Arsip Kategori: Blogthing

HB dan satchel

Anda tahu kedua kata bahasa Inggris di atas? Apa yang terlintas jika membaca singkatan tersebut? Pensil HB, 2B ? atau Happy Birthday? Atau Home Base (bagi orang Jepang pecinta base ball pasti akan terpikirkan soal Home Base setiap melihat singkatan HB).

Kedua kata bahasa Inggris itu baru aku ketahui dari siaran pagi di televisi Jepang. Lupa chanel berapa, tapi sebuah pojok yang mengajak orang Jepang untuk mempelajari satu kata bahasa Inggris baru setiap hari. Dan yang ingin kutulis hari ini ya mengenai si HB dan satchel.

HB yang dimaksud oleh si pembawa acara adalah, “Hurry Back” yang disingkat HB dalam pembicaraan singkat seperti dalam chatting. Pemakaiannya misalnya:

A: brb gtg (be right back got to go)>>> bentar ya gue musti pergi
B: hb (hurry back) >>> cepetan gue tungguin

Sayangnya meskipun aku sudah lama berchatting ria, baru tahu ada singkatan gini… atau akunya kuper aja kali ya? Kamu tahu?

Kata yang kedua adalah satchel. Pertanyaan awalnya sebetulnya “Ransel dalam bahasa Inggris apa?”
Perlu diketahui ransel itu bukan bahasa Inggris, dan kalau aku tanya kepada orang Jepang, mungkin dia akan merasa itu bahasa Inggris karena  biasanya tertulis dalam katakana (garaigo – bahasa dari luar negeri). Dan kalau tanya orang Indonesia, mungkin malah berpikir ransel itu bahasa Indonesia 😀 Tapi sebenernya ransel itu bahasa Belanda. Dan setahuku bahasa Inggrisnya rucksack atau backpack. Namun, si pembawa acara mengatakan bahwa ransel itu bahasa Inggrisnya satchel.

Ransel sekolahnya Riku waktu kelas satu pakai lapisan kuning untuk menyatakan bahwa murid kelas 1 SD dan baru pertama kali jalan ke sekolah sendirian. (Diperhatikan warga sekitar dan polisi )

Bukan Imelda kalo ngga puas dengan jawabannya dong… Masa gue salah sih? Jadilah aku browsing di google image apa sih itu satchel , yaaaah ternyata dari foto-fotonya saja sudah ketahuan bahwa ransel itu tidak sama dengan satchel. Lalu aku sempat bertanya pada Gen, kenapa si pembawa acara kasih tahu jawaban yang aneh begitu ya? Lalu kesimpulan Gen, mungkin karena dia mau mengajarkan sesuatu yang jarang didengar/dipakai sehingga kelihatan lebih pinter! Hmmmm …. padahal menurutku TV harus lebih cermat mengajarkan sesuatu, jangan nanti malah orang Jepang atau si penonton dibodoh-bodohi orang bule kan? Kirim komplen ngga ya? hihihihi (segitunya…. tapi terus terang aku paling malas loh komplen ngga seperti temanku yang sedang berwisata ke Lombok tuh. Mungkin karena aku sudah tua kali ya jadi energinya sudah sedikit? :D)

Diambil dari :http://intheircloset.com/proenza-schouler-ps1-large-leather-satchel Bener kan ransel dan satchel berbeda sekali 😀

 

12

Tanggal 12 Februari, cocok untuk mengerjakan dua belas  pe-er dari ibu Chocovanila.Yakkk, sebelum tanggal berganti aku cepat-cepat selesaikan ya.

Dua belas kelebihan Anda

1. Sejak tinggal di Jepang, bisa makan dalam 5 menit jika perlu.
2. Impulsif dan kadang nekat
3. Tidak mudah tegang di depan TV atau mike radio
4. Bisa makan apa saja dan di mana saja
5. Bisa berteman dengan siapa saja
6. Cuek dan to the point jika perlu 😀
7. Mau mendengar curhat orang/ menerima konsultasi 😀
8. Tidak cepat panik, tapi cepat merasa kesepian 😀
9. Bisa mengoperasikan studio radio, bisa masak, bisa (sedikit) jahit, bisa nyanyi, tapi paling tidak bisa berdansa/menari.
10. Pernah tampil di TV Jepang 3 kali – live, 2 kali rekaman
11. Pernah menjadi narator buku pelajaran bahasa Indonesia, pengisi suara iklan telepon internasional, panduan penumpang pesawat JAL, video promosi Yamaha, sulih suara dalang.
12. Di antara sekian banyak wawancara surat kabar Jepang, yang paling dianggap berbobot adalah tampil di harian Asahi dalam kolom HITO, (semacam perkenalan tokoh), yang katanya sulit untuk bisa masuk kolom ini.

