Arsip Bulanan: Maret 2015

Menoleh ke belakang

Ya masak sih menoleh ke depan? Tapi bisa menoleh ke samping loh 😀

Menoleh ke belakang, Furikaeru 振り返る merupakan kegiatan mengenang kembali, menilai dan menemukan perkembangan yang telah dicapai dalam waktu tertentu. Dan kami orang tua murid, sepuluh hari yang lalu berkumpul dengan guru untuk membicarakan hasil pembelajaran selama satu tahun di SD untuk Riku dan Kai. Hogoshakai 保護者会namanya, dan biasanya dilakukan 3 -4 kali setahun. Awal, pertengahan dan akhir tahun pelajaran. Seperti yang pernah aku tulis, murid SD menerima rapor langsung dari guru pada hari terakhir sekolah, jadi bukan orang tua datang untuk menerima. Untuk itu biasanya 10-15 hari sebelum sekolah berakhir, diadakanlah hogoshakai ini, tempat guru menjelaskan perkembangan murid sekaligus kepada orang tua, dan orang tua juga mempunyai kesempatan untuk mengenali orang tua teman anaknya. Tentu saja selain hogoshakai ini ada mendan個人面談, tatap muka untuk membahas empat mata antara orang tua dan guru, biasanya diadakan sebelum semester satu berakhir.

Di kelas Kai (1 SD), kami menerima penjelasan dari guru mengenai perkembangan anak-anak kami. Bayangkan yang bulan April tahun lalu lulus TK belum bisa baca tulis, sekarang sudah bisa 80 kanji dan menguasai hiragana dan katakana. Untuk berhitung sudah menguasai penambahan, pengurangan dan baca jam. Kata gurunya Kai: “Waktu awal tahun ajaran, masih ada murid yang masih takut ke WC, ngompol. Atau belum bisa pakai peniti nama di dadanya.. Atau pada wkatu istirahat, awal-awal anak-anak masih duduk di kelas terus, takut untuk bermain di halaman. Tapi setelah lewat setengah tahun, begitu bel berbunyi, langsung lari deh. Selain belajar, dalam pertemanan juga mulai ada friksi, tapi kalau dulu setiap bertengkar pasti nangis dan ngadu kepada guru, lambat laun mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Biasanya ada yang jadi penengah. Memang saya selalu mengajarkan bahwa jika terjadi pertengkaran, dua pihak harus mencari penyebabnya, lalu menyadari siapa yang salah, kemudian memaafkan.”

Soal bertengkar memang Kai sering mengadu padaku bahwa ada beberapa anak yang memang “tukang pukul”. Dia sering dipukul atau didorong oleh anak-anak tertentu. Kadang dia balas, tapi aku memang beritahu dia jangan membalas, lebih baik lari dan lapor guru. Mendengar nama-nama teman Kai yang bermasalah, aku bisa menduga bahwa mereka itu menderita Autis, yang membutuhkan perhatian dari sekitarnya dan gurunya. Jadi aku selalu bilang pada Kai bahwa anak itu “sakit” sehingga maklumi saja.

Setelah mendengarkan penjelasan guru, tiba giliran kami orang tua menceritakan kemajuan anak masing-masing selama satu tahun ini. Aku katakan bahwa Kai dalam segi belajar tidak ada masalah, karena dia selalu membuat PR begitu pulang sekolah, dan selalu memaksa aku mendengarkan dia membaca tugas bahasa (音読ondoku = tugas untuk membaca dengan keras supaya lancar). Belum lagi dia selalu memberitahukan padaku jika perlu membawa sesuatu keesokan harinya (dia telepon ke HP dan meninggalkan pesan) sehingga aku bisa menyiapkan dan membelinya jika perlu. TAPI ada satu masalah yang belum bisa diperbaiki yaitu bahwa dia TIDAK pernah bermain di luar rumah dengan temannya. Biasanya memang anak-anak SD sesudah pulang sekolah dan menaruh ransel di rumah, akan keluar rumah dan bertemu teman di taman untuk bermain. Sekolah juga dibuka untuk dipakai mereka bermain di halaman sekolah. Nah, Kai tipe indoor sehingga sepertinya di kelas dua aku perlu memaksa dia untuk keluar rumah supaya lebih aktif bergerak. (Kalau tidak bisa ndut deh hehehe)

Tadi pagi jam 11 Kai sudah pulang dan membawa rapornya yang bernama AYUMI (langkah). Hasilnya bagus dengan 4 point mendapat nilai bagus sekali. Lalu dia cerita, “Tadi sensei bilang kalau ada yang mau mengerjakan PR waktu liburan musim semi, silakan ambil fotokopi PR”
“Kai ambil ngga?”
“Ngga”
“Lohhhh, kok ngga?”
“Abis, kan liburan… ngapain kerjain PR waktu liburan. lagipula itu tidak wajib”
Hahahahaha aku tidak bisa tahan ketawa. Siiip deh! Aku tahu dia ingin libur, karena setiap hari dia SELALU mengerjakan PR dan belajar rajin. Sekali-sekali boleh dong santai.

Tapi tadi malam, ternyata dia sendiri membuat catatan kanji-kanji yang sudah diketahui sendiri dalam buku catatan pribadinya, dan mengerjakan latihan baca jam yang pernah aku print out dari internet. Makanya aku tidak pernah khawatir tentang Kai, karena dia tahu sendiri kemampuannya.

Soal Riku?
Hmmm aku perlu menulis banyak kalau ingin mnceritakan detil pembicaraan guru wali kelasnya dalam hogoshakai untuk kelas 6, kelasnya Riku. Tapi intinya, kelasnya Riku dikenal sebagai kelas yang brengsek! Nakal dan ribut, sampai wakil kepala sekolah harus berdiri di belakang kelas. Itupun tetap ribut. Memang aku sudah tahu dari Riku tentang kelasnya yang tidak menunjang untuk belajar, sehingga membuatku berusaha keras supaya Riku belajar tambahan di bimbel (dan aku bersyukur karena guru-guru di bimbel mengatakan bahwa Riku pintar). Paling tidak dia tidka ketinggalan dalam akademisnya. Dan aku tahu Riku orangnya tidak terpengaruh oleh kenakalan temannya, malahan dia merupakan korban dari segelintir anak nakal yang ada di kelasnya (ada sekitar 5 anak yang menjadi biang keladi). Sampai -sampai gurunya angkat tangan, dan mengadu pada ibu-ibu yang hadir bahwa pihak sekolah takut jika acara wisuda akan berantakan oleh ulah anak-anak nakal ini.

Anak-anak kelas 6 memang sudah mulai memasuki pubertas, suka melawan orang tua dan guru. Itu alami, tapi jika sampai merugikan orang lain, itu tidak benar. Ada istilah khusus untuk anak-anak biang keladi ini yaitu Monster Children. Sayangnya, kami orang tua diberitahu sudah hampir lulus. Coba diberitahu sejak awal mulai bermasalah, kami orang tua bisa ikut membantu guru. (Pihak sekolah memang tidak mau membebani orang tua). Setelah pembicaraan dengan kepala sekolah, beberapa ibu mengusulkan supaya ibu-ibu bergiliran datang ke dalam kelas dan memperhatikan, kalau perlu menegur dan membantu guru dalam kelas. Aku pun ikut dua kali dan aku melihat bahwa anak-anak biang keladi ini memang adalah anak-anak dari keluarga yang tidak harmonis, tidak mempunyai waktu untuk mengurus anaknya (karena ada bayi), atau karena memang tidak bisa menegur dan mendidik anaknya. Kasihan! ya, karena anak-anak ini kan cermin keluarga. Ada memang anak panti asuhan, sehingga aku maklum kalau anak itu kasar…dan meskipun kasar dia mau ditegur. Aku pun melihat bahwa anak yang dimanja oleh orang tuanya itu cukup parah nilai akademisnya. Duh….. bagaimana mereka di SMP ya?

Hari ini Riku pun membawa rapornya, dan nilainya cukup bagus, meskipun tidak sebagus semester pertama (padahal hasil testnya bagus-bagus). Aku tahu ini juga pengaruh dari semangat guru wali kelas yang sudah merasa bahwa seluruh murid di kelasnya itu nakal dan tidak memperhatikan pelajaran. Gurupun manusia yang bisa capek, sehingga menurutku masalah seperti ini pasti akan ada di setiap sekolah. Kebetulan saja Riku sial mendapat kelas yang brengsek.

