Selamat Ulang Tahun Pa!!! 70 tahun….. 七十歳お誕生日おめでとうございます. Niatnya papa dalam menghadapi ulang tahun istimewa ini sebetulnya adalah membuat buku tentang lingkungan dan atau pengalamannya selama ini, tapi karena sibuk meeting/rapat sana sini, dan mengurus cucu, belum sempat terealisasikan. Papa bilang; sejak pensiun dia jadi PENGACARA (Penganggur yang banyak acara). Saya tulis sedikit kenangan bersama Papa ya…. Mungkin banyak terms yang salah, but aku tulis saja dulu apa yang terlintas di pikiranku beberapa hari ini. (sudah dapat perbaikan langsung nih dari ybs hehehe)
Papa bekerja selama 35 tahun di Pertamina, dan setelah dipanggil Menteri KLH waktu itu Pak Emil pada tahun 1990, papa bekerja delapan tahun di Lingkungan Hidup (Bapedal) , menjadi Ketua IPLHI ( Ikatan Profesional Lingkungan Hidup Indonesia) dan terakhir menjadi Executive Director IMA ( Indonesian Mining Association). Sementara itu setelah menjadi Alumni KSA III Lemhanas, Papa aktif sebagai Anggota POKJA SKA LEMHANAS(Kelompok Kerja Sumber Kekayaan Alam di Lembaga Ketahanan Nasional) Karir pertama papa di mulai di kilang SHELL Indonesia di Plaju ,bidang Pengolahan (eh bener ngga ya pa?), tapi kemudian juga menangani Lingkungan hidup dalam Pertamina sendiri di BKLL( Badan koordinasi Lindungan Lingkungan). Jadi papa sering harus pergi ke tempat-tempat yang terjadi kecelakaan untuk memonitor penanganan pertolongan sesuai dengan penanganan ramah Lingkungan. Karena tugasnya ini pulalah, saya mengetahui tentang proses penanganan limbah minyak jika tertumpah di laut/perairan. Atau jika terjadi kebakaran di kilang minyak darat/lepas pantai. Saya juga masih ingat papa pernah mengisi rutin acara Dunia Minyak di TVRI. Saya yang masih kecil waktu itu duduk dengan manis di depan televisi, seakan-akan mendengarkan kuliah papa, mengisap memori gambar-gambar kilang eksplorasi dsb, padahal saya tidak mengerti apa-apa.
Papa memang guruku. Atau mungkin hanya saya yang mau mendengarkan kuliah ‘gratis’ papa dengan seksama dan alim, seakan-akan saya mengerti. Yang paling senang adalah menyambut papa pulang dari tugas di luar negeri, mendapatkan oleh-oleh (dasar anak-anak selalu minta oleh-oleh), dan kemudian makan bersama di meja makan sambil mendengarkan cerita papa mengenai perjalanannya waktu itu. Sejak 1970 Papa memang sering ditugaskan ke luar negeri untuk Seminar,Conference ,Workshop dan Rapat Dinas dengan partner Pertamina. Setelah menjadi eselon I di pemerintah, Papa mendampingi Menteri Lengkungan Hidup di UNCSD (United Nations Council for Sustainable Development) di New York dan di Governing Council UNEP (United Nations Environment Program) di Nairobi (Kenya). Pengalaman yang sangat bersejarah baginya adalah ikut safari di malam hari di hutan Kenya. Dia sangat terkesan dengan melihat seekor Leopard yang besar berjalan dekat pohon dimana Papa berlindung. Leopard tersebut kelihatan sangat megah didalam kerajaannya waktu malam hari. Papa juga sering mewakili instansinya di forum-forum luar negeri, bahkan sering memimpin delegasi Republik Indonesia ke Forum internasional seperti ASEAN Marine Pollution Experts Group , ASEAN sub regional group meeting, atau memimpin delegasi ahli standardisasi ke ISO TC 207 yang membahas standard ISO 14000 di Oslo (Norwegia) 1995, Rio de Janeiro (Brasil) 1996, Kobe (Japan) 1997. Bagaimana jalannya konferensi, Papa harus memimpin/ menjadi moderator simposium, atau papa bertemu dengan orang-orang terkenal si ini, si itu (Baca juga “ketik cepat=baca cepat”). Papa sudah mengunjungi kota-kota yang penting di pantai Timur,pantai Barat dan Mid west Amerika Serikat Demikian juga dengan pantai Timur dan pantai Barat Canada serta daerah sekitar Niagara dan Ontario.Kecuali Burma/Myanmar dan Laos,Semua negara ASEAN sudah dikunjungi. Praktis semua kota besar di Australia seperti Brisbane,Sydney,Melbourne,Perth,Fremantle dan Canbera sudah dikunjungi. Dalam banyak kunjungan tersebut Mama diajak ikut,tentunya ticket Mama bayar sendiri tapi hotel dan transport boleh ikut Papa. Jadi Mama juga banyak melihat dunia (dan sering berjalan sendiri loh). Banyak negara telah papa kunjungi , dan setiap pulang dari negara itu, saya menemukan waktu berharga yang hilang karena sibuknya papa berkeliling dunia dan menjalankan tugas sehari-hari. The important thing is the quality not the quantity of being together. Saat itu saya banyak bisa mendapatkan pengalaman-pengalamannya berinteraksi dengan orang-orang asing. Tidak jarang juga diselipkan humor-humor yang di dapat saat itu. Saking serunya papa bercerita kadang dia tidak menyadari bahwa yang mendengar omongannya waktu itu tinggal saya (do you remember those old day pa?).
Yang pasti sebelum saya berangkat ke Jepang papa selalu mengingatkan saya untuk berpikir berjenjang. “Imelda, kamu sering menganggap orang lain sudah tahu sehingga melompati urutan pemikiran. Dengan orang Jepang kamu tidak bisa begitu. Jangan dari A, B, lalu kamu lompat ke M, P dst. Orang Jepang tetap harus melampaui jenjang A, B, C, D….. dst. Sistematis. Jangan dilompati!! Ingat itu”. Dan berkat peringatan itu, saya berhasil mengubah kebiasaan saya yang melompati sesuatu, sehingga bisa bekerja/menjelaskan secara berurut… sistematis. Memang benar harus seperti itu karena orang Jepang kadang terlalu berpatokan pada Buku Manual. (Dan saya tidak pernah membuka buku manual jika harus set up komputer or elektroniks lainnya….sangat kontradiksi)
Cerita yang kadang membuat saya sedih, atau saya tahu papa juga sedih, adalah cerita jika orang-orang asing itu menanyakan papa lulusan universitas mana. UCLA? Barclay? Oxford?… then papa harus menjawab…. no I did’nt go to universities, I have no graduate tittle. Sampai lama-lama papa hanya menjawab ” Yes, I like fox”, then semua pikir papa lulusan dari Universitas yang berlambang fox (saya lupa universitas apa yang disebutkan). Papa berkata, yang penting saya tidak berbohong. Saya hanya mengatakan I like fox, not I went there. Menjadi sarjana adalah obsesi papa yang tidak bisa terpenuhi sampai saat ini. Karena itu papa selalu mengatakan kepada kami anak-anaknya untuk mengejar ilmu setinggi mungkin. Papa otodidak sehingga mendapat post-post tugas yang penting-penting itu tanpa gelar sarjana dengan kekuatan bisa berbahasa Inggris. Mana ada sih Eselon satu yang tidak bergelar sekarang? Sering dia memuat pidato atasan dalam bahasa Inggris, papers dalam bahasa Inggris dan mengisi majalah Science dan majalah lingkungan lain yang berbasis di luar negeri.Saya dengar dari Tina, bahwa papa melarangnya untuk belajar bahasa Perancis jika belum menguasai bahasa Inggris… Tapi itu jaman nya, jaman dulu, karena jaman sekarang tidak bisa tanpa gelar kesarjanaan seberapapun pintarnya engkau dan seberapa kuatnyapun engkau berusaha. Karena dorongan dan dukungan papa itu maka kami ke tiga anak perempuannya bisa mendapatkan gelar minimal Master. Saya master pendidikan ( dari Yokohama National University, Jepang), Novita Doktor (PhD) in Microbiology (Melbourne University, Australia) dan Tina Master Arsitek (Yokohama National University, Jepang). Kecuali Tina, semua dengan beasiswa dari negara ybs. Sedangkan papa tetap harus puas dengan sebutan “Sdr” di depan namanya dan menghibur diri dengan mengatakan my title is “Senior Doctor abv Sdr“. I still remember how proud he was when he attended my graduation day from University of Indonesia. But you have to know papa…. You are our Proffessor in many aspects especially for me. I am proud of you. I want to write more about you someday. But for today… Happy Birthday, my dearest Papa from your eldest daughter.
Pagi hari ini sebelum keluar rumah, Riku minta dibelikan nendo (malam/lilin). Tapi sebelumnya dia memang minta ikut. Dengan macam cara aku bujuk dia, dan berjanji akan membelikan nendo, dan besok akan pergi ke Game Center. Kemarin malam juga sebetulnya dia manja sekali padaku, dia minta Tina untuk telepon aku yang sedang dinner dengan temen-temen almamater.
“Mama pulang jam berapa?”
“Mama sudah selesai makan sayang, sebentar lagi naik mobil dan 30 menit lagi akan sampai rumah”
“Wakatta. Aku kangen mama”
“Mama juga kangen Riku, tapi mama ada teman yang datang dari jauh, jadi mama temani makan”
“Cepat pulang ya”
“Iya sayang”
Sambil nunggu Ira dan Nana ngebul dulu, aku beli majalah yang kira-kira bisa Riku baca. Duh aku jadi kangen sekali sama dia. Setibanya di rumah dia langsung peluk aku, dan bilang kangen…. Dan tercetus di mulut dia, “Aku kangen papa, aku mau pulang”…. hhhhhhh. Langsung call Tokyo, dan biarkan dia cerita-cerita pada papanya. Kejadian yang sama dengan 2 minggu pertama waktu dia ke Jakarta 2 tahun yang lalu. Selama seminggu di sini, boleh dikatakan dia enjoy but….semua percakapan dalam bahasa Indonesia. Dan itu mungkin yang membuat dia tertekan tidak bisa pakai bahasa Jepangnya. Dan dia selalu jadi nomor dua, karena aku selalu menomorsatukan Kai selama ini. Kira-kira 10 menit dia bercerita di telepon pada papanya dengan gaya orang dewasa. Kita berdua kaget dengan perubahan gaya bahasanya.
So, memenuhi janji saya pada Riku, aku beli nendo sebelum menuju The Cafe Hotel Mulias bersama Lala. But selagi makan dering HP dari Chris, adik iparku (yang sebetulnya lebih tua 2 hari dari aku) menyuruh aku telpon rumah. Riku demam tinggi. OMG…. Untung deh tinggal dessert yang harus kita habiskan (duh bener kemaruk euy…meskipun merasa rugi juga karena hari ini nafsu makanku kurang, but not Lala’s hehehe) Kami berdua langsung naik Silver Bird (gaya kali….) pulang ke rumah. Dan aku ngga bisa nahan airmata liat my boy yang biasanya ceria tergeletak tidur menggigil akibat demam. Maafkan mama sayang…. sejak kemarin malam kamu bilang Kangen mama, kangen, kangen, kangen, kangen, kangen …….tapi mama tidak memanjakan kamu. Cepet sembuh ya sayang…. besok mungkin tidak bisa bermain di Game Center, tapi begitu kamu sembuh, kita berdua saja akan pergi main seharian ya. Please….cepet sembuh sayang. Please God help him.
Dan aku menganggap aku beruntung karena Riku sakitnya di Jakarta (meskipun aku bukan Jawa masih menganggap apapun harus dilihat dari segi positifnya). Coba kalo dia sakit seperti ini di Tokyo, sedangkan Kai juga maunya aku gendong terus, I could not handle them alone. Di sini Kai bisa dipegang oleh Tina, Mama, Novi, or the other three asisten (pinjem istilahnya mas trainer). And aku bisa konsentrasi menjaga Riku (diselingi posting sambil nonton “Vanished” ….serem). Untung!!!
Sambil gendong Kai, aku buka kumpulan foto-foto hari ini, dan Kai yang biasanya tersenyum liat foto dia…kali ini menangis dan tidak mengenali foto dia sendiri. Bagaimana tidak, …… Di layar monitor yang terpajang adalah seorang IKKYU SAN bermata belo. He should be my avatar from today Tsuru-tsuru…. KAMI ga NAI!!!!

Riku sakit seperti aku, tidak mengeluh, hanya tidur dan…mengigau. Tiba-tiba bisa berkata/bercerita ini itu, yang tidak nyambung sehingga membuat heran yang mendengar.
.
yang terkenal memang adalah sebutan salah satu konstruksi khas ciptaan orang Indonesia. Tapi tentunya Anda juga tahu bahwa ceker ayam yang sesungguhnya adalah kaki ramping (pasti ngga ada dong ceker yang “daikon” alias gendut) penyangga tubuhnya ayam yang mungkin kelak akan menjadi santapan di meja makan. Banyak mengandung gelatin, dan sering dipakai sebagai pembuat kaldu. Kalau lagi miskin, Sup ayam bisa berubah menjadi Sup Ceker. Karena membeli satu kg ceker tentunya jauuuuuh lebih murah daripada membeli satu kilogram ayam.
Selain sup ada masakan chinese yang menyajikan ceker ini dengan bumbu pedas. Saya tidak mengerti namanya mungkin Shechuan style, yang pasti rasanya enak! Dulu waktu papa masih di London, kami sering menerima kiriman “dim sum” ceker ini satu loyang penuh dari Ibu Husein. Yummy. Namun tidak semua orang bisa tahan melihat “bentuk”nya sehingga merasa jijik untuk membawanya masuk dalam mulut. Kebanyakan orang Jepang memang tidak bisa makan segala “isi perut” dan ceker, bahkan melihat satu ayam utuhpun mereka tidak bisa. Kimchiii my japanese sister, smepat kaget waktu melihat satu ayam utuh di Ayam Suharti….tapi setelah melewati masa “shock”nya, saya rasa dia sekarang sedang ngiler membayangkan Ayam Suharti (nanti saya makankan untuk kamu ya kim).
Nah, beberapa kali Riku ikut pergi makan Dimsum di restoran depan Bulungan. Dan saya perkenalkan dia dengan jenis masakan yang satu ini, sambil berkata” Kalau tidak suka, jangan dimakan. Agak pedes loh!!”
But, Riku bilang,”Ini enakkkkkkk!!!”, dan setelah itu bilang “Mama, besok kita ke toko ini lagi ya”.
Dan setelah itu dia dua kali ke restoran ini tanpa saya, dan dia selalu minta “tori no ashi (kakinya ayam)”. Repotnya kalo dia minta dimasakin itu nanti sesudah pulang ke Tokyo. Karena, ceker ayam tidak dijual di toko/supermarket biasa. Harus pergi ke tempat ethnic food, yang jauh dari rumah kami. Jadi….puas-puasin makan di sini ya Riku!!!

Kalau di Jepang, hanya pada hari Minggu Riku bisa berjalan-jalan di luar. Hanya untuk berjalan ke dry cleaning dengan bapaknya, lalu mampir ke taman-taman yang banyak tersebar di dekat rumah kami. Atau kadang-kadang drive sampai suatu tempat dan jalan-jalan. Tidak pernah ada kebiasaan jalan pagi. Tentu saja itu juga karena setiap hari sibuk dengan pergi ke TK dsb. Tapi meskipun sedang libur pun, tidak bisa pada hari biasa. Karena saya tidak bisa menemaninya. Begitu keluar apartemen kami, langsung jalan sedang sehingga benar-benar berbahaya jika anak-anak keluar sendiri.

Selama liburan di Jakarta setiap hari Riku jalan pagi dengan Opanya. Kadang ditemani Kei-chan anaknya Novi. Dua hari yang lalu, karena Kai juga sudah bangun pagi, kami semua berjalan pagi di depan rumah. Hmmm andaikan suasana hijau di depan rumah saya ini ada di Jepang juga. Mungkin memang saya harus pindah dari apartemen yang sekarang. Dan mencari perumahan yang masih terletak di bagian dalam wilayah saya. Saya tidak mau pindah dari Nerima-ku. Karena wilayah ini amat sangat memperhatikan kesejahteraan dan pendidikan bagi anak-anak. Setiap bulan ada tunjangan dari pemerintah daerah sebesar kurang lebih 5000 yen (400.000 rupiah) per anak. Belum lagi tunjangan kesehatan gratis sampai dnegan anak itu berusia SMP. Lingkungannya juga masih asri, dengan ladang-ladang sayur di sekitar kami. Desa dalam kota, demikian kami menyebutkan wilayah ini. Nerima-ku terkenal sebagai penghasil Daikon (lobak).

(Di dalam taman pembatas ada ayunan dan sedikit tempat bermain minimum. Masih jauh dari cukup, tapi daripada tidak ada…. Dulu waktu saya kecil, sama sekali tidak ada ayunan atau space bermain seperti ini.)

(riku di depan mobil pulisi endonesah hehehe….–kanan adalah foto kolam ikan yang kering sejak maraknya demam berdarah dan setelah gempa meretakkan dasarnya (ingat postingnya Mas trainer yang mana yah….) )

(Dengan 5 cucu nya Opa…rumah kami penuh dengan mainan, teriakan anak-anak dan kadang tangisan manja atau berkelahi…heboh deh pokoknya. Karena itu kami menamakan rumah kami TK mtb. )
Di Jepang ada istilah ini….果物の王様 Kudamono no Ousama. Rajanya buah-buahan. Dan itu adalah Durian. Mungkin sedikit orang Indonesia tahu istilah ini, tapi jika Anda berada di Jepang, pasti akan mendengar istilah ini. Kenapa Durian dianggap Rajanya buah-buahan. Katanya sih karena RASA Manis nya yang kuat, Tapi karena baunya yang menyengat banyak orang Jepang tidak bisa membawa buah ini ke dalam mulutnya. Suami saya tidak bisa, dan ternyata Riku juga tidak bisa. Saya sendiri sudah menjadi alergi pada Durian, gatal hebat di leher bagian dalam jika memakannya. Tapi…ibu mertua saya suka sekali. Dan satu peringatan (pemerintah) yaitu jangan makan durian jika sedang minum alkohol, karena bisa menyebabkan kematian. Dan ini bukan tabu saja, mungkin (hipotesa saya) kadar gula yang ada dalam tubuh bisa naik tiba-tiba….

(pertamanya sih semangat…di foto terakhir mulai terlihat dia tahan-tahan tuh untuk keluarin heheheh)
Saya tidak tahu siapa yang pertama kali memastikan bahwa Durian adalah Rajanya buah-buahan, dan Manggis sebagai Ratunya. Tentu bagi setiap orang, anggapan Raja dan Ratu buah-buahan untuk dirinya akan berbeda. Bagaimana dengan Anda? Kalau saya…. Semangka (makanya bisa jadi induk semang heheheh) dan Longan atau Pear Korea. FYI, saya alergi buah rambutan, manggis dan durian. (Dulu sempat alergi kismis, tapi sekarang sudah tidak apa-apa)
Beginilah kalau hidup sudah cukup lama di dunia. Pasti ada barang-barang atau merek-merek yang menyimpan kenangan masa kecil. Dalam liburan saya kali inipun, saya banyak menemukan barang-barang yang mempunyai arti atau kenangan tersendiri. Memang akhirnya pasti dibilang “imelda pasti buntutnya makanan”, mungkin ya, tapi tentu saja ada yang lain dong.
Nah kali ini saya mau tulis tentang dua snack, satu dari Belanda dan satu dari Indonesia.

Permen Hitam ini dari dulu selalu ada di rumah saya. Biasanya Oleh-oleh dari Belanda, dengan variasi bentuk dan sedikit variasi rasa garam/warna. Namanya DROP tapi saya heran juga, kok bisa-bisanya orang Belanda suka dengan rasa yang lumyan aneh begini. Mungkin untuk membayangkannya, Anda tentu tahu OBH (Obat Batuk Hitam)…nah rasa itu dipadatkan menjadi sebuah permen gummy. Dan waktu saya tanyakan pada ibu saya, ternyata memang permen ini punya fungsi sebagai pastiller, pengurang batuk. Meskipun rasanya aneh, kalau sudah lama tidak lihat dan tiba-tiba muncul di hadapan Anda, mungkin tak terasa tangan ini akan meraih dan memasukkan satu butir permen ini dalam mulut Anda. Dan saat itu saya teringat masa-masa kecil, kala papa membawa oleh-oleh drop, coklat verkade dan marsepein (marzipan) . Hmmm lekker.
Tidak kalah dengan oleh-oleh dari luar negeri, oleh-oleh ini juga nikmat loh. Brem cap suling. Ditulisnya sih produksi Boyolali…. tapi saya lupa papa dulu suka bawa dari mana. Mungkin oleh-oleh dari Yogya ya? Sama dengan brem putih berbentuk bulat pipih (kalau kami bilang seperti “hosti”), brem ini sering jadi penganan kecil di sore hari. Rasanya masih sama seperti dulu, tapi…..kok semakin tipis ya? Volumenya berkurang, mungkin untuk menjaga harga yang sama. Taktik perdagangan….tapi biasanya tidak begitu ketara. Mungkin karena memang sudah lama tidak lihat, perubahan itu sangat terlihat di mata saya kali ini. Tipis bo… Dan saya juga jadi teringat, sebelum pulang, saya dapat oleh-oleh Beng-Beng dari adik saya Mariko-san. Saat itu dia bilang “Mbak pasti akan kaget deh, lihat deh ukurannya”…Hmm benar juga bentuknya sih sama tapi tipis dan kecil. Benar-benar menciut deh. Untung saja rasanya tidak menciut sehingga saya masih suka.
Sebuah kalimat terakhir yang masih aku hafal “Terima kasih atas pilihan Anda terbang bersama Japan Airline”. Serentetan salam dan pengumuman yang harus aku bacakan dan direkam dan sudah diputar bertahun-tahun. Aku sendiri tidak berharap untuk bisa mendengarnya kali ini, tapi ternyata masih juga diputar meski dengan volume yang lirih sekali. Sambil aku kasih tahu Riku, “Itu suara mama loh”. Ternyata masih dipakai.
Jam 5:45 pagi Gen jemput Tina dan Koko untuk kemudian langsung ke Narita, sedangkan aku dan anak-anak naik mobilnya mertua langsung ke Narita juga. Untung aku hanya membawa satu koper kecil, karena dua koper yang besar sudah menunggu di Narita (bahkan mungkin di pesawat) dan tinggal kita ambil di Cengkareng Tebura puran (hands free plan), layanan dari ABC+JAL. Proses check in lancar, meskipun aku lihat ada antrian panjang di beberapa counter JAL. Bandara saat itu boleh dikatakan sepiii sekali. Mengherankan juga. Apa akibat kenaikan harga avtur (bensin pesawat) menjadikan orang-orang Jepang memilih untuk berlibur di daerah yang dekat-dekat saja. Or ini juga menandakan resesi juga sedang terjadi di Jepang. Entahlah aku bukan ahli ekonomi, dan tidak pernah berminat memperdalam ekonomi. Mungkin kalau mau belajar lagi aku lebih memilih Hukum daripada bidang ilmu lainnya. Wahhh kok melantur sampai hukum ya? Pesawat JAL yang kami tumpangi ini juga tidak penuh, tidak sampai separuhnya.

KKami menempati tempat duduk pertama setelah Bussiness Class, sebelah kiri dan ada bashinet, baby bed nya untuk Kai. Aku pesan child meal and baby meal. Yang mengherankan, makanan child mealnya lebih enak dan lebih cool dari yang untuk dewasa. Pudingnya puding caramel sedangkan di meal dewasa puding manggo. Saladnya Fruit Cocktail…. Duuh kan aku suka puding caramel…akhirnya tukeran deh sama Riku. Aku sambil suapin Riku karena Kai bobo, dan Riku kalau sambil menonton pasti tidak akan makan. Dia lebih pilih nonton daripada makan. Riku enjoy banget karena setiap tempat duduk ada video/game nya. Dia main terus, juga nonton Disney Channel.