Dua belas hal yang paling tidak Anda sukai

1. orang yang snobbish atau sok tahu
2. pamer merek dan kekayaan, (juga titel berderet-deret <<ini mah ngiri kali yah hahaha)
3. mobil sport (kayaknya dari awal udah bilang “ngga terima tumpangan” hahaha)
4. picky eater meskipun mencoba untuk bisa toleransi pada mereka yang punya beberapa ketidak sukaan. Kalau alergi lain lagi loh ya.
5. nyisain makanan dengan mudahnya:D
6. manja terusss (sesekali sih boleh)
7. jelekin sahabat sendiri di depan umum
8. berbohong
9. menggampangkan segala sesuatu
10. orang yang pelit
11. tidak tepat waktu
12. televisi, infotainment dan sinetron

Dua belas hal tentang Jakarta

1. kampung halamanku
2.  daerah selatan yang rindang dan masih hijau
3.  rumahku, dan tempat aku lahir
4. jajanan keliling
5. macet
6. panas
7. ke mana-mana naik mobil
8. metromini dan kopaja
9. Blok M Plaza dan Ratu Plaza, dua tempat main jaman SMA
10. Summitmas Tower, tempat aku belajar tambahan bahasa Jepang di Japan Foundation
11. TMII
12. Bajaj <<rindu bajaj, soalnya ngga ada di Jepang 😀

Dua belas tujuan wisata yang paling diinginkan :

1. Belanda (Keukenhof dan bertemu keluarga di sana)
2. Spanyol (Pengen bertemu cowok cakep di sana :D)
3. Lourdes (Pengen berdoa yang banyak)
4. Roma (Pengen menelusuri gereja-gereja di sana sekali lagi)
5. Nagasaki (Pengen melihat kota tempat perkembangan agama katolik pertama kali di Jepang)
6. Korea (Pengen MAKAN! bukannya ketemu idolanya bibi erry :P)
7. Kanazawa (melihat pemandangan di Taman Kenroku)
8. New York (Bertemu teman-teman di sana)
9. LA untuk bertemu saudaraku, EMMA  dan Lake Tahoe or lake apa saja deh,( aku pecinta danau!)
10. New Zealand (menurut bapak mertuaku pemandangannya bagus katanya di sini )
11. Sapporo (Snow Festival)
12. Swiss (Pengen ketemu Heidi :D)

Dua belas makanan yang paling Anda gak suka:  cuma satu : NATTO hehehe (penampakannya seperti di sini)

Menjawab 12 pertanyaan:

1. Apa arti dari nama Anda?
Imelda = nama santa, Emma = nama pemberian papa sesuai nama ibunya (oma), Veronica = nama permandian.
2. Apa maksud judul/tagline blog anda, dan kenapa anda memilih kalimat tersebut?
Menikmati setiap detik sebagai perjalanan kehidupan sampai tiba akhir perjalananku.
3. Kenapa anda ngeblog?
Mencatat pengalaman dan informasi yang mungkin berguna
4. Apa yang paling Anda takuti di dunia ini?
Takut kehilangan teman/sahabat
5. Apa yang paling tidak Anda sukai?
Dibohongi
6. Apa yang anda lakukan untuk menjaga lingkungan?
Mengurangi pemakaian plastik, mendaur ulang makanan dan barang-barang yang masih bisa dipakai (tidak mudah membuang barang)
7. Sebutkan 1 orang yang paling anda cintai.
kedua anakku.
8. Apa yang anda lakukan untuk menjaga kesehatan anda?

Sedapat mungkin tidak makan jerohan dan udang/kepiting.
9. Apa yang membuat anda menjadi nyaman?
Mandi berendam air panas/ hot spring
10. Apa hobi Anda?
Membaca, masak, nyanyi, makan!
11. Apa motto hidup anda?
“You Can if You Think You Can”
12. Apa yang anda ketahui tentang transportasi umum?
Transportasi untuk umum adalah transportasi yang disediakan pemerintah (daerah) untuk warganya dengan harga terjangkau dan mencakup semua daerah.

Bu Choco… pe-ernya udah benar belum? Apa ada yang belum dijawab?

Ada yang mau dikasih pe-er ngga?Langsung kerjain aj, pertanyaannya sama kecuali yang tentang Jakarta, diganti dengan Tokyo ya heheheh.

 

STOP PRESS:

tadi pada pukul 8:46 pagi waktu Indonesia bagian barat, ANGKA CANTIK komentar ke 21212 telah tercapai, setelah duel seru antara Nicamperenique dan Uda Vizon. Aku yang tidak mau kehilangna moment penting terus menerus refresh posting ini dan berhasil memotret detik-detik pencapaian komentar ke 21212 itu, sebagai berikut.