Besok Riku akan wisuda. Riku lumayan senang karena dengan lulus, berarti dia akan mempunyai suasana kelas yang lain, yang baru di SMP. Kebetulan SMPnya Riku jauh dari rumah, dan hanya ada 9 teman SD yang melanjutkan di sekolah yang satu angkatannya 200 orang. Berarti sudah pasti harus membuat teman baru kan?
Aku cuma bisa berdoa semoga acara wisuda besok bisa berjalan lancar tanpa halangan yang berarti.

Yang satu suka baca, yang satunya lagi suka nulis! Tiap anak memang berbeda 😀

 

 

Langganan

Pasti kita semua punya toko langganan ya, tempat kita pergi membeli sesuatu. Seperti temanku Mawar, punya pedagang Bacang langganannya. Atau temanku, punya langganan tempat minum. Aku sendiri punya langganan tukang sayur, yang setiap hari mengirimkan email harga-harga sayuran yang akan dijual hari itu beserta passwordnya. Jadi kalau menyebut password itu akan berlaku harga langganan yang tentu jauh lebih murah. Kalau untuk membeli daging dan ikan, di toko langganan yang lain lagi.

Kadang toko atau restoran langganan itu bukan (hanya) dari murahnya. Lebih karena service/ pelayanan mereka yang menyentuh hati. Seperti toko sayurku itu memang murah, tapi kami sering bercakap-cakap mengenai hal lain. Tapi kalau aku mau membeli apel atau stroberi yang enak dan bentuknya bagus, aku beli di toko lain. Harga, mutu dan pelayanan memang merupakan faktor yang menentukan waktu kita berbelanja ya.

Di dekat rumahku (dan dekat sekolah SD Riku) ada sebuah toko alat tulis dan keperluan sekolah. Baju olahraga, topi dijual di situ, sehingga paling tidak waktu masuk kelas 1 kami wajib ke situ. Semacam toko yang ditunjuk pihak sekolah. Ini saya rasa merupakan kebijakan pemerintah daerah juga untuk membantu toko-toko kecil di sekitar sekolah. Tapi biasanya orang-orang hanya membeli yang wajib saja di situ. Aku pun tidak sering pergi ke situ, hanya kalau perlu buku catatan saja. Lalu biasanya sekalian  membeli bolpen, pensil atau kertas origami. Karena aku tahu bolpen, pensil dan kertas origami lebih murah di toko lain. Eh tapi di sini bisa membeli cat air satu warna saja, sehingga kalau cat air anak-anak habis aku membeli di sini.

Sejak kelas 4 Riku bisa pergi ke toko Hinokiya itu sendiri. Pemilik toko adalah seorang nenek yang ramah. Suatu kali Riku membawa uang 1000 yen untuk membeli buku catatan dan pensil merah. Waktu dia kembali ke rumah, dia heran melihat di dalam kantong plastiknya ada 1700-an. LOH kok bisa bawa 1000, kembalinya malah lebih. Lalu dia lapor ke aku, “Ma, aku kembali ke toko obasan dulu ya. Ini pasti obasan lupa ambil uangnya, tapi sudah kasih kembaliannya”
Lalu dia pergi, dan… obasan begitu terharu sampai dia diberi setip macam-macam bentuk. Obasan itu selalu memuji-muji Riku setiap aku datang ke sana. Dan tentu saja sejak itu aku juga berhati-hati mengecek uang kembalian, jangan sampai salah. Kasihan obasan kalau rugi kan.

Nah, Riku akan lulus dari SD. Sudah hampir dipastikan dia tidak berbelanja ke toko itu lagi. SMPnya jauh, dan di dekat SMP ada toko kecil lagi yang ditunjuk pihak sekolah. Jadi kemungkinannya akan berbelanja di sana, sepulang sekolah yang konon sampai jam 6 sore. Belum lagi dia ikut bimbel di dekat stasiun, sehingga bisa berbelanja alat tulis di toko-toko dekat stasiun. Karena itu aku mengajak Riku berbelanja terakhir di toko obasan sekaligus melaporkan bahwa dia akan lulus. Dan… obasan itu senang sekali karena diingat.

