Arsip Bulanan: Oktober 2015

Orang tua bodoh = Bangga

Lah, kok orang tua bodoh malah bangga?

Bukan, ini adalah istilah bahasa Jepang: Oyabaka 親ばか, yang secara harafiah diterjemahkan menjadi orang tua bodoh. Oya = orang tua, baka = bodoh. Mengacu pada orang tua yang suka memamerkan dan memuji anaknya sendiri, sehingga terlihat bodoh di hadapan orang lain. Bangga pada anak yang kelewatan gitu. Padahal dalam memuji anaknya sering juga orang Jepang mengatakan : baka musume バカ娘 atau baka musuko バカ息子, seakan merendahkan mengatakan anak (laki/perempuan)ku yang bodoh.

Mungkin dalam bahasa Indonesia tidak ada padanan satu kata yang pas. Doting parents bahada Inggrisnya. Paling-paling orang Indonesia hanya mengatakan antara orang tua yang memanjakan anak atau orang tua yang bangga pada anaknya. Thats all.

Bagiku, tidak ada salahnya orang tua membanggakan anaknya kok. Tidak juga terlihat bodoh, apalagi yang dibanggakan pasti prestasi anaknya kan? Kalau sampai ada yang yang banggakan kebodohan anaknya, nah baru deh itu aneh hehehe.

Jaman sekarang kebanggaan orang tua dapat langsung terlihat di sosmed. Ada yang bangga anaknya pintar menggambar, atau juara ini itu. Baru-baru ini aku sendiri merasa temanku hebat karena dia membesarkan 3 anak lelaki dan semuanya dapat beasiswa ke luar negeri. Wah dia pasti bangga sekali pada anaknya tuh!

Aku sendiri tidak atau belum ada sesuatu yang setara dengan kebanggaan orang tua  seperti yang dipamerkan teman-teman di sosmed seperti itu. Tapi aku merasa beberapa hari terakhir ini aku merasa bangga akan anak-anakku dan mahasiswaku! Mulai dari yang terkecil, Kai dulu deh. Beberapa hari terakhir, dia sering sulit tidur. Ntah itu karena siangnya dia tidur (dan kebablasan) atau terlalu excited. Dan aku menyuruhnya membaca. Kemudian pada suatu malam aku mendengar dia membaca dari buku pelajaran bahasa Indonesia yang dikarang ibu Funada. Besar, kecil….. Hmm lalu kupikir ah, aku mau iseng tanya seberapa banyak kata bahasa Indonesia yang dia tahu (kami sehari-hari memakai bahasa Jepang di sekolah/rumah).

“Kai, 大きい (ookii) itu apa?”
“GEDE!”

kaget aku hahaha, iya ya dia lebih sering  dengar kata gede daripada besar.

“Hmm boleh gede, tapi ada yang lain…”
“Gendut?”

hahaha tambah geli… emang sih dia pikir maksudnya besar badannya. Lalu aku kasih tahu dia bahwa Ookii itu besar. Dan lawan katanya “Kecil”…

“Oh kecil aku tahu. Kucing kecil kencing kan?”

“hahah iya Kai hebat!”

ketawa lagi deh… memang opanya pernah bercanda dengan maksud membingungkan dia dengan kata yang cepat diucapkan dan mirip-mirip. Kucing kunci dan kencing kan mirip. Jadi dia selalu ingat deh kata Kucing, kecil dan kencing 😀

Dua buku bahasa Indonesia yang mudah untuk Kai pelajari karena ada hiragana/katakananya. Dua ambil sendiri dari rak buku kami

Dan yang membuatku bangga, tanpa aku suruh beberapa hari berturut-turut selalu baca buku pelajaran itu, bahkan dalam mobil waktu pergi ke rumah mertuaku di Yokohama sesudah misa minggu. Well, semua orang suka dipuji dan biasanya kalau dipuji akan meneruskan kan?

