Dalam Kenangan dan Doa

29 Okt

Kemarin dulu di WAG keluarga, adik saya bertanya, “Mel, tolong kasih tahu nama- nama saudara yang sudah meninggal dan mau kita doakan. Karena aku akan buat daftarnya untuk diberikan dalam misa nanti. Nama mama sudah pasti aku tahu, tapi banyak saudara yang lain, aku banyak tidak tahu nama benarnya siapa”. Lalu kami membuat daftar nama-nama saudara-saudara kami, dengan nama benarnya.

Nama benar? Ya, nama aslinya, karena biasanya orang memanggil saudara-saudaranya dengan nama panggilan, kan? Aku ingat kami waktu kecil selalu memanggil opa-oma kami dengan opa-oma Bogor dan opa-oma Makassar. Baru setelah besar mengetahui nama mereka yang asli. Ada lagi yang nama singkatan misalnya Oma Poel itu nama aslinya Pauline. Tapi yang asyik sepupu kami yang bernama Uud, nama aslinya Barend. Jauuuh banget kan?

Sambil menuliskan nama-nama mereka, kami mengenangkan mereka dan nanti pada misa hari Minggu akan mendoakan mereka. Kami bisa mendoakan saudara atau teman agama apapun dalam kesempatan itu. Saya senang agama kami mempunyai kebiasaan seperti itu, meskipun tentu setiap hari kami bisa berdoa untuk yang sudah mendahului kami. Saya teringat juga pada kotbah seorang pastor, yang mengatakan bahwa ada seorang Jepang laki-laki yang sudah tua mau belajar katekismus dan mau dibaptis menjadi katolik. Ketika ditanya kenapa mau masuk katolik, dia menjawab, “Saya senang mendengar dalam setiap misa, pastor dan umat mendoakan semua yang sudah meninggal. Saya juga mau didoakan jika saya mati kelak”. As simple as that, tapi itu adalah keinginannya yang murni.

Sembari menulis daftar nama itu, aku memasukkan nama teman dari SD yang baru meninggal. Juga teringat dengan teman-teman yang kehilangan pasangan hidupnya dalam masa pandemi ini. Bahkan teringat pada teman yang menceritakan soal temannya yang meninggal. Semoga mereka semua beristirahat dalam damai.

Pesta Halloween memang lebih dikenal dalam masyarakat, sama seperti pesta valentine. Tapi justru yang penting malahan pesta peringatan Semua Orang Kudus pada tanggal 1 November dan peringatan semua arwah orang beriman pada tanggal 2 Novembernya.

Halloween merupakan malam sebelum hari suci Kristen Hari Para Kudus (All Hallows’ Day), yang juga disebut Hari Semua Orang Kudus (All Saints’) atau Hallowmas, tanggal 1 November dan Hari Semua Jiwa (All Souls’ Day) tanggal 2 November, sehingga tanggal 31 Oktober yang merupakan hari libur di beberapa negara ini secara lengkap dinamakan Malam Para Kudus (All Hallows’ Eve, yaitu malam sebelum All Hallows’ Day). (wikipedia)

Oktober sudah hampir habis, dan kami di sini bersiap-siap untuk menikmati perubahan warna daun-daun sebelum akhirnya semuanya luruh dan meranggas.

Aku Anak Singkong & Keju :D

27 Okt

Diih, maksa 😀 Dalam lagunya mesti pilih kok, kalau anak keju, sukanya yang serba luar negeri. Sedangkan yang suka singkong, itu sukanya yang dalam negeri. Nah kalau yang tinggal di luar negeri tapi sukanya barang dalam negeri, bagaimana dong?

Tidak usah sampai zaman dulu waktu baru pertama datang ke Jepang deh, kira-kira 5 tahun lalu saja, kalau kami mau makan masakan Indonesia ya harus pergi ke restoran Indonesia yang ada. Dan di restoran Indonesia di Tokyo, belum ada yang bisa menyediakan pempek atau bakso bahkan singkong rebus.

Sejak pandemi Covid ini, baru aku getol belanja bahan-bahan masakan Indonesia secara online. Juga memesan masakan Indonesia home industry yang dibekukan dan dikirim ke rumah. Kadang mahalan ongkos kirimnya, jadi biasanya aku gabung dengan dua teman yang sering ke rumahku, mencoba masakan-masakan Indonesia yang bermacam-macam. Supaya tidak rugi ongkirnya, dan bisa menilai rasa masakan itu bersama. Ada beberapa yang sudah diulang pesan, dan itu berarti enak (menurutku ya). Aku punya langganan bakso dan pempek, dan selalu stock di freezer. Pokoknya sekarang jauuuh lebih enak dari dulu deh, kalau soal makanan.

Nah, selama ini yang jual singkong cuma dua tempat. Singkongnya itu sudah direbus dulu, baru dibekukan. Harganya lumayan mahal menurutku sih. Tapi kalau emang lagi ingin, mahal juga dibeli, kan? Kebetulan aku punya teman di Niigata, yang rupanya mempunyai lahan cukup besar dan sekitar bulan Agustus membuka p.o. pemesanan siapa yang mau singkong mentah. Dia sudah bilang sih sekitar bulan Oktober. Langsung dong aku beli 10 kg sekaligus, karena tidak tahu kapan lagi bisa panen kan? Jepang gitu loh, negara 4 musim, sehingga untuk tanaman tropis hanya bisa tumbuh selama musim panas saja. Terbayang dong buat combro, lemet, getuk dsb dsb. Ehhh tapi begitu barangnya datang kemarin, langsung potong satu batang yang panjangnya kira-kira 60cm itu, dan langsung goreng begitu saja. Yummy!

Aku suka keju, tapi aku juga suka singkong. Tapi aku tidak suka singkong keju (nama kue) hehehe. Kalau dalam lagu sih memang kesannya keju mahal, singkong murah. Tapi di sini… terus terang mahalan singkong dari keju loh.

Besok mau rebus singkong dan makan dengan mentega gula pasir ah, seperti zaman dulu makan bareng dengan mama.

Biar deh dibilang Anak Singkong 😀 soalnya emang aku masih anak Indonesia, kan? Dan aku juga blogger Indonesia loh, karena masih sesekali menulis blog 😀 Selamat Hari Blogger Nasional 27 Oktober 2020 ya…

Tetangga

30 Sep

Dulu, waktu masih tinggal di Nerima, aku cukup mengenal tetangga kiri dan kananku. Yang kanan, cuma tahu bahwa mereka punya dua anak perempuan. Kami jarang bicara. Yang kiri, aku tahu mereka dari suatu aliran agama yang sangat saya hindari di Jepang, setelah mendengar dari sahabat yang “terpaksa” masuk ke agama itu karena menikah. Bukan, bukan agama Y. Tapi suatu agama lain, yang berprinsip “sama rasa sama rata” dan mewajibkan “umat”nya untuk memberikan seluruh kekayaannya untuk kepentingan agama. Tentu si Ibu gigih mengajakku ikut acara-acara mereka, tapi bisa saja aku tolak karena memang aku bekerja. Selain soal agama, kami baik-baik saja dan sering saling mengirimkan buah tangan.

Aku sudah tinggal di Sayama sini, hampir 2 tahun. Waktu pindah, tentu kami “aisatsu” memperkenalkan diri kepada tetangga kami. Karena rumah kami paling pojok, ujung jalan bentuk L , aku mempunyai tetangga di depan rumah kami ada dua kiri dan kanan. Keduanya cukup saling tahu saja, meskipun tetangga depan kiri itu agak aneh menurutku. Mungkin kebanyakan uang sehingga dalam dua tahun kami di sini sudah ada 2-3 kali dia memperbaiki tembok pagarnya. Mending kalau berubah model. Tidak! Sama saja modelnya, tembok batu yang mulus :D. Waktu dia membongkar tembok batu yang mulus itu, aku tidak bisa mengajar secara online karena ribut!

Nah, kami tidak punya tetangga kiri, karena parkiran, tapi ada tetangga kanan. Sebut saja Bapak KW. Rumah dia satu-satunya yang hampir menempel pagar kami. Jadi kalau aku buka pintu rumah, pasti terdengar karena begitu dekat. Untung saja Bapak KW sudah tidak peka pendengarannya, sehingga dia mungkin tidak pernah terganggu teriakanku pada Kai di lantai dua setiap pagi. “Kai bangun!” 😀

Bapak KW ini sudah berusia 86 tahun (lupa juga tepatnya, tapi pasti lebih dari 80 tahun). Dia hidup sendirian. Kalau teman-teman berpikir dia itu “loyo”, wih ngga deh. Dia itu masih sehat, jalan tegap, daaaaan… Dia pernah keluar rumah berjalan di depan rumahnya dengan baju training tanpa kaus kaki pada musim dingin. Ampun deh.. aku saja kedinginan melihatnya.

Awal pindah, pernah aku bertemu dengannya waktu hendak ke stasiun. Tiba-tiba saja, “Miyashita san..” Maklum karena baru pindah, belum kenal siapa-siapa. Waktu itu aku jalan dengan Kai, dan dia menyapa mengajak bicara. Untung waktu itu kami tidak buru-buru sehingga masih bisa bertukar sapa.

Kadang aku bertemu di depan supermarket, lalu biasanya aku sapa, “Okaimono? (Berbelanja?). Dan dia akan berkata, “Iya, sekaligus olahraga”. Padahal aku pernah bertemu dengannya di sebuah supermarket yang jauh, yang jalan kaki butuh waktu 20 menit! Tanjakan lagi. Hebat deh. Aku so pasti dong, naik sepeda yang assist lagi. Duh! Tapi urusan belanja memang aku tidak bisa tanpa sepeda, karena kalau belanja pasti untuk 1 minggu sekalian. Berat booo.

Terakhir aku bertemu dia sekitar bulan April, saat aku berbelanja pakai masker. Eh, dia bisa kenali aku (ya iyalah, siapa lagi yang badannya besar pakai batik hihihi. Masih kutanya, “Sehatkah?” Dan dia menjawab, “Sehat. Kalian juga sehat-sehat ya!” Dia memang selalu menyapaku, setiap melihatku. Kadang dia laporan kalau melihat anakku sedang jalan, tapi tidak mau menegur, karena takut mengganggu.

Aku mengganggap dia tetangga yang kawaii, yang menarik. Ingin rasanya aku mengetuk pintu rumahnya, dan tanya “Apa kabar?” Tapi … sungkan, karena tidak ada kebiasaan begitu di sini. Dan memang aku pun jarang keluar rumah, kecuali ke supermarket, kan?

Jadi, kemarin ada yang mengebel rumahku. Rupanya keponakan Bapak KW. Dia minta izin untuk parkir di depan rumahku. Katanya, “Bapak KW kan sudah pikun, jadi kami mau melihat kondisinya. Mungkin perlu bawa ke RS”…. aku jadi sedih. Kukatakan, “Silakan parkir saja. Dan sampaikan salamku ya. Kemarin malam aku masih lihat lampu di kamar tamunya menyala. Semoga dia baik-baik saja.”

Dan…. semalam….. lampu kamar tamunya tidak menyala. Gelap. Dingin. Dan aku sedih. Mungkin dia dibawa ke RS Khusus lansia. Rumah Jompo. Meskipun aku tahu itu yang terbaik untuk dia, daripada tinggal sendiri dan berbahaya. Tapi tetap sedih. Sayang aku tidak bisa mendengar sapaannya lagi, “Miyashita san….” Semoga Bapak KW sehat-sehat saja ya.

NB: Hari ini keponakan si Bapak KW datang lagi, dan ternyata benar Bapak KW kena stroke dan tidak bisa digerakkan setengah badannya sehingga kemarin masuk RS. Keponakan datang untuk membersihkan rumah bapak KW. Sedih rasanya 🙁

Kemewahan

8 Sep

Dalam bahasa Jepangnya adalah Zeitaku 贅沢, tapi kemudian berubah menjadi investasi. Persis sebelum Tokyo belum ditutup dan dinyatakan dalam situasi darurat pada bulan Maret, tepatnya tanggal 24 Februari 2020, kami mendapatkan kemewahan yang kalau kami kenang lagi, semua memang sudah tepat pada waktunya.

Riku ulang tahun tanggal 25 Februari, tapi itu hari kerja. Tanggal 24 Februarinya Senin, tapi hari libur di Jepang. Jadi kami katakan pada Riku bahwa lebih baik rayakan sebelumnya saja. Tapi hari itu sebetulnya dia harus arbaito, kebetulan ada permintaan untuk menjadi figuran dalam iklan Indonesia, yang diambil di Akihabara.

Berempat menuju Akihabara.

Jadilah kami berempat pergi ke Akihabara naik kereta, sambil menunggu Riku “kerja” selama 1-2 jam, kami berpisah dan jalan-jalan di Akihabara. Tujuan kami adalah mencari komputer yang cocok untuk Kai. Kai lulus SD dan akan masuk SMP. Sama seperti kakaknya waktu lulus SD, kami ingin membelikan dia laptop.

Awalnya dia tidak mau. Tahu alasannya? Dia mau MERAKIT sendiri! hahaha. Jaman now, merakit sendiri. Yang ada jatuhnya lebih mahal. Dan yang pasti makan tempat dong. Eh, tapi ada loh paket rakitan sendiri, sudah dipilihkan oleh orang tokonya motherboard, casting, display, keyboard dsb. Tapi tanya-tanya pada tante Titin, disarankan untuk pelajari lama dulu, atau beli notebook saja.

Yang membantu Riku pilih-pilih juga mahasiswa, jadi dia beritahu hints banyak.

Setelah naik turun cari yang cocok buat dia (Dia maunya sih yang bisa untuk gaming…. no no no deh), akhirnya kami belikan DELL. Terus terang aku belum pernah pakai Dell, dulu pernah beli IBM, Fujitsu, NEC, HP, dan terakhir lenovo sampai 5 biji (untuk beberapa orang loh). Keburu cinta sama lenovo sih hehehe. Kata orang tokonya specnya bagus karena harganya miring. Rupanya seminggu sebelumnya ada Dell Fair. Karena anaknya suka, ya kami belikan. Langsung bawa pulang.

Janji untuk bertemu Riku lagi di kedai teh. Aku dan Kai menunggu di kedai teh itu, sambil pesan es untuk Kai dan teh untukku. Nah es itu didalam cone, tapi ditaruh dalam gelas. Nah si pelayannya waktu akan menyerahkan ke aku, akunya belum siap, sehingga esnya jatuh. Kasihan! Karena aku juga sebetulnya bersalah di situ. Eh diganti es nya dengan yang baru. Padahal aku sudah bilang tidak usah. Pelayanan di Jepang sih memang begitu.