Aku pun bertanya, “Boleh aku memotret obasan dengan Riku?”
“Aduh aku belum sisiran dan tidak dandan….”
“Tidak apa-apa kok”

dan kami berfoto bersama…. sebagai kenangan antara pemilik toko dan pembelinya.

riku dan obasan pemilik toko alat tulis

“Biarpun anak sulung kamu sudah ke SMP, kamu dan adiknya bisa datang ke sini kan? Kadang-kadang tengok saya ya. Aduh saya masih ingat waktu kamu antar Riku dengan perut besar lagi hamil anak kedua…”
“Iya nanti saya akan mampir. Nanti saya akan suruh Kai juga pergi belanja ke sini. Terima kasih ya selama ini”
“Saya juga terima kasih”

Riku dan aku meninggalkan toko itu membawa plastik berisi buku catatan untuk Kai, pensil dan beberapa setip hadiah dari obasan untuk Kai.
Osewaninarimashita.

 

Juken dan DUDUKU

Malam ini (eh sudah dini hari 😀 ) mau cerita tentang anak-anak ya… oyabaka ahhh 😀

Jadi begini, Riku yang sekarang kelas 6, sejak bulan Oktober tiba-tiba menyatakan ingin ikut ujian masuk SMP (negeri/swasta), atau yang dikenal dengan Juken. Sebetulnya setiap anak usia sekolah sudah tahu pasti bisa melanjutkan ke SMP negeri terdekat rumah, tanpa perlu ujian. Tapi jika ingin masuk ke SMP negeri terkenal di wilayah lain atau masuk SMP swasta, harus mengikuti ujian yang diadakan bulan Februari. Dan biasanya untuk juken itu, persiapannya dimulai waktu si anak kelas 4 SD dengan mengikuti bimbingan belajar (bimbel atau bahasa Jepangnya JUKU).

Nah, Riku terlambat aku masukkan ke JUKU. Waktu kelas 4 aku masukkan ke KUMON, dan ternyata Riku tidak cocok dengan cara pelajaran di Kumon (aku juga tidak….) . Cara Kumon itu berlatih terus menerus tanpa diajari gurunya, hanya mengerjakan latihan terus menerus. Kalau sudah melewati “jatah” (misalnya berapa lembar) baru maju ke topik berikutnya. Dan jeleknya waktu itu Riku kelas 4, tapi harus mengerjakan soal-soal dari kelas 1. Jadi Kumon itu harus menyelesaikan SEMUA tingkatan dulu. BOSAN! (aku juga hahaha) Jadi Riku menjadi malas pergi ke Kumon, karena dia merasa sudah bisa, dan buang waktu (yes, aku juga pikir buang waktu). Jadi dia selalu mencari alasan untuk tidak pergi les, dan terus terang aku tidak pernah mau memaksa anak untuk pergi les kalau dia tidak mau. Buat apa? Karena kupikir jika anak itu BENCI, sekeras-kerasnya kita SURUH, dia tidak akan maju dan takutnya dia jadi benci belajar.

Jadi menjelang kenaikan kelas 5, aku menghentikan pelajaran di Kumon itu. Dan karena Riku mau belajar di Juku, akupun mencari Juku yang bagus di dekat rumah. Juku E**** itu terkenal dan sering kudengar namanya, dan mempunyai cabang hampir di setiap stasiun. Tidak murah pastinya. Dan untuk bisa mengikuti les di situ, Riku harus mengikuti semacam test awal untuk mengetahui levelnya dia seberapa. Kalau terlalu rendah, tidak bisa masuk! Di sini aku agak kesal juga karena kupikir orang menyuruh anaknya ke Juku kan semestinya karena anaknya kurang, sehingga minta bimbingan tambahan supaya bisa naik nilainya. Eh, tapi itu pengertianku untuk les tambahan di Indonesia. Di Jepang, apalagi juku yang terkenal, tidak mau namanya jelek karena mereka butuh “iklan” sudah meloloskan berapa anak, masuk sekolah-sekolah terkenal 🙂

Pada test pertama, Riku tidak memenuhi standar. Lalu gurunya tanya, apakah Riku mau ikut test kedua? Memang waktu itu Riku tidak siap untuk test. Dan, aku bersyukur, Riku mau ikut test kedua. Di situ dia sudah mendapat nilai plus dari gurunya. Karena Riku mau mengulang dan berusaha. itu menunjukkan kemauannya untuk belajar. Test kedua, lewat standar. Jadi Riku bisa mengikuti kelas di Juku itu untuk dua mata pelajaran utama yaitu Matematika 算数 dan Bahasa 国語.

Sejak kelas 5 jadinya Riku harus pergi belajar sekali seminggu dua jam pelajaran (2×80 menit) ke Juku. Dia mengikuti kelas biasa yang mempersiapkan ujian SMA (tidak mempersiapkan juken SMP). Satu kelas muridnya ada 10 orang.

Setelah beberapa bulan, Riku mulai malas-malasan mengikuti kelas. Alasannya capek lah, sakit kepala lah… sehingga aku harus menelepon ke juku supaya dia bisa absen. Untunglah dia berhak untuk mendapatkan bimbingan “pergantian” di luar jam pelajaran dengan guru langsung. Nah! Ternyata dia lebih enjoy belajar dengan guru langsung pada jam-jam pergantian ini. Hmmm aku menyadari pasti ada masalah dengan kelasnya.

Setelah kutanya, ternyata benar, Riku tidak suka dengan murid-murid di kelas itu. Murid-murid itu memang berasal dari sekolah macam-macam. Katanya, “Anaknya ribut ma… ” dan “Aku dikatain gendut!” Hmm … ini masalah. Jadi aku bicara ke kepala Jukunya, dan langsung diatur supaya Riku tidak berada di dekat anak tersebut. Pokoknya gurunya memperhatikan Riku deh. Tapi tetap Riku tidak merasa nyaman. Dia ingin ikut les yang privat…. dan itu berarti lebih mahal 🙁

Les privat itu adalah dua murid dengan satu guru. Dalam waktu 80 menit itu, dia bisa bertanya langsung pada gurunya dan bisa jadi murid yang satunya bukan level dia. (pada kenyataannya dia sering pair dengan anak SMP sehingga nantinya dia sering melihat/mendengar tip belajar di tingkat yang lebih tinggi sehingga menjadi nilai plus untuknya). Karena biayanya mahal, aku minta Riku untuk les privat matematika saja, tapi kelas bahasa tetap ikut yang kelas. Untuk membayar dua kelas privat aku belum mampu.

Jadi Riku mengikuti bimbel dua hari seminggu, hari senin dan jumat. Karena akhirnya kelas bahasa itu juga terasa tidak bermanfaat untuk Riku, aku menyuruh dia ikut dua kelas privat. Berat tapi mengingat dia sudah kelas 6, kupikir lebih baik begitu. Dan benar saja dia bisa menunjukkan perkembangan belajarnya lebih bagus lagi di sekolah. Sehingga tiba-tiba dia menyatakan ingin juken!

Wah, juken itu berarti biaya tambahan (untuk ikut pre-test try-out dan ujian masuk di tiap SMP) dan pelajaran yang lebih tinggi standarnya. Aku langsung menghubungi guru jukunya dan minta supaya gurunya membimbingnya. Tapi, aku cukup senang karena gurunya berkata, “Kalau Riku pasti bisa mengejar kok. Saya percaya karena Riku beberapa bulan terakhir menunjukkan perkembangan yang pesat”. Jadi mulai November, tujuan belajarnya berubah, dan Riku juga lebih banyak belajar.

Yang menjadi patokan dalam juken adalah hensachi 偏差値, yaitu nilai rata-rata sebuah sekolah, dan nilai rata-rata si murid. Jadi kalau SMP A hensachinya 70, maka anak-anak yang hensachi-nya hanya 50, akan sulit lulus. Kemungkinannya jauh! Anak-anak yang hensachi-nya 50 selayaknya mencari sekolah yang hensachinya 50 atau 60, supaya kemungkinan diterimanya lebih besar. Hmmm memang hensachi itu penting di Jepang karena rapor sekolah Jepang BUKAN berupa angka, atau ranking. Hanya tanda bisa, cukup atau kurang!  Sehingga perlu “angka” yang bisa menilai sebuah sekolah atau murid. Dan ini baru diketahui kalau ikut belajar di juku.

Riku akhirnya mengikuti try out satu kali, dan dia menyatakan tidak mau mengikuti ujian masuk SMP. Alasannya, dia tidak tahu mau masuk SMP yang mana 😀 Memang biasanya waktu juken itu murid (atau orang tua murid) sudah tahu ingin masuk SMP favorit mana, ambisi masuk mana. Misalnya SMP W, sehingga guru tahu hensachi SMP W dan akan menggeber belajar supaya bisa lulus ujian masuk di SMP itu. Nah, setiap kali guru juku menanyakan pada kami, kami tidak bisa menjawab. Ya, karena kami sebetulnya tidak punya maksud memasukkan Riku ke SMP lain 😀 Rikunya sendiri yang mau coba-coba ikut ujian. Tentu kami biarkan  dia coba dong 😉 Dan akhirnya dia bisa tahu sendiri bahwa memang untuk bisa masuk SMP favorit harus punya nilai hensachi yang tinggi, dan itu memang tidak mungkin dicapai dalam waktu 2 bulan hehehe. Tapi yang penting dia tahu kemampuannya sekarang.

So,  Riku tetap masuk SMP negeri yang sudah ditentukan oleh Komite Pendidikan kelurahan kami. Dan letaknya cukup jauh dari rumah kami (lokasi rumah kami termasuk perbatasan wilayah sekolah atau dulu istilahnya di Indonesia adalah rayon 学区), dan kami sudah pergi mengikuti orientasi termasuk pengukuran baju seragam dll. Tinggal nanti ikut upacara masuk tanggal 7 April.

Dan Riku sekarang setiap hari menggunakan waktu luangnya pergi ke juku dan menggunakan ruangan di sana (boleh dipakai setiap saat) untuk belajar! Wah anakku sekarang belajar terus loh 😀 Sebagai orang tua tentu senang sekali, dan memang persiapan masuk SMA selayaknya sudah dimulai sejak kelas 1 SMP, supaya bisa masuk SMA yang diinginkan. Nah kalau SMA memang harus juken semuanya, karena SMA bukan wajib belajar, sehingga kita harus cari sendiri. Kelurahan tidak “menyediakan” SMA, hanya “menyediakan” SD dan SMP hehehe.

Salah satu yang Riku lakukan sekarang adalah membuat daftar kata-kata bahasa Inggris, supaya menghemat waktu belajar di SMP. Jadi guru jukunya sudah memberikan kata-kata bahasa Inggris yang harus dihafal di kelas 1 SMP, dan dia membuat sendiri daftarnya. Katanya, “Kalau setiap hari bisa 10 kata kan bagus” 😀

Jadi begitu ceritaku tentang juken, sedangkan DUDUKU itu apa?

Karena Kai yang kelas 1 SD melihat kakaknya menulis alfabet setiap hari, dia juga mulai aware dengan huruf latin. Dia sudah menguasai alfabet, sehingga kalau dia bisa baca sebuah kata dia akan tanya padaku apa bacaan dari tulisan tersebut.

Tadi siang tiba-tiba dia berkata, “Mama b o x itu box ya?”
Aku kaget dan bilang “Betul. Hebat kamu. Apa artinya?”
“箱 (kotak)”

wah kelihatannya aku perlu menginput Kai dengan kata-kata baru bahasa Inggris nih. Siapa tahu pelajaran kelas 1 SMP dia sudah bisa ikuti hahaha.

Jadi tadi sebelum tidur kami bermain dengan iPad. Aku minta dia menulis BOX. bisa.
Lalu aku minta dia menulis S I T, dan bisa. lalu aku katakan ini SIT artinya suwaru 座る.
Dan tiba-tiba dia tanya padaku bagaimana menulis DU? Ya aku katakan D dan U
Lalu dia tulis DUDUKU…. waaaaaaah anakku tahu bahasa Indonesianya suwaru itu duduk. Jadi sekaligus deh belajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Tapi waktu aku bilang harus menghapus U sesudah K, dia kesal dan bertanya? KENAPA? hahaha Inilah susahnya orang Jepang! SEMUA KONSONAN HARUS ADA VOKALNYA hihihi.

Aku bilang, “Besok deh mama jelasin, kalau mama jelasin sekarang nanti kamu tidak bisa tidur!”

SE LA MA (T)TO MA RA MU
SE LA MA (T)TO CHI DU RU   :v :v :v  ~~~~~