Badai Ha(GI)BIS

Kami sudah diberitahu bahwa tanggal 12 Oktober akan datang badai terbesar dalam sejarah yang dinamakan super typhon Hagibis. Terakhir yang terbesar terjadi tahun 1956, jadi sekitar 60 tahun yang lalu. Saat itu korban meninggal 1200 orang.

Hari kamis aku pergi belanja. Biasa saja, bukan untuk cadangan makanan selama badai. Sama sekali tidak terpikir soal “jika terjadi mati listrik”. Jadi waktu aku melihat postingan teman-teman tentang persiapan mereka, aku “mulai” panik. Tapi kami selalu siap makanan dan minuman untuk darurat. Tinggal cek batere senter saja. Kami juga merasa kami tidak perlu menyiapkan ransel mengungsi karena rumah kami jauh dari sungai dan tinggi letaknya. Kalau 80 persen rumah daerah kami tertutup air, baru kami kemasukan air.

Hari Sabtu sebenarnya anak-anak harus sekolah, dan Gen juga harus kerja. Tapi jumat siang-sore, dapat berbagai email dari universitas-universitas tempatku mengajar bahwa mereka membatalkan semua kuliah di hari Sabtu. Kemudian datang email dari sekolah ke dua anakku, dan terakhir dapat message dari Gen bahwa dia libur. Horree….dan harus putar otak menyiapkan makanan untuk 3 kali makan 😀 Akupun langsung menuju rumah begitu kerjaan selesai. Dan sambil berjalan pulang, kubaca papan-papan pengumuman bahwa stasiun dan toko akan tutup satu hari besok. Hmmm bakal jadi kota mati deh.

Cukup mendebarkan menantikan dia datang. Apalagi kami sambil melihat TV yang menyiarkan berita dari tempat-tempat yang sudah dilewati. Pagi hari Gen sudah memasukkan tanaman kesayangan  Papaya dan kunyit. Kupikir tanaman lain, kalaupun rusak ya sudah, relakan saja. Nanti beli lagi yang baru. Pas bunga-bunga sudah hamper habis musimnya juga, dan kami belum beli bunga musim gugur.

Barang berharga diungsikan dalam rumah 😬 papaya dan kunyit

Yang paling penting adalah mengecek apakah ada barang-barang di luar rumah atau di teras atas yang mungkin bisa diterbangkan angin. Jadi kami juga menidurkan sepedaku dan sepeda Riku supaya tidak jatuh sembarangan.

Sebagai persiapan sebelum badai, sepeda sudah “ditidurin” dulu, sambil bilang “selamat bobo sayang” 😬🤣

Akhirnya si Hagibis datang sekitar pukul 9-10 malam. Sebelumnya sekitar pukul 6:20 sore terasa gempa. Oi jangan datang barengan dong 😀 Anginnya benar-benar kencang sampai shutter penutup jendela sebelah barat rumah kami bergetar dan mengeluarkan suara yang menakutkan. Untung kami berempat berkumpul di meja makan sambil ngobrol. Mungkin kalau sendirian ngeri juga. Kira-kira satu jam, angin pun berlalu dan hujan pun mereda. Kami bisa tidur dengan nyenyak.

Minggu pagi seperti biasa aku pasti bangun pukul 5. Masih berangin tapi agak hangat. Memang angin badai membawa kelembapan sehingga terasa berat. Dan hari ini suhu diprediksi naik 4 derajat menjadi 29 derajat. Panas, terik. Kulihat di aplikasi, kereta sudah mulai jalan tapi belum lancar. Sambil menonton TV, aku melihat korban dan kerugian yang cukup besar terjadi di berbagai daerah di Jepang.

Karena di TV juga diberitakan bahwa ada sungai dekat rumah yang pecah tanggulnya, kami jadi ingin melihat kondisi sekitar rumah kami. Berdua Gen, aku melihat sekitar rumah tidak terjadi kerugian. Hanya bunga matahari yang tumbang. Lalu kami naik mobil menuju kantor dan sekolah sekaligus membeli roti di toko roti langganan kami.

Ternyata untung sekali sungai besar dekat rumah tidak meluap. Kebanyakan korban di daerah-daerah justru karena tanggul jebol sehingga banjir. Konon daerah kami hanya dua rumah yang kemasukan air (banjir). Dan seperti biasa, sesudah badai langit cerah, bersih tersapu badai.

Sungai besar yang berada dekat rumah, tidak melampaui batas jembatan. Di samping-sampingnya malahan kami bisa lihat orang sudah berlatih base ball dan sepak bola.

Ada sebuah video yang beredar di Indonesia tentang taifu yang memperlihatkan mobil terbalik. Itu memang video lama. Karena bisa dilihat dari nomor taifunya. Di video no 21 sedangkan Higibis kemarin nomor 19. TAPI situasi seperti ini PASTI terjadi dalam setiap taifu, karenanya kemarin semua sekolah, kantor, toko libur dan pemerintah mengeluarkan imbauan agar tidak keluar rumah kalau tidak perlu. Ada dua laki-laki muda yang keluar mungkin untuk membersihkan parit, ya hanyutlah. Satu tertolong, satu hilang. Ada satu bapak tua yg tinggal di apartemen tingkat satu (lebih rendah dari jalan) yang kemasukan air sungai ditemukan sudah meninggal.

Tiap tahun ada badai sekitar 30 kali, besar kecil. Mulai bulan Juli sampai Oktober. Kali ini no 19 jadi sebelumnya sudah lumayan banyak. Badai No 15 membawa korban cukup banyak di Chiba, yaitu mati listrik sampai sekarang (sudah 1 bulan lebih masih ada yg tidak berlistrik). Karena tiang listriknya roboh dsb. Kami sih percaya kalau dibilang akan datang badai besar, karena sudah ada hitungan besar/kekuatannya, arahnya dan prediksi kapan “mendarat”nya. Jadi semua pasti mempersiapkannya.

Yang begitu siap saja masih ada korban. Kebanyakan orang tua yg hidup sendiri. Mereka pikir, kalau bukan saya yang kerjakan siapa lagi. Pas keluar rumah, jatuh dan tidak ada yang tahu. Masih banyak yang ngeyel juga, anak-anak mudanya mau motret untuk IG mungkin ya hehehe. Yang pasti semua sudah “diperintahkan” diam di rumah, nah kalau masih keluar rumah itu tanggang jawab masing-masing. KECUALI kalau disuruh ngungsi ya. Pegawai pemda kemarin banyak keliling rumah-rumah sekitar sungai dan bawa lansia ngungsi ke SD atau balai desa terdekat. Ada berita bahwa satu keluarga Indonesia juga diajak ngungsi. Sampai dengan aku tuliskan ini jumlah korban jiwa yang meninggal 19 orang, hilang 16 orang, listrik padam total 376.000 rumah dan 14000 rumah tidak mempunyai akses untuk air. Seandainya tidak ada persiapan? Tentu jumlah korban dan kerugian akan lebih banyak lagi. Untuk mitigasi, boleh dikatakan Jepang yang terbaik!