Karyawisata

25 Jun

Aku mengaku dulu ya, baru bisa menulis lagi setelah menyelesaikan hutang-hutang tulisan lain. Dan kebetulan malam ini belum bisa tidur (kebanyakan minum kopi) jadi aku pikir, ingin memulai kembali menulis di TE.

Hari Kamis yang lalu, Kai pergi study tour a.k.a karyawisata ke daerah Nagano. Memang 移動教室 ini merupakan program dari sekolah dasar terutama kelas 5 dan 6 (高学年)sehingga tentu saja kakak Riku juga sudah pernah (bisa baca di sini dan sini). Jadi aku sudah tahu kira-kira apa saja yang harus dibawa Kai.

Dalam shiori しおり(buku panduan) tercantum bahwa mereka harus membawa satu tas besar, dan satu tas kecil. Dalam tas besar diisi dengan baju dan baju dalam untuk 3 hari, handuk dan peralatan mandi, sedangkan dalam tas kecil, dimasukkan jaket seandainya dingin, jas hujan, payung lipat, bekal makanan dan tempat minum, serta plastik etiket yaitu plastik untuk membuang sampah, atau kalau mabuk dan m*nt*ah. Selain itu juga dompet kosong, karena pada hari terakhir mereka akan diberikan uang saku (yang sudah orang tua siapkan) untuk membeli oleh-oleh.

Kira-kira 3 minggu sebelum berangkat, kami sudah mendapat daftar apa saja yang harus dibawa (supaya bisa disiapkan jauh hari), juga berapa biaya yang dibutuhkan. Karena sekolah kami ini menginap di villa milik pemerintah daerah, biayanya sangat murah. Untuk tiga hari hanya 4900 yen, tentu sudah termasuk transportasi sewa bus dan tiket masuk tempat-tempat yang akan dikunjungi. Selain uang biaya, kami orang tua juga boleh memberikan uang saku untuk belanja oleh-oleh yang sudah ditentukan maksimum 2000 yen. Jumlah yang tidak berbeda dengan 5 tahun lalu waktu Riku kelas 5 SD. Uang 2000 yen ini kami masukkan amplop tertutup, yang akan dipegang gurunya sampai waktunya berbelanja. Ini untuk keamanan anak-anak sendiri, dan mencegah keinginan mencuri pada anak-anak (dan atau orang luar). Dianggap batas maksimum 2000 sudah cukup untuk berbelanja oleh-oleh, dan tidak ada orang tua yang memberikan lebih dari yang sudah ditetapkan, meskipun mereka kaya. Peraturan adalah peraturan yang harus dipatuhi.

Perlu diketahui, anak SD di sini tidak ada yang membawa uang ke sekolah. Mengapa? Ya karena tidak perlu uang juga. Transportasi dengan jalan kaki dari rumah. Juga tidak perlu untuk jajan, karena di sekolah disediakan makan siang. Minum pun tidak perlu karena ada “fountain” yang dipasang di sekolah. Kalaupun membawa tempat minum, kami sudah diperingatkan untuk hanya mengisinya dengan air atau teh tawar. Tidak boleh teh manis!

Lalu pertanyaannya, apakah anak SD dapat uang saku? Saya sendiri tidak pernah memberikan uang saku kepada Riku dan Kai selama SD. Riku dulu memang sering bermain dengan teman, tapi kalaupun perlu uang untuk beli jajanan, aku berikan per hari dan hanya 100yen (cukup untuk membeli jajanan murah). Kalau Kai, dia tidak pernah main di luar bersama teman, sehingga tidak pernah perlu uang. Tapi kalau mau ditanya berapa kira-kira uang saku anak SD, ya sekitar 1000-2000 yen per bulan. (Saya baru berikan sejumlah ini waktu Riku di SMP)

Kembali lagi ke karyawisata Kai. Hari pertama mereka harus berkumpul di sekolah pukul 7:20, untuk kemudian pergi ke pabrik Lotte di Saitama. Pabrik lotte ini adalah pabrik yang membuat permen karet dan kue-kue snack untuk anak-anak. Mereka membuat kue “Koala no Marchi” khusus bertuliskan nama sekolah mereka.

Setelah itu mereka langsung ke tempat penginapan yang merupakan penginapan milik pemda Nerima, sehingga biayanya juga murah sekali. Malam mereka mengadakan camp fire, dan mereka bersama-sama menarikan gerakan waktu pesta olah raga.

Keesokan harinya, Kai yang biasanya tidur jam 11 pada acara menginap ini harus tidur jam 9, jadi dia bisa bangun sebelum teman-teman lainnya bangun jam 6. Dia bertugas sebagai penyiap makanan, sehingga dia membawa makanan untuk teman-temannya ke meja makan. Setelah selesai makan, dia harus mengelap meja dan meyakinkan bahwa meja telah bersih.

Hari itu mereka mendaki 3 gunung dan diakhiri dengan makan bekal yang disiapkan di dalam bus. Memang kegiatan utama hari itu adalah mendaki gunung. Untung saja anakku yang “gede” itu bisa mendaki dengan dibantu teman-temannya. Setelah kembali ke penginapan, mereka bermain dodge ball dan melakukan “kimodameshi” (mencoba nyali keberanian). Mereka harus melaksanakan tugas dalam kegelapan.

Hari ketiga mereka bersiap untuk pulang termasuk membereskan kasur yang mereka tiduri. Saat ini Kai dipuji teman-temannya karena menegur seorang teman yang tidak rapih. Kata mereka, “Lain kali kalau pergi lagi Kai saja yang jadi ketua kelompok deh”. Entah mengapa, aku bangga sekali mendengar cerita ini. Anakku bisa dipercaya, meskipun secara fisik dia tidaklah kuat karena gemuk.

