Hari Gunung 山の日

11 Agu

Tahun 2020 ini sebenarnya Hari Gunungnya pindah ke tanggal 10 Agustus, padahal seharusnya tanggal 11 Agustus, karena direncanakan supaya banyak libur beruntun pada saat pelaksanaan Olimpiade 2020. Sayang karena Mbak Corona, rencana tinggallah rencana, tidak bisa diwujudkan.

Jadi kalau melihat penanggalan Jepang pada bulan Agustus, pasti tanggal 11 Agustus itu berwarna merah dan merupakan hari libur resmi. Dan hari Gunung ini sebetulnya baru dirayakan sejak 2016 yang lalu. Memang sepertinya Jepang sedang berusaha memperbanyak hari libur untuk mengerem atau memperpendek hari kerja orang Jepang (meskipun dipantek hari libur setengah tahun pun orang Jepang akan tetap bekerja di hari libur 😃 ), dengan memutuskan Happy Monday (menggeser hari libur ke hari Senin sehingga bisa libur berturut-turut dan menambah hari libur.

Penetapan Yama no hi 山の日 ini dilakukan setelah 20 tahun berlalu sejak penetapan Hari Laut yang jatuh hari Senin ke3 pada bulan Juli. Selain daripada tujuan penetapan yang “membuat warga lebih menyadari keberadaan gunung dan menghargainya”, sebetulnya tidak ada latar belakang sejarah yang mendukung, seperti saudaranya si Hari Laut. Dengan tidak ada latar sejarahnya ini memang yang membuktikan bahwa pemerintah “mencari-cari” kesempatan untuk meliburkan warganya di bulan Agustus.

Dalam penggodokan penentuan tanggal untuk diperingati sebagai Yama no hi, awalnya ditentukan tanggal 12 Agustus. Tapi pada tanggal itu pada tahun 1985, telah terjadi kecelakaan jatuhnya pesawat 墜落事故 JAL dengan nomor penerbangan 123 di daerah Osutakano one (Prefektur Gunma) yang menelan korban 520 orang. Kecelakaan ini merupakan kecelakaan terparah dalam bidang penerbangan. Jadi, rasanya tidak etis untuk merayakan Hari Gunung pada tanggal 12. Sedangkan jika diundur ke tanggal 13, juga tidak bisa karena biasanya pada tanggal 13-14-15 Jepang merayakan Obon (meskipun bukan tanggal merah, biasanya orang Jepang pulang kampung pada hari-hari ini). Jadilah Hari Gunung dirayakan pada tanggal 11 Agustus, dan menjadi hari libur yang ke 16 dalam satu tahun di Jepang.

Saya sendiri belum pernah mendaki Gunung Fuji. Orang asing biasanya menyebutkan Gunung Fuji adalah Fujiyama, sedangkan orang Jepang menyebutnya dengan Fujisan. Mengapa? Sebetulnya memang kanji 山 itu bisa dibaca “yama”, dan bisa dibaca “san” (atau “zan”), jadi tidak salah kalau disebut dengan Fujiyama. Tapi orang Jepang menyebutkan Fujisan itu konon karena lebih menghormati gunung Fuji, layaknya menghormati manusia yang juga dipanggil dengan -san.

Tapi tahukah teman-teman ada berapa banyak gunung sih di Jepang? Sebetulnya Jepang itu selain bisa disebut sebagai “negara kepulauan”, juga bisa disebut dengan “negara gunung”, karena jumlahnya 16.667 gunung (menurut peta dengan skala 1:25.000)! Dan ini masih ada yang tidak tercantum namanya, sehingga mungkin lebih banyak lagi jumlahnya. Gunung yang tertinggi di Jepang tentu adalah Fujisan (3776mdpl) Sedangkan gunung yang terendah, yang tercantum dalam peta skala 1:2.00 itu setinggi 5 meter yang terletak di Osaka dan bernama Tenbouzan 天保山.

Saking banyaknya gunung di Jepang, Fukuta Kyuya, seorang novelis dan pendaki gunung memilih 100 gunung populer di Jepang 日本百名山, dan biasanya menjadi panduan atau target pendaki gunung di Jepang. Boleh berbangga, bapak mertua saya sudah menyelesaikan pendakian 100 gunung populer di Jepang pada usia 74 tahun. Sayangnya sekarang beliau harus mengurus istrinya yang sakit sehingga tidak bisa memenuhi target 200 gunung populer di Jepang.

Saya sendiri sebetulnya takut ketinggian, sehingga takut mendaki. Tapi paling sedikit ada 2 gunung yang saya ingat pernah saya daki yaitu Nokogiriyama 鋸山 (330mdpl) di Chiba dan Hachijoji-shiroyama八王子城山 (446mdpl) di Tokyo. Untuk berikutnya mau coba Takaosan 高尾山 (599mdpl)…. entah kapan. Tapi paling enak memang mendaki Daikanyama, atau Aoyama atau Yamanote saja deh hehehe 😃. (Daikanyama, Aoyama adalah nama daerah di Tokyo yang terkenal sebagai tempat belanja 😀 , sedangkan Yamanote adalah jalur kereta komuter yang memutari Tokyo). Kalau Sayama? boseeeen tiap hari di gunung sempit sih 😀 (Sayama adalah nama daerah tempat tinggal saya)

Tulisan ini pernah tayang dalam Pojok “Bahasa dan Budaya Jepang” dalam Grup Wanita Indonesia Berkarya di Jepang.

Semestinya memang Hari Gunung diperingati tgl 11 Agustus, tapi khusus untuk tahun 2020 dipindah ke tanggal 10 Agustus, karena (rencana) penutupan Olimpiade itu tanggal 9 Agustus, jadi bisa istirahat sesudahnya. Tapi sayang Olimpiade tidak jadi diadakan. Nah untuk tahun 2021 konon karena Olimpiade dipindah tahun depan, dan penutupannya tanggal 8 Agustus, maka Hari Gunung menjadi tanggal 9 Agustus. Mari kita doakan tahun depan Olimpiade bisa dilaksanakan sesuai rencana ya. Tetap berharap.

3 Replies to “Hari Gunung 山の日

  1. Wow, 16 ribuan gunung ya! Sungguh enggak nyangka, Mbak Em. Keren ya bapak mertua bisa mengantongi pendakian 100 gunung. Saya boro-boro satu pun belum pernah, takut ketinggian betulan. Akrofobik parah, naik tangga dua meter aja dah merinding. Apakah Kai atau Riku ada yang mengikuti jejak eyangnya suka naik gunung?

    • Nah itu dia, cucu-cucunya tidak ada yang menuruni kakeknya hahaha. BTW acrophobia itu bisa disembuhkan loh. Aku dulu juga takut. Naik tangga aja ngga bisa, sekarang sudah lumayan banget.
      EM

  2. Eh, kok enak ya, harinya bisa fleksibel pindah2 gitu. Hehehe. Kalau di Indo kalau cuma 5 meter kan disebut bukit saja. Apakah tidak ada bahasa jepang untuk bukit, bu?

    Sebetulnya ada bahasa Jepangnya OKA 丘,
    tapi ya begitu oka itu biasanya untuk daerah berbukit-bukit, yang tidak rata. Misalnya kalau di Jakarta, di Kemang atau Cinere itu kan banyak berbeda ketinggiannya. Nah daerah seperti itu dinamakan Oka.
    EM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *