Semua tulisan dari imelda

I am just an ordinary woman, who live in Tokyo with my husband and two sons. I am a lecturer, translator, and a narrator as well. I like reading, photography, philately, blogging, singing, cooking etc

Hari Membaca dan Menulis (blog)

Tanggal 27 November hampir habis, tapi karena aku baru sampai rumah dari menjenguk mertua, cepat-cepat deh menulis di blog. Soalnya hari ini adalah hari yang (cukup) penting bagiku.

Di Jepang hari ini adalah 読書の日 どくしょのひ DOKUSHO NO HI, hari untuk membaca. Hari ini juga merupakan permulaan dari pekan baca yang berlangsung selama dua minggu, sampai tanggal 9 November, setiap tahunnya.

Awalnya pada tahun 1924, Asosiasi Perpustakaan Jepang menetapkan tgl 17-23 November sebagai “Pekan Perpustakaan” dengan maksud meningkatkan pemakaian perpustakaan. Lalu tahun 1933, berubah menjadi “Festival Membaca”. Tahun 1939 dihapus, karena terjadi perang.

Selesai perang, tahun 1947 dibangkitkan kembali menjadi “Pekan Membaca” dengan maksud membangun negara yang berkebudayaan dan damai. Lalu karena pada tanggal 3 November adalah Hari Kebudayaan, maka jangka waktu dipindah menjadi sebelum dan sesudah Hari Kebudayaan dan diperpanjang menjadi dua minggu.

Selain menjadi “Hari Membaca”, tanggal 27 Oktober juga menjadi “Hari Huruf & Cetakan”. Karena tanpa huruf dan dicetak menjadi buku atau koran/majalah, manusia tidak dapat mendapatkan pengetahuan dan tidak bisa mewariskan pengetahuan itu menjadi berkesinambungan.

Sambil menulis ini saya tiba-tiba ingin tahu jumlah perpustakaan di Jepang ada berapa. Ternyata menurut data tahun 2006, di seluruh Jepang 3.083 perpustakaan umum, ditambah dengan 1.658 perpustakaan universitas/akademi =4714 perpustakaan. (data dari http://www.1book.co.jp/001002.html )

Kebanyakan perpustakaan umum di Jepang memang dikelola oleh pemerintah daerah. Di rumahku yang baru ini juga ada sebuah perpustakaan pemda yang bertingkat 5. Aku sendiri belum pernah masuk ke dalamnya, tapi anak-anakku sudah dan sudah memiliki kartu anggota.

Keluarga kami memang jarang meminjam buku di perpustakaan. Karena biasanya kami ingin memiliki bukunya. Saya, Riku dan Kai juga membaca buku elektronik, tapi suamiku tidak. Dia masih lebih suka baca buku berupa kertas. Riku pernah menyeletuk ingin menjadi pustakawan, tapi kelihatannya sudah berubah. Yang pasti memang dia masih berminat pada bidang budaya, filsafat dan sejarah.

Yang dibaca Riku beberapa waktu lalu, buku terjemahan dari Georges Bataille “Literature and Evil”

Aku sendiri sudah lama tidak membaca buku. Masih banyak pekerjaan yang menuntutku untuk menulis. Tapi aku biasakan baca surat kabar (baik kertas atau online) setiap hari meskipun hanya judul-judulnya saja. Sayangnya membaca surat kabar tidak termasuk dalam DOKUSHO. Dokusho itu harus buku 😀

Bersamaan dengan Hari Membaca di Jepang, di Indonesia hari ini merupakan hari Blogger Nasional. Cukup banyak teman-teman bloggerku yang sudah berhenti menulis. Tidak sampai lima orang yang kuketahui masih menulis secara reguler. Akupun sempat berhenti menulis karena pindah rumah. Menulis itu bagiku sebetulnya mudah, banyak kok bahan tulisan. Tapi mencuri waktu untuk menulis blog itu yang sulit. Memang akhirnya harus mengorbankan waktu tidur hehehe. Karena itu, mumpung sudah mulai menulis blog lagi, aku harus memaksakan diri untuk melanjutkannya. Kalau tidak bisa hiatus berkepanjangan lagi, dan melupakan janjiku untuk bisa menulis sampai mati 😀

Akigari

Aki Cari Daun TUA

Haiyah… biasanya Aki-aki kan cari daun muda ya 😀 Hush! Bukan Aki yang artinya kakek atuh! Kalau kakeknya bahasa Sunda, MUNGKIN memang sukanya mencari daun muda 😀

Bahasa Jepangnya musim gugur adalah AKI 秋. Musim yang paling saya sukai, tapi mau tidak mau membuat melankolis.  Bagaikan hidup manusia, musim semi adalah masa-masa anak-anak sampai remaja, musim panas adalah masa bekerja dan menikmati hidup, musim gugur pensiun dan bertanya-tanya untuk apa lagi saya hidup, dan musim dingin adalah masa dimana manusia lanjut usia yang merasa dingin karena tidak ada perhatian lagi dari sekelilingnya. TAPI itulah hidup. Kita harus menghargai hidup, dan itu juga membuat saya lebih memilih “Musim Gugur” daripada “Musim Rontok”, meskipun banyak juga yang mengatakan demikian.

Ya…saya lebih memilih kata musim gugur untuk mewakili autumn daripada kata musim rontok. Gugur itu kesannya indah…. daun jatuh sesudah paripurna menjalankan tugasnya, sama seperti pahlawan yang gugur di medan perang. Si Daun dan Pahlawan sudah mengorbankan “Jiwa” nya bagi sekelilingnya. Daripada kata rontok, yang kesannya “sakit”. Kita pasti akan berkata, rambut saya rontok… bukan rambut saya gugur kan? Kesannya rontok itu menyebabkan sesuatu yang tidak bagus. Yang sakit.

OK kembali lagi ke si AKI 😀 Musim gugur di Jepang memang menyenangkan. Setelah berpanas-panas di musim panas, meskipun siang hari masih sering panas, pagi dan malam harinya udara kering dan sejuk. Begitu tonggeret atau cicadas berhenti cerewetnya, digantikan dengan rombongan capung-capung beterbangan. Sayup-sayup terdengar teriakan anak-anak yang undokai 運動会 atau teriakan mahasiswa menjual yakisoba 焼きそば yakitori 焼き鳥 jualannya di festival kampus 大学祭 Daigakusai. AKI sering dikatakan sebagai Supotsu no aki スポーツの秋 atau Bunka no Aki 文化の秋.

pemandangan musim gugur sekitar November tahun 2014

Seiring dengan menguningnya padi 稲 いねpanenan anggur 葡萄dan chestnut 栗 kalau kita mendongak ke awan, terlihat awan yang berbentuk macam-macam. Ada yang berombak-ombak, ada yang tipis-tipis dengan nama bermacam-macam. Ada hitsuji gumo 羊雲 (awan domba), urokogumo 鱗雲 (awan sisik), iwashigumo いわし雲 (awan ikan iwashi/ sardin) dan lain-lain. Sungguh menarik melihat awan-awan di musim gugur. Memang dinamakan seperti ini karena bentuknya mirip. Panen buah, panen berbagai jenis kinoko キノコ類 (jamur) dan hasil laut membuat julukan Shokuyoku no aki 食欲の秋 (musim NAFSU MAKAN!) itu tepat sekali ya. Mesti lihat timbangan badan sering-sering nih.

