Arsip Bulanan: April 2017

Menutup April

Wah  baru bisa menulis lagi, setelah tanggal 3 April! huhuhu. Memang bulan April itu bulan yang menyibukkan sekali ya. Sebelum terlambat, aku ingin menuliskan bagaimana aku melewatkan satu hari kemarin dulu deh. Nanti kalau sempat baru kegiatan mendetil bulan April … tapi ngga janji 😀

Jadi ceritanya kemarin aku pulang dari kegiatan KMKI (Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia) pukul 9malam. Untung aku dijemput Gen dan anak-anak, lalu kami makan di sebuah restoran pizza/spaghetti di tengah perjalanan pulang. (Yang ternyata tidak enak, sehingga kami berjanji tidak akan ke situ lagi hehehe). Karena capek sekali, aku langsung merebahkan diri di tempat tidur, paling tidak meluruskan punggung deh. Memang aku salah juga, mengangkut botol minuman 500 ml sebanyak 100 biji  ke mobil sendiri (tentu tidak sekaligus… aku belum menjadi wonder woman kok) . Akibatnya buruk bagi punggungku.

Nah sekitar pukul 11 an, Kai masuk kamar dan seperti biasa peluk memeluk sebelum tidur. Lalu aku minta dia untuk memijat punggungku. Dia lumayan pandai loh. Aku beritahu bagian mana yang perlu ditekan dan dia lakukan. Sambil kesakitan aku bilang enak! Lalu tiba-tiba dia menirukan ucapan sebuah tokoh tukang pijat yang terdapat dalam film Thermae Romae. Begitu mirip dan lucu! Aku, Gen dan Kai sendiri langsung tertawa terbahak-bahak, karena mengingat adegan lucu itu. Apalagi aku sampai keluar air mata karena mengingat karakter pemijat itu yang jempol a.k.a ibu jarinya besar. Lalu kucari fotonya di google dan menemukan foto ini:

dari : http://pbs.twimg.com/media/ aku lupa lengkapnya apa yang dikatakan si pemijat ini. Nanti deh tanya Kai ya

patung asli dari Namikoshi sensei

Ternyata tokoh pemijat yang ada dalam film itu benar-benar ada! Kupikir buatannya yang buat cerita saja. Namanya Namikoshi Tokujiro (1905-2000), yang merupakan bapak Shiatsu Jepang. Jepang itu memang keren! Mereka sering sekali membuat film dengan selipan-selipan adegan yang memuat sejarah asli Jepang! Kalau begini kan kita sambil menghibur diri jadi belajar juga.

Sayangnya, karena kami tertawa terus, pemijatanku terhenti deh 😀 Dan karena celetukan Kai yang meniru pemijat itu, kepenatanku yang sudah menggunung selama bulan April bisa terbang habis dan membuatku ingin menuliskannya di Twilight Express!

Bulan April ini memang melelahkan. Tapi pekan emas “Golden Week” di depan mata, dan deMiyashita bermaksud untuk menikmati liburan yang jarang dan berharga ini bersama. Semoga aku bisa menemukan waktu juga untuk menuliskannya di TE ya.

Have a happy holidays!

Siapa bilang harus lama?

Kalau aku merencanakan perjalanan, memang selalu “rakus” ingin ke sana, ke sini juga dalam waktu yang ditentukan. Ya mikirnya ekonomis saja, jauh-jauh datang dengan budget yang cukup besar, tentu maunya menikmati banyak. Dan selalu mikir, “kapan lagi bisa ke sini?”. Padahal kadang perjalanan itu hanya dilakukan untuk satu tujuan: melepaskan penat keseharian!

 

patung yang menyambut kami di depan taman bagian dalam

 

Jadi Minggu pagi yang cerah kemarin, setelah pergi mengikuti misa di gereja Kichijouji, aku sedikit memaksa Gen dan anak-anak untuk melihat sakura di Jindai Botanical Park, Chofu. Padahal tinggal belok sedikit dari gereja, ada Inokashira Park yang terkenal. Tapi memang aku tahu bahwa bunga sakuranya belum banyak di situ, dan Riku menolak untuk ke situ…. takut ketemu teman-temannya 😀 Susah deh punya anak ABG yang sangat sensitif dengan pertemanan dan penampilan 😀 Itu pun setelah sampai di Jindai Koen itu, dia menunggu dalam mobil, sementara aku, Gen dan Kai masuk taman. Tujuannya sudah pasti menyusuri ke arah kiri taman ke padang rumput yang dikelilingi pohon sakura.

dua fotografer amatir sedang beraksi 😀

Namun sesuai perkiraanku, sakuranya belum banyak. Baru 20 persen deh. Tapi ada sekitar 3 pohon yang sudah berbunga lebat, dan tentu saja dikerumuni pengunjung untuk memotret dan menikmati keindahannya. Pengunjung di sini memang relatif sedikit dibandingkan taman-taman lainnya, dalam musim apapun. Padahal aksesnya cukup praktis (naik bus dari Stasiun Kichijouji atau dengan mobilpun ada parkir tersedia). Luasnya juga tidak terlalu luas seperti Showa Memorial Park di Tachikawa yang adzubilah besarnya 😀 Jadi kalau mau yang sepi, aku sarankan bertandang ke sini.

