Arsip Bulanan: Juni 2015

Pergeseran

Hari ini aku pergi mengajar di universitas yang cukup jauh dari rumahku. Karena sejak musim dingin kemarin kakiku sakit (meskipun berangsur pulih), aku sering “memanjakan” kakiku dengan tidak naik turun tangga. Kalaupun naik turun tangga aku usahakan untuk tidak cepat-cepat. Daripada kakiku tidak bisa dipakai selamanya kan, lebih baik mencegah.

Jadi aku sekarang sering berangkat lebih pagi dari biasanya, dan memakai lift di stasiun. Di setiap stasiun biasanya ada lift, yang diperuntukkan bagi kaum lansia, atau mereka yang sedang hamil, sakit atau membawa barang besar (seperti koper) dll. Layaknya silver seat, bangku khusus untuk yang membutuhkan.

Waktu aku sehat, aku TIDAK akan menaiki lift karena kupikir, aku masih mampu jalan. Dan kalau aku buru-buru justru akan lebih cepat jalan/naik eskalator daripada naik lift. Tapi sekarang setelah aku lebih banyak menggunakan lift, aku banyak melihat yang tidak lazim. Yaitu anak muda, remaja baik perempuan atau laki-laki sehat yang tidak terlihat hamil atau sakit kakinya menggunakan lift. Dan mereka sabar menunggu datangnya lift, dibandingkan harus jalan dan naik tangga, tentu saja sambil bermain dengan HP nya. Duh….  Bahkan aku sering melihat mereka naik lift sendirian. Hmmm kalau aku sehat, aku tidak akan naik lift sendirian. Bukan, bukan memikirkan keamanan, tapi memikirkan boros energinya. Kan untuk menjalankan lift perlu listrik 🙂

Itulah, sudah terjadi pergeseran pemikiran manusia sekarang. Yang penting dirinya enak, tidak capai, tidak mau bergerak sedikit. Tidak memikirkan dampak perbuatannya pada lingkungannya. Rasanya masyarakat sekarang mulai menjadi “sakit” deh.

Di universitas, biasanya satu kali dalam 15 kali pertemuan, aku meminjam ruang komputer di universitas, untuk “memaksa” mahasiswa mencari informasi tentang Indonesia di internet, dan menjawab pertanyaanku (dalam bahasa Indonesia).  Setiap mahasiswa biasanya mempunyai akun sendiri yang dibagikan pihak universitas, sehingga untuk bisa login memakai komputer pun harus memasukkan id dan passwordnya. Untuk email juga disediakan webmail universitas sendiri, tapi kali ini ada dua mahasiswa (dari 20 orang) yang tidak bisa mengirim email karena lupa passwordnya. Untuk ini aku bisa bantu dengan “meminjamkan” aku emailku yang lain.

Dan pagi ini aku melihat pemandangan aneh seperti ini:

aneh kan? (foto sudah minta ijin si mahasiswa)

aneh tidak? Dia duduk di depan komputer, display besar. Tapi mencari informasi JUSTRU dengan smartphonenya yang berlayar kecil. Aku tidak bisa mengerti pemandangan seperti ini. Dan kelihatannya memang kaum muda sekarang tidak biasa memakai komputer. Segal-segalanya cukup dengan smartphone. Kalau dalam kondisi di jalan sih bisa dimaklumi, ini sedang berada di depan komputer loh 😀

Aku masih merasa pentingnya punya komputer. Karena secanggih-canggihnya smartphone, tetap saja kapasitas dan kemampuannya lebih kecil dari komputer. Misalnya akan sulit dong, membaca pdf dari smartphone. Untuk membaca format A4, tentu lebih baik dari komputer, daripada dari smartphone. Meskipun kalau terpaksa aku juga kadang memakai aplikasi Word untuk smartphone. Untuk browsing di internet, kalau mendadak dan mendesak tentu saja bisa pakai smartphone, tapi kalau aku ada di rumah atau tempat yang ada komputernya aku lebih suka mencari info-info itu dengan komputerku.

Aku tahu jaman memang berubah, juga manusianya. Sah-sah saja, sepanjang kita masih bisa memilah dengan hati tentunya.

