Ternyata Riku bisa date dnegan papanya sampai hari ini deh. Bagus juga supaya dia kelak ada kenang-kenangan pergi bersama papanya yang bisa dia ceritakan. Dan untuk papanya hari ini merupakan perpanjangan dari Family (baca RIKU’s) Service. Family Service adalah ungkapan di Jepang waktu ayah melewatkan waktu bersama keluarga setelah di hari-hari biasa sibuk dengan pekerjaan. Sayangnya sekarang pekerjaanpun cenderung menyita hari Sabtu dan Minggu, sehingga Family Service ini menjadi semakin sedikit.

Mereka pergi bersama A-chan, ibu mertua saya. Saya juga senang mereka bisa pergi bertiga, karena sesungguhnya ibu itu kan jarang bepergian dengan anak lelakinya setelah dewasa. (Ayo…anak laki-laki pernahkah Anda meluangkan waktu sedikit untuk menyenangkan ibu Anda? Saya hanya bisa berdoa semoga Riku dan Kai kelak masih mau meluangkan sedikit waktunya untuk saya hehehe. Hey…bukannya aku jadi sedih punya anak laki yang akan pergi dari pelukanku jika besar nanti. Aku juga harus siap untuk menjalani kesepianku sendiri kan?)
Dan oleh A-chan, panggilan sayang kami untuk ibu mertua, saya dikirimi foto-foto yang diambil dengan HP nya. Waktu posting ini ditulis mereka masih jalan tuh…(Ingat mama ngga ya yang nungguin oleh-oleh ehhehehe)

Tanggal 20, Rabu kemarin. Pagi-pagi semua bangun jam 8 pagi, termasuk Kai. Karena ada pemutaran film pertama pukul 9 lewat di T Joy dekat rumah, Gen mengajak Riku pergi untuk menonton film terbaru dari Miyazaki Hayao…film dari Ghibli. Setiap summer di Jepang pasti ada sebuah film anak-anak (semua umur) yang diputar dan menjadi hits. Supaya Riku tidak ketinggalan berita, Gen bermaksud mengajak dia menonton. Yang pasti aku tidak bisa ikut. Kenapa?
1. Aku tidak bisa pergi ke bioskop, karena bioskop itu gelap dan aku sekarang sedang phobia kegelapan (Kalau bioskop terang benderang ya bukan bioskop namanya ya hehehe).
2. Kita tidak bisa ajak Kai, karena dia masih terlalu kecil untuk bisa duduk tenang selama paling sedikit 1,5 jam. Lagipula dia sekarang ada kebiasaan baru yaitu teriak melengking kalau senang atau tidak senang (menunjukkan emosinya). Kemarin malam aku sempat sentil mulutnya, dan dia ngamuk hehehe. Akhirnya aku terpaksa menunggu dia capek bermain sampai jam 11 malam, baru tidur.

Film yang ditonton Riku hari ini adalah 『崖の上のポニョ』(がけのうえのポニョ) Ponyo on the Cliff by the Sea, yang beredar mulai tanggal 19 Juli 2008. Aku suka hampir semua film dari Ghibli Studio. Dan di setiap film yang dibuat Miyazaki ini ada sebuah persamaan, yaitu selalu ada gambar rumah yang besar, aneh dan selalu tinggi atau di bukit atau di udara. Mungkin si Miyazaki ini juga punya obsesi terhadap langit. Selalu ada adengan terbang atau langit yang bergerak. Awal-awal memang warna ynag dipakai sedikit jumlahnya. Dan semakin baru, semakin kaya pemakaian warnanya. Aku tinggal tunggu saja dulu DVD nya keluar, dan nonton di rumah saja. Memang keluarnya DVD ini masih akan lama, tidak seperti di Indonesia, yang kadang keluar DVD (baca bajakan) duluan daripada pemutaran di Bioskop.
Sesudah menonton film itu, Riku sempat berfoto dengan Go-On-Ger, lanjtannya Power Ranger (di Jepang namanya Magi-Ranger loh). Sayang mereka tidak bawa kamera, sehingga hasil jepretan HP nya Gen tidak begitu bagus.
Sesudah itu mereka telepon aku, apa boleh hashigo (harafiah: tangga, maksudnya dilanjutkan nonton lagi). Tentu saja boleh. Katanya mereka mau nonton Kungfu Panda. (aku nonton Kungfu Panda dalam pesawat kemarin dalam bahasa Inggris tapi sebagian sambil tertidur sih hehehe). Tapi ternyata sebelum nonton Kungfu Panda, mereka pergi ke game center, sehingga tidka jadi menonton Kungfu Pandanya.
Sepulang ke rumah, makan siang jam 2, dan Gen tidur kecapekan temani Riku jalan-jalan. Aku selama di rumah beberes rumah yang sudah kayak kapal pecah, sambil bongkar koper2. Hasilnya aku bersin-bersin karena alergi debu, dan kepala sakit. Sehingga aku tinggal di rumah hari ini waktu Gen dan Riku pergi ke Yokohama untuk makan malam, dan menginap. Dan sodara-sodara, ternyata sendirian (berduaan) dengan Kai itu sangat enjoyable. Sepi dari suara TV, aku matikan lampu-lampu, dengan suasana temaram aku berdua kai makan malam. Waktu Kai bobo, aku sempat berendam air panas (ofuro) 41 derajat selama 30 menit. very relaxing….. I should do this more often….
so Today is for Riku… (and me)
Akhirnya tiba deh waktunya untuk meninggalkan dunia mimpi menuju dunia kenyataan yang mau tidak mau harus dihadapi. Biasanya aku pada hari terakhir menjelang keberangkatan pasti capek. Karena masih mau beli ini itu…tapi kali ini aku menyerah pada waktu saja. Masa bodoh deh. Cuman satu tujuan utama hari ini yaitu membeli rendang di Ntb, Sabang. Waktu aku tanya siapa yang mau anterin…. Chris bilang, “Loh kan bisa minta delivery Mel”
Hmmm jamannya udah beda, sekarang semuanya serba mudah. Tinggal angkat telepon, bisa pesan kemudian diantar. Tentu saja dalam jumlah yang ditentukan mereka dan semuanya beres asal ada uang. Jadi aku telpon saja dan minta diantar, tidak usah buang waktu lagi pergi ke sana. Sementara itu koper juga sudah siap, aku masih santai-santai dengan anak-anak. Sinta dan Fanya juga datang to say good bye. Sayangnya Sinta masuk angin jadi minta dikerok sama Mbak Yati…. aku paling ngga bisa deh dikerok gitu…gitu geli.
Oh ya hari Sabtu kemarinnya sebetulnya Yu Tum juga datang lagi ke rumah, dan memijat 4 dewasa dan 3 anak-anak… duh mana ada dulu aku waktu anak-anak kenal yang namanya tukang pijat heheh. Yang lucu si Riku dipijat kesakitan dia.

Ada yang ketinggalan? Banyak … tapi aku bisa hidup kok tanpa itu….hehehe. Gitu deh kalau menunda sampai saat terakhir. Aku biasanya beli obat-obat di apotik, misalnya benadryl, enkasari, koyok cabe, dll. Tapi karena kemarin sesudah misa di gereja blok B, langsung jemput Dharma di SD-ku itu jadi aku batal ke Apotik. Tapi aku jadinya bisa nostalgia juga ke SD Tarki 1 itu…masih sama seperti yang dulu… tapi aku tidak melihat guru-guru yang dulu mengajar aku (ya udah uzur la yauw). Hmm kapan bisa bikin reuni SD ya? Sebetulnya aku sudah dimarahi Kiki yang jadi contact person utk SD… kenapa tidak kasih tahu bahwa datang hehehe…yah nanti deh tahun depan. Dan yang mengejutkan aku di SD itu sebetulnya adalah bertemu Trisyanto dengan anaknya sedang naik vespa.
“Loh kamu belum balik ke Jepang Mel?”
“Belum…besok sih baliknya” “Kamu ngapain di sini?” (guoblok banget deh pake tanya)
“Ini anak gue sekolah di sini….” “Abis di sini paling dekat dan paling murah”
wahhh….. agak bengong juga aku pada kenyataan bahwa teman aku menyekolahkan anaknya di situ. Uhhhh diingatkan bahwa memang kita udah generasi “tua”. Bahkan Riku sendiri bilang, dia mau sekolah sama Dharma di Jakarta, berarti di SD itu.
Perjalanan ke Jakarta kali ini benar-benar membawa aku kembali pada kenangan-kenangan masa lalu. Bahkan sebelum berangkat ke Cengkareng aku masih sempat scan sekitar 100 foto jadul selama 1 jam…. dibela-belain. Nanti suatu waktu aku akan posting deh dengan kategori JADUL hehehe.

Perjalanan ke cengkareng juga lancar, sampai saat terakhir masih dapat sms dari dadi (thanks for CDs nya dad), ira bowo (yang sedang dalam perjalanan ke Medan) dan lala. Chris bisa antar kita sampai ke pintu ruang tunggu boarding, dan setelah kita masuk ke pintu ruang tunggu itu, langsung bisa masuk ke dalam pesawat. Jadi tidak usah tunggu lama-lama di luar. Tapi sayangnya aku jadi ngga bisa kirim sms untuk kasih tahu ke papa, semua OK. Bahkan sebelum aku tutup HP, masih masuk sms dari Mariko dan Tina yang menanyakan “is there any problem”. Pramugrari JAL banyak yang orang asing, dan ada satu yang cantik yang banyak melayani kita.
Riku tanya, “Ma, kenapa dia orang Jepang tidak pakai bahasa Jepang ke kita? Dia orang Jepang?”
“wah ngga tahu… tanya aja.”
“Mama yang tanya dong”
Ternyata si manis itu orang Thailand, so aku bicara dengan dia pakai bahasa Inggris aja. Dan juga sodara-sodara… di bagian belakang banyak orang Indonesia, kayaknya sih pemagang. Jadi… announce dalam bahasa Indonesia diputar deh. “Suara mama ya?” ….. iya…. ntah sampai kapan suara itu bisa berkumandang di pesawat JAL.

Tujuh jam perjalanan, dan kita mendarat di Narita pukul 7:30 an. sedikit lebih cepat dari rencana. Tapi aku keluar paling akhir dan dengan santai jalan ke Imigrasi. Pertama kali aku ikutin cara baru di Imigrasi Jepang, yaitu dengan scan jari telunjuk kanan dan kiri, serta pembuatan foto di pintu Imigrasi. Mustinya sih di komputer tertulis “Tidak termasuk dalam Black List” hehehe.
Narita selasa pagi itu panas. lebih panas dari Jakarta. dan di layar monitor ada jadwal Hanabi- Festival Kembang Api pada tanggal 23 Agustus nanti. Hmmm biasanya agustus penuh satu bulan aku tidak ada di Jepang, jadi tidak sempat melihat hanabi. Namun kali ini masih bisa (kalo mau berdesak-desakan dan berpanas-panasan).
Well, Tokyo I’m Home. TADAIMA.

Menjelang hari ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 63 ini, seperti juga tahun-tahun yang telah lewat, banyak kita jumpai rangkaian bendera kita yang terpampang di sepanjang jalan. Baik untuk dijual maupun sudah merupakan hiasan daerah tertentu. Entah karena saya jarang pergi ke jalan-jalan protokol atau ke tempat keramaian….saya menganggap 17-an tahun ini sepertinya tidak begitu ramai. Mungkin juga karena jatuh pada hari Minggu, dan seninnya dilibrkan sehingga merupakan kesempatan bagi mereka yang bisa mengambil cuti panjang untuk pergi berlibur atau mudik.
Merah dan Putih memang warna bendera kita ini dikatakan sebagai lambang kesucian dan keberanian. Tapi saya pernah membaca dalam otobiografi Soekarno, “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” oleh Cindy Adam, suatu keterangan lain. Hari ini saya baca kembali dengan cara scanning baca cepat dan menemukan keterangan itu di halaman 338 sebagai berikut:
Warna bendera kami tidak diputuskan secara serampangan saja untuk revolusi. Ia telah mulai dari bibit pertama dari penjelmaan manusia. Getih seorang perempuan merah. Getah dari seorang laki-laki putih. Sang Surya berwana merah. Sang Tjandra berwarna putih. Warna tanah kami merah. Getah dari tumbuh-tumbuhan putih. Sebelum adanya agama yang teratur, makia makhluk Tuhan menyembah benda-benda alam ini. Demikianlah warna itu dipusakakan turun temurun sepanjang masa sampai pada peradaban kita sekrang. Merah adalah lambang keberanian, Putih lambang kesucian. Dalam ilmu kebatinan Jawa sesajennya terdiri dari bubur merah dan bubur putih. Bendera kami telah ada semenjak 6000 tahun yang lalu.
Puas juga mencari pernyataan ini dan menemukannya. Karena saya membaca buku ini sebetulnya sudah sejak SMP, sehingga lupa pada kata-kata persisnya. Dan menemukannya di halaman 338 dalam 2 jam sungguh menyita konsentrasi yang besar. Satu hal lagi yang saya ingat bahwa saya baca di dalam buku ini adalah pernyataan Soekarno tentang guling,
Manusia Indonesia hidup dengan getaran perasaan. Kamilah satu-satunya bangsa di dunia yang mempunyai sejenis bantal yang dipergunakan sekedar untuk dirangkul. Di setiap tempat tidur orang Indonesia terdapat sebuah bantak sebagai kalang hulu dan sebuah lagi bantal kecil berbentuk bulat panjang yang dinamai guling. Guling ini bagi kami hanya untuk dirangkul sepanjang malam (otobiografi, p2.)
Pagi ini aku mengikuti misa jam 7:30 pagi, di gereja Blok B karena koor Cavido tugas menyanyi. Jam 7 lebih sedikit aku sudah sampai, dan bertemu dnegan Vitri, Mas Atok dan Marianti. Langsung masuk ke dalam, dan sedikit-demi-sedikit anggota koor lainnya mulai datang. Banyak anggota yang muda dan tak kukenal lagi. Kemudian sambil menunggu wkatu aku bolak-balik map lagu…. hmm begini nih kalau tanpa latihan langsung ikut. Sebetulnya aku alto, tapi tanpa latihan tentu saja tidak bisa. Maka aku pilih tempat perbatasan alto dan sopran. Kalau tidak tahu not altonya, join sopran aja ahhh.
Ternyata memang aku tidak bisa nyanyi parts altonya, karena aransemennya baru. Dibuka dengan Satu Nusa Satu Bangsa, lalu lagu “Indah tanahku Indonesia”, Indonesia Pusaka dan terakhir Hari Merdeka. Aransemen lagu Indonesia Pusakanya yang dikerjakan mas Atok bagus, tapi dasar aku tidak bisa menyanyi lagu ini tanpa menangis…. tempat berlindung di hari tua…. Mungkin ini juga yang menyebabkan aku tidak mau asimilasi.

Misanya dipimpin pastor Bertens…pastor ini termasuk pastor tua yang sudah lama melayani di paroki Blok B. Gaya bicaranya yang khas masih terdengar… membuat aku merasa memang kangen suasana seperti ini. Setiap minggu sibuk dengan latihan Cavido, dan gereja memang dekat rumahku. Kayaknya aku emang harus berusaha nih untuk lebih rajin lagi ke Meguro. Oh ya…. padahal begitu aku pulang harus buat rapat KMKI untuk acara barbeque tanggal 23 September…….
Sesudah misa, mulai jam 8:40 diadakan upacara penaikan bendera oleh Mudika. Kasian juga sih sedikit yang datang, so aku potret aja mereka. Jadi ingat juga aku sering jadi petugas bendera. Dan seringnya bagian tengah yang membuka bendera…. musti ingat-ingat cara melipat bendera sehingga bendera bisa membuka dengan bagus, tidak melilit. Kenapa ya aku selalu ingat Agnes, yang berasal dari Flores. Sepertinya dia selalu ada di samping aku, entah dia komandan pramuka aku wakil v.v. atau dia selalu ada di samping aku dalam pengibar bendera. Kemana ya dia? Dede selalu panggil dia dengan Agnes talang betutu, karena memang model rambutnya berponi seperti talang air hehehe.

Hari ini panas… sarapan sate ayam depan RSPP, lalu pulang… sorenya belanja deh dan mulai packing. Maunya besok ngga mikirin koper lagi, tapi mana bisa ya….. Biasanya last minutes baru teringat perlu ini itu. Seharusnya aku tulis, tapi…. malas dan sengaja tidak mau ingat-ingat.
Tentu tahu dong bagaimana rasanya sembelit. Bukan yang sembelit dengan arti :sem·be·lit n kantong atau pundi-pundi yg dibelitkan di pinggang: perempuan itu memakai — tapi dalam arti tidak bisa buang air besar.
Nah ternyata si Riku itu mengalami “sembelit” selama 26 hari berada di Jakarta. Dan itu ketahuannya kemarin waktu Tatsuya kun, murid aku di Senshu University datang ke rumah. Terima kasih ya Tatsuya kun yang mau menjadi obat pencahar bagi Riku.
Pertamanya Riku enggan berkenalan dengan Tatsuya kun. Mungkin karena dia masih bermain dengan Dharma, Sophie dan Kei. Tapi waktu aku ajak semua pergi makan di luar, Riku bertindak sebagai host yang baik untuk Tatsuya-kun. Dia menjelaskan semuuuuuuuuuua dalam bahasa Jepang kepada Tatsuya-kun. Mulai dari naik mobil, di dalam mobil, sesampai di restoran, selama makan, seselesai makan, dalam mobil menuju rumah, dan sampai Tatsuya kun pulang naik taxi ke Jaksa, tempat dia menginap. Bener-bener deh….. nyerocos terusssssss dalam bahasa Jepang. Ternyata dia “sembelit” tidak bisa berbahasa Jepang selama ini, membuat dia bertindak seperti itu.
Berikut sedikit percakapan dia dengan si Tatsuya kun yang tentu saja dalam bahasa Jepang,
“Om dulu punya teman banyak?”
“Temanku ada yang namanya Hiro, Ryo, …tapi Ryo ini yang paling suka ngerjain aku.”
“Om suka dengan TK nya om dulu?”
Tatsuya kun: “Saya ada 2 kakak laki-laki loh”
“Wahhh 3 anak laki-laki? Kasihan ibunya ya…repot pasti” Dari jauh aku terbahak-bahak, you bet it must be difficult.
Tatsuya kun :”Iya ibu saya memang repot”
“Kan ibu kamu harus mengurus 4 laki-laki…susah ya” (Dalam hati aku bilang…YA IBU HARUS MENGURUS 4 BAYI…lucuuuuuu)
………
dalam mobil:
“Om dulu waktu TK punya pacar?”
“Pacar ya? mmmm pernah suka anak perempuan sih”
“Aku ya… aku suka sama yang namanya M.O, dia manis sekali loh. Dan aku selalu deg-degan ketemu dia. Abis dia manis sekali (huh manis apaan…masih ada yang lain yang lebih manis rikuuuuuu). Aku pikir nanti aku kalau besar mau kawin sama M.O.”
“Asyik ya…seneng memang kalau sudah ada pacar….”
(Dan aku harus menahan tawa supaya Riku tidak marah bahwa aku mendengarkan percakapan dia)

