Arsip Bulanan: Mei 2015

Satu bulan di SMP

Padahal sudah lebih dari satu bulan… hmmm begitulah kalau menunda-nunda terus, tulisannya jadi tidak rampung-rampung. Memang sibuk, tapi biasanya biarpun sibuk, pasti ada waktu yang bisa diusahakan, jika mau. Dan kali ini, aku lebih mementingkan urusan rumah daripada menulis.

OK, ceritanya Riku sudah satu bulan menjadi anak SMP. Dan kehidupan keluarga kami, terutama Riku berubah banyak. Aku sempat khawatir kalau Riku kecapekan, tapi ternyata dia bisa menikmati kehidupan barunya.

Apa sih yang berubah?

1. Siklus hidup. Secara umum, sekolah mulai pukul 8:30, dan sudah dibiasakan agar 10 menit sebelum kelas dimulai, murid-murid sudah datang dan langsung mulai membaca. Boleh membawa buku bacaan dari rumah, tapi tentu tidak boleh manga (komik). Diharapkan dengan membaca 10 menit, hati menjadi tenang dan siap mendengarkan pelajaran pertama.

Nah kalau harus berada di sekolah jam 8:20, berarti Riku harus berangkat dari rumah pukul 7:50. Berarti tidak berbeda dengan jam dia berangkat waktu SD. TAPI bedanya, letak sekolahnya jauh bo… butuh waktu minimum 20 menit, kalau jalan cepat. TAPI kurasa butuh waktu 30 menit karena setiap hari Riku membawa tas ransel yang amat sangat berat sekali. Selain buku-buku, dia harus membawa kamus, sepatu, baju olahraga (setiap hari) dan raket badminton + thermos minuman. Aku pernah mencoba mengangkat tas ranselnya, dan tidak bisa 🙁 berat sekali.

Pulangnya sekitar jam 4 kalau tidak ada kegiatan ekstra kurikuler, dan jam 6:30 sore kalau ada ekskul. Sampai rumah jam 7 malam, makan malam dan jam 8 pergi ke bimbel seminggu dua kali. Kalau tidak ada bimbel, ya belajar dan buat PR.

2. Esktra kurikuler. Ya, Riku memilih badminton sebagai kegiatan ekstra kurikuler. Setiap murid memang tidak diwajibkan untuk mengikuti ekskul. TAPI di SMP nya Riku 90% murid mengikuti ekskul. Ada base ball, soft ball, sepak bola, tenis meja, tenis, atletik, volley, basket, kendo, musik perkusi, art, drama, pkk dan tea ceremony. Masing-masing mempunya hari berlatih yang berbeda, dan sekolah Riku terkenal dengan eskul baseball. Setiap ekskul tentu memerlukan iuran dan kostum. Kostum paling mahal adalah Kendo (meskipun bisa sewa).

Awalnya kupikir Riku akan melanjutkan basket, karena di SD dia ikut ekskul basket. TAPI di SD memang latihannya hanya seminggu sekali, sedangkan di SMP SETIAP HARI…. weleh…weleh. Dan sebelum masuk SMP memang Riku pernah nyeletuk padaku akan masuk ART (seni rupa) saja. Yah bolehlah, meskipun kutahu pasti mahal jika harus menyediakan bahan-bahan kegiatan. Ehhhh ternyata dia memilih bulu tangkis!

Ketika kutanya kenapa bukan Art, jawabannya “Isinya cewe semua… ogah!” Dan kenapa kok malah bulutangkis? “Yang ikut cuma 6 laki-laki dan 30 cewe… laki-laki sedikit tapi masih ada yang ikut. Selain itu kan badminton masih belum terkenal, jadi pertandingannya sedikit!”

Siapa bilaaaaang? Riku salah besar hehehe.

Jadi ceritanya aku pun harus ikut orientasi mengenai ekskul badminton. Ibu-ibu yang anaknya mengikuti ekskul tertentu, harus berkumpul, mendengarkan penjelasan konsuler (guru pendamping) dan harus memilih ketua ekskul Badminton yang harus menghadiri rapat umum PTA (Parent Teacher Association) keseluruhan SMP. Aku tidak bisa menjadi pengurus di ekskul karena aku sudah menjadi pengurus PTAnya.  Dalam orientasi itu aku menerima daftar agenda kegiatan ekskul tahun ini dan didalamnya sudah ada jadwal-jadwal pertandingan! Dan untuk Riku yang baru kelas satu, debut pertamanya nanti pada tanggal 17 Agustus! hedeh…..

Tapi… selama sebulan ini, aku melihat Riku rajin sekali! dia sambil pamer, bercerita bahwa dalam latihan badminton dia harus lari keliling lapangan berapa kali, harus sit up, harus jalan miring, harus macam-macam deh. Dan terus terang aku melihat perbedaan fisiknya yang cukup jelas dibandingkan waktu dia SD. Aku bangga, karena akhirnya anakku bisa menjadi “atlit” hehehe. Soalnya di keluargaku dan keluarga suamiku tidak ada yang berbakat atlit, semuanya tipe pelajar dan desk work.

3. Pelajaran.

Pasti berbeda banyak dengan SD. Sistem pelajaran yang dipegang oleh satu guru, dan satu wali kelas untuk kelancaran proses pembelajaran. Guru wali kelasnya Riku seorang perempuan, yang mengajar bahasa Jepang. Dia baru juga bertugas di SMP itu, sehingga aku senang karena biasanya guru yang baru pindah itu semangat mengajarnya masih 100% hehehe.

Aku pun mengikuti acara perkenalan kurikulum secara keseluruhan di aula dan perkenalan per kelas. Pada acara perkenalan kurikulum, kami menerima satu bundel panduan tiap pelajaran. Tujuan pelajaran, apa saja yang dipelajari, dan apa saja yang menjadi point penilaian. Secara keseluruhan semua mata pelajaran menuntut murid untuk aktif dan menyerahkan semua tugas yang diberikan. Terlambat mengumpulkan berarti minus. Jadi NILAI bukan hanya TEST, tapi kelakuan/ sikap dalam mengikuti pelajaran.

Memang kepala sekolah menekankan bahwa SMP di Jepang itu mempersiapkan lulusan SMP yang siap pakai. Maksudnya, sekolah SMP itu adalah tingkat terakhir yang termasuk dalam WAJIB BELAJAR. JADI SMP harus mendidik murid-murid untuk BISA bermasyarakat, secara akademis dan secara sosial. Dan aku sendiri sudah membuktikan bahwa murid-murid SMP di situ sopan semua. PASTI memberikan salam kepadaku kalau berpapasan! AISATSU atau memberikan salam merupakan kewajiban di Jepang! Dan aku merasa ini bagus sekali. Makanya kalau kamu masuk restoran atau Jepang, pasti akan disapa oleh pelayan dan tidak akan dicuekin saja! Itu sudah merupakan desk job setiap pekerja (dalam bidang apa saja).

Ibu-ibu di sebelahku dan aku sesekali menghela nafas mendengarkan penjelasan guru-guru terkait. Rasanya tugas sebagai anak SMP kok berat sekali. Apakah anak-anak kami bisa? Rasanya mereka masih kekanak-kanakan dua bulan yang lalu deh. hehehe

Dan waktu perkenalan di kelas, selain berkenalan pertama kali dengan guru wali kelas, kami bisa melihat wajah-wajah ibu-ibu teman sekelas untuk pertama kalinya. Wali kelas menyampaikan kegiatan kelas selama itu dan juga menyampaikan harapan-harapannya terhadap murid kelasnya. Di sini kami juga memperkenalkan kami merupakan orang tua dari (nama anak) dan dia mengikuti ekskul apa. Ternyata guru wali kelasnya Riku merupakan guru pendamping untuk ekskul drama.

Yang lucu, justru terjadi setelah acara selesai. Aku menghadap guru wali kelas karena ingin memberitahukan nomor HPku. Sebagai pengurus kelas (PTA – bagian publikasi/promosi) aku harus menjadi penyampai pesan sekolah jika terjadi apa-apa dan mengecek apakah semua orang tua sudah mendapatkan pesan itu atau tidak. Padahal aku jarang berada di rumah, sehingga kurasa sebaiknya guru dan pengurus yang lain mengetahui nomor HPku.

Nah, di situ guru wali kelasnya berkata, “Ibu… saya memang ingin bertemu dan berbicara dengan ibu… Saya dengar dari Riku bahawa ibu mengajar di universitas W ya? Saya alumni situ…” Wah, kebetulan yang menyenangkan apalagi waktu mengetahui bahwa dia sempat belajar di program master pengajaran bahasa Jepang, yang ruangnya menjadi satu dengan ruang guru yang selalu kupakai. Jangan-jangan kami sebetulnya pernah bertemu dulu hehehe.

Sebetulnya banyak juga yang ingin kuceritakan tapi sulit untuk kutulis tanpa memberikan penjelasan panjang lebar. Seperti makanan siang di sekolah (kyushoku) SMP yang berbeda dengan SD. Kalau di SD setiap anak bergiliran menjadi petugas dan memakai pakaian putih dengan topi mirip koki, kalau di SMP bukan berupa baju, tapi celemek dan bandana (kain segitiga) sebagai penutup kepala. Selain itu kalau murid SD harus membawa table mat dan handuk kecil untuk alas piring dan penyeka mulut/tangan, maka di SMP tidak perlu lagi membawa perlengkapan itu. Karena di SMP rupanya memakai baki (nampan) sehingga tidak perlu lagi table mat. Menurut Riku masakannya memang enak tapi terlalu banyak porsinya untuk dia …  Dia sepertinya sedang diet sih 😀 😀 😀

Dan hari Sabtu ini akan diadakan Pesta Olahraga (Taiikusai 体育祭) di SMPnya Riku. Cara dan lingkungan baru untuk Riku dan untukku, karena aku harus meliput kegiatan olahraga ini untuk ditulis dalam buletin. Yang pasti setiap hari sampai sabtu besok, Riku harus pergi pukul 7 pagi dan sampai di rumah pukul 7 malam!

Salam Damai di Hari Hijau

Tadi pagi, deMiyashita bangun kesiangan semua! Jam 8 aku bangun, tak lama Kai dan Riku…. yang paling akhir tentu papanya 😀 Tapi dimaklumkan karena papa kemarin menyetir seharian dari jam 9 pagi sampai jam 12 malam. Riku pun begitu sampai di rumah mengatakan:,”Besok JANGAN pergi kemana-mana naik mobil ya. BOSAN! Pinggangku rasanya mau patah. Kecuali kita naik mobil yang lebih besar dan lebih empuk!” hahaha. Aku sendiri merasa bahuku membatu karena memang hari-hari sebelumnya banyak duduk mengerjakan terjemahan juga.

Cepat-cepat aku membakar roti, mengoleskan dengan mentega dan menaburi muisjes coklat di atasnya. Kai lah yang mengucapkan kalimat ini: “Ah damainya. Bahagia ya.” Dia memang akhir-akhir ini sering mengatakan “Aku bahagia, lahir waktu damai!” Dan disambut kakaknya, “Sebetulnya deskripsi damai itu adalah jika dua orang atau lebih di sekitarmu tidak bertengkar, maka itu sudah bisa dikatakan damai!”. Doooh anak-anakku kok tiba-tiba jadi begini 😀

Hari ini adalah Hari Hijau (Midori no hi) di Jepang, salah satu hari dalam Golden Week yang merupakan hari libur beruntun di Jepang. Dulu tanggal 4 Mei hanyalah “harpitnas” Hari Kejepit antara hari peringatan UUD dan hari Anak-anak. Kemudian tanggal 29 April merupakan hari Showa, yaitu hari ulang tahun kaisar Hirohito, kaisar yang sudah meninggal. Dan karena kaisar Hirohito adalah ahli biologi peneliti Hydra yang sangat menyukai tumbuhan, maka tanggal 4 Mei dijadikan hari Hijau.

