Salam Damai di Hari Hijau

4 Mei

Tadi pagi, deMiyashita bangun kesiangan semua! Jam 8 aku bangun, tak lama Kai dan Riku…. yang paling akhir tentu papanya 😀 Tapi dimaklumkan karena papa kemarin menyetir seharian dari jam 9 pagi sampai jam 12 malam. Riku pun begitu sampai di rumah mengatakan:,”Besok JANGAN pergi kemana-mana naik mobil ya. BOSAN! Pinggangku rasanya mau patah. Kecuali kita naik mobil yang lebih besar dan lebih empuk!” hahaha. Aku sendiri merasa bahuku membatu karena memang hari-hari sebelumnya banyak duduk mengerjakan terjemahan juga.

Cepat-cepat aku membakar roti, mengoleskan dengan mentega dan menaburi muisjes coklat di atasnya. Kai lah yang mengucapkan kalimat ini: “Ah damainya. Bahagia ya.” Dia memang akhir-akhir ini sering mengatakan “Aku bahagia, lahir waktu damai!” Dan disambut kakaknya, “Sebetulnya deskripsi damai itu adalah jika dua orang atau lebih di sekitarmu tidak bertengkar, maka itu sudah bisa dikatakan damai!”. Doooh anak-anakku kok tiba-tiba jadi begini 😀

Hari ini adalah Hari Hijau (Midori no hi) di Jepang, salah satu hari dalam Golden Week yang merupakan hari libur beruntun di Jepang. Dulu tanggal 4 Mei hanyalah “harpitnas” Hari Kejepit antara hari peringatan UUD dan hari Anak-anak. Kemudian tanggal 29 April merupakan hari Showa, yaitu hari ulang tahun kaisar Hirohito, kaisar yang sudah meninggal. Dan karena kaisar Hirohito adalah ahli biologi peneliti Hydra yang sangat menyukai tumbuhan, maka tanggal 4 Mei dijadikan hari Hijau.

Kemarin kami pergi ke Fukushima, untuk mendapatkan cap Kastil yang ke 13 dari #100FamousCastle yang kami kumpulkan yaitu Komine Castle yang terletak di Shirakawa, Fukushima. Tadinya kami mau juga mengambil cap di Tsurugajo yang sudah pernah kami kunjungi tapi waktu itu belum punya buku Cap nya. TAPI karena jalan tol macet dan kami baru sampai di Komine Castle jam 2, kami membatalkan rencana ke Tsurugajo, dan pergi ke daerah sekitar Shirakawa, tempat Komine Castle berada. Pelataran Komine castle merupakan taman yang luas membentang. sehingga Riku sempat tiduran di kursi dan memadang langit. Inginnya sih berbaring di rumput, tapi takut dimarahin hehehe.

Riku berbaring di atas bangku taman Komine Castle

Karena diberitahu ada danau di dekat situ, kami pun menuju danau …dan wah pemandangannya begitu menyegarkan. Kami memutari danau dan akhirnya memarkirkan mobil di depan sebuah toko mochi khas Jepang. Sebetulnya aku tidak begitu suka mochi, tapi karena disajikan dalam 3 rasa, aku pun akhirnya bisa menikmatinya. Toko itu awalnya sepiiii tak ada tamu, tapi seperti biasa kalau aku masuk, pasti banyak orang yang ikut masuk, sehingga pelayannya cukup repot 😀

Nenek penjaga toko kue mochi yang berusia 100 tahun

Dan waktu kami mau membeli oleh-oleh mochi untuk dibawa pulang itulah, kami dikenalkan pada nenek penjaga etalasi itu. Seorang tamu, yang mungkin pelanggan di situlah yang mengatakan padaku bahwa nenek itu sebentar lagi akan berulang tahun yang ke 100. Suaminya meninggal waktu dia berusia 34 tahun, tapi survive terus sampai sekarang. Dan aku disuruh menyalami nenek itu supaya “ketularan” panjang umur. Si Nenek secara tidak langsung memberikan kenangan baik dalam kunjungan kami, menghapuskan kepenatan berada dalam kemacetan sebelumnya.

“Mama cepat foto itu, gunungnya memantul di sawah!” Kata Riku. Bagi kami pemandangan seperti ini membawa kedamaian di hati

Kami pun melanjutkan perjalanan melihat jinja (Kuil Shinto) dengan pemandangan sawah dan bunga-bunga selama perjalanan. Di dekatnya ada tempat untuk bermain anak-anak, dan aku mencari obyek yang bisa difoto. Ternyata ada kursi yang disediakan untuk menikmati gunung dan hutan di belakangnga. Kami melewati waktu di sini cukup lama. Sayang bunga-bunga banyak yang belum mekar.

aku suka foto ini yang diambil Kai dari belakang. Foto aku dan Riku

 

Juga waktu kami menuju kampung Ishikawa, tempat kakek dan nenek dari ibunya Gen berasal, sepanjang jalan beragam warna hijau bergradasi. Indah…dan memang terasa sekali suasana pedesaannya. Kai sempat berkata, “Pulang yukk,… kalau malam di sini ngeri, ngga ada lampu” hehehe.

hijau, hijau, hijau di mana-mana

Kami sebetulnya ingin menginap di daerah ini, tapi karena Golden Week, tidak ada hotel yang kosong. Karenanya kami pun kembali ke Tokyo, dan baru sampai rumah pukul 12 malam. Capek tapi kami membawa kedamaian dalam hati kami, yang terus bergema dalam hati kami, bahkan ketika kami melewati hari Hijau ini di rumah… eh tapi anak-anak dan Gen sempat jalan-jalan ke taman besar dekat rumah kami, dan menikmati hijaunya musim semi.

pemandangan ini juga banyak terlihat. Bendera KOI (Koi nobori) untuk memperingati Hari Anak tanggal 5 Mei

Damai itu berasal dari hati dan tentu dari lingkungan terkecil kita: keluarga. Salam Damai dari kami di Tokyo kepada semua yang membaca tulisan ini.

Pohon Wisteria di jinja Shirakawa

 

17 Replies to “Salam Damai di Hari Hijau

  1. Salam damai, Mbak Imel. Membaca catatan perjalanan ini seperti ikut pelesiran denganmu, membayangkan kehijauan yang bersih yang seperti dirimu lihat 🙂

  2. Wow nenek itu umur 100 tp keliatannya masih seger dan sehat banget ya mbak…

    Iya foto yg berdua riku lg liat gunung bagus… Pemandangan nya juga bagus banget ya…

  3. Nenek itu umurnya hampir 100 tahun dan masih kerja?
    Hebat ya.

    Memang benar ya Mbak, kedamaian itu asalnya dari hati. Salam damai dari Jakarta. 🙂

  4. Di jepang masih banyak yaaa pepohonan, ngiriiii
    Obaasan nya gak keliatan kayak umur 100 deh ^_^

  5. K imelll sayangggg.. love this piece of writing .. feel like peaceful also.. 100 years old and still active? What a tough lady.. titip sungkem ya k 🙂 btw, I am also a person who attract other buyers lho.. ihihihi capricorn people 🙂 enjoy your GW, k.. hugs and kisses from Jakarta.. can’t wait to meet youuuu

  6. Saya damai sekali baca postingan ini Mbak. Lihat pemandangan alamnya kerasa seharusnya memang dunia ini damai saja. Nenknya juga terlihat bahagia. Semoga ketularan panjang umurnya ya Mbak. 🙂

  7. Lihat alam yang hijo royo-royo serasa damai di hati. Salam damai.
    Jepang negara maju amat memperhatikan lingkungan. Pepohonannya bikin iri.
    Dan satu lagi semangat kerja dari nenek yang hampir 100 tahun itu bikin semangat.

  8. Salam Damai juga Kak Imelda dari kami di Jakarta.

    Kai hebat sekali mencari moment yang baik, saya juga suka foto Kak Imelda dan Riku sedang duduk di bangku yang diambil Kai dari belakang itu.
    Damai rasanya……

  9. Bagusnyaaa alam Jepang.. Salam damai juga dari kita di BSD.
    Mba Imelda, salam kenal yaaaa… aah.. aku nanti desember mau ke Jepang.. semoga bisa silaturahmian lewat blog terus lanjut kopdaran disana yaa hehe.

    Aku juga suka foto yang dari belakang. Momennya cakep, pemandangannya cantiikk 🙂

  10. Salam damai di hari hijau menggema sepanjang masa ya Mbak. segarnya serasa mengikuti tur kelg Mbak EM menghirup kehijauan. Wisteria berpilin uniknya.
    Salam hijau

  11. Mbaaaak…..mau komen yang ini nih :

    “Kai lah yang mengucapkan kalimat ini: “Ah damainya. Bahagia ya.” Dia memang akhir-akhir ini sering mengatakan “Aku bahagia, lahir waktu damai!” Dan disambut kakaknya, “Sebetulnya deskripsi damai itu adalah jika dua orang atau lebih di sekitarmu tidak bertengkar, maka itu sudah bisa dikatakan damai!”. Doooh anak-anakku kok tiba-tiba jadi begini ”

    Anak-anak saya sekarang lagi mulai muncul persis di cerita mbak….si kelas 2 suka ngucapin kalimat yang lucu (maksudnya kdg ga pas gitu sm yg dimaksud dia), si abang yg kls 6 dan kakak yg 1 smp menjelaskan kek Riku, mungkin yg beda akhirnya kali ya…..kl anak2 saya jd debat panjang….ujungnya, adeknya kesel dan nangiiiisss hahaha….kadang suka geli kalo pas lg lega hati, tp kl lg capek jadinya emosi jiwa hahaha

    Salam,

    Devi Y

Comments are closed.