Arsip Bulanan: Juli 2015

Bunga di Musim Panas – Himawari –

Suatu hari ada seorang ibu Indonesia yang meneleponku dan bertanya padaku tentang bunga apa yang bisa dipakai sebagai hiasan pengantin, baik untuk handbuoqet maupun ruangan gereja. Masalahnya pernikahan itu akan dilakukan pada musim panas, di Jepang. Bulan Agustus, pas terik-teriknya matahari. Dan bunga-bunga yang biasa kita lihat yang dipakai sebagai hiasan itu, tidak hidup di musim panas. Kalaupun ada pasti cepat layu. Tentu ada bunga-bunga yang masih hidup di musim panas, dan yang cukup besar dan tahan lama yaitu Bunga Matahari.

Bahasa Jepangny bunga Matahari adalah Himawari ひまわり, beragam jenisnya (konon sampai 70 jenis) dan beragam ukuran juga. Ada yang memang kecil-kecil bunganya, tapi tentu ada yang sampai sebesar mukaku 😀 (emang sebesar apa sih ya? hehehe). Batangnya tinggi, dari 50 cm sampai 390 cm…wah setinggi rumah dong! Aku belum pernah lihat yang setinggi 3 meter begitu deh.

Kiyose Himawari Festival 2014

Sudah lama sebetulnya aku ingin pergi ke taman yang penuh dengan bunga Matahari. Tapi baru terwujud tahun lalu, karena kebetulan waktunya juga pas, sesudah kami kembali dari mudik. Yang lucu, kami pergi ke Kiyose Sunflower Festival 2014 itu siang hari dan di sana secara kebetulan bertemu dengan sepasang teman Indonesia yang tinggal di Chiba dengan kedua anaknya.

Bersama dr Jordan dan dr Kiki. sayang latarnya kurang bagus… tapi anak-anak sudah capek sih, jadi tidak mau pindah tempat 😀

Taman ini cukup luas. Konon di tanah seluas 24.000 meter persegi ini ditumbuhi 100.000 batang bunga Matahari dari berbagai jenis. Yang menarik waktu kubaca di sini, ternyata tempat festival ini sebetulnya adalah tanah milik pribadi (bukan milik pemerintah daerah) sehingga hanya boleh dikunjungi pada waktu diadakan festival saja. Untuk tahun 2015 ini adalah dari tanggal 16 Agustus (Minggu) sampai 30 Agustus (Minggu). Harga tanda masuknya gratis, tapi di sana disediakan tenda makanan dan bibit tumbuhan yang dijual dengan harga murah.

ciluuuk ba!

Tempatnya memang agak jauh dari stasiun sehingga harus naik bus, dan berjalan kaki 10 menitan sampai taman tersebut. Kami naik mobil dan disediakan tempat parkir di dekat taman (tentu saja berbayar…tapi aku lupa berapa).

ketemu ini di parkiran, becak Jepang naik mobil 😀

Tapi benar deh, melihat hamparan bunga kuning seluas itu, senang rasanya. Yang kuperhatikan memang banyak kupu-kupu dan lebah/serangga yang mendekat untuk mengisap sari bunga. Aku sempat mengambil foto kupu-kupu yang bukan asli Tokyo hinggap di bunga Matahari itu.

Bunga Matahari yang dihinggapi kumbang

Sayangnya aku tidak keburu mengirimkan hasil jepretanku untuk mengikuti festival foto yang diadakan pemda setempat. Lupa!

Selain Kiyose Himawari Festival, tentu saja banyak tempat yang mengadakan festival bunga Matahari di sekitar Tokyo. Waktu mencari informasi, ternyata di Showa Kinen Koen (Tachikawa) pun ada dan bahkan tengah berlangsung. Tapi… karena akhir-akhir ini Tokyo benar-benar panas (realFeel sampai 41 derajat), aku mikir-mikir dulu deh untuk keluar rumah 😀 Kalau tidak penting sekali, mending ngadem di rumah 😀

Exkul

Tentu tahu apa itu exkul kan? Extra Kurikuler, yaitu kegiatan di luar jam pelajaran tapi masih dalam lingkup sekolah. Waktu aku SMP, belum ada Exkul… kecuali pramuka kalau mau dihitung sebagai exkul. Tapi waktu SMA, cukup banyak kegiatan Exkul yang tersedia, termasuk exkul drumbandnya yang terkenal. Tapi, …. aku tentu saja mengikuti exkul yang kalem (uhuy), yaitu Science Club dan Fotografi.