sakura dari salah satu dari 3 pohon yang sudah berbunga lebat

Yang menarik kami temukan di taman ini adalah kenyataan bahwa pohon Almond itu ternyata masuk keluarga Sakura dan bunganya memang mirip sakura! Juga kami diberitahu seorang kakek bahwa ada tanpopo (Dandelion) yang bunganya putih (biasanya dandelion berbunga kuning)

bunga pohon Almond

Jadi kami cukup menghabiskan 45 menit saja, mulai masuk sampai keluar ke mobil lagi dalam “perjalanan” kali ini. Tapi gema kebahagiaan melihat karya Tuhan ini terus terasa sampai malam hari, waktu kami melihat foto-foto yang kami ambil.

baru 20-30 persen lah yang berbunga. Perkiraanku sih akhir minggu depan akan rimbun

Kenapa kami “cuma” 45 menit saja berada di sana? Soalnya aku ada rapat PTA di SMPnya Riku mulai jam 1. Itupun aku tidak sempat makan siang sebelum rapat yang berlangsung sampai pukul 4:30 sore huhuhu. Isi rapatnya juga cukup membuatku “gemetaran” karena banyaknya tugasku sebagai Sekretaris PTA yang otomatis harus cukup sering hadir dalam kegiatan dan rapat-rapat sekolah. Untung sekretarisnya ada tiga (tapi semua bekerja, jadi harus atur jadwal jauh-jauh hari). Tugas pertamaku tanggal 7 April nanti, pas upacara penerimaan murid baru! Gambarou…..

 

Awalnya selalu hujan

Bahasa Jepangnya : Hajimari wa itsumo ame. Sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Chage Aska, yang dirilis tahun 1991. Tadi pagi aku teringat lagu ini, karena memang sejak pagi hujan turun. Padahal awal April, dan padahal diprediksi juga bahwa seharusnya sakura sudah bermekaran. Banyak wisatawan dari Indonesia yang berkunjung ke Jepang harus kecewa karena tidak bisa menemukan deretan pohon sakura di Jepang. Yah memang kita berhadapan dengan alam yang tidak bisa diprediksi. Semuanya hanya perkiraan. Siapa sangka Tokyo akan kembali dingin lagi beberapa hari terakhir.

Satu April merupakan awal tahun fiskal di Jepang. Biasanya pegawai kantor juga dimutasikan mulai awal April. Sedangkan untuk tahun ajaran di kelurahan kami akan dimulai tanggal 6 April nanti. Riku akan menjadi kelas 3 SMP dan Kai kelas 4 SD. Jadi mereka sekarang masih dalam liburan di rumah saja. Riku terus belajar karena ada kelas intensif dari bimbelnya, sedangkan Kai di rumah. Bahayanya kalau Kai di rumah dia main gadget terus. Jadi biasanya aku ajak dia masak, atau pergi bersama aku. Tapi kemarin aku kesal melihat dia bermain terus…. padahal aku juga sambil kerja. Jadi aku tanya dia mau apa, masak atau menjahit? Nah, dia langsung bilang mau coba menjahit. Mulailah aku mengajari dia memasukkan benang, membuat simpul di ujung benang, lalu mulai dengan jelujur. Dan tadi pagi dia melanjutkan berlatih dan mencoba menjahit namanya sendiri. Ketrampilan menjahit biasanya diajarkan di kelas 5, jadi dia senang karena sebelum menjadi kelas 5 dia sudah bisa.

serius!

Dia sempat berkata sama kakaknya: “Riku bisa menjahit? Kalau kamu ngga bisa jahit, ngga bisa hidup sendiri loh!” (Hidup sendiri maksudnya tinggal nge-kos sendirian, bukan di rumah sendiri). Namaiki …. belagu deh dia.

ide dia untuk menulis namanya

Satu April juga April Fool. Aku sih sudah malas untuk menggoda orang, meskipun aku dengar si Riku sempat menggoda temannya dengan April Fool. Apalagi waktu sore hari, aku dihubungi oleh om yang tinggal di Belanda memberitahukan bahwa oma Dodo, yang pernah kutulis di sini, kritis dan mungkin tak lama lagi akan meninggal. Tak lebih dari 1 jam setelah itu, aku membaca bahwa Oma Dodo telah tiada dalam 97 tahun. Manusia memang akan kalah dengan umur, tapi aku percaya Oma Dodo telah mengisi hidupnya dengan penuh semangat dan keceriaan. Selamat Jalan Oma.

Dan… sebagai penutup tulisan, hanya mau menuliskan bahwa dengan ini blogku Twilight Express sudah berusia 9 tahun! Yeaaaahhhh! Semoga panjang umur ya blogku ini hehehe.