Karena pemandangan di musim gugur ini indah, banyak program wisata menawarkan MOMIJIGARI 紅葉狩り, mencari daun-daun yang berubah warna 紅葉 kouyou. Agak sulit menerjemahkan kata KOYO atau KOUYOU ini ke dalam bahasa Indonesia, karena memang di Indonesia tidak mengenal si AKI kan? Terpaksa menjelaskan sebagai “daun yang berubah warna kuning dan merah”. Puanjang deh 😀

Saya rasa sudah banyak teman yang mengetahui istilah -gari ~ がり

狩り karena sejak musim semi sudah ada Ichigo-gari いちご狩り memetik buah stroberi dan makan di tempat. Kesuksesan Ichigo gari membuat banyak perkebunan yang membuat paket-paket wisata dengan buah-buahan lain, seperti mikan (jeruk), cherry, apel, anggur dan lain-lain.

~gari ~狩り adalah kata bendanya dari 狩る yang artinya berburu, menangkap. Menangkap beruang, rubah, burung atau binatang liar lainnya karena mengganggu atau sebagai hobi. Soal setelah ditangkap itu dimakan atau tidak itu soal belakangan. Kalau Ichigogari meskipun bukan hama, memang hasil akhirnya dimakan ya? Nah kalau Momijigari 紅葉狩り, kan tidak ditangkap dan tidak dimakan ya? Jadi sebetulnya pemakaian kata ~gari ini untuk momiji agak berlebihan. Meskipun kita tahu “berburu momiji” itu lebih menekankan pada proses pencarian letak pemandangan itu di mana, dan melangkahkan kaki ke sana. Setelah sampai mungkin kita “menangkap” pemandangan itu dalam lensa kamera kita (so pasti lah). Jadi ~gari cocok-cocok saja kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “berburu” ya.

Yang saya heran-seheran-herannya, untuk menyelesaikan program S2 dulu sekali 😀 , saya harus mengambil mata kuliah pilihan. Dan saya memilih “Sejarah Pemikiran Eropa 西欧思想史“, sepertinya menarik, dan saya amat berharap kuliahnya akan memakai buku teks bahasa Inggris. Maklum sudah terlalu banyak baca bahasa Jepang (dan cukup kuno) sehingga eneg dan ingin baca alfabet dong. Tapi ternyata, kuliah itu diikuti oleh SATU orang! Hanya saya sendiri, dengan si dosen bapak tua (ya beneran AKI nih). Dan spesialisasi dia adalah MAJOGARI 魔女狩り haiyah! Majo = witches jadi BERBURU PENYIHIR WANITA! Haduh… mau batal ambil kuliah itu ngga enak. Mungkin karena saya pengajar juga, saya merasa kasihan kalau saya tidak ambil mata kuliahnya, berarti dosen itu tidak dapat gaji dong! Hahahaha (padahal sih mungkin dia suka-suka saja tidak usah mengajar gaijin satu ini! Dan dia kan gajian, bukan honorer seperti saya 😀 ) Terpaksa deh saya ambil kuliahnya satu semester, dan menghasilkan presentasi “Inisiasi masyarakat Bali” バリ社会の通過儀礼 (jangan tanya ya isinya apa saja, karena sudah lupa hahaha).

Dalam musim gugur tahun 2019 ini, saya cukup sibuk sehingga agak sulit membuat waktu untuk gari-gari, berburu musim gugur. Tapi masih bisa memburu garigarikun heheheh ガリガリ君 (Garigari kun adalah merek es loli yang cukup bervariasi rasanya, dan menjadi favorit anak-anak. Dan saya paling suka yang rasa buah pear)

(sebuah tulisan yang pernah diterbitkan untuk FB Group WIB-J (Wanita Indonesia Berkarya di Jepang) bulan Oktober 2018.

Nagara

Kebetulan sekali hari ini aku bisa pulang kerja bersamaan dengan Gen. Karena naik kereta cepat, kami bisa sampai di stasiun rumah kami pukul 18:15. Karena anak-anak di rumah sudah lapar, kami akhirnya memutuskan untuk membeli tonkatsu, daging goreng untuk lauk makan malam. Tadinya sih mau masak, tapi berarti butuh waktu paling cepat 30 menit lagi untuk makan malam. Nah, waktu kami turun eskalator itu, aku melihat pedagang yang memang kadang-kadang mangkal di situ. Biasanya aku tidak begitu perhatian, tapi …. dia membunyikan peluit, yang bunyinya sangat akrab di telingaku. Dulu di Nerima, setahuku bunyi itu adalah bunyi tukang tahu (mentah) keliling. To—–fu—— terdengar seperti itu. Karena penasaran aku mendengar celotehan dia (biasanya aku cuekin hehehe). Ternyata dia menjual tahu, natto (kacang kedele yang difermentasi) dan yuba (kulit tahu) mentah. Hmmm

kulit tahu mentah (YUBA)

Kami berdua sebetulnya sudah cukup jauh melewati dia, tapi karena Gen tahu bahwa istrinya sedang penasaran 😀 dia mengajak aku kembali. Paling sedikit kita beli tahu deh. Aku minta tahu sutra, dan memberikan uang seribu yen. Ternyata harganya 350 yen. Mahal! Pantas jarang ada yang mau beli. Tapi terus aku menanyakan soal Yuba. Yuba itu kalau di Indonesia memang adanya yang sudah dikeringkan. Kulit tahu yang tipis, lalu waktu mau dipakai direndam air dulu. Almarhum mama sering memasak yuba untuk membuat kimlo. Tapi di Jepang justru tidak populer Yuba kering. Adanya yuba yang mentah, dan dimakan begitu saja (sashimi). Dibubuhkan kecap asin dan wasabi kalau mau. Tapi yuba ini tidak setiap saat ada. Karena aku tahu yuba itu jarang, jadi aku minta yuba juga. Pas si tukang tahu itu memberikan uang kembalianku, 650 yen. Ternyata harga Yubanya 650 yen! Pittari, pas deh.