Tapi aku bukan ingin bercerita tentang aku. Aku ingin bercerita tentang Riku, si anak SMP kelas satu dengan kegiatan exkulnya. Bukatsu 部活 namanya.

Kalau di negara kita, sepertinya exkul tidak wajib diikuti. Tapi di Jepang, sepertinya bukatsu tidak wajib tapi harus 😀 Bingung kan? 😀 Jarang sekali murid SMP yang tidak ikut bukatsu, kecuali memang dia tidak begitu kuat badannya. Dan kebanyakan bukatsu memang olahraga.

Waktu SD Riku pernah mengatakan bahwa dia ingin mengikuti bukatsu “art” saja. Tapi setelah masuk SMP, tidak jadi! Alasannya, kebanyakan perempuan 😀  Tapi dia juga tidak mau masuk bukatsu populer di SMP nya seperti sepak bola atau base ball. Karena latihan setiap hari, dan anggotanya banyaaaaaak sekali (maksudnya banyak). Sepertiga kelas Riku adalah anggota sepak bola dan baseball. Jadi dia memilih badminton. Dari kelas 1 yang sejumlah 250 orang itu, hanya 33 wanita dan 6 laki-laki yang memilih badminton.

Badminton masih mending karena hanya latihan 5 hari dalam seminggu. Tapi aku pribadi minta ijin pada gurunya untuk meliburkan Riku pada hari Minggu, karena harus pergi ke gereja dan mengikuti sekolah Minggu. Jadi 4 hari dalam seminggu dia harus berlatih di sekolah, setelah pulang sekolah atau hari Sabtu pagi, khusus untuk berlatih.

Aku pribadi merasa heran sekali, kenapa sih bukatsu di SMP Jepang segitu padatnya berlatih. Awal-awal masuk bukatsu, Riku pulang dengan badan capek dan otot tegang. Tidak biasa lari selama itu, belum lagi push up dan latihan otot lainnya. Memang sih, dari bukatsu itu ada juga beberapa yang menjadi atlit olahraga. Tapi kalau dalam liburan musim panas juga harus berlatih setiap hari? Kapan liburnya dong ~~~~.

Tapi memang aku sendiri melihat Riku banyak berubah. Selain bentuk badannya yang semakin tinggi dan semakin slim, dia juga bisa mengatur waktunya lebih baik lagi. Dia tahu kapan harus belajar, kapan harus tidur. Memang benar bahwa semakin sibuk seseorang, semakin banyak kegiatan dan semakin bisa mengatur waktunya supaya bisa melaksanakan semuanya. Benar juga bahwa untuk anak lelaki SMP kalau terlalu banyak waktu senggang juga tidak baik, menggoda dia untuk berteman atau bermain di luar yang mungkin tidak baik pergaulannya. Dan olahraga juga mengajarkan tepat waktu, kerjasama dan solidaritas terhadap semua anggota. Aku sendiri sering merasa terharu kalau Riku bercerita tentang teman atau kegiatan bukatsunya, apalagi waktu kemarin dia cerita ada sempainya (= kakak kelas) yang masuk ke klasifikasi se-Tokyo. Terdengar rasa bangga pada sempainya. Kebetulan sempainya ini ibunya juga satu seksi publikasi PTA denganku.

raket yang ketiga… (raket pertama dan kedua terlalu murah jadi kurang pas dipakainya)

Untung saja peralatan olahraga badminton tidak mahal. Ada seragam berlatih khusus tapi bisa dipakai selama tiga tahun. Hebatnya seragam ini ringan dan cepat sekali kering. Sehingga meskipun aku harus mencuci setiap Riku pulang berlatih, sudah bisa kering untuk dipakai besok paginya meskipun dijemur di dalam ruangan saja. Bahkan aku pernah lupa mencuci, baru kujemur jam 6 pagi, padahal akan dipakai jam 12 dan hari hujan hehehe. Itupun bisa kering. Padahal aku sudah siap-siap kalau perlu aku akan pakai jurus pamungkas, yaitu menggulung dengan handuk sampai kandungan air pindah semua ke handuk, lalu aku akan keringkan dengan hair dryer 😀  (tips jitu loh ini untuk mengeringkan baju secepatnya).

