2019 – 8 dari Sayama

Sebetulnya saya terbiasa menuliskan pencapaian setahun dalam tajuk 8 dari Nerima. Tapi karena tahun 2019 saya sudah pindah ke kota Sayama di Saitama, seharusnya saya menulis 8 dari Sayama di akhir tahun 2019 lalu. Tapi…. ya tidak keburu. Kenapa? Karena bapak mertua menghabiskan tutup tahun di rumah kami, menginap, sehingga aku harus mempersiapkan semuanya, tempat tidur, dan makanan.

1. Tahun 2019 merupakan tahun pernikahan yang ke 20 tahun, sekaligus 1 tahun menjadi warga Sayama. Kami rayakan secara sederhana saya di sebuah restoran Jepang yang berada antara rumah kami dan stasiun. Jadi dari rumah kami ke stasiun 5 menit, ke restoran itu setengahnya deh. Restoran itu memang baru buka, tapi Gen sudah pernah makan di situ dengan teman kantornya, sehingga mau mengajakku juga mencoba makan di situ. Karena agak mahal, perlu ada “timing” yang tepat. Jadilah aku memesan tempat pas hari ultah pernikahan kami . Restoran ini buka juga siang hari, tapi tetap harus pesan tempat. Makanannya enak dan dikeluarkan satu-satu (istilahnya: kaiseki ryori 会席料理). Waktu pihak restoran mengetahui bahwa kami memperingati wedding anniversary, mereka memberikan hadiah berupa sashimi ikan buntal (fugu) yang cukup mahal juga (dan enak!). Ntah kapan lagi kami akan ke sini……

Makan malam bersama di restoran Jepan Ootsu

2. Meskipun kami pindah rumah, yang pindah sekolah hanya Kai. Dia harus masuk ke SD negeri di dekat rumah. Tapi sedekat-dekatnya juga butuh 20 menit untuk jalan kaki ke SD! Cerita pindah sekolah akan aku tulis terpisah, tapi yang pasti setelah pindah sekolah, Kai lebih banyak tertawa dan banyak teman! Ternyata sekolah yang baru jauh lebih baik daripada sekolah di Nerima. Dan ini melegakan kami selaku orang tua. Karena biasanya terdengar kasus bully pada anak yang pindah sekolah.

setiap pagi mereka harus berangkat bersama dalam kelompok

3. Riku tetap bersekolah SMA yang sama. Yang waktu di Nerima jauh, tetapi sekarang menjadi dekat. Memang kami pindah ke kota yang dekat dengan tempat kerja Gen, dan SMA nya Riku. Untuk Riku tidak ada masalah. Tapi di tahun 2019, dia mendapat dua penghargaan, yaitu satu penghargaan tentang catch phrase bertemakan lingkungan hidup dari pemda kota kami, dan satu lagi penghargaan dari perusahaan teh botol Itoen atas haiku yang dibuatnya. Sebagai hadiah, haiku dan nama Riku dicantumkan dalam label botol, dan kami dikirimkan satu kardus teh hijau botolan dengan haiku Riku. Riku juga mengikuti test bahasa Inggris dan mendapat nilai yang lumayan, mengingat dia baru “bersemangat” belajar bahasa Inggris sejak masuk SMA.

4. Waktu Riku masuk SMA, dia tanya apakah dia boleh pergi ke Inggris. Saat itu kami katakan, dengan bahasa Inggrisnya yang sekarang (kelas 1) tidak mungkin bisa. Lebih baik, brush up bahasa Inggrisnya dulu selama setahun, dan di kelas dua, pada musim panas boleh summer camp di LN Dia setuju dan berusaha belajar bahasa Inggris lebih giar. Aneh sekali memang anakku ini, dia nomor 1 untuk bahasa Jepang, tapi untuk bahasa Inggris, yah sedikit di bawah rata-rata deh. Kadang merasa malu juga, tapi aku sendiri tidak pernah mau memaksa anak-anak harus bisa. Percuma deh dipaksai. Dengan janji bahwa dia boleh ke LN di kelas dua, dia jadi semangat deh. TAPIIIIIII, aku lupa akan janji aku. Jadi waktu sekitar bulan Februari dia katakan, “Ma, aku kan naik kelas 2 nih, aku mau ke Inggris pada libur musim panas”… jreeeeng. Panik deh mamanya 😀 tidak siap keuangan. Tapi… ya, akhirnya aku cari dong tiket yang murah dan atur sana sini. Ceritanya terpisah ya? Yang pasti tahun 2019, Riku pergi ke UCLA di Amerika, Inggris (London dan sekitarnya), Belanda, Singapore dan Malaysia. Beuh, kayak anak kaya aja! Satu musim panas dihabiskan di 5 negara! 😀

Foto kenangan di dalam gereja, yang letaknya hanya 50 meter dari apartemen papa di London, dan aku bisa menemukan tempat ini. Napak tilas. Difoto oleh supir kami dari Afganistan: Ash.

5. Kai tidak ikut ke Inggris, dia sendiri mengatakan tidak mau. Alasannya dia tidak suka makanan di pesawat. Jadi, Kai tinggal di rumah selama 2 minggu bersama papanya. Dia hanya pergi ke Nikko bersama rombongan sekolahnya. Tapi di karya wisata itu, dia menjadi kepala kelompok. Kelihatannya dia cocok menjadi “ketua” karena termasuk pendiam dan serius. Mana badannya lebih besar (dan tinggi) dibandingkan teman lainnya. Dia juga ketua kelompok untuk berangkat sama-sama ke sekolah setiap pagi!

Kai berangkat ke Nikko, masih gelap waktu dia harus berangkat sendiri ke sekolah.

6. Mama Imelda selama tahun 2019 menemani Riku ke Inggris dan Belanda. Pertama kalinya aku LIBUR dua minggu dari tugas rumah 😀 dan 2 minggu itu lama booo… kelamaan 😀 Sebetulnya mungkin kalau bisa pakai bath tub untuk berendam, aku tidak merasa lama. Ternyata aku sudah menjadi orang Jepang yang merindukan berendam air panas hehehe. Selain ke Inggris dan Belanda, aku juga ke Osaka untuk seminar, dan ke Jakarta untuk menghadiri konferensi Leksikografi dari Badan Bahasa. Bulan Desember, aku ke Niigata untuk mengadakan kegiatan RBI di Niigata.

Salah satu tujuanku ke Belanda adalah untuk bertemu Kiki! Sahabat maya yang kukenal hampir 15 tahun, dan pertama kali bertemu muka. Kiki menjemput aku di Schiphol! Karena Kiki, aku ngeblog….. (Foto di sebuah cafe di Den Haag)

7. Dari segi kerjaan, aku masih seperti tahun sebelumnya. Mengajar di 3 universitas/sekolah, di kemenlu dan kursus bahasa dari KBRI dan mengelola Rumah Budaya Indonesia (RBI) yang menampilkan kegiatan bulanan. Yang terbesar adalah yang ke Niigata, karena membawa rombongan 17 orang pengisi acara. Itu di bulan Desember (tgl 7 ) dan seminggu sesudahnya, aku juga harus mengurus pelaksanaan kebaktian Natal KMKI, karena kebetulan aku yang menghubungi penyanyinya. Dua minggu itu aku kebanyakan tinggal di hotel (Jumat-Sabtu-Minggu) karena ya rumahku jauh sedangkan badanku tidak kuat lagi. Desember adalah bulan yang sibuk! Makanya aku tidak bisa menuliskan 8 Besar th 2019 hehehehe (alasan!)

Mengantar Michael ke Haneda bersama Sanchan. Terima kasih atas suara yang merdu ya Mike!

8. Pada tahun 2019 ada sebuah film yang menceritakan tentang Saitama, daerah tempat tinggalku. Judulnya Tonde Saitama 跳んで埼玉, film berdasarkan komik mangga. Sepertinya setiap warga Saitama wajib menonton deh. Tapi deMiyashita yang menonton baru Riku (dia menonton di bioskop dengan temannya), dan SAYA! yeay! Biasanya kan aku tidak suka menonton, tapi kali ini aku menonton loh…. bukan di bioskop tapi di dalam pesawat hahaha. Perjalanan ke Inggris kan lama, jadi aku bisa menonton banyak deh. Ada 4 judul film yang aku tonton, dan salah satunya ya Tonde Saitama ini.
Tahun 2019 merupakan tahun yang bersejarah untuk Jepang juga, karena Kaisar baru dan nama tahun juga baru. Tahun Reiwa. Tahun kedatangan Paus ke Jepang. Tahun pembukaan Moomin Park yang berada 20 menit naik mobil dari rumahku. Aku sudah 3-4 kali ke Moomin Park ini.
Tapi tahun 2019 juga ditandai dengan bencana taifu yang cukup membawa korban. Dan satu lagi yang tidak boleh dilupa, pajak pembelian naik dari 8 % menjadi 10%!

Moomin Park di bulan Desember 2019

Akhirnya selesai deh 8 besar dari Sayama edisi tahun 2019. Sedapat mungkin akan kuteruskan kebiasaan menulis 8 besar kejadian yang terjadi dalam keluarga kami satu tahun, sebagai pengingat dan kenangan.

