Pinchi! Sial!

Semalam waktu aku akan tidur, Kai naik ke tempat tidurku dan tidur di sebelahku, “Aku sudah lama ngga tidur sebelah mama… peluk dong!”… hmmm dia mau bermanja-manja rupanya. Tapi dia itu sudah gede! sekarang sehingga tempat tidur terasa sempit jika harus bertiga. Mau usir kasihan juga sehingga aku biarkan saja karena dia sering sakit hati sekarang. Nah saat itu aku menikmati pembicaraan bincang sebelum tidur  kami.

Tiba-tiba saja dia bertanya,” Mama pernah merasa sial? Pinchi?”
“Tentu saja pernah. Tidak ada orang yang tidak pernah kan?”
“Tapi mama tidak pernah kelihatan seperti pinchi
“Ya buat apa mama terus bermuram durja kalau pinchi? Kan masih banyak yang bisa dikerjakan. Masih banyak keuntungan yang didapat. Harus punya semangat untuk mulai terus. Hmmm kalau dipikir-pikir mama memang jarang merasa pinchi ya?”

“Kalau papa? ” Dia bertanya pada papanya yang sedang bermain tab. Papanya diam saja.
“Papa juga sama seperti mama lah. Kan papa dan mama sama-sama ulang tahunnya.”
“Eh ngga bisa dong persis sama. Papa lain sama mama. Mama sepertinya tidak pernah susah”
“Hmmm iya ya. Kai selalu khawatir untuk mencoba sesuatu. Mama jarang khawatir. Mungkin karena mama selalu berpikir, kalau tidak mencoba kita tidak tahu bisa atau tidak. Kau tahu, mama punya semboyan sejak SMP dalam bahasa Inggris, You Can if You Think You Can”

“Ahhh itu aku tahu 為せば成る為さねば成らぬ何事も Naseba naru, nasaneba naranu nanigotomo!”
“Ya seperti itu. Meigen (kata mutiara) nya siapa ya itu?”
Langsung papanya berkata: “Lengkapnya 為せば成る為さねば成らぬ何事も、成らぬは人の為さぬなりけり itu Meigen dari 上杉鷹山Uesugi Youzan. Kata-kata dia dicantumkan dalam buku ” Representative Men of Japan (代表的日本人Daihyouteki Nihonjin)” karya Uchimura Kanzo. Sehingga John F Kennedy mengatakan bahwa dia paling mengagumi Uesugi Youzan dengan mottonya itu.

Langsung deh Kai menghafal peribahasa itu berkali-kali di tempat tidur.

Dan akhirnya aku bilang “Kai mau tahu mama dua kali merasa pinchi dalam sebulan kemarin. Pertama waktu mama pergi ke  Universitas Tokyo untuk memotret daun-daun musim gugur. Mama cuma punya waktu 2 jam, dan supaya mama tidak terlambat ngajar jam 3, mama naik taksi. Eh tahunya supir taxi tidak tahu jalan. Jadi mama bilang, sampai stasiun Kanda saja. Mama pikir mama lebih cepat jalan daripada naik taxi kalau sudah dekat stasiun. Lalu mama berhenti sebelum stasiun…dan ternyata itu masih jauuuuuh. Terpaksa mama lari, dan waktu mama isi absen, ternyata mama terlambat DUA menit! Duuuh sebel banget! Tahu gitu kan mama lebih cepat larinya. Pinchi deh 😀

Lalu yang kedua waktu mama diantar papa dengan mobil ke universitas. Waktu mama turun dari mobil, HP mama jatuh di dalam mobil. Mama sadar tapi papa sudah keburu pergi menjauh. Terpaksa deh mama cari akal bagaimana kasih tahu papa bahwa HP mama ada di mobil dan mama perlu sekali HP itu. Karena malamnya mama ada kerjaan lain dan semua orang akan menghubungi mama di HP. Nah, mama mau telepon papa, tapi telepon pakai apa? mama juga tidak hafal nomornya. Duh saat itu mama merasa sial banget! Pinchi deh. Terpaksa mama pergi ke ruang komputer dan mengirim email ke papa. Dan kalau perlu setelah mengajar, mama saja yang cari papa karena sulit untuk menentukan harus bertemu di mana tanpa HP. Di situ mama benar-benar merasa ketergantungan terhadap HP. Eh, tahunya papa sadar bahwa mama menjatuhkan HP dan papa cari ubek-ubek satu gedung tempat mama ngajar, lihat satu per satu kelasnya, dan akhirnya bertemu mama. Duh mama senang sekali! Yah lebih senang melihat HP daripada papa (sorry papa hehehe)”

“Ehhh ternyata mama bisa juga pinchi ya? hehehe.”

“Bisa dong, tapi mungkin jarang. Makanya harus selalu persiapkan diri sebelumnya. Kalau sampai terjadi hal yang sial, ya terima saja apa adanya, dan pikir bagaimana cara menyelesaikannya.”

Bincang sebelum tidur yang sangat berguna untuk Kai dan mamanya. Dan yah setelah Kai tidur aku terpaksa bangun karena tempat tidur terasa sempiiiit sekali  :v

6 gagasan untuk “Pinchi! Sial!

  1. Rosanna Simanjuntak

    Hai, kayaknya ini kunjungan perdana. Salam kenal dari bumi Borneo yaa…

    Dulu sempat bertiga tidur sekamar, karena si kecil mash tarik ulur tidur sendiri, apalagi kalau sedang hujan deras. Jadilah tidur seperti robot, lurus dan terbatas.

    Namun, perlahan, Yasmin (buah hatiku semata wayang), akhirnya “insyaf’ dan malah pengen tidur sendiri sampai sekarang.

    Quotenya, sangat menginspirasi…

    Balas
  2. vizon

    “Mama lebih senang llihat HP daripada Papa”.. bwahaha… jujur amat sih Nechan… 😀 #becanda

    Jangankan Kai, Ajib aja yang udah SMP masih juga glendotan sama Mamanya. Kemarin, selama liburan dari pesantren, dia benar-benar manfaatin buat bermanja-manja. Padahal badannya udah lebih gede dari mamanya.. 😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *