Gelas-gelas Kaca

Seperti beberapa teman sudah ketahui, sejak akhir Februari, Riku terjangkit influenza. Aku pernah menulis di sini mengenai apa bedanya Influenza dan Masuk Angin. Jangan sembarangan berkata flu di Jepang deh, kalau tidak mau dituding penyebar penyakit 😀 Karena kalau influenza di Jepang, pasti tidak boleh keluar rumah, untuk mencegah mewabah.

Nah sesudah Riku sembuh, giliran aku yang kena… aku hampir sembuh, papa Gen dan Kai yang kena. Berturut-turut dan sepertinya memang lebih baik begitu, karena kalau sekaligus empat-empatnya sakit berbarengan, siapa yang akan merawat kami? 😀

Selama Gen di rumah, aku jadinya suka menonton deh. Karena dia suka merekam acara-acara tertentu yang dirasa bagus. Kesempatan untuk menonton, dan menghapus supaya kapasitas BR kami bisa kosong kembali untuk diisi acara TV lain. Dan salah satu acara yang suka direkam Gen adalah tentang seni (art). Sambil “melirik” acara yang ditayangkan (sambil lalu) aku bisa mengetahui nama-nama seniman terkenal. Dan salah satunya adalah Francois Pompon, yang terkenal dengan patung beruang kutubnya.

beruang kutub dari kristal

Daaaan… tiba-tiba aku teringat! Almarhum mama punya koleksi beruang itu yang terbuat dari kristal! Aku memang mempunyai hobi yang sama dengan mama, yaitu menyukai gelas/kristal. Karena toh dipajang di rumah, aku dan juga adikku sering membelikan kristal sebagai hadiah untuk mama. Koleksinya banyak! Tapi sayangnya, aku tidak bisa bawa koleksi itu ke Jepang. Bukannya apa, sayang saja. Jepang kan negara gempa, kaca-kaca itu pasti akan hancur waktu gempa. Jadi mendingan taruh di Jakarta saja hehehe.

Ada satu tempat di Hakone yang sudah lama aku ingin kunjungi. Namanya Hakone Garasu no Mori 箱根ガラスの森 Venetian Glass Museum. Tapi sejak kami punya mobil, itu berarti kami punya anak. Duh, ngga deh membawa anak kecil ke museum yang isinya kaca semua. Nanti kalau pecah dan aku harus ganti, mau petik uang dari pohon apa ya? hehehe.

Jadi keinginan aku untuk masuk Museum Kristal itu baru terwujud pada tanggal 11 Desember tahun lalu. Kami ke museum Kristal itu setelah mengunjungi Museum Little Prince yang ke dua kali (pertama kali waktu anak-anak masih kecil). Riku mulai membaca bukunya, sehingga dia yang minta untuk pergi lagi ke Museum Little Prince itu. Karena dia sudah puas bisa ke Museum Little Prince, dia mau tinggal di mobil dan baca buku  saja waktu kami mampir di Museum Kristal. Dia tidak suka kristal, lain dengan Kai yang sangat suka barang-barang mengkilat dan berkilau. Jadilah aku, Gen dan Kai saja yang masuk ke Museum Kristal ini.

Begitu masuk memang sudah “silau” dengan tunel terbuat dari gelas kristal. Melalui tunel ini kita masuk ke bagian museum yang memamerkan kristal-kristal antik yang biasa terdapat di istana-istana Eropa. Kami tidak berlama-lama di sini karena mengingat Riku juga yang menunggu di mobil. Pokoknya asal lihat saja.

yang klasik dan modern

Di bangunan ke dua lebih banyak memamerkan karya gelas yang lebih bisa diterima awam. Lebih banyak bentuk, banyak warna dan desain. Selain itu di bangunan yang kedua ini terdapat toko yang menjual apa yang dipamerkan. Di sini aku harus menutup dompetku erat-erat karena cukup banyak yang ingin kubeli. Beberapa kali Gen menggoda untuk membelikan kalung yang kelihatan cocok untukku, tapi kutolak dengan mengatakan, “suka sih… bagus sih… tapi pakainya kapan dan bajunya apa?”

Nah yang kurasa memang menjadi daya tarik tempat ini adalah pohon kristal. Pohon besar yang semuanya kristal. Mengkilat terkena sinar matahari, tapi keindahannya menjadi “biasa” saja kalau difoto. Memang lebih bagus melihat langsung. Meskipun aku yang suka kristalpun mengetahui bahwa itu hanya keindahan semu, karena buatan. Mungkin akan lebih senang berlama-lama melihat pohon asli daripada pohon kristal. Cukup satu kali lihat saja sebagai pengalaman.

pohon yang mengkilau tapi jadi “biasa” kalau di foto. Kilauannya tidak terekam

Sebetulnya di dekatnya ada beberapa museum seperti museum Pola, Lalique dan museum seni patung (ini sudah pernah pergi tapi waktu itu tidak punya kamera hehehe). Nanti suatu saat ingin coba juga masuk museum-museum ini.

3 gagasan untuk “Gelas-gelas Kaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *