Arsip Bulanan: April 2015

Harga Dewasa

Meskipun sebenarnya yang dianggap dewasa di Jepang adalah mereka yang sudah berusia 20 tahun, Riku sudah harus membayar “harga dewasa” otona no ryoukin 大人の料金 jika naik kendaraan umum di Jepang. Jadi yang biasanya membayar setengah harga yaitu 110 yen (kodomo ryoukin 子供料金) sekarang harus membayar penuh (dan setelah pajak naik aku masih belum hafal berapa harga naik bus karena selalu pakai prepaid card). Juga waktu menginap di hotel, seperti waktu kami pergi ke Kyoto, sudah harus dihitung sebagai orang dewasa. Memang sih tidak bakalan bisa tidur satu tempat tidur dengan dia lagi, wong badannya guede banget hehehe. Selain itu yang biasanya hanya membayar 75% untuk tiket pesawat sekarang sudah harus membayar penuh.

Mulai tanggal 1 April kemarin, dia memang sudah harus membayar “harga dewasa”, padahal baru tanggal 7 nya dia resmi menjadi murid SMP. Hmm murid SMP kok dewasa ya? hehehe. Tapi benar deh, aku sebagai orang tua murid SMP, ikut tegang dan khawatir dengan hari-harinya di SMP.

ruangan aula sebelum upacara mulai

Upacara masuk SMP juga lain rasanya dibanding waktu masuk SD. Aku perhatikan sekali, hall sudah siap sejak 15 menit sebelum acara dimulai pukul 10 pagi. Memang kami diminta untuk datang dan berada paling lambat 15 menit sebelumnya. Karena hari itu hujan, kami keluar lebih cepat lagi dan sudah sampai di aula sekolah pukul 9:30…. tapi aula sudah penuh!

Kebiasaan di Jepang, menuliskan susunan acara sehingga semua hadirin tahu urutannya dan tidak perlu penjelasan bertele-tele dari MC

Dan murid baru masuk ke dalam ruangan itu 5 menit sebelum pukul 10 sehingga pas pukul 10, langsung mendengarkan sambutan dari kepala sekolah. Wuiih atmosfir aulanya yang jauh lebih besar dari SD saja sudah berbeda. Murid baru angkatannya Riku sebanyak 249 orang, yang terbagi dalam 7 kelas ditambah 1 kelas untuk anak-anak terbelakang yang dinamakan I gumi (baca lafal bahasa Inggris “ai” gumi). Riku sendiri masuk ke kelas F. Aku sendiri selama bersekolah tidak pernah satu angkatan lebih dari 5 kelas di SMA (SMP hanya 3 kelas), jadi keder juga mendengar ada 7 kelas.

Riku dengan teman lelaki sekelasnya. Tingginya memang beda-beda, ada anak yang keciiil sekali, ada yang tinggiiii sekali

Upacaranya juga tidak bertele-tele meskipu cukup banyak sambutan. Sambutan dari kepala sekolah yang masih kuingat bahwa dia mengambil contoh dua penemu shinkansen (kereta super ekspress Jepang) . Kedua penemu ini awalnya ditertawakan, tapi tidak pernah putus asa terus meneliti, sehingga akhirnya kereta shinkansen yang menjadi kebanggan Jepang dapat tercipta. Jadi dia juga mengharapkan agar murid-muridnya tidak cepat putus asa, pasti ada jalan menuju sukses.

murid kelas 2-3 di bagian belakang, sedangkan murid baru duduk di bagian depan

Acara ditutup dengan tampilan paduan suara dari kakak kelas 2 dan 3 yang begitu “lain” warna suaranya daripada SD. Ya, suara lelaki menyanyikan part rendah, sementara yang perempuan menyanyikan part tinggi. Musiknya juga lebih berani dibandingkan waktu SD. Kelihatannya sekolah Jepang memang menekankan pelajaran musiknya dengan sungguh-sungguh.