Alat lainnya yang harus dibeli adalah raket, yang tentunya ada rupa ada harga, ada mutu harganya juga cukup mahal. Kock nya juga harus beli tapi untungnya untuk berlatih di sekolah disediakan oleh sekolah yang diambil dari uang iuran pertahun. Memang waktu kami memilih bukatsu apa yang akan diikuti, kami mendapat daftar jenis olahraga dan iuran pertahunnya berapa. Untuk badminton masih murah karena hanya 8000 yen pertahun.

Nah, memasuki libur musim panas tanggal 19 kemarin, ada satu lagi pengeluaran “mendadak” untuk kegiatan badminton, yaitu membeli jug thermos yang 2,6 liter isinya. Sebetulnya Riku sudah punya yang 1 liter, tapi itu masih kurang! Maklum musim panas di Jepang seperti sauna, sehingga harus minum terus supaya tidak dehidrasi. Selain membawa minum di thermos 2,6 liter itu, Riku juga diminta membawa es batu yang berukuran besar untuk dipool jadi satu dalam server air untuk semua peserta di sport hall. Tidak ada galon aqua dan dispensernya sih 😀 Dan thermos + es batu dalam tas menambah beban  dia berjalan selama 30 menit ke sekolahnya.

Waktu aku pulang kerja hari ini kebetulan bertemu dia yang sedang berjalan pulang sambil bawa jug thermos 2,6 liter hehehe. tampangnya capek ya, soalnya sesudah ini dia masih harus pergi bimbel lagi.

Dan… tentu aku juga minta izin khusus kepada gurunya, supaya Riku bisa berlibur ke kampung halaman ibunya. Karena sebetulnya ada persiapan pertandingan dsbnya, aku terpaksa hanya bisa mudik 10 hari saja di Jakarta. Tapi kalau aku tanya, “Riku tinggal saja ya, tidak usah ke Jakarta” Dia menjawab, “Enak aja ih mama… aku kan mau makan sate juga :D”.
Well, Riku juga bisa temani opa olahraga ya karena kabarnya opa juga rutin latihan di gym tuh. Sementara itu mama mau wisata kuliner dan reuni-reuni yaaa… hehehe.

Menyatakan Cinta

Tadi pagi, sambil menonton TV, aku tertawa melihat murid-murid SD menyatakan cintanya di depan teman-temannya. Wah, apaan nih, pikirku awal aku menonton acara itu. Masa anak SD sudah berkata: “Aku suka sama kamu. Maukah kamu menikah denganku?” hehehe

Ternyata itu adalah sebuah kompetisi yang diadakan oleh murid-murid sendiri. Jadi ceritanya anak-anak memilih tema “menyatakan cinta” karena tema ini tidak mengenal kelas, umur dan jenis kelamin. Meskipun ada beberapa peserta murid perempuan yang mengatakan, “Aneh ah jika perempuan menyatakan cinta”, dan dia memang senang jika bukan dia yang proposed melainkan yang laki-laki. Well, jaman boleh berubah, tapi masih banyak kok yang memang mengetahui “kodrat”nya.

Tujuan kompetisi ini agar anak-anak tidak malu berbicara dengan lantang di muka orang banyak, dan bisa mengungkapkan perasaan/pemikirannya. Kreatif juga sih. Yang lucu waktu si pemenang kontes, seorang anak laki, ditanya apakah nanti kalau sudah besar akan berkata seperti yang dia katakan? Lalu dijawab, “Waaaah tidak tahu ya nanti… masih jauh sih!” sambil memerah mukanya 😀 Aku juga heran kenapa dia yang terpilih, soalnya dia berkata, “Maukah kamu menjadi MILIKKU!” waaaaah perempuan jaman sekarang mana mau cuma jadi MILIK 😀

Tapi menyatakan cinta memang butuh keberanian. Dan ini pula yang disimulasikan untuk anak-anak disleksia, anak autis, anak yang terbelakang. Kebetulan aku menonton acaranya, dan kupikir… iya juga ya, anak-anak berkebutuhan khusus seperti mereka pun perlu mengenal cinta dan mengetahui cara-caranya.

Pada acara itu, disimulasikan sepasang anak terbelakang, laki-laki dan perempuan pergi berkencan selama 1 jam. Mulai dari si lelaki mengajak perempuan itu pergi, lalu ke mall dan memilih kegiatan apa yang dilakukan. Perlu diketahui bahwa anak-anak ini TIDAK BISA berhitung. Mereka juga cepat emosi, cepat panik. dari tayangan itu diketahui si anak lelaki mengajak temannya makan spaghetti, lalu panik setelah selesai makan harus bagaimana. Jadi dia meninggalkan ceweknya, dan cepat-cepat bayar. Sayangnya dia LUPA mengatakan “betsu-betsu” (bayar sendiri-sendiri) kepada kasirnya. Padahal uangnya tidak cukup untuk membayar dua orang. Panik deh… untung si cewe sadar (dan kelihatan yang cewek autisnya tidak begitu parah) dan pergi ke kasir untuk membayar bagiannya. Well, di Jepang meskipun pacaran juga masih bayar sendiri-sendiri loh. Tidak ada kewajiban untuk yang laki harus membayar, apalagi jika statusnya dua-duanya belum bekerja.

Di situ aku merasa terharu pada usaha guru-guru di sekolah luar biasa itu untuk menanamkan keberanian dan mengajarkan bermasyarakat. Ah, mereka juga bisa kok seperti manusia normal lainnya, asal didukung, diajar dan diberikan waktu. Aku merasa beruntung tinggal di Tokyo, apalagi di dekat rumahku ada sekolah luar biasa 養護学校, sehingga aku setiap hari bisa melihat mereka. Mereka TIDAK dikucilkan, dan kami warga juga tidak heran jika berjumpa dengan mereka.

“Hati yang luas yang mau menerima mereka yang kurang, apa adanya” justru bisa kutemukan di Jepang. Aku pun merasa kagum pada universitas tempatku bekerja yang memang kuketahui menerima mahasiswa yang dianggap tidak normal. Aku pernah mengajar seorang mahasiswa yang berkursi roda, seorang mahasiswa yang berpendengaran tidak normal sehingga harus memakai alat khusus. Untuk menghadapi mereka aku dikirimi surat oleh pihak universitas, untuk memperhatikan mahasiswa ini, dan jika perlu memberikan tugas yang lain dengan mahasiswa normal. Aku juga usahakan untuk tidak berbicara cepat-cepat supanya si mahasiswa tidak bingung. Memang tidak setiap kelas, dan tahun ini aku mempunyai seorang mahasiswa yang menderita  Asperger syndrome, sejenis autis. Kekurangan yang  paling mendasar, dia tidak bisa membaca situasi, yang istilah Jepangnya: Kuuki wo yomenai 空気を読めない.  Dia selalu duduk paling depan, dan suaranya paling kencang (dan cepat sehingga sering salah) jika aku suruh seluruh kelas membaca sebuah percakapan. Awalnya aku tidak sadar, lalu kemudian aku menerima surat dari pihak universitas tentang mahasiswa tersebut. Sayangnya dia jarang masuk dan terakhir dia sudah duduk di bangku belakang sekali. Semoga dia bisa bertahan sampai akhir semester deh.  Dan tentu… tentu aku akan memberikan tugas yang sedikit berbeda dari teman-temannya yang lain.

 

Latihan Bencana

Waduh, siapa juga mau ya latihan bencana… mungkin lebih tepat persiapan menghadapi bencana, atau bahasa kerennya Mitigasi Bencana.

Tanggal 30 Juni lalu, aku harus cepat-cepat pulang dari tempat kerja karena ada latihan menjemput anak di sekolah, jika terjadi gempa besar. Saat itu pukul 2:10 kelurahan kami serentak mengadakan latihan menghadapi bencana. Jadi akan ada alarm berbunyi di setiap sekolah, dan anak-anak berlatih prosedur jika terjadi gempa (berlindung di bawah meja, setelah aman dan guru menginstruksikan, mereka akan berjalan dengan rapi menuruni tangga dan berkumpul di halaman sekolah.

Sebelumnya kami juga menerima pemberitahuan melalui email, bahwa mulai saat itu ada latihan menghadapi bencana. Kami diminta untuk datang menjemput setelah pukul 2:20, sambil menyebutkan nama anak dan hubungan kami dengan anak itu: ayah atau ibu atau kakek/nenek. Jadi seandainya nanti terjadi gempa besar, kami memang harus menjemput ke SD dan menyebutkan nama anak serta hubungan kami. Sehingga bisa dicatat anak itu telah pulang dengan siapanya, jikalau orang tua lainnya datang menjemput. Selama anak-anak di dalam lingkungan sekolah memang sekolah bertanggung jawab akan keselematan anak-anak.