Kalau kebanggaan pada Riku baru saja terjadi kemarin malam, yaitu Riku kemarin bisa pergi ke dokter sendiri! Sudah sejak Jumat lalu otot kedua pahanya sakit. Sabtu pagi aku ajak ke dokter, tapi dia menolak, mungkin karena masih sakit berjalan dan tidak bisa mengayuh sepeda padahal klinik orthopedi yang kami tuju lumayan jauh dari rumah. Aku sudah katakan kita naik taxi saja (mobil sedang dipakai papa Gen) tapi dia menolak padahal klinik itu hanya buka sampai jam 12 di hari Sabtu dan Minggu libur. Akhirnya papanya hari Minggu malam menyuruhnya pergi sendiri ke klinik sore sesudah pulang sekolah hari Seninnya. Kami tidak bisa antar karena sudah terlanjur membeli karcis menonton film Hijrah: HOS Tjoroaminoto sebagai bagian Tokyo International Film Festival dan baru bisa pulang pukul 6:30 an, pas klinik itu tutup. Jadi kemarin hatiku, hati seorang ibu tidak tenang karena pertama kali membiarkan anakku pergi sendiri ke dokter. Tapi ternyata bisa dan sukses kok. Karena ada asuransi, anak-anak tidak perlu membayar pemeriksaan. Hanya waktu beli obatnya saja, dia membayar 600 yen.

Tapi sebetulnya selain bahwa Riku bisa pergi sendiri ke dokter, aku merasa bangga padanya, waktu dia mengikuti Hari Budaya dengan lomba paduan suara di sekolahnya tgl 12 Oktober yang lalu. Karena aku seksi publikasi, aku bisa membuat foto dalam hall tempat mereka berlomba (ibu-ibu lain tidak boleh memotret). Dan pada awal acara, aku yang duduk di lantai atas, mencari-cari tempat duduk anakku di bawah dengan kamera berlensa tele. Tepat saat itu aku melihat dia sedang membuat tanda salib sambil dilihat teman sebelahnya. Lalu teman sebelahnya menirunya sambil bertanya, “Begini ya?” sambil meniru gerakannya. Aku terkejut dan aku memang selalu mengatakan, jika gelisah, khawatir, takut bawa semua dalam doa, paling sedikit membuat tanda salib, sesuai agama kami, katolik. Jadi aku tahu bahwa dia sebetulnya takut, atau demam panggung. Dan dia bawa itu ke dalam bentuk tanda salib, tanpa sembunyi-sembunyi. Ini membuatku bangga pada anak sulungku. Selain itu dia juga tidak segan untuk memperkenalkan Indonesia waktu harus berpidato dalam pelajaran bahasa Jepang. Alhasil kelasnya ramai menanyakan tentang Indonesia dan dia mendapat nilai tambah dari gurunya.

ssst foto yang kucuri ambil dari jauh :D, sayang aku terlambat menekan shutternya, sehingga hanya menangkap gerakan temannya

Selain perkembangan anak-anakku sendiri, aku juga merasa bangga dan senang mendengar perkembangan dari mahasiswaku. Karena aku hanya mengajar seminggu sekali, jarang bertemu atau tidak mempunyai waktu untuk lebih lama bercengkerama dengan mahasiswa-mahasiswaku. Tapi dua minggu yang lalu, tiba-tiba seorang mahasiswa datang padaku dan melaporkan bahwa untuk beberapa kali ke depan dia akan absen, karena harus mengikuti kursus yang diadakan kantornya. Dia melaporkan bahwa dia diterima di NHK! Wah aku ikut bangga.

Dalam bulan oktober ini juga aku mendapat message khusus dari mantan mahasiswaku. Dia mengabarkan bahwa anak pertamanya baru lahir. Wah aku langsung mengucapkan selamat menjadi bapak, dan bertanya kapan lahirnya. “Dua jam yang lalu”…. senangnya dia teringat untuk memberitahukan aku, yang hanya sekedar mantan dosennya selama dua tahun waktu dia ambil pelajaran bahasa Indonesia, waktu dia mahasiswa hampir 10 tahun lalu! Bangga!

Berita dari siapapun, anak/ keluarga sendiri atau mahasiswa sendiri dapat membuat kita bangga ya. Besar kecilnya peristiwa yang membanggakan tidak menjadi ukuran untuk merasa bangga dan senang kan?