Ginza pada hari libur menjadi CFD Car Free Day

Begitu Riku selesai, kami lalu naik subway menuju Ginza. Karena memang aku ingin mengajak nostalgia mengenang mama, di restoran Shabu-shabu yang ada di Ginza. Dulu setiap mama dan papa datang, pasti makan di sini. Jadi ceritanya pesta ultahnya dirayakan dengan shabu-shabu. Mantap deh.

Setelah selesai makan, kami masih mau jalan-jalan sekitar Ginza, mencari kertas washi. Lalu tiba-tiba aku bilang bahwa mama terakhir ke Ginza karena mau perbaiki iPhone. Nah, Riku langsung bilang bahwa dia mau lihat-lihat. Dia memang sudah mengeluh iPadnya lelet dan memorynya sedikit. Lagipula iPad itu adalah turunan dari Ibu Mertua yang aku tahu sekali kapasitasnya jauh dari memadai, karena dulu Ibu Mertua hanya perlu untuk main game 😀

Jadilah kami ke gerai apple dan penuh orang dong. Sambil melihat-lihat, ternyata iPad sudah canggih sekali sekarang. Hampir tidak ada bedanya dengan komputer deh. Apalagi Riku sedang persiapan ujian masuk universitas, jadi perlu banyak belajar dan mencatat. Hampir setiap hari perlu ke bimbel juga. Daaan, dia juga bilang, “Ma, dulu aku kelas 6 SD dibelikan komputer tapi kan harganya cuma sepertiganya Kai yang sekarang”… Well, dia butuh dan akhirnya aku belikan dia iPad yang terbaru, yang memadai sehingga dia bisa pakai sampai lulus universitas. Kalau selama universitas dia mau ganti, silakan kerja sambilan untuk beli sendiri hehehe.

Setelah itu kami langsung pulang deh, tidak ada waktu lagi jalan-jalan. Kami pulang ke rumah dengan komputer dan iPad baru dan tentu saja begitu sampai rumah mereka langsung ke kamar masing-masing untuk set up peralatan baru mereka.

Atas: Si Bungsu belajar programming sama tante Titin. Bawah: Kalau bosan belajar di kamarnya, Riku sering turun dan belajar di meja makan bersama aku.

Daaaan, aku merasa kemewahan dalam sehari itu amat sangat tepat waktu. Karena kemudian Tokyo dinyatakan kondisi darurat dan kami semua harus belajar/bekerja dari rumah. Masing-masing sudah punya perangkat sendiri, sehingga tidak perlu bergantian pakai komputer mama/papa. Kondisi ini yang tidak dipunyai oleh banyak keluarga Jepang lain, sehingga tidak mungkin untuk belajar daring (online) untuk SD, SMP di Jepang. Jadi selama itu SD dan SMP TIDAK belajar online. Tugas dan PR diambil di sekolah, bahkan ada daerah yang gurunya antar ke rumah. SMA Riku swasta sehingga terus online, sampai bulan Juni, waktu sekolah dimulai kembali. Kai? Untuk SD/SMP nya Kai memang tidak ada kelas online, tapi sejak Februari Kai masuk bimbel, dan bimbel ini ONLINE seminggu 2 kali. Aku merasa beruntung sekali sempat memasukkan Kai ke bimbel itu. Karena tidak semua bimbel menyediakan pembelajaran daring. Memang semuanya sudah tepat pada waktunya.

Ketika Bang Kopid Belum Datang

6 Sep

Akhir-akhir ini aku merasakan keinginan yang kuat untuk menulis. Jadi mumpung mau menulis, langsung buka blog ini.

Akhir Januari tahun 2020. Waktu itu belum ramai soal pandemi. Tiba-tiba aku dan adikku memutuskan untuk pergi ke Indonesia untuk keperluan yang urgent. Memang sebelumnya kami mengetahui juga bahwa papa masuk RS sampai dua kali. Tapi bukan (hanya) papa yang menyebabkan kami memutuskan untuk langsung berangkat keesokan harinya, tentu dengan membeli tiket yang amat sangat mahal. Tapi, kami merasa perlu. Keluarga yang utama.

Banyak yang berubah di Jakarta. Termasuk seringnya menemui ondel-ondel ribut seperti ini.

Aku sangat beruntung mempunyai suami yang bilang, “Pergi aja, jangan pikir uang!”, dan anak-anak yang mengerti bahwa mereka harus mandiri selama 10 hari aku tidak di Jepang. Yang aku khawatirkan cuma si bungsu, karena dia selalu sulit bangun pagi untuk ke sekolah. Tapi ternyata bisa juga kok. Secara rutin dia setiap pagi mengirimkan message “Ittekimasu (Saya pergi ke sekolah dulu)”. Lega rasanya.

Kadang kami tidak sempat ke restoran dan makan malam di Hotel, dengan minta dibelikan masakan yang kami inginkan. Sate RSPP, Martabak manis is a must.

Pertama kali juga memakai lounge untuk bisnis class sebelum terbang, dan cukup norak melihat semua fasilitas yang disediakan, termasuk makanannya. Eh ada juga sake Jepangnya yang sampai 5/6 jenis. Padahal pagi hari tuh, jadi benar-benar cuma satu sruput untuk rasa saja dan mencatat namanya. Kalau enak kan bisa beli sendiri.

Putu Made di Sency. Sepertinya setiap aku ke Jakarta pasti ke sini deh 😀

Tidak ada yang tahu kami ke Jakarta. Dan kami juga pikir tidak ada waktu sama sekali bertemu teman-teman karena tujuan kami ke Jakarta bukan untuk berlibur. Selama 10 hari itu, kami cuma di hotel, RS dan restoran 😀 Kami selalu menyempatkan mencari restoran baru yang katanya enak untuk kami nilai.

Kami juga sempat ke Seribu Rasa. Pertama kali bagiku. Lumayanlah.

Aku selalu menginap di Hotel GM kalau pulang ke Jakarta. Kenyamanannya tidak tergantikan. Dan kali itu pun aku terkejut ketika seorang doorman, menyapa namaku, “Ibu Imelda, kok sudah lama tidak ke sini?” . Lohhh, aku tidak pakai name tag loh, kok dia bisa tahu, atau dia bisa ingat? Aku tidak pernah kasih segepok uang tip kok untuk dia. Hospitalitynya di sini memang top.

Karena bingung cari restoran padahal sudah malam dan capek, akhirnya ke Pasific Place dan makan di Tesate. Restoran Indonesia semua kan yang aku pergi 😀

Ada dua orang yang sering aku tanyakan restoran apa yang layak dicoba. Adik angkatku di Jumria dan teman SMA ku Tipri. Kebanyakan pilihan mereka itu cocok untukku. Kali ini aku sempat mencoba gerai Kopi Toby’s di PIM sampai dua kali. Kali pertama mungkin karena lapar sekali, terasa enak sekali. Kali ke dua, beda rasanya heheheh. Tapi kopinya enak kok. Konon Toby’s ini dari Aussie sih.

Sempat makan sate padang juga sih, tapi kurang enak 🙁

Tentu kami juga tidak lupa mengunjungi mama di Oasis Lestari. Dan pulang dari situ, kami mengunjungi saudara yang tinggal di Alsut. Pertama kali ke rumah dia.

Lupa mencatat nama restoran ini, ternyata di Kemang Village bukan di Citos. Nona Manis namanya. Enak juga.

Sepuluh hari yang terasa pendek tapi melelahkan juga. Tapi kami lega karena tujuan kami ke Jakarta berakhir dengan baik. Bisa menengok papa juga dan menyelesaikan beberapa tugas termasuk makan hehehe.

Malam sebelum kembali ke Jepang. Sempat bertemu Sanchan yang membawakan tongkat untuk papa dan Susi yang kebetulan menginap di hotel yang sama denganku

Siapa sangka waktu itu bahwa mulai bulan Maret, dunia akan dilanda pandemi yang membuat kami tidak bisa bebas untuk mudik ke Jakarta lagi. Biasanya aku pulang setiap Agustus, tetapi kali ini tidak bisa pulang. Sedih tapi apa boleh buat ya? Aku bersyukur membuat keputusan tepat untuk pulang akhir Januari itu. Semoga bisa segera ke Jakarta lagi deh. Bang Kopid, cepet pergi dong! 😀

Hari Gunung 山の日

11 Agu

Tahun 2020 ini sebenarnya Hari Gunungnya pindah ke tanggal 10 Agustus, padahal seharusnya tanggal 11 Agustus, karena direncanakan supaya banyak libur beruntun pada saat pelaksanaan Olimpiade 2020. Sayang karena Mbak Corona, rencana tinggallah rencana, tidak bisa diwujudkan.

Jadi kalau melihat penanggalan Jepang pada bulan Agustus, pasti tanggal 11 Agustus itu berwarna merah dan merupakan hari libur resmi. Dan hari Gunung ini sebetulnya baru dirayakan sejak 2016 yang lalu. Memang sepertinya Jepang sedang berusaha memperbanyak hari libur untuk mengerem atau memperpendek hari kerja orang Jepang (meskipun dipantek hari libur setengah tahun pun orang Jepang akan tetap bekerja di hari libur 😃 ), dengan memutuskan Happy Monday (menggeser hari libur ke hari Senin sehingga bisa libur berturut-turut dan menambah hari libur.