Si tukang tahu memperlihatkan peluitnya

Lalu Gen menanyakan peluitnya seperti apa. Dia kemudian menunjukkan potongan seperti bambu, dan dia bunyikan. To—–fu—–. Aku cerita padanya bahwa aku tahu bunyi itu adalah penjual tahu bersepeda, tapi selama ini belum pernah bisa bertemu langsung dengan penjualnya. Memang katanya dulu penjual tahu naik sepeda berkeliling sambil membunyikan peluit itu. 昔ながらの豆腐 Mukashinagara no tofu. Tahu jaman baheula.

Nah sambil pulang, aku penasaran dengan kata MUKASHINAGARA. Tahu artinya, dan sering dengar, TAPI apa bedanya dengan ARUKINAGARA? 歩きながら itu artinya ‘sambil berjalan’. Bentuk -nagara memang berarti sambil, dan sering sekali dipakai. Sampai-sampai ada slogan terbaru 歩きスマホ、スマホながら Jalan sambil main HP atau main HP sambil mengerjakan yang lain. Yang pasti mukashinagara itu mestinya TIDAK SAMA dengan arukinagara, sambil berjalan itu.

Kamus sakti KOJIEN 広辞苑

Penasaran deh, apa ada arti -nagara yang lain. Tanya Gen juga tidak tahu, jadilah kami berdua cari di kamus sakti KOJIEN 広辞苑. Dan menemukan memang -nagara itu tidak selalu harus ‘sambil’, yaitu melakukan dua pekerjaan bersamaan. Ternyata bisa juga berarti そのままで ‘begitu terus’, dari dulu sampai sekarang, terus menerus. 涙ながら berairmata (menangis) terus itu bentuknya sama dengan mukashinagara. Lalu yang lain lagi adalah berarti けれども, ‘meskipun’. Seperti dalam contoh 春ながら雪ぞ降りつつ Meskipun sudah musim semi, masih bersalju. なっとく!Penasarannya terjawab deh.

Dan aku menutup tulisan hari ini, karena tadi aku menulis sambil masak. 料理しながらブログを書く. Karena masakannya sudah selesai, blognya juga harus diselesaikan. 😀

Badai Ha(GI)BIS

Kami sudah diberitahu bahwa tanggal 12 Oktober akan datang badai terbesar dalam sejarah yang dinamakan super typhon Hagibis. Terakhir yang terbesar terjadi tahun 1956, jadi sekitar 60 tahun yang lalu. Saat itu korban meninggal 1200 orang.

Hari kamis aku pergi belanja. Biasa saja, bukan untuk cadangan makanan selama badai. Sama sekali tidak terpikir soal “jika terjadi mati listrik”. Jadi waktu aku melihat postingan teman-teman tentang persiapan mereka, aku “mulai” panik. Tapi kami selalu siap makanan dan minuman untuk darurat. Tinggal cek batere senter saja. Kami juga merasa kami tidak perlu menyiapkan ransel mengungsi karena rumah kami jauh dari sungai dan tinggi letaknya. Kalau 80 persen rumah daerah kami tertutup air, baru kami kemasukan air.

Hari Sabtu sebenarnya anak-anak harus sekolah, dan Gen juga harus kerja. Tapi jumat siang-sore, dapat berbagai email dari universitas-universitas tempatku mengajar bahwa mereka membatalkan semua kuliah di hari Sabtu. Kemudian datang email dari sekolah ke dua anakku, dan terakhir dapat message dari Gen bahwa dia libur. Horree….dan harus putar otak menyiapkan makanan untuk 3 kali makan 😀 Akupun langsung menuju rumah begitu kerjaan selesai. Dan sambil berjalan pulang, kubaca papan-papan pengumuman bahwa stasiun dan toko akan tutup satu hari besok. Hmmm bakal jadi kota mati deh.

Cukup mendebarkan menantikan dia datang. Apalagi kami sambil melihat TV yang menyiarkan berita dari tempat-tempat yang sudah dilewati. Pagi hari Gen sudah memasukkan tanaman kesayangan  Papaya dan kunyit. Kupikir tanaman lain, kalaupun rusak ya sudah, relakan saja. Nanti beli lagi yang baru. Pas bunga-bunga sudah hamper habis musimnya juga, dan kami belum beli bunga musim gugur.

Barang berharga diungsikan dalam rumah 😬 papaya dan kunyit

Yang paling penting adalah mengecek apakah ada barang-barang di luar rumah atau di teras atas yang mungkin bisa diterbangkan angin. Jadi kami juga menidurkan sepedaku dan sepeda Riku supaya tidak jatuh sembarangan.

Sebagai persiapan sebelum badai, sepeda sudah “ditidurin” dulu, sambil bilang “selamat bobo sayang” 😬🤣

Akhirnya si Hagibis datang sekitar pukul 9-10 malam. Sebelumnya sekitar pukul 6:20 sore terasa gempa. Oi jangan datang barengan dong 😀 Anginnya benar-benar kencang sampai shutter penutup jendela sebelah barat rumah kami bergetar dan mengeluarkan suara yang menakutkan. Untung kami berempat berkumpul di meja makan sambil ngobrol. Mungkin kalau sendirian ngeri juga. Kira-kira satu jam, angin pun berlalu dan hujan pun mereda. Kami bisa tidur dengan nyenyak.

Minggu pagi seperti biasa aku pasti bangun pukul 5. Masih berangin tapi agak hangat. Memang angin badai membawa kelembapan sehingga terasa berat. Dan hari ini suhu diprediksi naik 4 derajat menjadi 29 derajat. Panas, terik. Kulihat di aplikasi, kereta sudah mulai jalan tapi belum lancar. Sambil menonton TV, aku melihat korban dan kerugian yang cukup besar terjadi di berbagai daerah di Jepang.

Karena di TV juga diberitakan bahwa ada sungai dekat rumah yang pecah tanggulnya, kami jadi ingin melihat kondisi sekitar rumah kami. Berdua Gen, aku melihat sekitar rumah tidak terjadi kerugian. Hanya bunga matahari yang tumbang. Lalu kami naik mobil menuju kantor dan sekolah sekaligus membeli roti di toko roti langganan kami.

Ternyata untung sekali sungai besar dekat rumah tidak meluap. Kebanyakan korban di daerah-daerah justru karena tanggul jebol sehingga banjir. Konon daerah kami hanya dua rumah yang kemasukan air (banjir). Dan seperti biasa, sesudah badai langit cerah, bersih tersapu badai.