Semoga teman-teman semua terus merasa bangga pada diri sendiri, atau pada orang lain di sekitar. Dan yang pasti aku masih merasa bangga masih bisa menulis di blogku, meskipun tersendat-sendat karena kesibukanku akhir-akhir ini. Dan masih bisa mengatakan, “Aku blogger!”…. dan melanjutkan terus mimpiku untuk bisa terus menulis ….sampai mati 🙂

Selamat hari Blogger Nasional 27 Oktober untuk teman-teman bloggerku

Makasih ya!

Salah satu kelas bahasa Indonesia yang kuajar adalah kelas orang dewasa, dalam artian pegawai atau ibu rumah tangga sehingga pelajaran dilakukan malam hari. Kebanyakan mereka adalah orang-orang Jepang yang pernah pergi ke Indonesia. Atau kalaupun belum pernah, pasti kantornya berhubungan dengan Indonesia, atau dia akan dipindahtugaskan ke Indonesia. Jadi minat dan perhatian mereka lain dengan mahasiswa yang hanya sekedar memenuhi sks 😀

Nah, Rabu kemarin tiba-tiba ada seorang ibu yang bertanya: “Makasih” itu apa? Lalu kujelaskan bahwa makasih adalah singkatan dari terima kasih yang sering dipakai dalam percakapan orang Indonesia. Tapi sebaiknya jika bicara dalam forum formal jangan memakai makasih.

Sabtu kemarin benar-benar satu hari untuk keluarga. Tidak biasanya kami berempat bisa benar-benar libur satu hari. Jadi sekitar pukul 11 kami pergi bersama berbelanja untuk keperluan badminton Riku dan baju winter anak-anak. Untuk makan siang, kami makan di sebuah restoran India di gedung yang sama dengan toko pakaian itu. Riku suka sekali NAN, roti India yang biasa dimakan dengan kare. Dia kenal NAN itu waktu makan siang di sekolahnya, kadang diberi NAN dan kare. Tapi karena aku tidak suka kare India, aku tidak pernah membeli NAN atau mengajak anak-anak ke restoran India. Karena terlihat Riku ingin sekali makan di resto India itu, akhirnya aku mengalah dan kami masuk… untuk pertama kalinya sekeluarga. Sambil aku berencana untuk mengajak anak-anakku pergi mencoba masakan Thailand suatu waktu.

Setelah berbelanja kami kembali ke rumah dan menunggu Riku bimbel sampai jam 8 malam. Setelah itu Gen mengajak kami pergi ke sebuah rumah makan Indonesia yang relatif dekat dengan rumah kami, hanya 20 menit bermobil. Nama restoran itu MAKASHI dan stasiun terdekatnya adalah Ogawa dari Seibu line. Aku memang sempat tertawa waktu mendengar Gen mengatakan nama restoran itu pertama kali. Makasih memang mirip kata-kata bahasa Jepang. Tapi letak huruf H nya yang tidak benar 😀 Soalnya dalam bahasa Jepang, bunyi “SI” itu selalu ditulis SHI. Lihat saja paket bumbu NASI GORENG yang kubeli di toko MUJI. Tertulis NASHI GORENG euy 😀

NASHI GORENG 😀

Restoran MAKASHI ini memang kecil dan daripada disebut restoran, lebih cocok disebut tempat minum-minum, izakaya bahasa Jepangnya, atau tavern bahasa Inggrisnya. Begitu masuk saja kami langsung diserang dengan asap rokok dan bunyi tawa canda tamu yang lain. Kai yang “kalem” sekali langsung mengajak kami pulang hehehe. Tapi kami memesan cukup banyak variasi makanan di sini. Bihun goreng, mie goreng, nasi goreng, rendang dan gado-gado. Semuanya lumayan enak dan harganya relatif murah. Tapi sayangnya menurutku tidak bisa mengajak teman muslim ke sini, karena sudah terlihat potongan daging babinya dalam bihun/mie gorengnya.

Makashi ya 😀

Tapi restoran ini cukup “royal” kepada tamunya. Ketika kami hampir pulang, mereka membagikan sepiring emping kepada semua tamu “on the house” (tanpa bayar). Belum lagi waktu aku memesan pisang goreng untuk Riku saja, ternyata mereka membuatkan juga untuk Kai….. Jadi dapat dua bayar satu deh.

sayang sate ayam dan sate sapinya sudah habis, sehingga tinggal sate kambing saja. Rendangnya lumayan enak loh!