Penetapan Yama no hi 山の日 ini dilakukan setelah 20 tahun berlalu sejak penetapan Hari Laut yang jatuh hari Senin ke3 pada bulan Juli. Selain daripada tujuan penetapan yang “membuat warga lebih menyadari keberadaan gunung dan menghargainya”, sebetulnya tidak ada latar belakang sejarah yang mendukung, seperti saudaranya si Hari Laut. Dengan tidak ada latar sejarahnya ini memang yang membuktikan bahwa pemerintah “mencari-cari” kesempatan untuk meliburkan warganya di bulan Agustus.

Dalam penggodokan penentuan tanggal untuk diperingati sebagai Yama no hi, awalnya ditentukan tanggal 12 Agustus. Tapi pada tanggal itu pada tahun 1985, telah terjadi kecelakaan jatuhnya pesawat 墜落事故 JAL dengan nomor penerbangan 123 di daerah Osutakano one (Prefektur Gunma) yang menelan korban 520 orang. Kecelakaan ini merupakan kecelakaan terparah dalam bidang penerbangan. Jadi, rasanya tidak etis untuk merayakan Hari Gunung pada tanggal 12. Sedangkan jika diundur ke tanggal 13, juga tidak bisa karena biasanya pada tanggal 13-14-15 Jepang merayakan Obon (meskipun bukan tanggal merah, biasanya orang Jepang pulang kampung pada hari-hari ini). Jadilah Hari Gunung dirayakan pada tanggal 11 Agustus, dan menjadi hari libur yang ke 16 dalam satu tahun di Jepang.

Saya sendiri belum pernah mendaki Gunung Fuji. Orang asing biasanya menyebutkan Gunung Fuji adalah Fujiyama, sedangkan orang Jepang menyebutnya dengan Fujisan. Mengapa? Sebetulnya memang kanji 山 itu bisa dibaca “yama”, dan bisa dibaca “san” (atau “zan”), jadi tidak salah kalau disebut dengan Fujiyama. Tapi orang Jepang menyebutkan Fujisan itu konon karena lebih menghormati gunung Fuji, layaknya menghormati manusia yang juga dipanggil dengan -san.

Tapi tahukah teman-teman ada berapa banyak gunung sih di Jepang? Sebetulnya Jepang itu selain bisa disebut sebagai “negara kepulauan”, juga bisa disebut dengan “negara gunung”, karena jumlahnya 16.667 gunung (menurut peta dengan skala 1:25.000)! Dan ini masih ada yang tidak tercantum namanya, sehingga mungkin lebih banyak lagi jumlahnya. Gunung yang tertinggi di Jepang tentu adalah Fujisan (3776mdpl) Sedangkan gunung yang terendah, yang tercantum dalam peta skala 1:2.00 itu setinggi 5 meter yang terletak di Osaka dan bernama Tenbouzan 天保山.

Saking banyaknya gunung di Jepang, Fukuta Kyuya, seorang novelis dan pendaki gunung memilih 100 gunung populer di Jepang 日本百名山, dan biasanya menjadi panduan atau target pendaki gunung di Jepang. Boleh berbangga, bapak mertua saya sudah menyelesaikan pendakian 100 gunung populer di Jepang pada usia 74 tahun. Sayangnya sekarang beliau harus mengurus istrinya yang sakit sehingga tidak bisa memenuhi target 200 gunung populer di Jepang.

Saya sendiri sebetulnya takut ketinggian, sehingga takut mendaki. Tapi paling sedikit ada 2 gunung yang saya ingat pernah saya daki yaitu Nokogiriyama 鋸山 (330mdpl) di Chiba dan Hachijoji-shiroyama八王子城山 (446mdpl) di Tokyo. Untuk berikutnya mau coba Takaosan 高尾山 (599mdpl)…. entah kapan. Tapi paling enak memang mendaki Daikanyama, atau Aoyama atau Yamanote saja deh hehehe 😃. (Daikanyama, Aoyama adalah nama daerah di Tokyo yang terkenal sebagai tempat belanja 😀 , sedangkan Yamanote adalah jalur kereta komuter yang memutari Tokyo). Kalau Sayama? boseeeen tiap hari di gunung sempit sih 😀 (Sayama adalah nama daerah tempat tinggal saya)

Tulisan ini pernah tayang dalam Pojok “Bahasa dan Budaya Jepang” dalam Grup Wanita Indonesia Berkarya di Jepang.

Semestinya memang Hari Gunung diperingati tgl 11 Agustus, tapi khusus untuk tahun 2020 dipindah ke tanggal 10 Agustus, karena (rencana) penutupan Olimpiade itu tanggal 9 Agustus, jadi bisa istirahat sesudahnya. Tapi sayang Olimpiade tidak jadi diadakan. Nah untuk tahun 2021 konon karena Olimpiade dipindah tahun depan, dan penutupannya tanggal 8 Agustus, maka Hari Gunung menjadi tanggal 9 Agustus. Mari kita doakan tahun depan Olimpiade bisa dilaksanakan sesuai rencana ya. Tetap berharap.

Annual baby’s-breath

7 Jul

Napas Bayi Tahunan?