Sungai besar yang berada dekat rumah, tidak melampaui batas jembatan. Di samping-sampingnya malahan kami bisa lihat orang sudah berlatih base ball dan sepak bola.

Ada sebuah video yang beredar di Indonesia tentang taifu yang memperlihatkan mobil terbalik. Itu memang video lama. Karena bisa dilihat dari nomor taifunya. Di video no 21 sedangkan Higibis kemarin nomor 19. TAPI situasi seperti ini PASTI terjadi dalam setiap taifu, karenanya kemarin semua sekolah, kantor, toko libur dan pemerintah mengeluarkan imbauan agar tidak keluar rumah kalau tidak perlu. Ada dua laki-laki muda yang keluar mungkin untuk membersihkan parit, ya hanyutlah. Satu tertolong, satu hilang. Ada satu bapak tua yg tinggal di apartemen tingkat satu (lebih rendah dari jalan) yang kemasukan air sungai ditemukan sudah meninggal.

Tiap tahun ada badai sekitar 30 kali, besar kecil. Mulai bulan Juli sampai Oktober. Kali ini no 19 jadi sebelumnya sudah lumayan banyak. Badai No 15 membawa korban cukup banyak di Chiba, yaitu mati listrik sampai sekarang (sudah 1 bulan lebih masih ada yg tidak berlistrik). Karena tiang listriknya roboh dsb. Kami sih percaya kalau dibilang akan datang badai besar, karena sudah ada hitungan besar/kekuatannya, arahnya dan prediksi kapan “mendarat”nya. Jadi semua pasti mempersiapkannya.

Yang begitu siap saja masih ada korban. Kebanyakan orang tua yg hidup sendiri. Mereka pikir, kalau bukan saya yang kerjakan siapa lagi. Pas keluar rumah, jatuh dan tidak ada yang tahu. Masih banyak yang ngeyel juga, anak-anak mudanya mau motret untuk IG mungkin ya hehehe. Yang pasti semua sudah “diperintahkan” diam di rumah, nah kalau masih keluar rumah itu tanggang jawab masing-masing. KECUALI kalau disuruh ngungsi ya. Pegawai pemda kemarin banyak keliling rumah-rumah sekitar sungai dan bawa lansia ngungsi ke SD atau balai desa terdekat. Ada berita bahwa satu keluarga Indonesia juga diajak ngungsi. Sampai dengan aku tuliskan ini jumlah korban jiwa yang meninggal 19 orang, hilang 16 orang, listrik padam total 376.000 rumah dan 14000 rumah tidak mempunyai akses untuk air. Seandainya tidak ada persiapan? Tentu jumlah korban dan kerugian akan lebih banyak lagi. Untuk mitigasi, boleh dikatakan Jepang yang terbaik!

Gunung Sempit

Ini merupakan tulisan pertamaku, di tahun baru, di rumah baru, di desa.

Keputusan ingin pindah sebetulnya sudah sejak akhir tahun 2017, ketika Riku mulai ikut ujian-ujian masuk SMA. Karena memang kamu berencana pindah ke Saitama, maka dia tidak bisa mengikuti ujian masuk SMA Negeri di Tokyo. Pilihan dialihkan ke sekolah swasta di sekitar jalur kereta yang menuju ke Saitama. Tapi akhirnya pilihan jatuh pada sebuah sekolah swasta yang terletak di Sayama-shi. Sekolah swasta ini konon ranking 1 di daerah Saitama sehingga sebetulnya Riku tidak percaya diri bisa lulus. Tapi keuntungan mengikuti ujian sekolah swasta adalah, kamu bisa tahu kamu akan diterima atau tidaknya jauuuh sebelum teman-teman seangkatan mengikuti ujian masuk sekolah negeri. Karcis itu sudah di tangan! Meskipun Riku tidaklah pintar, dia sudah mengikuti bimbingan belajar sejak kelas 5 SD dan sudah mengikuti ujian try out beberapa kali. Dan hasilnya rata-rata saja selama ini.

Dia sangat kurang di nilai bahasa Inggris, tapi top di kelas bahasa Jepang! Aneh bin ajaib kan? Anak yang blasteran kok tidak bisa bahasa Inggris, malahan jago bahasa Jepang? Sampai suamiku berkata, “Kamu harus berterima kasih sama mama. Karena mama tidak memaksa kamu belajar bahasa lain!” Di rumah kami, memang bahasa pengantarnya bahasa Jepang. Riku tahu kata-kata/kalimat mudah bahasa Indonesia. Tapi dia tidak merasa perlu belajar! (Ini lain dengan Kai, yang sepertinya memang bisa membandingkan bahasa-bahasa dengan mudah… tapi tidak dipakai 😀 Soal komunikasi, Riku lebih jago … apapun bahasanya). Satu yang kutahu pasti mengapa Riku top di kelas bahasa Jepang adalah karena dia kutu buku! Tidak semua buku dia baca loh, dia punya selera tersendiri dalam memilih bacaannya.

Jadilah Riku diterima masuk ke SMA B di Saitama. Waktu berlalu begitu cepat, tapi aku belum bisa menemukan rumah yang pas untuk kami. Syaratnya terlalu banyak, maunya murah, dekat stasiun dan ada parkir untuk 2 mobil. Sudah ada 2 rumah yang lepas dari tangan kami, keburu dibeli orang lain. Tapi memang, jodoh tidak kemana! Akhirnya kami menemukan rumah yang sesuai syarat kami, meskipun kami harus menghapus syarat parkir 2 mobil. Hanya bisa 1 mobil! Tapi karena rumah ini dekat stasiun, hanya 5 menit jalan kaki, kami tidak perlu lagi mobil tambahan! Bungkus! 😀

Masalahnya kapan pindahan? Kami sudah bisa menempati rumah baru itu sebetulnya sejak Oktober, tapi…. aku sibuk setiap akhir pekan. November pergi ke luar kota/ ke Jakarta. Yo wis…. kami tetapkan Desember saja yuk! Jadi sementara kami tinggal di Tokyo, Gen dan Riku mengangkut barang-barang sedikit demi sedikit untuk di taruh di rumah lama. Sekalian ngantor dan sekolah.