Ada satu kejadian dengan Riku sehubungan dengan WC. Waktu pertama kali ke WC, dia pergi ke WC bersama aku. Kedua kalinya dia pergi sendiri dan berhasil. Good. Kemudian yang ketiga kalinya, di minta pergi sendiri lagi dan aku sedang kasih makan Kai yang sudah terbangun dari tidurnya. Sayup-sayup aku dengar suara teriakan anak-anak dua kali. Anak siapa tuh? pikirku. Ehhh tau-taunya Riku muncul dan dia bilang
“Mama tadi aku pergi ke WC yang lain, trus….. aku …. ngga bisa buka……(dia mulai nangis)… aku teriak dan pramugarinya buka…..”
Aduuuh anakku….
“OOOhhh pantesan tadi mama dengar anak teriak, itu Riku ya?”
Aku peluk dia dengan sebelah tangan. Dan aku bilang,
“Riku pintar deh….Riku kan teriak jadi orang orang bisa tau dan bisa bukakan pintu untuk Riku. Memang harus begitu. Bagus Riku. Nanti kalau mau ke WC lagi, nanti Riku liat deh ada tombol yang bergambar orang dan berwarna oranye. Tekan itu saja, nanti pasti ada orang yang tolong. Tapi teriak itu sudah bagus.”
Aku takut dia trauma dan tahan pipisnya tidak mau ke WC bisa berabe. Jadi waktu dia mau ke WC lagi aku antar dia dan kasih tunjuk tombol yang aku maksudkan. Sesudah itu dia bisa pergi sendiri lagi.
Terkunci di WC, suatu kondisi yang pasti tidak mau kita alami. Tapi aku ingat Mama pernah mengalaminya di bandara Yogyakarta. Sampai terpaksa petugas naik dari atas dan masuk ke dalam bilik, untuk membuka pintu dari dalam. Untung masih sempat naik pesawat. Aku sendiri belum pernah mengalami, tapi mungkin karena dulu ikut pramuka, aku selalu memeriksa kondisi wc/kamar yang aku masuki untuk mengantisipasi kemungkinan terkunci dsb. Prepared, tapi melelahkan karena syarafnya tegang terus deh. Kadang tidak enak juga menjadi orang yang “selalu siap”
Tujuh jam perjalanan memang melelahkan. Untuk sendiri saja capek, apalagi jika membawa bayi/anak balita. Belum lagi kalau nangis terus. Untung aku bisa konsentrasi ke Kai saja, karena Riku bisa main video game sendiri. Tapi waktu landing, Riku sempat muntah, dan aku dengan satu tangan harus cari kantong plastik, dan akhirnya pakai selimut untuk bantu Riku. Rasanya ingin punya 10 tangan supaya bisa melakukan semuanya sekaligus. Ini aku sudah terlatih deh untuk melakukan dua pekerjaan yang berbeda dengan satu tangan. Sulit memang menjadi seorang ibu. Untuk urusan barang kali ini tidak menjadi masalah karena Tina bantu aku untuk angkat barang. Tapi kalau misalnya tidak ada Tina? duhhh bagaimana nanti pulangnya ya? Que sera-sera deh.
Akhirnya setelah 7 setengah jam, kita landing dengan selamat di bandara Soekarno Hatta. Satu hal yang membuat aku senang dengan bandara Indonesia adalah dengan adanya sistem porter. Kalau di Jepang tidak ada sistem porter. Semua orang harus bertanggung jawab mengangkat kopernya sendiri dari luggage belt ke trolley. Dan aku harus mengalami mengangkat koper sendiri dalam keadaan hamil dan waktu menggendong bayi. Tidak ada orang Jepang yang membantu. This is what I called DINGIN. Nobody cares. Kalau ada porter, biarpun mahal aku akan bayar. Tapi tidak ada. Di sini bisa dirasakan bahwa uang tidaklah menyelesaikan segalanya (eh bisa deng kalau saya bayarin tiket seseorang khusus untuk angkat-angkat koper…ayo siapa mau? tapi duitnya ngga ada tuh).
Setelah bertemu orangtua, Chris dan Andy, kita muat koper di dua mobil dan go home deh. Satu hal yang membuat aku sedih juga waktu melewati bundaran Senayan, yaitu berubahnya pemandangan akibat adanya Senayan City. Where is my old town?

(lucu deh si riku dan kai lagi bobo….ada suatu saat riku sebelah dalam dan Kai sebelah luar, sesudah 2-3 jam kedudukan berubah….kok bisa?)
Sebetulnya kami (or saya) berencana untuk menginap di yokohama 2 malam sebelum hari keberangkatan tgl 21 Juli lalu. Tapi karena Gen sakit kepala, jadi kami batalkan saja, karena toh masih ada hari. Cuma aku jadi repot pikirin masak makan malam apa. Berhubung hampir seluruh isi lemari es sudah aku buang siangnya. So, tidak boleh masak sesuatu yang nyisa. Satu-satunya solusi adalah spaghetti.
Tapi berkat penundaan keberangkatan ke Yokohama (rumah mertua) ini, saya bisa melanjutkan membersihkan rumah yang rasanya tidak habis-habisnya itu. Masih sempat kosek kamar mandi, cuci pakaian kotor terakhir, dan scan foto-foto Riku dan Kai. Sehingga Minggu pagi sekitar jam 9 kami bisa meninggalkan rumah dalam keadaan bersih. Saya selalu berusaha membersihkan rumah sebelum berangkat bepergian jauh. Pemikiran ini saya dapatkan dari mantan induk semang, Mrs K, yang selalu membersihkan sesuatu jika akan pergi ke LN. Dia bilang, “Supaya jika kita harus mati, tidak merepotkan pihak keluarga/teman yang ditinggalkan, karena semua sudah bersih, dan kita tidak malu (meskipun kalau sudah mati tidak punya perasaan malu lagi sih…)”. Karena itu biasanya tanda-tanda orang yang akan meninggal, adalah kebiasaan mendadak untuk membersihkan sekitarnya. Pikir punya pikir pandangan ini memang baguslah. Saya juga rasanya tidak mau jika nanti orang yang membereskan barang-barang saya untuk terakhir kalinya ngomel ngga keruan. (wahhhh gile… si imelda punya ini itu —buku atau video bokep misalnya—, diiih ada permen yang udah meleleh dalam tasnya…jorok banget sih dsb dsb… apalagi kalau ketemu bukti-bukti selingkuh hahaha, oooiii canda loh ini semua!!!). Wahh sambil menulis kalimat terakhir aku jadi ingat cerita The Bridges of Madison County ). Ahhh, Indah sekali percintaan mereka.

Kita berangkat dari rumah jam 9 pagi, dan begitu sampai di yokohama, kita pergi nyekar ke makam Nenek yang meninggal 3 tahun yang lalu. Sebetulnya ada peringatan 3 tahun meninggalnya, tapi karena dianggap kita sibuk, yang hadir hanya anak-anaknya saja…means bapak-ibu Gen dan Om-tantenya Gen, dan itu dilaksanakan tgl 7 Juli (hari biasa) yang lalu.