9 tahun berlalu

11 Maret 2011, terjadi gempa bumi Tohoku yang begitu dashyat. Sembilan tahun berlalu, tapi tragedi itu masih belum bisa terlupakan.

Seorang Abe, petani. Dia sedang mengurus rumah kacanya yang terletak di belakang rumahnya, saat tsunami terjadi. Dia bisa selamat karena berpegangan pada tiang listrik. Tapi ibunya, istrinya dan 3 anaknya yang mengungsi di tempat yang sudah ditentukan tidak tertolong karena tempat pengungsiannya tertelan tsunami.

Abe sendiri mencari keluarganya keesokan harinya. Ditemukan jenazah, sudah kaku. Tidak diketahui jenazah siapa karena tertutup lumpur semua. Harus membersihkan lumpur di muka, di hidung, untuk mengetahui siapa dia 🙁 …. itu yang Abe ceritakan tapi bisa menggambarkan betapa hatinya hancur, harus menerima kenyataan bahwa 5 orang yang dikasihinya harus meninggal dalam waktu yang bersamaan. Selain keluarga, dia juga kehilangan perkebunannya dan pekerjaannya.

Kalau tidak ada 2 temannya yang juga petani dan korban tsunami, yang mengajaknya untuk bangun dan memulai lagi perkebunan, dia mungkin sudah jadi “mayat hidup”. Dia bisa bangkit berdiri, mendirikan perkebunan lagi dan berhasil mempekerjakan 60 orang staf. Tujuannya bukan untuk kebahagiaannya sendiri, tapi dia selalu berkata bahwa dia melakukan untuk orang lain, toh dia sudah tidak punya keluarga lagi.

“Kita masih diberikan kehidupan, jadi kita harus hidup terus”, itu yang temannya katakan pada Abe. Namun kesusahan Abe tidak berhenti karena tahun lalu terjadi badai dan meluluhlantakkan rumah kacanya LAGI! tapi dia tetap semangat, dan dalam pembicaraannya aku tahu seakan dia mau bilang, “Badai itu kecil, dibanding Tsunami saat itu”. Dan dia tetap berkarya.

Hari ini, pelangi terlihat di tempat yang terkena tsunami. Pelangi Harapan.

Saat ini Jepang sedang mengalami “cobaan” dengan COVID19. Sekolah diliburkan, pegawai dirumahkan, barang sanitasi seperti masker, tissue beralkohol, toilet paper dan tissue kotak habis. baru segitu saja, sudah banyak yang merasa susah! Banyak teman-teman Indonesia di sini yang mengeluh, dan stress karena takut dengan kemungkinan terjangkit. Kadang kupikir, kenapa ya orang-orang tidak bisa berpikir jernih? Diliburkan kan maksudnya supaya tidak tertular? Bisa merasakan anak-anak libur di rumah kan suatu “berkat” karena berarti kita punya banyak waktu dengan anak-anak? Dan apa susahnya sih tidak ada barang-barang sanitasi itu? Masih banyak cara lain kok. Mengeluh? Abe san itu sudah bukan mengeluh lagi tapi menangis darah! Jangan manja ah.

Doa terbaik untuk semua korban, semua yang kehilangan dan semua yang terdampak kejadian tragis 9 tahun yang lalu.

合掌 (gassho) mengatupkan kedua tangan (untuk berdoa)

Hari ini aku harus pergi ke SD untuk mengambil barang-barang Kai yang belum terbawa di hari Jumat, 28 Februari lalu, terakhir dia bersekolah. Karena permintaan pemerintah, semua SD- SMP negeri di daerah kami mendadak libur. Padahal mestinya masih ada 20 hari sekolah sebelum spring vacation.

Aku bertemu dengan gurunya, dan setelah mengambil barang-barang Kai, aku mengucapkan terima kasih padanya. Semoga tgl 24 Wisuda tidak dibatalkan, karena kemarin pemerintah meminta lagi perpanjangan waktu untuk memutuskan wabah corona sampai akhir Maret. Disneyland pun yang tutup sampai tgl 14 Maret, diperpanjang sampai akhir Maret.

Sepulang dari SD, aku mampir ke toko bunga langganan, untuk membeli bunga (lagi). Mumpung sudah mulai hangat, bisa berkebun di halaman rumah yang kecil.

Beli tulip potong juga. Karena kami sedang berusaha membantu florist Jepang yang overstock bunga potong karena banyak event yang dibatalkan. Eh pas mau pulang oleh pemilik toko aku dibagi satu cabang Sakura. Asyik.

9 Maret

Hari ini tanggal 9 Maret. Kebetulan ada sebuah lagu dari grup rock band Jepang beranggotakan 3 orang yang bernama Remioromen レミオロメン yang berjudul 9 Maret 3月9日. Lagu ini sering dipakai untuk lagu wisuda. Memang saat-saat ini banyak sekolah yang mengadakan wisuda ya?Jadi memang tepat. Tapi kalau kita mencari arti dari lagu ini, akan keluar penjelasan kenapa lagu itu berjudul 9 Maret.