Nah, sebelum acara pemotretan dengan orang tua dan murid per kelas, kami mempunyai waktu 20 menit untuk berkumpul per kelas dan menentukan wakil-wakil yang duduk dalam kepengurusan PTA (Parent Teacher Association). Ada 5 pos dengan tugas masing-masing yang perlu dipilih. Nah, di pertemuan ini memang berlainan dengan ibu-ibu waktu SD, tidak ada yang spontan langsung mengangkat tangan. Alasannya? Kebanyakan ibu-ibu dengan anak SMP biasanya bekerja, baik part time maupun full time. Semakin tinggi sekolah sang anak, semakin banyak pengeluaran sehingga sudah biasa di Jepang untuk ibu-ibu anak SMP untuk bekerja. Well, aku juga bekerja (dan cukup sibuk). Tapi aku merasa sebel melihat ibu-ibu ini tidak ada yang mengangkat tangan. Waktu “diam” menunggu seperti itulah yang paling kubenci. Jadi deh aku mengangkat tangan untuk mengisi pos bagian “promosi” yaitu bertugas membuat majalah sekolah. Untung suamiku selalu mendukung dan sambil tertawa membiarkan aku angkat tangan.  Ada contoh majalahnya sih, dan kulihat mereka ada dana khusus untuk percetakan. Jadi paling mengisi rubrik, editing dan foto-foto saja. Keciiiil (huh sapa bilang hahaha). Lagi pula kupikir ada 7 kelas, berarti sedikitnya ada 20-an orang dalam satu seksi sehingga pekerjaan (mestinya) tidak begitu sibuk. Waktu Riku kelas 1 SD, aku juga menjadi pengurus PTA dan banyak manfaatnya jika kita aktif di PTA. Aku jadi banyak teman dan tahu informasi dalam sekolah yang mungkin tidak diketahui ibu-ibu lain.

Berfoto di depan papan di gerbang sekolah. Riku udah manyun aja 😀

Setelah acara pemotretan selesai, kami bergegas pulang ke rumah karena opa (papaku) dari Jakarta sudah sampai di rumah. Ya, papa datang ke Jepang satu pesawat dengan my dimple sister Sanchan, dan Sanchan mengantar dari bandara Haneda sampai ke rumah sementara kami tidak ada di rumah dan sampai Sanchan pulang juga tidak bertemu (terima kasih banyak ya Sanchan). Di rumah hanya ada Kai yang memang aku boloskan karena dia batuk parah. Jadi Kai yang membukakan pintu rumah. Dari opa kami mendengar ceritanya bahwa opa mengajak Kai (dan Sanchan) makan pagi di restoran dekat rumah. Tapi opa lihat si Kai seperti bingung, dan bertanya ke Sanchan. Rupanya Kai khawatir apakah opa bawa uang Yen tidak….. Kalau tidak, dia mau bawa uangnya. hihihi Aku geli mendengar ceritanya, tapi kagum juga karena kok bisa Kai terpikir bahwa uang Indonesia dan Jepang itu lain. Nalarnya jalan.

berfoto bersama opa setelah selesai upacara penerimaan murid baru. Kasihan opa disambut udara dingin! (Yang semestinya sudah hangat)

Sejak tanggal 7 April itulah rumahku jadi tambah sibuk dan ramai karena Riku sudah memulai kehidupan baru sebagai anak SMP, DAN opa melewatkan liburan selama 13 hari di Tokyo.

 

Tutup buku

Haiyah sudah tanggal segini, Imelda baru cerita soal tutup buku. Biasanya kan tutup buku itu akhir Maret. Tapi memang kalau mengerjakan tutup buku biasanya sibuk sekali mana ada  waktu untuk menulis blog ya 😀

Nah sebetulnya aku ingin menulis tentang tutup bukunya Riku, yang dilaksanakan tanggal 25 Maret yang lalu, yaitu wisuda SD. Kalau bicara soal wisuda, sejak kapan ya anak TK juga ada wisuda-wisudaan pakai toga segala? Kadang aku geli melihat foto bocah-bocah yang masih ingusan itu memakai toga…dan memang jamanku dulu tidak ada (dan sekolah almamaterku juga tidak ada). Toga hanya untuk wisuda universitas.

Kalau di Jepang, terutama untuk sekolah negeri yang tidak mempunyai seragam,tidak ada peraturan harus memakai apa untuk acara wisuda.Tapi biasanya anak perempuan akan memakai baju setelan yang sudah diset menjadi “baju wisuda “oleh toko-toko. Sedangkan untuk anak laki lebih simple, blazer dan celana panjang. Dan kulihat malah tidak ada yang memakai setelan jas berwarna sama. Jadi untuk Riku aku hanya perlu membeli celana “pantalon” karena dia sudah dapat lungsuran blazer dari opanya (bayangkan gedenya dia sama dengan opanya loh hehehe)  dan dasi pinjam dasi papanya. Sempat terpikir untuk membeli sepatu pantofel tapi teringat bahwa upacara diadakan di dalam hall sehingga semua tidak pakai sepatu (pakai uwabaki -sepatu dalam- atau tamu pakai slipper).

waktu masuk SD dan lulus SD… terima kasih untuk 6 tahun yang berguna

Kami harus berada di sekolah pukul 9:15,karena acara dimulai pukul 10:30. Tapi tentu saja orang Jepang terbiasa datang sebelum jamnya, sehingga diumumkan bahwa orangtua boleh masuk sejak pukul 8:45. Dan karena kakiku masih sakit sehingga tidak bisa jalan cepat-cepat, kami berangkat jam 8:20 dari rumah. Karenanya kami masih sempat berfoto di depan sekolah. Cuaca cerah meskipun dingiiin. Karena aku ingin sekali memakai baju tradisional Indonesia, meskipun dingin aku paksakan juga deh. Ya kalau kimono itu memang tebal jadi cocok untuk dipakai pada musim dingin (sebagai gantinya kalau pakai kimono di musim panas ya kepanasan. Karena itu ada yukata sebagai kimono musim panas).

Kami mendapat tempat duduk persis di lokasi yang sama seperti waktu upacara masuk sekolah 6 tahun yang lalu, sehingga dapat memotret Riku yang sedang berjalan dari pintu masuk melewati “karpet merah” menuju tempat duduknya. Selama “wisudawan” masuk, hadirin bertepuk tangan. Kebiasaan ini dipakai untuk upacara masuk juga, semacam defile gitu. Tapi tepuk tangan HANYA di awal dan akhir acara waktu lulusan masuk dan keluar. Tidak ada tepuk tangan setiap sebelum atau sesudah acara sambutan dll. Tidak seperti di Indonesia, yang  berkali-kali bertepuk tangan. Well kebiasaan tiap negara tentu berbeda kan.

masuk melewati karpet merah, kiri dulu waktu masuk SD, dan kanan waktu lulus SD. Perubahan selama 6 tahun

Acara berlangsung lancar dengan penerimaan ijazah satu persatu. Namun sebelum menerima ijazah, mereka harus mengucapkan satu kalimat dulu. Ada yang mengatakan cita-citanya, ada yang mengucapkan terima kasih. Aku sempat kepikiran juga Riku akan mengatakan apa, soalnya pada buletin sekolah yang terakhir, murid kelas 6 harus menuliskan “apa yang kamu lakukan 10-20 tahun di masa datang”, Riku menulis: “saya akan bekerja di toko buku dan memberikan saran buku yang bagus untuk calon pembeli”. Ternyata dia hanya mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah membantu dia sampai lulus kelas 6.

Setelah acara penerimaan ijazah, dilanjutkan dengan sambutan dan upacara selamat dari kepala sekolah dan komite pendidikan kelurahan kami. Lalu disambung dengan persembahan lagu dan musik dari kelas 5 yang mengantar “kakak”nya lulus. Di sini aku merasa kagum dengan SD ini yang menekankan musik dalam kurikulumnya. Cukup bagus tentu sesuai dengan tingkatan SD. Tapi yang membuat aku terharu (meskipun tidak sampai menangis) adalah sambutan dan lagu dari kelas 6…terutama paragraf terakhir yang menekankan “sayonara”. Ya sampai ada satu anak yang terus menangis sampai acara terakhir yaitu keluar hall melewati karpet merah lagi.

Setelah acara terakhir yaitu membuat foto bersama guru-murid dan orang tua per kelas, kami keluar sekolah. Kupikir acara sudah selesai, tapi ternyata semua berdiri di lapangan yang sudah diberi kapur. Ya kelas 5 membuat gerbang dan lulusan melewati di bawahnya. Mengantar keluar gerbang. Justru di sini aku merasa terharu sekali. Namun wajah mereka tidak lagi terharu tapi justru gembira.

melewati gerbang “kelulusan”

Kami sempat “menangkap” Riku yang mencari teman-teman baiknya untuk berfoto bersama, sambil juga mencari bunga sakura. Beruntung sekali hari itu cerah. Karena setelah pulang dari acara wisuda, malamnya kami berkumpul lagi untuk merayakan kelulusan di sebuah restoran dekat rumah. Aku yang sudah lama tidak makan daging, puas-puasin deh makan daging karena sistemnya “all you can eat” dan cukup mahal hehehe.

Setelah acara wisuda, memang sekolah libur musim semi sampai tanggal 7 April. Tapi libur selama 2 minggu itu diisi dengan pelajaran di bimbingan belajar dan perjalanan ke Kyoto. Sehingga setelah ini aku akan menuliskan tentang perjalanan ke Kyoto ya. Tanoshimini shitekudasai. 

di bawah pohon sakura