Nama latinnya Gypsophila elegans atau KASUMISOU カスミソウ dalam bahasa Jepang. Bunga yang imut-imut, kecil berwarna putih, dan biasa dipakai untuk mengisi kekosongan rangkaian bunga.

Kasumisou

Bunga yang kecil-kecil dan banyak ini dianggap menggambarkan bintang-bintang di galaksi. 天の川. Karena itu hari ini tanggal 7 Juli dinyatakan juga sebagai hari Kasumisou, selain sebagai hari Tanabata.

Asal usul perayaan Tanabata di Jepang berasal dari Legenda Tanabata yaitu kisah cinta Orihime dengan Hikoboshi. Orihime adalah putri Raja Langit (Tentei) yang pandai menenun. Dikatakan Orihime ini adalah bintang Vega yang merupakan bintang tercerah dalam rasi bintang Lyra. Raja Langit sangat suka tenunan Orihime, sehingga Orihime kerjanya hanya menenun saja. Orihime sedih karena kalau dia hanya menenun saja, bagaimana bisa mendapat jodoh. Nah, sang bapak kemudian mengatur pertemuan dengan Hikoboshi yang merupakan penggembala sapi di seberang Amanogawa (Galaksi Bima Sakti). Hikoboshi ini dianggap sebagai Bintang Altair yang berada di rasi bintang Aquila. Begitu Orihime bertemu Hikoboshi, mereka jatuh cinta dan menikah. Tapi karena itu, Orihime tidak lagi menenun, dan Hikob tidak lagi menggembala (maklum lah pak… kan masih pengantin baru :D). Raja Langit kemudian sangat marah dan keduanya dipaksa berpisah. Orihime dan Hikoboshi tinggal dipisahkan sungai Amanogawa (galaksi Bima Sakti) dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali di malam hari ke-7 bulan ke-7. Tetapi ternyata meskipun mereka diizinkan bertemu, mereka tidak bisa menyeberangi sungai Amanogawa karena tidak ada jembatan yang menghubungi. Sekawanan burung kasasagi terbang menghampiri Hikoboshi dan Orihime yang sedang bersedih dan berbaris membentuk jembatan yang melintasi sungai Amanogawa supaya Hikoboshi dan Orihime bisa menyeberang dan bertemu. Tapi kalau kebetulan hujan turun, burung-burung itu tidak bisa datang dan membantu mereka menyeberang sungai sehingga harus menunggu setahun lagi ☹

Jarang sekali kasumisou ini bertindak sebagai bunga ‘primadona’, selalu menjadi peran pembantu 😀 Tapi terasa juga kalau ada dia, rangkaian lebih meriah loh. Jadi peran pembantu itu juga diperlukan dalam kehidupan ini, bukan?

Akhir-akhir ini banyak kasumisou berwarna, baik itu biru atau merah dan pink. Itu bukan warna asli, tapi warna celupan. Tapi konon cukup kuat menempel sehingga meskipun dikeringkan, warna tersebut akan tetap tinggal. Dan kasumisou ini memang tahan lama. Jika bunga primadona sudah layupun, biasanya kasumisou masih terlihat segar. Sehingga akupun kadang menghias kasumisou begitu saja. Ditaruh dalam jambangan kecil, airnya pun tidak banyak berkurang dan tidak cepat kotor dibandingkan bunga lain.

Bunga bakung jenis casablanca pink dari taman kecil di rumahku, dan ditambahkan kasumisou berwarna pink juga.

MESES

4 Jul

“Mau makan apa?”
“Roti saja”
“Mau yang asin atau manis”
“Manis”

Dengan sigap aku memasukkan dua lembar roti ke dalam toaster, mengambil mentega dan meses.

“Namanya Muisjes Imelda! Bukan meses! Apa itu meses, meses….”
“Bagaimana tulisnya?”

Mamaku menuliskannya dengan tulisannya yang khas. M U I S J E S. Oh… Bahasa Belanda!

Memang Muisjes itu dari Belanda. Konon muisjes yang artinya Tikus Kecil itu ditaburkan di atas beschuit (roti kering bulat : bayangkan bagelen) menjadi tanda terima kasih pada acara kelahiran bayi baru. Orang tua membagikan beschuit met muisjes kepada para tamunya. Dinamakan Tikus Kecil karena adas manis berlapis gula berwarna merah muda, biru dan oranye ini bentuknya memang menyerupai tikus kecil.

Wait! Warnanya kok hanya merah muda, biru dan oranye dan terbuat dari adas manis? Padahal kita di Indonesia mengetahui bahwa meses itu terbuat dari coklat?

Jadi sebenarnya penyebutan coklat tabur menjadi muisjes itu salah. Karena sebetulnya namanya chocoladehagelslag, apalagi sulit menyebutkan hagelslag (baca : hahelslah) bagi orang Indonesia. Lagipula toh sama-sama ditaburkan di atas roti, bolehlah orang Indonesia menamakannya sebagai meses. Yang pasti sejarah hagelslag ini sudah lama yaitu dari tahun 1919 oleh B.E. Dieperink, dan dipopulerkan oleh perusahaan VENCO. Sampai sekarang pun meses ini tidak bisa lepas dari kehidupan orang Belanda sebagai makan pagi mereka, juga bagi Indonesia yang mengikutinya.