Tapi ternyata … barang kami terlalu banyak untuk bisa selesai akhir Desember. Kami memang tidak mau memakai jasa pindahan, karena ingin menyortir barang apa yang hendak dibawa dan apa yang hendak dibuang. Karena barang-barang eletronik yang sudah kami pakai 19 tahun (sejak pertama tinggal) umurnya juga sudah terlalu tua dan patut diganti. Dan untuk membuang barang ini butuh waktu yang tidak cepat! Jadi, aku masih harus bebersih rumah lama meskipun sudah tinggal di rumah baru nih sekarang hehehe. Horang kayah, bisa tinggal di dua rumah \:D/

Tapi sejak bulan Oktober – November – Desember ini, kami amat menikmati percakapan-percakapan yang terjadi di dalam keluarga kami. Selama perjalanan melewati jalan tol yang menghubungkan Tokyo dan Saitama, pulang balik, banyak cerita yang bisa dinikmati. Family Quality Time.

Kami akhirnya resmi menjadi KENMIN (warga prefektur) dari TOMIN (warga Tokyo) tgl 26 Desember lalu.

Jumlah warganya pasti sudah bertambah 4 deh … (tapi suamiku bercanda, mungkin bertambah dengan kita, tapi berkurang dengan kematian lansia yang memang banyak tinggal di sini juga… ih kurang ajar deh hehehe)

Lalu kenapa judulnya Gunung Sempit?

Ya karena aku sekarang tinggal di Sayama, dengan kanji 狭山 sempit dan gunung (dibalik menjadi gunung sempit) . Dan memang betul karena dikelilingi gunung, udara di sini 3-5 derajat lebih dingin daripada di Tokyo! Brrrr….

mendaftar menjadi warga di sini tepat usia pernikahan kami yang ke 19

Ada satu keuntungan sejak kami pindah, yaitu mudah mencari makan di luar! Karena letaknya hanya 5 menit dari stasiun, dengan jalan kaki, kami bisa mencoba banyak restoran yang ada di sekeliling stasiun. Dan entah kenapa, di daerah kami juga banyak restoran ramen!

Semoga di tahun yang baru, aku bisa menemukan waktu lebih banyak sehingga bisa tetap menulis di Twilight Express ya.

8 Besar dari Nerima 2018

Seperti biasanya di penghujung tahun, sejak tahun 2010, kami sekeluarga menetapkan 10 berita besar dari keluarga kami. Tapi aku sendiri menetapkan 8 saja, dan kuberi nama 8 Besar dari Nerima. Tahun depan, judul akan berganti, karena… kami pindah rumah.