Senang sekali kami bisa mencoba lagi sebuah restoran Indonesia yang baru di Tokyo. Karena sebetulnya ini pelampiasan kami tidak bisa pergi ke Festival Indonesia yang diadakan di Yoyogi. Ah, memang makanan Indonesia itu ngangenin!

emping goreng pakai kecap memang enak!

 

100 Karung Beras

Judul aslinya “Kome Hyappyou 米百俵” , samar-samar aku mengingat  sebuah cerita sejarah yang melatarbelakangi slogan “100 karung  beras” ini. Peristiwa ini terjadi di domain (=藩 han = daerah yang dikepalai seorang Hanshu, semacam “raja kecil”)  Nagaoka, di prefektur Niigata sekitar tahun 1860-an. Saat itu daerah ini kalah perang Boshin, dan mengalami kelaparan. Melihat kondisi ini, “tetangga”nya domain Mineyama, mengirimkan 100 karung beras, dengan tujuan menyelamatkan daerah Nagaoka dari kelaparan. TAPI, seorang petinggi daerah Nagaoka yang bernama Kobayashi Torasaburo malahan menyuruh menjual beras itu dan hasil penjualan diperuntukkan untuk membangun sekolah. Katanya: “Seratus karung beras itu jika dimakan akan habis dalam sekejap, tapi jika dijadikan sekolah (pendidikan) kita akan menuai hasilnya kelak, 10.000 atau 100.000 karung.” 「百俵の米も、食えばたちまちなくなるが、教育にあてれば明日の一万、百万俵となる」

Tentu saja keputusan itu dikecam oleh petinggi yang lain, namun keputusan itu tetap dijalankan dan didirikan Koukkan Gakkou yang menjadi cikal bakal SD Sakanoue, yang masih ada sampai sekarang. Dan semangat Kome Hyappyou ini disentil lagi oleh PM Jun-ichiro Koizumi, dengan menekankan pentingnya berpikir jauh ke depan.

buku skrip drama oleh Yamamoto Yuzo

Sebetulnya hari ini tanggal 12 Oktober 2015 merupakan hari Olahraga di Jepang. Karena sekolah anak-anakku sudah menjalankan class meeting di bulan Mei, kami tidak perlu datang ke sekolah untuk meramaikan Undokai (class meeting) tersebut. Tapi meskipun hari ini tanggal merah, deMiyashita tidak libur. Papa Gen bekerja, karena hampir semua universitas mengadakan kuliah pada hari ini. Riku juga tidak ada di rumah, karena mengikuti pertandingan Badminton pemula bagi amatir se-kelurahan Nerima sejak kemarin. Hari ini dia bermain dobel bersama temannya…. dan … tentu saja kalah karena dia baru mulai belajar bermain sejak April lalu hehehe.

Nanti tanggal 3 November, Jepang juga merayakan Hari Kebudayaan, jadi libur. Dan untuk merayakan hari kebudayaan itu, sekolah Riku mengadakan perlombaan paduan suara. Delapan belas kelas sudah berlatih sejak awal bulan Oktober, dan besok akan tampil di Pusat Kebudayaan daerah kami. Aku pun akan ikut sibuk karena aku harus mengambil foto untuk kemudian dimasukkan ke dalam buletin PTA.

Yang membuat aku termenung hari ini adalah kenyataan bahwa di Jepang TIDAK ADA hari pendidikan seperti di Indonesia. Tapi tentu bukan berarti Jepang tidak menganggap pendidikan itu penting. Dan aku sadari bahwa dari olahraga dan kebudayaan itu juga tercermin pendidikan Jepang yang sesungguhnya. SEMUA berawal dari kelompok kecil. Kerjasama dan persatuan. Maju bersama demi masa depan!

Satu lagi yang membuatku ingat pada “100 karung beras” ini adalah sebuah buku yang dikarang Yamamoto Yuzo, seorang pengarang sastra anak-anak dan penulis skrip drama (screen play) yang terkenal. Buku “Kome Hyappyou” juga merupakan buku skrip drama. Aku melihat buku ini di museum Yamamoto Yuzo yang berada di Kichijouji, tidak jauh dari gerejaku. Karena ada tempat parkirnya, Gen memarkirkan mobil kami, dan kami bertiga : aku, Gen dan Kai masuk ke dalam. Riku sakit kepala sehingga menunggu di mobil.

Memang seperti rumah biasa, yang dibuat menjadi museum.

Museum ini merupakan bekas rumah kediaman Yamamoto Yuzo. Dari foto-foto yang ada, terlihat banyak anak-anak yang mengunjungi rumah itu dan membaca buku-buku cerita anak-anak di perpustakaan rumah itu. Ada pula foto waktu Yamamoto Yuzo berdiri berbicara di depan anak-anak itu di teras rumah. Rumahnya asri dan memang merupakan bangunan eropa.

ternyata salah satu ruangan pernah dibuka untuk umum, sebagai tempat membaca anak-anak.

Ada beberapa karyanya yang terkenal, tapi belum ada yang pernah kubaca. Tapi Gen menyarankan untuk membaca kompilasinya mengenai sastra dunia yang dia terjemahkan. Hmmm kalau sastra dunia mending aku baca dalam bahasa Inggris dong hehehe.

Tidak ada lawan(g) na

Aku mungkin tidak berhak menulis tentang bahasa Makassar, karena aku memang tidak menguasai bahasa Makassar. Mungkin dibanding bahasa Jawa, aku masih bisa mengerti 40% bahasa Jawa, dan 10% untuk bahasa Makassar. TAPI aku tentu mengenal logat bahasa Makassar yang khas, yang kukatakan seperti bernyanyi :D.  Dan itu terbukti, waktu aku dan Riku menuruni tangga di Kiyomizudera, Kyoto, musim semi yang lalu. Terdengar sayup-sayup kalimat bahasa Indonesia. Riku berkata,”Ma…. kok aku seperti dengar bahasa Indonesia ya?”
Dan kukatakan, “Benar… dan lucunya logatnya logat Makassar loh!”
“Oh pantas, aku ragu kok bahasa Indonesia tapi logatnya lain tidak seperti sepupu di Jakarta. Rupanya Makassar!”
Senang juga aku, anakku yang baru 3 kali pergi ke Makassar ini, bisa membedakan logat nenek moyangnya. Tadinya sih, aku mau menyapa si turis Makassar itu, tapi karena aku buru-buru juga (Kai yang sedang demam menunggu di taksi) jadi aku tidak menyapa mereka.

Logat Makassar memang “lain dari yang lain”. Selain penambahan suku kata [mi] (sebagai ganti …kan) Itu mi… Juga mengganti [nya] menjadi [na]. Dan satu lagi, mengucapkan konsonan akhir [n] menjadi [ng]. Jadi judul di atas, bahasa Indonesianya adalah TIDAK ADA LAWANNYA.

Dan kurasa, saat ini, itu bisa dipakai sebagai terjemahan dari kata bahasa Jepang saiko  最高. Bagi yang sudah pernah mempelajari bahasa Jepang, tentu tahu bahwa kanji Sai , bisa dibaca mottomo 最も yang berarti paling. kou itu bisa dibaca takai 高い yang artinya tinggi. Paling tinggi atau tertinggi.

Tapi pada kenyataannya, dalam percakapan bahasa Jepang, sering sekali kita jumpai kata SAIKOU ini. Misalnya dalam wawancara tentang atraksi baru di Disneyland, kemudian yang diwawancarai mengatakan “Saikou!!” Bukan atraksinya diadakan di tempat yang tinggi tapi dia merefer saikou pada perasaannya. Perasaan orang itu yang tertinggi, incredible, hebat, menakjubkan, menyenangkan…. dsb. Dan bagaimanapun juga TIDAK BISA kita terjemahkan menjadi paling tinggi atau tertinggi.

Saikou 最高 ini menjadi pemikiranku ketika waktu hari Jumat kemarin, aku menyelenggarakan test bahasa Indonesia. Tema testnya adalah “kata tanya”. Aku menuliskan kalimat pertanyaan  bahasa Jepang, dan kuharap mahasiswa  menerjemahkan pertanyaan itu ke dalam bahasa Indonesia, dan menjawabnya (dalam bahasa Indonesia).

