9 tahun berlalu

11 Maret 2011, terjadi gempa bumi Tohoku yang begitu dashyat. Sembilan tahun berlalu, tapi tragedi itu masih belum bisa terlupakan.

Seorang Abe, petani. Dia sedang mengurus rumah kacanya yang terletak di belakang rumahnya, saat tsunami terjadi. Dia bisa selamat karena berpegangan pada tiang listrik. Tapi ibunya, istrinya dan 3 anaknya yang mengungsi di tempat yang sudah ditentukan tidak tertolong karena tempat pengungsiannya tertelan tsunami.

Abe sendiri mencari keluarganya keesokan harinya. Ditemukan jenazah, sudah kaku. Tidak diketahui jenazah siapa karena tertutup lumpur semua. Harus membersihkan lumpur di muka, di hidung, untuk mengetahui siapa dia 🙁 …. itu yang Abe ceritakan tapi bisa menggambarkan betapa hatinya hancur, harus menerima kenyataan bahwa 5 orang yang dikasihinya harus meninggal dalam waktu yang bersamaan. Selain keluarga, dia juga kehilangan perkebunannya dan pekerjaannya.

Kalau tidak ada 2 temannya yang juga petani dan korban tsunami, yang mengajaknya untuk bangun dan memulai lagi perkebunan, dia mungkin sudah jadi “mayat hidup”. Dia bisa bangkit berdiri, mendirikan perkebunan lagi dan berhasil mempekerjakan 60 orang staf. Tujuannya bukan untuk kebahagiaannya sendiri, tapi dia selalu berkata bahwa dia melakukan untuk orang lain, toh dia sudah tidak punya keluarga lagi.

“Kita masih diberikan kehidupan, jadi kita harus hidup terus”, itu yang temannya katakan pada Abe. Namun kesusahan Abe tidak berhenti karena tahun lalu terjadi badai dan meluluhlantakkan rumah kacanya LAGI! tapi dia tetap semangat, dan dalam pembicaraannya aku tahu seakan dia mau bilang, “Badai itu kecil, dibanding Tsunami saat itu”. Dan dia tetap berkarya.

Hari ini, pelangi terlihat di tempat yang terkena tsunami. Pelangi Harapan.

Saat ini Jepang sedang mengalami “cobaan” dengan COVID19. Sekolah diliburkan, pegawai dirumahkan, barang sanitasi seperti masker, tissue beralkohol, toilet paper dan tissue kotak habis. baru segitu saja, sudah banyak yang merasa susah! Banyak teman-teman Indonesia di sini yang mengeluh, dan stress karena takut dengan kemungkinan terjangkit. Kadang kupikir, kenapa ya orang-orang tidak bisa berpikir jernih? Diliburkan kan maksudnya supaya tidak tertular? Bisa merasakan anak-anak libur di rumah kan suatu “berkat” karena berarti kita punya banyak waktu dengan anak-anak? Dan apa susahnya sih tidak ada barang-barang sanitasi itu? Masih banyak cara lain kok. Mengeluh? Abe san itu sudah bukan mengeluh lagi tapi menangis darah! Jangan manja ah.

Doa terbaik untuk semua korban, semua yang kehilangan dan semua yang terdampak kejadian tragis 9 tahun yang lalu.

合掌 (gassho) mengatupkan kedua tangan (untuk berdoa)

Hari ini aku harus pergi ke SD untuk mengambil barang-barang Kai yang belum terbawa di hari Jumat, 28 Februari lalu, terakhir dia bersekolah. Karena permintaan pemerintah, semua SD- SMP negeri di daerah kami mendadak libur. Padahal mestinya masih ada 20 hari sekolah sebelum spring vacation.

Aku bertemu dengan gurunya, dan setelah mengambil barang-barang Kai, aku mengucapkan terima kasih padanya. Semoga tgl 24 Wisuda tidak dibatalkan, karena kemarin pemerintah meminta lagi perpanjangan waktu untuk memutuskan wabah corona sampai akhir Maret. Disneyland pun yang tutup sampai tgl 14 Maret, diperpanjang sampai akhir Maret.

Sepulang dari SD, aku mampir ke toko bunga langganan, untuk membeli bunga (lagi). Mumpung sudah mulai hangat, bisa berkebun di halaman rumah yang kecil.

Beli tulip potong juga. Karena kami sedang berusaha membantu florist Jepang yang overstock bunga potong karena banyak event yang dibatalkan. Eh pas mau pulang oleh pemilik toko aku dibagi satu cabang Sakura. Asyik.