  1. Imelda, seperti biasa sibuk sepanjang tahun. Setelah Februari terbit kamus Bahasa Indonesia, masih tetap mencatat perbaikan dan kata-kata yang belum termuat di kamus yang diterbitkan Shogakukan itu. Apalagi aku punya seorang murid yang rajin bertanya, sehingga membuatku tertolong karena dia sering menemukan kata yang terlewatkan tidak tercetak. Hampir setiap Sabtu, aku juga tidak berada di rumah karena ada kegiatan Rumah Budaya Indonesia (RBI) atau Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA). Kadang setelah acara pagi/siang, dilanjutkan sampai sore/malam dengan meeting-meeting. Kalau Kai berada di rumah pada Sabtu, aku mesti masak ekstra untuk makan pagi, siang dan malam. Untung anakku ini bisa menyiapkan makanan sendiri, sehingga kalau sampai aku tidak sempat memasak, dia akan masak telur atau makan cup noodle sendiri. Yang kasihan aku jadinya tidak pernah bisa mengikuti open school di SD nya. Sebagai puncaknya aku mesti ke Indonesia (sendiri) seminggu untuk menghadiri Kongres Bahasa Indonesia di Jakarta.
  2. Riku lulus SMP dan masuk SMA swasta di Saitama (April). Dengan keinginan sendiri dia mendaftarkan persiapan sakramen Krisma di gereja Kichijoji. Pada hari Krisma itu aku pertama kali bertemu dengan Uskup Tokyo Tarsicius Kikuchi Isao SVD. Dengan malu-malu, aku minta ijin untuk mencium cincin Uskup, sebuah kebiasaan yang tidak dilakukan oleh umat Katolik Jepang. Riku juga setelah SMA menjadi leader di Sekolah Minggu. Kelihatannya cukup banyak murid SD (terutama kelas 1 SD baik perempuan atau laki-laki) yang sayang pada Riku sehingga selalu menempel pada Riku.
  3. Kai menjadi kelas 5 SD dan mendapat wali kelas laki-laki yang baik (kelas 4 wali kelasnya perempuan dan… duh galak banget! Aku aja takut hahaha) . Untuk pelajaran Kokugo (bahasa Jepang) dan Matematika, Prakarya dan IPA dia bisa (dan bagus), tapi jangan disuruh kelas olahraga dan musik. Ada satu kali dia boikot sekolah setelah beberapa kali minta aku tulis surat ke gurunya supaya tidak usah olahraga karena sakit perut. Waktu dia minta tidak masuk sekolah, aku pikir ini sudah puncaknya. Jadi aku ajak dia malahan pergi ke Museum berdua. Ada satu masa aku juga kewalahan menghadapi Kai yang masa 反抗期. Aku tahu ada masalah pada dirinya sendiri (berat badan berlebih) dan dia juga sering dibully temannya akibat gemuknya. Untung saja setelah kami sudah pasti akan pindah rumah, dia mulai tidak enggan lagi ke sekolah (toh sudah tinggal sedikit lagi di sana). Padahal gurunya senang pada Kai karena Kai dewasa dan selalu baik pada temannya. Oh ya di kelas 5 dia menjadi 飼育員 petugas memelihara kelinci di sekolah.
  4. Berempat kami bisa berlibur bersama ke Jakarta, sekaligus merayakan ulang tahun papa ke 80. Gen sudah 6 tahun (sejak mama meninggal) tidak ke Jakarta, sehingga senang sekali kami sekeluarga bisa pergi bersama. Selain merayakan ultah papa di Jakarta, kami juga bisa pergi ke Galesong, Makassar. Untuk Gen setelah 16 tahun baru bisa ke Makassar lagi. Oleh Prof. Aminuddin Gen diberi padaengan menjadi Daeng Bella. Kami juga bisa bermain bersama anak-anak Galesong dan memberikan sedikit buku-buku bacaan untuk mereka. Untuk proyek 100Famous Castle kami, cuma dapat 1 cap tambahan yaitu Gifu Castle. Semoga tahun depan bisa nambah deh.
  5. Anak-anak semakin besar dan sudah bisa berdiri sendiri. Mereka berdua pergi menginap di summer camp bersama teman-teman gereja. Riku hampir setiap Sabtu pergi ke gereja untuk mempersiapkan bahan mengajar Sekolah Minggu bersama teman-temannya, dan makan bersama. Berkat teman-teman ini, dia juga bisa melebarkan sayap mengunjungi sekolah-sekolah dan kegiatan lain. Dengan teman akrabnya di SMA, dia juga pergi ke Harajuku dan membeli coat! Riku juga menjadi pekerja sukarela di Tokyo International Film Festival, dan harus menjadi MC berbahasa Inggris (baca sih)…. tapi lumayanlah, karena anakku ini memang tidak bisa berbahasa Inggris (malas belajar bahasa Inggris) . Semoga dia semakin berusaha memperbaiki bahasa Inggrisnya. Kalau bahasa Jepang sih dia termasuk nomor atas di kelas, terutama Bahasa Jepang Kuno. Selain itu entah mengapa dia juga mempelajari Bahasa Jerman pada guru yang buka kelas tambahan di SMAnya. Dan peserta kelas bahasa Jerman itu cuma 3 orang! Duh kok ceritanya Riku melulu ya. Untuk Kai dia sering pergi beli buku sendiri di stasiun dekat rumahku, dan rekor dia pergi naik kereta sendiri sampai Saitama! Memang dia membawa HP tapi bukan smartphone, sehingga untuk berhubungan dengan dia, harus melalui email! (No Line, No WA)
  6. Dalam bersosialisasi, aku mendapat banyak pertemuan pada tahun 2018. Bertemu banyak guru-guru BIPA, termasuk tokoh bahasa Indonesia Ibu Felicia, yang dulu jaman aku mahasiswa pernah ikut kuliahnya. Banyak teman baru dari grup Wanita Indonesia Berkarya di Jepang (WIB-J) yang tinggal di Jepang. Banyak belajar kebudayaan baru dengan berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai suku, guru-guru seni dan kelompok budaya Indonesia di Jepang. Dan saya hanya berharap Kai bisa melebarkan sayap, bisa mendapat tempat baru di Saitama nanti setelah pindah sekolah. Semoga dia bisa bersosialisasi dan lebih dewasa. Satu yang bisa dicatat adalah Kai dan Gen bisa melihat Prince Akishino dan Princess Kiko sekeluarga waktu mengikuti konser 60 tahun, yang saat itu aku tak bisa hadiri karena harus ikut pertemuan PTA SMA. Ya, aku tetap menjadi petugas PTA di SMA, tapi kegiatan PTA di SMA tidak sesibuk waktu di SMP sehingga tidak memberatkanku.
  7. September kami akhirnya berhasil mendapatkan rumah di Saitama. Sebetulnya keinginan pindah rumah sudah lama, terutama sejak Riku berhasil masuk sekolah favorit di Saitama. Tapi karena tidak seperti beli tahu di pasar, kami belum bisa mendapatkan rumah yang menarik dan memenuhi kriteria kami. Akhirnya setelah kembali dari Jakarta, dapat! Tapi, kami belum bisa pindah langsung, karena memikirkan Kai yang harus pindah sekolah tiba-tiba di tengah semester. Aku pun mesti pergi ke Jakarta dan Nagoya bulan November… pokoknya Oktober, November, Desember sibuk deh! Sedikit-sedikit kami membawa barang sambil Gen dan Riku ke sekolah dan tempat kerja, taruh di rumah sana. Akhirnya kami memutuskan untuk melaporkan kepindahan di kelurahan setempat pada tgl 26 Desember kemarin, dan menggunakan liburan tahun baru untuk memindahkan barang-barang besar. Nanti cerita lagi tentang lingkungan kami yang baru ya.
  8. Setiap pertemuan ada perpisahan. Aku kehilangan seorang kakak sepupu yang meninggal di Jakarta. Di Jepang pengarang terkenal Kako Satoshi yang karyanya pernah aku ulas di TE ini : “Anda tahu PLTA Cirata?” atau juga “Oh Dewi Sri” meninggal. Ada dua anggota gereja Meguro yang meninggal muda. Mengingatkanku bahwa umur tak bisa diukur dan kematian tak bisa diprediksikan. Akhir-akhir ini juga di sekitar rumah kami banyak toko dan tempat yang tutup. Circle K di dekat halte bus kami tutup dan dampaknya setiap malam tempat itu terasa gelap sekali. Sebuah toko alat tulis yang dulu kami sering beli, ditutup dan tempatnya menjadi apartemen. Toko ikan hias langganan kami juga tutup. Banyak layanan yang kami ikuti juga menghentikan layanannya. Di rumah Nerima ini juga berturut-turut lampu mati, dan kami malas mengganti/memperbaiki karena toh akan pindah rumah. Yang paling besar mungkin adalah mobil. Karena pas jatuh tempo perpanjangan STNK (shaken habis), kami buang saja karena toh sudah 9 tahun dipakai. Sudah banyak “bonyok”nya bekas aku tabrakin 😀 (parah nih kiri belakang aku adalah 死角 buatku). Jadi kami sekarang pakai mobil rental 😀 . Siap-siap dengan semua yang baru… Semangat baru juga. Tahun baru segalanya baru 😀

Ada awal, ada akhir, Ada buka ada tutup. Dengan tulisan ini, Aku ingin menutup lembaran kehidupan kami sekeluarga di Nerima, Tokyo … dan memulai kehidupan di Sayama, Saitama di tahun yang baru dengan semangat baru.

Merry Christmas and Happy New Year 2019! よいお年をお迎えください。

6 Bulan Berlalu

Aduh, pertama kali ini aku menelantarkan blogku sampai 6 bulan! Tulisan terakhir bulan JUNI! Unbelievable…. hiks

Padahal aku pernah berkata bahwa aku ingin ngeblog sampai mati loh! (Nyengir kecut 😀 ). Keinginan menulis itu besar sekali, dan topik yang ingin ditulis juga banyak! Tapi kegiatan di dunia nyata tidak bisa dimungkiri banyak sekali menyita waktu dan tenagaku. Meskipun begitu aku juga masih tetap menulis untuk sebuah komunitas di FB mengenai bahasa an kebudayaan Jepang. Aku sudah minta ijin untuk nanti memuatnya di sini, sebagai dokumenku pribadi dan membagikannya bagi teman-teman pembaca yang bukan anggota grup tersebut. Nanti ya…. masih sibuk hehehe 😀

Kalau mau menoleh kembali, bulan Juli aku harus membuat ujian akhir semester dan laporan semester sebelum liburan musim panas. Liburan musim panas tahun ini aku lewatkan 10 hari di Indonesia, tepatnya di Jakarta, Makassar, Semarang dan Solo! Bisa bayangkan kan… 10 hari di 4 kota 😀 memang gila aku ini 😀 Biasanya aku menulis tentang perjalananku, tapi kali ini, untuk upload foto-foto pun aku tidak ada waktu.

Daeng Senga dan Daeng Bella di Galesong, bersama Riku dan Kai

Agustus kembali dari Jakarta, aku mengikuti upacara bendera pada saat proklamasi di Wisma Duta, bersama teman-teman. Juga mengadakan workshop Gamelan Sunda untuk Rumah Budaya Indonesia (RBI). Sendirian kali ini, karena partnerku sedang naik haji.

Bulan September disibuki dengan Seminar Tahunan APPBIPA (Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) cabang Jepang perdana. Seminar ini cukup sukses karena berhasil menghadirkan 4 pembicara ahli.

Oktober bulan Bahasa! Aku punya gawe besar bulan ini, yaitu melaksanakan Makassar Day. Persiapan sudah dimulai sejak Juli, termasuk belanja-belanja di Makassar. Penelitian untuk menyajikan keterangan tentang Makassar juga aku lakukan disambi kerja lain. Untunglah peserta cukup senang mendengarkan penjelasanku mengenai upacara Mapacci (midodareninya orang Makassar).

Seminggu setelah acara RBI, aku terbang ke Jakarta (lagi) untuk 6 hari guna mengikuti Kongres Bahasa di Jakarta. Sayangnya pas aku ke Jakarta, adikku yang tinggal di Jakarta sedang dinas ke Amerika hahaha. Selisih jalan deh. Untung ada Jumria yang selalu menemaniku ke mana-mana.

Selalu sempat berswafoto meski sedang kongres 😀

November diisi dengan seminar yang biasa disebut gakkai. Tahun ini diadakan di Nanzan University, Nagoya. Dan untuk pertama kalinya aku membawakan presentasi tentang APPBIPA sih. Tahun depan sepertinya harus presentasi yang ilmiah sedikit ah. Semoga. Kegiatan RBI tabrakan dengan gakkai, sehingga kali ini partnerku sendirian mengelola workshop wayang.

Desember bulannya menutup buku dan Natal! Tapi tanggal 8 Desember acara RBI adalah Dayak Day. Bersama sahabat Anyan yang asli Dayak Benuaq berhasil memberikan sedikit pengetahuan tentang Dayak kepada orang Jepang. Natal bersama KMKI (Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia) tgl 15 Desember merupakan aktifitas terakhir, tapi kuliah terakhir baru tanggal 22. Ada satu kelas yang sudah ujian, tapi 2 kelas lainnya baru tgl 11 Januari. Yang penting sekarang… istirahat dan beberes 😀

Kegiatan 6 bulan digabung dalam satu tulisan. Keterlaluan yah :D. Tapi daripada aku menutup tahun 2018 dengan tulisan bulan Juni, lebih baik dengan tulisan tgl 23 DESEMBER kan? 😀

Merry Christmas all <3

Karyawisata

Aku mengaku dulu ya, baru bisa menulis lagi setelah menyelesaikan hutang-hutang tulisan lain. Dan kebetulan malam ini belum bisa tidur (kebanyakan minum kopi) jadi aku pikir, ingin memulai kembali menulis di TE.

Hari Kamis yang lalu, Kai pergi study tour a.k.a karyawisata ke daerah Nagano. Memang 移動教室 ini merupakan program dari sekolah dasar terutama kelas 5 dan 6 (高学年)sehingga tentu saja kakak Riku juga sudah pernah (bisa baca di sini dan sini). Jadi aku sudah tahu kira-kira apa saja yang harus dibawa Kai.

Dalam shiori しおり(buku panduan) tercantum bahwa mereka harus membawa satu tas besar, dan satu tas kecil. Dalam tas besar diisi dengan baju dan baju dalam untuk 3 hari, handuk dan peralatan mandi, sedangkan dalam tas kecil, dimasukkan jaket seandainya dingin, jas hujan, payung lipat, bekal makanan dan tempat minum, serta plastik etiket yaitu plastik untuk membuang sampah, atau kalau mabuk dan m*nt*ah. Selain itu juga dompet kosong, karena pada hari terakhir mereka akan diberikan uang saku (yang sudah orang tua siapkan) untuk membeli oleh-oleh.

Kira-kira 3 minggu sebelum berangkat, kami sudah mendapat daftar apa saja yang harus dibawa (supaya bisa disiapkan jauh hari), juga berapa biaya yang dibutuhkan. Karena sekolah kami ini menginap di villa milik pemerintah daerah, biayanya sangat murah. Untuk tiga hari hanya 4900 yen, tentu sudah termasuk transportasi sewa bus dan tiket masuk tempat-tempat yang akan dikunjungi. Selain uang biaya, kami orang tua juga boleh memberikan uang saku untuk belanja oleh-oleh yang sudah ditentukan maksimum 2000 yen. Jumlah yang tidak berbeda dengan 5 tahun lalu waktu Riku kelas 5 SD. Uang 2000 yen ini kami masukkan amplop tertutup, yang akan dipegang gurunya sampai waktunya berbelanja. Ini untuk keamanan anak-anak sendiri, dan mencegah keinginan mencuri pada anak-anak (dan atau orang luar). Dianggap batas maksimum 2000 sudah cukup untuk berbelanja oleh-oleh, dan tidak ada orang tua yang memberikan lebih dari yang sudah ditetapkan, meskipun mereka kaya. Peraturan adalah peraturan yang harus dipatuhi.

Perlu diketahui, anak SD di sini tidak ada yang membawa uang ke sekolah. Mengapa? Ya karena tidak perlu uang juga. Transportasi dengan jalan kaki dari rumah. Juga tidak perlu untuk jajan, karena di sekolah disediakan makan siang. Minum pun tidak perlu karena ada “fountain” yang dipasang di sekolah. Kalaupun membawa tempat minum, kami sudah diperingatkan untuk hanya mengisinya dengan air atau teh tawar. Tidak boleh teh manis!

Lalu pertanyaannya, apakah anak SD dapat uang saku? Saya sendiri tidak pernah memberikan uang saku kepada Riku dan Kai selama SD. Riku dulu memang sering bermain dengan teman, tapi kalaupun perlu uang untuk beli jajanan, aku berikan per hari dan hanya 100yen (cukup untuk membeli jajanan murah). Kalau Kai, dia tidak pernah main di luar bersama teman, sehingga tidak pernah perlu uang. Tapi kalau mau ditanya berapa kira-kira uang saku anak SD, ya sekitar 1000-2000 yen per bulan. (Saya baru berikan sejumlah ini waktu Riku di SMP)

Kembali lagi ke karyawisata Kai. Hari pertama mereka harus berkumpul di sekolah pukul 7:20, untuk kemudian pergi ke pabrik Lotte di Saitama. Pabrik lotte ini adalah pabrik yang membuat permen karet dan kue-kue snack untuk anak-anak. Mereka membuat kue “Koala no Marchi” khusus bertuliskan nama sekolah mereka.