Jadi kutanyakan : インドネシア語はどうですか。 (Bahasa Indonesia bagaimana?)
dengan harapan atau dugaan, mahasiswaku menjawab : “susah” atau “mudah”, atau bahkan “lumayan”…. dengan kata sifat yang sudah kuajarkan. Eh, ternyata ada yang menuliskan 最高, dan menuliskan bahasa Indonesianya: tertinggi.

Benar sekali terjemahannya adalah tertinggi. Tapi tidak bisa dipakai sebagai jawaban “Bahasa Indonesia bagaimana?” kan…. Tapi aku mengerti sekali “perasaan” dia yang ingin mengutarakan bahwa bahasa Indonesia menyenangkan, tidak ada tandingannya….. Tidak ada lawan(g) na 😀

Secara iseng kucari terjemahan bahasa Inggrisnya untuk saikou 最高 ini apa ya? Ternyata ada yang menuliskan bahwa bisa memakai kata-kata : `awesome`, `sick`, `rock`, `epic`, atau `wicked` . (bisa lihat sumbernya di sini) Hmmm aku sendiri mungkin akan lebih memilih kata awesome dibanding lainnya.

Belajar bahasa memang sulit ya. Kita harus bisa membaca keseluruhan konteks kalimat, tidak bisa menerjemahkan secara harafiah saja. Apalagi jika kita memakai aplikasi atau situs terjemahan di internet yang biasanya hasil terjemahannya “menakjubkan” hehehe. Sekaligus saja aku kasih contoh jawaban mahasiswa yang lain yang memakai “mesin terjemahan” di smartphonenya. Pasti dia mencari kata muzukashii (bahasa Jepang) dan ketemu kata angel (bahasa Jawa BUKAN bahasa Inggris). Laaah mbok yo buka itu fotokopi halaman 12, ada kata “susah” sebagai terjemahan muzukashii  loh 😀

eh yang angel bahasa Jawa atau bahasa Indonesia ya?

lost in translation 😀

~~~~~~

NB: “Tidak ada lawang na” ini aku selalu ingat karena papa menyampaikan sebuah joke mengenai percakapan orang Jawa dan orang Makassar: (asal mulanya bagaimana saya kurang jelas, mungkin sudah ada perubahan di sana sini)

Jawa: “Kami punya sebuah mesjid yang megah”
Makassar : “Kami juga punya mesjid megah. Tidak ada lawang na!”
Jawa: “loh dari mana masuknya? (lawang dalam bahasa Jawa = pintu)
Makassar: “Dari pintunya tantu …… dongo (dongo = dungu) !”

😀

Naik Perahu

Pernah naik perahu? atau boat atau kapal?

Tentu aku pernah. Pernah naik ferry ke danau Toba sekian puluh tahun silam, atau waktu menyeberang dari Kumamoto ke Shimabara. Pernah naik kapal (bukan kapal pesiar) yang mengelilingi danau Ashi di kaki gunung Fuji. Pernah naik boat menuju pulau di Kepulauan Seribu. Pernah naik perahu di danau Tsutsujigaoka melihat rumpun teratai. Pernah naik boat angsa yang mesti dikayuh sendiri di danau Kichijouji/ Kolam Himonya dll. Hmmm ternyata cukup sering ya aku menaiki perahu/kapal, padahal aku itu sebetulnya takut sekali naik kapal-kapalan karena tidak bisa berenang 😀

Di Jepang ada wisata dengan menaiki perahu di sungai. Kawakudari namanya. Kawa = sungai, kudari  = menuruni. Jadi perahu memanfaatkan aliran air dari hilir ke hulu, sehingga mereka cukup memakai galah untuk mengatur arah perahu (tidak perlu mendayung). Aku pernah mengikuti wisata kawakudari yang terkenal sepanjang sungai di prefektur Yamagata: Mogamigawa 最上川の川下り. Wisata ini paling bagus waktu musim gugur, karena bisa melihat keindahan pohon-pohon yang berganti warna di kiri kanan. Waktu aku ke sana pun pada bulan November 1993. Kami berombongan sudah diprogramkan naik perahu khas sana, dengan dipandu seorang guide yang menceritakan daerah sekelilingnya. Tidak banyak foto yang tertinggal, karena memang saat itu tidak mempunyai kamera yang memadai. Tapi aku ingat menginap di hotel Koyou yang bagus dengan pemandian air panasnya besar sekali. Kalau bisa suatu waktu aku ingin menginap di sini lagi. Saat itu aku diajak seorang teman asal Korea, yang sudah kuanggap seperti ibu di Jepang.

wuih foto dari jaman kuda gigit besi :D. Pemandu perahu di Yamagata ini bercerita banyak dan menyanyi juga. Sayang karena dia berlogat daerah utara, jadi aku yang baru sampai di Jepang kurang mengerti 😀

Sebetulnya kami hampir lupa bahwa deMiyashita juga sudah melakukan kawakudari, yaitu pada tanggal 16 Agustus lalu di Sungai Nagatoro di Chichibu Saitama. Sebetulnya ini merupakan “pelarian” karena boleh dikatakan kami tidak bisa pergi ke tempat yang lebih jauh lagi. Sayangnya malam sebelumnya turun hujan, jadi air sungai Nagatoronya butek, keruh, seperti kopi susu deh 😀 Padahal kalau tidak hujan, airnya cukup bening loh.

Perjalanan menuju ke sana dari rumah kami sih memang tidak jauh. Begitu sampai kami langsung memarkirkan mobil kami di tempat parkir yang tersedia. Tempat parkirnya sendiri gratis, tapi untuk orang dewasa perlu membayar tiket seharga 1600 yen yang sudah termasuk biaya naik perahu dan naik bus kembali ke tempat parkir. Rute naik perahunya selama 20 menit, tapi memang kami sudah diberitahu bahwa mungkin lebih singkat waktunya karena aliran sungainya cukup deras.

 

Satu perahu sekitar 20 orang, dengan dua pemandu. Kami bisa melihat juga ada beberapa perahu karet yang memang dipakai untuk rute arung jeram. Sambil melihat beberapa orang dengan sengaja terjun ke sungai pura-pura jatuh. Karena udara waktu itu cukup panas, bisa membayangkan sejuknya air sungai. Tentu saja mereka memakai jaket penyelamat sehingga tidak tenggelam. Kami pun yang hanya naik perahu saja, harus memakai jaket penyelamat untuk keamanan.

Perahunya cukup besar dan di setiap sisi diberi plastik besar yang dipakai waktu melewati arus yang deras, sehingga tidak membasahi kami tapi tetap bisa melihat ke sisi kanan dan kiri sungai. Tempat ini pasti bagus pada musim gugur dengan pohon-pohon yang berubah warna. Kalau bisa kami ingin datang lagi ketika air sungainya bening dan pohon-pohon sudah berubah warna.

Sambil mengarahkan perahunya dengan galah, pemandu menceritakan sejarah daerah sekitar. Kami melewati beberapa batu yang cukup besar, dan salah satunya berbentuk katak. Langsung teringat cerita Malin Kundang deh… mungkin versi Nagatoro dikutuk menjadi katak ya hehehe.

Pemandu di Nagatoro, menjelaskan tentang sungai dan daerah sekitar. Kanan atas batu yang berbentuk katak. Kanan bawah, perahu yang kami sudah tumpangi itu diangkut dengan truk ke “atas”.

 

Di salah satu ceruk, kami “dipaksa” melihat ke arah daratan karena sudah ada fotografer yang membidik kami. Foto ini akan dikirim ke alamat rumah, jika mau, kira-kira 2 minggu setelah hari itu. Gen tadinya tidak mau, tapi kubilang kapan lagi kami mempunyai foto berempat sekaligus. Biasanya kan pasti cuma bisa bertiga dan gantian. Memang sih cukup mahal, satu lembar ukuran 5R seharga 1500 yen.

foto yang diambil fotografer yang sudah menunggu di tepi sungai. Lumayan ada foto kami berempat lengkap.

Setelah kami mendarat di akhir rute perahu, kami naik mini bus yang akan membawa kami kembali ke lapangan parkir. Dan di perjalanan kami bisa melihat ladang anggur yang sedang berbuah. Buah anggur ini siap dipetik pada awal-pertengahan September. Aku sendiri tidak begitu suka makan anggur, sehingga biasa saja kalau diajak pergi memetik anggur. Aku lebih suka yang sudah jadi wine 😀 , apalagi kalau disruput diselang-seling dengan keju cammembert.

Sepulang dari sungai ini, kami mampir ke museum di dekatnya, siapa tahu bisa menjadi referensi untuk Riku yang memang harus menulis tentang museum. Sayangnya museumnya terlalu kecil menurut Riku, sehingga dia pergi ke museum lainnya di Tamarokuto.

Dari museum kami mencari makan siang. Daerah ini tidak mempunyai makanan asli, meskipun aku pernah lihat di TV memperkenalkan masakan daging babi atau hidangan soba. Jadi aku mencari di internet, restoran apa yang kira-kira ada di sekitar situ. Kami kemudian mendapatkan info tentang restoran PIZZA, yang dibakar di tungku api. Bukan restoran juga sih sebetulnya, lebih seperti sebuah villa sederhana yang dijadikan restoran. Dan restoran bernama Villapawa ini semua self-service. Yang mengelola cuma berdua, sepertinya sepasang suami istri. Konon (setelah di rumah kami cari info), mereka juga hanya membuka resto di musim panas saja. Dan…. tamunya BANYAK! Kami bisa melihat dari papan, kira-kira kami harus menunggu berapa lama. Waktu itu belum pukul 12, tapi kami harus menunggu 50 menit! Hmm rupanya tempat ini cukup populer.

Karena sepertinya enak, kami “tabahkan hati” untuk menunggu 50 menit. Biasanya sih, aku paling tidak suka jika harus menunggu untuk makan. Emang seenak apa sih sampai perlu menunggu lama? Tapi kali itu, aku bisa memotret halaman sekeliling rumah, dan menikmati tempat duduk yang cukup sejuk, karena dia pasang tirai embun di depan pintu masuknya. Harga pizzanya selembar juga lebih murah daripada restoran biasa di Tokyo, jadi kami yang berempat, memesan 6 jenis pizza. Di sini tidak perlu memesan minuman, dan diperbolehkan bawa minuman dari luar. Si kakek yang memasak terkejut juga waktu kami memesan 6 lembar, seakan ragu kami bisa menghabiskannya. Tapi di situ tertulis sih bisa bawa pulang, so kalau tidak habis kan bisa bawa pulang.

tungku api yang dipakai. Karena bukan restoran umum yang punya tungku besar, tamu harus sabar menunggu.

TAPI ternyata kami tidak perlu membawa pulang, karena pizza itu enak sekali! rotinya tipis dan crispy, toppingnya juga tidak macam-macam dan yang pasti TIDAK BERMINYAK. Aku sebel kalau pizza saking terlalu banyak topping jadi berminyak tangannya. Makanya kami tidak pernah pesan pizza waralaba PH atau D*M*N*. Aku mau kalau disuruh ke sini lagi untuk makan pizza… (eh ternyata musti cari info dulu dia buka atau ngga… repot yah). Rasanya puas sekali setelah menunggu lama, makanannya enak. Si kakek juga tersenyum waktu melihat kami pulang tanpa membawa bungkusan. Oh ya, karena di sini self service, kami harus membereskan meja tempat kami pakai dan menaruh piring pizzanya sendiri di luar. Kalau mau bawa pulang juga kami harus bungkus sendiri dengan kotak yang disediakan sih.

Satu hari yang mengesankan meskipun dilewati hanya di sungai dan museum 😀 Sambil menulis ini, aku masih terheran-heran, lah sungai saja bisa jadi tempat wisata di Jepang! Tentu saja arung jeram di Indonesia sudah ada, tapi wisata sungai? Ada tidak ya sungai yang bagus yang bisa dinikmati? Ataukah sungai di negara kita terus coklat airnya sehingga tidak sedap dipandang? Semoga saja di kemudian hari bisa ada wisata sungai di Indonesia ya….. Siapa tahu 10 tahun lagi sudah ada canal cruise, wisata di kali ciliwung loh. Bukan tidak mungkin kan?

Ayo Indonesia, Semangat dan berusaha ah!