan diri hidup teratur, dan mau pergi ke TK. Apalagi sekitar bulan Juli dan Agustus saya melahirkan dan sibuk dengan bayi. Tapi perkembangan yang paling menyolok adalah bahwa dia sudah bebas mengekspresikan diri dalam bentuk gambar, origami, gunting, lego atau bahkan membuat kue. Satu tahun yang penuh kenangan di Baragumi (Kelas Mawar) harus diakhir tanggal 17 Maret 2008 yang lalu. Gurunya menangis waktu harus melepaskan anak-anak asuhannya. Ada satu teman yang harus pindah jauh. Sayang sekali saya tidak bawa kamera waktu upacara penutupan kemarin, padahal di sebelah tas ada 2 camera digital. Karena terburu-buru tidak terbawa. Mulai April nanti dia menjadi Nencho san, kelas terakhir di TK sekaligus persiapan masuk SD. Semoga dia dapat menikmati satu tahun mendatang.

Album ini berisi kumpulan foto karya Riku yang dijadikan satu jilid oleh gurunya. Masing-masing karya menggambarkan kehidupan di Jepang sesuai musim dan kegiatannya. Setelah jilid karya, saya masukkan juga karya Riku di rumah. Rumah tidak pernah bisa bersih karena pasti ada kertas gambar di mana-mana. Tapi saya tidak mau menghalangi kreatifitasnya, selagi dia mau berkembang.

rumah idaman

18 Mar

hmmm setiap orang punya keinginan…malah bahaya jika manusia sama sekali tidak punya keinginan. ibaratnya sudah tinggal menghitung hari. So? apa keinginan ku?

aku suka sekali design rumah ini, sederhana…lain dari pada yang lain di Jepang. Mungkin kalo di Indonesia biasa…. kapan bisa punya rumah seperti ini ya?

Photobucket