Untuk Nique akan aku cari hadiah spesialnya. Kalau ada keinginan boleh disebutkan, asal jangan tiket pesawat pp Jk-Tky (kalo ada tiket pesawat, mending aku yang mudik hehehe)

Selanjutnya…. sekitar 1000 komentar lagi menuju jumlah 22.222. Bisa tercapai sebelum summer ngga ya? (Tergantung kerajinanku menulis sih itu hehehe). Ditunggu loh.

 

Cinta Sejati

 

Cinta Sejati

 

Cinta sejati tak butuh nama

tak butuh wujud fisik

tak butuh kata-kata manis

tak butuh tempat

 

Hanya butuh AKU dan KAMU

dan rasa CINTA itu sendiri

tanpa nama tanpa wajah tanpa basa basi

 

Aku tak peduli siapa namamu

bagaimana wajahmu

tapi aku peduli

bagaimana kabarmu dan apa isi hatimu

 

                                                                                                           ****imelda, jan 2012****

 

Ungkapan Anti Biasa, Ungkapan Dengan HTML

—————————————————————————-

sekedar catatan untukku :

http://www.w3schools.com/cssref/playit.asp?filename=playcss_line-height&preval=150%25

http://immigration-usa.com/html_colors.html

Nasi Menjadi Bubur

Sedikit intermezo di pagi hari yang mendung di Tokyo, setelah kemarin turun salju. Dinginnya masih menusuk sampai ke tulang, sehingga malas untuk pergi ke luar rumah. Lebih menyenangkan tinggal dalam rumah yang hangat sambil makan yang panas-panas.

Nah kebetulan aku ada satu wadah berisi nasi kering. Ya karena di sini dingin, sering kalau lupa dibiarkan di luar, nasi cepat sekali menjadi kering. Belum lagi sisa-sisa nasi anak-anak yang tidak termakan. Biasanya nasi yang masih bersih aku kumpulkan dalam satu wadah tupperware dalam lemari es. Kebetulan pagi ini, waktu aku memeriksa lemari es, masih ada bayam, mitsuba (daun seperti kemangi di Jepang, bisa juga pakai mizuna) waluh, singkong dan jagung kaleng (kalau musim dingin tidak ada jagung segar). Jadi deh nasi keringku menjadi bubur manado (bubur tinutuan) . Bumbunya bubur tinutuan itu sebenarnya apa sih? Kalau aku paling suka yang gampang yaitu hanya garam dan…. daun kunyit. Ternyata daun kunyit itu yang menentukan bau bubur itu harum dan rasanya enak. Kalau pakai daun sereh terlalu pedas. Karena itu aku selalu ada persediaan daun kunyit dalam freezer.

from deMiyashita's Kitchen

Tapi bubur manado itu belum lengkap kalau tidak ada sambal dan ikan asin! Untuk ikan asin aku lebih suka ikan jambal roti atau ikan gabus. Padahal orang manado asli mungkin pakai ikan roa ya. So, yang suka makan bubur manado, masak sendiri aja! (Menjawab reply nya Nique di postingnya “Kerupuk Getas“.

Tongcai yang sering dipakai untuk bubur ayam. Kalau lihat kanjinya ya artinya : Sayur (Musim) Dingin

Selain bayam yang harganya melangit di musim dingin, waluh dan ubi banyak dan murah. Kecuali sawi putih yang memang banyak dipanen, semua sayur yang berdaun memang naik harganya di musim dingin. Jadi biasanya untuk mengatasi kekurangan hasil panen sayur, orang Jepang banyak memakai acar dan sayur yang dikeringkan. Aku sendiri baru tahu di sini bahwa sayur kering tongcai 冬菜yang biasa dipakai untuk bubur ayam terbuat dari  sawi putih yang diacar sampai warnanya berubah…dan asin sekali.

Sayur beruang yang kubeli di "Loker Sayur" sistem penjualan tanpa penjaga. Masukkan 100 yen, padahal harganya kurang dari seratus yen, jadi oleh si empunya ladang uang kembaliannya diselotipkan pada plastik sayur itu. Praktis!

 

 

Pencapaian

Hanya mau posting pendek saja, mumpung awal bulan baru…. padahal tadi sempat tergoda untuk libur posting.

1. Selama bulan November aku BERHASIL menulis 29 tulisan. Ya setiap hari satu kecuali tanggal 1 November karena aku sakit. Kadang tergoda untuk tidak posting,dan saat malas seperti itu waktu  mendekati jam 12 malam, sambil membuka dashboard, aku berkata, “OK mel tulis..apa saja. Yang penting nulis, kalau perlu pakai foto”. Senang dan puwassss deh bisa mengalahkan diri sendiri. Semoga masih bisa diteruskan lagi.