(Jonny Walker blue label —— Kai pegang botol sake kosong di dapur….oioi…masih 19 tahun lagi baru kamu bisa minum itu loh)
Dari makam kita pulang ke rumah, dan start to drink (gawat deh dari siang udah nomikai). Papanya Gen kasih lihat minuman Jonny Walker blue label. Yang aku tahu biasanya Jonny Walker hanya black dan red. Take a sip and….sorry aku memang ngga bisa minum whisky dan yang sejenis. Sambil makan dan minum ngegossip, sampai akhirnya papanya Gen dan Gen teler, tidur siang. So Lady’s talk start. Ibunya kasih rasa Mango Liquier. Biasanya aku ngga suka karena manis, but for a change lumayan. Dan kita berdua juga habisin satu botol white wine yang khusus, karena warnanya keruh, manis. Ibunya mulai teler, but aku belum. Satu-satunya selain anak-anak yang masih sadar, dan masih sempat beresin meja makan dan cuci piring. It was good. Sudah lama kami tidak bertemu dalam suasana santai (dan mabok) sehingga bisa bercerita tentang masalah-masalah keluarga tanpa malu-malu. I really love my japanese parents. And thank God that He gave me a really understandable in laws. Kalau dengar cerita-cerita dari pasangan campuran lain, biasanya memang masalah datang dari pihak keluarga, pihak orang tua yang berpikiran kolot. Aku memang sudah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan-kemungkinan itu. But sampai saat ini aku tidak pernah mendapatkan masalah dari mereka.

Sisa hari Minggu dilewati dengan santai dan malam ditutup lebih cepat dari biasanya, karena kita harus bangun jam 5 pagi keesokan harinya. Tapi sebelum tidur, Gen ambil diapers dulu di mobil dan jalan-jalan sama riku melewati dinas pemadam kebakaran. Waktu riku lihat-lihat mobil pemadam yang ada, dia disapa oleh petugas nya dan ditanya, apakah mau naik…wahhhh riku senang sekali bisa pegang dan naik ke mobil pemadam. Papanya sampai iri karena sewaktu kecil, dia dan adiknya belum pernah sekalipun bisa mendapatkan pengalaman ini. dan oleh si petugas, Riku diberikan gambar tempel dan notes dengan gambar dinas pemadam kebakaran. Wah Riku senang sekali karena bisa pamer dengan teman-temannya di sekolah. Sayangnya Gen tidak bawa kamera maupun HP sehingga tidak bisa mengabadikan peristiwa yang langka ini.
Nomor satu adalah LEMBAB (mushi atsui), duuuuh dehhhh lembabnya bisa sampai 90% kali. Seminggu terakhir ini puncak suhu udara terpanas HANYA 34 derajat, di Nerima. Mungkin daerah saya ini aneh ya, kalau di pusat kota cuma 30 derajat maka di tempat saya bisa 32 derajat. Tapi, kalau musim dingin, di pusat kota 10 derajat maka di tempat saya 8 derajat. Kalau bersalju…. tempat saya ini juga paling lambat mencairnya.
Nomor dua menurut saya adalah SUIKA, atau semangka. Karena suika ini merupakan buah kesayangan saya dan Riku (juga ibu mertua) jadi begitu ada suika dijual di toko langsung beli. Dulu pertama kali makan suika di Jepang, saya merasa bahwa suika di Indonesia lebih manis dan lebih enak, apalagi tidak ada bijinya. Tapi kenapa akhir-akhir ini berbalik ya? Ada juga yang bilang sih bahwa kalau makan suika supaya manis, ditaburi sedikit garam…. Hmmm. Dan Suika ini kan bagian yang termanis adalah yang paling tengah. Coba deh lihat hasil karya Riku…. Bagian tengahnya dimakan duluan, dan yang lain ditinggal. Huh. memang paling praktis disajikan setelah dipotong kotak-kotak, tapi makan suika yang dipotong seperti bulan sabit ini memang asyik….