26 hari tak bisa berbicara bahasa Jepang, kecuali sama papanya di telepon… dan sama aku. Rasanya seperti sembelit mungkin ya. Tapi di lain pihak aku membayangkan juga…. Aku sudah hampir 16 tahun penuh tinggal di Jepang. Di negara yang aku sukai, dan aku anggap kampung halaman kedua-ku. Dan aku sangka aku senang dikatakan “Imelda sudah seperti orang Jepang” dalam tindakan dan perkataan aku selama ini. Bangga bisa menjadi “Orang Indonesia yang menguasai bahasa dan kebudayaan Jepang dan tinggal lama di Jepang”.
BUT sekarang aku sadari, bahwa aku sebenarnya terlalu memaksakan diri… terlalu berusaha dengan sungguh-sungguh, terlalu banyak beradaptasi dengan lingkungan, dan tidak sadar bahwa aku sudah sampai pada titik jenuh…. bagaikan air gula yang sudah tidak bisa ditambahkan lagi gulanya tanpa harus memanaskannya, atau membuatnya menjadi kental. Dengan satu kata aku ini CAPEK.
Karena ternyata aku juga masih orang Indonesia, yang mempunyai sifat-sifat seperti orang Indonesia umumnya, dan merasa kehilangan kehangatan, kebersamaan, persaudaraan antar manusia yang LUMRAH ada di Indonesia, tetapi sulit sekali didapat di Jepang. Aku juga kehilangan rumah besar yang aku huni selama 24 tahun pertama hidupku, untuk harus tinggal dalam “Usagi goya” —rumah kelinci. (Kalau ini sih kesalahan orang tua saya (perusahaan tempat papa bekerja deh), kenapa sih rumah besar begini…sampai kalau panggil orang harus teriak, atau mengebel ….. benar-benar mengebel dengan kode tertentu, karena tombol bel ada dibagian dalam rumah dan bagian luar, sehingga kalau mau panggil mbak-mbak yang tinggal di pavilyun belakang pakai bel dengan kode dua untuk si mbak A dan 3 untuk si mbak B). Sedangkan rumahku di Tokyo hanya sebesar kamar tamu saja (Itupun sudah cukup besar untuk ukuran tokyo)….
Sekitar 2 minggu berada di Jakarta, Riku pernah tanya…”Ma, kapan kita pulang, aku rindu semua orang Jepang…” kataku, “Yah kamu hitung saja 10 kali tidur, kita sudah akan pulang ke Jepang)
Tapi seminggu sesudahnya, “Ma, kita pulang sebentar ke Jepang. Lalu kembali lagi ya. Aku mau sekolah sama Dharma di sini saja…..” Aku tidak bisa berkata apa-apa (hey nak, kamu orang Jepang)
Dan kemarin aku bilang, “Riku, tinggal dua kali tidur, kita kembali ke Tokyo loh. Riku harus tidur siang, supaya riku tidak tidur malamnya waktu kita masuk pesawat ya. Kalau Riku ketiduran malamnya, mama bisa mati gendong kamu dan Kai (25+12kg =37kg)”
“Asyik ma…kita harus beli oleh-oleh untuk semua loh. Buat Riku, buat papa, beli tas untuk Riku, beli alat-alat tulis untuk ke TK…. “Oi oi,,, itu bukan oleh-oleh namanya…itu BEKAL buat kamu sendiri hihihi.
Setiap orang pernah mengalami krisis identitas. Dan aku tahu Riku dan Kai juga pasti akan mengalami krisis identitas kelak. Semoga saja kedua anakku bisa melewati masa itu dengan baik.
Pagi tadi jam 2 pagi, aku telepon gen … waktu aku cerita Riku mau sekolah di jakarta, dia malah bilang, wah Riku hebat…bisa pikir begitu. Dan waktu aku cerita, bagaimana kalau aku misalnya bekerja di suatu universitas di Yogyakarta sebagai dosen tamu, Gen bilang…asyik…aku jadi pembantu kamu aja deh. Weleh… gaji dosen mana bisa nyewa pembantu kayak kamu. Aniway, aku juga bersyukur mempunyai keluarga yang masih bisa fleksible tinggal di manapun….. Apa kita sekeluarga bermigrasi ke Selandia Baru saja ya? Maybe ada kerja yang cocok untuk aku dan Gen? who knows….
Semoga aku juga bisa mendapatkan obat pencahar yang bisa menyembuhkan aku dari penyakit yang namanya Capek dan Bosan itu, seperti Riku yang bebas dari Sembelitnya tadi malam.
Satu-satunya hiburan untuk Riku adalah Game Center. Karena susah meng-arrange jalan-jalan ke luar kota, atau tempat rekreasi lainnya, terpaksa deh Opa atau saya mengantar dia ke Game Center yang ada di dekat rumah. Kalau di Jepang tentu saja Riku tidak pernah saya ajak ke game center… mumpung di Indonesia, masih kebayar kalau dia mau main sepuasnya.
Kemarin sekitar jam 3 siang, opa, oma dan cucu-cucu jemput Darma dari sekolah lalu mampir ke Amazone di Blok M plaza. Ini ke 4 kalinya aku ke sini, tapi untuk Riku sudah yang ke 5 kalinya. Dia sudah hafal tempat-tempat bermain yang dia suka. 4 chibi (unyil) berlari sana sini coba game yang dia bisa. Segepok koin aku bagi 4 masukkan ke dalam kantong plastik supaya mereka pegang sendiri…. eeee si Oma juga minta bagian hihihi. Duh Oma…mau main apa coba?
Eh tapi karena aku merasa aman tidak harus memperhatikan Riku terus menerus, aku main satu game yang menjatuhkan bola untuk kemudian bola itu akan masuk lubang dengan tulisan angka-angka yang ada. Waktu Riku mulai main di situ, dia hanya mendapat angka 1 atau 3 sehingga tiket (yang nantinya bisa ditukarkan dengan hadiah juga sedikit). Lalu kebetulan pas aku yang tekan tombolnya, dapat 20…… srrtttttt keluar deh berderet tiketnya sebanyak 20 buah. Melihat itu Riku jadi kesal kenapa kok dia tidak bisa banyak seperti mamanya…. Akhirnya aku alihkan dia ke permainan lain. Tapi begitu dia asyik bersama Darma, aku iseng …ah kapan lagi aku main, so aku kembali ke game yang bola tadi…dan aku dapat 20 dan 50 tiket. Memandang 50 tiket keluar itu memang puas ya…makanya anak-anak jadi ketagihan. And u know what, setelah tiket 50 itu keluar, gamenya berhenti tidak bisa dipakai lagi (untuk beberapa saat) hahaha…mesinnya ngambek.
Selain main yang santai begitu, aku juga main basket tuh… mayan juga tuh bisa keringatan. Gini-gini dulu waktu SMP aku sering main basket dan volley loh, meski ngga jago-jago banget. Kemarin max angka yang keluar 36, that means 18 bola!! whew….
Eeeee si Opa liat aku main, mau juga ikut main…. dan si Oma karena masih pegang koin sisa, dia juga ikut main… Lucu juga liat opa dan oma main basket.
Setelah cukup banyak koin yang aku beli, juga sudah capek (capek nunggu dan berdiri) aku ajak semua pulang…jam4:30 tuh. Tahu-tahu ada mesin mainan pendorong permen-permen supaya jatuh mengeluarkan banyak permen, dan ditemukan oleh Darma. Langsung deh Sophie, Riku dan Kei juga berkerubung, pungutin permen-permennya. Daaaaaan ternyataaaaaaa mesin itu korslet deh… soalnya tanpa masukin koin bisa terus dimainkan. JADI, anak-anak maiiiin terus sampai menghasilkan permen satu kantong plastik (dalam hati aku pikir, yah ada untungnya juga deh, meskipun belum balik modal hahaha)
Kalau tidak dihentikan, pasti anak-anak tidak mau berhenti, jadi aku takut-takutin mereka….”Yang punya mesin kalau lihat kalian main terus, dan liat mesin itu rusak pasti marah loh, dan pasti minta kalian bayar loh!… Biasa bayar? ayo PULANG!!!!.
Dengan berat hati mereka pulang deh… but lucu juga hari ini. Riku bilang “Mama, hari ini the best day yah!”. Gimana ngga, dia juga nomor satu di permainan tenis, sehingga kalau Anda pergi bermain ke sana, akan ada tulisan ranking pertama RIK….. Untung deh Riku, soalnya mama ngga bisa ajak kamu ke mana-mana ke tempat lainnya.
Foto-foto selama di Jakarta bisa dilihat di Multiply:
Bertepatan dengan hari Pramuka, adik keduaku ini berulang tahun. Tina. Bukan singkatan dari Agustina, tapi singkatan dari Martina. Martina adalah nama seorang suster, guru SD-nya mama yang katanya sayang sekali sama mama. Dan kebetulan juga ada seorang kakak mama yang baru meninggal waktu itu yang bernama Tino.
Adik keduaku ini adalah perempuan yang TOMBOY!!! (Aku juga menganggap diri sendiri tomboy, tapi kayaknya masih kalah deh…soalnya dia tidak akan pernah memakai rok, selain ke gereja hehehe)
Kadang kita ledek dia, mungkin karena mama dan papa ingin anak laki-laki maka kamu (anak ketiga) jadinya begitu…dsb.
Nakal!! Pernah adik pertama saya, Novi, waktu itu mencari Tina di TKnya. Cari-cari tapi tidak ketemu, jadi bertanya pada suster…. Dan oleh suster disuruh mencari di atas pohon ….. benar saja, dia ada di atas pohon. )(’&(%&’%$$# Karena nakalnya sampai mungkin suatu saat ada yang kelepasan mengatakan
“Kamu anak pungut dari tempat sampah. Lihat kamu yang paling hitam kan?”.
Dan suatu malam dia tanyakan pada mama…
“Mama benarkah aku anak yang dipungut dari tempat sampah?”.
“coba lihat tangan kamu… bandingkan warnanya dengan mama. sama tidak? ”
“sama”
“nah sama toh… kamu dibilang begitu karena kamu nakal sih. Tapi kamu tetap anak mama.”
Tapi memang ejekan selalu bertubi-tubi datang. Mungkin dengan maksud bercanda. Sampai kakek kami pernah memanggil dia Tamil Tambi!… kalau dipikir sekarang sadis juga ya. Dan karena dia orangnya cuek, maka semua tidak pernah berpikir itu menyakiti hatinya. Padahal menurut saya, dia sempurna. Satu-satunya di keluarga kami yang jago di bidang olahraga dan musik. Olahraga memang dimulai karena dia asthma. Basket, SoftBall, Shorinji Kempo. Dia juga bisa bermain gitar dan piano. Saya katakan bisa, karena dia tidak pernah belajar di kursus. Musik yang pertama dia kuasai karena belajar dan latihan terus adalah recorder (suling). Secara rutin grup ansamble dari SD kami di bawah pimpinan Pak Cheppy Soemirat berlatih di rumah kami. Sampai dia sering muncul di TV dalam acara Bina Musika. Dia juga pernah membuat grup band putri dan mengikuti lomba kemudian mendapat juara ke dua. Dia memainkan bass dan vokal. Tidak tahu lagu apa yang dibawakan, tapi saya ingat dia pernah berlatih lagu rock (something begin with one, two, three rock… duh lupa deh)
Selain jago sport dan musik, dia satu-satunya di keluarga kami yang pintar sekali berhemat dan mengelola keuangan. Jadi kalau kami, anak-anak merencanakan untuk membeli hadiah untuk papa dan mama, pasti uang kami di poolkan ke dia untuk di-manage… Dan satu sifatnya yang sulit sekali saya contoh, adalah gigih sekali berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Dia belajar bahasa Jepang dalam waktu relatif singkat, hanya untuk menyusul saya ke Tokyo, dan mengambil master of Architect di Yokohama National University. Meskipun sudah diberitahukan bahwa dia tinggal “gratis” bersama saya, dan tidak usah memikirkan biaya kuliah, dia gigih mencari beasiswa…. dan akhirnya dapat dari Rotary Club, dan juga -arbaito mengajar bahasa Indonesia, tanpa bantuan dari saya. Murid dia, sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya. Kegigihannya ini benar-benar cocok untuk bekerja di Jepang deh…. Dan mungkin karena kegigihannya inilah dia bisa menjadi seorang programmer di sebuah perusahaan asing (USA) di Jepang.
I really love her and her character. Karena itu saya dari kecil lebih bisa share kamar dengan Tina, daripada adik saya yang satunya. Yang pasti saya pernah menangis dan minta maaf ke dia, waktu berkelahi soal sesuatu dan saya pukul dia dengan sapu lidi. Begitu saya lihat kulitnya baret memerah….. duh… what have I done? Aku langsung minta maaf dan dengan tenangnya dia bilang, ” Ngga sakit kok, keliatannya aja seperti sakit…..” Duh adikku ini…..dan kalau dipikir memang dia yang paling banyak dibawa papa ke emergency room, dan paling banyak jahitan di dagu, lutut, dan mungkin bagian tubuh lainnya. Betapa sering dia jatuh, entah dari mobil jeep papa (karena semua meninggalkan dia sendirian dalam mobil, jadi dia loncat sendiri), atau dari pohon (main ayunan di pohon belimbing, kok bisa terjungkal ya?) … bahkan pernah ketiban daun pintu jati (heran banget deh kok bisa copot tuh pintu yang berat itu)