2. Berkat dukungan dari teman-teman Twilight Express sejak awal terbit sampai sekarang sudah mendapatkan lebih dari 20.000 komentar. Dan seperti kebiasaanku, aku membalas tidak memakai kolom komentar, tapi langsung menjawab di bawah komentar teman-teman (kalau sempat dijawab yah,….. banyakan ngga sih …mohon maaf belum bisa perfek pengaturan waktunya sih). Jadi jumlah 20.000 itu murni dari teman-teman. Domo arigatou gozaimasu….sambil menjura. Dan komentator ke 20.000 adalah Indobrad (lucu deh, dia jaraaaaaang banget ke sini, tapi lucky bener dapat hadiah dari TE). Selamat yah. Next target angka cantiknya adalah: 20202 deh (Ayo Uda, pantau terus yah :D)

Komentator ke 20.000 untung masih keburu dicapture.....

 

Masih banyak calon tulisan mentah di draft, masih banyak di kepala. Ide-ide baru yang menunggu antrian diselesaikan, padahal waktu cuma sedikit. Apalagi menjelang tutup tahun yang sibuk. Hari ini saja Tokyo dingiiiin sekali, max 7 derajat. Brrrr. Tapi malam ini kami masih bisa bertahan tidak pakai heater di dalam rumah. Yang pasti kami harus menjaga kondisi badan supaya tetap sehat, dan tidak kalah dengan virus flu. Aku berharap teman-teman juga demikian.

Aku tutup tulisan ini pukul 23:43 malam. Good night….

Mainan, antara Kreatifitas dan Investasi

Anak-anak dan mainan memang tidak bisa dipisahkan. Sehingga terkadang orang dewasa yang masih suka dengan mainan akan diejek, “Kamu itu seperti anak-anak saja!”. Padahal mainan itu juga diperlukan oleh orang dewasa sebagai hiburan.

Di Jepang ada peribahasa” よく学びよく遊べ Banyak belajar banyak bermain”. Bahkan ditekankan dalam keterangan pepatah itu : りっぱな人間になるためには、勉強するときにはしっかりと勉強をして、遊ぶときにはとことん遊ぶべきだということ (Untuk menjadi manusia yang sempurna, waktu belajar, belajar sungguh-sungguh dan waktu bermain juga harus benar-benar bermain). Dan untuk bermain memang ada dua jenis, dengan alat atau tanpa alat. Setiap orangtua tentu ingin membelikan alat bermain/ mainan kepada anak-anaknya dan idealnya memang membelikan mainan yang edukatif dan kreatif sehingga  selain bermain, anak-anak juga dirangsang untuk berpikir dan berkreasi. Dan mainan edukatif  ini beraneka ragam jenis dan bentuknya.

Anakku Riku (8tahun) belum sampai setahun ini sangat getol dengan mainan LEGO. Tahu Lego kan? Sering orang Indonesia menamakan LEGO untuk segala macam mainan balok, tapi sebetulnya Lego adalah merek! Ya fenomena yang sama dengan penamaan semua carian penghapus dengan TippEx padahal mereknya bukan TippEx, atau Yamaha untuk semua sepeda motor. (Bisa baca tulisannya Donny yang ini). Kembali lagi ke Lego, aku cukup terperanjat waktu aku bercakap-cakap dengan sahabatku Ria, dan dia mengatakan dia tidak tahu LEGO itu apa. Pikirku semua orang tahu LEGO itu apa…. padahal jelas saja kalau tidak punya anak, mungkin tidak tahu apa itu LEGO. Kata Ria: “Maklum mbak dulu waktu kecil tidak ada uang untuk beli mainan begitu….” Waaaah aku juga sama lah. Aku bahkan sama sekali tidak punya mainan, baik boneka, atau karakter-karakter lain. Makanya begitu gede aku pernah membeli boneka anjing besar yang kunamakan Ben! (Padahal ngga dimainin juga sih….. memang dari sononya tidak suka mainan!)

Setiap "merubah" kreasi legonya, Riku sendiri mengambil foto dokumentasi. (untung digital yah hihihi)

Aku juga tidak tahu sejak kapan aku tahu soal mainan LEGO. Mungkin aku tahu lewat iklan atau gambar di TV. Dan aku pernah melihat sebuah tayangan di televisi Jepang mengenai pabrik Lego (entah di mana) yang begitu besar, dan masing-masing pegawai bisa memakai sepatu roda dan atau segway dalam pabrik dan dibiarkan mempunyai jiwa bermain, untuk bisa membuat lego-lego bentuk baru. Rasanya enak sekali bekerja di sana.

 Lego berasal dari Billund, Denmark yang sejarahnya dimulai tahun 1940-an. Penciptanya Ole Kirk Kristiansen yang awalnya membuat balok-balok kayu tahun 1932. Perusahaannya bernama Lego, berasal dari bahasa Danish (Bahasa yang dipakai di Denmark) : leg godt yang berarti bermain dengan baik. Pada tahun 1947 bahan balok-balok ini berubah menjadi plastik, dan tidak mengalami kemajuan karena banyak orang yang lebih suka pada balok-balok kayu. Lego modern dikembangkan tahun 1958 dengan suatu ukuran yang pasti, sehingga loga dari tahun 1958 itu masih tetap dapat dipakai (disambung-sambungkan) sampai dengan sekarang.

Lego pertama Riku waktu dia berusia 1 tahun adalah DUPLO yang ukurannya besar. Kebetulan paket yang kami beli itu berjudul “kebun binatang” sehingga ada bentuk binatang, pohon kelapa, bunga selain kotak-kotak  beraneka ragam. Baru waktu dia berusia 4 tahun dia mempunyai lego ukuran standar, bahkan sampai mempunyai 2 kotak besar, satu di rumah kami dan satu di rumah mertua. Tapi waktu Riku kecil, dia belum begitu aktif bermain lego ini, karena mungkin belum menemukan “keasyikan”nya.

Tapi waktu Kai berusia 3 tahun, dia sering mengambil Legonya Riku. Mungkin mulai saat itu  Riku  (usia 7 tahun)merasa tidak mau kalah dengan adiknya, dan kebetulan 3 teman bermainnya gandrung dengan lego. Game nintendo yang mendominasi permainan waktu Riku berusia 5-6 tahun akhirnya sekarang hanya dipegang sekali sebulan (dan mamanya bersorak-sorak)

Dan kalau berbicara soal mainan Lego ini, aku sering harus menahan nafas. Harganya mahal! Karena itu kami hanya membelikan waktu ada peristiwa khusus misalnya ulang tahun dan natal. Tapi melihat “passion” dia waktu membangun bentuk-bentuk yang dia inginkan, melihat kemungkinan-kemungkin memakai parts kecil-kecil atau bahan lain digabungkan untuk mewujudkan kreasi yang dia inginkan, aku juga jadi semangat untuk membantu dia mengumpulkan bagian-bagian yang dia inginkan (kalau perlu aku berkorban tidak membeli lunch waktu kerja untuk bisa membelikan parts itu). Dia membuat luncuran dari karton bundar bekas tissue WC, atau memakai benang transparan menggantungkan jendela atau orang-orangan supaya dapat meluncur atau melayang. Dengan bantuanku dia membuat mantel hitam bagi orang-orangannya. Jadi lego yang dijual dengan motto “membina kreatifitas” juga bisa diperluas dengan melengkapi memakai bahan-bahan lain. Sayangnya Riku masih belum bisa menambahkan “motor” untuk menggerakkan parts-parts atau menambahkan lampu kecil. Dia masih terlalu kecil tapi jalan menuju itu terbuka lebar.

Sekarang Riku sedang jatuh cinta pada set yang mengambil cerita dari Star Wars, dan kalau mau mengumpulkan semuanya bisa jutaan. Lucunya dia malah tidak mengikuti bentuk yang sudah ada, tapi membuat kreasi sendiri, misalnya pangkalan dan pesawat yang aneh-aneh, tidak sesuai dengan manualnya. Setiap kali ada parts baru yang temannya punya, maka dia juga akan minta dibelikan. Biasanya kalau mahal aku menyuruhnya menunggu sampai Natal. Kalau murah, dia harus menunjukkan test dengan nilai 100 dulu baru dibelikan.

Yang payah, suamiku memang sering mencari informasi mengenai Lego untuk Riku. Loh kok payah ya? hehhee… iya maklum emak-emak selalu khawatir untuk mengeluarkan duit untuk mainan. Bisa dibayangkan kalau tambah suka Lego, tambah banyak yang dibeli, tambah banyak uang yang dikeluarkan, dan…tambah berantakan deh rumahnya :D. Tapi Gen (dan saya tentunya) ingin agar anak-anak mempunyai sedikitnya satu hobi yang ditekuni sungguh-sungguh. Sekarang Riku masih dalam proses mencari seperti menangkap kupu-kupu dan membuat specimen, atau mengumpulkan perangko, memasak dll.

Gen menemukan sebuah informasi tentang sebuah proyek  untuk membuat “Sky Tree” dari 133.320 buah lego yang kemudian dipamerkan di National Museum of Emerging Science and Innovation tanggal 22 Mei yang lalu. Proyek ini diikuti 100 anak selama 40 hari! Sayang kami terlambat mendaftarkan Riku untuk ikut acara itu (tempatnya jauh juga sih). Katanya sih skalanya 1:100 dibandingkan aslinya. Bisa dibayangkan semangat anak-anak itu membangun sesuatu yang spektakular, dari mainan.