Setelah itu mereka langsung ke tempat penginapan yang merupakan penginapan milik pemda Nerima, sehingga biayanya juga murah sekali. Malam mereka mengadakan camp fire, dan mereka bersama-sama menarikan gerakan waktu pesta olah raga.

Keesokan harinya, Kai yang biasanya tidur jam 11 pada acara menginap ini harus tidur jam 9, jadi dia bisa bangun sebelum teman-teman lainnya bangun jam 6. Dia bertugas sebagai penyiap makanan, sehingga dia membawa makanan untuk teman-temannya ke meja makan. Setelah selesai makan, dia harus mengelap meja dan meyakinkan bahwa meja telah bersih.

Hari itu mereka mendaki 3 gunung dan diakhiri dengan makan bekal yang disiapkan di dalam bus. Memang kegiatan utama hari itu adalah mendaki gunung. Untung saja anakku yang “gede” itu bisa mendaki dengan dibantu teman-temannya. Setelah kembali ke penginapan, mereka bermain dodge ball dan melakukan “kimodameshi” (mencoba nyali keberanian). Mereka harus melaksanakan tugas dalam kegelapan.

Hari ketiga mereka bersiap untuk pulang termasuk membereskan kasur yang mereka tiduri. Saat ini Kai dipuji teman-temannya karena menegur seorang teman yang tidak rapih. Kata mereka, “Lain kali kalau pergi lagi Kai saja yang jadi ketua kelompok deh”. Entah mengapa, aku bangga sekali mendengar cerita ini. Anakku bisa dipercaya, meskipun secara fisik dia tidaklah kuat karena gemuk.

Setelah makan pagi (tentu Kai bertugas lagi), mereka mengadakan upacara penutupan Karya wisata. Kemudian berangkat ke Museum dan Kebun Apel tempat mereka mempelajari tentang penanaman dan panen apel. Baru terakhir mereka dibagikan amplop yang berisi uang (dari orang tua) untuk berbelanja. Kai membeli potato chips yang pedas, serta beberapa snack yang menurutnya “tidak ada di Tokyo”. Katanya, “Mama lucu deh. Tempat aku beli potato chips itu kan di atas gunung, jadi waktu turun ke Tokyo, kantong potato chipsnya kempes karena ada perbedaan tekanan!”. Lalu mama dengan kurang ajarnya  berkata, “Sayang perutnya Kai tidak kempes ya”…. hahaha

Aku perhatikan memang dengan adanya kegiatan bermakan dan karyawisata itu, sekembalinya anak-anakku berubah, lebih bertanggung jawab dan tidak manja lagi…. kesepian deh mamanya jarang dimintakan “peluk doong” lagi 😀

 

Youtuber

Aduh maaf, ternyata halaman TE sudah berdebu tebal, akibat aku tidak tulis-tulis 😀 Hampir 3 bulan ya? Sebelum ambruk TEnya aku tulis sedikit ya 😀

Tahu Youtuber? Kalau anak muda pasti tahu deh. Karena “youtuber” atau pembuat video clip di youtube ini menjadi salah satu jenis pekerjaan terbaru di kalangan anak-anak di Jepang. Mereka あこがれる terpesona pada “artis” youtube yang bisa menjelaskan atau membawakan sesuatu dengan menarik, sehingga “pengikut” atau followernya banyak.

Ada beberapa yang terkenal di Jepang, dan salah satunya sering ditonton anak bungsuku, Kai. Tapi karena aku sering marah karena tidak suka suaranya, dia jadinya sering menonton doraemon atau pokemon di youtube. TAPI sebetulnya ada beberapa youtuber yang dia suka, yang isinya mengadakan eksperimen-eksperimen. Nah, kalau yang begini aku juga tidak bisa melarangnya.

Suatu hari dia bilang padaku: “Mama aku mau menyiangi ikan! Aku tonton rupanya menyiangi ikan itu ada 2 macam ya? 二枚おろし Nimaiosroshi (membelah ikan menjadi dua)  dan 三枚おろし (membelah ikan menjadi tiga) ya. Aku mau coba”

atas nimai-oroshi bawah sanmai-oroshi

Jadi aku mengajak dia pergi ke pasar bersama dan membiarkan dia memilih ikan apa yang mau dia potong. Begitu sampai rumah, dia ambil mulailah menyiangi ikan, sambil mengingat yang dia lihat di youtube. Aku berikan contoh, terutama waktu membuang insang ikan. Ada satu ikan yang akhirnya dia buat untuk sashimi (ini sulit karena harus mencabut semua duri-durinya), sedangkan yang lainnya aku bakar.

Hari yang lain, dia minta aku belikan kepala susu 生クリーム sepulang ngajar. Tanpa tanya untuk buat apa, aku belikan saja. Begitu pulang, dia masukkan kepala susunya ke dalam botol plastik dan mengocoknya. Katanya dia mau membuat mentega 😀

Sudah dari hari Jumat dia minta aku belikan (lagi) kepala susu. Tapi karena aku tidak bisa mampir toko sebelum pulang, tadi siang aku suruh dia beli sendiri. Rupanya dia mau membuat es krim vanila. Begitu pulang dia langsung siapkan alat-alat dan dia buat sendiri. Aku hanya menyediakan tempat kecil supaya bisa dimasukkan lemari pembeku.

Dia salah takaran gulanya, sehingga tidak manis sama sekali! Tapi aku bilang padanya, toh nanti kalau sudah jadi bisa dikasih madu, atau sirup atau karamel.

Es krim hasil eksperimen Kai

Anakku yang satu ini lucu juga. Dia tidak hanya mau eksperimen masak, tapi juga yang lain. Sekitar seminggu lalu dia minta dibeikan pemoles logam, dan dia poles uang logam 10 yen jadi mengkilap. Rupanya dia menemukan uang logam 10 yen langka tahun 64 Showa (1989)  yang hanya berlangsung  seminggu karena kemudian Kaisar Showa meninggal dan diganti Heisei. Setelah dia poles mengkilap, dia bawa ke sekolah untuk diperlihatkan pada gurunya… yang sangat heran tentang keberadaan uang Showa64 itu.

Tapi untung bahan yang dia cari untuk melakukan eksperimen itu masih terjangkau untuk dibeli. Kalau dia minta yang aneh-aneh, akunya yang pusing 😀