Setelah makan pagi (tentu Kai bertugas lagi), mereka mengadakan upacara penutupan Karya wisata. Kemudian berangkat ke Museum dan Kebun Apel tempat mereka mempelajari tentang penanaman dan panen apel. Baru terakhir mereka dibagikan amplop yang berisi uang (dari orang tua) untuk berbelanja. Kai membeli potato chips yang pedas, serta beberapa snack yang menurutnya “tidak ada di Tokyo”. Katanya, “Mama lucu deh. Tempat aku beli potato chips itu kan di atas gunung, jadi waktu turun ke Tokyo, kantong potato chipsnya kempes karena ada perbedaan tekanan!”. Lalu mama dengan kurang ajarnya  berkata, “Sayang perutnya Kai tidak kempes ya”…. hahaha

Aku perhatikan memang dengan adanya kegiatan bermakan dan karyawisata itu, sekembalinya anak-anakku berubah, lebih bertanggung jawab dan tidak manja lagi…. kesepian deh mamanya jarang dimintakan “peluk doong” lagi 😀

 

Youtuber

28 Apr

Aduh maaf, ternyata halaman TE sudah berdebu tebal, akibat aku tidak tulis-tulis 😀 Hampir 3 bulan ya? Sebelum ambruk TEnya aku tulis sedikit ya 😀

Tahu Youtuber? Kalau anak muda pasti tahu deh. Karena “youtuber” atau pembuat video clip di youtube ini menjadi salah satu jenis pekerjaan terbaru di kalangan anak-anak di Jepang. Mereka あこがれる terpesona pada “artis” youtube yang bisa menjelaskan atau membawakan sesuatu dengan menarik, sehingga “pengikut” atau followernya banyak.

Ada beberapa yang terkenal di Jepang, dan salah satunya sering ditonton anak bungsuku, Kai. Tapi karena aku sering marah karena tidak suka suaranya, dia jadinya sering menonton doraemon atau pokemon di youtube. TAPI sebetulnya ada beberapa youtuber yang dia suka, yang isinya mengadakan eksperimen-eksperimen. Nah, kalau yang begini aku juga tidak bisa melarangnya.

Suatu hari dia bilang padaku: “Mama aku mau menyiangi ikan! Aku tonton rupanya menyiangi ikan itu ada 2 macam ya? 二枚おろし Nimaiosroshi (membelah ikan menjadi dua)  dan 三枚おろし (membelah ikan menjadi tiga) ya. Aku mau coba”

atas nimai-oroshi bawah sanmai-oroshi

Jadi aku mengajak dia pergi ke pasar bersama dan membiarkan dia memilih ikan apa yang mau dia potong. Begitu sampai rumah, dia ambil mulailah menyiangi ikan, sambil mengingat yang dia lihat di youtube. Aku berikan contoh, terutama waktu membuang insang ikan. Ada satu ikan yang akhirnya dia buat untuk sashimi (ini sulit karena harus mencabut semua duri-durinya), sedangkan yang lainnya aku bakar.

Hari yang lain, dia minta aku belikan kepala susu 生クリーム sepulang ngajar. Tanpa tanya untuk buat apa, aku belikan saja. Begitu pulang, dia masukkan kepala susunya ke dalam botol plastik dan mengocoknya. Katanya dia mau membuat mentega 😀

Sudah dari hari Jumat dia minta aku belikan (lagi) kepala susu. Tapi karena aku tidak bisa mampir toko sebelum pulang, tadi siang aku suruh dia beli sendiri. Rupanya dia mau membuat es krim vanila. Begitu pulang dia langsung siapkan alat-alat dan dia buat sendiri. Aku hanya menyediakan tempat kecil supaya bisa dimasukkan lemari pembeku.

Dia salah takaran gulanya, sehingga tidak manis sama sekali! Tapi aku bilang padanya, toh nanti kalau sudah jadi bisa dikasih madu, atau sirup atau karamel.

Es krim hasil eksperimen Kai

Anakku yang satu ini lucu juga. Dia tidak hanya mau eksperimen masak, tapi juga yang lain. Sekitar seminggu lalu dia minta dibeikan pemoles logam, dan dia poles uang logam 10 yen jadi mengkilap. Rupanya dia menemukan uang logam 10 yen langka tahun 64 Showa (1989)  yang hanya berlangsung  seminggu karena kemudian Kaisar Showa meninggal dan diganti Heisei. Setelah dia poles mengkilap, dia bawa ke sekolah untuk diperlihatkan pada gurunya… yang sangat heran tentang keberadaan uang Showa64 itu.

Tapi untung bahan yang dia cari untuk melakukan eksperimen itu masih terjangkau untuk dibeli. Kalau dia minta yang aneh-aneh, akunya yang pusing 😀

Bank Doa

23 Jan

Ada seorang temanku yang menyebut ibunya sebagai “Bank Doa”, dan aku setuju sekali. Memang seorang ibu pasti akan mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya kan? Sayang sekali Bank Doa-ku sudah tidak di dunia lagi, sehingga aku tak bisa memintanya mendoakanku, mendapatkan pelukan dan tanda salib di dahi setiap aku menghadapi ujian-ujian berat dan bepergian. Aku tahu ibuku juga merasa cemas waktu kami anak-anaknya ujian, dan berdoa setiap hari untuk kami.

Kemarin tgl 22 Januari 2018, aku merasakan perasaan seorang ibu jika anaknya ujian! Maklum, biasanya aku sendiri, boleh dikatakan tidak pernah panik/ grogi kalau mengikuti ujian. Malah lebih panik mama daripada aku sendiri 😀 .

Ah, aku sampai sekarang merasa “berdosa” menertawakan mama yang ketakutan, panik waktu mau ujian lisan les Bahasa Inggris di LIA dulu.   Dulu waktu aku SMA, mama, aku dan adikku bertiga mengikuti les bahasa Inggris di LIA (beda-beda tingkatan kelas sih). Kami selalu naik bus bersama ke Slipi, atau kadang kami “nunut” teman kami dan teman mama yang juga les di LIA dan tinggal hanya beda 100m dari rumah kami. Ibunya bisa menyetir jadi kami bisa pergi bersama naik mobil. Nah setiap term ada ujian lisan dan tulisan. Padahal mama itu jago bahasa Inggris, tapi setiap ujian lisan mesti nervous dan ternyata mengantongi rosario! Mungkin sambil menunggu giliran dia berdoa tuh. Lalu aku tertawakan dan bilang, “Aduh mama segitunya nervous sih?”…..