Selain itu dari informasi yang didapat  Gen, di Universitas Tokyo, universitas nomor satu di Jepang, ada klub pecinta Lego (Bayangkan mahasiswa saja masih suka mainan Lego hihihi)! Jadi Riku pernah berkata: “Aku mau masuk klub itu”
“Ya tentu boleh saja, tapi masuk Universitas Tokyo itu susaaaaah sekali loh. Musti belajar rajin, karena hanya anak pintar yang bisa masuk Universitas Tokyo”….
Ya, memang katanya banyak anak yang mau masuk Universitas Tokyo hanya karena ingin masuk klub Lego itu. hihihi. Semoga tercapai deh (dan tidak berubah).

Jadi memang kadang kita harus mengeluarkan uang untuk membeli mainan bagi anak-anak. Anggap saja mainan itu sebagai INVESTASI untuk masa depan anak-anak kita. Soal mahal atau murah tentu bisa disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dan prioritas keluarga masing-masing.

Artikel ini untuk memeriahkan Mainan Bocah Contest di Surau Inyiak

 

(Dan sebetulnya hari Minggu siang ini, Riku dengan papanya sedang pergi ke Festival SMP/SMA almamater papanya, yang menampilkan juga klub Lego. Tapi aku tidak bisa menunggu foto-fotonya karena hari ini adalah hari terakhir Kontes Mainan Bocah)

Hari Blogger?

Aku disapa Uda Vizon di twitter begini: “hai.. Ini hari Blogger ya? Baru tau.. *dipecat jadi blogger*”. Well sebetulnya aku memang sudah tahu sejak tahun 2008 bahwa tanggal 27 Oktober adalah hari Blogger, tapi kupikir alasannya karena pelaksanaan Pesta Blogger selalu diadakan pada bulan Oktober. Eh ternyata setelah googling baru tahu bahwa sebetulnya sudah sejak 2007 lah tanggal 27 Oktober itu ditetapkan menjadi Hari Blogger Nasional oleh Mohammad Nuh (Menkominfo saat itu), pada pelaksanaan PB 2007.

Well, aku memang iri hati pada teman-teman di Jakarta/Indonesia yang mempunyai berbagai wadah, dan kesempatan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan blogger. Akupun malah tidak tahu apakah aku bisa dianggap sebagai blogger Nasional atau tidak, meskipun aku sudah ngeblog sejak th 2005 di blogspot, dan disambung di Twilight Express ini sejak 2008. Waktu di blogspot memang aku matikan fungsi komentar, dan yang tahu bahwa aku menulis blog hanya teman-teman dekat dan saudara. Baru di TE ini aku membuka diri, dan mulai jalan-jalan di blogsphere, yang saat itu aku tak tahu istilahnya adalah BW atau blogwalking.

Aku tidak pernah hiatus lebih dari 1 minggu, sehingga minimum postingku sebulan ada 9 buah. Tidak pernahkah aku merasa bosan? Sering! Dan aku sering merasa sedih atau kehilangan semangat menulis jika mengetahui sahabat-sahabat blogger tidak mendatangi TE, tapi kuketahui dia berwara-wiri di blog lain. Atau sedikitnya komentar yang masuk. Berarti tulisanku tidak menarik kan? Untung saja tidak pernah lebih dari 1 minggu aku bisa menemukan semangat untuk menulis kembali, berkat percakapan di media lain (chat dan FB). Dan setiap ulang tahun TE yang jatuh tanggal 1 April aku berusaha membuat laporan perkembangan blog ini. Dan selalu aku ingatkan diriku sendiri, bahwa aku menulis karena aku memang ingin menulis, ingin mencatatkan kegiatan dan pikiranku, ingin memberikan informasi tentang kehidupan di Jepang lewat cerita-cerita sehari-hariku, meskipun mungkin tidak berguna bagi yang membacanya. Karena itu aku berani mengatakan bahwa : Yes, I am a blogger! Meskipun aku bukan anggota perkumpulan blogger manapun juga (eh sekarang aku masuk Kitaindonesia.net! Untung ada Donny yang mengajak aku bergabung)

Cuma akhir-akhir ini aku meragukan identitasku sebagai blogger, sama seperti yang ditulis mas Agus Noor di tweetnya: “Selamat Hari Blogger. Punya blog, tapi ga ngumpul dengan para blogger, ternyata bukan blogger.. *baru tahu* 🙂“…. Aku juga merasakan “kesepian” yang sama, karena sepertinya sekarang yang disebut “Blogger” adalah mereka yang selain menulis juga ngumpul-ngumpul di acara-acara blogger, juga aktif  memanen dollar dengan SEO,  atau aktif mengikuti dan mengadakan Kuiz/ Giveaway atau bahkan menerbitkan buku. Aku belum bisa semuanya! Yang aku bisa sekarang hanyalah menulis, menulis dan menulis. Dan sepertinya aku harus mulai lagi recharge energiku supaya bisa menulis setiap hari seperti jaman waktu aku masih muda dulu (cihuuuy) :D, sehingga dengan sedikit bangga bisa mengatakan … Ya aku blogger!