Keluarga kami sendiri sudah menentukan SD nya Kai sebagai tempat pertemuan kami. Selain itu memang SD tersebut yang menjadi tempat kami mengungsi pada waktu terjadi bencana. Latihan antisipasi bencana memang sudah dan terus dilaksanakan di sini. Biasanya latihan itu diperkuat setiap tanggal 1 September karena merupakan hari peringatan bencana gempa Besar Kanto, tapi khusus kelurahan kami melaksanakan latihan “menjemput” itu pada tanggal 30 Juni.

anak-anak yang menunggu dijemput di lapangan sekolah

Untuk murid SMP, karena sudah cukup besar, mereka bisa jalan sendiri ke rumah. Kalau ada adik dan SD nya dekat, mereka diminta untuk jalan ke SD adiknya dan bertemu orang tuanya di SD. Tapi karena SMP Riku cukup jauh dari SD Kai, Riku bisa langsung pulang ke rumah saja. Tapi dari pelajaran menjemput hari ini, aku sangat senang karena bisa jalan pulang bersama Kai, sambil memperhatikan jalan yang dilewati sampai rumah, dan menemukan bagian mana saja yang berbahaya. Misalnya tembok yang mudah runtuh, tiang yang mudah goyah, rumah yang dekat jalan dan berkaca (cepat pecah) dll.

Kalau latihan menghadapi bencana memang sering dilakukan di SD/SMP tapi di jenjang yang lebih atas? Biasanya tidak ada. Untuk universitas, sudah dianggap dewasa untuk menemukan jalan pulang sendiri. Tapi sejak terjadi gempa bumi Tohoku 4 tahun lalu, kami para dosen dibagikan manual cara-cara menghadapi gempa bumi jika terjadi pada saat kami sedang mengajar.

Nah hari Jumat kemarin, tidak biasanya, aku diminta untuk ikut latihan penanganan bencana. Kebetulan yang menjadi “sasaran” latihan adalah jam pelajaran kedua, hari Jumat, yang menempati tingkat 3 gedung 10 saja! Haduh! Ada sekitar 10 kelas sih memang, dan aku sebagai dosen, begitu terdengar alarm, harus mengumumkan: Berlindung di bawah meja. Lalu memerintahkan mahasiswa untuk mengikutiku, menuruni lantai 3 ke tempat pengungsian yang sudah ditetapkan, yaitu lapangan di sebelah gedung 10.

Untung saja kelasku dekat tangga, sehingga kami bisa segera turun. TAPI kami belum boleh langsung bubar. Setelah aku melaporkan bahwa kelas kami sudah turun, kami masih harus menunggu kelas-kelas lainnya. Kelasku merupakan kedua yang tercepat turun. Dan… cukup lama kami harus menunggu sampai semuanya berkumpul… di dalam panas. Heran sekali deh hari Jumat itu terik padahal sebelumnya hampir seminggu penuh hujan terus 😀 Kami juga lapar, karena sudah pukul 12:30 dan sudah memangkas jam istirahat kami untuk makan siang.

pembagian nasi dan biskuit tahan lama sebagai tanda sudah mengikuti latihan menghadapi bencana di universitas kami

Setelah mendengarkan pidato dari rektor yang mengucapkan terima kasih, kami dibagikan nasi dan biskuit tahan lama yang bisa disimpan 6 bulan. Tapi yang sempat membuatku tertegun waktu mendengar dari kepala pelatihan yang mengatakan bahwa sebetulnya setelah latihan mengungsi ini, ada beberapa acara yang dilakukan di depan kampus, termasuk latihan pemadam kebakaran dan pengungsian dalam ruangan berasap (tahun lalu aku pernah ikut ruangan berasap ini). TAPI ternyata semua unit pemadam kebakaran yang sedianya dipakai untuk latihan di universitas, dipanggil karena ada kebakaran sungguhan yang cukup besar sehingga semua unit dipanggil. Hmmm kebakaran, bencana memang tak dapat diprediksi kapan akan terjadinya. Tapi memang jika kita sudah siap dan tahu harus bagaimana menghadapinya, jumlah korban dapat diperkecil, jika tidak bisa dihilangkan.

mobil pemadam yang lewat di depan rumahku beberapa hari yang lalu. Mempunyai tangga yang cukup panjang untuk mengungsikan orang dari lantai atas gedung tinggi