Kualat! Ternyata setelah itu aku pun selalu membawa rosario kalau ujian, dan kemarin aku pun berdoa waktu anak sulungku mengikuti ujian masuk SMA.  Dan aku pun mengulangi kebiasaan mama kepada kami, aku sebagai seorang ibu yang melepas anaknya pergi ujian. Ah, rupanya begini perasaan seorang ibu pada saat-saat penting anaknya. Dan aku menjadi kangen pada mama 🙁

“We are always with you. You can do it!” Tulisan badge dari bimbel. Ada omamori juga di tasnya. Tapi aku juga tahu ada rosario di kantong dadanya, dan ada doa dariku, dari seluruh keluarga dan sahabat supaya R bisa tenang mengerjakan ujian masuk hari ini. Dalam kecemasan akan turunnya salju pagi ini, ternyata saljunya baru akan turun setelah ujian selesai. Mestakung!

Waktu melihat prakiraan cuaca akhir minggu lalu, memang sudah diprediksikan bahwa salju lebat akan turun di Tokyo. Aku pun berdoa, semoga salju itu tidak menghalangi perjalanan ke tempat ujian bagi Riku. Dan rupanya Tuhan mengabulkan doaku! Salju turun setelah siang hari, waktu dia sudah hampir selesai ujian. Dalam perjalanan pulang pun salju belum begitu banyak, sehingga dia bisa sampai di rumah dengan selamat.

Ada beberapa email masuk pada siang hari, dari sekolah SD dan bimbelnya Riku yang memberitahukan rencana pembelajaran hari itu dan esok harinya. Bahkan malam harinya, guru bimbelnya Riku menelepon dan menanyakan bagaimana ujiannya. Ah, aku suka orang-orang di sini yang penuh perhatian. Mereka benar-benar menjalankan pekerjaannya dan tulus.

“Bagaimana ujiannya Riku?”
“Sepertinya sih biasa-biasa saja sensei. Katanya bahasa Jepang dia bisa, tapi bahasa Inggris dan matematikanya sulit. Tapi ya kita lihat hasilnya saja.”
“Ya pasti tidak apa-apa.”
“Besok masih ada ujian lagi. Semoga salju tidak berkepanjangan sampai besok.”
“Ya, besok harap hati-hati waktu berangkat, jangan tergesa-gesa.”
“Terima kasih sensei, sudah dengan sengaja menelepon kami.”

Tentu aku juga tahu bahwa kelulusan (semoga) Riku juga mengangkat nama baik bimbel. Mereka bisa pasang iklan bahwa anak didiknya berhasil masuk SMA favorit. Tapi terlepas dari dunia “dagang berdagang”, aku berterima kasih karena mereka memang menjalankan pekerjaannya dengan baik dan bertanggung jawab. Aku sendiri tidak bisa mengajarkan Riku pelajaran SMP Jepang! Wong aku tidak pernah bersekolah di Jepang…..

Hari ini aku bangun pukul 5:30. Membangunkan Gen yang harus pergi kerja naik kendaraan umum. Sudah pasti kendaraan umum akan tidak lancar akibat salju yang menumpuk. Dia berangkat jam 6:30 dan baru sampai di kantornya jam 8:30 (padahal biasanya 1 jam cukup). Bus tidak jalan, mungkin karena banyak orang yang jalan di tengah-tengah jalan, jadi busnya juga sulit lewat.

ada yang memotret di tengah jalan euy… Aku juga mauuuu 😀

Nah, hari ini pun si Riku harus mengikuti ujian hari kedua. Dan kemarin, untuk mengantisipasi sulitnya transportasi SMA itu sudah menghubungi lewat email dan memberitahukan bahwa ujian diundur 4 jam dari rencana semula. Jadi ujian hari ini akan dimulai pukul 12:30 dan tadi pukul 9:00 Riku sudah mulai berangkat ke stasiun dan ke SMA yang juga butuh waktu sekitar 2 jam. Lebih baik terlalu cepat daripada terlambat bukan?

di TV juga dibilang mesti usahakan kedua tangan bebas dan pakai sepatu yang tidak mudah selip. Si perempuan depan memegang bayi yang digendong, sambil berjalan hati-hati.

Satu hal yang perlu diketahui, orang Jepang jarang memakai  “cuaca” sebagai alasan terlambat, kecuali memang sampai masuk TV. Jam 5:30 pagi di TV sudah diperlihatkan orang-orang berangkat ke kantor lebih cepat dari biasanya (biasanya 1 jam lebih awal), hanya supaya tidak terlambat sampai di kantor/sekolah. Rasa tanggung jawab yang besar inilah yang membuat negara ini tangguh, tidak mau “kalah” dengan cuaca.

Pagi ini aku pun menemani Kai berjalan ke SD, karena kemarin di email pihak sekolah menyarankan orang tua untuk “mendampingi” anak-anak jalan ke sekolah, supaya tidak terpeleset, berhati-hati berjalan dalam tumpukan salju. Dan tentu saja supaya bisa mengingatkan supaya jangan bermain salju 😀 Namanya juga anak-anak yang tangannya gatal dan sulit menahan diri untuk tidak bermain salju 😀 Lah, ibunya saja ingin sekali bermain salju jeh 😀 😀 😀 . Akhirnya ibunya bermain-main dengan camera deh hehehe.

8 Besar dari Nerima 2017

31 Des

Melanjutkan kebiasaan kami setiap tahun, untuk menutup tahun 2017 ini aku ingin menuliskan 8 Besar dari Nerima 2017.

  1. Bulan September 2017, genap 25 tahun lalu aku mendarat di Narita Jepang untuk memulai kehidupan sebagai mahasiswa S2 di Yokohama. Dan tahun ini juga kami deMiyashita merayakan ulang tahun pernikahan orang tuanya Gen yang ke 50. Gold Anniversary. Kami rayakan bersama keluarga, hanya bersembilan di hotel tempat mereka membuat resepsi 50 tahun yang lalu, Chinsanzo Tokyo. Tahun yang penuh berkat bagi kami. Sehingga aku sendiri menentukan kanji tahun ini bagiku adalah 「祝」.
  2. Riku 14 th, kelas 3 SMP dan sekarang sedang puncaknya belajar untuk masuk SMA. Selama 3 tahun dia mengikuti bulutangkis dan akibatnya bentuk badannya bagus… sangat jauh dibanding waktu dia baru masuk SMP. Tingginya sudah 170cm lebih dan yang paling mencolok adalah celana panjangnya yang kedombrongan sehingga harus pakai ikat pinggang. Untung panjang celana sudah diantisipasi pembuat seragam sehingga bisa dilepas kancingnya. Tadinya kupikir dia akan berhenti tengah jalan, tapi senang juga melihat dia bisa menyelesaikan sampai waktunya “keluar” excul yaitu musim panas dan sempat ikut beberapa pertandingan dan menang beberapa kali. Memang tidak sampai ke tingkat yang lebih tinggi, tapi lumayanlah untuk kami, keluarga yang bukan pelaku olahraga (Miyashita dan Coutrier sama-sama tidak juara dalam olahraga 😀 ). Dia akan mengikuti ujian masuk di bulan Januari nanti, dan semoga hasilnya memuaskan.
  3. Kai 10 th, kelas 4 SD. Kai selalu anak mama. Dia selalu berkata “Aku tidak bisa tidur tanpa mama” dan karenanya aku selalu membawa dia kalau perlu ke Indonesia dan menginap (2 kali ke Jakarta dalam tahun 2017). Tapi Kai juga yang selalu memperhatikan kalau mamanya sakit. Dia sudah bisa masak sendiri, sehingga kalau dia pulang sekolah dan lapar, dia akan masak nasi goreng sebagai snack timenya dia 😀 Dan akibatnya berat badannya membengkak. Sampai di sekolah semua temannya tahu dan tidak memperbolehkan dia tambah makanan waktu makan siang bersama. Ini akan menjadi PR kami berdua, aku dan Kai supaya Kai tidak menjadi rendah diri nanti jika naik kelas 5. Oh ya, Kai juga sudah mulai mengikuti bimbingan belajar sejak bulan November lalu. Dan kalau SMP Riku tahun 2017 memperingati 70 tahun, maka SD nya Kai memperingati 40 tahun. Aku tidak ikut acara apa-apa di SD Kai karena memang waktu itu aku sedang berada di Indonesia.
  4. Tahun 2017 merupakan tahun yang sibuk buat keluarga kami. Sehingga kami sudah tidak ada waktu untuk pergi bersama, apalagi mengumpulkan cap untuk 100Famous Castle. Sulit sekali menyatukan waktu aku dan Gen, apalagi Riku yang hampir setiap hari ada latihan badminton. Gen dengan posisi naik di kantor menjadi lebih banyak tanggung jawab sehingga membiarkan pegawai muda untuk ambil cuti di hari libur dan dia yang bekerja di hari libur. Tapi untungnya, tahun ini dia tidak perlu pulang sampai di rumah jam 2-3 pagi untuk kerja lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Ini juga karena ada larangan lembur dari pemerintah, sehubungan dengan meningkatnya bunuh diri akibat overworked. Jadi aku akhirnya mengambil keputusan bahwa aku yang pergi sendiri saja begitu ada hari kosong. Naik bus sendiri melihat pemandangan di Ibaraki atau naik sepeda ke Taman Tachikawa. Mungkin karena keputusan-keputusanku untuk mengambil libur sendiri ini ternyata bisa membuat balancing kesehatan, pikiran dan hati yang lumayan sepanjang tahun ini.
  5. 2017 merupakan tahun tersibuk sepanjang sejarah bagiku. Kadang aku harus mengorban janji lain demi pekerjaan yang memang bertumpuk. Sebagai sekretaris PTA kupikir HANYA mengikuti rapat sebulan sekali saja, dan sudah kuplot hari Kamis pagi untuk itu. Eh, ternyata pekerjaan sebagai sekretaris bukan itu saja (ah! memang waktu perekrutan banyak bohongnya nih hehehe). Sebelum rapat bulanan tentu harus membuat rapat pengurus inti, harus membuat agenda rapat, harus membuat laporan rapat dan menerbitkan buletin PTA. Juga harus menghadiri open school karena petugas penjaga di open school harus diarahkan oleh sekretaris! Belum lagi sekretariis ternyata juga harus mengikuti pertemuan dan kegiatan dari asosiasi PTA sekelurahan, serta di barisan pertama pada setiap kegiatan SMP. Puncaknya pada tanggal 28 Oktober yaitu perayaan ulang tahun ke 70 SMP nya Riku (dan untuk mengatur pesta perayaan ini ada rapat setiap sebulan sekali yang akhirnya aku angkat tangan tidak hadir sama sekali). Untung saja ada 3orang sekretarisnya, 1 kerja full time, 2 part time (aku da seorang lagi, tapi dia tidak bisa komputer… jadi kalau urusan hadir rapat biasanya dia yang wakilkan) .
  6. Sebagai pengelola Rumah Budaya Indonesia, yang dimulai bulan Agustus 2017, selain harus merencanakan kegiatan termasuk dekorasi dsb, aku juga membuat pamflet, membuka pendaftaran via email, dan pada hari H kerja serabutan sebagai MC atau kameraman :D. Dan tidak terlupa… laporan, laporan, laporan hehehe. Selain RBI, aku juga harus membuat laporan kegiatan untuk APPBIPA Jepang (Afiliasi Pengajar dan Pengiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Jepang) yang baru terbentuk bulan November 2017.
  7. Mulai tahun ini aku memakai buku cetakan sendiri untuk mengajar. Memang perlu modal yang cukup besar tapi dengan adanya buku tata bahasa untuk kelas dasar ini, aku tidak perlu lagi boyong-boyong fotokopian untuk mengajar. Bagi anak yang pintar dan mau belajarpun jadi bisa mempersiapkan sendiri bagian-bagian yang tidak aku ajarkan. Kemudian pada bulan Oktober aku mencetak buku ajar untuk kelas menengah yang berisi tulisan-tulisan mengenai Indonesia. Buku ini merupakan perkembangan buku yang dulu sekali pernah kutulis untuk kelas Bahasa Indonesia di Keio University (dan sudah habis). Ada 35 judul cerita umum mengenai Indonesia dalam 65 halaman, yang bisa kupilih untuk bahan mengajar kelas menengah yang tentunya sudah menguasai tata bahasa dasar. Dengan adanya buku ini aku jadi tidak perlu repot-repot lagi memilih bahan dan foto copy deh. Sekarang aku juga sedang menyusun lagi edisi ke duanya, yang isinya lebih banyak pendapatku (esai). 
  8. Sebagai penutup tulisan, sengaja saya pilihkan kegiatan ini sebagai nomor 8. Jadi sebetulnya selama 3 tahun terakhir ini, aku ikut aktif dalam pembuatan kamus bahasa Indonesia-Jepang v.v. karena diajak Ibu Funada (Ketua/Tim Penyusun). Tentu banyak orang yang ikut serta dalam pembuatan kamus ini. Sebagai penulis, kami diberikan sejumlah kata untuk ditulis dalam kamus, dan kami juga harus memikirkan contoh kalimatnya. Setelah semua kata terkumpul, pada tahun ke-3 yaitu awal tahun 2017 ini, sebagai anggota tim editor, kami harus memeriksa lagi semua tulisan yang masuk. Apakah sudah benar jenis katanya, contoh kalimatnya. Ini masih berupa halaman file. Dan tahap terakhir membaca lagi semua dalam bentuk buku apakah sudah benar letaknya, apakah tidak ada salah tulis, atau terlewati. Pekerjaan yang berat yang baru pertama kali aku geluti tapi aku merasa senang mengerjakannya. Sulit memang untuk menyisihkan waktu di antara semua pekerjaanku, apalagi kalau pas dapat halaman yang isinya kata-kata membosankan, yang sulit diekspresikan dalam bahasa Jepang, atau kata-kata aneh dan jarang yang sudah selayaknya dihapus dari kamus. Untung saja tugas penulisanku dalam 1 tahun pertama bisa dilaksanakan dalam jangka waktu yang diberikan (biasanya sekian ratus lema/turunan kata dalam satu bulan), meskipun kadang aku masih “nawar” minta perpanjangan waktu. Tapi untuk bagian editing yang terakhir, aku merasa memang aku cocok untuk pekerjaan editing yang perlu kecepatan tapi tetap harus teliti. Senang loh bisa menemukan passionku di mana, meskipun aku yakin aku tidak mau  mengerjakan editing melulu hahaha. Jadi nanti tanggal 26 Februari 2018, sudah bisa dibeli di toko-toko besar sebuah kamus Progressive Indonesiago dari penerbit Shogakukan dengan harga 4,900 yen (+tax) .                                 『プログレッシブ インドネシア語辞典』  
     B6版 1104ページ  ISBN978-4-09-515811-2,   定価: 4,900円+消費税 