Well, selamat hari Blogger untuk mereka yang mempunyai blog!

 

How Low Can You Go

Bukan mau meniru sebuah iklan, tapi aku memang mau bertanya How low or short can you go/resist?

Bagi ibu-ibu yang pernah menjahit, misalnya mengelim atau mengesom, pasti akan mengganti benang yang panjang jika benang dipakai sudah pendek. Tapi sependek apa kamu bisa bertahan? Aku selalu ingat cerita mamaku waktu kami masih bayi, dia sering menjahit baju bayi sendiri dan membuat aplikasi-aplikasi. Karena mau berhemat (jaman dulu kan semua mahal hehehe), dia selalu pakai benang itu sampai pendeeeek sekali, kalau perlu disambung (diikat). Kalau jaman sekarang mungkin tidak betah dan membuang benang-benang sisa yang sebetulnya masih bisa dipakai.

Benang sisa yang tadi kupakai

Tadi aku memendekkan celana panjangnya Riku, dan cuma bisa “tahan” memakai benang sampai segini, tidak bisa lebih pendek lagi 😀 (Ini pelit atau hemat ya? hehehe)

Tapi bicara soal hemat, suatu waktu aku pergi ke pertemuan orang tua dan guru di sekolah Riku. Guru Riku waktu itu, Chiaki Sensei mengatakan, “Saya senang sekali anak-anak yang hemat dengan pensilnya…. tapi kalau sudah terlalu pendek masih dipakai juga, saya khawatir berpengaruh pada tulisannya”. Iya juga sih, pasti berpengaruh pada jari tangannya juga tuh. Dan katanya Riku memang ada temannya perempuan yang pakai pensil sampai sekitar 3 cm… haduh…. Langsung aku ukur pensil Riku terpendek, ternyata “cuma” 6 cm. (Perlu diketahui bahwa di SD Jepang tidak memakai pensil mekanik atau bolpen di sekolah!)

Pensil terpendek Riku

Ada teman-teman yang bisa “berhemat” sampai pendeeeek sekali? Atau rendaaaah sekali 😀 Hemat apa?

Pertemuan

Syukurilah setiap anugerah perjumpaan karena setiap perjumpaan memberi perubahan dalam diri kita. Doakanlah setiap pribadi yang dijumpai karena melalui merekalah kasih Tuhan menjadi nyata dalam hidup kita.

Itu adalah status dari salah seorang Friend di Facebook saya, Robert Agung Suryanto OFM, seorang misionaris di Jawa Barat. Aku sendiri belum pernah bertemu dengan Pastor  Robert tapi melalui rangkaian pertemanan yang lain, bisa menjadi friendnya. Dan pagi itu aku merasa sejuk dengan status itu, karena sesungguhnya aku pun merasakan hal itu.

Jika teman-teman membaca posting-posting teman-teman blogger akhir-akhir ini memang dipenuhi oleh nuansa kopdar dan ramadhan. . Kopdar itu sendiri merupakan kata khusus yang dipakai di kalangan blogger, singkatan dari kopi darat. Teman-teman maya bertemu di kenyataan = kopdar =pertemuan. Dan selama 2 minggu aku berada di tempat kelahiranku ini, hampir setiap hari kupenuhi dengan kopdar dan pertemuan.Dan laporan mengenai kopdar-kopdar  itu belum sempat aku tulis di TE. Bagaimana bisa menulis kalau setiap hari jadwal padat? Atau jika ada waktu di rumahpun koneksi internet tidak memungkinkan? Benar-benar keteteran.

Kenapa sih aku begitu “getol” kopdar? Pernah kutuliskan dalam posting sang inyiak nya Putri di sini, sbb:

“It takes two to tango” kalau salah satu tidak mau tidak bisa terjadi sebuah rangkaian tarian indah.

Mas, aku senang kalau bisa mempertemukan sahabat-sahabat blogger, aku senang dia senang semua senang…apa lagi coba yang dicari. Apalagi kalau belum pernah ketemu. AKu ingin bisa bertemu semua kenalan, blogger, sahabat…at least sebelum semuanya terlambat dan Imelda hanya tinggal nama :D

Ada juga kok setelah bertemu malah menjauh dan bermusuhan, tapi yang penting aku sudah berusaha membuat jaring laba-laba yang kuat.