Kemarin kami pergi ke Fukushima, untuk mendapatkan cap Kastil yang ke 13 dari #100FamousCastle yang kami kumpulkan yaitu Komine Castle yang terletak di Shirakawa, Fukushima. Tadinya kami mau juga mengambil cap di Tsurugajo yang sudah pernah kami kunjungi tapi waktu itu belum punya buku Cap nya. TAPI karena jalan tol macet dan kami baru sampai di Komine Castle jam 2, kami membatalkan rencana ke Tsurugajo, dan pergi ke daerah sekitar Shirakawa, tempat Komine Castle berada. Pelataran Komine castle merupakan taman yang luas membentang. sehingga Riku sempat tiduran di kursi dan memadang langit. Inginnya sih berbaring di rumput, tapi takut dimarahin hehehe.

Riku berbaring di atas bangku taman Komine Castle

Karena diberitahu ada danau di dekat situ, kami pun menuju danau …dan wah pemandangannya begitu menyegarkan. Kami memutari danau dan akhirnya memarkirkan mobil di depan sebuah toko mochi khas Jepang. Sebetulnya aku tidak begitu suka mochi, tapi karena disajikan dalam 3 rasa, aku pun akhirnya bisa menikmatinya. Toko itu awalnya sepiiii tak ada tamu, tapi seperti biasa kalau aku masuk, pasti banyak orang yang ikut masuk, sehingga pelayannya cukup repot 😀

Nenek penjaga toko kue mochi yang berusia 100 tahun

Dan waktu kami mau membeli oleh-oleh mochi untuk dibawa pulang itulah, kami dikenalkan pada nenek penjaga etalasi itu. Seorang tamu, yang mungkin pelanggan di situlah yang mengatakan padaku bahwa nenek itu sebentar lagi akan berulang tahun yang ke 100. Suaminya meninggal waktu dia berusia 34 tahun, tapi survive terus sampai sekarang. Dan aku disuruh menyalami nenek itu supaya “ketularan” panjang umur. Si Nenek secara tidak langsung memberikan kenangan baik dalam kunjungan kami, menghapuskan kepenatan berada dalam kemacetan sebelumnya.

“Mama cepat foto itu, gunungnya memantul di sawah!” Kata Riku. Bagi kami pemandangan seperti ini membawa kedamaian di hati

Kami pun melanjutkan perjalanan melihat jinja (Kuil Shinto) dengan pemandangan sawah dan bunga-bunga selama perjalanan. Di dekatnya ada tempat untuk bermain anak-anak, dan aku mencari obyek yang bisa difoto. Ternyata ada kursi yang disediakan untuk menikmati gunung dan hutan di belakangnga. Kami melewati waktu di sini cukup lama. Sayang bunga-bunga banyak yang belum mekar.

aku suka foto ini yang diambil Kai dari belakang. Foto aku dan Riku

 

Juga waktu kami menuju kampung Ishikawa, tempat kakek dan nenek dari ibunya Gen berasal, sepanjang jalan beragam warna hijau bergradasi. Indah…dan memang terasa sekali suasana pedesaannya. Kai sempat berkata, “Pulang yukk,… kalau malam di sini ngeri, ngga ada lampu” hehehe.

hijau, hijau, hijau di mana-mana

Kami sebetulnya ingin menginap di daerah ini, tapi karena Golden Week, tidak ada hotel yang kosong. Karenanya kami pun kembali ke Tokyo, dan baru sampai rumah pukul 12 malam. Capek tapi kami membawa kedamaian dalam hati kami, yang terus bergema dalam hati kami, bahkan ketika kami melewati hari Hijau ini di rumah… eh tapi anak-anak dan Gen sempat jalan-jalan ke taman besar dekat rumah kami, dan menikmati hijaunya musim semi.

pemandangan ini juga banyak terlihat. Bendera KOI (Koi nobori) untuk memperingati Hari Anak tanggal 5 Mei

Damai itu berasal dari hati dan tentu dari lingkungan terkecil kita: keluarga. Salam Damai dari kami di Tokyo kepada semua yang membaca tulisan ini.

Pohon Wisteria di jinja Shirakawa