(semangka hasil gigitan Riku - Kai makan semangka dan jagung)
Nomor Tiga adalah JAGUNG (tomorokoshi), saudara-saudara. Jagung hanya diproduksi waktu musim panas, sehingga waktu musim panas harganya murah. Meskipun masih mahal menurut saya… 1 jagung seharga 200 yen (16.000 rupiah). Jagung di sini biasanya hanya direbus, sehingga saya kangen sekali makan jagung bakar yang biasa dijual di emperan jalan menuju puncak. Hmmm mau cari jagung bakar ah kalau nanti sempat pergi ke Taman Safari.
Berhubung ada yang bilang bahwa postingan saya selalu ujung-ujungnya makan…maka selanjutnya saya mau menulis ranking selanjutnya yang tidak berhubungan dengan makanan. heheheh. Ranking ke empat adalah HANABI (firework festival) dan jika menonton hanabi ini, paling asyik kalau pakai yukata (saya sudah pernah post ya). Hanabi di musim panas biasanya dimulai pada Hari Laut tahun tersebut. Tahun ini Hari Laut jatuh pada tanggal 21 Juli. Di berbagai tempat diadakan festival kembang api ini. Dan karena Hari Laut adalah peringatan pembukaan pelabuhan Yokohama, maka tentu saja paling afdol kalau menonton festival ini di Yokohama, tepatnya di perairan depan Yamashita Koen. Saya sendiri belum pernah menonton Hanabi yang di Yamashita Koen. Tempat yang pernah saya kunjungi waktu berhanabi adalah Sumidawaga Festival, yang terbanyak jumlah kembang apinya. Saya pergi ke festival ini di awal tahun kedatangan saya ke Jepang, bersama teman-teman dari Ajiken (Asia Keizai Kenkyuujo) yang saya anggap sebagai sempai saya yaitu Matsui san, Dobeta san, Kyou-san. Pengalaman ini tidak pernah saya lupakan karena pertama kali saya lihat begitu banyak orang meluap di jalan-jalan, sampai-sampai polisi harus mengatur arus pengunjung dengan menghentikan arus manusia ini setiap beberapa menit. Terus terang saja, saya takut dengan keadaan seperti itu. Untung di Jepang, warganya patuh-patuh coba kalau di negara saya tercinta, mungkin sudah timbul korban terinjak-injak berapa ratus orang.
Selain hanabi di Sumidagawa, menonton hanabi di Kamakura (Enoshima) juga bagus, karena kita melihat seakan-akan hanabi itu muncul dari permukaan laut bagaikan air mancur (bayangin deh logonya jamu air mancur). Indah!!. Waktu pergi Hanabi ke Futakotamagawa, saya bisa menikmati hanabi dari bantaran sungai dengan melihat ke arah kanan dan kiri. Hanabi di Disneyland jangan ditanya deh…. dengan latar belakang cinderella castle …duh serasa di dunia impian. Hanabi yang lain kecil-kecil skalanya, dan tersebar hampir di semua daerah di Jepang. Mungkin hanabi bagi saya yang terjauh adalah di Hachinohe (Aomori ken) utara Jepang, waktu mengadakan perjalanan menonton Neputa dan Nebuta Matsuri. Tapi pergi hanabi begini kecuali waktu di Chiba Port Tower, saya tidak mau pakai yukata. Karena ribet deh…panas… Lagipula sudah tidak muda lagi untuk menarik perhatian lawan jenis hihihi. Lewat 5 tahun di Jepang sudah malas untuk pergi berdesak-desakan dalam udara panas. Lebih baik menonton televisi dalam ruangan yang sejuk (memang lain sih kalau melihat langsung bisa merasakan dentuman hanabinya juga). Atau yang paling asyik menonton dari teras mansion melihat hanabi Toshima-en dan Seibu-en, sambil menikmati bir dingin hehhehe.

(kiri=Riku pakai JINBEI untuk bon odori di TK nya, kanan = capung jepang yang mempunyai garis hijau berkilat… namanya…lupa!!)
Tapi karena saya tidak suka panas juga, saya selalu berusaha tidak berada di Jepang waktu summer. Lebih baik menikmati udara dingin di Australia (karena waktu itu adik saya Novi berada di sana) atau udara kering di Jakarta. Sehingga kesempatan untuk menonton Hanabi jadi terlewatkan.Juga kesempatan untuk mengadakan Barbeque (hmmm enak loh bakar ikan atau daging di pinggir sungai sambil bercanda dengan teman)
Bagi anak laki-laki, musim panas berarti kegiatan outdoor menangkap kupu-kupu atau serangga lainnya. Riku juga senang menangkap serangga dan kupu-kupu (meskipun akhirnya dilepaskan) dan kemudian mencocokkan nama-nama binatang yang ditemukan dalam ZUKAN (kamus bergambar). Jadi bisa sekaligus belajar jenis-jenis hewan. Selain kegiatan outdoor begini, biasanya juga banyak anak-anak yang hobi dnegan kereta api, akan mengelilingi semua stasiun di suatu jalur, dan turun di setiap stasiun untuk mengumpulkan cap stasiun. Kegiatan ini juga saya rasa sangat bermanfaat (meskipun pasti meleelahkan ibu yang menemaninya). Sayang tahun ini tidak bisa karena berlibur ke jakarta, tapi untuk musim panas yang akan datang nantinya, saya juga berencana untuk melewatkan liburan dengan menemani Riku (bersama Kai tentunya) untuk melakukan railway journey ini. Gini-gini Kimiyo, adik Jepang saya itu mengganggao saya ahli perkeretaapian Tokyo, karena saya tahu semua jalur dan bagaimana ganti kereta dengan efisien waktu. Tapi itu kan semasa saya single dan sering jalan untuk mengajar. Sekarang sudah banyak jalur baru yang bertambah dan saya belum pernah naiki.

(kiri = Riku dan Kai yang pegang hadiah ultahnya, kanan “Mama jangan taruh aku dalam koper dong!!”)
Meskipun banyak kegiatan musim panas di Jepang, Matsuri (Festival), Hanabi (kembang api), barbeque, Mushi tori (menangkap serangga), Kakigori (es serut) yang mungkin terlewatkan, Riku dengan gembiranya mengatakan “Jakarta…machidooshii…(saya nanti-nantikan)” Semoga saja Liburan tahun ini bisa memberikan kegembiraan yang lebih banyak lagi bagi Riku, dan Kai tentunya.
Ittekimasu (saya pergi)……
(Papa Gen jaga rumah dan ikan di akuarium baik-baik ya…)

photo by Laquan studio
Hello Dedek
Hello Sayang
Kawaii Kai-kun….
Selamat Ulang tahun yang pertama
Terima kasih atas 325 hari yang ceria dengan kehadiranmu.
Kiranya Tuhan akan terus melindungimu dalam menghadapi hari-hari mendatang.
di atas air yang tenang
kudengar sayup suaramu
membuat riak kecil disekitarnya
dan perahu itupun maju sampai ke tujuan
hei mungil…
tahukah kau?
tanpamu kami tak berdaya
tanpamu kami tak berarti
dan kami tidak bisa kemana-mana……