Restoran Khusus

Restoran Khusus

Kali ini aku ingin memperkenalkan sebuah restoran khusus. Khususnya adalah karena restoran itu memakai bahan-bahan dari daerah yang diwakilinya.

Nama restoran itu Tsukada Noujou 塚田農場、mewakili daerah Miyazaki di sebelah selatan Jepang. Awalnya Gen yang bercerita ingin makan di restoran ini. Memang sejak adiknya pindah ke Miyazaki, dia selalu ingin membuat “hubungan” dengan daerah tempat tinggal adiknya. Dulu waktu adiknya tinggal di Sendai (Miyagi) dia juga suka membeli barang/makanan dari daerah itu. Waktu Gen mengajak pergi ke restoran itu aku tanya, memangnya apa keistimewaannya?

waktu pergi berdua Riku saja

Ternyata keistimewaannya, restoran itu memakai hasil bumi dan  hasil peternakan dari prefektur Miyazaki. Setiap pagi dikirim ayam yang memang merupakan andalan daerah ini. Ayam segar sehingga bisa dimakan setengah mentah (sashimi/ tataki). Kalau ayam itu enak, dagingnya juga tidak amis bahkan manis! Tapi jangan coba makan ayam setengah mentah di Indonesia ya. Kalau di Jepang, semua bahan sudah melalui pemeriksaan sehingga bisa dimakan mentah (demikian pula dengan telur yang dijual umum, semua sudah diperiksa dan bisa dikonsumsi mentah). Ayam setengah matang itu hanya dibakar bagian luarnya, sedangkan bagian dalamnya masih mentah, kemudian disiram kecap asin khusus. Enak!

menu andalan Tsukada Noujou (dan Yamanouchi Noujou): ayam setengah matang dan ayam panggang

Selain itu ada juga ayam panggang dengan arang, yang juga merupakan menu andalan restoran ini. Aku selalu memesan kedua jenis masakan ayam ini di sini. Dan karena menu utamanya adalah ayam, aku bisa mengajak teman muslim yang tidak keberatan makan ayam tanpa tanda halal (asal ayam).

Selain ayam, mereka pasti mengeluarkan makanan awal appetizer berupa sayur mentah hasil perkebunan Miyazaki. Biasanya kol dan ketimun, yang dimakan dengan miso khusus. Duh sayurannya benar-benar segar dan juicy dan enak! Bahkan aku pernah makan terong mentah dan wortel berwarna yang mentah sebagai appetizernya. Enak! Kaget juga aku waktu makan terong mentahnya, karena dalam pikiranku terong itu selalu harus dimasak (kena api).

Ramen Jahe yang kusuka

Ada satu lagi menu andalan resto ini yaitu Ramen Jahe. Tentu ramen dengan kaldu ayam lalu diberi parutan jahe, banyak! Wah cocok sekali kalau kurang enak badan, atau seperti saat ini, musim dingin. Menghangatkan perut dan badan.

Restoran ini juga mempunya cara tersendiri menarik pengunjung. Jadi kalau pertama datang, pengunjung akan diberi kartu nama. Tulis nama sendiri dan posisinya sebagai “pegawai”. Nanti setelah dua kali, diangkat menjadi kepala bagian. Dan sebagai “hadiah” promosi kenaikan pangkat, diberikan satu piring masakan gratis. Kemudian naik pangkat lagi setelah 5 kali menjadi boss, dan setelah itu ada posisi komisaris (lupa setelah berapa kali). Lucu juga cara mereka, sehingga aku selalu membawa “kartu nama”ku di dalam dompet, siapa tahu aku bisa jadi komisaris ya 😀

jelly dalam piring yang dihias

Tapi ada satu lagi layanan mereka yang menarik hati pengunjung (terutama wanita), yaitu memberikan pencuci mulut berupa jelly (kecil sih) tapi piringnya dihias dengan pesan-pesan, tergantung kreatifitas pelayan yang bertugas di meja kami. Misalnya waktu aku pergi berdua dengan Riku saja, waktu itu Riku pulang dari bimbel sedangkan papa Gen dan Kai menginap di rumah Yokohama. Jadi pelayannya menghias piringnya dengan tulisan: “Selamat belajar! Untuk ibu-anak yang serupa”. Atau waktu pergi dengan teman-teman alumni UI dalam rangka tutup tahun, petugasnya menulis dalam bahasa Indonesia! Ah perhatian “kecil” seperti ini memang menghangatkan hati.

Oh ya sebagai penutup layanan mereka, biasanya kami diberi sekotak kecil plastik berisi miso khas mereka waktu pulang. Dan pelayannya akan mengantar sampai pintu keluar. Good service!

Cara pemasaran seperti Tsukada Noujou ini menjadi terkenal, sehingga ada perusahaan lain yang juga menirunya. Kata Gen pasti perusahaan itu “beli” ide dari Tsukada Noujou. Nah nama restoran itu adalah Yamanouchi Noujou 山内農場, yang mengandalkan hasil bumi (sama-sama ayam dan sayuran) dari Kagoshima (tetangganya Miyazaki). Menu ayam setengah mentah dan ayam panggangnya sama, tapi di Yamanouchi Noujou lebih banyak variasi menu-menu dengan ukuran kecil. Secara pribadi aku lebih suka Yamanouchi Noujou karena menu makanan yang lebih kaya. Tapi mereka tidak menerapkan sistem kartu nama atau piring jelly, atau memberikan “hadiah” miso waktu pulang. Harga masakan di Yamanouchi Noujou juga sedikit lebih murah daripada Tsukada Noujou. Tapi ada satu yang kurasa Yamanouchi Noujou itu “kalah” yaitu, mereka tidak mempunyai menu Ramen Jahe 😀

Kedua restoran ayam ini sekarang menjadi restoran favoritku, sehingga aku biasanya mengajak teman-teman ke sana. Apalagi kedua restoran ini mempunyai cabang (waralaba) di mana-mana, di setiap stasiun besar. Tapi baru-baru ini aku menemukan lagi satu restoran  khusus yaitu restoran dari prefecture Yamaguchi (masih daerah di selatan Jepang). Tapi aku tidak merasa menu masakan mereka itu istimewa, kecuali soba hijau yang dipanggang di atas genteng. Biasa saja untuk makanan. Tapi prefecture Yamaguchi mempunyai sake jepang yang sangat enak dan terkenal, yaitu Dassai! Jadi restoran ini wajib dikunjungi oleh mereka yang ingin menikmati sake Jepang yang sudah terkenal di dunia.

Soba hijau yang dimasak di atas genteng. Sake Dassai memang terkenal dan enak (dan mahal hehehe)

Restoran dari 3 prefektur, masing-masing dengan keunggulannya. Dan kurasa restoran ini cukup berhasil menunjang perekonomian daerahnya masing-masing.

3 Comments

Hebat ya mbak jepang punya andalannya sendiri. Kalau aku aja nyebutin salah satu daerah di Indonesia bakalan kagok apa makanan hasil bumi khasnya. Misal bali itu ngasilin apa gak tahu, bandung ngasilin apa gak tahu juga. Untung kalau ditanya Pontianak aku tahu penghasil Lidah Buaya terbaik di Indonesia ????

OMG… It has been ages I am not reading this beloved blog..
Kangen sama tulisan K imel and now it’s raining in Jakarta so I am missing the writer more..
Sehat-sehat K imel.. Sayang selalu..

Let’s go to this restaurant someday..
Love,
Eka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

Previous Post :