Kesempatanku hanya sekali setahun, karena aku jauh… Mungkin jika aku tinggal di Jakarta juga tidak akan segetol ini ingin bertemu teman :)

Hari Senin tanggal 25 Juli (aduh udah lama sekali berlalu ya?) itu aku melakukan dua pertemuan. Satu berupa kopdar dengan Uda Vizon dan satu berupa pertemuan dengan tokoh di dunia penulisan yaitu Mas Gola Gong. Keduanya orang yang saya hormati dan saya hargai karena kesederhanaannya sekaligus sepak terjangnya.

Memang sehari sebelumnya aku sempat kopdar dadakan dengan Uda Vizon, tapi saat itu boleh dikatakan aku tidak sempat bertukar sapa dengan Uda. Jadi pada pertemuan hari Senin itu aku mempunyai banyak waktu untuk bercakap-cakap dengannya.

Aku mengenal Uda Vizon melalui blog om-pak-mas Ordinary Trainer (memang dia makelar blog sejak aku mengenalnya th 2008). Kami mulai menjadi akrab sejak aku merencanakan kunjungan ke Kweni untuk bertemu bocah-bocah yatim di sana, Maret 2009. Jadi kopdar pertama kami adalah tanggal 5 Maret 2009 di hotel Rumah Mertua Yogyakarta. Bukan saja di kopdar pertama saja, tapi sejak aku chatting persiapan kunjungan, aku banyak belajar mengenai muslim dan agama islam  pada ustad bersahaja ini.

Setelah 2 tahun berselang, baru kami bertemu lagi kali ini di Jakarta. Tapi…rasanya kami sudah sering berjumpa, sampai aku kaget sendiri menemukan kenyataan bahwa aku dan Uda baru dua kali bertemu fisik. Rasanya aku cukup tahu tentang Uda dan keluarganya melalui blog, dan akhir-akhir ini melalui facebook.

Karena itu waktu kami melewati waktu dengan brunch sushi  di Sushi Tei Plaza Senayan, kami tidak lagi bertanya “Bagaimana kabar keluargamu” tapi sudah langsung berbicara mengenai pemikiran-pemikiran dan cerita-cerita lain yang belum diketahui dari blog masing-masing. Tentang gempa di Tohoku, tentang PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) seorang anak di Padang yang menyebabkan bapaknya pindah kerja, pindah kota. Suatu cerita yang sama yang dialami oleh adik iparku pasca gempa, meskipun penyelesaiannya berbeda. Mengenai kuliner Jepang karena kami makan sushi, mengenai pendidikan di Jepang dan lain-lain. Silakan baca juga tulisan Uda tentang kopdar kami di sini.

Satu tambahan cerita seperti yang juga sudah dituliskan Uda yaitu waktu kami keluar dari restoran sushi kami berpapasan dengan 4-5 orang murid SMA berseragam. Kami menyatakan keheranan kami dengan berpandangan, dan membandingkan situasinya dengan kami di jaman dulu. Mau traktir makan bakso saja susah, ehhh ini ke restoran sushi yang sudah pasti jauuuh lebih mahal, dan … yah bukanlah tempat makan yang cocok untuk pelajar. Mewah!

Tapi ternyata aku baru mengetahui  dari Apin sempai bahwa sekarang ada trend, kecenderungan di kalangan remaja untuk berlomba-lomba makan sushi. Seakan sushi itu menjadi “standar pergaulan”. Belum asyik rasanya kalau remaja sekarang tidak bisa makan sushi. Sehingga katanya banyak orang tua yang “terpaksa” mengantar anaknya makan sushi dan menraktir anak-anak di restoran sushi, sedangkan dia si orang tua sendiri tidak makan, HANYA SUPAYA ANAKNYA TIDAK KETINGGALAN JAMAN, dan tidak dikucilkan. Waaah suatu pendidikan yang salah. Jika alasannya untuk kesehatan (karena sushi itu memang termasuk makanan sehat) OK deh. Tapi untuk memenuhi standar pergaulan? Salah besar tuh. Turut prihatin atas kecenderungan ini. Di satu pihak aku memang senang bahwa semakin banyak orang Indonesia bisa makan dan mengetahui kuliner Jepang, tapi jika hanya untuk menjadi GAUL… tunggu dulu deh. Kerja dulu, cari uang sendiri dulu baru boleh makan makanan yang mahal. Tentu saja aku tidak menentang jika orang tua membelikan makanan mahal pada anaknya SESEKALI, karena aku juga selalu berusaha memberikan kesempatan pada anak-anakku untuk makan yang mewah dalam kondisi tertentu seperti peringatan/selamatan, tapi jangan jadikan kebiasaan. Memang benar “duit gue ini“, tapi pikirkan dampak negatifnya juga terutama di masa depan.

Terima kasih atas pertemuannya Uda. Semoga kita dapat bertemu lagi.