So, tante Titin~~~, don’t force too much with your work. Hodo-hodoni …. Kai and Riku need you sometimes, jadi sering-sering datang ke Nerima ya. Aku juga kadang butuh bantuan dan dukungan… I remember called her early in the morning, just crying karena stress. Dan dia langsung datang. Amat sangat lain hidup kita ini, jika kita tahu bahwa ada saudara kita selalu di dekat kita. Meskipun agak berjauhan, telepon juga paling sekali sebulan, tapi dengan kesadaran bahwa within 1-2 hours kita bisa bertemu… hidup di negara asing ini bisa tertahankan. Yang pasti lebih cepat daripada 7 jam terbang ke Jakarta.
We love you, and Happy Birthday (don’t count please!!! just enjoy—). I promise I will make a black forest cake for you, as soon as I arrive in Tokyo.
Gara-gara three-in-one, timbullah jenis pekerjaan musiman baru yaitu menjadi joki, untuk melengkapi jumlah penumpang mobil menjadi tiga orang. Biasanya di mulut jalan-jalan yang menuju ke Sudirman-Thamrin itu, banyak calon joki yang mengangkat tangan, menawarkan “diri” untuk menjadi joki. Tak jarang juga ibu yang membawa bayinya…bisa dihitung dua sekaligus deh. Saya tidak tahu mereka dapat “honor” berapa…..
Nah, tadi pagi bapak saya harus pergi ke lemhanas. Andy, adik saya yang akan mengantarkan. Dan dia mengajak Riku supaya bisa lewat three-in-one. Perginya sih berjumlah tiga, tapi setelah papa diturunkan, tinggal dua dong. Jadi adik perempuan saya panggil saya yang sedang kutak-kutik dengan scan untuk ikut pergi melengkapi jumlah tiga orang supaya pulangnya bisa cepat juga.
“Mel, cepet tuh, temanin Andy biar pulangnya bisa bertiga lagi”
“Gile lu, gue belum mandi, pake daster lagi……”
“Ngga papa kan di dalam mobil aja, asal keliatan ada 3 orang. Buruan…mereka udah mau berangkat!”
“Weks, aku ambil tas dan hp dulu. ”
Jadi benar-benar tanpa nyisir, tanpa ganti baju, tanpa mandi, tanpa sarapan, tanpa *** cuman sempat ambil sandal, langsung naik mobil dan berangkat. Sambil aku teriak “Oiii yang di rumah tolong liatin anakku yang satunya….”
Dalam mobil aku duduk samping pak supir ganteng, mustinya aku dianggap pembantu berdaster, sambil ngomel “Jangan sampai aku ketemu temen deh…bisa turun pasaran…”
But ada hikmahnya juga sih aku duduk depan, sambil menikmati pemandangan jalan utama kota Jakarta itu, karena sesungguhnya smapai detik ini setelah mendarat di Jakarta, aku belum beredar di daerah Sudirman menuju Thamrin. Baru lihat ada FX (jangan-jangan singkatan Fransiscus Xaverius nih hehheeh), trus liat ada alfa mart buka 24 jam (hebat juga euy konbini di Jakarta), bener-bener kayak anak desa baru datang ke kota besar celingak-celinguk kiri kanan. Setelah menurunkan papa di Lemhanas, ternyata Andy menuju Kuningan untuk pulang (kayaknya sih dia mau mampir nih). huh tau dia lewat Kuningan yang macet begitu, aku kan bawa laptop…. biar dianggap pembantu keren heheheh. So, bosen dalam kemacetan, aku melanjutkan mimpi yang tadi terputus alias bobo lagi….
Akibat macet smapai di rumah jam 10 pagi…. 2,5 jam di jalan bete banget … coba kalau aku di rumah udah bisa berapa ratus foto jadul yang bisa di scan tuh. Joki yang murah nih karena cuman dibayar pake coca cola di tengah jalan. (Eh tapi aku sempat telepon teman baikku waktu SD yang bekerja di Kuningan…. untung bawa HP deh)
Selain Joki three-in-one gini, ada juga ya jenis-jenis pekerjaan sambilan yang musiman lainnya, misalnya penyewa payung waktu hujan (eh sekarang bayarnya berapa sih? Dulu kan 500 cukup, sekarang berapa?). Lalu apa lagi ya jenis pekerjaan musiman gitu?
Bukannya mau saingan dengan Lala dalam postingan after 23 years, tapi memang kemarin aku bertemu dengan seorang teman, yang pertama kali kita berjumpa itu memang 22 tahun yang lalu, dan setelah itu berpisah. 1986, pertama dan terakhir… Kami akrabnya hanya 100 jam saja (eh bener ngga ya. Dulu penataran P4 hanya 100 jam saja kan ya?) +Ospek di Rawamangun.
Pertama kali masuk UI 1986, saya bertemu dengan Dadi Lebon (berhubung suka Duren-duren tuh hehehe). Berhubung dia dari CC (Canisius College) dan saya serta Chandra dari Tarki, akrablah kita. Bersama Yota kita membuat geng 4 sekawan sehingga kemana-mana selama kita bersama. Sebetulnya kami menganggap Dadi ini lebih sebagai Bodyguard karena emang bodynya yang guede banget (padahal waktu liat di foto…ngga gede ah). Masih ingat saya, kita bertiga adalah Charlie’s Angelnya dan Dadi adalah Bosney hihihi.
Apa yang menyebabkan kita jadi dekat? tidak tahu…tapi mungkin karena BETE musti dengerin penataran yang ngga ketahuan ujungnya. Sebagai intermezzo, kita cekakak-cekikik dengan buat *geng*, lalu godain orang. Saya masih ingat ada satu cowo yang sering kita godain, atau ‘liatin’ karena si cowo ini putih, manis dan….. bibirnya meraaaaaaaaaah sekali seperti pake lipstik tapi tidak pake tentu saja. Bertiga dengan Chandra dan Yota cekikikan sambil bilang….duuuuh tuh bibir serasa siap untuk dic*um. Dia anak kedokteran, tidak tahu namanya dan bukan anggota kelompok kita. Sayang deh hehehe.
Dan yang surprise kemarin malam adalah Dadi membawa foto-foto jaman baheula itu!!! Dan ternyata sodara-sodara. Peserta penataran berjaket kuning sekitar 20 orang itu PERNAH berkumpul dan datang ke rumah sayah. dan itu saya LUPA….. dalam acara apa kita berkumpul pun saya tidak tahu alias pikun deh. Foto-foto itu juga jadi bukti bahwa, Dadi saat itu lebih gede dari sekarang, dan Imelda saat itu jauuuh lebih kurus dari sekarang (kayaknya kita tukeran lemak deh hehhehe) Hayooo bisa tebak saya yang mana ngga?

