Orang tua bodoh = Bangga

Orang tua bodoh = Bangga

Lah, kok orang tua bodoh malah bangga?

Bukan, ini adalah istilah bahasa Jepang: Oyabaka 親ばか, yang secara harafiah diterjemahkan menjadi orang tua bodoh. Oya = orang tua, baka = bodoh. Mengacu pada orang tua yang suka memamerkan dan memuji anaknya sendiri, sehingga terlihat bodoh di hadapan orang lain. Bangga pada anak yang kelewatan gitu. Padahal dalam memuji anaknya sering juga orang Jepang mengatakan : baka musume バカ娘 atau baka musuko バカ息子, seakan merendahkan mengatakan anak (laki/perempuan)ku yang bodoh.

Mungkin dalam bahasa Indonesia tidak ada padanan satu kata yang pas. Doting parents bahada Inggrisnya. Paling-paling orang Indonesia hanya mengatakan antara orang tua yang memanjakan anak atau orang tua yang bangga pada anaknya. Thats all.

Bagiku, tidak ada salahnya orang tua membanggakan anaknya kok. Tidak juga terlihat bodoh, apalagi yang dibanggakan pasti prestasi anaknya kan? Kalau sampai ada yang yang banggakan kebodohan anaknya, nah baru deh itu aneh hehehe.

Jaman sekarang kebanggaan orang tua dapat langsung terlihat di sosmed. Ada yang bangga anaknya pintar menggambar, atau juara ini itu. Baru-baru ini aku sendiri merasa temanku hebat karena dia membesarkan 3 anak lelaki dan semuanya dapat beasiswa ke luar negeri. Wah dia pasti bangga sekali pada anaknya tuh!

Aku sendiri tidak atau belum ada sesuatu yang setara dengan kebanggaan orang tua  seperti yang dipamerkan teman-teman di sosmed seperti itu. Tapi aku merasa beberapa hari terakhir ini aku merasa bangga akan anak-anakku dan mahasiswaku! Mulai dari yang terkecil, Kai dulu deh. Beberapa hari terakhir, dia sering sulit tidur. Ntah itu karena siangnya dia tidur (dan kebablasan) atau terlalu excited. Dan aku menyuruhnya membaca. Kemudian pada suatu malam aku mendengar dia membaca dari buku pelajaran bahasa Indonesia yang dikarang ibu Funada. Besar, kecil….. Hmm lalu kupikir ah, aku mau iseng tanya seberapa banyak kata bahasa Indonesia yang dia tahu (kami sehari-hari memakai bahasa Jepang di sekolah/rumah).

“Kai, 大きい (ookii) itu apa?”
“GEDE!”

kaget aku hahaha, iya ya dia lebih sering  dengar kata gede daripada besar.

“Hmm boleh gede, tapi ada yang lain…”
“Gendut?”

hahaha tambah geli… emang sih dia pikir maksudnya besar badannya. Lalu aku kasih tahu dia bahwa Ookii itu besar. Dan lawan katanya “Kecil”…

“Oh kecil aku tahu. Kucing kecil kencing kan?”

“hahah iya Kai hebat!”

ketawa lagi deh… memang opanya pernah bercanda dengan maksud membingungkan dia dengan kata yang cepat diucapkan dan mirip-mirip. Kucing kunci dan kencing kan mirip. Jadi dia selalu ingat deh kata Kucing, kecil dan kencing 😀

Dua buku bahasa Indonesia yang mudah untuk Kai pelajari karena ada hiragana/katakananya. Dua ambil sendiri dari rak buku kami

Dan yang membuatku bangga, tanpa aku suruh beberapa hari berturut-turut selalu baca buku pelajaran itu, bahkan dalam mobil waktu pergi ke rumah mertuaku di Yokohama sesudah misa minggu. Well, semua orang suka dipuji dan biasanya kalau dipuji akan meneruskan kan?

Kalau kebanggaan pada Riku baru saja terjadi kemarin malam, yaitu Riku kemarin bisa pergi ke dokter sendiri! Sudah sejak Jumat lalu otot kedua pahanya sakit. Sabtu pagi aku ajak ke dokter, tapi dia menolak, mungkin karena masih sakit berjalan dan tidak bisa mengayuh sepeda padahal klinik orthopedi yang kami tuju lumayan jauh dari rumah. Aku sudah katakan kita naik taxi saja (mobil sedang dipakai papa Gen) tapi dia menolak padahal klinik itu hanya buka sampai jam 12 di hari Sabtu dan Minggu libur. Akhirnya papanya hari Minggu malam menyuruhnya pergi sendiri ke klinik sore sesudah pulang sekolah hari Seninnya. Kami tidak bisa antar karena sudah terlanjur membeli karcis menonton film Hijrah: HOS Tjoroaminoto sebagai bagian Tokyo International Film Festival dan baru bisa pulang pukul 6:30 an, pas klinik itu tutup. Jadi kemarin hatiku, hati seorang ibu tidak tenang karena pertama kali membiarkan anakku pergi sendiri ke dokter. Tapi ternyata bisa dan sukses kok. Karena ada asuransi, anak-anak tidak perlu membayar pemeriksaan. Hanya waktu beli obatnya saja, dia membayar 600 yen.

Tapi sebetulnya selain bahwa Riku bisa pergi sendiri ke dokter, aku merasa bangga padanya, waktu dia mengikuti Hari Budaya dengan lomba paduan suara di sekolahnya tgl 12 Oktober yang lalu. Karena aku seksi publikasi, aku bisa membuat foto dalam hall tempat mereka berlomba (ibu-ibu lain tidak boleh memotret). Dan pada awal acara, aku yang duduk di lantai atas, mencari-cari tempat duduk anakku di bawah dengan kamera berlensa tele. Tepat saat itu aku melihat dia sedang membuat tanda salib sambil dilihat teman sebelahnya. Lalu teman sebelahnya menirunya sambil bertanya, “Begini ya?” sambil meniru gerakannya. Aku terkejut dan aku memang selalu mengatakan, jika gelisah, khawatir, takut bawa semua dalam doa, paling sedikit membuat tanda salib, sesuai agama kami, katolik. Jadi aku tahu bahwa dia sebetulnya takut, atau demam panggung. Dan dia bawa itu ke dalam bentuk tanda salib, tanpa sembunyi-sembunyi. Ini membuatku bangga pada anak sulungku. Selain itu dia juga tidak segan untuk memperkenalkan Indonesia waktu harus berpidato dalam pelajaran bahasa Jepang. Alhasil kelasnya ramai menanyakan tentang Indonesia dan dia mendapat nilai tambah dari gurunya.

ssst foto yang kucuri ambil dari jauh :D, sayang aku terlambat menekan shutternya, sehingga hanya menangkap gerakan temannya

Selain perkembangan anak-anakku sendiri, aku juga merasa bangga dan senang mendengar perkembangan dari mahasiswaku. Karena aku hanya mengajar seminggu sekali, jarang bertemu atau tidak mempunyai waktu untuk lebih lama bercengkerama dengan mahasiswa-mahasiswaku. Tapi dua minggu yang lalu, tiba-tiba seorang mahasiswa datang padaku dan melaporkan bahwa untuk beberapa kali ke depan dia akan absen, karena harus mengikuti kursus yang diadakan kantornya. Dia melaporkan bahwa dia diterima di NHK! Wah aku ikut bangga.

Dalam bulan oktober ini juga aku mendapat message khusus dari mantan mahasiswaku. Dia mengabarkan bahwa anak pertamanya baru lahir. Wah aku langsung mengucapkan selamat menjadi bapak, dan bertanya kapan lahirnya. “Dua jam yang lalu”…. senangnya dia teringat untuk memberitahukan aku, yang hanya sekedar mantan dosennya selama dua tahun waktu dia ambil pelajaran bahasa Indonesia, waktu dia mahasiswa hampir 10 tahun lalu! Bangga!

Berita dari siapapun, anak/ keluarga sendiri atau mahasiswa sendiri dapat membuat kita bangga ya. Besar kecilnya peristiwa yang membanggakan tidak menjadi ukuran untuk merasa bangga dan senang kan?

Semoga teman-teman semua terus merasa bangga pada diri sendiri, atau pada orang lain di sekitar. Dan yang pasti aku masih merasa bangga masih bisa menulis di blogku, meskipun tersendat-sendat karena kesibukanku akhir-akhir ini. Dan masih bisa mengatakan, “Aku blogger!”…. dan melanjutkan terus mimpiku untuk bisa terus menulis ….sampai mati 🙂

Selamat hari Blogger Nasional 27 Oktober untuk teman-teman bloggerku

12 Comments

Duh Kai rajin belajar bahasa Indonesia dan Riku pergi ke dokter sendiri. Luar biasa, anak-anak bertumbuh cepat ya Mbak. Syukur bangga kita orang tua saat menyaksikan anak-anak bertumbuh ke arah mandiri.
Salam hangat tuk keluarga Mbak EM

Pinter2 ya riku dan kai! Baru2 ini aku juga bangga deh sama ponakan, soalnya dia gampang banget bergaul sama anak2 lain pas lagi main di taman padahal ya baru ketemu gitu, beda deh sama tantenya dulu ^_^

Hai Kak … kangen, sudah lama tidak bertegur sapa 🙂

Ikut bangga dan terharu juga sama Kai dan Riku. Membaca buku bahasa Indonesia sementara sehari2nya memakai bahasa Jepang dan pergi ke dokter sendiri, serta bisa menenangkan diri yang sedang gugup itu keren lho.

Oya, ada salam dari Athifah, dia pernah tanya2 Tante Imelda 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :
Previous Post :