    Sampai dikerjakan di restoran sambil menunggu pesanan. (bukan sandiwara karena benar-benar sudah mepet hehehe)

Tahun 2017 penuh dengan pencapaian dan peringatan. Semoga aku bisa melanjutkan pekerjaan yang sudah kupegang selama ini di tahun 2018 dengan lebih baik lagi. Dan tentunya bisa mulai menulis lagi di blog ini ya 😀

Happy New Year 2018!

Kucing yang Ingin Menjadi Manusia

27 Okt

Ini adalah judul sendratari yang dibawakan kelas 4, kelasnya Kai dalam acara pentas seni di sekolahnya. Memang bulan Oktober di Jepang merupakan bulan olahraga (Hari Olahraga pada minggu kedua Oktober), dan bulan seni. Sekolah Dasar kami menggelar pentas seni 3 tahun sekali, dan tahun ini merupakan pentas terakhir Kai yang duduk di kelas 4. Siklus 3 tahun sekali memang dimaklumi karena persiapan pentas seni ini cukup makan waktu dan bisa mengganggu target pendidikan sekolah jika dilakukan setahun sekali.

Pentas seni itu dilakukan hari Sabtu minggu lalu. Basah! Meskipun demikian masih beruntung badai  -supertaifu- belum sampai ke Tokyo. Dan karena dilakukan di dalam aula sekolah, acara tetap dilaksanakan. Banyak sekolah yang mengadakan pekan olahraga terpaksa membatalkan kegiatan mereka karena hujan. Dan entah kenapa, dalam ingatanku pentas seni 3 tahun yang lalu juga diadakan dalam kondisi hujan.

Karena pentas kelasnya Kai mendapat urutan kedua, aku berangkat cepat-cepat dari rumah supaya pas waktunya bisa masuk pada waktu pintu dibuka. Ternyata sudah cukup banyak orang tua murid yang datang dan menempati tempat duduk yang disediakan. Sedapat mungkin di depan karena mereka antusias menonton anaknya yang akan manggung. Kalau bisa satu keluarga diajak serta 😀 Paling sedikit satu anak dihadiri 2 orang (bapak-ibu), tapi tak jarang dihadiri 4 orang (bapak-ibu-kakek-nenek tambah adik/kakak) lebih. Keluarga kami hanya aku sendiri, karena Gen harus bekerja dan Riku mempunyai janji dengan teman-temannya.

Aku beruntung mendapat tempat duduk di deretan ketiga dan menikmati tampilan kelas 2 yang mempertunjukkan “Jugemu, anak bernama terlalu panjang”. Jugemu ini memang cerita klasik Jepang dan sudah kutonton beberapa kali. Tapi kali ini murid-murid kelas 2 patut kuacungi jempol. Kemasan pertunjukan yang menarik! Coba baca ringkasannya dari wikipedia:

Jugemu adalah cerita humor klasik Jepang berbentuk susunan kata pembelit lidah yang sulit untuk diucapkan dalam bahasa Jepang. Susunan kata-kata yang panjang sekali digunakan sebagai nama anak kecil (nama singkat: Jugemu). Cerita Jugemu merupakan salah satu cerita pembuka dalam seni bercerita rakugo karena merupakan permainan kata yang dapat digunakan dalam berlatih mengucapkan cerita.

Cerita Jugemu sangat sederhana. Sepasang orang tua kebingungan dalam memilih nama anak laki-laki yang baru dilahirkan. Biksu yang dikunjungi menyarankan beberapa nama untuk sang bayi yang dimulai dengan nama Jugemu. Sang ayah ternyata masih juga kebingungan, hingga akhirnya seluruh nama yang diberikan biksu dijadikan nama si anak. Pada suatu hari, Jugemu jatuh ke danau dan nyaris tidak dapat diselamatkan. Semua orang di kampung kesulitan mengucapkan nama Jugemu yang sangat panjang.