Seksi Publikasi

Seperti yang sudah kutuliskan dalam Sebulan di SMP, aku memang menjadi anggota seksi Publikasi (広報部)dari Perkumpulan Orang Tua Murid dan Guru atau disebut PTA dari SMP nya Riku. Aku bukan terpilih, tapi memang mengajukan diri, karena sebal tidak ada ortu lainnya yang mau 😀 (baca di sini). Daripada aku dapat seksi yang tidak kusukai, mending langsung minta seksi yang aku bisa dong. Tapi aku tidak mau mengajukan diri waktu rapat pertama untuk menentukan ketua dan wakil seksi. Karena dengan menjadi ketua aku harus lebih sering datang ke sekolah dalam acara-acara sekolah, padahal aku bekerja hampir setiap hari. Dan kebiasaan di sini kalau tidak ada yang mau maka diundi. Untung saja yang diundi orang tua murid kelas3 sehingga aku boleh merasa lega.

Tugas dari seksi Publikasi ini adalah menerbitkan buletin yang akan dibagikan kepada seluruh murid, guru, serta badan pendidikan terkait. Isinya mengenai kegiatan PTA di sekolah. Selama ini dalam satu tahun seksi ini mengeluarkan buletin dua kali setahun, meskipun tidak wajib. Artinya pengurus bisa menetapkan sendiri mau menerbitkan berapa edisi buletin sesuai dengan kemampuan pengurus sendiri. Dan keputusan rapat pengurus tahun ini, kami akan menerbitkan sama saja seperti kepengurusan tahun lalu. Yaitu buletin edisi summer yang dibagikan sebelum libur summer dan edisi winter yang dibagikan sebelum kenaikan kelas bulan februari. Edisi winter ini sekaligus sebagai edisi laporan dan perpisahaan untuk kelas 3. Sedangkan edisi summer biasanya merupakan edisi perkenalan bagi murid kelas 1 yang baru, sehingga berisi perkenalan guru, kegiatan ekskul dan Pesta Olahraga.  Memang kegiatan utama SMP ini adalah Pesta Olahraga yang diadakan akhir Mei dan Pertunjukan Paduan Suara pada bulan Oktober.

Yang lucunya, kalau mengikuti cara kepengurusan tahun lalu, mereka membagi seksi menjadi dua bagian yaitu yang mengurus buletin summer dan buletin winter. Jadi kerjanya cuma setengah tahun gitu. Bagus juga sih. Jadi aku memilih untuk menjadi editor pada buletin winter saja, karena memang bulan-bulan ini aku bekerja setiap hari. Yang pasti kami memang harus menuliskan “keahlian” kami apa, OS komputer, punya Word atau Adobe atau tidak, dan punya kamera atau tidak. Kamera ini penting, karena buletin ini berwarna dan memasang banyak foto!

Kami langsung mulai bekerja pada acara Pesta Olahraganya Riku yang berlangsung tanggal 23 Mei lalu. Sebelumnya kami sudah menerima “perintah” yang tertulis dalam kertas, tanggung jawab kami untuk memotret bagian-bagian apa saja. Aku mendapat tugas memotret kelas-kelas, spanduk, keseluruhan sekolah dan pertandingan lari estafet. Tapi otomatis aku memotret semua yang bisa aku ambil, karena ternyata yang mempunyai kamera besar (DSLR) hanya sedikit.

senam pemanasan

Hari H, panas terik! Aku sudah di SMP sejak pukul 8:15 pagi, meskipun sebetulnya acara mulai jam 8:45. Pengurus seksi publikasi sebetulnya boleh datang kapan saja, asalkan tugasnya selesai. Kami juga mempunyai hak khusus untuk masuk ke kelas-kelas atau ke track lari yang sebetulnya tidak ditutup untuk umum. Tentu kami memakai tanda di lengan yang bertuliskan “PERS” cieeee.

Tapi dasar kebanyakan pengurusnya (20 orang) itu ibu-ibu sehingga malu-malu untuk masuk lapangan atau mengambil foto dari tempat-tempat yang aneh. Kalau tidak panas, dan badan tidak segede aku (supaya tidak mencolok)  aku sih mau saja ke mana-mana. TAPI aku itu udah gede, orang asing lagi. Jadi berada di situ saja sudah diperhatikan orang hehehe.

Terus terang pesta olahraganya SMP tidak (begitu) menarik. Isinya LARIIIIII melulu. Jaraknya 60, 100, 400, jarak jauh, estafet dan lari rintangan…. doooh susah deh ambil foto yang menariknya karena ya itu-itu saja kan. Kami tidak boleh mengambil wajah murid secara close-up karena ada hak privasi setiap anak. Kalaupun memasang foto, harus mengusahakan supaya wajahnya tidak jelas. Nah loh bingung kan 😀 Ada sih acara yang menarik pada bagian kedua sesudah istirahat makan siang, tapi akunya sudah capek (dan tidak ada tugas), jadi ngadem di ruang PTA yang ber AC.

Foto-foto yang kami ambil kemudian dikumpulkan ke ketua seksi melalui media USB atau DVD-R untuk kemudian dipilih foto-foto mana yang bisa dan akan dipakai.

Menarik sebenarnya jika kita mau meluangkan waktu sedikit untuk ikut dalam kegiatan PTA di sekolah. Selain kita bisa mengenal orang tua kelas lain, kita juga bisa mendapat informasi-informasi mengenai “isi perut”nya sekolah yang tidak diketahui orang tua “biasa”. Selain itu, guru-guru juga lebih hormat pada kita, dan lebih memperhatikan perkembangan dan kegiatan anak-anak kita di sekolah.

saking panasnya waktu istirahat siang, lapangan sekolah disemprot air

Acara berikutnya yang perlu diliput adalah Lomba Paduan Suara di bulan Oktober. Tapi kali itu aku tidak yakin bisa memotret dengan baik karena di dalam ruangan yang cahayanya kurang bersahabat. Tapi aku ingin ikut menonton tampilan anak-anak SMP ini. Dari upacara masuk yang kuhadiri, aku melihat bahwa sekolah ini memang sangat menekankan olahraga dan paduan suara. Semoga aku tidak ada kerja hari itu, atau pas libur kuliahnya hehehe.

Daydream Believer

Tahu lagu ini? dari kelompok The Monkees dan wuih tahun pembuatannya, tahun 1967!!! (Aku belum lahir loh hehehe).

Tiba-tiba lagu ini sering mengalun di apartemenku. Memang sih, lagu ini dipakai oleh gerai Seven Eleven Jepang untuk iklan di TV dan dinyanyikan oleh Ulfuls+Iwamano Kiyoshirou, sehingga pasti kalau ada iklan Sevel itu terdengar. Tapi bukan itu saja sih, karena si Riku yang suka menyiulkan lagu itu. Apa pasal?

Ternyata lagu ini dipakai dalam pelajaran bahasa Inggris di kelasnya (1 SMP). Riku yang baru mulai belajar bahasa Inggris, masih terbata-bata membaca tulisan bahasa Inggris. Aku sendiri memang tidak pernah memaksa anak-anak untuk belajar sesuatu yang tidak disukai, jika memang itu belum saatnya. Dan aku merasa murid SD di Jepang belum perlu belajar bahasa Inggris. Karena? ya bahasa Jepang saja sudah sulit, belum tentu bisa menuliskan kanji yang distandarkan, masa mau menambah dengan sesuatu yang baru. Bahasa Inggris itu sulit loh, karena apa yang terucap kan lain dengan apa yang tertulis 😀 Padahal anak-anak ini banyak sekali menyerap kata asing yang asalnya tentu dari bahasa Inggris TAPI tertulis dalam katakana. Mabok deh.

Terutama untuk Riku, aku tidak pernah memaksakannya belajar. Karena dia lahir prematur, yang sebetulnya di harusnya lahir di angkatan kelas di bawahnya (jadi seharusnya dia masih kelas 6 sekarang). Oleh dokter anak di sini, kami diminta untuk sabar dan tidak memaksa anak prematur belajar. Karena otomatis waktu terkejar “ketinggalan” umur yaitu sekitar usia SMP, mereka akan belajar dan bertindak seperti anak yang lahir normal. Jadi, begitulah sekarang Riku baru belajar bahasa Inggris. Dan berlainan dengan Kai yang suka belajar bahasa, Riku agak cuek dalam pelajaran bahasa Inggris. Dia lebih suka bahasa Jepang, sejarah dan ilmu Sosial lainnya. Well, setiap anak memang lain kan?

Jadi, tadi pagi aku memutarkan lagu Daydream Believer-nya the Monkees di Youtube sebelum Riku berangkat ke sekolah, dan kami bertiga (Riku, aku dan papanya) jadinya ikut nyanyi terus deh. Sementara Kai yang masih ngantuk sarapan.

Aku katakan pada Riku, “Belajar lewat lagu itu asyik loh. Mama juga belajar bahasa Jepang, terutama kanji lewat lagu (karaoke). Nanti mama kasih lagu-lagu yang enak dan bagus dipelajari bahasanya” Soalnya aku merasa lirik lagu Daydream Believer itu sulit dimengerti!

Dan aku teringat waktu SMP aku juga belajar bahasa Inggris dengan menulis lirik lagu-lagunya Queen. Dan lagu yang paling “gawat” adalah “You Take my Dress (mustinya Breath) Away” (emangnya Joko Tarub hahaha)

Kamu punya lagu kenangan waktu belajar bahasa asing?