“Mamaaaa… Rotinya belum?”
“Oh iya…. Sebentar”

Aku pun cepat-cepat mengoleskan mentega dan meses eh muisjes eh hagelslag di atas roti untuk anakku.

**Ma…. aku kangen. Semalam aku merasakanmu lagi dalam mimpiku. Samar-samar. Aku tahu mama selalu bersamaku.**

sumber: https://www.iamexpat.nl/lifestyle/lifestyle-news/brief-history-dutch-sprinkles-aka-hagelslag

Makanan sederhana

21 Apr

Ada dua makan sederhana yang kutahu waktu kecil. Nasi dengan kaldu ayam + air panas. Dan nasi dengan emping/kerupuk + kecap manis.

Nasi dengan emping dan kecap manis. Membangkitkan nostalgia dengan mama.

Kedua makanan sederhana itu adalah makanannya alm. mama. Aku pernah memergokinya makan nasi dengan bulyon (kaldu ayam) yang dilarutkan dalam air panas. Waktu itu memang belum waktu makan, tapi karena mama melewati pagi tanpa sarapan, dan langsung kerja di kebun, dia bilang dia kelaparan. Kelihatan enak sekali. Kadang aku diberinya sesuap.

Saat yang lain dia makan nasi dengan emping dan kecap manis. Pakai cabe rawit dan tidak kalah lahapnya. Aku minta tapi kepedasan untukku. Aku heran mama kok makan seperti itu.

“Ini enak Imelda…” Dan dia bercerita bahwa dulu, waktu dia masih kecil, sering hanya makan sisa-sisa kakek-nenek tempat dia tinggal. Waktu perang, opa masuk kamp tahanan dan oma berdagang. Karena anak banyak, mama dititipkan pada saudara jauh di Kemetiran, Yogya. Mama hanya makan sisa-sisa dari kedua sepuh itu.

Hari ini hari Kartini. Seorang pahlawan wanita yang mengangkat pendidikan bagi kaum wanita. Aku ingin membandingkannya dengan ibuku. Betapa ibuku juga menekankan pendidikan bagi anak-anak perempuannya.

“Imelda, kamu harus sekolah tinggi. Jangan seperti mama. Waktu SD mama terpaksa tinggal kelas. Di kelas 5, karena tiba-tiba harus mengikuti ujian dalam bahasa Indonesia. Kami belajar dalam bahasa Belanda, ya tentu tidak tahu apa pertanyaan ujian itu, karena ditanya dalam bahasa Indonesia. Zaman Batu? Apa itu?2

Mama sendiri hanya lulus SMP. Dia mau melanjutkan tapi karena kendala biaya, tidak bisa masuk SMA. Dan dia masuk sekolah perawat. Karena jika masuk sekolah perawat, dia tidak usah membayar uang sekolah, bahkan digaji. Banyak ceritanya tentang suka dukanya belajar di sekolah perawat itu, yang diceritakan di meja makan kepadaku. Yang pingsan waktu melihat jarum suntik. Atau cerita seorang nenek yang suka meleper tinjanya di tembok. Tapi dia selalu cari mama…. “Suster Maria….” Sampai suatu hari waktu mama dinas, dia melihat tempat tidurnya telah kosong.

Dengan gajinya Mama menabung supaya bisa mengikuti kursus bahasa Inggris dan mengetik. Berbekal ijazah bahasa Inggris dan mengetik itulah, mama bisa masuk bekerja di Shell. Dan mama bisa buktikan bahwa mama memang mampu bekerja. Setiap orang yang lewat meja mama waktu mama mengetik, pasti berhenti karena terpesona dengan kecepatan ketikannya. Di situlah mama bertemu papa.

Kami semua mendapat pendidikan yang top. Mama selalu berkata, “Tidak apa kita makan setiap hari dengan tempe, asal kalian sekolah di sekolah yang bagus. Pendidikan nomor satu!” Sekolah bagus berarti mahal, dan yang bersekolah di situ anak orang kaya. Untung aku tidak pernah malu membawa roti dengan telur ceplok untuk dimakan waktu istirahat. Karena kami tidak pernah mendapat uang jajan.

Mama, terima kasih untuk pendidikan yang engkau sediakan. Untuk gemblengan dan disiplin selama kami kecil. Kami bisa merasakan manfaatnya sekarang. Dan tentu akan aku teruskan untuk anak-anakku.

Nasi dan emping pakai kecap manis ini terasa enak sekali, Ma. Karena aku tahu Mama selalu melihat kami dari atas sana.

Dalam tangan anaklah terletak masa depan dan dalam tangan ibulah tergenggam anak yang merupakan masa depan itu. (RA. Kartini)