Udah gitu foto-foto itu juga membawa kenangan akan rumah saya yang sudah banyak berubah. Dulu rumah saya tuh gini toh… jadi membawa kenangan deh.

Sempet juga foto di taman depan rumah….huh seperti foto di Cibodas saja…sekarang ngga ada tuh yang kelihatan seluas itu. Dulu taman itu sering jadi lapangan main bola…sekarang sudah tidak bisa karena banyak pohon dan dipagar hiks. Ingat dulu banyak anak-anak laki-laki main bola hujan-hujanan dan mereka mandi di keran depan rumah dengan memanjat pagar!

Di antara 20 orang itu yang saya ingat juga hanya charlie’s angel +bosney, + Abduh (karena sejarah masuk ke FSUI jadi satu fak dengan saya. Waktu Dadi menyebutkan nama-nama yang dia ingat seperti Estherlita, Iwan (yang paling kece tuh…katanya dia naksir Chandra), Yayan, …….. dsb yang sekarang saja saya lupa hehhehe (ngga diperhatikan sih). Hebat juga ingatan kamu Dadi…. Padahal kita bertemu di Ospek itu dari bermacam fakultas, dan sesudah itu tidak ada kesempatan bertemu lagi. Misalnya saya FSUI tahun 1987 pindah ke Depok, sedangkan FEUI masih tetap di Salemba bahkan sampai Dadi lulus th 1992. (gimana mau ketemu yah)

Tapi memang saya pernah kirim kartu pos dari Tokyo, dan dibalas…lalu 2-3 kali tahun kami saling bertukar kartu natal. Sesudah tahun 1995 putus informasi, dan ketemu lagi akibat teman SMP yang juga FEUI dan ternyata juga teman dekatnya Dadi di fakultas. Jadi deh saya bertemu Dadi hari ini. I’ts a small world afterall.
Penataran dan Ospek UI 1986, satu episode lagi dalam hidup saya yang timbul kembali dari perjalanan saya kali ini. Lucu juga summer 2008 ini karena bisa menjadi semacam tapak tilas bagi saya (kayak orang uzur menjelang **** aja ya tulis autobiografi dan tapak tilas…. but you`d never know….). Kita juga tidak tahu apakah tulisan saya ini akan ada di dunia maya terus atau tidak. Yang pasti kalau saya tidak bayar domain per-tahun maka akan hilang, tidak seperti teman-teman yang pakai wordpress langsung. Someday, somewhere, somebody will read this…. I hope.
Well Dadi, good luck with your job…dengan posisi yang bagus tentunya…Kalau aku balik lagi maybe kamu udah president director ya hehehe. Salam untuk Yanti-san. And thanks for the dinner at KOI yang artinya ikan koi (koi ada dua arti, ikan koi atau cinta, tergantung kanjinya). Nice place (dan tamunya orang bule semua…sayang ngga ada yang cakep…hehhehe…… ) [pasti aku dimarahin deh jalan sama cowo masih lirik sana-sini hihihi]{alasannya…kan musti scanning setiap tempat yang kita datangi…meticulous observant}

aneh sekali judulnya ya… Tapi emang sepertinya Sabtu ini (9 Agustus) banyak pertentangan batinnya. Antara ingin maju ke depan, tapi seakan-akan ditarik mundur dan ingin mengenang masa lalu. Bermula dari pernyataan seorang teman di MP, “Mel, aku juga belakangan ini jadi agak males step back in time.” Kita termasuk orang-orang pencinta lagu-lagu 80-an dan selalu hunting musik lama yang langka. Sampai cari di toko loak, dan kalau ada satu yang sudah dapat akan upload di MP share dengan contactnya saja. Well, aku juga tidak sampai segitunya, ubek-ubek Aquarius saja sudah cukup. Dan sampai detik ini saya belum membeli CD jadul satu lembarpun.
step back in time…. perlukah? hanya untuk nostalgia….tapi juga membangkitkan kenangan lama. Untungnya saya tidak mempunyai lagu-lagu lama yang bisa dikaitkan dengan sebuah memori tertentu, yang bila mendengarnya bisa membuat menangis terharu-biru. Atau memang saya sudah mati rasa.
Well, seperti kata teman saya itu…step back in time mungkin tidak boleh sering-sering, dan dilakukan dalam kondisi hati yang sedang riang saja.
Sesudah menulis posting tentang pergi ke Cafe Pisa, lalu saya online di YM sebentar, dan bang Hery buzz saya tanya apakah hari ini ada reuni dengan sastra Jepang. Well, sebetulnya memang kita berencana untuk bertemu lagi makan siang. Tapi satu-per-satu anggotanya menyatakan tidak bisa. Untung saya belum pesan tempat juga, so… tidak jadi reunian nya. Kosong hari ini. Karena kebetulan Mbak Yuli bisa dan mau bertemu, Saya janjian dengan bang Hery bertemu di Starbuck Senayan City, jam 4 sore. Untung saja kita bertiga jadi bertemu, sehingga hari Sabtu ini bisa saya pakai dengan efisien (baca ngga bete di rumah). Dengan badan yang segar sudah dipijit Yu Tum, 20 menit ke Senayan City (lamaan cari taksinya deh). Dan memang jalanan macet.
Ngalor ngidul bercerita (maaf ya Bang dan si mbak yang cantikdan pintar …kebanyakan saya yang bicara) sambil makan es krim lewat jam 6:30. Karena si abang sudah capek nyetir, kita berpisah di lantai 3 tanpa makan malam bersama (ngga jadi deh makan di Ootoya). Hmmm lalu ada waktu banyak untuk jalan sendirian dan window shopping. Terus terang, window shopping bukan sifat saya. Ngga betah. Tapi waktu saya lihat ada toko buku internasional, saya masuki toko itu. Siapa tahu ada novel bagus, pikir saya. Sambil melihat-lihat buku-buku yang dipajang…. saya merasa kok saya berbeda dengan dulu. Tidak ada buku yang menarik untuk saya ambil dan paling sedikit baca sinopsisnya. Buku-buku yang dipajang berwarna pastel, kebanyakan bercerita soal cinta, anak muda dan backpacker, perjalanan…. (Kalau trilogynya Andrea Hirata sudah dibelikan Melati san jadi saya tidak usah beli lagi). Huh… kenapa tidak ada satu judulpun yang menarik sih? Sempat terpegang buku tentang Tarot yang pasti dibeli si Lala, seharga Rp100.000…. tapi masak aku saingan sih belajar Tarot sama Lala heheheh.
Ada deretan bukunya Agatha Christie…. sudah punya dan sudah baca semua. Ada buku2 komputer, ….tidak menarik (bagaimana cara Hacking…. buat apa coba?). Ada ceritanya Marga T, tapi cuman ada buku 4-5 nya saja…. Hmmm bete bener deh. Lalu saya kembali ke bagian pintu masuk dan bertemu dengan novel bahasa Inggris dengan judul Twilight. Wow judul blog saya…. The twilight saga…. Cerita tentang cinta seorang wanita dengan vampire. Cinta lagi…huh saya pikir but karena gaya cerita di sinopsisnya kelihatan bagus… ingin aku beli. Lihat harganya Rp169.000 dengan ketebalan seperti kamus Inggris heheheh. Satu buku tuh (mungkin sekitar 10 $ ya….) Dan saya ingin beli semua seri…berarti itu bisa menyita seperempat koper. So…hasilnya… saya batalkan beli, dan akan pesan melalui amazon saja sekembali di Tokyo. Memang lebih murah sedikit jika membeli di Indonesia, dibanding di Jepang. Tapi beratnya itu loh. Saya masih ada satu novel untuk persediaan baca di dalam pesawat, jadi cukuplah itu.
Sesudah dari toko buku, masuk toko CD dan beli DVD film Indonesia yang saya belum punya untuk koleksi. (Paling nanti Melati san yang nonton ya hehehhe)…. Dan pulang dengan rasa ingin tahu buku Twilight tadi. Cari-cari di web dan ketemu web pengarangnya Stephenie Meyer. Ada yang pernah baca? Kelihatannya novel ini akan difilmkan juga ya. Hmmm horor tapi romance… trus bacanya malam-malam hihihihi. terus bayangin vampirenya datang…terus …. ahh aku bayangin si Zorro aja deh (my hero when i was 7 y.o)
Softly he brushed my cheek, then held my face between his marble hands.’Be very still,’ he whispered, as if I wasn’t already frozen. Slowly, never moving his eyes from mine, he leaned toward me. Then abruptly, but very gently, he rested his cold cheek against the hollow at the base of my throat.
As Shakespeare knew, love burns high when thwarted by obstacles. In Twilight, an exquisite fantasy by Stephenie Meyer, readers discover a pair of lovers who are supremely star-crossed. Bella adores beautiful Edward, and he returns her love. But Edward is having a hard time controlling the blood lust she arouses in him, because–he’s a vampire. At any moment, the intensity of their passion could drive him to kill her, and he agonizes over the danger. But, Bella would rather be dead than part from Edward, so she risks her life to stay near him, and the novel burns with the erotic tension of their dangerous and necessarily chaste relationship.
Meyer has achieved quite a feat by making this scenario completely human and believable. She begins with a familiar YA premise (the new kid in school), and lulls us into thinking this will be just another realistic young adult novel. Bella has come to the small town of Forks on the gloomy Olympic Peninsula to be with her father. At school, she wonders about a group of five remarkably beautiful teens, who sit together in the cafeteria but never eat. As she grows to know, and then love, Edward, she learns their secret. They are all rescued vampires, part of a family headed by saintly Carlisle, who has inspired them to renounce human prey. For Edward’s sake they welcome Bella, but when a roving group of tracker vampires fixates on her,the family
is drawn into a desperate pursuit to protect the fragile human in their midst. The precision and delicacy of Meyer’s writing lifts this wonderful novel beyond the limitations of the horror genre to a place among the best of YA fiction. (Ages 12 and up) –Patty Campbell