Nama lengkap Jugemu dalam romaji dan kanji (bahasa Jepang):

Romaji Kanji
Jugemu-jugemu

Gokōnosurikire
Kaijarisuigyo-no Suigyōmatsu
Unraimatsu Fūraimatsu
Kūnerutokoroni-sumutokoro
Yaburakōjino-burakōji
Paipopaipo-paiponoshūringan
Shūringanno-gūrindai
Gūrindaino-ponpokopīno-ponpokonāno
Chōkyūmeino-chōsuke

寿限無寿限無

五劫の擦り切れ
海砂利水魚の 水行末
雲来末 風来末
食う寝る処に住む処
やぶら小路のぶら小路
パイポパイポ パイポのシューリンガン
シューリンガンのグーリンダイ
グーリンダイのポンポコピーのポンポコナーの
長久命の長助

Hal yang kusayangkan adalah, aku pindah tempat duduk waktu pertunjukan Kai akan dimulai. memang ada tempat duduk matras yang disediakan di depan panggung, khusus untuk orang tua yang anaknya pentas saat itu. Diadakan pergantian setiap kelas berakhir. Karena aku melihat Kai mencari-cariku, aku menghampiri dia untuk memberitahukan keberadaanku. Dan setelah itu aku tidak bisa kembali ke tempat dudukku, dan terpaksa aku duduk di matras. Parah deh, aku tidak bisa duduk jongkok karena lutut mulai bermasalah dan menahan sakit (dan kesemutan) selama pertunjukkan berlangsung. Belum lagi aku tak bisa mengambil foto atau video tanpa terhalang orang tua lainnya.

Tapi secara keseluruhan pentas kelasnya Kai cukup bagus. Semua jalan cerita, kostum, tata lampu, musik, tata suara, pergantian latar dilakukan sendiri oleh anak-anak. Sehingga terjadi peralihan adengan yang cukup lama, karena memang panggung gelap sekali. Tapi penggunaan lampu cukup menarik, menyesuaikan adegan demi adegan. Dan aku cukup senang Kai bisa bersuara keras membawakan lakonnya, dan ikut menari dengan terampil. Dia menjadi pandai besi dalam cerita itu (sebagai salah satu warga saja sih) .

Yang menarik, aku mencari alur cerita “Kucing yang Ingin Menjadi Manusia” di google (dalam bahasa Indonesia) tapi tidak menemukannya. Padahal cerita ini merupakan cerita terjemahan dari The Cat Who Wished to Be a Man karangan Loyd Chuddley Alexander, seorang pengarang buku anak-anak terkenal dari Amerika (Pennsylvania)

Lionel, a housecat given the power of speech by the magician Stephanus, begs his master to turn him into a man. After many objections concerning the depravity of humans, Stephanus relents; and the transformed Lionel begins his adventures to town of Brightford. The mayor and his officers are plaguing Brightford with capricious rule and economic hardship. The mayor is especially covetous of the inn belonging to Gillian, with whom Lionel begins a rocky friendship. Lionel becomes entangled in the struggles of Brightford, and escalates the conflicts between the mayor and the people, while falling in love with Gillian as he becomes more and more human. (wikipedia)

Menarik! Aku sendiri benar-benar salut pada Jepang yang banyak menerjemahkan dan mengadaptasi cerita-cerita dari seluruh dunia. Benar aku merasa kaya di sini karena secara tidak langsung (melalui anak-anakku) aku banyak mengenal sastra dunia. Mungkin kalau aku di Indonesia, tidak akan mengetahui cerita-cerita yang sebetulnya merupakan karya terkenal di luar negeri.

Dari cerita drama ini, ada satu bagian yang benar-benar menyentuh hatiku adalah ucapan lakon sarjana (yang kira-kira seperti ini) : “Lionel, seekor kucing yang mempunyai jiwa manusia. Manusia sendiri belum tentu bisa. Manusia lahir sebagai manusia, melewati perjalanan panjang, pengalaman menyenangkan dan menyedihkan, serta pembelajaran yang panjang baru bisa menjadi seorang manusia sejati. ”

Ya, dikatakan bahwa masih banyak manusia yang belum menjadi manusia seutuhnya.

Masih banyak orang Indonesia yang belum bisa menjadi manusia Indonesia seutuhnya, yang menyadari bahwa dirinya bagian dari komunitas beragam, dan untuk hidup bersama perlu tepaselira, bertoleransi dalam berinteraksi dengan sesamanya.

Masih banyak orang Indonesia yang belum menghargai usaha-usaha para pendahulu untuk menyatukan Indonesia dengan pernyataan, “Berbahasa satu Bahasa Indonesia”. Aku sedih membaca timeline seperti “Anak-anak jaman now”.. apa itu? Mengapa dalam satu kalimat bahasa Indonesia, bercampur kata-kata bahasa Inggris yang tidak seharusnya. Hei! Banggalah berbahasa Indonesia, dan tugas kita untuk menaikkan martabat bahasa Indonesia. ( mengenang Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928) . Pakailah KBBI! FYI Dalam menulis posting ini aku memeriksa KBBI paling sedikit 10 kali untuk mengecek penulisan yang benar. Contohnya: adegan atau adengan 😀

Satu tambahan lagi,

Masih banyak narablog yang melupakan tugasnya untuk memajukan Indonesia dengan tulisan-tulisannya. Termasuk aku yang akhir-akhir ini absen menulis dikarenakan kesibukan di dunia nyata. Padahal kalau saja aku mau “menutup mata” sedikit, mengorbankan waktuku 1 jam, pasti bisa. Seperti hari ini kupaksakan bangun pukul 4 pagi, karena memang niat menulis dalam rangka “Hari Blogger Nasional”, dan mengingat kembali tulisanku di blog sahabat Donny Verdian yang ini: “Blogger sampai Mati“. Ah, Donny memang narablog sejati! Ssst Don…. aku masih blogger kok, meskipun hanya bisa menulis sekali sebulan, untuk sementara ini…

Satu tulisan yang padat tujuan kuakhiri dan mungkin akan menjadi tulisan terakhir di bulan Oktober. Semoga November bisa menulis lagi meskipun cuma satu.

 

 

PUN = plesetan

2 Sep

Apa pula PUN itu?

Sebetulnya hari ini aku mau menulis soal goroawase 語呂合わせ, yaitu pemudahan pengucapan sebuah kata/huruf atau angka. Dan kalau mencari bahasa Inggrisnya adalah “pun”, yang diterjemahkan menjadi “plesetan”. Hmmm jauh juga ya pengertiannya.

Goroawase sulit diterima oleh orang Indonesia karena dalam bahasa Indonesia memang cuma ada “pelesetan” itu. Jadi contohnya terbatas. Aku sendiri kalau ditanya apa contoh goroawase dalam bahasa Indonesia, paling-paling teringat mejikuhibiniu. Padahal dalam bahasa Jepang cukup banyak, dan biasanya dipakai untuk menghafal deretan angka, atau menyingkat kata. Yang paling sering dipakai adalah 39 yang dibaca san-kyu = Thank You. atau 4649 dibaca yo-ro-shi-ku. Dan ssst aku kasih tahu kata sandi ipadku supaya Kai tidak bisa buka yaitu Sa-i-ko-ro 3156 loh hehehe

Nah hari ini tanggal 2 September kalau ditulis ala Jepang menjadi 9-2 yang bisa dibaca menjadi KU-JI. Merupakan peringatan hari KUJI atau undian. Tanggal ini ditetapkan menjadi hari (takara)kuji oleh Daiichikangin (Mizuho Bank sekarang) pada tahun 1967.

Yang kedua 9-2 ini juga bisa dibaca menjadi hari KU-TSU (Tsu adalah pelafalan bahasa Inggris untuk 2) sedangkan kutsu sendiri berarti sepatu. Tanggal ini ditetapkan oleh perusahan sepatu DIANA pada tahun 1992 (wah kutsu lagi deh 😀 )

Goroawase ini memudahkan kita untuk menghafal angka-angka, apalagi jika angkanya banyak.

 

Mitigasi Bencana

1 Sep

Hari ini tanggal 1 September adalah hari Mitigasi Bencana, Disaster Prevention Day atau bahasa Jepangnya Bousai no Hi 防災の日. Hari ini ditetapkan sebagai Hari Mitigasi Bencana karena pada hari ini tahun 1928, tepat pukul 11:58 siang terjadi Gempa Bumi Besar Kanto. Jadi biasanya hari ini dilakukan latihan-latihan menghadapi bencana di seluruh Jepang.

Tapi karena hari ini hari biasa, dan tepat hari masuknya murid-murid di daerah kami, latihan bencana sudah dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu yang lalu. Kebetulan SMP nya Riku menjadi pusat pengungsian daerah kami jika terjadi bencana, jadi pemda kami mengadakan latihan di SMP pada hari Sabtu lalu (26 Agustus) . Karena aku termasuk dalam pengurus inti PTA di SMP, sebagai tuan rumah kami wajib datang dan ikut bertugas dalam latihan mitigasi tersebut.

Kami diminta berkumpul pukul 9 pagi, dan hari itu dibanding hari sebelumnya cukup panas! Kami diberi tugas memasak nasi alpha yang pernah aku tulis di Nasi Jadi. Nasi Alpha ini cukup diberi air panas dan ditunggu 15 menit, jadi! Tapi kalau yang aku pernah punya ukuran 1 orang, kami harus menyediakan untuk 50-60 orang (ada 4 kelompok jadi membuat nasi untuk 300 orang). Jadi di dalam satu  kardus besar. Setelah nasi itu jadi, kami masukkan dalam plastik untuk dibagikan.

Sebetulnya acara hari itu sampai pukul 11:30, tapi karena aku harus pergi ke Saitama mencari sekolah SMA untuk Riku jadi aku minta ijin pulang duluan pukul 10 pagi.

gunting dari kertas

Ada satu yang aku perhatikan. Waktu membuka kardus berisi beras yang terdapat dalam plastik alumunium itu, selain tersedia sarung tangan plastik, plastik untuk pembagian nasi, sendok kecil, karet gelang untuk menutup plastik ada juga GUNTING DARI KERTAS. Gunting itu cukup memadai untuk membuka plastik itu. Hebat ya, orang Jepang itu memikirkan semuanya sampai ke detail begitu.

Penelitian Bebas

31 Agu

Liburan musim panas sudah selesai! Ya hari ini adalah hari terakhir liburan musim panas. Dalam 2-3 hari belakangan ini amat terasa jalanan dan stasiun jauuuuh lebih sepi dibandingkan awal-awal liburan di awal Agustus yang penuh dengan anak-anak dengan ibunya. Mungkin mereka sedang berkutat membuat PR liburan musim panas di rumah ya? Anak sulungku berkata, “Seperti lebih bagus tidak ada liburan musim panas deh, karena liburan musim panas itu PR nya banyaaaaak sekali. Menyebalkan!” hehehe. Yang pasti memang anak-anakku seperti itu, berkutat pada hari terakhir liburan! Padahal  PR (Matematika, bahasa, IPS dll) yang diberikan gurunya sudah dicicil , tapi tetap saja ada yang mesti dikerjakan di hari-hari terakhir.

PR yang dikerjakan terakhir itu biasanya “Penelitian Bebas” atau “penelitian mandiri”, 自由研究 Jiyu Kenkyu bahasa Jepangnya. Murid-murid dibebaskan untuk mengadakan penelitian apa saja. Bisa memperhatikan bintang di langit . Bisa membuat resep baru, membuat jahitan atau prakarya, atau membuat laporan. Memang anak-anak deMiyashita biasanya membuat laporan, kecuali Kai tahun lalu membuat specimen kupu-kupu. Dulu Riku waktu kelas 4 SD membuat laporan penelitian tentang Mangrove di Jakarta, sedangkan Kai sekarang menulis laporan tentang Dr. Noguchi Hideyo (1876-1928), bacteriologist Jepang yang wajahnya terpampang di uang kertas 1000 yen.

Untuk menulis laporan itu, kami memang pergi ke Inawashiro, Fukushima dan mendatangi Museum Memorial Noguchi Hideyo, Museum waktu Noguchi muda di kota Aizu Wakamatsu. Kemudian Kai dan papanya sempat juga pergi ke Museum tempat penelitian Noguchi di Yokohama. Memang ada 3 tempat yang merekam aktivitas Dr Noguchi sejak lahir sampai meninggal. Jadi kunjungan ini pun menjadi tulisan utama dalam laporan Kai. Kai sendiri memang suka membaca biografi Dr. Noguchi sampai diulang berkali-kali.

Saat ini pukul 22:56, dan Kai masih menulis laporan itu secara detail. Sudah kukatakan tidak usah terlalu detail karena dia akan memasang banyak foto, tapi sepertinya anakku itu keras kepala seperti emaknya, dan mau sesempurna mungkin. yang kasihanmamanya kan harus menunggu dan membantu dia mencetak dan memasang foto-foto yang dia ambil itu 😀 Dan…. sambil menemani Kai aku pun teringat pada mamaku. Dulu pun dia sering menemani kami mengerjakan tugas-tugas, dan bahkan membantu lebih dari 50% karena si anak sudah terkantuk-kantuk 😀 Pekerjaan seorang ibu dari masa ke masa memang sama ya?

Tapi aku memang kagum dengan sekolah di Jepang yang memberikan tugas seperti penelitian bebas ini, BUKAN hanya dengan tugas mengarang “Liburanku” saja 😀

di depan rumah asli Dr Noguchi

Kasihanilah Aku

11 Jul

Gara-gara melihat sebuah tulisan di lini masaku, jadi teringat suatu percakapan dengan anak bungsuku. Sudah cukup lama berlalu tapi memang ingin kutuliskan.

Jadi di lini masa media sosial itu ramai tentang cerita bahwa ada seorang ibu-ibu yang naik kereta di Indonesia. Karena tidak ada tempat duduk, dia berdiri di depan seorang pemuda yang duduk. Bukan gerbong wanita, dan si wanita itu dengan suara keras mengatakan yang intinya, si pemuda tidak boleh duduk karena dia laki-laki.  Si pemuda tidak mau bertengkar, jadi memberikan tempatnya pada si ibu. Tapi waktu ada kursi di sebelahnya kosong, si wanita tidak memperbolehkan laki-laki duduk di sebelahnya. Intinya: laki-laki tidak ada  yang boleh duduk.  Haduh…. kalau yang begini sih mungkin sudah korslet ya? Tidak cocok untuk feminisme atau pejuang gender dong 😀  Sebagai tambahan cukup banyak loh lansia di Jepang yang tidak mau duduk meskipun sudah ditawarkan. Alasannya, “Saya masih sehat dan kuat, sedangkan kamu sudah capek bekerja seharian”. Hebat ya lansia itu…..

Nah, yang membuatku teringat pada anak bungsuku, yaitu waktu dia bercakap-cakap dengan kami.

Hadairo 肌色 itu warna apa sih pa?”

jreng…..

Jadi memang di Jepang selain warna akai 赤い (merah),  aoi 青い (biru), midori 緑 (hijau), kuro 黒 (hitam), kiiro 黄色 (kuning) dll, dulu ada warna yang bernama hadairo 肌色. Aku ingat sekali di susunan crayon/pensil warna untuk Riku dulu, ada yang namanya hadairo. Yaitu warna pink muda R- 246 G-222 B 197 yang dianggap warna yang mewakili kulit orang Jepang. Nah, Kai lahir 4 tahun setelah Riku dan memang waktu itu aku tidak melihat lagi nama warna hadairo.

hadairo … warna kulit orang Jepang…dulu 🙂

“Itu warna seperti pink muda, Kai. Warna kulitnya orang Jepang”

“Seperti apa ya? Aku tidak tahu!”

“Ya, dulu ada. Nanti deh mama kasih liat di rumah ya”

Papa G menyahut,

“Warna hadairo itu sekarang diganti menjadi …”

“Usudaidai…. ” Kai menyela

“Nah itu tahu kok. Ya hadairo itu usudaidai

“Mulai kapan ganti nama?”

“Nah itu musti cari dulu. Tapi kenapa hadairo diganti namanya yang penting. Karena ternyata orang Jepang sekarang warna kulitnya sudah banyak yang berubah. Tapi selain itu, kita tidak bisa menentukan warna kulit seseorang sebagai satu warna hadairo. Karena hada=kulit, warna kulit. Sedangkan warna kulit orang di dunia ini kan banyaaaaaak sekali! Itu menjadi bahasa diskriminasi/sabetsu 差別用語. Karena itu diganti menjadi usudaidai

Rupanya pergerakan untuk menghapus kata yang diskriminatif ini sudah mulai pada November tahun 1998 dengan sebuah artikel di harian Yomiuri yang mengangkat penamaan warna baru dari produsen craypas Pentel. Kemudian tahun berikutnya pada harian Asahi, dikatakan bahwa nama warna hadairo sudah dibuah oleh Pentel menjadi “pale orange”. Baru kemudian tahun 2000, tiga perusahaan produsen pensil/crayon/spidol yaitu Mitsubishi, Sakura dan Tombow mengganti hadairo menjadi usudaidai (daidai secara umum dikenal sebagai warna oranye, sedangkan usu = muda, jadi oranye muda). Tidak diketahui siapa yang menentukan penamaan warna itu. Tapi lucunya dalam kamus warna yang diterbitkan tahun 2005, tidak tercantum nama “usudaidai” atau “pale orange” sama sekali.

Memang di Jepang sekarang banyak penamaan yang diganti karena mengandung kata-kata diskriminatif. Sebuah pergerakan yang kukagumi karena memang seharusnya kita tidak melukai hati orang lain, bukan? Di Indonesia sendiri yang kuketahui sudah ada pemakaian kata pramu- atau tuna- menggantikan nama penderita yang tidak seperti manusia normal.

Nah, kembali ke percakapan dengan Kai, suamiku memberikan ilustrasi lain yang cukup membuat kami berpikir.

“Dalam kereta pagi hari. Banyak pegawai yang masih kecapekan dan ngantuk karena malam sebelumnya bekerja sampai larut. Lalu muncul lansia yang berpakaian untuk hiking (memang banyak lansia Jepang amat sangat kuat dan sehat bahkan mampu mendaki gunung). Berdiri di depan silver seat, di depan pegawai-pegawai yang lelah itu, sambil mengharapkan diberikan tempat duduk oleh penumpang yang lebih muda itu. Coba bandingkan si tua sehat semangat untuk mendaki itu…. bukankah kekuatannya jauh lebih banyak daripada pegawai yang kecapekan itu?”

Kai tertawa, tapi aku tidak… bahkan memikirkan hal itu. Memang benar, lansia Jepang itu jauh lebih tua tapi jauh lebih sehat. Akankah aku bisa tetap sehat dan kuat seperti mereka jika umurku mencapai umur yang sama dengan mereka?

Kejadian di kereta Jepang dan Indonesia…. penuh dengan kontradiksi dan pemikiran. Jenis kelamin, warna kulit, umur, seharusnya memang tidak menjadi suatu yang perlu dipertentangkan, atau dijadikan sebagai alasan.