Kerjap

Kerjap

Beberapa hari setelah kembali dari Jakarta, aku dan anak-anak di rumah saja. Papa Gen tidak bisa ambil libur lama, sehingga kami tidak bisa pergi ke mana-mana. Begitu papa Gen bisa libur, Rikunya harus ikut latihan badminton untuk ekskulnya. Yah, apa boleh buat.

Semenjak kami kembali ke Tokyo tanggal 11 Agustus 2015, udara di luar boleh dikatakan tidaklah terlalu menyengat. Sepertinya kami memang disambut dengan udara yang cukup bersahabat, dan secara perlahan menaik suhunya. Meskipun demikian, aku dan anak-anak masih malas pergi ke luar rumah. Jadilah kami menonton rekaman-rekaman acara (film) di TV selama kami pergi. Aneh memang anakku si Kai, dia suka sekali menonton film. Setiap aku melihat wajahnya yang begitu serius menonton, aku selalu teringat almarhum ibuku, yang juga suka menonton. Persis!

Ada 3 acara yang kami tonton yang aku ingin tuliskan di sini. Satu mengenai acara BuccakeJi, acara yang mengumpulkan pendeta-pendeta Buddha (dari berbagai aliran) untuk menerangkan agama Buddha secara simple. Banyak sekali pengetahuan yang kudapat dalam acara ini, terutama istilah-istilah bahasa Jepang yang berasal dari agama Buddha. Yang menarik dari acara yang kami tonton kemarin adalah mengenai patung Buddha besar yang terdapat di seluruh Jepang. Mungkin kami tidak akan mengunjungi langsung, sehingga bagus juga bisa melaksanakan perjalanan secara virtual. Seri acara TV ini aku simpan dalam BRay disk untuk ditonton lagi lain kali.

diambil dari situs TV Asahi http://www.tv-asahi.co.jp/bucchakeji/

Yang kedua tentang Enoden. Enoden (kereta Enoshima) mewakili Enoshima, sebuah “pulau” yang terletak di prafektur Kanagawa, atau lebih memudahkan kalau kita katakan daerah Kamakura. Tempat beratus, bahkan beribu kuil Buddha berada, dan bekas pusat pemerintahan Jepang, di jaman Kamakura 1185-1333. Aku suka pergi ke Kamakura, tapi tidak pada musim panas. Tempat wisata yang menarik, tapi tentu harus kuat berjalan banyak. Sebetulnya aku pernah merencanakan mengunjungi Kuil Meigetsuin di Kamakura pada bulan Juni yal, tapi batal. Kuil Meigetsuin itu juga dikenal sebagai Kuil Ajisai (Hydrangea) sehingga aku ingin mengunjunginya lagi dan memotret bunga ajisai di sana. Sayang waktu itu aku harus membatalkan rencanaku, dan menemani Gen bekerja.

Nah, acara NHK bertajuk BURATAMORI yang dipandu oleh Tamori, seorang pembawa acara pria yang terkenal karena selalu memakai kacamata hitam ini, mengajak kita mengetahui liku-liku daerah Kamakura yang biasanya tidak diketahui wisatawan biasa. Sekali lagi kami mengadakan perjalanan virtual dengan acara ini. Kami juga bisa melihat kereta pertama dari Enoden, yang pintunya masih manual, penumpangnya harus buka tutup pintunya sendiri hehehe. Kalau tidak salah kereta ini sudah berusia 100 tahun, dan disimpan dalam tempat khusus sebagai museum yang tidak bisa dikunjungi umum, tapi sekali waktu dibawa keluar melewati rel-rel yang ada. Sekali lagi, kami bisa merasakan betapa orang Jepang sangat menghargai sejarah!

Dan sebagai  penutup acara Buratamori itu dilantunkan lagu dari Inoue Yosuke, berjudul “Mabataki” Kerjap. Kata liriknya :

Untuk kamu di masa depan, kukirim kebahagiaan berupa ingatan dan kenangan, beserta rangkaian bunga. Perlihatkanlah impianmu dengan kerjapan matamu.

Dan kami bertiga terpaksa mengerjapkan mata lebih cepat, sambil menahan air mata, setelah menonton acara ke tiga yang kami pilih malam itu. Sebuah film mengenang selesainya perang bagi Jepang (dan kemerdekaan bagi Indonesia), EIEN NO ZERO mengenai seorang pilot Kamikaze yang bernama Kawabe (diperankan oleh Okada Junichi) . Dia tidak takut mati, tapi … dia ingin orang-orang yang ditinggalkannya bahagia. Termasuk orang-orang yang hidup di masa datang. Pada masa itu, pada masa perang, manusia tidak mempunyai pilihan lagi. Tidak bisa lagi memilih ingin mati atau ingin hidup. Tapi yang pasti, semua manusia, apapun kewarganegaraannya ingin orang-orang yang dia kasihi untuk bahagia setelah dia tinggalkan.

Eien no Zero, dengan peran utama Okada Junichi, yang mendapat penghargaan Japan Academy sebagai aktor Jepang terbaik tahun ini.

Film yang berat bagi anak-anakku. Aku sebetulnya tidak mau mereka menontonnya. Tapi mereka sendiri yang mau, dan kupikir bagus mereka tahu bahwa kami sekarang ini bisa hidup seperti sekarang, karena ada pendahulu yang menderita. Bangsa Jepang, bangsa Indonesia, bangsa manapun, punya sejarah yang pahit, dan sebaiknya sejarah itu dihargai, dikenang dan dijadikan pelajaran oleh generasi mudanya.

Dirgahayu negaraku~~~

 

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :
Previous Post :