Ternyata tanggal itu sebenarnya adalah hari pernikahan seorang teman dari mereka bertiga! Memang kalau melihat Music Videonya kita bisa melihat diawali dengan wisuda SMA, lalu ada penikahan di jinja.

Sayangnya kelompok ini sudah bubar sejak tahun 2012 dan masing-masing anggotanya melanjutkan karir musik masing-masing. Mantan vokalis Fujimaki Ryouta mengeluarkan album yang cukup aku sukai, dan sempat ngetop tahun 2018.

9 Maret dinyanyikan oleh Remioromen

Tapi aku kalau mendengar 9 Maret itu jadi sedih, apalagi kalau membaca komentar di Youtube. Gara-gara corona virus, tidak ada upacara wisuda! Kebetulan Kai juga lulus dari kelas 6 SD, dan diputuskan oleh sekolahnya bahwa tetap ada wisuda pada tanggal 24 Maret nanti, TAPI hanya dihadiri oleh murid dan guru saja, orang tua tidak bisa melihat. 🙁

Bahkan sebelumnya tanggal 4 Maret yang lalu, semestinya mereka ada pelepasan 送る会OKURU KAI、murid kelas 6 “dilepas” kelas 1 sampai 5 dengan berbagai pertunjukan, dan diakhiri dengan 門出を祝うkadode wo iwau melepas wisudawan keluar dari bangunan SD. Sekolah kakaknya dulu menyatukan wisuda dengan kadode.門出Kadode sesuai kanjinya adalah 門 kado (bisa dibaca juga dengan mon) dan 出 de (deru). Keluar dari gerbang. Istilah ini awalnya dipakai untuk pelepasan kapal yang akan berangkat. Sekarang dipakai untuk melepas wisudawan untuk berangkat ke kehidupan baru (jenjang yang lebih tinggi).

Wisudawan akan berjalan melewati barisan kohai (juniornya) yang memegang lengkungan bunga. Ini dinamakan花道HANAMICHI. Jalan bunga. Hanamichi sendiri bermula dari pentas kabuki. Ada jalan khusus yang melewati penonton dari pintu ke panggung. Sehingga penonton bisa melihat pemain kabuki dari dekat. Kemudian kebiasaan dalam kabuki ini dibawa dalam upacara wisuda di sekolah.

Padahal kanji 花道 bisa dibaca sebagai hanamichi, tapi juga bisa dibaca sebagai KADO jalan bunga, way of flower, seni merangkai bunga ala Jepang. Memang ada beberapa kanji yang bisa dibaca dengan dua cara, onyomi dan kunyomi, dan artinya berbeda. Waktu saya baru belajar bahasa Jepang ditest dengan kanji 大和. Tentu saya tahu dong bahwa kanji itu bisa dibaca sebagai DAIWA tapi juga bisa dibaca sebagai YAMATO.

Sayang sekali anakku tidak mengalami Hanamichi, suatu kebiasaan wisuda Jepang. Tapi nanti ingin akan aku bawa dia hanamichi yang benar-benar, yaitu mencari jalan yang mempunyai 桜並木sakura namiki deretan sakura di kanan kiri. Paling tidak bisa mengobati kesedihan mamanya tidak bisa melihat wisuda anaknya (padahal anaknya cuek bebek tanpa wisuda pun dia tidak sedih… katanya)

Pada hari terakhir 29 Februari, saat semua sekolah negeri di Jepang diminta untuk meliburkan diri oleh pemerintah demi memutus wabah COVID19, aku bertanya pada Kai

“Kamu ngga nangis?”.
“Sensei dan teman-teman nangis”
“Kamu?”
“Ngga lah. Kan setiap ada perjumpaan pasti ada perpisahan”
Ealah… anakku dewasa amat.
Tapi beberapa hari setelah itu pas aku cerita sama papanya>
“Pa, Kai ngga sedih loh waktu terakhir di kelas”
Dia langsung jawab
“Mamaaaaa, aku tidak nangis. Bukan berarti aku tidak sedih! Emangnya aku ngga punya hati?”

Syukurlah, dia masih merasa sedih, tidak DINGIN hatinya hehehe.

Sekarang, aku tidak begitu sedih. Ntah pada tanggal 24 nanti, saat mengantar dia berangkat ke sekolah untuk acara wisuda dengan memakai setelah jas seragam sekolah SMP nya…..

Dan berdoa semoga upacara penerimaan masuk SMP tetap diadakan ….